1

PENGARUH KOLABORASI ANTAR PROFESI KESEHATAN
DALAM PENGGUNAAN KOMUNIKASI SBAR
TERHADAP ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN YANG BERKESINAMBUNGAN

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas UAS Riset Kualitatif
Pada Fakultas keperawatan
Universitas Padjadjaran

METILDA (NPM. 220120150032)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul “Studi Kualitatif tentang
Kolaborasi Antar Profesi Kesehatan terhadap Penggunaan Komunikasi SBAR”
untuk memenuhi tugas UAS pada mata kuliah Riset Kualitatif. Penulisan proposal
tesis ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pengalaman terkait kolaborasi
antar profesi kesehatan terhadap penggunaan komunikasi SBAR, sehingga pasien
aman dan terhindar dari cedera serta menempatkan keselamatan pasien sebagai
prioritas utama dalam pelayanan kesehatan.
Sebagai hamba-Nya yang lemah, dengan segala kerendahan hati penulis
menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan tugas ini baik dari aspek
analisis penulis maupun dalam referensi pustaka. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses penyusunan makalah ini, oleh karena itu ucapan terima
kasih ini penulis sampaikan kepada :
1. Ibu Yanny Trisyani, SKp, MN selaku dosen dan koordinator mata kuliah Riset
Kualitatif dalam Keperawatan yang telah memberikan ilmu, waktu,
bimbingan, arahan, dan pemahaman selama proses perkuliahan dan dalam
penyusunan proposal.
2. Bapak Kusman Ibrahim, SKp., MNS., PhD, Ibu Suryani, SKp., MHSc., PhD,
Ibu Henny S. Mediani, SKp., MN., PhD, dan Ibu Laili Rahayuwati, SKM., Dra
selaku tim dosen pengajar dan pembimbing mata kuliah Riset Kualitatif dalam
Keperawatan yang telah memberikan ilmu, bimbingan, dan arahan selama
proses perkuliahan.
3. Orang tuaku tercinta yang selalu mendoakan, memberikan dukungan dan
semangat serta perhatian yang tidak ada habis-habisnya.
4. Ns. Kristoforus Triantono., S.Kep terkasih yang selalu memberikan bantuan,
semangat, dan dukungannya selama proses penyusunan proposal tesis ini.
5. Rekan-rekan mahasiswa angkatan X, khususnya Peminatan Manajemen
Keperawatan angkatan III di Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu
1

2

Keperawatan Universitas Padjadjaran yang telah memberikan dukungan moril
dan membantu dalam peminjaman referensi buku selama penyusunan tugas
ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan limpahan rahmat-Nya
kepada semua pihak yang telah membantu dan imbalan pada setiap amal baik
yang mereka lakukan. Akhir kata, penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat
bagi banyak pihak. Amin.

Bandung, Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

3

Sehingga rumah sakit sudah seharusnya mampu memberikan sajian terbaik demi untuk kepuasan klien. selaras dengan tanggung jawab pemerintah untuk mampu menciptakan suatu sistem pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas. Setiap profesi maupun instansi yang bergerak di bidang kesehatan bertanggung jawab secara bersama-sama dalam menjamin kondisi sehat bagi setiap orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan. klien diartikan sebagai mitra dari setiap profesi kesehatan dalam setiap penyelesaian masalah kesehatan yang mereka alami. Sebagai mitra klien berhak untuk mengetahui dan kemudian menentukan pelayanan terbaik yang akan mereka dapatkan. Peranan perawat dalam melakukan 1 . BAB I PENDAHULUAN A. Rumah sakit merupakan salah satu ruang kerja dan refleksi tanggung jawab dari setiap profesi kesehatan untuk dapat menerapkan dan mengembangkan keilmuan kesehatan. Dalam menyajikan jenis pelayanan terbaik dibutuhkan analisa yang kuat akan apa yang menjadi kebutuhan dari klien oleh setiap tenaga kesehatan. Latar Belakang Penelitian Sehat merupakan kebutuhan bagi setiap individu demi hidup yang berkualitas. Rumah sakit harus menjaga mutu keperawatan agar mampu bersaing dengan rumah sakit lain. Pelayanan keperawatan adalah salah satu ruang lingkup pelayanan kesehatan yang merupakan inti dari kegiatan pelayanan dirumah sakit. rawat jalan. Hal ini berarti dibutuhkannya perbaikan pelayanan kesehatan baik dari pelayanan rawat inap. 71. Klien saat ini bukanlah objek dari pelayanan rumah sakit. Sedangkan bagi klien rumah sakit merupakan wadah yang menyajikan harapan untuk mencapai kondisi sehat dan kembali dapat beraktifitas. Pelayanan keperawatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan di rumah sakit. 2013). rujukan dan kesehatan darurat sehingga dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat (Permenkes [Peraturan Menteri Kesehatan] No.

Perawat sebagai salah satu dari ujung tombak rumah sakit. 2005). dan tanggung gugat. Seperti yang dikemukakan National Joint Practice Commision (1977) yang dikutip Siegler dan Whitney (2000) mengemukakan ternyata tidak ada yang mampu menjelaskan pengertian kolaborasi dari sekian . yaitu bagaimana keragaman bergerak optimal dengan fungsi masing-masing sehingga klien dapat merasakan manfaat dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. kesetaraan. Keragaman profesi berarti keragaman nilai-nilai. Dalam optimalisasi peran masing-masing profesi mengharuskan setiap profesi berkolaborasi menetapkan tujuan dan sajian bagi klien serta membagi ruang kerja sesuai dengan keilmuan masing-masing. norma. Meskipun begitu tetapi kolaborasi sulit diartikan untuk mendeskripsikan apa yang sebenarnya yang menjadi essensi dari kegiatan ini. Perawat memberikan pelayanannya selama 24 jam terus menerus pada pasien sehingga menjadikan satu-satunya profesi kesehatan dirumah sakit yang banyak memberikan persepsi terhadap pelayanan kesehatan pada diri pasien. kerja sama. dan falsafah yang dianut oleh masing-masing profesi. tanggung jawab. Tenaga kesehatan di rumah sakit memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. berbagi tugas. 2 pelayanan kesehatan di dalam sebuah rumah sakit sering dijadikan ukuran oleh pelanggan rumah sakit tersebut sebagai gambaran pelayanan rumah sakit secara keseluruhan. Adanya keragaman profesi kesehatan di tatanan klinis menjadi titik berat sekaligus tantangan. memerlukan suatu sistem untuk meningkatkan keselamatan pasien (patient safety) (Aditama. Dari sekian banyak pengertian yang diungkapkan berbagai pendapat tetapi dapat diartikan pada suatu kesimpulan yang sama yakni mengenai kebersamaan. Perawat juga berada di garis depan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. 2010). Kolaborasi adalah istilah general yang dipakai untuk menggambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Hal ini dikarenakan dalam melakukan tugasnya perawat memiliki kesempatan yang sering untuk berhadapan dengan pasien maupun keluarganya dibandingkan dengan petugas kesehatan lainnya (Depkes.

" Apapun bentuk dan tempatnya. maka perlu dibudayakan sebuah teamwork antar disiplin ilmu dengan mengedepankan tujuan bersama yaitu menurunnya morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian). keluarga. bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktik mereka dengan berbagi nilai-nilai dan saling mengakui dan menghargai setiap orang yang berkontribusi untuk merawat individu. Kolaborasi adalah upaya agar setiap manfaat dari masing-masing profesi dapat terakomodir dengan baik agar tercapai pelayanan yang berkualitas bagi klien. 2012) American Medical Assosiation (AMA). Partnership kolaborasi merupakan usaha yang baik sebab mereka menghasilkan outcome yang lebih baik bagi klien dalam mencapai upaya penyembuhan dan memperbaiki kualitas hidup (Sari. Kepemimpinan di tatanan klinis membutuhkan kemampuan klinis. pengalaman. intensitas waktu yang tinggi dalam bersentuhan langsung dengan klien sehingga diharapkan setiap pemimpin di tatanan klinis dapat memahami kondisi dan kebutuhan klien secara . "Kolaborasi adalah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktik bersama sebagai kolega. Setiap anggota tim memiliki kewenangan intervensi yang berbeda-beda sesuai skill dan kompetensi dalam mengelola sakit pada kliennya (Sari. kolaborasi meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan perspektif kepada seluruh kolaborator. maka dibutuhkan perubahan-perubahan sikap profesional kesehatan yang menjadi sebuah pendekatan. 1994. mendefinisikan kolaborasi sebagai berikut. 2012). 3 ragam variasi dan kompleknya kolaborasi dalam konteks pelayanan kesehatan. setelah melalui diskusi dan negosiasi yang panjang dalam kesepakatan hubungan profesional dokter dan perawat. dan masyarakat. Agar terciptanya praktik kolaboratif interdisiplin yang berorientasi pada klien. Perubahan membutuhkan kepemimpinan yang tepat. Efektifitas hubungan kolaborasi profesional membutuhkan mutual respek baik setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi tersebut. Dalam rangka meningkatkan kepuasan klien (patient satisfaction) baik dirumah sakit maupun ditempat praktik.

Keselamatan pasien (patient safety) merupakan suatu system yang dibuat agar asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien lebih aman dan pasien terhindar dari cedera serta perawatlah kunci dalam pengembangan mutu dalam keselamatan pasien. perlu adanya kebiasaan baru dalam pelayanan yang mendukung tingkat kepercayaan bagi tim kesehatan. 4 menyeluruh. orang dan budaya. yakni melibatkan klien dan keluarga dalam pembuatan keputusan perawatan klien. proses. Sesuai dengan pendapat (Stanley. . 2006) Sasaran keselamatan pasien yang tertuang dalam PMK No. Sistem ini meliputi: Assesment resiko. Hal ini salah satu bentuk kolaborasi tim kesehatan selain bersama tim kesehatan lainnya menuju tercapainya tujuan yang sama. lingkungan. pelaporan. kemampuan belajar dari insiden dan menindaklanjuti insiden serta implementasi solusi untuk mengurangi resiko bagi setiap tenaga kesehatan termasuk perawat sebagai tenaga terdepan dalam sistem pelayanan. peralatan teknologi. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 dibuat dengan mengacu pada sembilan solusi keselamatan pasien oleh WHO bertujuan untuk mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien.Timbang terima pasien termasuk pada sasaran yang kedua yaitu peningkatan komunikasi yang efektif petugas kesehatan. identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan kejadian pasien. Dengan kemampuan tersebut pemimpin di tatanan klinis dapat menjadi fasilitator dan juga connector antara klien dengan tenaga kesehatan lain. 2006) bahwa clinical leadership adalah orang yang memiliki keahlian klinis dalam daerah praktek khusus dan yang mampu memanfaatkan keterampilan individu yang lainnya yang memungkinkan perawat dan penyedia kesehatan lainnya dapat memberikan perawatan yang berkualitas terhadap klien.I. Keselamatan (safety) telah menjadi isu global dan prioritas utama di rumah sakit karena terkait dengan manajemen mutu dan citra rumah sakit itu sendiri. Untuk mencapai perubahan. (DepKes R. Perawat merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan khususnya di rumah sakit memiliki peran yang sesuai dan layak untuk menjadi seorang clinical leadership. dan analisis insiden. Pengkajian pada keselamatan pasien secara garis besar dibagi kepada struktur.

pembedahan keliru tempat. akan menggunakan komunikasi yang mudah dan diharapkan dapat memberikan informasi yang tepat. dan profesi kesehatan lain (Potter & Perry. Bagian yang tidak terpisahkan dari komunikasi adalah kolaborasi. Pengungkapan yang lebih jelas . Semua tindakan keperawatan tidak mungkin dilakukan tanpa komunikasi yang jelas. Namun demikian kolaborasi sulit didefinisikan untuk menggambarkan apa yang sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini. berbagi tugas. penundaan ruang darurat. prosedur yang dijalankan pasien yang keliru. 5 Penyebab yang lazim terjadinya cedera pasien yaitu perintah medis yang tak terbaca dan rancu yang rentan untuk salah terjemahan. 2012). Karena saat melakukan kolaborasi dengan interdisplin. kesalahan medis. dan tidak sesuai standar serta kurangnya komunikasi (Fabre. antar sesame perawat. kesetaraan. Seperti yang dikemukakan National Joint Practice Commision (1977) yang dikutip Siegler dan Whitney (2000) bahwa tidak ada definisi yang mampu menjelaskan sekian ragam variasi dan kompleknya kolaborasi dalam kontek perawatan kesehatan. Komunikasi dengan metoda SBAR ini sudah digunakan lama di Amerika Serikat tetapi di Indonesia merupakan hal yang dianggap baru. 2010 dalam Manopo. para perawat yang tak berdaya untuk turun tangan saat mereka melaporkan perubahan signifikan pasien ketidakmauan bertindak sebelum suatu situasi menjadi krisis. Komunikasi dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dalam memenuhi kebutuhan kesehatan pasien secara komprehensif (Rahayu. kerja sama. Salah satu peran perawat yang sangat signifikan adalah peran komunikator yaitu melakukan komunikasi dengan pasien dan keluarga. tanggung jawab dan tanggung gugat. 2013). Dengan berkomunikasi perawat dapat menyampaikan pesan atau informasi tidak hanya kepada pasien tetapi juga dengan tenaga kesehatan lainnya. Komunikasi ini merupakan dasar dalam dari kolaborasi interdisiplin sehingga membuat praktek kolaborasi menjadi lebih jelas. 2005). begitu pula dalam komunikasi antar shift. Sekian banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun didasari prinsip yang sama yaitu mengenai kebersamaan.

2010). tepat waktu. akurat. jelas. Recommendation). 2011). SBAR juga dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. Rumah sakit perlu menyusun kebijakan dan atau prosedur untuk mengatur pemberian perintah / pesan secara lisan dan lewat telepon. SBAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang membutuhkan perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan meningkatkan keselamatan pasien. dan dapat dipahami penerima. 2011). lengkap.2 mensyaratkan agar rumah sakit menyusun cara komunikasi yang efektif. misalnya petugas laboratorium menelepon ke ruang perawatan untuk melaporkan hasil tes pasien. Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah komunikasi SBAR (Situation. Hal itu untuk mengurangi kesalahan dan menghasilkan perbaikan keselamatan pasien. yang disediakan untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien. keluarga. pemberi pelayanan dan suatu kelompok untuk menghantarkan kualitas pelayanan yang tinggi (WHO. Background. Standar akreditasi RS 2012 SKP. SBAR merupakan . SBAR memberikan kesempatan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya. Melibatkan semua anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi. Bentuk komunikasi yang rawan kesalahan diantaranya adalah instruksi untuk penatalaksanaan pasien yang diberikan secara lisan atau melalui telepon. Bentuk lainnya berupa pelaporan hasil tes abnormal. Kerangka komunikasi dengan metode SBAR digunakan pada saat perawat melakukan timbang terima (handover). Komunikasi dengan metode SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk berkomunikasi antar petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien (Permanente. 6 mengenai definisi kolaborasi interprofesional adalah ketika beberapa tenaga kesehatan dengan latar belakang profesional berbeda bekerjasama dengan klien. Assessment.2 / JCI IPSG. pindah ruang perawatan maupun dalam melaporkan kondisi pasien kepada dokter (Tim KP-RS RSUP Sanglah.

A (Assessment) merupakan kesimpulan masalah yang sedang terjadi pada pasien sebagai hasil analisa terhadap situation dan background. sedangkan di rumah sakit yang ada di New York ditemukan 3.6% diantaranya meninggal. . namun di lain pihak terjadi peningkatan tuduhan “mal praktek”. Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi tuntutan masyarakat maka pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit perlu dilakukan. Di Indonesia data tentang kejadian tidak diharapkan (KTD) apalagi kejadian nyaris cedera (KNC) masih langka. 7 kerangka yang mudah diingat.6% pada rumah sakit diberbagai negara yaitu Amerika. 2007). Tahun 2000 Institute of Medicine (IOM) di Amerika Serikat menerbitkan laporan yang dilakukan di rumah sakit di Utah dan Colorado ditemukan Kejadian Tidak Diduga (KTD) sebesar 2.6 juta per tahun berkisar 44.2-16.7% kejadian KTD dan 13. Inggris. Kesalahan dalam komunikasi adalah penyebab utama peristiwa yang dilaporkan ke Komisi Bersama Amerika Serikat antara 1995 dan 2006 yaitu dari 25000-30000 kejadian buruk yang dapat dicegah menyebabkan cacat permanen 11% kejadian buruk ini adalah karena masalah komunikasi yang berbeda 6% dan juga karena tidak memadai tingkat keterampilannya (WHO.9% dan 6.000 sampai 98. R (Recommendation) adalah rencana ataupun usulan yang akan dilakukan untuk menangani permasalahan yang ada (Leonard. juga menemukan KTD dengan rentang 3. Denmark. yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. dan Australia (Depkes RI. Angka kematian akibat KTD pada pasien rawat inap diseluruh Amerika Serikat yang berjumlah 33. dan hasil diagnosa medis. 2006). 2014). B (Background) menggambarkan riwayat penyakit atau situasi yang mendukung masalah/situasi saat ini. masalah saat ini. S (Situation) mengandung komponen tentang identitas pasien. mekanisme nyata yang digunakan untuk menyampaikan kondisi pasien yang kritis atau perlu perhatian dan tindakan segera.000 dilaporkan meninggal setiap tahunnya dan kesalahan medis menempati urutan kedelapan penyebab kematian di Amerika Serikat.6% diantaranya meninggal. Publikasi oleh WHO pada tahun 2004.

diantaranya salah informasi tentang pemberian obat yang mengakibatkan alergi. Sasaran keselamatan pasien tersebut meliputi ketepatan identifikasi pasien. kehilangan informasi serta kesalahan pada test penunjang. tepat-pasien operasi. Masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan komunikasi saat timbang terima pasien merupakan keprihatinan internasional. Dilaporkan juga oleh WHO (2007) bahwa terdapat 11% dari 25. tepat-prosedur.000-30. Rumah sakit Wellington Selandia Baru. et al (2006).000 pada tahun 1955. mengungkapkan bahwa ketidakakuratan informasi dapat menimbulkan dampak yang serius pada pasien. Dari enam sasaran keselamatan pasien. Alvarado. Sebanyak 67% terjadi kesalahan pemberian asuhan keperawatan. pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. dan pengurangan risiko pasien jatuh. masalah yang menjadi penyebab utama adalah komunikasi. peningkatan komunikasi yang efektif. melaporkan bahwa seorang pria berusia 50 tahun meninggal dunia. kesalahpahaman tentang rencana keperawatan. sebagaimana di laporkan Caber & Huligoss (2009) dalam studinya yaitu dari 889 kejadian malpraktek di temukan 32% akibat kesalahan komunikasi dalam timbang terima pasien yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pemberian obat. peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai. near miss dan sentinel event di rumah sakit. studi lain mengatakan .2006 terdapat kesalahan akibat komunikasi saat timbang terima pasien. hampir 70% kejadian sentinel yaitu kejadian yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius di rumah sakit disebabkan karena buruknya komunikasi. 2010). Komunikasi terhadap berbagai informasi mengenai perkembangan pasien antar profesi kesehatan di rumah sakit merupakan komponen yang fundamental dalam perawatan pasien (Riesenberg. 2010). kepastian tepat-lokasi. unsur yang utama dari layanan asuhan ke pasien adalah komunikasi efektif. Pernyataan peneliti di atas sejalan dengan pernyataan Angood (2007) yang mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil kajian data terhadap adanya adverse event. 8 maka rumah sakit perlu melaksanakan sasaran keselamatan pasien (SKP). di soroti akibat kegagalan komunikasi pada saat pelaksanaan timbang terima (Wallis.

karena perawat sebagai orang pertama yang mendengarkan kebutuhan klien di rumah sakit dan bertanggung jawab untuk dapat menjadi fasilitator dalam setiap penyelesaian masalah klien. sebagian perawat asosiate tidak memahami instruksi dokter dengan jelas. karena mengingat keberhasilan pelaksanaan komunikasi efektif sangat berkaitan dengan salah satu fungsi manajemen keperawatan dan informasi yang disampaikan dalam menyampaikan kondisi pasien harus akurat. 9 adanya KNC yang melibatkan perawat pemula dan diindikasi akibat pelaksanaan timbang terima pasien yang kurang optimal (Friesen. apalagi tenaga perawat tidak seimbang dengan jumlah pasien. Dengan demikian komunikasi yang kurang efektif dalam pelaksanaan timbang terima pasien dapat mengakibatkan KTD dan KNC. 2009). Perawat yang bertugas di ruang rawat inap tentunya memiliki tanggung jawab yang sangat berat. tidak semua perawat menyampaikan perkembangan. dan diagnosa keperawatan baik yang sudah maupun yang belum teratasi. Berdasarkan pengamatan penulis selama berpraktek dan pengalaman bekerja di ruang rawat inap. jelas. dan semua informasi yang disampaikan . pelaksanaan timbang terima seharusnya dilakukan oleh perawat primer (PP). karena perawat adalah seseorang yang 24 jam bersama dengan pasien. data yang disampaikan harus komprehensif. informasi yang di sampaikanpun tidak sesuai dengan langkah-langkah timbang terima. Kebiasaan copy paste yang dilakukan perawat saat melakukan dokumentasi perawat dan tidak mengandung arti yang membuat dokter malas untuk membaca dokumentasi perawat yang berakibat terputusnya proses komunikasi dan tidak berjalannya proses kolaborasi antar profesi kesehatan untuk kepentingan pasien. dan rencana tindakan penting tidak di sampaikan secara jelas. Melalui permasalahan inilah peneliti tertarik untuk menerapkan pengembangan system informasi manajemen keperawatan menggunakan komunikasi SBAR yang dapat digunakan oleh antar profesi kesehatan dalam menyampaikan kondisi. sesuai dengan kondisi actual pasien. namun seringkali timbang terima di lakukan oleh perawat assoiate yang bertugas di shift sebelumnya.

. income yang didapat dari pengunjung. dan rawat jalan akan meningkat. knowledge perawat meningkat. perawat bisa setara dengan profesi dokter. bagi perawat adalah kinerja keperawatan meningkat. hubungan interpersonal antara perawat dan pasien semakin terjalin. Keuntungan lainnya adalah peran perawat akan diakui oleh tenaga kesehatan lain. serta keselamatan pasien yang menjadi prioritas utama tenaga kesehatan. serta keuntungan dari sisi pasien adalah pasien memberikan kepercayaan yang penuh kepada tenaga medis untuk merawat dirinya selama sakit. dan mendapatkan gambaran setiap pengalaman terkait kolaborasi antar profesi kesehatan terhadap penggunaan komunikasi SBAR. pasien rawat inap. perawat bisa melakukan perannya sebagai clinical nurse leader dalam membangun kerjasama antar profesi kesehatan untuk dapat melaksanakan praktik kolaborasi yang berkualitas dan bermanfaat bagi klien. untuk mendapatkan informasi mendalam. hari rawat tidak berkepanjangan. Keuntungan yang didapatkan untuk pihak rumah sakit terkait penerapan komunikasi SBAR yang dilakukan sesuai dengan SOP adalah citra rumah sakit akan meningkat. 10 oleh perawat harus dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai kenyataan (based on data). dan biaya untuk perawatan dapat diminimalkan. insiden kecelakaan atau kesalahan yang terjadi berhubungan dengan pasien dapat diminimalkan. Berdasarkan keseluruhan pemaparan latar belakang diatas dan beberapa referensi serta jurnal-jurnal penelitian dari dalam dan luar negeri yang telah membahas pentingnya komunikasi antar profesi kesehatan. pemahaman. kepercayaan pasien meningkat terhadap perawat. pasien merasa tenang karena akan terhindar dari kecelakaan atau cedera saat proses perawatan di rumah sakit. perlunya kolaborasi antar profesi kesehatan sesuai skill dan tanggung jawab yang dimiliki. membuat peneliti ingin mengetahui lebih lanjut tentang pengalaman kolaborasi antar profesi kesehatan terhadap penggunaan komunikasi SBAR. Oleh karena itu. dan perawat dapat mempertanggungjawabkan tindakan keperawatan yang sudah diberikan kepada pasien (tanggung gugat). critical thinking dalam proses perawatan pasien semakin baik.

kurang optimalnya asuhan keperawatan tersebut diakibatkan karena komunikasi yang jelek. B. ahli gizi. Manfaat Penelitian 1. Akibat penggunaan komunikasi antar profesi kesehatan yang kurang optimal menyebabkan panjangnya hari rawat dan tingginya biaya perawatan. C. bahkan sampai terjadi kematian. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu keperawatan dan menjadi evidence based dalam memahami pengalaman kolaborasi antar profesi kesehatan terhadap . Peran perawat sebagai fasilitator dan connector antara pasien dan tenaga kesehatan lain dikarenakan pasien tidak memiliki banyak kesempatan untuk dapat berinteraksi langsung dengan profesi lain yang berperan membantu proses perawatannya seperti dokter. penting bagi tenaga kesehatan memaksimalkan praktik kolaborasi khusunya dalam penggunaan komunikasi SBAR. sehingga diharapkan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien efektif dan efisien serta tidak terjadi salah persepsi antar profesi kesehatan. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman dan mekanisme kolaborasi antar profesi kesehatan terhadap penggunaan komunikasi SBAR. Oleh sebab itu. Identifikasi Masalah Peran perawat dalam pelaksanaan komunikasi SBAR antar profesi kesehatan dapat mempengaruhi keselamatan pasien selama menjalani pemeriksaan di rumah sakit. apoteker. didapatkan rumusan masalah “Bagaimana Kolaborasi Antar Profesi Kesehatan terhadap Penggunaan Komunikasi SBAR?”. 11 maka pendekatan desain penelitian yang tepat untuk mendasari penelitian ini adalah desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. D. Berdasarkan uraian diatas. dan sebagainya.

Kolaborasi Kolaborasi merupakan proses komplek yang membutuhkan sharing pengetahuan yang direncanakan yang disengaja. mendiskusikan dan membahas masalah-masalah terkait dengan klien serta memahami kontribusi setiap anggota tim demi meningkatkan pelayanan kepada klien. Tujuan kolaborasi adalah mengidentifikasi. Demi optimalisasi proses kolaborasi. 2. 12 penggunaan komunikasi SBAR. sehingga asuhan keperawatan pasien dapat dilakukan secara efektif dan efisien. dan bermakna. Komunikasi SBAR . Tim kolaborasi mempunyai kemampuan dan keahlian sesuai dengan peran dan kewenangan profesinya yang dilandasi nilai-nilai profesi sehingga akan terbentuk sebuah diskusi dalam merencanakan. setiap anggota kolaborasi harus memiliki komitmen dan mau bekerjasama serta menghormati fungsi dan peran masing-masing anggota tim. 2. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat berkontribusi dalam penyusunan panduan komunikasi SBAR dalam praktik kolaborasi antar profesi kesehatan. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi perawat dan memperkaya wawasan perawat dalam memahami pentingnya praktik kolaborasi antar profesi kesehatan dalam penggunaan komunikasi SBAR. dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat klien. Dengan demikian perawat maupun tenaga kesehatan lain dapat memberikan intervensi terbaik dalam membantu pasien selama dirawat di RS dan asuhan keperawatan yang diberikanpun tepat sasaran. mendiagnosa dan mengambil keputusan terbaik untuk klien semua anggota tim terlibat dalam proses tersebut sehingga terjadi proses kolaborasi yang efektif. Definisi Istilah 1. E. SOP tentang pelaksanaan timbang terima menggunakan komunikasi SBAR serta mampu membuat SOP pencatatan catatan keperawatan yang lengkap. terintegrasi.

Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien. Assessment. Recommendation). . Background. metode komunikasi ini digunakan pada saat perawat melakukan handover ke pasien. SBAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang membutuhkan perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan meningkatkan keselamatan pasien. 13 Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah komunikasi SBAR (Situation.

praktisi keperawatan bekerjasama dengan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup praktek profesional. Kadangkala itu terjadi dalam hubungan yang lama antara tenaga profesional kesehatan. setiap anggota kolaborasi harus memiliki komitmen dan mau bekerjasama serta menghormati fungsi dan peran masing-masing anggota tim. 2005). Kolaborasi pada tatanan pelayanan banyak dilakukan oleh perawat dan dokter dalam merencanakan. tujuan bersama yang jelas dalam upaya memperbaiki kualitaspakan pelayanan dan kualitas hidup klien. Kolaborasi dalam kesetaraan merupakan hal penting guna 14 . Demi optimalisasi proses kolaborasi. Kolaborasi antara perawat-dokter. Tujuan kolaborasi adalah mengidentifikasi. (Lindeke dan Sieckert. mendiagnosa dan mengambil keputusan terbaik untuk klien semua anggota tim terlibat dalam proses tersebut sehingga terjadi proses kolaborasi yang efektif. maka dari itu tim kolaborasi mempunyai kemampuan dan keahlian sesuai dengan peran dan kewenangan profesinya yang dilandasi nilai-nilai profesi sehingga akan terbentuk sebuah diskusi dalam merencanakan. mendiskusikan dan membahas masalah-masalah terkait dengan klien serta memahami kontribusi setiap anggota tim demi meningkatkan pelayanan kepada klien. dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat klien. BAB II KAJIAN PUSTAKA A Konsep Kolaborasi 1. mempraktekkan. Efektifitas dalam kolaborasi ditentukan oleh adanya rasa saling respon terkait peran dan fungsinya dalam tim kolaborasi. saling membutuhkan dengan berbagai nilai-nilai dan pengetahuan serta respek terhadap orang lain terutama dalam memberikan pelayanan kepada klien. Definisi Kolaborasi Kolaborasi merupakan proses komplek yang membutuhkan sharing pengetahuan yang direncanakan yang disengaja.

Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang efektif meliputi kerjasama. tanggung jawab. kreatifitas dan inovasi sehingga tercapai hasil perawatan yang berkualitas (CNA [Canadian Nurses Association]. Perawatan kolaboratif ini sebagai suatu tindakan dalam memberikan perawatan yang profesional yang bekerjasama dengan klien dan tim kesehatan lain untuk memberikan manfaat yang maksimal bagi kesehatan klien. Praktik Kolaborasi (Collaborative Practice) Praktik kolaboratif adalah hubungan kemitraan antara perawat dengan petugas perawatan kesehatan lainnya terhadap klien dan keluarganya. Kesetaraan akan terwujud apabila semua anggota tim merasa dihargai dan terlibat dalam proses pelayanan kepada klien. mengenali dan tanggap terhadap pengetahuan dan keahlian. Proses pendidikan adalah waktu yang tepat untuk menanam prinsip-prinsip tersebut sehingga bisa tumbuh dan berkembang dalam diri setiap anggota profesi. Dibutuhkan prinsip- prinsip dasar dalam menggerakkan setiap kolaborator untuk dapat memberikan yang terbaik demi tercapainya optimalisasi pelayanan kesehatan. Sesuai dengan pernyataan “Interprofessional education. Collaborative practice dapat diartikan sebagai asuhan kesehatan yang dilakukan beberapa tenaga professional yang tergabung dalam . 2010). is an opportunity to not only change the way that we think about educating future health workers. Kolaborasi menyatakan bahwa anggota tim kesehatan harus bekerja dengan kompak dalam mencapai tujuan. 2010). mengambil keputusan. 2.. komunikasi. but is an opportunity to stepback and reconsider the traditional means of healthcare delivery.. asertifitas. otonomi dan koordinasi.Student Leader”. (WHO. Kolaborasi terbangun atas dasar yang kuat. I think that what we’re talking about is not just a change in educational practices. 15 mencerminkan hubungan dalam memberikan pelayanan terintegrasi kepada klien. but a change in the culture of medicine and health-care .

klien/ keluarga/ masyarakat dan pengaturan praktek. merencanakan intervensi. pekerja sosial atau profesional kesehatan lain. mahasiswa kedokteran pra-klinis sering terlibat langsung dalam aspek psikososial perawatan klien melalui kegiatan tertentu seperti gabungan bimbingan klien. pencatatan riwayat medis. and Busing (2000) telah mengembangkan praktik model kolaborasi terstruktur berdasarkan definisi dan konsep- konsep yang ada. sementara tetap mempertahankan integritas masing-masing profesi. masalah apa yang dimiliki pada klien ini? Bagaimana cara menangani klien ini ?. Sebagai praktisi memang mereka berbagi lingkungan kerja dengan para perawat tetapi mereka tidak dididik atau diajari untuk menanggapinya sebagai rekanan/mitra /kolega. Seorang dokter pada saat ia menghadapi klien pada umumnya berfikir. pemeriksaan fisik serta hubungan dokter dan klien. Menurut Way. Selama periode tersebut hampir tidak memiliki kontak formal dengan para perawat. Perawat diajari untuk mampu menilai status kesehatan klien. bantuan apa yang dibutuhkannya? Dan apa yang dapat diberikan kepada klien?. 16 sebuah tim interdisiplin untuk menangani masalah kesehatan klien yang berpusat pada klien. (Siegler dan Whitney. ”diagnosa klien ini dan bagaimana perawatan yang dibutuhkannya” pola pemikiran seperti ini sudah terbentuk sejak awal proses pendidikannya. Jones. mengevaluasi hasil dan . 2000). Sulit untuk dijelaskan secara tepat bagaimana pembentukan pola berfikir seperti itu apalagi kurikulum kedokteran terus berkembang. Tujuan keseluruhan adalah untuk memberikan perawatan yang komprehensif dengan penyedia layanan kesehatan memberikan kontribusi pengetahuan profesional dan keterampilan ditambah pengalaman individu dan keahlian untuk memberikan perawatan yang komprehensif dengan cara yang efisien dan efektif. Model ini menunjukkan hubungan antara penyedia layanan kesehatan. Dilain pihak seorang perawat akan berfikir. Mereka juga diorientasikan pada lingkungan klinis dibina dalam masalah etika. melaksanakan planing.

Rumanti. Inilah yang dijadikan dasar argumentasi bahwa profesi keperawatan didasari oleh disiplin ilmu yang membantu individu yang sakit atau sehat dalam menjalankan kegiatan yang mendukung kesehatan atau pemulihan. Diperlukannya komunikasi untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif. 4) Meningkatkan keefektifan asuhan dan membantu kesehatan optimal pada kondisi klien. 2010. PPNI [Persatuan Perawat Nasional Indonesia]. hal tersebut perlu ditunjang oleh sarana komunikasi yang dapat menyatukan data kesehatan klien secara komprehensif sehingga menjadi sumber informasi bagi semua anggota tim dalam pengambilan keputusan. membahas dan memecahkan isu dan masalah kesehatan 8) Membina hubungan pemahaman dikalangan pemberi perawatan dan klien serta meningkatkan interdependent (CAN. Oleh karena itu perlu dikembangkan catatan status kesehatan klien yang memungkinkan komunikasi dokter dan perawat terjadi secara efektif. merencanakan dan menyelesaikan masalah serta mengevaluasi pelayanan. Para perawat menyebutnya sebagai proses keperawatan. 2009. 5) Kerjasama sebagai wadah untuk saling memberikan komunikasi antara dua pihak atau lebih . Manfaat Collaborative Practice Adapun manfaat dari Collaborative Practice ini secara garis besar yaitu untuk mencapai kepuasan dan perawatan klien yang berkualitas tinggi yang terdiri dari: 1) Memberikan pelayanan perawatan yang berfokus pada klien dengan menggunakan kerangka kerja multidisiplin yang bersifat partisipasi dan terintegrasi (terarah) 2) Meningkatkan kontinuitas perawatan 3) Meningkatkan kepuasan klien dan keluarga pada pelayanan. 7) Dapat memiliki kesempatan untuk saling berbagi. 6) Dapat meningkatkan rasa saling menghargai dan pemahaman antara klien dan anggota tim perawatan kesehatan. 2005) . 3. 17 menilai kembali sesuai kebutuhan.

kontak terbatas antara pasien dan dokter. Dokter merupakan tokoh yang dominan. perawat dan tenaga kesehatan lainnya semuanya berorientasi .. dan Smith H. Kolaborasi yang dilakukan dokter. 18 4. Model ini tetap melingkar. kondisi timbal balik satu dengan yang lain dan tidak ada satu pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus menerus.A. tipe III. Thomas D. menekankan kontinuitas.(dalam Siegler & Whitney. 2) Model Praktik Hirarkis tipe II menekankan komunikasi dua arah. dan semua pemberi pelayanan harus saling bekerja sama dengan pasien. tapi tetap menempatkan dokter pada posisi utama dan membatasi hubungan antara dokter dan pasien. tipe II.I. R. 1) Model praktik Hirarkis tipe I menekankan komunikasi satu arah.C. 1994) ada 3 yaitu Model Praktek Hirarkis tipe I. Model atau Pola Praktik Kolaborasi Model praktek kolaborasi menurut Burchell... 3) Model Praktik Hirarkis tipe III lebih berpusat pada pasien.

komunikasi adalah menanamkan ide atau buah fikiran. praktik kolaborasi yang baik harus dapat menyesuaikan diri secara sdekuat pada setiap lingkungan yang dihadapi sehingga anggota kelompok dapat mengenal masalah yang dihadapi pasien. opini dan informasi melalui ucapan. Will Jhonson dan Sailer (1998) (dalam Paryanto. Komunikasi yang tidak dilakukan dengan baik dapat menyebabkan kesalahan informasi. Dalam situasi apapun. keselamatan dan kepuasan klien dan keluarga (patient safety and satifaction). sikap dan . sampai terbentuknya diskusi dan pengambilan keputusan. bahwa komunikasi bukan hanya berupa ucapan/ verbal. 2006) menekankan sikap saling menghargai antar tenaga kesehatan dan saling memberikan informasi tentang kondisi klien demi mencapai tujuan bersama. 5. Sebuah studi di AS bahwa 93% komunikasi lebih efektif dengan bahasa tubuh. Penerapan Collaborative Practice di Pelayanan Kesehatan Saat ini sistem pelayanan kesehatan. yang berlanjut pada kesalahan medis dan mengakibatkan tidak terpenuhinya keamanan. Hal ini sangat penting. Kolaborasi menurut Hoffart dan Wood (1996). melibatkan banyak tenaga profesional yang saling bekerjasama untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang aman. tulisan atau suatu tanda. 19 kepada pasien. Komunikasi memegang peranan penting dalam upaya pemberian pelayanan kesehatan. Menurut kamus Webster dalam jurnal O’Daniel dan Rosenten (2013).

kesetaraan. Namun demikian kolaborasi sulit didefinisikan untuk menggambarkan apa yang sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini. tanggung jawab dan tanggung gugat. harus dicari suatu metoda komunikasi yang efektif sehingga informasi yang disampaikan mengenai sasaran. Definisi yang lebih spesifik disampaikan oleh Daniel & Rosenten (2013) bahwa Kolaborasi dalam pelayanan kesehatan didefinisikan sebagai pelayanan profesional yang bekerjasama. berbagi tugas. Mengingat hal tersebut. 2010). Kolaborasi tersebut antara . Metoda yang digunakan adalah Metoda SBAR. keluarga. Seperti yang dikemukakan National Joint Practice Commision (1977) yang dikutip Siegler dan Whitney (2000) bahwa tidak ada definisi yang mampu menjelaskan sekian ragam variasi dan kompleknya kolaborasi dalam kontek perawatan kesehatan. Dengan Komunikasi terstruktur pesan yang disampaikan akan lebih difahami. Pengungkapan yang lebih jelas mengenai definisi kolaborasi interprofesional adalah ketika beberapa tenaga kesehatan dengan latar belakang profesional berbeda bekerjasama dengan klien. Komunikasi dengan metoda SBAR ini sudah digunakan lama di Amerika Serikat tetapi di Indonesia merupakan hal yang dianggap baru. 20 intonasi. pemberi pelayanan dan suatu kelompok untuk menghantarkan kualitas pelayanan yang tinggi (WHO. 2013). Bagian yang tidak terpisahkan dari komunikasi adalah kolaborasi. Komunikasi yang seperti apa dan bagaimana? Jawaban yang tepat adalah Komunikasi terstruktur. berbagi tanggung jawab untuk mencari pemecahan suatu masalah dan membuat suatu keputusan dalam merumuskan perencanaan perawatan klien. akan menggunakan komunikasi yang mudah dan diharapkan dapat memberikan informasi yang tepat. dan hanya 7% mengerti dan memahami kata-kata yang disampaikan (O’Daniel & Rosenten. Karena saat melakukan kolaborasi dengan interdisplin. Komunikasi ini merupakan dasar dalam dari kolaborasi interdisiplin sehingga membuat praktek kolaborasi menjadi lebih jelas. kerja sama. Sekian banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun didasari prinsip yang sama yaitu mengenai kebersamaan.

perawat. Gambar 1. Pola interaksi hirarkis masih jelas terlihat dalam hubungan antar-disiplin antara perawat dokter (Reni.et.2010). 6. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa pelaksanaan komunikasi kolaboratif antara perawat dan dokter belum efektif. dan evaluasi. ini berarti bahwa kolegialitas dalam hubungan perawat-dokter belum terbentuk. 21 dokter. Fase-fase perubahan tersebut menciptakan lingkungan untuk sebuah budaya praktek interdisipliner. Mengingat hal tersebut diatas adalah penting untuk menggunakan dan mengembangkan metoda komunikasi yang efektif agar dapat meningkatkan pelayanan asuhan dan meningkatkan keamanan dan keselamatan klien. terlaksananya praktik kolaboratif dan interdisplin dapat dicapai melalui proses perubahan dengan menggunakan empat fase perubahan: sensitisasi. eksplorasi. Di Indonesia kolaborasi antar profesional belum berjalan dengan maksimal. intervensi.al. dan tenaga kesehatan profesional lain. Tahap-tahap Kolaborasi . Tahapan Proses Kolaborasi dan Interdisiplin Menurut Orchard at al (2005).

Kolaborasi tidak dapat didefinisikan atau dijelaskan dengan mudah. Kebanyakan definisi menggunakan prinsip perencanaan dan pengambilan keputusan bersama. tim profesional kesehatan mengeksplorasi makna peran-peran mereka dan mengeksplorasi proses pengambilan keputusan sehingga menumbuhkan kesadaran praktek kolaboratif yang sedang dibangun. 1994). dan tujuan serta tanggung jawab bersama. Setiap komponen kerangka akan dieksplorasi lebih lengkap dimulai dengan hambatan dan faktor – faktor pendukung untuk terciptanya praktik kolaboratif interdisiplin dan diikuti oleh proses perubahan untuk memfasilitasi terlaksananya praktik kolaboratif interdisiplin. tim profesional kesehatan bekerja dengan klien mereka untuk memperoleh pemahaman tentang bagaimana kedua kekuasaan dapat dibagi dan peran masing-masing anggota dapat dihargai. dan tim kesehatan lain dengan klien dapat dijelaskan melalui praktik kolaborasi sebagai berikut. keahlian. tapi belum dapat menyampaikan sekian ragam variasi dan kompleksnya kolaborasi dalam perawatan kesehatan National Joint Practice Commission (NJPC). Pada fase intervensi. Siegler & Whitney. 2010) dalam framework for action on interprofessional education and collaborative practice menjelaskan bahwa kolaborasi . berbagi saran. Komunikasi yang terjadi antara dokter. (WHO. evaluasi. perawat. semua anggota tim menilai dampak kolaborasi mereka pada kepuasan klien dengan partisipasi mereka. Meskipun definisi ini termasuk yang terbaik. kebersamaan. (cit. Pada waktu fase eksplorasi profesional kesehatan mengeksplorasi peran dari masing-masing anggota tim interdisiplin yang telibat dan mencari klarifikasi atau kebenaran dari nilai masing-masing profesi untuk memasukannya ke dalam praktik kolaboratif interdisplin. 22 Selama fase sensitisasi. tantangan yang ada pada proses ini yaitu terdapat proses perubahan ketidakseimbangan kekuasaan dan berbagai nilai – nilai yang ada. Pada tahap akhir. tanggung gugat.

Health and Education System . Tujuan dan proses dalam penerapan interprofessional education dan collaborative practice tergambarkan dalam skema berikut ini: Gambar 2 Skema Interprofessional Education dan Collaborative Practice Gambar 3. Diperlukan dukungan dari semua pihak khususnya pemerintah khususnya unit-unit terkait yang terlibat dalam praktik pelayanan kesehatan. 23 interdisiplin membutuhkan proses.

Perawat berperan sebagai penghubung penting antara klien dan pemberi pelayanan kesehatan. 2014). 1) Pengoptimalan Peran Perawat (Register Nurse) . Roles Collaborative Care (“What”. Mereka sering berkonsultasi dengan anggota tim lainnya sebagaimana membuat referal pemberian pengobatan. perawat. Terlihat sekali kedua skema ini begitu saling ketergantungan meskipun proses dan waktu penerapannya berbeda. dokter. fisioterapi. Pada situasi ini dokter menggunakan modalitas pengobatan seperti pemberian obat dan pembedahan. Berangkat dari kondisi layanan kesehatan saat ini dan mengacu kepada perbaikan di masa depan. 2013). Anggota tim kesehatan meliputi: klien. ahli gizi. Interprofessional education berperan untuk membangun budaya kerja sama dan saling membutuhkan sedini mungkin sejak pendidikan dengan harapan ketika penerapan collaborative practice tatanan klinis setiap tenaga kesehatan telah siap dengan model praktik tersebut. mengobati dan mencegah penyakit. Tim dalam Collaborative Practice Kolaborasi ini dapat dilakukan oleh beberapa pihak dari tim kesehatan profesional. pekerja sosial. Perawat memfasilitasi dan membantu klien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari praktek profesi kesehatan lain. manager. 2006). Dokter memiliki peran utama dalam mendiagnosis. Partisipasi klien/ keluarga dalam pengambilan keputusan akan menambah kelancaran perencanaan yang efektif. 7. Oleh karena itu tim kolaborasi hendaknya memiliki komunikasi yang efektif. Klien merupakan salah satu anggota tim yang penting. Seperti pada model kolaborasi tipe III yakni patient center diharapkan outcome yang diharapkan dapat dicapai dengan melibatkan klien dan berfokus pada klien dalam pelayanan kesehatan (“Peran”. bertanggung jawab dan saling menghargai antar sesama anggota tim (Anggraeni. dan apoteker. 24 Dari kedua skema diatas dapat dipastikan bahwa tujuan utama dari interprofessional education dan collaborative practice adalah optimalisasi layanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

Hugman. Perawat yang bertanggung jawab kepada kualitas penyedia pelayanan kesehatan kepada klien dan keluarga dan meyakinkan bahwa pengalaman perawatan pada klien dilakukan secara terkoordinasi secara berkelanjutan. Carrier and Kendall. dan persiapan bedside. dan farmasi. 8. gizi klinis. Semua tim saling berkontribusi dan bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang paling efektif. terapi okupasional. pekerja sosial. aktivitas lain dapat dilakukan oleh petugas yang ditugaskan seperti pemberian waktu makan dan perpindahan klien. Aktivitas yang dilakukan termasuk housekeeping support and sticking carts and supplies. Hambatan dalam Kolaborasi dan Interdisiplin 1) Menurut Ginsburg and Tregunno (2005) dan Clark (2011). 2) Tidak seimbangnya tingkat pengetahuan dan keterampilan antar profesi kesehatan (Caldwell and Atwal as cited as Blane. Perawat bekerja pada area penanganannya saja. 25 Perawat harus menyediakan bedside coordination pada acute medical/surgical unit. Peran lain dapat termasuk pada pelaksanaan kebutuhan klien yang tidak ditangani oleh perawat. 1991. 2) Pengoptimalan Peran Perawat Pelaksana Perawat pelaksana melakukan perawatan terintegrasi dan melakukan perawatan yang stabil sesuai dengan perintah dari RN atau tenaga kesehatan lain (dokter) apabila klien tidak stabil. 1995) . 1991. Yang terlibat dalam team sesuai dengan kasus individu seperti psikoterapi. menjawab bel. 3) Pengenalan Assistive Personel pada tim Collaborative Care Ada pendampingan pada setiap aktivitas personal klien untuk menjawab kebutuhan klien. terapi pernafasan. hambatan dalam melaksanakan interprofessional collaborative adalah masing- masing profesi kesehatan memiliki kultur profesi yang sangat otonom dan kebanggaan terhadap masing-masing profesi. 4) Penguatan peran staf pendukung Peran setiap tenaga kesehatan harus diperkuat dalam membentuk tim kolaborasi yang kuat dan erat.

Hal ini diperlukan suatu komunikasi yang jelas tentang kebutuhan pasien. Komunikasi dalam praktik keperawatan professional merupakan unsure utama bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam mencapai hasil yang optimal dan kegiatan keperawatan yang memerlukan komunikasi. Perawat melakukan komunikasi keperawatan pada saat handover baik antar shift. Weis. 26 3) Terjadi tumpang tindih dan bingung peran karena masing-masing profesi belum paham akan areanya dan belum mau menurunkan ego untuk berkolaborasi dalam area abu-abu dan lainya. nada. Menurut Tappen. Pengertian Komunikasi Menurut Hovland dalam Effendy (2005:10) komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain. dan perilaku orang lain apabila terjalin komunikasi yang komunikatif. Sedangkan menurut Walter Lippman dalam Effendy (2005) bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang . Pengertian Komunikasi Efektif Komunikasi dengan orang lain kadang sukses atau efektif mencapai maksud yang dituju. 4) Timbulnya konflik antar profesi B Konsep Komunikasi SBAR 1. ekspresi wajah. kita mengekspresikan diri kita melalui gerakan. antar perawat. & Whitehead. maupun kolaborasi antar tim kesehatan lain seperti dokter dan ahli gizi sesuai dengan indikasi pasien. namun terkadang juga gagal. dan penampilan umum. pendapat. suara. Weis. begitu juga dengan profesi kesehatan lain. intervensi yang sudah dan yang belum dilaksanakan serta respon yang terjadi pada pasien (Tappen. Seseorang dapat mempengaruhi sikap. Pada waktu kita berbicara. Adapun makna komunikasi yang efektif menurut Effendy (2005) adalah komunikasi yang berhasil menyampaikan pikiran dengan menggunakan perasaan yang disadari. dan Whitehead (2004) individu mengirimkan pesan dalam cara verbal dan nonverbal yang saling bersinggungan ketika terjadi interaksi interpersonal. 2. 2004).

3) Audible Audible adalah pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan melalui media atau delivery channel. 3. Prinsip Komunikasi Efektif Agar komunikasi menghasilkan komunikasi yang efektif. yaitu Respect. 4. diterima bahkan dilakukan oleh komunikan. 2) Empathy Komunikasi yang efektif akan dengan mudah tercipta jika komunikator memiliki sikap empathy. dan Humble. Lima prinsip tersebut disingkat dengan REACH. Empathy artinya kemampuan seorang komunikator dalam memahami dan menempatkan dirinya pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain. Audible. seseorang harus memahami prinsip-prinsip dalam berkomunikasi. 5) Humble Humble adalah sikap rendah hati untuk membangun rasa saling menghargai. Langkah-langkah untuk Membangun Komunikasi Efektif Adapun langkah-langkah untuk membangun komunikasi yang efektif adalah sebagai berikut: 1) Memahami maksud dan tujuan berkomunikasi 2) Mengenali komunikan 3) Menyampaikan pesan dengan jelas 4) Menggunakan alat bantu yang baik 5) Memusatkan perhatian . Lima prinsip komunikasi yang efektif itu adalah sebagai berikut: 1) Respect Respect adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang akan kita sampaikan. Empathy. Komunikasi yang efektif akan terjalin jika audience lawan komunikasi personal merasa diperhatikan. 4) Care Care berarti komunikator memberikan perhatian kepada lawan komunikasinya. 27 berusaha memilih cara yang tepat agar gambaran dalam benak dan isi kesadaran dari komunikator dapat dimengerti. Care. Ada lima prinsip komunikasi yang efektif yang harus dipahami.

lisan dan lewat telepon. Bentuk komunikasi yang rawan kesalahan diantaranya adalah instruksi untuk penatalaksanaan pasien yang diberikan secara lisan atau melalui telepon. Bentuk lainnya berupa pelaporan hasil tes abnormal. dan dapat dipahami penerima. jelas. misalnya petugas laboratorium menelepon ke ruang perawatan untuk melaporkan hasil tes pasien. akurat. lisan dan lewat telepon.2 / JCI IPSG. 4) Pelaksanaan yang konsisten dari verifikasi tepat-tidaknya komunikasi lisan dan lewat telepon. tepat waktu. Hal itu untuk mengurangi kesalahan dan menghasilkan perbaikan keselamatan pasien. atau hasil tes dicatat si penerima. Rumah sakit perlu menyusun kebijakan dan atau prosedur untuk mengatur pemberian perintah / pesan secara lisan dan lewat telepon. Komunikasi Efektif dalam Patient Safety Standar akreditasi RS 2012 SKP. misalnya di ruang operasi dan dalam situasi darurat di bagian gawat darurat atau unit perawatan intensif. jelas. Kebijakan dan atau prosedur itu harus memuat: 1) Perintah lengkap. lengkap. 28 6) Menghindari gangguan komunikasi 7) Membuat suasana yang menyenangkan 8) Menggunakan bahasa tubuh (body language) yang benar 5. 2) Perintah lengkap. lengkap. 5) Alternatif yang diperbolehkan bila proses membaca-ulang tidak selalu dimungkinkan. atau hasil tes dibaca-ulang si penerima. Faktor yang dapat mendukung komunikasi efektif : . Komunikasi adalah penyebab pertama masalah keselamatan pasien (patient safety). Komunikasi yang efektif yang tepat waktu. Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. 3) Perintah dan hasil tes dikonfirmasikan oleh individu si pemberi perintah atau hasil tes. akurat.2 mensyaratkan agar rumah sakit menyusun cara komunikasi yang efektif. dan dipahami oleh penerima mengurangi kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien.

2) Ketepatan Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan. Adapun aspek yang harus dibangun dalam komunikasi efektif adalah : 1) Kejelasan Dalam komunikasi harus menggunakan bahasa secara jelas. sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan. . Faktor yang tidak mendukung komunikasi efektif yaitu: 1) Tanpa komunikasi yang jelas. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi. sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap. 3) Kualitas komunikasi adalah faktor kritis dalam memenuhi kebutuhan klien. 29 1) Dalam profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metoda utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan. 2) Komunikator merupakan peran sentral dari semua peran perawat yang ada. 2) Tidak dapat membuat keputusan dengan klien/keluarga. 5) Budaya Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi. 3) Tidak dapat melindungi klien dari ancaman kesejahteraan. dapat memberikan pelayanan keperawatan yang tidak efektif. 3) Konteks Maksudnya bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi itu terjadi. 4) Alur Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas. 4) Tidak dapat mengkoordinasi dan mengatur perawatan klien serta memberikan pendidikan kesehatan. tetapi juga berkaitan dengan tata krama dan etika.

SBAR memberikan kesempatan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya. termasuk serah terima pasien. 2) Dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham akan kondisi pasien. transfer pasien. Komunikasi SBAR Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah komunikasi SBAR (Situation. Ini menciptakan harapan bersama antara pengirim dan penerima informasi sehingga meningkatkan keselamatan pasien. Recommendation). agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. Adapun keuntungan dari penggunaan metode SBAR adalah: 1) Kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif. 3) Memperbaiki komunikasi sama dengan memperbaiki keamanan pasien. 30 baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal. SBAR menawarkan solusi kepada rumah sakit dan fasilitas perawatan untuk menjembatani kesenjangan dalam komunikasi. Background. metode komunikasi ini digunakan pada saat perawat melakukan handover ke pasien. telah menambahkan “komunikasi standar” untuk tujuan keselamatan pasien. SBAR juga dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. Sebelum melaporkan kondisi pasien kepada dokter. perawat harus melakukan: 1) Kaji kondisi pasien 2) Kumpulkan data-data yang diperlukan yang berhubungan dengan kondisi yang akan dilaporkan 3) Pastikan diagnose pasien . The Joint Commission (2012). Assessment. 6. Melibatkan semua anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi. dan panggilan telepon. percakapan kritis. Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien.

Komunikasi efektif SBAR dapat diterapkan oleh semua tenaga kesehatan. sehingga dokter mendapat gambaran situasi pasien saat ini 2) Background : Apa latar belakang informasi klinis yang berhubungan dengan situasi? Perawat menyebutkan informasi tentang pasien kepada dokter yang akan membantu dalam mengidentifikasi sumber masalah serta solusi potensial. b) Tanda-tanda vital terbaru. umur. diagnose medis. riwayat medis. persis seperti apa situasinya. Hal yang dilaporkan termasuk alasan masuk pasien. Diharapkan dokumentasi catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan baik. dan tanggal masuk. c) Jelaskan pemeriksaan yang mendukung dan hasil laboratorium : tanggal dan waktu tes dilakukan dan hasil tes sebelumnya untuk perbandingan. Recommendation. 1) Situation : Bagaimana situasi yang akan dibicarakan/ dilaporkan? a) Sebutkan nama anda dan nama departemen. Assessment. maka dokumentasi tidak terpecah sendiri- sendiri. a) Sebutkan riwayat alergi. . d) Secara umum pada situation/situasi dijelaskan tentang pertanyaan dibawah ini: apakah situasi pasien saat ini? Mengapa anda menelpon dokter? Apa yang terjadi saat ini? Apa perubahan akut yang terjadi? Jelaskan dalam kata-kata yang singkat. obat-obatan. d) Riwayat medis. Background. 31 4) Baca dan pahami catatan perkembangan terkini dan hasil pengkajian perawat shift sebelumnya 5) Siapkan: medical record pasien. b) Sebutkan nama pasien. Sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien. riwayat alergi. c) Jelaskan secara singkat masalah kesehatan pasien atau keluhan utama termasuk pain score. dan cairan infuse yang digunakan. obat-obatan/cairan infuse yang digunakan saat ini Metode SBAR sama dengan SOAP yaitu Situation. dan status kesehatan.

32 e) Jelaskan informasi klinik yang mendukung dan temuan klinis terbaru. Permintaan untuk tes khusus. kondisi kulit. c) Secara umum pada assessment/penilaian menjelaskan pertanyaan sebagai berikut: apa penilaian anda terhadap masalah ini? Apa yang anda pikir masalahnya? Apakah masalah ini parah atau mengancam kehidupan? 4) Recommendation : apa yang perawat inginkan terjadi dan kapan? Pada tahap ini perawat menyarankan solusi untuk masalah pasien. Bagian tersebut terjadi pada akhir percakapan dengan dokter. Perawat juga menanyakan pertanyaan spesifik pasien dan tanggapan bersama dengan dokter. obat-obatan dan perawatan yang dibuat yang mungkin bisa membantu. seperti gangguan pernafasan. denyut jantung. dll. seperti status mental. a) Jelaskan secara lengkap hasil pengkajian pasien terkini. mencium. b) Nyatakan kemungkinan masalah. f) Secara umum pada background/latar belakang menjelaskan pertanyaan sebagai berikut: apakah informasi yang melatar belakangi pasien? Apa saja tanda-tanda vital dan sejarah yang bersangkutan? Jelaskan bagaimana situasi yang akan datang? Keadaan apa yang mengarah ke situasi ini? 3) Assessment : berbagai hasil penilaian klinis perawat Perawat mengingat apa yang diamati ketika memeriksa pasien. Hal ini dilaporkan termasuk informasi yang dikumpulkan selama pemeriksaan fisik melalui melihat. dan tingkat pernapasan. dan menyentuh. a) Apa tindakan / rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki masalah? . Perawat juga dapat menjadi advokat dengan meminta dokter untuk hal-hal tertentu yang diinginkan pasien dan penjelasan tentang kondisi pasien. status emosional. suhu. dan lain-lain. mendengar. gangguan perfusi. Informasi umum yang diperoleh dari pasien adalah tanda-tanda vital: tekanan darah. dan saturasi oksigen. Informasi yang berkaitan dengan masalah ini juga bisa diperoleh dari alat dan peralatan yang digunakan perawat. gangguan neurologi.

menyediakan semua catatan pasien. 2015). Teknik SBAR dapat digunakan sebagai alat komunikasi informasi melaporkan kondisi pasien secara lisan (baik langsung maupun tidak langsung/telp). Komunikasi SBAR digunakan untuk verbalisasi masalah tentang pasien kepada dokter. keluhan? Jelas dan singkat Background Penjelasan tentang kondisi klien. ringkas. SBAR mempromosikan komunikasi yang lebih baik di antar profesi kesehatan. terstruktur. sebagai alat komunikasi serah terima pasien dari satu unit pelayanan ke unit lain. Staf dan dokter menggunakan komunikasi SBAR untuk berbagi informasi pasien dalam format yang jelas. keluhan? Jelas dan singkat Recommendation Apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah dan apakah ada rekomendasi lanjut? Tabel 1. TTV Situation Siapa dan apa yang terjadi. Tujuan utamanya adalah untuk menerima tanggapan yang melibatkan solusi yang akan membantu pasien. Dokumentasi catatan perkembangan pasien diharapkan dapat terintegrasi dengan baik. Dokter diajarkan untuk berkomunikasi menggunakan kata-kata singkat yang hanya memberikan informasi kunci untuk pendengar (Safer Health Care. Melibatkan semua . dan meningkatkan efisiensi komunikasi dan akurasi. 33 b) Apa solusi yang bisa perawat tawarkan kepada dokter? c) Apa yang perawat butuhkan dari dokter untuk memperbaiki kondisi pasien? Langkah selanjutnya yang akan dilakukan d) Kapan waktu yang perawat harapkan tindakan ini terjadi?. Komunikasi SBAR Komunikasi SBAR dapat diterapkan oleh semua tenaga kesehatan sehingga pendokumentasian lebih efisien. Kebanyakan perawat dan dokter berkomunikasi dengan cara yang sangat berbeda. mengusulkan dokter untuk melihat pasien Situation Siapa dan apa yang terjadi. antar shift dalam tim kesehatan. Perawat diajarkan untuk melaporkan dalam bentuk narasi. sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien. lengkap.

jelas. perawat dengan perawat. meningkatkan efektivitas tim pemberi pelayanan. terarah. 34 anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi. menyediakan pendekatan standar untuk berbagi informasi. membuat atau mengubah perencanaan perawatan pasien atau untuk pemantauan agar tidak melewatkan informasi-informasi penting. meningkatkan kemampuan personal sebagai pemberi asuhan untuk mengelola pasien. Menurut Health Care Team (2009) menyatakan bahwa tujuan menggunakan teknik komunikasi SBAR meliputi. Komunikasi Interpersonal Dokter-Perawat Pelaksanaan teknik komunikasi SBAR dilakukan pada dua jenis kondisi yaitu kondisi klinis meliputi komunikasi yang dilakukan antar perawat ke dokter. Kedua. dan komunikasi dilakukan dengan mudah. maka perawat harus melakukan: 1) Write back: menulis kembali apa yang telah diperintahkan/advice dokter . dan akurat. SBAR memberikan kesempatan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya. maupun dokter ke dokter. Kesalahan komunikasi antara perawat dan dokter mudah terjadi pada saat: 1) Perintah diberikan secara lisan 2) Perintah diberikan melalui telepon 3) Saat pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis Saat menerima perintah lisan/lewat telepon. meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien. singkat. kondisi nonklinis meliputi komunikasi yang dilakukan dengan bagian maintenance. dokter ke spesialis. Gambar 4. petugas laboratorium ke dokter.

. Latar Belakang perubahan. Todd R. McMurray dan Wallis (2007. Boltz. didapatkan hasil bahwa Komunikasi yang tidak efektif antara perawat dengan dokter di rumah jompo dapat merugikan dan mempengaruhi perawatan serta lingkungan kerja yang tidak baik antara perawat dan dokter. Sebaliknya. layanan yang diberikan akan efisien dan efektif. Capezuti. Thomas E. Laura M. 2012) di Australia dan sejumlah negara lain menunjukan bahwa kurang lebih 30% aktifitas keperawatan bergantung dari komunikasi. Lawrence dengan menggunakan metode Quasi Experimental. 35 2) Read back: membaca ulang apa yang telah ditulis 3) Repeat back (Reconfirm): mengulangi kembali seluruh advice yang telah diberikan untuk konfirmasi ulang C Kajian Literatur (Literature Review) Dibawah ini adalah beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya tentang komunikasi SBAR yang terkait fenomena penelitian yang dilakukan oleh peneliti dan menjadi acuan bagi peneliti dalam mengusulkan penelitian yang berjudul “Studi Kualitatif tentang Kolaborasi Antar Profesi Kesehatan terhadap Penggunaan Komunikasi SBAR”. Hasil penelitian Chaboyer. RN. Johnson. Marie P. Keliat & Sri. Penilaian atau penampilan. Craig W. James P.Specific SBAR Tool to Improve After-Hours Nurse-Physician Phone Communication: A Randomized Trial yang dilakukan oleh Erel Joffe. Turley. Bernstam (2013) menggunakan metode Randomised controlled trial. Apabila komunikasi dan pengetahuan perawat baik. Wagner. Johnson. Kevin O. Renz. Elizabeth A. Elmer V. Jurnal tentang Examining the feasibility and utility of an SBAR protocol in longterm care yang dilakukan oleh Susan M. dalam Sugiharto. Menggunakan langkah-langkah protokol dan pelatihan pengaruh SBAR (Situasi. dan Permintaan tindakan) komunikasi perawat dengan dokter dapat berpengaruh dalam mengatur informasi dan memberikan isyarat tentang apa yang harus dikomunikasikan kepada dokter. apabila komunikasi yang diberikan buruk. Hasil penelitiannya menunjukkan Komunikasi SBAR meningkatkan komunikasi lewat telepon antara perawat dan dokter sehingga dapat dikomunikasikan dengan jelas dan baik dan dapat meningkatkan keselamatan pasien. Hwang. maka hasil akhir yang didapatpun akan buruk. MS. Jurnal tentang Evaluation of a Problem.

recommendation) di RSUD Kota Mataram kepada 50 perawat. sebagian besar komunikasi perawat dalam kategori efektif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Andi Maya Kesrianti. Shahnaz Ahrari. Shahnaz Alikhah dengan menggunakan metode penelitian Quasi Experimental memberikan hasil penelitian bahwa Teknik SBAR merupakan metode pendidikan yang efektif untuk mengembangkan peran perawat dan dapat digunakan sebagai alat untuk membangun komunikasi yang efektif antara profesional kesehatan. mengadakan pelatihan komunikasi serta pemberian modul komunikasi efektif sehingga pasien dapat merasakan kepuasan dalam pelayanan di rumah sakit. menunjukkan bahwa pelaksanaan . sikap. pada komponen komunikasi background (B). yang dilakukan oleh Narges Toghian Chaharsoughi. Noer Bahry Noor. Disarankan agar pihak rumah sakit mengadakan pelatihan tambahan khususnya mengenai tata cara. didapatkan hasil pada komponen komunikasi situation (S) sebagian besar dalam kategori efektif. Suharmanto (2015) tentang identifikasi komunikasi efektif SBAR (situation. dan Alimin Maidin (2014) tentang factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi pada saat handover di ruang rawat inap RS Universitas Hasanuddin dengan 130 perawat. Variabel yang paling berpengaruh terhadap handover adalah pengetahuan. didapatkan hasil bahwa variabel pengetahuan. assesment (A) dan recommendation (R) sebagian besar dalam kategori tidak efektif. ketersediaan prosedur tetap. 36 Jurnal tentang Comparison the Effect of Teaching of SBAR Technique with Role Play and Lecturing on Communication Skill of Nurses. sehingga diharapkan bagi pihak rumah sakit dapat meningkatkan komunikasi efektif sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. background. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Agus Supinganto. Misroh Mulianingsih. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fadhilah (2011) tentang persepsi perawat terhadap pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan oleh perawat pelaksana di instalasi rawat inap RSUD Kota Semarang. assessment. kepemimpinan dan rekan kerja berpengaruh terhadap handover. Secara umum. teknik dan materi pelaksanaan handover yang diterapkan di rumah sakit bagi perawat. dengan jumlah sampel sebanyak 78 dokumen.

37 pengisian dokumen asuhan keperawatan dalam kategori lengkap sebanyak 24%. dan tidak ada pengaruh operan dengan metode SBAR terhadap ketepatan pendokumentasian evaluasi asuhan keperawatan. dan Wulandari Meikawati (2014) tentang pengaruh operan dengan metode SBAR terhadap pendokumentasian implementasi dan evaluasi asuhan keperawatan di ruang F RSUD Kota Salatiga dengan jumlah sampel 12 perawat didapatkan hasil tidak ada pengaruh operan dengan metode SBAR terhadap kelengkapan pendokumentasian implementasi asuhan keperawatan. Dari hasil penelitian tersebut dapat dinilai bahwa upaya pendokumentasian yang dilakukan oleh perawat masih banyak yang tidak lengkap. kategori kurang lengkap sebanyak 31%. Maria Suryani. Penelitian yang dilakukan oleh Suprapta (2012) tentang hubungan metode komunikasi SBAR pada handover keperawatan dengan kinerja perawat di ruang triage IGD RSUP Sanglah Denpasar. Soetarsono Rembang dengan jumlah sampel sebanyak 65 perawat yang tersebar di 6 ruang rawat inap. ada pengaruh operan dengan metode SBAR terhadap kelengkapan pendokumentasian evaluasi asuhan keperawatan. hasil penelitian Pribadi (2009) di RSUD Kelet Jepara juga mendukung dengan menunjukan bahwa rata-rata pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan masih rendah. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Setyawati (2012) tentang hubungan antara beban kerja dan pengalaman kerja dengan pendokumentasian proses keperawatan di ruang rawat inap RSUD dr. yaitu sebesar 58. dengan jumlah sampel . menunjukan hasil pendokumentasian keperawatan yang baik hanya 16.9 % saja. Selain itu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dilla Fitri Ayu Lestari. Untuk mendukung pencapaian dokumentasi yang baik. tidak ada pengaruh operan dengan metode SBAR terhadap ketepatan pendokumentasian implementasi asuhan keperawatan. dan tidak lengkap sebanyak 49%.9%. operan hendaknya menjadi suatu hal yang diperhatikan karena merupakan komunikasi antar shift yang sangat penting.

maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti tentang pengaruh penggunaan komunikasi SBAR untuk meningkatkan kolaborasi antar profesi kesehatan sehingga meningkatkan keselamatan pasien. Berdasarkan hasil temuan diatas disarankan agar mengadakan pelatihan dan simulasi/ roleplay pelaksanaan komunikasi SBAR dan bedside handover. . Penelitian yang dilakukan oleh Ni Nyoman Sudresti (2015) tentang hubungan penggunaan metode komunikasi SBAR dengan kualitas pelaksanaan bedside handover di ruang R RSUP Sanglah Denpasar.032. dengan jumlah 8 responden didapatkan hasil analisa data diperoleh ada hubungan penggunaan metode komunikasi SBAR dengan kualitas pelaksanaan bedside handover dengan hubungan yang kuat dan arah korelasi hubungan positif dengan p value sebesar 0. Berdasarkan hasil telaahan dari beberapa jurnal dan hasil penelitian sebelumnya. 38 43 perawat didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara metode komunikasi SBAR pada handover keperawatan dengan kinerja perawat dalam melakukan proses keperawatan.

Dalam penelitian ini juga bermaksud untuk memahami fenomena yang sesungguhnya terjadi pada praktik kolaborasi antar profesi kesehatan terkait penggunaan komunikasi SBAR dalam memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi pasien. dimana pendekatan ini diartikan sebagai pengalaman subjektif dan kesadaran perspektif seseorang dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui (Moleong. Speziale dan Carpenter (2003) juga menjelaskan pendekatan fenomenologi sebagai ilmu yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena khusus atau tampilan dari sesuatu hal/kejadian sebagai pengalaman hidup. Denzin dan Lincoln (1987) dalam Moleong (2010) menegaskan bahwa penelitian kualitatif menggunakan latar ilmiah yang bertujuan untuk menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan menggunakan berbagai metode. dimana diyakini bahwa tenaga kesehatan yang menggunakan metode komunikasi SBAR sesuai SOP saat melakukan proses timbang terima dan saat melakukan transfer informasi tentang perawatan pasien diantara tim perawat dan tim kesehatan lain akan meningkatkan keselamatan pasien dan akan menunjukkan praktik kolaborasi yang baik antar profesi kesehatan sesuai skill. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. seperti wawancara. Desain Penelitian Penelitian tentang kolaborasi antar profesi kesehatan terhadap penggunaan komunikasi SBAR ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. dan pemanfaatan dokumen. pengamatan. farmasi dalam praktik kolaborasi menggunakan komunikasi SBAR. perawat. Pada penelitian ini pengalaman hidup yang ingin digali oleh peneliti adalah pengalaman profesi kesehatan dalam hal ini adalah dokter. BAB III METODOLOGI A. tanggung jawab. 2010). ahli gizi. dan tugas masing-masing dalam melaksanakan tindakan kesehatan bagi pasien dibandingkan dengan 39 .

Untuk memenuhi pencapaian proses bracketing ini peneliti berupaya menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tidak mengarahkan partisipan dalam menggali informasi. tidak menggunakan asumsi pribadi atau pengetahuan sebelumnya dalam memahami pengalaman yang partisipan sampaikan. dan describing (Polit. Bracketing merupakan proses mengidentifikasi. transfer informasi dan berdiskusi tentang kondisi kesehatan pasien. 2001). Sehingga data yang didapatkan adalah data yang benar-benar murni pengalaman kolaborasi antar profesi kesehatan dan tidak ada unsur opini atau perkiraan peneliti dalam data tersebut (Polit. peneliti . dimana proses ini membutuhkan keterlibatan peneliti untuk benar-benar tenggelam dalam pengalaman tenaga kesehatan yang sedang melakukan asuhan keperawatan pasien. 40 yang tidak melakukan sesuai SOP serta meningkatkan efektifitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Beck. & Hungler. menahan keyakinan diri peneliti tentang pengetahuan dan pendapat sebelumnya. Terdapat 4 langkah dalam proses fenomenologi deskriptif. Beck. tiap-tiap perawat pelaksana akan mendapatkan pengalaman yang berbeda saat melakukan kolaborasi antar profesi kesehatan saat mereka memahami dengan baik penggunaan komunikasi SBAR dalam pelaksanaan transfer informasi tentang kondisi pasien. dan kedalaman dari pengalaman tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien (Speziale & Carpenter. Langkah kedua adalah intuiting. intuiting. Oleh karena itu. Selain itu. yaitu: bracketing. 2003). Sehingga data yang diperoleh peneliti merupakan pengalaman partisipan yang sesungguhnya. Sehingga pada tahap ini. berdasarkan gambaran langsung dari partisipan melalui wawancara. 2001). keluasan. dalam mencapai tujuan penelitian ini peneliti berupaya mendapatkan informasi tersebut dengan menekankan kekayaan. analyzing. serta dalam proses timbang terima antar perawat setiap shift. serta opini yang peneliti miliki terkait respon kolaborasi antar profesi kesehatan saat melakukan timbang terima dan transfer informasi menggunakan komunikasi SBAR yang akan diteliti. & Hungler.

Proses analisis ini peneliti capai dengan cara membaca transkrip hasil wawancara dengan seksama. B. 2003). Describing bertujuan untuk mengkomunikasikan dan menggambarkan fenomena secara verbal dan tertulis. 2010). sehingga peneliti benar-benar merasakan setiap pengalaman yang partisipan alami yang mungkin terkait dengan kendala dan hambatan yang dirasakan saat melakukan komunikasi SBAR. Selanjutnya. proses analysis melibatkan identifikasi intisari data-data yang diperoleh dari hasil wawancara pada tenaga kesehatan terkait pengalaman mereka selama melakukan komunikasi SBAR (Speziale & Carpenter. peneliti berusaha menyimak setiap informasi yang disampaikan oleh partisipan. 2003). langkah terakhir adalah describing. . mencari kata kunci yang bermakna. Saat peneliti mulai dapat merasakan dan memahami pengalaman partisipan tersebut. Pada tahap ini. Gambaran fenomena pengalaman kolaborasi antar profesi kesehatan yang melakukan komunikasi SBAR dari penelitian ini akan langsung peneliti tuangkan dalam bentuk laporan hasil penelitian yang tersusun secara rinci agar mudah dipahami oleh pembaca. 41 mulai mengetahui pengalaman apa saja yang dihadapi dan dirasakan oleh tenaga kesehatan terkait penggunaan komunikasi SBAR dalam proses perawatan pasien selama di rumah sakit (Speziale & Carpenter. maka peneliti akan semakin mudah memaknai informasi lebih cepat dan selanjutnya mengembangkan pertanyaan yang tepat untuk mencapai tujuan penelitian. menyusun kategori berdasarkan kata kunci dan selanjutnya mengidentifikasi tema-tema penting yang menunjukkan fenomena/pengalaman kolaborasi antar profesi kesehatan dengan penggunaan komunikasi SBAR di rumah sakit pada saat transfer informasi tentang kondisi kesehatan pasien (Flood. Setting dan Konteks Penelitian Penelitian ini dilakukan di RS X Bandung yang merupakan salah satu rumah sakit swasta terbaik yang ada di Bandung yang melayani rawat jalan dan rawat inap bagi pasien-pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Setelah proses analisis dilakukan.

2010). Partisipan Dalam penelitian kualitatif. saturasi teoritis. istilah sampel diganti dengan sebutan partisipan atau informan (Poerwandari. 2010). Selain itu merupakan strategi sampling yang umum digunakan dalam penelitian kualitatif. dan alat kesehatan yang lengkap. sedangkan pendapat dari Morse (1994) ukuran sampel dalam fenomenologi paling sedikit 6 orang (Mason. dan kelebihan informasi (Onwuegbuzie & Leech. dimana ukuran sampel yang digunakan adalah 5-25 orang. namun juga merupakan metode pemilihan sampel berdasarkan kriteria yang relevan dengan tujuan penelitian. NICU. C. karena akan mempersulit dalam mengekstrak data yang terlalu banyak. metode penelitian (Onwuegbuzie & Leech. Partisipan dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang berada dan bekerja di RS X Bandung. Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi penentuan besarnya jumlah partisipan yang dibutuhkan. ruang operasi. luas. UGD. seperti desain penelitian. mampu berkomunikasi dengan baik dan berbahasa Indonesia dan bersedia menjadi partisipan yang mau memberikan . 2007). lahan parkir yang nyaman. pelayanan tenaga kesehatan yang ramah dan professional di bidangnya masing-masing. ICU. Dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi penentuan jumlah partisipan dapat ditentukan berdasarkan pendapat dari Creswell (1998). masa kerja minimal 5 tahun. Secara umum. cafeteria. 42 Rumah sakit ini memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap di dukung dengan tersedianya peralatan kesehatan yang canggih dan muktahir untuk menunjang tes diagnostic pasien. 2009). yang sudah terpapar informasi tentang komunikasi SBAR. menurut Onwuegbuzie dan Leech (2007) penentuan ukuran sampel dalam penelitian kualitatif tidak perlu terlalu besar. ruang rawat inap. tersedianya klinik. basement. 2007). Akan tetapi. Pemilihan partisipan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. jumlah sampel yang terlalu kecil juga akan sulit dalam mencapai saturasi data. serta adanya saturasi (Mason.

tujuan. serta menyampaikan maksud. Calon partisipan yang telah mendapatkan penjelasan penelitian akan ditanyakan kesediaannya untuk menjadi partisipan dalam penelitian ini. D. Instrumen Penelitian 1. Apabila calon partisipan bersedia. E. dan diskusi tentang kondisi kesehatan pasien. selanjutnya peneliti memperkenalkan diri dan membina hubungan saling percaya dengan calon partisipan. dan prosedur terkait penelitian yang akan dilakukan. Rigor dan Trustworthiness H. transfer informasi. 43 informasi mengenai pengalamannya terkait kolaborasi antar profesi dalam melaksanakan komunikasi SBAR ketika melakukan asuhan keperawatan. maka langkah selanjutnya peneliti meminta alamat partisipan dan melakukan kontrak dengan partisipan untuk melakukan pertemuan selanjutnya di rumah atau tempat yang sudah disepakati. Selanjutnya. setelah partisipan setuju untuk secara sukarela ikut dalam proses penelitian ini dan awal proses membina hubungan saling percaya telah terjalin. Proses pemilihan partisipan sebelumnya diawali dengan mengidentifikasi calon partisipan yang sesuai dengan kriteria penelitian. Proses wawancara dilakukan di tempat yang sudah disetujui dan waktu yang disepakati sesuai keinginan partisipan. maka partisipan harus menandatangani dan mengisi lembar persetujuan sebagai partisipan penelitian (informed consent). Analisis Data G. Prosedur dan Cara Pengumpulan Data F. Peneliti Sebagai Instrumen 2. Pertimbangan Etika Penelitian .

DAFTAR PUSTAKA 44 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.