LAPORAN KASUS

TUBERKULOSIS PARU

Pembimbing :
dr. Sukaenah Shebubakar Sp.P.FCCP.

Disusun oleh :
Ajeng Dhian Andari - 030.13.012
Danetta Ismirinda – 030.13.___

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM
RSUD BUDHI ASIH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

13.P) . Sukaenah Shebubakar Sp.___ Telah disetujui oleh Pembimbing (dr.012 DANETTA ISMIRINDA – 030.030.13.PERSETUJUAN LAPORAN KASUS Judul: TUBERKULOSIS PARU Penyusun: AJENG DHIAN ANDARI .

Jakarta. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian Penyakit Dalam Studi Pendidikan Dokter Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih. terutama : 1. KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT. Serta pihak-pihak lain yang bersedia meluangkan waktunya untuk membantu saya. 3. Saya mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dan bertujuan untuk ikut memperbaiki makalah ini agar dapat bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat luas. Mei 2017 Penyusun . Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. selaku pembimbing dalam penyusunan makalah. Sukaenah Shebubakar Sp. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini. dr. Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Teman-teman yang turut membantu penyelesaian makalah ini. 2.P.

BAB I PENDAHULUAN .

RSUD Budhi Asih. Identitas Pasien Nama : Jenis Kelamin : Usia : Pekerjaan : Pendidikan : Agama : Status Pernikahan : Alamat : Tanggal Masuk : II. BAB II ILUSTRASI KASUS I. Jakarta Timur. ANAMNESIS Dilakukan autoanamnesis dengan pasien pada hari Selasa tanggal 22 Mei 2017 di bangsal Eldelweis Barat. Keluhan Utama Keluhan Tambahan Riwayat Penyakit Sekarang Riwayat Penyakit Dahulu .

Pendengaran : tidak ditemukan keluhan c. Penglihatan : tidak ditemukan keluhan b. Kardiovaskular : tidak ditemukan keluhan d. Saluran kemih : tidak ditemukan keluhan g. Paru-paru : sesak (+) batuk berdarah (+) e. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 22 Mei 2017 Keadaan umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Compos Mentis Tanda vital : Tekanan darah : 110/70 Nadi : 86 x/menit Pernapasan : 22 x/menit Suhu : 36o C SpO2 : 97% Status gizi : Berat badan : Tinggi badan : BMI : Status Generalis . Hematologi : tidak ditemukan keluhan h. Neurologi : tidak ditemukan keluhan j. Psikiatri : tidak ditemukan keluhan III. Pencernaan : tidak ditemukan keluhan f. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Pengobatan Riwayat Kebiasaan Anamnesis Menurut Sistem a. Metabolik-endokrin : tidak ditemukan keluhan i.

refleks cahaya langsung +/+. sekret -/- Mulut : Oral hygiene baik. sianosis (-). pupil isokor +/+. nyeri lepas (-). turgor kulit baik. eflorensensi bermakna (-) Kepala : Normosefali. gerak dinding simetris Auskultasi : Bising usus (+) 1-3x/menit Palpasi : Super. secret -/-. gallop (-). murmur (-) Pemeriksaan Paru Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis Palpasi : Ekspansi dada normal Perkusi : Sonor +/+ Auskultasi : Suara napas vesikuler +/+. panjang. wheezing -/-. faring hiperemis (-) candidiasis oral (-) Leher : Trakea di tengah. ronkhi +/+ Pemeriksaan Abdomen Inspeksi : Bentuk normal. rambut hitam.Kulit : Warna kulit sawo matang. sklera ikterik -/-. refleks cahaya tidak langsung +/+ Telinga : Normotia. ikterik (-). otorrhea -/- Hidung : Deviasi septum -/-. kulit kering (-). tiroid tidak teraba membesar. pucat (-). pembesaran KGB (-) Pemeriksaan Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V 1 cm medial linea midclavicula sinistra Perkusi : Batas jantung kanan : ICS IV linea sternalis dekstra Batas jantung kiri : ICS V 1 jari medial linea midclavicula sinistra Auskultasi : BJ I dan II reguler. nyeri tekan (-). pembesaran lien dan hepar (-) . distribusi merata Mata : Konjungtiva anemis -/-.

shifting dullness (-) Pemeriksaan Ekstremitas Ekstremitas atas : Akral hangat. dan tidak ada sianosis Ekstremitas bawah : Akral hangat. tidak ada edema. dan tidak ada sianosis . tidak ada edema.Perkusi : Timpani.

1 fL 80 .17.3 ribu/uL 3.5 Klorida 103 mmol/L 98 -109 MIKROBIOLOGI SEDIAAN GRAM Epitel 3-5 PMN 2-4 0-5 Blastospora Positive Negative Pseudohifa Negative Negative Clue Cells Negative Negative Gram Positif Kokus Negative Negative Gram Negatif Kokus Negative Negative Gram Negatif Batang Positive Negative Gram Positif Batang Negative Negative .8 g/dL 13.3 Hematokrit 39 % 40 .1 mmol/L 3.440 Eritrosit 4.IV.6 MCV 81.6 .5.5 Kalium 4.36 MCHC 32.100 MCH 26.3 % <14 LED 50 mm/jam 0 .5.8 .5.30 KIMIA KLINIK Glukosa Darah Sewaktu mg/dL <110 Natrium 139 mmol/L 3.9 Leukosit 9.2 .52 Trombosit 387 ribu/uL 150 .8 juta/uL 4.36 RDW 11.6 .10.8 g/dL 32 . Pemeriksaan Penunjang Laboratorium JENIS PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI NORMAL HEMATOLOGI Hemoglobin 12.4 .6 pg 32 .

Diplokokus Negative Negative Intrasel Gram Neg. Diplokokus Positive Negative Extrasel Rontgen Thoraks PA Kesan : . Gram Neg.

Vitamin K 3 x 1  Anti fibrinolotik : Inj. Keluhan lain seperti demam. dan penurunan berat badan juga dialami pasien dalam 1 bulan terakhir.  Pada pemeriksaan penunjang _________ Rencana diagnostik :  Pemeriksaan BTA Rencana tatalaksana :  Pemberian cairan dengan infus Assering 500cc/24 jam  Anti koagulasi : Inj. Kalnex 3 x 1  Antibiotik : Inj.  Pada pemeriksaan fisik didapatkan suara ronki positif pada paru kiri saar dilakukan auskultasi. Analisis Masalah Tuberkulosis paru Atas dasar :  Pasien mengeluh batuk berdahak yang timbul sudah sejak 1 bulan yang lalu. Ceftriaxone 2 x 1  Suplemen fungsi hati : Hepa Q 2 x 1  Obat anti tuberkulosis :  Rifampisin 1 x 450mg  Isoniazid 1 x 300mg  Pyrazinamide 1 x 1250mg . pasien mengeluh batuk berdahak yang disetai darah sebanyak _______. Resume VI. Daftar Masalah Tuberkulosis paru VII. dan nyeri dada ketika batuk timbul. Selain itu. V. Tiga hari sebelum masuk rumah sakit. pasien juga mengeluhkan sesak napas.

 Disarankan untuk : Pemberian terapi Vitamin K. Dan juga disarankan untuk pemeriksaan BTA. Riwayat hipertensi dan DM disangkal O KU : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos mentis TD : 110/70 Suhu : 36 Nadi : 86x RR : 22x Mata : CA -/-. OE (-) Lab. Sesak sudah tidak dirasakan pasien. murmur (-). keringat malam. bertambah saat inspirasi.c susp TB Paru. Demam. Abdomen : BU (+) NT (-) Ekstremitas : AH (+). Demam. Kalnex. dan berat badan turun kurang lebih 3 kg.2 .17. wh -/-. dan antibiotik Ceftriaxone. rh +/+ Cor BJ I II reguler. mual dan muntah disangkal. Hb : 12.8 g/dL (N : 13.3) Ht : 39% (N : 50 . Nyeri dada masih ada. . Kalnex 3 x 1  Inj. Pasien merasakan penurunan nafsu makan. Batuk disertai sesak dan nyeri dada. Ceftriaxone 2 x 1 Konsultasi Paru (22 Mei 2017) Hemoptoe e. Follow up 22 Mei 2017 S Pasien mengeluh batuk berdarah sejak 3 hari SMRS.  Etambutol 1 x 1000mg VIII. 23 Mei 2017 S Keluhan batuk berdahak masih ada namun sudah berkurang. mual dan muntah disangkal. gallop (-. SI -/- Thorax : Pulmo SNV +/+.TB Paru P  IVFD Assering / 12jam  Inj. Vit K 3 x 1  Inj.52) A .

OE (-) Lab. rh +/+ Cor BJ I II reguler. SI -/- Thorax : Pulmo SNV +/+. LED : 50 mm/jam (N : 0 . BAK dan BAB dalam batas normal. murmur (-). wh -/-. keringat malam (-). OE (-) Lab.TB Paru P  IVFD Assering / 12jam  Inj.30) A . demam (-).O KU : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos mentis TD : 120/80 Suhu : 36 Nadi : 85x RR : 22x Mata : CA -/-. rh +/+ Cor BJ I II reguler. mual dan muntah (-). Kalnex 3 x 1  Inj.TB Paru . lemas (-). murmur (-). Vit K 3 x 1  Inj. gallop (-.6 Nadi : 68x RR : 18x Mata : CA -/-.30) Mikrobiologi Sediaan gram:  Blastospora (+)  Gram Negatif Batang (+)  Gram Negatif Diplokokus (+) Foto thoraks  Terdapat TB cavitas pada apex paru A . Ceftriaxone 2 x 1 24 Mei 2017 S Pasien mengatakan batuk darah (+) namun sudah berkurang. Abdomen : BU (+) NT (-) Ekstremitas : AH (+). O KU : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos mentis TD : 110/80 Suhu : 36. Sesak (-). LED : 50 mm/jam (N : 0 . SI -/- Thorax : Pulmo SNV +/+. gallop (-. Abdomen : BU (+) NT (-) Ekstremitas : AH (+). nyeri dada (-). wh -/-.

Ceftriaxone 2 x 1 26 Mei 2017 S Pasien mengatakan tidak ada keluhan. keringat malam (-). nafsu makan baik. wh -/-. Kalnex 3 x 1  Inj. SI -/- Thorax : Pulmo SNV +/+. nyeri dada (-). Vit K 3 x 1  Inj. OE (-) Lab. Abdomen : BU (+) NT (-) Ekstremitas : AH (+). BAK dan BAB dalam batas normal. Vit K 3 x 1  Inj. Ceftriaxone 2 x 1  Hepa Q 3 x 1gr  R/H/Z/E 450/300/1250/1000 . berukurang dan darah hampir tidak ada. LED : 50 mm/jam (N : 0 . Kalnex 3 x 1  Inj. O KU : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos mentis TD : 120/80 Suhu : 36.TB Paru P  IVFD Assering / 12jam  Inj. gallop (-.3 Nadi : 82x RR : 20x Mata : CA -/-. lemas (-).P  IVFD Assering / 12jam  Inj. rh +/+ Cor BJ I II reguler. murmur (-). maul dan muntah (-).30) Mikrobiologi Sediaan gram:  Blastospora (+)  Gram Negatif Batang (+)  Gram Negatif Diplokokus (+) Foto thoraks  Terdapat TB cavitas pada apex paru A . Batuk (+). Sesak (-).

dan tipe penyakitnya. BAB III TINJAUAN PUSTAKA I. gambaran klinik dan kelainan radiologis menunjukan tuberkulosis aktif. tuberculosis positif.  Tuberkulosis paru BTA (-) 1) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukan BTA negatif. 1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)  Tuberkulosis paru BTA (+) 1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukan hasil BTA positif. 2) Hasil pemeriksaan dahal 3 kali menunjukan BTA negatif dan biakan M. tipe pasien yang terkena.  Kasus kambuh (relaps) . Untuk mengklasifikasikannya bisa dilihat dari hasil pemeriksaan dahak (BTA). 2. 3) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukan BTA positif dan biakan positif. Definisi II. Klasifikasi Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru. 2) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukan BTA positif dan kelainan radiologik menunjukan gambaran tuberkulosis aktif. Berdasarkan tipe pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.  Kasus baru Pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan. tidak termasuk pleura.

 Tuberkulosis kavitas Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas. Okupasi. yang dimana menjadi tempat yang baik untuk bakteri M. pada bulan ke 4 pengobatan. Retno Asti. Depkes RI. Gejala yang timbul berupa batuk produktif. Batuk berdarah juga bisa muncul pada tuberkulosis kavitas. Pasien yang menderita penyakit ini sangat menular. dll) dalam hal ini. Tuberkulosis kavitas meliputi lobus bagian atas paru. Diagnosis. 2002. Dan Klafisikasi Tuberkulosis. dan lemas.com/dokumen/D kavitas. bronkiektasis. Bila didapatkan hasil BTA negatif atau biakan negatif. Berdasarkan tipe penyakit Commented [AD1]: 1.pdf ) tempat terinfeksi karena daerah tersebut memiliki kadar oksigen yang tinggi. keringat malam. maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan : 1) Infeksi non TB (pneumonia. Jakarta. Dan Keluarga FKUI.com. 2007 (http://www. berikan dulu antibiotik selama 2 minggu. Pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapatkan pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis merusak bagian paru secara progresif yang akan membentuk Tuberkulosis. Lobus bagian atas paru menjadi EPKES-Pedoman-Nasional-Penanggulangan-TBC-2011- Dokternida. atau ruang udara yang besar. Tuberculosis berkoloni. 3. Bakteri M.  Kasus gagal 1) Pasein BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 pengobatan 2) Pasien dengan hasil BTA negatif namun gambaran radiologik positif menjadi BTA positif. penurunan berat badan. 2. tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis. demam.Werdhani.dokternida. atau pengobatan lengkap. kemudian evaluasi 2) Infeksi jamur 3) TB paru kambuh  Kasus defaulted atau drop out Pasien yang tidak mengkonsumsi obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatan selesai.  Tuberkulosis milier . kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. Patofisiologi.rekansejawat.

1) Prinsip pengobatan . sifat.  Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Jenis. 2007 Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjut 4 atau 7 bulan. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Patogenesis IV. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan tambahan. Gejala yang timbul berupa demam. Diagnosis V. keringat malam. Jakarta. dan dosis OAT yang akan dijelaskan pada bab ini adalah yang tergolong pada lini pertama. III. dan penurunan berat badan. dan anak-anak memiliki risiko tinggi terkena tuberkulosis milier. Orang dengan imun yang rendah. Pengobatan Commented [AD2]: Depkes RI. Milier mendeskripsikan gambaran foto ronthen thoraks dengan nodul yang kecil- kecil menyebar diseluruh lapang paru. Tuberkulosis milier adalah tuberkulosis yang menyebar.

b. biasanya pasien menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu • Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan Tahap lanjutan • Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. namun dalam jangka waktu yang lebih lama • Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. . Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Tahap intensif • Pada tahap intensif pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat • Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. yaitu tahap intensif dan lanjutan. c. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahan. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat sesuai dengan ketegori pengobatannya.