Anak dengan Cerebral Palsy, Global Developmental Delay

Status Gizi Kurang, Kurus, Perawakan Tubuh Normal

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama pasien : An. V. H.
Umur : 3 tahun 8 bulan
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Banyumanik, Semarang

Nama ayah : Tn. H
Umur : 29 tahun
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SD

Nama ibu : Ny. R
Umur : 27 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMK

Bangsal :-
No. CM : 267340
Rawat Jalan : 27 Maret 2014

II. DATA DASAR

1. Anamnesis
Alloanamnesis dengan orang tua pasien dilakukan pada tanggal 27 Maret
2014 pukul 08.30 WIB di ruang Poli Anak dan ruang Rehabilitasi Medik dengan
didukung catatan medis.
Keluhan utama : kontrol perkembangan anak

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 1

Anak dengan Cerebral Palsy, Global Developmental Delay
Status Gizi Kurang, Kurus, Perawakan Tubuh Normal

Keluhan tambahan : belum dapat berdiri sendiri, kaki tidak dapat lurus

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang bersama orang tuanya ke RSUD Kota Semarang bagian Poli
Anak rawat jalan dengan keluhan ingin kontrol terhadap keadaan perkembangan
pasien. Pasien belum bisa berdiri sendiri hingga saat ini menurut orang tua pasien.
Perkembangan anak menurut orang tuanya berupa tengkurap saat usia 7 bulan, meraih
mainan saat usia 8 bulan, merangkak saat usia 1 tahun.

Pada saat usia 1 tahun, pasien mengalami kejang yang terjadi saat demam
selama kurang lebih 3 menit. Orang tua pasien mengaku sebelum kejang pasien sadar,
saat kejang pasien tidak sadar, kejang terjadi pada seluruh tubuh dengan tangan
maupun kaki kelojotan dan mata mendelik ke atas, kejang berhenti sendiri dan setelah
kejang pasien sadar. Lalu pasien dibawa ke Puskesmas dan diberi obat penurun panas
serta puyer namun orang tua tidak tahu isi obatnya. Kejang hanya berlangsung sekali
dalam sehari, dan pasien tidak dirawat inap.

Saat usia 1 tahun 3 bulan, orang tua pasien melihat telapak kaki anaknya selalu
lurus dan kaku, namun orang tua berpikir bahwa hal tersebut masih normal sehingga
tidak dibawa ke dokter. Perkembangan pasien selanjutnya berupa duduk tanpa
berpegangan saat usia 1 tahun 6 bulan. Pada saat usia 1 tahun 6 bulan dan saat usia 2
tahun, pasien kembali mengalami kejang saat demam seperti yang terjadi pada kejang
pertama, pasien dibawa ke klinik dokter dan tidak dirawat inap.

Saat usia 2 tahun, orang tua baru menyadari bahwa anaknya selalu berdiri
dengan kaki jinjit saat dipegangi. Kaki pasien terlihat kaku dengan telapak kaki yang
selalu lurus sejajar dengan tungkai bawah dan mengarah ke dalam, serta lutut pasien
yang tidak dapat diluruskan. Namun anak tidak diperiksakan ke dokter karena saat itu
orang tua tidak terlalu mempedulikannya. Orang tua berpikir kaki anak akan sembuh
dengan sendirinya hingga usia anak 3 tahun. Orang tua mengaku mengetahui penyakit
anaknya saat usia anak 3 tahun 3 bulan, ketika anaknya dibawa ke poli anak RSUD
Semarang.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 2

Anak dengan Cerebral Palsy, Global Developmental Delay
Status Gizi Kurang, Kurus, Perawakan Tubuh Normal

Orang tua mengaku selalu memberi dorongan dan mengajarkan anaknya
selama dalam tahap perkembangan namun orang tua mengaku terlambat sadar akan
keterlambatan perkembangan anaknya. Sampai saat ini, pasien sudah berkunjung
untuk kontrol sebanyak tujuh belas kali secara rutin ke rumah sakit untuk dilakukan
fisioterapi terhadap keadaan pasien. Selain menjalani fisioterapi, pasien juga
menjalani okupasional terapi serta melatih asah otak sebanyak lima belas kali, dan
terapi wicara sebanyak dua kali. Pasien menjalani ketiga terapi tersebut secara
bergantian dalam seminggu.

Saat ini, meskipun pasien belum dapat berdiri sendiri, pasien sudah dapat
berjalan pelan dengan dipegangi kedua lengannya, yang sebelumnya pasien belum
dapat berjalan sama sekali oleh karena pasien tidak dapat menggerakkan kakinya
karena kedua kaki tidak dapat lurus. Pasien juga telah mampu mengikuti perintah dan
mulai dapat berkonsentrasi terhadap satu hal. Pasien sudah dapat berbicara walaupun
terkadang pasien terlihat diam saat diajak untuk mengobrol. Setelah diperiksa oleh
dokter di poli dan dilakukan pemeriksaan, pasien dianjurkan untuk melanjutkan terapi
di bagian Rehabilitasi Medik.

Riwayat Penyakit Dahulu

 Riwayat kejang (+) saat demam sebanyak 3 kali saat pasien berumur 1
tahun hingga 2 tahun.
 Pasien tidak pernah dirawat di RS sebelumnya.

Penyakit Penyakit
Kejang Pernah ISK Disangkal
ISPA Pernah Diare Pernah
TBC Disangkal Typhoid Disangkal
Epilepsi Disangkal Campak Disangkal
Hep.A / B Disangkal DB Disangkal
Polio Disangkal Penyakit Darah Disangkal
Difteri Disangkal Radang Paru Disangkal
Pertusis Disangkal Operasi Disangkal

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 3

5 kg. Kesan : Anak tumbuh dengan status gizi kurang Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 4 . Saat memasuki usia kehamilan 8 bulan. Lingkar kepala 48 cm. 1 kali setiap bulan. riwayat trauma (-). ibu tidak pernah menderita penyakit. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Berat badan saat ini 11. Saat itu bidan menyatakan tidak ada kelainan bawaan. lahir spontan ditolong bidan. Imunisasi dilakukan secara teratur sesuai dengan jadwal puskesmas. hamil 32 minggu. Panjang badan lahir 39 cm. Kesan : Riwayat pemeliharaan prenatal cukup baik Riwayat Pemeliharaan Postnatal Pemeliharaan postnatal dilakukan di bidan terdekat dan puskesmas. Bayi lahir tidak langsung menangis saat lahir. Kesan : Riwayat pemeliharaan postnatal baik. Tinggi badan saat ini 95 cm. Riwayat Persalinan dan Kehamilan Anak laki-laki dari ibu G2P1A1. batuk lama dan riwayat memakai obat dalam jangka waktu yang lama disangkal. Ibu tidak mengkonsumsi obat – obatan yang diminum selama masa kehamilan. Perawakan Tubuh Normal Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan sama seperti pasien. Riwayat perdarahan saat hamil disangkal. Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Pertumbuhan: Berat badan lahir 1600 gram. Berat badan lahir 1600 gram. Alergi makanan ataupun alergi obat- obatan juga disangkal. berat badan lahir rendah. Selama hamil. lingkar kepala dan lingkar dada ibu lupa. Kemudian bayi boleh dirawat gabung bersama ibunya. Anak dengan Cerebral Palsy. Berat badan dari lahir sampai saat ini selalu berada di garis antara area kuning dan hijau muda berdasarkan kurva pertumbuhan KMS. Ibu mengaku pasien saat itu dirujuk dari bidan ke RS Magelang dan dibawa ke ruang bayi untuk diberi selang oksigen dan pengawasan dalam inkubator selama 8 hari. Riwayat penyakit kejang demam atau tanpa demam. Kesan: Neonatus preterm. Pemeriksaan dilakukan sejak ibu mengetahui kehamilan hingga usia kehamilan 7 bulan. asfiksia sedang Riwayat Pemeliharaan Prenatal Ibu rutin memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat. Kurus. pemeriksaan dilakukan 2 kali. panjang badan lahir 39 cm.

Menanggung 1 orang istri dan 1 orang anak.4. anak diberi tim lunak disertai susu formula Mulai usia 12 bulan sampai sekarang.6 bulan Campak : pernah.4.6 bulan DPT : pernah. kuantitas makanan dan minuman cukup baik.per bulan. Riwayat Imunisasi BCG : pernah. anak diberi susu formula (untuk BBLR) tanpa ASI Mulai usia 8 bulan sampai 12 bulan. pada saat umur 2. Kesan : Kualitas makanan kurang baik. pada saat umur 9 bulan Kesan : imunisasi dasar lengkap sesuai dengan jadwal imunisasi Riwayat Keluarga Berencana Ibu pernah mengikuti program KB pil selama 2 tahun.6 bulan Polio : pernah. Ibu pasien adalah seorang ibu rumah tangga. umur 1 bulan.4. Anak makan tiga kali sehari. pada saat umur 2. pada lengan kanan atas Hepatitis B : pernah. Data Keluarga Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 5 . Kurus.. anak diberi menu makanan keluarga dan susu formula. Kesan : keadaan sosial ekonomi kurang.000. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. ma : 1 tahun 1 bulan Merangkak : 1 tahun Berbicara beberapa kata: 2 tahun Kesan : Anak mengalami developmental delay Riwayat Makan dan Minum Anak ASI eksklusif hanya hingga usia 1 bulan Mulai usia 1 bulan hingga 8 bulan.400. jarang makan sayur dan buah-buahan. Perawakan Tubuh Normal Perkembangan : Senyum : ibu lupa Duduk : 1 tahun 6 bulan Miring : 4 bulan Berdiri berpegangan : 2 tahun Tengkurap : 7 bulan Berjalan : belum dapat Meraih mainan : 8 bulan Memanggil pa. Riwayat Sosial Ekonomi Ayah pasien bekerja sebagai swasta dengan penghasilan Rp 1. Anak dengan Cerebral Palsy. Biaya pengobatan dengan Jamkesmas. pada saat umur 2.

Tinggi badan sekarang 95 cm. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. 2. spastik (+) tungkai bawah. ventilasi udara baik. anak tampak tenang dan cukup kooperatif. tampak sakit ringan. reguler. Keadaan umum : compos mentis. Berat badan 11. Kamar mandi berada diluar dan dipakai bersama – sama.6 o C (axilla) Status Internus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 6 . Limbah buangan ke septik tank. Kesan : Kebersihan lingkungan tempat tinggal cukup dan cukup padat. Keadaan lingkungan : jarak antar ruangan berdekatan. isi dan tegangan cukup RR : 28x/menit. reguler Suhu : 36. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada tanggal 27 Maret 2014 pukul 09. Sumber air minum berasal dari air ledeng. 1 ruangan terdiri dari 1 kamar tidur. Anak dengan Cerebral Palsy. Kurus.5 kg. Dinding tempat tinggal tembok. Tanda vital : HR : 110x/menit.30 WIB Anak laki-laki usia 3 tahun 8 bulan. Perawakan Tubuh Normal Ayah Ibu Anak 1 Perkawinan ke 1 1 0 Umur 29 tahun 27 tahun 3 tahun 8 bulan Pendidikan terakhir SD SMK - Keadaan kesehatan Sehat Sehat Sakit Data Perumahan Kepemilikan rumah : Rumah sendiri Keadaan rumah : Pasien sekarang bertempat tinggal di rumah sendiri.

serumen -/- — Mulut : Sudut mulut tidak ada yang tertinggal. rhonki -/-. murmur(-). o Perkusi :Sonor di kedua lapang paru. discharge -/. terdistribusi merata. retraksi (-) o Palpasi :Stem fremitus simetris kanan dan kiri. Perawakan Tubuh Normal — Kepala : Normocephali (lingkar kepala 48 cm). — Hidung : Bentuk hidung normal. KGB tidak teraba membesar. Anak dengan Cerebral Palsy. lidah menjulur simetris kanan dan kiri. — Thoraks : Jantung  Inspeksi :Tidak terlihat pulsasi ictus cordis  Palpasi :Ictus cordis teraba di ICS V 2cm medial linea midklavikularis sinistra  Perkusi :Batas jantung kanan di linea parasternal dextra. sianosis (-). Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 7 . bibir kering (-) . — Leher : Simetris. reflek cahaya +/+. ubun-ubun besar sudah menutup. sekret -/-. gallop(-) Paru – paru o Inspeksi :Pergerakan dinding dada simetris saat inspirasi dan ekspirasi. Kurus. o Auskultasi :Suara nafas vesikuler +/+ . pinggang jantung di linea parasternal sinistra ICS III  Auskultasi :Bunyi jantung I-II reguler. kelenjar tiroid tidak teraba membesar. konjungtiva anemis -/-. — Mata : Strabismus -/-. tidak mudah dicabut.. nafas cuping hidung (-) — Telinga : Bentuk telinga normal. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. kaku kuduk (-). pupil bulat isokor Ø 2 mm. — Rambut : Hitam. kelainan kongenital -/-. wheezing -/-.

V. I : sulit dinilai  N. II : refleks cahaya (+)  N. VI : gerak bola mata (+)  N. XII : deviasi lidah (-) 3. III. +/+ CRT <2’’ <2’’  Status Neurologi o Tanda rangsang meningeal : (-) Tonus +/+ +/+ ↑ Klonus + Refleks fisiologis +/+ +/+ ↑ Refleks patologis -/. X : refleks menelan (+)  N. Babinski dan Chadock(+/+) o Refleks Primitif : (-) o Pemeriksaan N. -/- Spastik -/. Anak dengan Cerebral Palsy. IV. VII : refleks kornea (+)  N. -/- Akral sianosis -/. VIII : respon pendengaran (+)  N. (+) N  Kulit : Tidak ditemukan efloresensi yang bermakna. Perawakan Tubuh Normal  Abdomen  Inspeksi : Datar  Auskultasi : Bising usus (+) normal  Palpasi : Supel. IX.  Ekstremitas : Superior Inferior Akral dingin -/. nyeri tekan (-)  Perkusi : Timpani di keempat kuadran abdomen  Genitalia : Laki-Laki. Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 8 . Cranialis  N. hepar dan lien tidak teraba. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Kurus. XI : menoleh (+)  N.

5) / 1. Pemeriksaan Khusus Data antropometri : Bayi laki-laki berusia 3 tahun 8 bulan.1. perawakan tubuh normal KPSP usia 42 bulan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 9 . Anak dengan Cerebral Palsy. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Kurus.50 ( kurus ) Kesan: Status gizi kurang.2. kurus. TB = 95 cm.80 = .10 = .30 ( perawakan normal )  WAZ = ( BB – median ) / SD = ( 11.30 = .5 – 16) / 1.31 ( berat badan rendah/ gizi kurang )  HAZ = ( TB – median ) / SD = ( 95 – 100.4 ) / 4. BB = 11.  WHZ = ( BB – median ) / SD = ( 11.5– 14.5 kg. Perawakan Tubuh Normal 4.2.

Anak dengan Cerebral Palsy. Perawakan Tubuh Normal Total jawaban tidak: 9 Kesan: Penyimpangan perkembangan global Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 10 . Kurus. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang.

Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Perawakan Tubuh Normal Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 11 . Kurus. Anak dengan Cerebral Palsy.

Anak dengan Cerebral Palsy. Kurus. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Perawakan Tubuh Normal Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 12 .

Maka 37 – 32 = 5 minggu = 35 hari 3 – 7 – 9 (3 tahun 7 bulan) Hasil DDST II: Area Personal sosial: Peringatan = 4 Terlambat = 9 Area Adaptif-motorik halus: Peringatan = 4 Terlambat = 4 Area Bahasa: Peringatan = 4 Terlambat = 7 Area Motorik kasar: Peringatan = 3 Terlambat = 12 Kesan: Suspek global developmental delay Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 13 . Anak dengan Cerebral Palsy. V prematur 32 minggu 2010 – 7 – 14 Aterm = 37 minggu _________ . Kurus. Perawakan Tubuh Normal Usia anak untuk DDST II: 2014 – 3 – 27 An. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang.

Perawakan Tubuh Normal III. dan pasien tidak dirawat inap. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 14 . pasien mengalami kejang yang terjadi saat demam selama kurang lebih 3 menit. Datang diantar orang tuanya ke Poliklinik Anak dengan keluhan utama ingin kontrol perkembangan anak. kejang berhenti sendiri dan setelah kejang pasien sadar. Kaki pasien terlihat kaku dengan telapak kaki yang selalu lurus sejajar dengan tungkai bawah dan mengarah ke dalam. RESUME Telah diperiksa seorang anak laki-laki usia 3 tahun 8 bulan dengan Berat Badan 11. Pada saat usia 1 tahun. perkembangan anak menurut orang tuanya berupa tengkurap saat usia 7 bulan. Pasien belum bisa berdiri sendiri hingga saat ini. pasien dibawa ke klinik dokter dan tidak dirawat inap. Orang tua mengaku mengetahui penyakit anaknya saat usia anak 3 tahun 3 bulan. orang tua baru menyadari bahwa anaknya selalu berdiri dengan kaki jinjit saat dipegangi. Pada saat usia 1 tahun 6 bulan dan saat usia 2 tahun. orang tua pasien melihat telapak kaki anaknya selalu lurus dan kaku. Saat usia 2 tahun. pasien kembali mengalami kejang saat demam seperti yang terjadi pada kejang pertama. merangkak saat usia 1 tahun. saat kejang pasien tidak sadar. Namun anak tidak diperiksakan ke dokter karena saat itu orang tua tidak terlalu mempedulikannya. kejang terjadi pada seluruh tubuh dengan tangan maupun kaki kelojotan dan mata mendelik ke atas. Perkembangan pasien selanjutnya berupa duduk tanpa berpegangan saat usia 1 tahun 6 bulan. Lalu pasien dibawa ke Puskesmas dan diberi obat penurun panas serta puyer namun orang tua tidak tahu isi obatnya. Orang tua berpikir kaki anak akan sembuh dengan sendirinya hingga usia anak 3 tahun. Orang tua pasien mengaku sebelum kejang pasien sadar. meraih mainan saat usia 8 bulan. Saat usia 1 tahun 3 bulan. serta lutut pasien yang tidak dapat diluruskan. Kurus. Anak dengan Cerebral Palsy. namun orang tua berpikir bahwa hal tersebut masih normal sehingga tidak dibawa ke dokter. ketika anaknya dibawa ke poli anak RSUD Semarang. Kejang hanya berlangsung sekali dalam sehari. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang.5 kg dan panjang badan 95 cm.

dan terapi wicara sebanyak dua kali. Pada riwayat persalinan dan kehamilan. Pasien juga telah mampu mengikuti perintah dan mulai dapat berkonsentrasi terhadap satu hal. anak tumbuh dengan status gizi kurang. anak lahir prematur usia kehamilan 32 minggu. berat badan lahir rendah. anak mengalami keterlambatan. saat ini pasien hanya dapat berdiri dengan berpegangan. tampak sakit ringan. Pasien sudah dapat berbicara walaupun terkadang pasien terlihat diam saat diajak untuk mengobrol. pasien juga menjalani okupasional terapi serta melatih asah otak sebanyak lima belas kali. Selain menjalani fisioterapi. pasien sudah berkunjung untuk kontrol sebanyak tujuh belas kali secara rutin ke rumah sakit untuk dilakukan fisioterapi terhadap keadaan pasien. dan mulai dapat berkonsentrasi terhadap satu hal.6 o C (axilla) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 15 . Pada riwayat pertumbuhan. anak tampak tenang dan cukup kooperatif. Pada riwayat perkembangan. meskipun pasien belum dapat berdiri sendiri. Pasien menjalani ketiga terapi tersebut secara bergantian dalam seminggu. namun saat ini pasien mulai mengikuti perintah. Sampai saat ini. Tanda vital : dalam batas normal HR : 110x/menit. Perawakan Tubuh Normal Orang tua mengaku selalu memberi dorongan dan mengajarkan anaknya selama dalam tahap perkembangan namun orang tua mengaku terlambat sadar akan keterlambatan perkembangan anaknya. mudah bergaul dengan teman sekitarnya. reguler Suhu : 36. dan asfiksia sedang. isi dan tegangan cukup RR : 28 x/menit. spastik (+) tungkai bawah. belum dapat berdiri sendiri dan berjalan sama sekali. Kurus. Anak dengan Cerebral Palsy. reguler. Pada pemeriksaan fisik ditemukan : Keadaan umum : compos mentis. Saat ini. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. yang sebelumnya pasien belum dapat berjalan sama sekali oleh karena pasien tidak dapat menggerakkan kakinya karena kedua kaki tidak dapat lurus. pasien sudah dapat berjalan pelan dengan dipegangi kedua lengannya.

DIAGNOSA BANDING 1. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 16 . Developmental delay a. o KPSP 42 bulan: penyimpangan perkembangan global o DDST II: suspek global developmental delay V. Derajat ringan b. kurus. Cranialis: dalam batas normal Pemeriksaan khusus o Antropometri : didapat status gizi kurang. Tipe Spastic b. kurus. Tipe Ataksik d. Anak dengan Cerebral Palsy. Perawakan Tubuh Normal Status Neurologis : o Tanda rangsang meningeal : (-) Superior Inferior Tonus +/+ +/+ ↑ Klonus . Status gizi kurang. dan perawakan tubuh normal. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. dan perawakan tubuh normal. Derajat sedang c. Babinski dan Chadock(+/+) o Refleks Primitif : (-) o Pemeriksaan N. Tipe Campuran — Menurut derajatnya : a. Tipe Diskinetik c. Kurus. Cerebral Palsy — Menurut tipenya : a. + Refleks fisiologis +/+ +/+ ↑ Refleks patologis -/. Derajat berat 2. Kelainan bahasa c. motorik halus b. Kelainan sosial 3. Kelainan motorik : motorik kasar.

Perawakan Tubuh Normal IV. Kurus. VIII. dan perawakan tubuh normal. Cerebral Palsy 2. Anak dengan Cerebral Palsy. TERAPI — Multivitamin sirup 3 x 1 Cth — Diet  BBI : 14 kg. o Pemeriksaan EEG & CT scan untuk melihat keadaan otak pasien. VII. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. PROGNOSA — Quo ad vitam : ad bonam — Quo ad fungtionam : dubia ad malam — Quo ad sanationam : dubia ad malam IX. NASEHAT  Edukasi kepada orang tua mengenai semua penyakit yang dialami oleh anak.5 kkal/hari  Protein : 28 gram/hari — Program  Fisioterapi. Global Developmental Delay 3. Status gizi kurang. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 17 .9 kkal/cm = 1320. DIAGNOSA SEMENTARA 1. TB: 95 cm  Kalori : 13. USULAN o Konsultasi psikolog o Tes Daya Lihat dan Tes Daya Dengar pada spesialis mata dan THT o Diet tinggi kalori tinggi protein o Pemberian sepatu khusus untuk memperbaiki tungkai bawah yang spastik. VI. kurus. Okupasional terapi dan terapi wicara seminggu sekali bergantian.

Perawakan Tubuh Normal  Edukasi kepada orang tua datang kontrol untuk fisioterapi dan okupasional terapi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Bila tidak mau. frekuensi sering.  Memberi keyakinan pada orang tua jangan putus asa. Kurus.  Diet makanan tinggi kalori tinggi protein. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 18 . Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Anak dengan Cerebral Palsy. dicoba untuk diblender dan variasi jenis makanan.  Menyarankan orang tua untuk memberikan makanan sayur dan buah secara teratur.  Mendukung ibu untuk memberikan latihan terhadap perkembangan anak secara bertahap.

berat badan saat lahir 1600 gram. Ini menandakan penyebab diagnosis cerebral palsy kemungkinan didapatkan dari masa perinatal berupa asfiksia yang dipeburuk dengan adanya kejang. Pasien sudah dapat berbicara walaupun terkadang pasien terlihat diam saat diajak untuk mengobrol. Pasien dapat berkomunikasi dan bergaul dengan teman-temannya saat ini. saat lahir tidak langsung menangis sehingga dirujuk dari bidan ke rumah sakit di Magelang. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Pasien pernah mengalami kejang saat demam sebanyak 3 kali saat pasien berumur 1 tahun hingga 2 tahun. Pasien lahir saat usia kehamilan 32 minggu. Saat di rumah sakit. Anak dengan Cerebral Palsy. +/+ Tonus +/+ +/+ ↑ Refleks fisiologis +/+ +/+ ↑ Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 19 . Pasien menjalani ketiga terapi tersebut secara bergantian dalam seminggu. Selain menjalani fisioterapi. Berdasarkan hasil pemeriksaan khusus berupa KPSP usia 42 bulan dan DDST II menujukkan pasien mengalami keterlambatan perkembangan global (Global Developmental Delay) terhadap motorik kasar. halus. bahasa dan sosial. Pasien juga telah mampu mengikuti perintah dan mulai dapat berkonsentrasi terhadap satu hal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan:  Ekstremitas : Superior Inferior Spastik -/. Kurus.5 kg dan panjang badan 95 cm datang diantar ibunya ke Poliklinik Anak dengan keluhan utama ingin kontrol perkembangan anak. Saat itu pasien sudah berkunjung untuk kontrol sebanyak tujuh belas kalinya secara rutin ke rumah sakit untuk dilakukan fisioterapi terhadap keadaan pasien. ibu mengaku bahwa pada anaknya ditaruh dalam inkubator dan terpasang selang oksigen. yang sebelumnya pasien belum dapat berdiri sama sekali oleh karena pasien tidak dapat menggerakkan kakinya karena kedua kaki tidak dapat lurus. Saat ini pasien sudah dapat berdiri dengan berpegangan. pasien juga menjalani okupasional terapi serta melatih asah otak dan terapi wicara. Perawakan Tubuh Normal ANALISA KASUS Berdasarkan anamnesis didapatkan bayi laki-laki usia 3 tahun 8 bulan dengan Berat badan 11.

ekstremitas inferior pasien mengalami spastisitas dan tonus otot ekstremitas inferior meningkat. Anak dengan Cerebral Palsy. Perawakan Tubuh Normal Refleks patologis -/. Hingga saat ini refleks patologis dan klonus pasien masih positif. Status gizi kurang. dan perawakan normal didapatkan dari pemeriksaan antropometri dengan menggunakan tabel z – score. + Dari pemeriksaan terhadap ekstremitas. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Kurus. kurus. Kemudian dilakukan plotting pada kurva NCHS atau WHO. Hal ini menunjukkan tipe cerebral palsy yang dialami pasien berupa tipe spastik. BAB II Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 20 . Babinski dan Chadock(+/+) Klonus .

umur ibu semua dibawah 30 tahun . William little yang pertama kali mempublikasikan kelainan ini pada tahun 1843.3 Kunjungan yang terus-menerus ke unit rehabilitasi medis untuk membantu agar keadaan fisik tidak bertambah parah sangat diperlukan. menyebutnya dengan istilah cerebral displegia .Nama lainnya adalah Static encephalopathies of childhood .1. Membiarkan bagian tubuh (misalnya tungkai) tidak difungsikan (karena sinyal dari otak telah terganggu).5 % berasal dari persalinan spontan letak kepala dan 75 % dari kehamilan cukup bulan. tidak bisa berdiri. Tentu saja.5 % anak pertama. Pada waktu itu kelainan ini dikenal sebagai penyakit Little. Sigmund freud menyebut kelainan ini dengan istilah infantile cerebral paralysis .1. 2 Angka kejadiannya sekitar 1-5 per 1000 anak.1. 62. hal ini akan membebani Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 21 . sebagai akibat dari prematuritas atau asfiksia neonatorum.3 Umumnya. 87.1. Anak dengan Cerebral Palsy. Pendahuluan Palsi serebral merupakan kelainan motorik yang banyak ditemukan pada anak-anak. sehingga anak misalnya tidak bisa bicara. Angka kejadiannya lebih tinggi pada bayi BBLR dan anak kembar. mungkin karena anak pertama lebih sering mengalami kesulitan pada waktu dilahirkan. mendapatkan bahwa 58. Perawakan Tubuh Normal TINJAUAN PUSTAKA CEREBRAL PALSY I.3 Franky (1994) pada penelitiannya di RSUP Sanglah Denpasar. Sering terdapat pada anak pertama. Ada yang cacatnya berat. ada yang ringan.Laki-laki lebih banyak daripada wanita. Kerusakan otak yang serius biasanya ditandai dengan kakunya bagian-bagian tubuh. akan membuat keadaan bagian tubuh (dalam hal ini tungkai misalnya) menjadi lebih buruk. sedangakan Sir William Osier adalah yang pertama kali memperkenalkan istilah Cerebral palsy.3 % penderita palsi serebralis yang diteliti adalah laki-laki. Kurus. amat sangat kecil kemungkinan fungsi otak untuk baik kembali seperti semula. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang.

oleh karena suatu kerusakan/ gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/ belum selesai pertumbuhannya atau pada otak fetus atau infant yang sedang berkembang. III. Asfiksia intrauterine ( HAP. Adapula beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa kematangan otak terjadi pada usia 8 – 9 tahun2. Perinatal . Apabila ditemukan lebih dari satu anak yang menderita kelainan ini. Gangguan neurologik ini menyebabkan cacat menetap 1-6. maka kemungkinan besar disebabkan faktor genetik. ibu hipertensi dan lain-lain) . Otak dianggap matang kira–kira pada usia 4 tahun.2 1.Prenatal . Prematuritas . Etiologi Palsi serebralis dapat disebabkan faktor genetik ataupun faktor lainnya. yang tidak bisa ditentukan sampai kapan selesainya.1. Definisi Cerebral palsy (CP) adalah suatu gangguan atau kelainan neurodevelopmental pada gerak dan postur menyebabkan keterbatasan aktivitas yang non progresif. sedangkan menurut The American Academy for Cerebral Palsy batas kematangan otak adalah 5 tahun. Infeksi intrauterine : TORCH dan sifilis . baik dalam hal ketersediaan tenaga. Cerebral palsy terjadi akibat kerusakan atau gangguan pada otak yang sedang tumbuh (belum matang). Anak dengan Cerebral Palsy. Hiperbilirubinemia Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 22 . Kurus. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. HPP. Postmaturitas . waktu dan keuangan. Sedangkan hal-hal lainnya yang diperkirakan sebagai penyebab palsi serebralis adalah sebagai berikut : 1.2 II. Perawakan Tubuh Normal keluarga pasien. Asfiksia . Toksemia gravidarum 2. Perdarahan otak .

Kelainan kromosom atau pengaruh zat-zat teratogen yang terjadi pada 8 minggu pertama kehamilan. 4. Postnatal . Spastik − Monoplegia Pada monoplegia. tergantung pada lokasi yang terkena apakah kelainan terjadi secara luas di korteks dan batang otak. tergantung berdasarkan apa klasifikasi tersebut dibuat. Hal ini disebabkan oleh spastik yang menyerang traktus kortikospinal bilateral atau lengan pada kedua sisi tubuh saja. Kurus.6 Infeksi pada janin yang terjadi pada masa pertumbuhan janin. atau hanya terbatas pada daerah tertentu. Klasifikasi Terdapat bemacam-macam klasifikasi palsi serebralis. Anak dengan Cerebral Palsy. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. − Diplegia Spastik diplegia atau uncomplicated diplegia pada prematuritas. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Catherine Gibson ( januari 2006 ) beserta teamnya dari bagian Obstetri dan Ginekologi Universitas of Adelaide mengatakan bahwa infeksi neurotropik. 1. Perawakan Tubuh Normal 3. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 23 . mumps. Meningitis atau ensefalitis yang terjadi 6 bulan pertama kehidupan Manifestasi klinis dari penyakit ini bermacam-macam. Umumnya hal ini terjadi pada lengan / ekstremitas atas. 4. Pengaruh zat-zat teratogen setelah trimester I akan mempengaruhi maturasi otak.6 IV. Sedangkan sistem–sistem lain normal. hanya satu ekstremitas saja yang mengalami spastik. − Hemiplegia Spastis yang melibatkan traktus kortikospinal unilateral yang biasanya menyerang ekstremitas atas/lengan atau menyerang lengan pada salah satu sisi tubuh. Trauma kepala . akan mengakibatkan kerusakan pada otak. dan measles dapat menjadi pemicu terjadinya kerusakan otak dan palsi serebral. dapat berpengaruh pada proses embryogenesis sehingga dapat mengakibatkan kelainan yang berat. termasuk virus herpes. Berdasarkan gejala dan tanda neurologis1-6 a.

tetapi juga ekstremitas bawah dan juga terjadi keterbatasan ( paucity) pada tungkai. Perawakan Tubuh Normal − Triplegia Spastik pada triplegia menyerang tiga buah ekstremitas. b. 2. 3. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Anak dengan Cerebral Palsy. Golongan ringan  penderita masih dapat melakukan pekerjaan atau aktifitas sehari-hari. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 24 . − Quadriplegia Spastis yang tidak hanya menyerang ekstremitas atas. 2. seringkali ditemukan adanya komponen ataksia. Umumnya menyerang lengan pada kedua sisi tubuh dan salah satu kaki pada salah salah satu sisi tubuh. Kurus. Athetosis atau koreoathetosis Kondisi ini melibatkan sistem ekstrapiramidal. Berdasarkan derajat kemampuan fungsional1 1. e. Atonik Anak–anak penderita CP tipe atonik mengalami hipotonisitas dan kelemahan pada kaki. Otak mengalami kehilangan koordinasi muskular sehingga gerakan–gerakan yang dihasilkan mengalami kekuatan. Penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan atau pendidikan khusus. Golongan sedang  aktivitas sangat terbatas sekali. c. d. Pada CP tipe ini terjadi abnormalitas bentuk postur tubuh dan / atau disertai dengan abnormalitas gerakan. Golongan berat  Penderita sama sekali tidak dapat melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Karakteristik yang ditampakkan adalah gerakan–gerakan yang involunter dengan ayunan yang melebar. irama dan akurasi yang abnormal. Campuran Cerebral palsy campuran menunjukkan manifestasi spastik dan ektrapiramidal. Walaupun mengalami hipotonik namun lengan dapat menghasilkan gerakan yang mendekati kekuatan dan koordinasi normal. Ataksia Kondisi ini melibatkan cerebelum dan yang berhubungan dengannya. sehingga sedikit membutuhkan bantuan.

seperti retardasi mental. tidak adanya refleks. Depresi atau asimetri dari refleks primitif (refleks moro. rooting. gangguan psikologik.2 Kriteria diagnostik menurut Bank sebagai berikut :2 1.1. dan lainnya. Diagnosis Untuk menetapkan diagnosis palsi serebralis diperlukan beberapa kali pemeriksaan. Gejala-gejala tersebut dapat timbul sendiri-sendiri ataupun merupakan kombinasi dari gejala-gejala tersebut diatas. Kurus. Oleh karena itu diperlukan anamnesis yang cermat dan pengamatan yang cukup. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Masa neonatal a.2 Walaupun pada palsi serebralis kelainan gerakan motorik dan postur merupakan ciri utama.dll) b. ataksia. diskinesia (sulit melakukan gerakan volunter). Kejang-kejang Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 25 . kejang-kejang. Perawakan Tubuh Normal V. tetapi tidak boleh dilupakan bahwa sering juga disertai gangguan bukan motorik. tremor. sucking. 1.2 Manifestasi dari gangguan motorik atau postur tubuh dapat berupa spastisitas. rigiditas. atonik atau hipotonik. Anak dengan Cerebral Palsy. reaksi yang berlebihan terhadap stimulus c. 1.

Refleks tendon. Perawakan Tubuh Normal d. Pola gerak dan postur 2. Keterlambatan perkembangan motorik. Keterlambatan “milestone” perkembangan b. dan penglihatan Levine membagi kelainan motorik pada palsi serebralis menjadi 6 kategori yaitu : 2 1. gangguan dari cara berjalan d. Evolusi reaksi postural dan kelainan lainnya yang mudah dikenal 6. Menetapnya refleks primitif 3. a. terdapat spastisitas e. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Kejang-kejang g. Disfungsi dari tangan c. Strabismus 4. Anak yang lebih besar a. seperti duduk atau jalan b. Anak dengan Cerebral Palsy. Retardasi mental f. Gejala neurologik lokal 2. Masa umur kurang dari 2 tahun. pendengaran. Gangguan bicara. primitif dan plantar Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 26 . Kurus. Tonus otot 5. Pola gerak oral 3. Terdapat paralisis spastik c. Terdapat gerakan-gerakan involunter d.

Hal-hal lain yang sewajarnya perlu dilaksanakan. . perawatan kesehatan. penatalaksanaan anak dengan palsi serebralis adalah sebagai berikut :1. dan lain-lain. ASPEK MEDIS a. Dekubitus terjadi pada anak-anak yang tidak sering berpindah-pindah posisi.CT Scan atau MRI . Anak dengan Cerebral Palsy. Kurus. juga diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya. sukar untuk menyatakan keinginan untuk makan.EEG. gejala- gejala klinis. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang.Terapi dengan obat-obatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 27 .2. Toksoplasma.3 1. khususnya bagi penderita ini. Perawakan Tubuh Normal Kriteria ini dapat secara nyata membedakan antara penderita palsi serebralis dengan yang bukan.Pemeriksaan cairan serebro spinal .Foto kepala . CMV. b. Diagnosis dapat ditegakkan apabila minimal terdapat 4 kelainan pada 6 kategori motorik tersebut diatas dan disertai dengan proses penyakit yang tidak progresif. Aspek medis umum : .Gizi : Gizi yang baik perlu bagi setiap anak. Untuk diagnosis palsi serebralis disamping berdasarkan anamnesis yang teliti.Pemeriksaan mata dan pendengaran .Penilaian psikologik VII. Pencatatan rutin perkembangan berat badan anak perlu dilaksanakan.Pemeriksaan serum antibody terhadap Rubela. EMG dan Evoked potensialis . kesulitan menelan. dan H. Penatalaksanaan Secara garis besarnya. seperti imunisasi.Konstipasi sering terjadi pada anak ini. . Karena sering terdapat kelainan pada gigi.2 . seperti :1.simpleks .

. seperti obat. tongkat ketiak. Anak dengan Cerebral Palsy. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 28 .Dengan menggunakan “brace” dan bidai (splint). yang umumnya dikelompokkan sebagai “neuromuscular facilitation exercises”. rasa sakit yang terlalu mengganggu dan lain-lain yang dengan fisioterapi tidak berhasil. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. antikejang.Dapat diberikan obat-obatan sesuai dengan kebutuhan anak. melemahkan otot yang terlalu kuat atau untuk transfer dari fungsi. walker. c.Banyak hal yang dapat dibantu dengan tindakan ortopedi. Terapi Okupasi Terutama untuk latihan melakukan aktifitas sehari-hari. evaluasi penggunaan alat-alat bantu. “stretching”. d.Latihan luas gerak sendi.secara umum konsep latihan ini berdasarkan prinsip bahwa dengan beberapa bentuk stimulasi akan menimbulkan reaksi otot yang dikehendaki. Latihan “bimanual” ini dimaksudkan agar menghasilkan pola dominan pada salah satu sisi hemisfer otak. dan lain-lain. Ortotik . yang kemudian bila dilakukan berulang-ulang akan berintegrasi ke dalam pola gerak motorik yang bersangkutan. Tujuan dari tindakan bedah adalah untuk stabilitas. latihan berdiri. latihan penguatan dan peningkatan daya taha otot. dan lain-lain. psikotropik. Terapi melalui pembedahan ortopedi . latihan jalan. latihan duduk. latihan keterampilan tangan dan aktivitas “bimanual”. Perawakan Tubuh Normal . misalnya tendon yang memendek akibat kekakuan atau spastisitas otot. untuk mencapai suatu postur dan gerak yang dikehendaki. tripod. kursi roda. f. Fisioterapi . latihan pindah. e. Kurus. “Motorfunction training” dengan menggunakan sistem khusus.obatan untuk relaksasi otot.Dimana digunakan pengetahuan neurofisiologi dan neuropatologi dari refleks didalam latihan.

b. Anak dengan Cerebral Palsy. Secara umum program “bracing” ini bertujuan :  Untuk stabilisasi. Pendidikan Mengingat selain kecacatan motorik. maka pada umumnya pendidikannya memerlukan pendidikan khusus (Sekolah Luar Biasa). Problem sosial Bila terdapat masalah sosial. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. ASPEK NON MEDIS a. terutama “bracing” untuk tungkai dan tubuh  Mencegah kontraktur  Mencegah kembalinya deformitas setelah operasi  Agar tangan lebih berfungsi 2. juga sering disertai kecacatan mental. c.Mengingat kecacatannya. sering kali tujuan tersebut sulit dicapai.Masih ada pro dan kontra untuk program “bracing” ini. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 29 . diperlukan pekerja sosial untuk membantu menyelesaikannya. kesenian dan aktifitas-aktifitas kemasyarakatan perlu juga dilaksanakan oleh penderita ini. Perawakan Tubuh Normal . Kurus. Pekerjaaan Tujuan yang ideal dari suatu usaha rehabilitasi adalah agar penderita dapat bekerja secara produktif. Lain-lain Hal-hal lain seperti rekreasi.Tetapi meskipun dari segi ekonomis tidak menguntungkan. a. olahraga. sehingga dapat berpenghasilan untuk membiayai hidupnya. agar dapat menimbulkan harga diri bagi penderita yang bersangkutan. pemberian kesempatan kerja tetap diperlukan.

Tetapi akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai kompensasinya. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. memerlukan perawatan khusus. Kurus. Prognosis Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang sesungguhnya. bangkitan kejang.2. Perawakan Tubuh Normal VIII.Prognosis paling baik pada derajat fungsional ringan. gangguan penglihatan dan pendengaran.Prognosis bertambah berat apabila disertai retardasi mental. Sedangkan 30-35 % penderita yang disertai dengan retardasi mental. Di Inggris dan Skandinavia sebanyak 20-30 % dari penderita dengan kelainan ini mampu sebagai buruh penuh. Angka kematian penyakit ini adalah 53 % pada tahun pertama dan 11 % meninggal pada umur 7 tahun. Menurut pengamatan jangka panjang yang dilakukan oleh Cooper dkk. Anak dengan Cerebral Palsy.4 Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 30 . menunjukkan adanya tendensi perbaikan fungsi koordinasi dan fungsi motorik dengan bertambahnya umur anak yang mendapat stimulasi yang baik. tidak pernah terjadi pada palsi serebralis.

KLINIS ANAK DENGAN DEVELOPMENTAL DELAY Perkembangan Normal pada anak :  Pada akhir tahun pertama anak biasanya dapat: • duduk tanpa dukungan • mengoceh dengan berbagai macam suara • membuat suara khusus untuk menarik perhatian • mencari mainan • jelas membedakan orang asing dari keluarga • menikmati permainan sederhana seperti mengintip-a-boo  Pada usia dua tahun anak biasanya dapat: • berjalan dengan baik • mencoret-coret dengan pensil dan krayon • menggunakan sejumlah kata-kata tunggal • membangun menara dari tiga blok • mengenali beberapa gambar benda-benda umum Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 31 . CMV. Kurus. DEFINISI Developmental delay (kadang-kadang disebut keterlambatan perkembangan) adalah istilah yang dapat digunakan pada anak dengan berkembang yang lebih lambat dalam mempelajari hal-hal baru dari pada anak-anak lain dengan usia yang sama. anak yang hidup penuh ketakutan  Infeksi saat perinatal seprti Rubella. HIV. II. seperti child abuse. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Perawakan Tubuh Normal DEVELOPMENTAL DELAY I. Anak dengan Cerebral Palsy.ETIOLOGI Penyebab Terjadinya Developmental delay pada anak-anak :  Genetik / syndrome sebagai contoh anak dengan down’s syndrome  Anak dengan Hipotiroid  Cedera kepala  Lingkungan hidup anak yang tidak mendukung. atau neonates meningitis  Konsumsi alcohol saat masa kehamilan  Kelahiran premature  Kelainan pendengaran dan penglihatan III.

antara lain seperti : Bahasa ● Kemampuan dalam pemahaman verbal dan ekspresi dan produksi ujaran Gross Motor Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 32 . Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. derajat kerusakan dan lingkungan pertumbuhan. seperti berbagi atau bergiliran Kelainan yang dapat di timbulkan pada anak dengan developmental delay : Anak mungkin menunjukkan keterlambatan perkembangan dalam satu atau beberapa area perkembangan. Anak dengan Cerebral Palsy.  Pada usia tiga tahun anak biasanya dapat: • melompat • memakai dan melepas pakaian • menggambar lingkaran • bergabung dengan kata-kata menjadi kalimat sederhana • bergabung dalam bermain dengan orang lain. menendang bola berpura-pura bermain dengan mainan • menegaskan 'diri' dengan melawan kehendak orang tua • merasa nyaman di lingkungan yang akrab dengan tidak adanya orang tua. misalnya makan boneka • memahami ketika diberitahu untuk tidak melakukan sesuatu. Kurus.  Pada usia lima tahun anak biasanya dapat: • memegang pensil dengan pemahaman yang matang • menyalin persegi • berbicara dengan lancar dan jelas • mulai menghitung • mengetahui nama-nama warna dan bentuk umum • dress tanpa bantuan • memahami aturan bermain game • bermain kooperatif. misalnya bergulir. Setiap individu memiliki perbedaan penyebab. Perawakan Tubuh Normal • meniru kegiatan sehari-hari yang sederhana. anak-anak dengan keterlambatan perkembangan bisa menunjukkan variasi dalam kinerja mereka.

dimulai waktu prenatal. Anak dengan Cerebral Palsy. Selain itu diperlukannya pula pemeriksaan- pemeriksaan fklinis lainnya untuk memastikan adanya masalah perkembangan pada anak tersebut. beserta dilakukannya Developmental Delay Screening Test. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 33 . berpikir dan memecahkan masalah Keterampilan Sosial dan Adaptasi ● keterampilan penting dalam komunikasi. disertai riwayat perkembangannya sejak lahir. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. interaksi sosial. perawatan diri dalam kehidupan sehari-hari IV. penggunaan alat-alat dan tulisan tangan Kemampuan intelektual atau Kognisi ● Kemampuan untuk belajar. berdiri. dll Fine Motor ● Kemampuan seperti koordinasi mata-tangan.DIAGNOSIS Penegakan Diagnosis pada anak dengan developmental delay didapatkan melalu riwayat kehidupannya sejak lahir. Perawakan Tubuh Normal ● Perkembangan fisik dalam duduk. perinatal. berjalan. Kurus. berlari. dan postnatal. Berikut merupakan ilustrasi skema investigasi untuk ada dengan gangguan perkembangan. melompat.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 34 . dan penggunaan bahasa. melompat. Anak dengan Cerebral Palsy. memahami. misalnya tersenyum  Fungsi motorik halus: mata / tangan koordinasi. Perawakan Tubuh Normal Denver Develompmental Screening Test Denver Developmental Screening Test (DDST) merupakan alat untuk menilai perkembangan seorang anadk berusia 0 tahun sampai usia 6 tahun. dan manipulasi benda-benda kecil. dibagi menjadi empat bagian:  Sosial / pribadi: aspek sosialisasi di dalam dan di luar rumah. berjalan. misalnya kemampuan untuk menggabungkan kata-kata  Fungsi motorik kasar: kontrol motor. misalnya menggenggam dan menggambar  Bahasa: produksi suara.. kemampuan untuk mengenali. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Kurus. Metode ini dikembangkan pada tahun 1967 Tes terdiri hingga 125 item. duduk. dan gerakan lainnya Contoh Denver Develompmental Screening Test.

PENANGANAN ANAK DENGAN DEVELOPMENTAL DELAY Hal yang perlu di perhatikan orang tua pada anak dengan developmental delay : 1. 3. Perawakan Tubuh Normal V. 2. memahami dan menerima keadaannya. Berpartisipasi dalam pelatihan anak sejauh mungkin dan memelihara komunikasi dengan instruktur sehingga menguasai pendekatan pelatihan. Anak dengan Cerebral Palsy. 5. Berbagi perasaan dengan orang lain untuk meredakan emosi negatif. Menilai anak sedini mungkin. Kurus. Dalam penangannya anak dengan developmental delay memerlukan penangan multi factorial seperti :  Orang Tua Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 35 . Gabung orangtua kelompok-kelompok swadaya dan membuat baik komunitas layanan masyarakat bagi orang tua dengan anak mengalami developmental delay. 4. Identifikasi kekuatan anak untuk meningkatkan rasa percaya diri. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang.

2. sekolah dan bekerja  Pelatih bicara dan bahasa Spesialisasi dalam diagnosis dan terapi masalah komunikasi  Pekerja sosial Bertugas untuk membantu penderita dan keluarga yang hidup dalam komunitas dan program edukasi  Psikolog Psikolog dibutuhkan agar dapat membantu penderita dan keluarga menghadapi tekanan khusus dan kebutuhan dari penderita. Tesis. Suharso D. Soetjiningsih. Semarang 5. Cerebral Palsy. Cerebral Palsy ditinjau dari Aspek Neurologi. Universitas Udayana. Tumbuh kembang anak. Dalam : Buku Kapita Selekta Ilmu Kesehatan Anak VI. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. Kurus. Adnyana IMO. Karya Tulis Ilmiah. Universitas Sumatera Utara. editor. Medan 4. Dalam: Ranuh Gde. 1995. 2006. Pada banyak kasus. Universitas Airlangga. Cerebral Palsy : Dianosis dan tatalaksana. H. Surabaya 3. 1995. Anak dengan Cerebral Palsy. psikolog dapat mengatur terapi dengan memodifikasi perilaku yang tidak membantu atau destruktif  Guru penanganan anak dengan kebutuhan khusus Daftar Pustaka 1. Denpasar. Palsi serebralis. 2012. Kurniadi A. Universitas Diponegoro. Faktor-faktor Risiko Prenatal dan Perinatal Kejadian Cerebral Palsy. Jakarta: EGC. 2006. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 36 . 223-35. Perawakan Tubuh Normal  Dokter Specialis anak untuk memantau perkembangan anak selanjutnya  Terapis fisik Membuat dan mengimplementasikan program latihan khusus untuk memperbaiki gerakan dan kekuatan  Terapis okupasi Merupakan orang yang dapat membantu kemampuan pemahanan penderita untuk kehidupan sehari-hari. Mardiani E.

Goldson Edward..Nelson Ilmu Kesehatan Anak . 2001. 7. llustrated Textbook. 360-363.. Saunders. Jakarta: 2000. Anak dengan Cerebral Palsy. hal 465. Camp Bonnie W.1:5 – 9. MediaAesculapius Fakultas Kedokteran UI. Deteksi dan intervensi Dini Tumbuh kembang Anak Ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. 7th International Edition. Reynolds Ann : Child Development & Behaviour. 11. Jilid 2. Perawakan Tubuh Normal 6. Departemen Kesehatan R. 10. 2004. 2 nd edition. Kurus.B. New York. in Paediatrics. edited by Berman. Edisi 3... Hartono. Clayden Graham : Emotions and behaviour. pp. 2005 Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 17 Februari 2014 – 26 April 2014 37 . 2nd edition. Deterding Robin R. Media Medika Indonesia Vol.39 No.. Bambang. 313. Perbedaan Faktor Risiko dan Berbagai Fungsi Dasar antara Cerebral Palsy tipe Hemi plegik dengan Tipe Diplegia Spastika . 1991. Global Developmental Delay Status Gizi Kurang. 66-101. Mc Graw-Hill. 9. Lissauer Tom. Edisi 15. in Pediatric Decision making.sondheimer Judith M. pp.C. Vaughan VC. Mosby. EGC. Behrman RE. B. Bagian II.I. 2005. : Pedoman Pelaksanaan Stimulasi. 8. Jakarta: 2000. Decker Inc. hal: 883-889. Philadelphia. 12. pp.. in Lange Current Pediatric Diagnosis Treatment edited by Hay William. Headley Roxan : Developmental Delay Under 6 years of age. Kapita Selekta Kedokteran. Levin Myron J.