LAPORAN UJIAN KASUS

ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

PSORIASIS

Pembimbing :
dr. Amelia B. R., Sp.KK

Disusun Oleh :
Dara Aisyah Rahayu Abdurrachman
G4A015147

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD PROF. DR MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO

2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN UJIAN KASUS

“PSORIASIS”

Disusun oleh:
Dara Aisyah Rahayu Abdurrachman G4A015147

Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu bentuk
ujian di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Margono Soekarjo
Purwokerto.

Purwokerto, Desember 2016
Pembimbing:

dr. Amelia B. R., Sp.KK
NIP.140 135 454

2

Rekan-rekan Dokter Muda Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin atas semangat dan dorongan serta bantuannya. oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan penulisan di masa yang akan datang. KATA PENGANTAR Segala puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan atas berkat rahmat dan anugerahnya sehingga penyusunan laporan kasus dengan judul “PSORIASIS” ini dapat diselesaikan. Purwokerto. Desember 2016 Penyusun 3 .KK selaku dosen penguji 2. dr. Amelia B. Dokter-dokter spesialis kulit dan kelamin SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di RSUD Margono Soekarjo 3. Sp. Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi semua pihak yang ada di dalam maupun diluar lingkungan RSUD Margono Soekarjo. R. Tidak lupa penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1.. Presentasi kasus ini merupakan salah satu tugas di SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak kekurangan.

.................................................. 25 4 ............ DAFTAR ISI Halaman BAB I PENDAHULUAN .................. Prognosis .................................................................................................................................................. 10 G.................................. 9 E............................................................. 11 C................ Diagnosis Banding ....................................... 14 G............................................. Terapi .................................. Diagnosis Kerja ......................................................................................... Status Generalis dan Dermatologi ................................................................................................................. Diagnosis ................................... 10 I...... 7 D............ Resume .......................................... Gejala Klinis .................................................................................................... 24 DAFTAR PUSTAKA ............ Etiologi ...................... 10 BAB III TINJAUAN PUSTAKA A........................................... 17 I................... Anamnesis .................. Pemeriksaan penunjang ........................................ 6 C................................. 22 BAB IV PEMBAHASAN.................. 6 B...... 14 H........................................................... 13 E........................................................ Terapi .............................................................................................. Patogenesis .......................................................................................... Epidemiologi ............................................. 12 D............................. 5 BAB II LAPORAN KASUS A...... 10 F........................................................................................................................ 10 H............................................................................................................. Identitas Pasien .............................. Definisi ................................. 23 BAB V KESIMPULAN ... Prognosis ...................................... 11 B.......................................................

2015). Psoriasis didefinisikan sebagai penyakit peradangan kulit kronik dengan dasar genetik yang kuat dengan karakteristik perubahan pertumbuhan dan diferensiasi sel epidermis disertai manifestasi vaskuler. Sedangkan pada dewasa di Amerika Serikat 0. tetapi prevalensi usia psoriasis bervariasi di tiap wilayah. 5 . Psoriasis tidak menduduki kelas penyakit terbanyak dimanapun di dunia. 2015). juga diduga adanya pengaruh sistem saraf (Menaldi. BAB I PENDAHULUAN Dermatosis eritroskuamosa adalah penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritema dan skuama. Berbagai faktor psikologis dan sosial sering dijumpai pasien. dan 1998 berturut-turut adalah 0. dan salah satu contohnya adalah psoriasis. Di Indonesia pencatatan pernah dilakukan oleh sepuluh RS besar dengan angka prevalensi pada tahun 1996.59%. Prevalensi anak-anak berkisar dari 0% di Taiwan sampai dengan 2. namun angka kesakitannya dapat diperkirakan tinggi disebabkan pola kesembuhan dan kekambuhan yang beragam. dan 0. Psoriasis sebelumnya dianggap sebagai penyakit kulit yang tidak istimewa.92% dan terus meningkat di banyak daerah di Indonesia (Menaldi. 2015).1% di Itali. Psoriasis menyebar di seluruh dunia.98% sampai dengan 8% ditemukan di Norwegia.62%. Pada tahun 1841 didefinisikan oleh Ferdinand von Hebra sebagai suatu penyakit kulit yang mempunyai kekhususan sendiri (Menaldi. 2015). 0. tidak nyaman karena gatal atau harga obat yang mahal dengan berbagai efek samping (Menaldi. antara lain malu karena kulit yang mengelupas dan pecah-pecah. 1997.

kontak dengan bahan-bahan iritan seperti detergen. gatal dirasakan di sekitar perut kemudian meluas ke tangan. gatal dirasakan kambuh- kambuhan dan luka pada kulit dirasakan sangat mengganggu karena tampak seperti “manusia bersisik”. Pasien pernah berobat dan mendapatkan salep serta obat yang minum dari dokter kulit. Awalnya luka di kulit hanya berupa bercak-bercak kemerahan di area perut dan berrsisik. Pasien menyatakan bahwa gatal dirasakan bertambah saat hawa panas atau berkeringat. 6 . pemutih. dan bahan kimia lainnya disangkal. keluhan dirasa membaik setelah penggunaan obat tersebut namun keluhan kembali muncul saat salep dan obat yang diminum habis. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. BAB II LAPORAN KASUS A. dan seluruh tubuh. kaki. KH Jenis kelamin : Laki-laki Usia : 61 tahun Pekerjaan : Pensiunan Agama : Islam Suku : Jawa Tanggal Periksa : 20 Desember 2016 B. Anamnesis Keluhan utama Gatal Riwayat penyakit sekarang Pasien datang ke Poliklinik Kulit & Kelamin RSUD Margono Soekarjo pada tanggal 20 Desember 2016 dengan keluhan gatal pada seluruh badan. Identitas Pasien Nama : Tn.

Riwayat sosial Pasien tinggal bersama dengan istri. dengan distribusi merata Mata : Konjungtiva anemis (-/-). . Kesan status ekonomi menengah.7oC peraksila BB : 54 kg TB : 160 cm Status generalis Kepala : Mesochepal.Riwayat kontak bahan-bahan iritatif disangkal.00. Riwayat penyakit keluarga . sclera ikterik (-/-). isi tegangan cukup Respiratory Rate : 18 x/menit. . Pasien adalah pensiunan karyawan swasta dengan penghasilan rata-rata per bulan sekitar Rp 1.Riwayat alergi pada anggota keluarga disangkal.Penyakit serupa pada anggota keluarga disangkal. .Riwayat keluhan serupa belum pernah dialami pasien. Status Generalis dan Dermatologi Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Vital sign Tekanan Darah : 120/80 mmHg Nadi : 88 x/menit. C. rambut putih.Riwayat penyakit sistemik seperti tekanan darah tinggi dan DM disangkal. . kelopak mata edema (-/-) 7 . menantu. regular. reguler Suhu : 36. kedalaman cukup.Riwayat penyakit sistemik pada anggota keluarga disangkal. Riwayat penyakit dahulu . Pasien berobat dengan menggunakan jaminan kesehatan berupa BPJS non PBI.Riwayat alergi makanan laut disangkal.000. anak. dan kedua cucunya dalam dalam rumah berukuran 7x10 m2.000. .

supel. extremitas superior et inferior dextra et sinistra Efloresensi : Plak eritem berbatas tegas dengan skuama tebal berlapis seperti mika/ perak tersebar generalisaat dengan beberapa bagian mengalami erosi dan ekskoriasi serta likenifikasi 8 . edema (-). nyeri tekan (-) Extremitas : Akral hangat. Rbh (-/-). torakalis anterior et posterior. secret (-) Mulut : Mukosa bibir dan mulut lembab. Retraksi (-). fenomena kobner (+) Status dermatologis Lokasi : Regio abdomen. Gallop (-). Wh (-/-)} Jantung {BJ I dan II reguler. BU (+) normal. sianosis (-). kelemahan (-). deviasi septum nasi (-). Ketertinggalan Gerak (-) Paru {Vesikuler (+/+). Murmur (-)} Abdomen : Datar. timpani. Sekret (-) Telinga : Bentuk daun telingan normal. Rbk (-/-). auspitz sign (+). sianosis (-) Thorax : Simetris. capillary refill time < 2 detik.Hidung : Simetris.

D. torakalis anterior et posterior. gatal dirasakan di sekitar perut kemudian meluas ke tangan. pemutih. Pasien pernah berobat dan mendapatkan salep serta obat yang minum dari dokter kulit. 9 . extremitas superior et inferior dextra et sinistra didapatkan plak eritem berbatas tegas dengan skuama tebal berlapis seperti mika/ perak dengan beberapa bagian mengalami erosi dan ekskoriasi serta likenifikasi. Awalnya luka di kulit hanya berupa bercak-bercak kemerahan di area perut dan berrsisik. dan bahan kimia lainnya disangkal. kontak dengan bahan-bahan iritan seperti detergen. gatal dirasakan kambuh- kambuhan dan luka pada kulit dirasakan sangat mengganggu karena tampak seperti “manusia bersisik”. Efloresensi yang terdapat pada pasien. Gambar 1. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik di regio abdomen. kaki. Pasien menyatakan bahwa gatal dirasakan bertambah saat hawa panas atau berkeringat. keluhan dirasa membaik setelah penggunaan obat tersebut namun keluhan kembali muncul saat salep dan obat yang diminum habis. Resume Pasien datang ke Poliklinik Kulit & Kelamin RSUD Margono Soekarjo pada tanggal 20 Desember 2016 dengan keluhan gatal pada seluruh badan. Ditemukan juga auspitz sign (+) dan fenomena kobner (+). dan seluruh tubuh.

. H. pakaian dan lingkungan .Drug Eruption .Penggunaan pelembab kulit atau Kompres NaCl .Edukasi tentang psoriasi.Menjaga kebersihan badan.MTX 1x2.Pitiriasis Rosea F.Membiasakan diri untuk mengendalikan stress I. Diagnosis kerja Psoriasis G. Diagnosis banding .Desoximetasone 30 mg + Asam Salisilat ½ gram (cream) . Terapi Medikamentosa .Dermatitis seboroik . penyebab. tanda Auspitz (+).Curcuma 3x1 Cth .5 mg .Anjuran untuk tidak menggaruk untuk mencegah infeksi sekunder. . dan Kobner phenomenon (+). dan cara pengobatannya. Pemeriksaan penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.E.Metilprednisolon 3x4 Mg Non medikamentosa dan Edukasi . pada pemeriksaan fisik didapatkan fenomena tetesan lilin (+).Cetirizine 1x10 mg . Prognosis Quo ad vitam : ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam Quo ad fungsionam : ad bonam Quo ad cosmeticam : dubia ad bonam 10 .

2008). Beberapa variasi klinisnya antara lain psoriasis vulgaris (85-90%) dan artritis psoriatika (10%) (Nestle. Psoriasis merupakan penyakit multifaktor dengan beberapa predisposisi seperti faktor genetik.8% di berbagai populasi dunia. ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar berlapis-lapis dan transparan. Insidens di Asia cenderung rendah (0. dan residif. 2008). dengan dampak luas pada kualitas hidup pasien ataupun kondisi sosioekonominya (Stern. 2009). dan beberapa faktor penyerta seperti obesitas. trauma. lesi kulit akan lebih luas dan persisten (Gudjonsson. inflamasi. Definisi Psoriasis berasal dari bahasa Yunani “psora” yang berarti gatal. Epidemiologi Kasus psoriasis makin sering dijumpai dan sangat dikeluhkan oleh pasien karena menyebabkan gangguan kosmetik terlebih mengingat bahwa perjalannannya yang menahun dan residif (Djuanda. auspitz. serta ada riwayat keluarga. bersifat kronik. disertai dengan fenomena tetsan lilin.1-11. Tidak ada perbedaan insidens pada pria ataupun wanita (Gudjonsson. 2015). dan kobner (Djuanda. Puncak usia kedua adalah 57-60 tahun (Yuliastuti. 2008). infeksi. 2013). Bila terjadi pada usia dini (15-35 tahun). 11 . lingkungan. B. 2013). meskipun sebagian besar pasien tidak mengeluhkan rasa gatal. ketombe atau ruam. 2007). mortalitas psoriasis rendah namun morbiditas tinggi. BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Seperti lazimnya penyakit kronis. terkait HLA (Human Leukocyte Antigen) I antigen (terutama HLA Cw6). Penyakit ini terjadi pada segala usia. Prevalensi psoriasis bervariasi antara 0. Psoriasis adalah penyakit akibat autoimun. tersering pada usia 15-30 tahun (Gudjonsson.4%). 2013). serta defisiensi bentuk aktif vitamin D3 (Al- Shobaili.

2008). namun berbagai penelitian telah mengetahui adanya peran imunologis (Gudjonsson. Berdasarkan awitan penyakit dikenal ada dua tipe psoriasis yaitu tipe I psoriasis dengan awitan dini bersifat familial dan tipe II dengan awitan lambat bersifat nonfalilial (Djuanda. Lesi psoriasis matang umumnya dipenuhi dnegan sebukan sel limfosit T CD4 dengan sedikit sel limfositik dalam epidermis. Faktor imunologik Defek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel. sel penyaji antigen (dermal). 2013). HLA Cw6 akan mempresentasikan antigen ke sel T CD 8+ (Gudjonsson. Psoriasis Susceptibility 1 atau PSORS1 (6p21. risiko seseorang mendapat psoriasis adalah 41%. sedangkan psoriasis pustulosa berhubungan dengan HLA-B27 (Djuanda. B17. Beberapa alel HLA yang berkaitan adalah HLA B13 dan HLA DQ9. Peran Genetik Bila orangtuanya tidak menderita psoriasis risiko mendapat psoriasis adalah 12 % (Djuanda. abnormalitas pembuluh darah. Dahulu diduga berkaitan dengan gangguan primer keratinosit. 4% bila 1 orang saudara kandung terkena. HLA Cw6 merupakan alel yang terlibat dalam patogenesis artritis psoriatika serta munculnya lesi kulit yang lebih dini. dengan ciri gangguan perkembangan dan diferensiasi epidermis. 2008). Etiologi Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis inflamatorik dengan faktor genetik yang kuat. yaitu limfosit T. Penyebab dasarnya belum diketahui pasti. dan turun menjadi 2% bila tidak ada riwayat keluarga (Gudjonsson.C. 2008). 14% bila hanya dialami oleh salah satunya.3) adalah salah satu lokus genetik pada kromosom yang berkontribusi dalam patogenesis psoriasis. Bila kedua orang tua mengidap psoriasis. Psoriasis tipe I berkaitan dengan HLA-B13. serta fungsi neurologis. faktor imunologis dan biokimiawi. Sel langerhans 12 . Sedangkan pada lesi psoriasis baru terdapat banyak sebukan sel limfosit T CD8. 2013). 2013). atau keratinosit. Bw57. 2. 1. psoriasis tipe II berhubungan dengan HLA-B27 dan Cw2. dan Cw6.

sedangkan pada kulit normal umumnya terjadi dalam 27 hari (Djuanda. kedua komponen ini akan memproduksi tumor necrosis factor α (TNF-α). Infeksi fokal seperti tonsilitis atau tonsilofaringitis akut akibat infeksi Streptococcus berkaitan erat dengan slah satu bentuk psoriasis yaitu psoriasis gutata. Sel dendritik CD 11c+ biasanya ditemukan di dermis bagian atas (Stern. D. 3. Aktivasi sel T terutama dipengaruhi oleh sel Langerhans. Sel T CD 3+ dan CD 8+ dapat ditemukan di sekitar kapiler dermis dan epidermis. gangguan metabolik. Faktor pencetus Faktor seperti stres psikis. infeksi fokal. trauma (fenomena kobner). Selain itu. Gambaran histopatologisnya antara lain elongasi rete ridges. dan penghentian mendadak kortikosteroid sistemik (Djuanda. serta infi ltrasi berbagai sel radang. parakeratosis. disorganisasi stratum korneum akibat hiperproliferasi epidermis dan peningkatan kecepatan mitosis. 2013). 2009). 2007). alkohol dan juga merokok merupakan berbagai faktor pencetus psoriasis dimana faktor stres psikis merupakan faktor pencetus utama. 2007). antimalaria. litium. Invasi sel CD 8+ ke epidermis berkaitan dengan munculnya lesi kulit (Gudjonsson. Sel T serta keratinosit yang teraktivasi akan melepaskan sitokin dan kemokin. 2008). Terdapat penebalan epidermis. serta menstimulasi inflamasi lebih lanjut. Obat yang umumnya dapat menyebabkan psoriasis residif adalah beta adrenergic blocking agents. endokrin. obat. psoriasis bukan hanya disebabkan oleh 13 . yang mempertahankan proses inflamasi. hanya 3-4 hari. Pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat. disertai peningkatanekspresi intercellular adhesion molecule 1 (ICAM 1) serta abnormalitas diferensiasi selepidermis (Nestle. Oleh karena itu. 2013). juga berperan dalam imunopatogenesis psoriasis dimana awal proliferasi epidermis dipicu oleh sel tersebut. Patogenesis Lesi kulit psoriasis melibatkan epidermis dan dermis (Stern.

serta daerah lumbosakral. tentukan apakah lesi merupakan bentuk akut atau kronis. Predileksi umumnya terdapat pada skalp. Selain itu. Besar lesi kulit berkisar antara lentikular. Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan pada kuku. psoriasis juga menimbulkan kelainan pada sendi (artritis psoriatik) yang umumnya menyerang sendi distal interfalang. dan berwarna putih seperti mika. keruh. Skuama berlapis-lapis. Jika seluruh lesi kulit bersifat lentikuler maka disebut psoriasis gutata (Djuanda. Eritema sirkumkripta dan merata. karena kemungkinan artritis psoriatika pada pasien dengan 14 . Gejala klinis Keadaan umum tidak dipengaruhi. dan dapat pula konfluen. 2007). E. perbatasan skalp dan wajah. Sebagian penderita mengeluhkan gatal yang ringan. serta onikolisis. serta keluhan pada persendian. F. autoimunitas terkait sel limfosit T seperti teori terdahulu. kasar. plakat. karena onset dini dan riwayat keluarga berkaitan dengan tingginya ekstensi dan rekurensi penyakit. 2013). kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma. dimana sendi membesar kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks (Djuanda. Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritem yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Ada juga kelainan tidak khas seperti kuku menebal. yakni pitting nail atau nail pit berupa lekuk-lekukan miliar pada kuku. Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku. bersifat poliartrikuler. numuler. 2013). tetapi melibatkan proses yang lebih kompleks termasuk abnormalitas mikrovaskuler dan keratinosit (Stern. namun pada stadium penyembuhan seringkali kemerahan hanya terdapat dibagian tepi. Diagnosis Salah satu hal yang pertama kali penting ditanyakan adalah onset penyakit dan riwayat keluarga. transparan. dan bagian distalnya terangkat karena terjadi hiperkeratosis subungual. ekstremitas bagian ekstensor (terutama siku dan lutut).

Kemungkinan relaps juga bervariasi antar individu. Lesi Kulit Lesi klasik psoriasis adalah plak eritematosa berbatas tegas. simetris. 2008). 1. 15 . Meskipun terdapat beberapa predileksi khas seperti pada siku. serta sakrum. melibatkan area tubuh yang lebih luas. dan berskuama pada ekstensor ekstremitas. cepat meluas. Lesi kronis cenderung stabil berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Pasien yang sering relaps biasanya memiliki lesi yang lebih berat.5-1. sedangkan dalam bentuk akut. dengan skuama berwarna keperakan. Psoriasis Vulgaris/ Tipe Plakat Kronis/ Chronic Stationary Psoriasis Merupakan bentuk tersering (90% pasien) dengan karakteristik klinis plakat kemerahan. 2007). diselubungi oleh skuama putih. hasil proliferasi epidermis maturasi prematur dan kornifikasi inkomplet keratinosit dengan retensi nuklei di stratum korneum (parakeratosis).riwayat pembengkakan sendi sebelum usia 40 tahun. Klasifikasi lesi kulit pada psoriasis a. 2008). dengan lesi berupa papul kecil (diameter 0. meskipun dapat unilateral (Gudjonsson. dan lesi psoriatik nail bed (Nestle. lutut.lesi dapat ditemukan di seluruh tubuh. 2009). sehingga terapi harus lebih agresif (Gudjonsson. berbatas tegas.5 cm) di tubuh bagian atas dan ekstremitas proksimal. Lesi kulit biasanya merupakan plak eritematosa oval. meninggi. meninggi. Gambaran klinis lain yang dapat menyertai adalah artritis psoriatika pada sendi interfalang jari tangan. b. Psoriasis merupakan penyakit inflamatorik kronik dengan manifestasi klinis pada kulit dan kuku (Stern. Psoriasis Guttata (Eruptif ) Guttata berasal dari bahasa Latin “Gutta” yang berarti “tetesan”. Lesi kulit cenderung simetris. lesi dapat muncul mendadak dalam beberapa hari. distrofi kuku.

dengan kulit yang hipohidrosis. berukuran lebih besar (1-2 cm). kronis. Psoriasis Inversa Pada tipe ini muncul di lipatan-lipatan kulit seperti aksila. kadang muncul sesuai dermatom kulit tungkai. lesi muncul pada usia yang lebih tua. i. disertai gangguan perspirasi pada area yang terkena. Psoriasis Plakat Berukuran Kecil Pada tipe ini. g.c. Psoriasis Linear Bentuk yang jarang dimana berupa lesi linear terutama di tungkai. Psoriasis Eritrodermik Tipe ini mengenai hampir seluruh bagian tubuh. Lesi biasanya berbentuk eritema mengkilat berbatas tegas dengan sedikit skuama. h. Napkin Psoriasis Bentuk ini biasanya muncul pada usia 3-6 bulan di area kulit yang terkena popok (diaper area). serta leher. f. Psoriasis Pustular Psoriasis pustular memiliki beberapa variasi secara klinis seperti psoriasis pustular generalisata (Von Zumbuch). glabella. dengan skuama lebih banyak dan tebal. dan psoriasis pustular lokalisata (pustulosis palmaris et plantaris dan akrodermatitis kontinua). e. 16 . Risiko hipotermia sangat besar karena vasodilatasi luas pada kulit. serta melekat kuat pada permukaan kulit di bawahnya seperti psoriasis pada umumnya. psoriasis pustular annular. impetigo herpetiformis. d. Sebopsoriasis Sebopsoriasis ditandai dengan adanya plak eritematosa dengan skuama berminyak pada area kulit yang seboroik (kulit kepala. serta sternum). lipatan nasolabialis. Biasanya muncul pada lanjut usia di beberapa negara Asia. genitokruris. Kadang merupakan bentuk dari nevus epidermal infl amatorik linear verukosa. Skuama tipis. perioral. dengan efloresensi utama eritema. tidak tebal. superfisial.

pada sekitar 40% pasien psoriasis. crumbling nail. Terapi Tatalaksana psoriasis adalah terapi supresif. Lesi biasanya berupa bercak eritematosa berbatas tegas menyerupai peta dan berpindah-pindah. Kortikosteroid Glukokortikoid dapat menstabilkan dan menyebabkan translokasi reseptor glukokortikoid. Sebagian besar kasus psoriasis dapat ditatalaksana dengan pengobatan topikal meskipun memakan waktu lama dan juga secara kosmetik tidak baik. Geographic Tongue Geographic tongue atau benign migratory glossitis merupakan kelainan idiopatik yang berakibat hilangnya papil filiformis lidah. karena obat topikal lain dapat mencetuskan iritasi. serta titik kemerahan pada lunula. Lekukan kuku (nail pitting) merupakan gambaran yang paling sering muncul. tidak menyembuhkan secara sempurna. pada berbagai jari kecuali jempol. G. sehingga kepatuhan sangat rendah. Sediaan topikalnya dipergunakan sebagai lini pertama pengobatan psoriasis ringan hingga sedang di area fleksural dangenitalia. Terkait kuat dengan faktor genetik. 2015). bertujuan mengurangi tingkat keparahan dan ekstensi lesi sehingga tidak terlalu mempengaruhi kualitas hidup pasien (Yuliastuti. b. Deformitas kuku lainnya akibat kerusakan matriks kuku adalah onikodistrofi (kerusakan lempeng kuku). Artritis Psoriatika Merupakan bentuk klinis psoriasis ekstrakutan yang paling sering muncul. Manifestasi Klinis Psoriasis di Berbagai Organ a. 1. c. 17 . 2. Kuku Perubahan kuku muncul pada sekitar 40% pasien dengan psoriasis.

terutama yang resisten terhadap terapi lain. 18 . 4. Tar Batubara Penggunaan tar batubara dan sinar UV untuk pengobatan psoriasis telah diperkenalkan oleh Goeckerman sejak tahun 1925. namun terbukti efektif untuk psoriasis fasialis dan inversa. Meskipun takrolimus tidak efektif dalam pengobatan plak kronis psoriasis. walaupun efektivitasnya terhadap eritema sangat minim. maxacalcitrol. menghambat proliferasi keratinosit. mempengaruhi fungsi imun. dan tacalcitol. 5. calcipotriene. Anthralin (Dithranol) Dithranol dapat digunakan untuk terapi psoriasis plakat kronis. Vitamin D3 dan Analog Setelah berikatan dengan reseptor vitamin D. memodulasi diferensiasi epidermis. Efeknya antara lain mensupresi sintesis DNA dan mengurangi aktivitas mitosis lapisan basal epidermis. 6. Dapat dikombinasikan dengan phototherapy UVB dengan hasil memuaskan (regimen Ingram). membentuk kompleks yang menghambat transduksi sinyal limfosit T dan transkripsi IL2. dengan efek antiproliferasi terhadap keratinosit dan antiinflamasi yang poten. Efikasinya dapat ditingkatkan bila dikombinasikan dengan glukokortikoid potensi tinggi atau phototherapy. serta beberapa komponen memiliki efek antiinfl amasi. 3. serta menghambat produksi beberapa sitokin pro-inflamasi seperti IL2 dan IFN-γ. vitamin D3 akan meregulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel. Analog vitamin D3 yang telah digunakan dalam tatalaksana penyakit kulit adalah calcipotriol.2. Tazarotene Merupakan generasi ketiga retinoid yang dapat digunakan secara topikal untuk mereduksi skuama dan plak. Inhibitor Calcineurin Topikal Takrolimus (FK 506) merupakan antibiotik golongan makrolid yang bila berikatan dengan immunophilin (protein pengikat FK506).

terutama di bahu dan lutut. Psoralen dan Terapi Sinar Ultraviolet A (PUVA) PUVA merupakan kombinasi psoralen dan longwave ultraviolet A yang dapat memberikan efek terapeutik. mengurangi nyeri akibat fisura. terutama di epidermis. Excimer Laser Diindikasikan untuk tatalaksana pasien psoriasis dengan plak rekalsitran. yang tidak tercapai dengan penggunaan tunggal keduanya. Phototherapy dapat mendeplesi sel limfosit T secara selektif. Emolien Emolien seperti urea (hingga 10%) sebaiknya digunakan selama terapi. 3. Sinar Ultraviolet B (290-320 nm) Terapi UVB inisial berkisar antara 50-75% minimal erythema dose (MED). 1. untuk mencegah kekeringan pada kulit. pengobatan psoriasis juga dilakukan secara peroral yaitu dengan (Gudjonsson. dan mengurangi rasa gatal pada lesi tahap awal. mengurangi ketebalan skuama. segera setelah mandi. 1. Selain dengan terapi topikal dan Phototherapy . Terapi diberikan hingga remisi total tercapai atau bila perbaikan klinis lebih lanjut tidak tercapai dengan peningkatan dosis. juga untuk tatalaksana psoriasis berat jangka 19 . 4. Terapi Fotodinamik Terapi fotodinamik telah dilakukan pada beberapa dermatosis infl amatorik termasuk psoriasis. Meski demikian.7. Tujuan terapi adalah mempertahankan lesi eritema minimal sebagai indikator tercapainya dosis optimal. terapi ini tidak terbukti memuaskan. 2008). 2. Metotreksat Metotreksat (MTX) merupakan pilihan terapi yang sangat efektif bagi psoriasis tipe plak kronis. melalui apoptosis dan perubahan respons imun Th1 menjadi Th2.

dihidrolisis menjadi metabolit aktifnya. Steroid Sistemik Steroid sistemik tidak rutin dalam tatalaksana psoriasis. MTX bekerja secara langsung menghambat hiperproliferasi epidermis melalui inhibisi di hidrofolat reduktase. panjang. Siklosporin A (CsA) CsA per oral merupakan sangat efektif untuk psoriasis kulit ataupun kuku. dan psoriasis pustular (Von Zumbuch). Monoterapi acitretin paling efektif bila diberikan pada psoriasis tipe eritrodermik dan generalized pustular psoriasis. yaitu inhibitor inosin 5’monophosphate dehydrogenase. 3. sehingga menekan respons imun dan pembentukan antibodi. bentuk eritroderma. 2. Acitretin Acitretin merupakan generasi kedua retinoid sistemik yang telah digunakan untuk pengobatan psoriasis sejak tahun 1997. Efek antiinflamasi disebabkan oleh inhibisi enzim yang berperan dalam metabolisme purin. karena risiko kambuh tinggi jika terapi dihentikan. monometilfumarat. yang akan menghambat proliferasi keratinosit serta mengubah respons sel Th1 menjadi Th2. 20 . Preparat ini diindikasikan pada psoriasis persisten yang tidak terkontrol dengan modalitas terapi lain. Sulfasalazine Merupakan agen terapi sistemik yang jarang digunakan untuk tatalaksana psoriasis. 5. Asam mikofenolat mendeplesi guanosin limfosit T dan B serta menghambat proliferasinya. Terapi ini dapat diberikan jangka lama (>2 tahun) untuk mencegah relaps ataupun singkat (hingga tercapai perbaikan). 4. Mikofenolat Mofetil Merupakan bentuk pro-drug asam miko fenolat. Ester Asam Fumarat Preparat ini diabsorbsi lengkap di usus halus. termasuk psoriasis eritroderma dan psoriasis pustular. terutama pasien psoriasis eritrodermik. 7. 6.

serta membutuhkan evaluasi keamanan penggunaan jangka panjang. harganya cukup mahal. Meski demikian. yang juga dapat diberikan pada psoriasis rekalsitrans (Yuliastuti. diare. tetapi 50% pasien yang berespons baik terhadap terapi ini mengalami efek samping supresi sumsum tulang (berupa leukopenia atau trombositopenia) serta ulkus kaki. reaksi infus. serta gangguan fungsi hepar dan supresi sumsum tulang. Terapi biologis merupakan modalitas terapi yang bertujuan memblokade molekul spesifi k yang berperan dalam patogenesis psoriasis.8. serta memiliki berbagai efek samping seperti imunosupresi. Terapi kombinasi dapat meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping terapi. pembentukan antibodi. 2015). sehingga menghambat aktivasi sel limfosit T. pemberian berulang terbukti dapat memperbaiki kondisi klinis pasien psoriasis. Kombinasi yang biasa diberikan untuk artritis infl amatorik adalah MTX dan agen anti-TNF. Efek samping yang sering adalah mual. Walaupun tidak memberikan respons baik pada 1/3 pasien. 1. 9. alefacept dapat mengurangi proses inflamasi. serta dapat memberikan perbaikan klinis yang lebih baik dengan dosis yang lebih rendah. 6-Thioguanin Merupakan analog purin yang sangat efektif untuk tatalaksana psoriasis. Oleh karena itu. 21 . Agen-agen biologis memiliki efektivitas yang setara dengan MTX dengan risiko hepatotoksisitas yang lebih rendah. 2008). Alefacept Merupakan gabungan human lymphocyte function associated antigen (LFA)-3 dengan IgG 1 yang dapat mencegah interaksi antara LFA-3 dan CD2. terapi ini hanya diindikasikan bila penyakit tidak berespons atau memiliki kontraindikasi terhadap MTX (Gudjonsson. Oleh karena itu. Hidroksiurea Hidroksiurea merupakan anti-metabolit yang dapat digunakan secara tunggal dalam tatalaksana psoriasis.

H. 4. Prognosis Psoriasis guttata biasanya hilang sendiri (self limited) dalam 12-16 minggu tanpa pengobatan. 2. yang langsung memblokade CD11a (sub unit LFA 1). Remisi spontan dapat terjadi pada 50% pasien dalam waktu yang bervariasi. diperlukan penelitian terkait keamanan dan tolerabilitas jangka panjangnya 3. dan interval antar gejala tidak dapat diprediksi. sebelum phototherapy dan terapi sistemik. Antagonis Tumor Necrosis α (TNF α) TNF α merupakan protein homosimetrik yang memediasi aktivitas pro- inflamatorik. Anti-interleukin 12/Interleukin 23 P40 Blokade IL12 yang penting dalam diferensiasi sel Th1 dan interleukin 23 merupakan dua mekanisme penting untuk tatalaksana psoriasis tipe plakat kronis. Efalizumab Efalizumab (anti-CD11a) merupakan humanized monoclonal antibody yang digunakan untuk tatalaksana psoriasis vulgaris (tipe plakat). Infliximab dan adalimumab adalah dua regimen yang telah disetujui oleh US Food and Drugs Administration untuk terapi artritis psoriatika. Blokade ini mengurangi aktivasi sel limfosit T dan adhesi sel T ke keratinosit. Meski demikian. eksaserbasi gejala kerap terjadi di akhir pengobatan. Psoriasis tipe plakat kronis berlangsung seumur hidup. Eritroderma dan generalized pustular psoriasis memiliki prognosis yang lebih buruk dengan kecenderungan menjadi persisten. Meski demikian. dan terbukti lebih baik dibandingkan etanercept pada psoriasis tipe plakat kronis. sehingga mencegah interaksi LFA 1 dengan intercellular adhesion molecule 1. efek imunosupresi dan keamanannya harus dipertimbangkan untuk penggunaan jangka panjang. 22 . Etanercept diindikasikan untuk psoriasis plakat kronis moderat sampai berat.

23 . Sedangkan pasien ini. eksentema ringan yang disertai rasa gatal. ditemukan macula eritematosa polimorfik berbatas tegas yang disertai dengan skuama tebal berlapis-lapis mengkilat seperti perak. lesi berupa eritema dan skuama berminyak dan agak kekuningan pada seboro. urtika. Pada dermatitis seboroik. tidak kami dapatkan anamnesis maupun pemeriksaan seperti hal tersebut di atas sehingga diagnosis banding dengan drug eruption dapat kami singkirkan. papula. Selain itu. Pada pasien ini tidak kami dapatkan hal-hal tersebut di atas. ditemukan macula eritematosa polimorfik berbatas tegas yang disertai dengan skuama tebal berlapis-lapis mengkilat seperti perak. Sedangkan pasien. dengan gatal ringan . purpura di regio generalisata. Pada pemeriksaan. BAB IV PEMBAHASAN Pada pitiriasis rosea. Pada drug eruption ditemukan makula eritematosa disertai papula. pitiriasis rosea dapat sembuh sendiri. lesi berupa makula. eritematosus berbentuk oval tertutup skuama tipis dan predileksi sumbu panjang sejajar lipatan kulit. tidak minum obat apapun sebelum timbul lesi. Pada pasien ini anamnesanya . Pada pasien ini tidak kami dapatkan hal-hal tersebut di atas.

Psoriasis merupakan penyakit autoimun. Penyakit ini ditandai dengan bercak-bercak eritema berbatas tegas. dengan skuama transparan berlapis. kronis. 3. Cara pemeriksaan penyakit ini adalah dengan 3 tanda: fenomena tetesan lilin. 24 . Koebner phenomena. dan residif. 4. 2. BAB V KESIMPULAN 1. Pengobatan psoriasis mengikuti Algoritma Tatalaksana Psoriasis: Terapi topikal. Auspitz sign. fototerapi. dan terapi sistemik.

Available from: http://www. [cited 2015 Jan 24]. Elder JT. et al.org/doi/pdf/10. Leff ell DJ. Goldsmith LA. 2013. Kaplan DH. Nestle FO. Menaldi. Paller AS. Barker J. N Eng J Med [Internet]. K. 332(9): 581-7. N Eng J Med. 2003 Nov 20 [cited 2015 Jan 24]. 2001 Jun [cited 2015 Jan 24].1056/NEJM199306243282511 Kupper TS. 1991. Weinstein GD. Gilchrest BA. Bramono. N Eng J Med. editors. Ardhi.nejm. 1993 Jun 24 [cited 2015 Jan 24].nlm. 2008: 169-93. Treatment of psoriasis. DAFTAR PUSTAKA Al-Shobaili HA. Pathophysiology of psoriasis: Current concepts [Internet]. Available from: http://www.nejm. Kimball AB. Available from http://www. Available from: http://www. United States of America: McGraw Hill. Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FK UI.gov/pubmed/11422182. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Psoriasis dalam Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Immunologic targets in psoriasis. SW. 2013 April 17 [cited 2015 Jan 24]. 361: 496-509. 2009. W. Pariser D. Psoriasis. 349(21): 1987-90. 324(5): 333-4.1056/NEJMp038164 Manuel BM. Available from: http://cdn. Indriatmi.ncbi. Yamanichi PS. Kricorian G.com/pdfs-wm/44201. Djuanda.1056/NEJMra0804595 psoriasis fi nal 5 year results. 1995.nejm. Mechanism of disease psoriasis. 2015 Jan [cited 2015 25 . In: Wolff K. Psoriasis-epidemiology and clinical spectrum. Rothman KJ. Menter A. N Eng J Med [Internet].org/doi/pdf/10. Qureshi MG.org/doi/pdf/10.pdf Christophers E. Clin Exp Dermatol [Internet].nih. Systemic treatment of severe psoriasis.intechopen. Katz SI. 2015. 328(25): 1845-6. Psoriasis therapy-observational or rational? N Eng J Med [Internet]. J Am Acad Dermatol [Internet]. Gudjonsson JE. Jakarta: FKUI. Greaves MW. Observe 5: Observational postmarketing safety surveillance registry of etanercept fot the treatment of Krueger GG. 26(4): 314-20. 7th ed.

nlm. 72(1): 115-22.org/doi/full/10. 357: 682-90.ncbi.gov/pubmed/25264239 Stern RS.nih. Psoralen and ultraviolet A light therapy for psoriasis. 2007 [cited 2015 Jan 24]. Available from: http://www. N Eng J Med [Internet]. Available from: http://www. Jan 24].1056/NEJMct072317 26 .nejm.