Bab I

Pendahuluan

Hati merupakan organ yang sangat penting dalam pengaturan homeostatis tubuh meliputi
metabolisme, biotransformasi, sintesis, penyimpanan dan imunologi. Sel-sel hati (hepatosit)
mempunyai kemampuan regenerasi yang cepet.Hati merupakan organ intestinal paling besar
dalam tubuh manusia. Beratnya rata-rata 1,2-1,8 kg atau kira-kira 2,5% berat orang dewasa. Hati
adalah kelenjar terbesar di dalam tubuh terletak pada bagian teratas dalam rongga abdomen di
sebelah kanan bawah diafragma. Hati secara luas dilindungi oleh iga-iga. Hati terbagi dalam dua
belahan utama (lobus), yaitu lobus kanan (lobus dextra hepatic) yang besar dan lobus kiri. (lobus
sinistra hepatic) yang kecil. Permukaan atas berbentuk cembung dan terletak di bawah
diafragma; permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan, fisura transverses.
Permukaannya dilintasi oleh berbagai pembuluh darah yang masuk keluar hati. Fisura
longitudinal memisahkan belahan kanan dan kiri di permukaan bawah, sedangkan ligamen
falsiformis melakukan hal-hal yang sama di permukaan atas hati.
Fungsi hati untuk memelihara kadar gula yang normal dengan kombinasi glikogenesis,
glikogenolisis, glikolisis, dan glukoneogenesis diatur oleh sejumlah hormon termasuk insulin,
glukagon, hormon pertumbuhan dan katekolamin tertentu. Pada keadaan puasa hati menambah
homeostasis glukosa dengan glikoneogensis dan hiperglukogenesis. kadar glukosa darah normal
melalui glukoneogenesis akhirnya berhubungan dengan katabolisme protein otot, yang
memberikan precursor asam aminon yang diperlukan, terutama alanin. Dalam keadaan
pascapandial hati mengarahkan alanin dan asam amino rantai cabang ke jaringan perifer, tempat
asam amino kemudian bergabung ke dalam protein otot.
Penyakit hati adalah suatu istilah untuk sekumpulan kondisi-kondisi, penyakit-penyakit dan
infeksi-infeksi yang mempengaruhi sel-sel, jaringan-jaringan, struktur dan fungsi dari hati. Efek-
efek jangka panjang tergantung dari kehadiran tipe penyakit hatinya. Contohnya, hepatitis kronis
dapat menjurus ke: Gagal hati, Penyakit-penyakit pada bagian lain tubuh, seperti kerusakan
ginjal atau jumlah darah yang rendah, Sirosis hati. Efek-efek jangka panjang lainnya dapat
termasuk : Encephalopathy adalah memburuknya fungsi otak yang dapat berlanjut ke koma,
Gastrointestinal bleeding (perdarahan gastrointestinal). Ini termasuk perdarahan esophageal
varices, yang merupakan pembesaran vena yang abnormal di esophagus dan/atau didalam perut,
Kanker hati, Peptic ulcers, yang mengikis lapisan perut/lambung. Ada beberapa terapi untuk

gagal hati tapi angka mortalitasnya tetap tinggi. Sebagai konsekuensinya, transplantasi hati
merupakan terapi pilihan bagi gagal hati.
Oleh Karena itu sampai batas tertentu, hati dapat mempertahankan fungsinya bila terjadi
gangguan ringan. Pada gangguan yang lebih berat, terjadi gangguan fungsi yang serius dan akan
berakibat fatal. Penyebab penyakit hati bervariasi, sebagian besar disebabkan oleh virus yang
menular Secra fekal-oral,parenteral, seksual, perinatal dan sebagainya. Penyebab lain dari
penyakit hati adalah akibat efek toksik dari obat-obatan, alkohol, racun, jamur dan lain-lain.

BAB II
Tinjuan Pustaka
1. Definisi

yang tersering meliputi obat anestesi. Gagal hati kronis seringkali disebabkan oleh hepatitis B dan C. yaitu gagal hati akut dan gagal hati kronis. antidepresan dan isoniazid yang diberikan bersama rifampicin. B. penyakit ini dapat berkembang hanya dalam hitungan hari. Penyakit liver adalah suatu istilah untuk sekumpulan kondisi-kondisi. jaringan-jaringan. Gagal hati adalah hasil akhir dari semua penyakit hati yang parah dan ganas. gerakan gerakan menyentak lainnya dan gangguan keseimbangan juga dapat timbul dan akhirnya dapat mengalami koma dan meninggal. Gagal hati dapat dibagi menjadi dua. dapat timbul tremor flapping. struktur dan fungsi dari hati. ini terjadi ketika hati dengan cepat kehilangan kemampuannya untuk berfungsi. Virus lain juga dapat menyebabkan gagal hati akut pada individu immunocompromised antara lain herpes simplex. Gagal hepar akut dapat juga disebabkan oleh reaksi obat hepatotoksis. cytomegalovirus. Gagal hati adalah suatu sindrom kompleks yang ditandai oleh pada banyak organ dan fungsi tubuh. Namun pada kasus gagal hati akut. penyakit-penyakit dan infeksi-infeksi yang mempengaruhi sel-sel. AINS. Penyakit hepar adalah suatu istilah untuk sekumpulan kondisi-kondisi. struktur dan fungsi dari hati. juga overdosis acetaminofen dan karbon tetraklorida (CCl4). Ebsteinbarr dan varicella.Dua keadaan yang terkait dengan gagal hati adalah ensefalopati hepatica dan sindrom hepatorenal. Sindrom hepatorenal mengaju pada timbulnya gagal ginjal yang berkaitan dengan penyakit hati stadium lanjut. Ginjal pada individu yang mengidap penyakit hati stadium lanjut sering berhenti menghasilkan urine dan gagal berfungsi walaupun secara fisik ginjal tampaknya mampu berfungsi. penyakit-penyakit dan infeksi-infeksi yang mempengaruhi sel-sel. asupan alkohol berlebihan dalam jangka panjang dan dapat juga disebabkan oleh sirosis. Ensefalopati hepatica adalah kompleks gangguan susunan saraf pusat yang dijumpai pada individu yang mengidap gagal hati . kelainan ini ditandai dengan gangguan memori (hilang ingatan) dan perubahan kepribadian . . jaringan-jaringan. Penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan-lahan. Gagal Hepar Kronis Gagal hati kronis adalah kondisi dimana hati mengalami kegagalan selama berbulan- bulan sampai tahunan. Sebab tersering dari gagal hepar akut adalah hepatitis virus baik hepatitis A dan B. Gagal Hepar Akut Gagal hati akut atau istilah lainnya fulminant hepatic failure. A. Kegagalan hati adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan/kemunduran fungsi hati yang sangat berat.

itulah yang disebut sebagai gagal hati. namun dapat membunuh seseorang dengan sangat cepat. Gagal hati akut dapat terjadi pada pasien dengan gagal hati kronis. Gejala-gejala penyakit hati mungkin akut. sirosis. dan perubahan kimia atau fisik di dalam tubuh. dan pembekuan darah serta kekebalan tubuh. mineral. Sebagian besar hati harus terlebih dahulu mengalami kerusakan sebelum terjadinya kegagalan hati. mengatur lemak dalam tubuh. maka kemampuannya untuk melaksanakan fungsi-fungsi ini jadi melemah. Contohnya adalah orang yang memiliki gagal hati kronis karena sirosis dan kemudian memiliki gagal hati akut yang terpisah yang disebabkan oleh penyebab yang lain. serangan bakteri. Penyebab yang paling umum dari kerusakan hati adalah kurang gizi (malnutrition). Sirosis dan kanker hati adalah dua penyebab gagal hati kronis. Gagal hati kronis berkembang dari waktu ke waktu . Kondisi ini disebut acute-on-chronic liver failure. Hati juga berfungsi mengubah zat gizi untuk dijadikan energi. atau akibat konsumsi alkohol yang berlebihan. Etiologi Gagal hepar dapat disebabkan oleh kerusakan-kerusakan bawaan sejak lahir atau kelainan-kelainan hati yang hadir pada kelahiran. 2. hormon. Jika hati tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya. Jika hati menjadi radang atau terinfeksi. berkembang perlahan melalui suatu . suatu kondisi yang bervariasi termasuk infeksi virus. Pasien gagal hati kronis mengalami ikterus yang semakin parah seiring penyakit berkembang. Patofisiologi Pada keadaan normal hati berfungsi menyaring semua sari makanan dan membuang racun yang terkandungnya dan kemudian dibuang ke saluran pembuangan dalam tubuh. 3. Pemicu terjadinya gagal hati ini bisa jadi diakibatkan oleh virus hepatitis. terjadi tiba- tiba. terutama yang terjadi dengan kecanduan alcohol atau keracunan oleh racun. kelainan-kelainan metabolisme atau kerusakan dalam proses dasar tubuh. dan zat gula. trauma atau luka. Fungsi lain dari hati yakni menyimpan vitamin. atau kronis. Obat-obat tertentu yang merupakan racun bagi hati (asetaminofen).

1. Tidak enak badan (malaise) atau perasaan sakit yang kabur 4. yaitu serangkaian kelainan pada sistem saraf pusat. sakit perut. periode waktu yang lama. Nyeri abdomen (perut) pada bagian kanan atas perut 4. Libido berkurang (gairah sex berkurang). Disfungsi hati dan pembuluh darah kolateral yang memintaskan . Gatal-gatal 4. dan pasien mungkin mengeluhkan air kencingnya berwarna gelap. ada demam. kulit gatal-gatal. bisa terdapat hepatomegali atau justru hati menjadi kecil. terjadi ketika hati tidak lagi mampu melaksanakan detoksifikasi darah. Angka dari penyakit hati kronis dari laki-laki adalah dua kali lebih tinggi dari wanita. badan terasa lemas. Kehilangan atau kenaikan berat tubuh yang abnormal 4. kejang. akan ditemukan keluhan perut membesar: asites. Diare 4. Enselofati hepatik.17.7.8. Jaundice atau kekuningan kulit 4.14.4. Hilang selera makan 4. Perhatikan juga gejala-gejala adanya oedem serebral yaitu adanya peningkatan dari tonus otot. mual-mual. dan agitasi.11.2. mungkin juga ditemukan perdarahan gastrointestinal.3.15. Komplikasi a.16. Ensefalopati hepatik Manifestasi gagal hati meliputi enselofati hepatik.6.13. 6.10. Urine yang coklat seperti teh 4. Hipoglikemia (kadar gula darah rendah) 4. Gejala Klinis 4.9.5.12. hipertensi. Anamnesis dilakukan dengan seksama. Penyakit hati dapat menjangkau dari ringan sampai berat tergantung dari tipe penyakit yang hadir. 4. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan kulit kuning asites. Warna tinja (feces) yang pucat 4. amenore 5. Varises (pembesaran pembuluh vena) 4. Bila gagal hati semakin lanjut. Diagnosis Mempelajari riwayat medik dari pasien dan dilakukan pemeriksaan fisik. Kelelahan 4. Muntah 4. akan ditemukan gangguan kesadaran kurang lebih dua minggu setelah terjadinya ikterus. Mual 4. Penyakit hati kronis adalah jauh lebih umum dari pada yang akut. Sakit otot-otot 4. Demam ringan 4.

Hati yang normal akan mengubah ammonia menjadi ureum yang kemudian diekskresikan keluar oleh ginjal. dan gangguan elektrolit. Sindrom hepatorenal Sindrom hepatorenal merupakan gagal ginjal yang terjadi bersama penyakit hati. d. Perdarahan masif yang terjadi sering mengancam nyawa karena varises ditempat-tempat ini tidak mudah ditampon. serotonin. Koma Pada pasien gagal hepar dengan enselopati hepatika. Keadaan ini menyebabkan peningkatan volume darah. Amonia yang merupakan produk sampingan metabolisme protein adalah salah satu toksin paling penting yang menyebabkan enselofati hepatik. tekanan vena porta hepatica meningkat sebagai respon terhadap peningkatan tekanan vena porta terjadi pembesaran pembuluh-pembuluh darah yang beranastomosis dengan vena porta misalnya pembuluh dipermukaan usus dan esofagus bawah. c. triptofan dan zat-zat pseudonuerotransmitter dapat turut menumpuk di dalam darah dan ikut menimbulkan enselofati hepatik. Pasien memperlihatkan beragam gangguan dalam kesadaran. Pemeriksaan fisik memperlihatkan pembesaran pembuluh hemoroid dan periumbilikus. darah disekitar hati ke sirkulasi sistemik memungkinkan zatzat beracun yang terserap dari traktus GI mengalir dengan bebas kedalam otak. Vasokontriksi tersebut dapat pula merupakan respon kompensasi terhadap hipetensi porta dan penumpukan darah dalam sirkulasi splenikus. b. Pembuluh yang melebar ini disebut varises. Varises dan Perdarahan GI Suatu aliran darah melalui hati terhambat secara progresif. penumpukan ion-ion hydrogen. ginjal tampak normal tetapi tetapi secara mendadak berhenti bekerja. asam lemak rantai-pendek. Namun secara klinis varises gastroesofagus lebih penting karena kecenderungannya untuk ruptur. Sindrom hepatorenal paling sering ditemukan pada pasien sirosis alkoholik atau hepatitis fulminant. berkisar dari kelainan prilaku yang samar hingga . Penyebabnya adalah penumpukan substansi vasoaktif yang menyebabkan kontriksi arteriol renal secara tidak tepat sehingga terjadi penurunan filtrasi glomerulus dan ogluria. Kalau hati mengalami kegagalan dan tidak lagi mampu mengubah amonia menjadi ureum. maka kadar amonia dalam darah akan meninggi dan amonia dibawa darah dalam otak.

dan kultur untuk bakteri dan jamur harus lebih sering dilakukan dari daerah- daerah ini. diuretik. Antibiotik biasanya bekerja dalam mencegah ketidakaktifan obat yang disebabkan oleh enzim yang dihasilkan bakteri. darah (berhubungan dengan kateter sentral). antimalaria. Kebersihan perseorangan dengan selalu mencuci tangan sebelum makan 5. perdarahan dan ensefalopati. dan traktus urinarius (karena kateter urin) adalah daerah penyebab tersering. Kematian Pada pasien gagal hepar dengan sindrom hepatorenal. koletitolitik dan hepatik protektor dan multivitamin dengan mineral. oleh karena itu juga dibutuhkan terapi menggunakan obat atau disebut dengan terapi farmakologis. Gagal ginjal dapat mempercepat kematian pada pasien dengan penyakit hati fulminan akut atau penyakit hati kronis lanjut. e. 7. antivirus. Penisilin G . Biasanya untuk kasus penyakit hati yang disebabkan oleh infeksi bakteri. N – acetylcysteine Terapi ini diberikan selama tiga kali sehari secara teratur selama tujuh hari atau sesuai petunjuk dokter. Silibinin. Demam. Penyuluhan dan konseling untuk masyarakat dan penderita 6. lekositosis. Terapi non farmakologi 1. Antibiotik yang sesuai berdasarkan data insidens tipe dan penyebab dari . antiamuba. Pemberian antibiotik untuk profilaksis masih kontroversi dan tidak direkomendasikan. Olah raga yang cukup 3. atau timbulnya suatu sindrom hepatorenal harus dicurigai terjadi infeksi. Terapi Farmakologi obat saja belum tentu menjamin kesembuhan. b. Melakukan vaksinasi hepatitis atau imunoglobulin untuk mencegah tertular hepatitis A atau B. Penatalaksanaan a. Obat-obatan yang digunakan di terapi ini menggunakan aminoglikosida. Pola hidup sehat 2. kolagogum. kebingungan dari kelainan perilaku yang samar hingga kebingungan yang mencolok hingga koma. Paru-paru. 1. Membatasi konsumsi alkohol 7. Peningkatan mutu air minum 4.

jangan gunakan obat ini pada kasus hepatitis akut atau kelainan hati yang sangat toksis. 2. dan sejenisnya. Penggunaan manitol harus berhati-hati bila ada gagal ginjal. Namun demikian. Koinfeksi dengan hepatitis C memerlukan penatalaksanaan yang lebih khusus dan komprehensif. Osmotik diuretik ( misalnya manitol ) Obat diuretik lain yang digunakan dalam penyakit hati selain spironolakton adalah furosemid yang efektif untuk pasien yang gagal memberikan tanggapan terhadap Spironolactone. Obat pelumpuh (misalnya pancuronium (0. Menggunakan dehydroemetine. Keracunan parasetamol. 3.25-0. infeksi nosokomial dirumah sakit setempat harus diberikan sambil menunggu hasil kultur dan uji sensitivitas. N – Acetylcysteine harus di berikan segera mungkin. 4. diiodohydroxyquinoline. tetapi ini masih diperdebatkan di beberapa kepustakaan. diloxanide furoate. Nacetylcysteine tetap berguna walaupun gagal hati telah terjadi. Obat ini digunakan untuk mengobati amubiasis. Ada juga obat-obatan yang merupakan kombinasi imunologi dan antivirus yang tampaknya dapat menekan kadar virus hepatitis C dalam darah secara lebih efektif dari pada terapi ulang dengan interferon saja.5gm/kg BB/dosis IV selama 20 menit). ARV yang tersedia gratis adalah Duviral (Zidovudine + Lamivudine) dan Neviral (Nevirapine). Neviraldapat mengganggu faal hati. Bila terjadi hipertensi intrakranial nyata (> 30 mmHg) maka dapat di infus dengan manitol (0. Antivirus Lamivudine adalah obat antivirus yang efektif untuk penderita hepatitis B. . Virus hepatitis B membawa informasi genetik DNA.1mg/kg/dosis IV setiap 2 – 6 jam atau dengan infus kontinu) dapat berguna pada kasus yang berat. Antimalaria Obat antimalaria contohnya klorokuin. Antiamuba Terapi ini meminimalisir resiko terjadnya abses hati karena amuba. Peginterferon dan Ribavirin dalam kombinasi dengan Interferon selain bermanfaat mengatasi hepatitis C juga untuk hepatitis D. 5. emetine.

2 mg/kg BB/hari peroral atau IV . Tetapi penggunaan vitamin yang larut lemak ini untuk jangka panjang dan dengan dosis berlebihan dapat menyebabkan pembengkakan hati dan penya Vitamin K (0. Bila digunakan maka dosisnya harus disesuaikan dan harus diperhitungkan efek farmakodinamikanya terhadap gagal hati. Obat-obatan ini menurunkan jumlah dari amonia yang diserap oleh kolon. meskipun hati biasanya tidak mampu menggunakannya untuk mensintesis faktor-faktor pembekuan yang tergantung vit K. ranitidin. Merupakan suatu antagonis benzodiasepin dapat menyadarkan penderita dari koma. dan dikurangi menjadi 0. D.2-05 mg/m2/dosis IV. Selain dari neomisin dapat digunakan metronidasol karena adanya efek samping berupa ototoksisitas dan nefrotoksik dari neomisin.5 gr/kg per oral tiap 2 jam. Kontra indikasi pemberian laktulosa apabila diduga ada galaktosemia. 8. barbiturat. tetapi belum luas digunakan. maksimun 4 gr/hari) sering diberikan untuk mencegah dan juga untuk terapi ensefalopati hati. pentobarbital . Agen barbiturat ( misalnya . Pemberian neomisin sebaliknya dihindari jika fungsi ginjal menurun. benzodiazepin. Benzodiazepin ( misalnya . narkotik) dan obat-obatan yang dimetabolisme dan/ atau diekskresi oleh hati (misalnya: phenitoin. Pemberian Laktulosa Laktulosa (mula-mula 0. 10. E dan K atau yang larut dalam air (water-soluble) seperti vitamin C dan B-kompleks. maksimum 1 mg/dosis). thiopental ) 7. siklosporin) harus dihindari. midazolam ) Flumazenil (0.25gr/kg tiap 6 jam sampai 48 jam setelah terjadi tinja yang lembek) dan/atau neomisin (25 mg/kg per oral tiap 6 jam. Efek dari laktulosa harus dipantau ketat dan dosis diberikan diatur untuk mencapai 2 – 4 kali buang air yang lembek per hari karena diare berat disebabkan laktulosa dapat menyebabkan kehilangan air yang berlebihan dan hiponatremia.6. Agen Anestesi ( misalnya propofol ) 9. Obat-obatan yang menurunkan kesadaran (misalnya : benzodiazepin. maksimum 10 mg/hari) sering diberikan. Multivitamin dengan mineral Vitamin terdiri dari vitamin A. .

Nonbiologic extracorporeal liver support system yang berfungsi seperti hemodialisis memungkinkan dukungan hati sementara sampai hati donor yang cocok ditemukan . Dimana ini merupakan tindakan jangka pendek yang dapat menjaga kelangsungan hidup jika hati spontan pulih atau telah diganti. dipertimbangkan dengan menggunakan hati bioartificial. Standar/Kriteria Penggunaan Obat Tata laksana dalam gagal hati (curriculum toxicology) Terapi khusus tergantung pada penyebab kegagalan hati pasien dan adanya komplikasi memanajemen cairan pasien dan hemodinamik. Hal ini penting untuk memantau parameter metabolisme pasien . menilai terhadap infeksi . mempertahankan gizi . Operasi Transplantasi hati adalah pengobatan definitif pada gagal hati. Namun menurut penelitian pada alat tersebut telah menunjukkan manfaat jangka panjang. c. 8. Diet tinggi karbohidrat rendah protein untuk mengoreksi defisiensi gizi dan mencegah beban kerja hati yang berlebihan Pemberian laktulosa untuk mengurangi kadar amonia darah dan membantu mengurangi sebagian gejala enselofati hepatic. dan segera mengetahui jika ada perdarahan GI. Pada pasien tertentu yang alograftnya belum segera tersedia. .

Mendiagnosis sirosis sering membutuhkan biopsi hati transjugular. Strategi pengelolaan untuk kegagalan hati. diuretik. Perawatan medis standar (yaitu nutrisi. plasmapheresis) dan terapi regeneratif dapat dipertimbangkan dalam kasus selektif dengan pemantauan hati-hati dan rencana transplantasi hati cadangan. namun tidak wajib. Dukungan organ dan terapi bridging (seperti sistem pendukung hati buatan. Perkembangan atau peningkatan jumlah kegagalan organ memerlukan transplantasi hati dini atau darurat. Penyakit hati kronis meliputi pasien tanpa sirosis dan dengan sirosis yang stabil. antibiotik dan albumin intravena) diberikan pada saat masuk rumah sakit dan dilanjutkan dengan penilaian pada hari ke 4-7 (selama minggu pertama). terutama didasarkan pada skor MELD (model of end-stage liver disease) dasar dan jumlah kegagalan organ. . Management algorithm for patients with ACLF (Acute Cronic Liver Failure) Penatalaksanaan pasien dengan ACLF mencakup identifikasi kegagalan hati akut dan terapi spesifik) yang harus dibrikan untuk memperbaiki luka hati.

pnemonia selulitis. Benzil Penisilin (Penisilin G) a. profilaksis amputasi pada lengan atau kaki. Indikasi: infeksi tenggorokan. antraks. penyakit meningokokus. BAB IV Formularium 1. endokarditis. Peringatan: . b. otitis media.

2. rute intravena direkomendasikan pada neonatal dan bayi.5 g setiap 4 jam hingga saat melahirkan. infus atau injeksi intravena lambat.Antraks (dalam kombinasi dengan antibakteri lain). tingkatkan jika perlu (contoh dalam endokarditis enterokokus atau jika benzilpenisilin digunakan tunggal) menjadi 14. Benzatin Penisilin G 2. Kontraindikasi: hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin. trombositopenia dan gangguan pembekuan darah. 50 mg/kg bb dalam 2 dosis terbagi. jarang.4 g setiap 4 jam. List Nama Dagang 1. dosis awal 3 g selanjutnya 1.2 g injeksi intravena saja. d.2 gram/hari dalam 6 dosis terbagi. anafilaksis. 2. lihat keterangan di bawah. riwayat alergi. Pada bayi prematur dan neonatal di bawah 1 minggu. Efek Samping: reaksi alergi berupa urtikaria.4 g sehari dalam 6 dosis terbagi. c. f. Dosis: injeksi intramuskular atau intravena lambat atau infus. Anak 150 mg/kg bb sehari dalam 4 dosis terbagi. nyeri sendi. toksisitas sistem saraf pusat termasuk konvulsi (terutama pada dosis tinggi atau pada gangguan ginjal berat).Penting: Jika diduga menderita meningitis bakterial dan terutama penyakit meningokokus.4-4. nefritis interstisial. hasil tes glukosa urin positif palsu. Prokain Penisilin G Meiji . bayi 1-4 minggu: 75 mg/kg bb/hari. .8 g sehari dalam 4 dosis terbagi. Profilaksis infeksi streptokokus grup B intrapartum. gangguan fungsi ginjal.4 gram setiap 4 jam. dokter dianjurkan untuk memberikan injeksi tunggal benzilpenisilin secara intramuskular atau intravena sebelum membawa pasien ke Rumah Sakit.Penyakit meningokokus: injeksi intravena lambat atau infus. Endokarditis (dalam kombinasi dengan bakteri lain jika diperlukan): infus atau injeksi intravena lambat 7. anemia hemolitik. leukopenia. infus atau injeksi intravena lambat. e. 2. serum sickness-like reaction. demam. pada infeksi yang lebih berat dapat ditingkatkan jika perlu (dosis tunggal di atas 1. angioudem. juga dilaporkan diare (termasuk kolitis karena antibiotik). dalam 3 dosis terbagi Pada anak 1 bulan-12 tahun: 100 mg/kg bb/hari dalam 4 dosis terbagi (dosis lebih tinggi mungkin dibutuhkan).

200 mg selama 24 jam. diuresis. Kontraindikasi: bayi prematur. penggunaan intravena apabila fasilitas resusitasi tersedia. edema paru. Manitol (Osmotik Diuretik) a. menyusui. d. pemutusan obat mendadak. Peringatan: insomnia pada psikosis. e. demam. Peringatan: gagal jantung kongestif. sedasi untuk tindakan diagnostik & anestesi lokal. 3. Manniol 4. Indikasi: edema serebral. mengemudi atau mengoperasikan mesin yang berbahaya pada jam pertama sampai keenam setelah mendapat obat. gangguan hati. Efek Samping: menggigil. Otsu-Manitol 20 3. induksi anestesi dan penunjang anestesi umum. orang dewasa lebih dari 60 tahun. Efek Samping: . c. didahului oleh dosis uji 200 mg/kg bb injeksi intravena yang lambat. List Nama Dagang 1. Infusan M-20 2. hamil. pengurangan bertahap setelah pemakaian lama. Dosis: infus intravena. Tutofusin M15 3. miastenia gravis. d. 50 . Prokain Benzil Penisillin 3000000 IU 2. b. depresi berat. c. kerusakan otak organik. Serebral edema. Midazolam (Benzodiazepin) a. Indikasi: premedikasi. ketergantungan. insufisiensi pernapasan. b.

Fortanest 15. List Nama Dagang 1. kehamilan. Sezolam 7. nyeri kepala. ataksia. Fortanest 2. teknik aseptik yang ketat harus dijalankan ketika menyedot emulsi propofol dalam alat suntik. dispnea. Miloz 14. Dormicum 13. muntah.2 mg/kg bb/jam.03-0. episode amnesia. jarang terjadi efek samping pada kardiorespirasi. b. laringospamus.07-0. Induksi anestesi dewasa 10-15 mg intravena dalam kombinasi dengan narkotik 0. e. Sedacum 3. Dosis: injeksi intramuskular premedikasi sebelum operasi: dewasa 0. Indikasi: induksi dan pemeliharaan anestesi umum. mengantuk berlebihan.3 mg/kg bb/jam. kontaminasi bakteri Kontaminasi bakteri : untuk menghindarkan risiko infeksi akibat kontaminasi bakteri.15-0. Midazola-Hameln 12.2 mg/kg bb intramuskular dalam kombinasi dengan ketamin. Propofol (Anastesi) a.03-0. Peringatan: pantau kadar lemak darah pada pasien yang berisiko kelebihan lemak atau apabila sedasi lebih dari 3 hari. mual.15-0.5-5 mg. Injeksi intravena premedikasi sebelum diagnostik/intervensi bedah 2.2 mg/kg bb. Midacum 10.1 mg/kg bb: anak 0. selanjutnya 1 mg bila diperlukan. reaksi paradoksikal. Miloz 16. ruam kulit. halusinasi. Midacum 8. Hipnoz 6. sedasi penderita yang diberi napas buatan (ventilated) dan mendapat perawatan intensif. anak 0. dosis penunjang 0. c. Sedacum 5. Hipnoz 4. Anesfar 11. f. Anesfar 9. menyusui . cegukan.03-0. Sedasi dalam unit perawatan intensif (ICU) dosis muatan (loading dose) 0.3 mg/kg bb. Sezolam 4. Kontraindikasi: . digunakan hingga 3 hari.

d.5-1 mg/kg bb selama 1-5 menit. Recofol 3. diawali dengan injeksi intravena. Profol Lipuro 10. 1. Fresofol 11. 0. berbahaya untuk pasien asma bronkial akut. anak: di atas 3 tahun diberi 2. bila diperlukan peningkatan kedalaman sedasi yang cepat. b. Safol 5. c. Diprivan 9. 25-50 mg diulang menurut respon. dengan infus intravena. 0. Propofol 12. Kontraindikasi: hipersensitif terhadap N-asetilsistein. Tidak boleh digunakan untuk sedasi pada ventilated children dan remaja berusia di bawah 17 tahun (berisiko menyebabkan efek serius meliputi asidosis metabolik. Proanes 6.3- 4 mg/kg bb/jam hingga 3 hari. pemeliharaan dengan infus intravena. injeksi intravena 10-20 mg). Diprivan 7. dengan infus intravena. Pemeliharaan. pasien di atas 55 tahun mungkin memerlukan dosis lebih rendah. 4-12 mg/kg bb/jam atau injeksi intravena. Anak: di atas 3 tahun 9-15 mg/kg bb/jam. gagal jantung. rhabdomiolisis. . Sedasi untuk pembedahan dan prosedur diagnostik. List Nama Dagang 1. dengan cara injeksi intravena. Fresofol 4. penderita asma bronkial. Profol 8. Peringatan: pasien yang sulit mengeluarkan sekret.5-4. Asetilsistein (N – acetylcysteine) a. Trivam 5. Sedasi semasa perawatan intensif (dengan napas buatan). Dosis: induksi.5 mg/kg bb yang disesuaikan dengan keperluan. Indikasi: terapi hipersekresi mukus kental dan tebal pada saluran pernapasan.5 mg/kg bb/jam (sebagai tambahan.5-2.5 mg/kg bb (lebih sedikit pada mereka yang berumur di atas 55 tahun) dengan kecepatan 20-40 mg tiap 10 detik (dosis terendah pada pasien berumur di atas 55 tahun). Fresofol 2. e. hiperlipidemia dan hepatomegali). 1.

Nytex 20. hindari injeksi intraarteri. porfiria. muntah. Nytex 22. stomatitis. Fluimucil 23. Pada penggunaan aerosol. Kontraindikasi: lihat keterangan di atas. Tiopental (Barbiturat) a. Hidonac 10. b. Simucil 5. Indikasi: induksi anestesi umum. myotonic dystrophy. Sistenol 11. Dorbigot 19. mual. Peringatan: penyakit kardiovaskuler. Alstein 15. Efek Samping: . Fluimucil Pediatric 8. N-Ace 16. Acetylcysteine 13. Pectocil 6. kehamilan c. Fluimucil 21. N-Ace 18. Mukosil 14. Fluimucil 4. Fluimucil 2. Fluimucil 6. Efek Samping: pada penggunaan sistemik: menimbulkan reaksi hipersensitif seperti urtikaria dan bronkospasme (jarang terjadi). Mucylin 12. Pectocil 3. Dosis: Nebulasi 1 ampul 1-2 kali sehari selama 5-10 hari. Cecyl 17. e. iritasi nasofaringeal dan saluran cerna seperti pilek (rinore). menyusui d. setelah direkonstitusi sediaan menjadi sangat basa-ekstravasasi dapat menyebabkan nekrosis jaringan dan nyeri berat. gangguan fungsi hati. anestesi jangka waktu singkat. List Nama Dagang 1. Siran Forte 9. d. f. Siran 7.

reaksi hipersensitivitas. Laktulosa . Lactulax Coklat 2.5%. bersin. reaksi pada tempat penyuntikan. 7. batuk. atau dicampur dengan air atau cairan lain sebelum ditelan. spasme laring. Peringatan: intoleransi laktosa c. Kontraindikasi: galaktosemia. f. Constipen 4. Dosis: konstipasi. 1-5 tahun 3 g dalam 5 mL larutan. 2-3 kali sehari. 5-10 tahun 2 kali sehari. Efek Samping: kembung. anak-anak (lihat juga 1. dosis berlebih dikaitkan dengan hipotermia dan cenderung menyebabkan gangguan fungsi serebral. atau hingga 4 mg/kg bb. depresi miokard. Laktulosa a. Lactulax 5. e. Saran: serbuk dapat ditaruh di atas lidah dan dibasuh dengan air atau cairan lain atau ditebarkan pada makanan. 20-30 g 3 kali sehari kemudian disesuaikan sampai feses menjadi lunak. mula-mula 10 g dua kali sehari kemudian disesuaikan menurut kebutuhan pasien. pada pasien dewasa sehat dengan premedikasi. kram dan perut terasa tidak enak e. obstruksi usus d. anak: untuk induksi: 2-7 mg/kg bb. Ensefalopati hepatik. List Nama Dagang 1. ensefalopati hepatik (ensefalopati sistemik portal) b. Dulcolactol 3.5 g dalam 25 mL larutan. ruam. Dosis: injeksi intravena sebagai larutan 2. Indikasi: konstipasi (bekerja dalam waktu 48 jam). awalnya 100-150 mg (dikurangi pada pasien lansia atau sakit berat) selama 10-15 detik (lebih lama pada pasien lansia atau sakit berat) dilanjutkan dengan dosis tambahan bila perlu tergantung respons setelah 30-60 detik. Constuloz 6.4) di bawah 1 tahun 1. aritmia.

Laxadilac 17. Duphalac 14. Graphalac 9. Duphalac 16. Pralax 10.7. Extralac . Lantulos 15. Opilax 8. Lacons 11. LactugraSirup 13. Solac 12. Duphalac 18. Opilax 19.

Efek dari laktulosa harus dipantau ketat dan dosis yang diberikan diatur. Antibiotik (Penisilin) Biasanya untuk kasus penyakit hati yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Antibiotik biasanya bekerja dalam mencegah ketidakaktifan obat yang disebabkan oleh enzim yang dihasilkan bakteri. 3. Obat-obatan ini menurunkan jumlah dari amonia yang diserap oleh kolon. Laktulosa sering diberikan untuk mencegah dan juga untuk terapi ensefalopati hati.Pengobatan penyakit kegagalan hati yang paling bermutu : 1. Tetapi penggunaan vitamin yang larut lemak ini untuk jangka panjang dan dengan dosis berlebihan dapat menyebabkan pembengkakan hati. BAB V Kesimpulan . Penyakit kegagalan hati diberi vitamin untuk membantu kerja dan fungsi hati . dan untuk mencegah terjadinya kegagalan hati . E dan K atau yang larut dalam air (water-soluble) seperti vitamin C dan B-kompleks. Vitamin Vitamin terdiri dari vitamin A. 2. D.

komsumsi alkohol. Gagal hati dapat dibagi menjadi dua. obat tertentu yang bersifat hepatotoksis. Terapi khusus tergantung pada penyebab kegagalan hati. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan gagal hati adalah tranplantasi hati. vitamin. Penanganan segera dilakukan agar tidak terjadi manifestasi yang lebih parah dari gagal hati meliputi. Jika hati tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya. yaitu gagal hati akut dan gagal hati kronis. . laktulosa. menyebabkan kerusakan hati yang menyebabkan hilangnya fungsi hati. ensefalopati hepatik dan sindrom hepatoenal. itulah yang disebut sebagai gagal hati. maupun sirosis hati. Dimana gagal hati dapat disebabkan oleh infeksi virus. dan barbiturate. Ada pun pengobatan untuk kegagalan hati yaitu dengan pemberian antibiotic. Gagal hati adalah kondisi medis yang ditandai dengan ketidak-mampuan sel hati untuk beregenerasi.