LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP MEDIS

1. Definisi

Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140

mmHg dan tekanan diastolic lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah diukur

dengan spygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari

ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi

duduk punggung tegak atau terlentang paling sedikit selama 5 menit

sampai 30 menit setelah merokok atau minum kopi.

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140

mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak hanya

berisiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit

lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin tinggi

tekanan darah, makin besar risikonya (Sylvia A. price, 2006).

2. Etiologi

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, (NANDA

NIC-NOC, 2015) :

a. Hipertensi Primer (esensial)

Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya.

faktor yang mempengaruhinya yaitu : genetik, lingkungan,

hiperaktifitas saraf simpatis sistem renin. Angiotensin dan peningkatan
Na + Ca intraseluler. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko :

obesitas, merokok, alkohol, dan polisitemia.

b. Hipertensi Sekunder

Penyebab yaitu : pengguanaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom

chusing dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.

Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas :

a. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140

mmHg dan/atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90

mmHg.

b. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari

160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya

perubahan-perubahan pada :

a. Elastisitas dinding aorta menurun.

b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.

c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun

sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah

menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena

kurangnya efeltifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.

e. Meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer.
Secara klinis derajat hipertensi dapat dikelompokkan yaitu :

No Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
1. Optimal <120 <80
2. Normal 120 – 129 80 – 84
3. High Normal 130 – 139 85 – 89
4. Hipertensi
Grade 1 (ringan) 140 – 159 90 – 99
Grade 2 (sedang) 160 – 179 100 – 109
Grade 3 (berat) 180 – 209 100 – 119
Grade 4 (sangat berat) >210 >120
Sumber : NANDA NIC-NOC, 2015

3. Patofisiologi

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya

angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme

(ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan

darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati.

Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah

menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I

diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki

peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks

adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan

penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler,

aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara

mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan

diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler

yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi

yang kadangkadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah

periode asimtomatik yang lama, hipertensi persisten berkembang menjadi

hipertensi dengan komplikasi, dimana kerusakan organ target di aorta dan

arteri kecil, jantung, ginjal, retina dan susunan saraf pusat.

Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur

10-30 tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi

hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer

meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 30-50 tahun dan

akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun.

4. Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi (NANDA, NIC-NOC,

2015) :

a. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arterioleh dokter

yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah

terdiagnosa jika tekanan arteri terukur.

b. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi

meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini

merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang

mencari pertolongan medis.
Beberapa tanda dan gejala pada beberapa pasien hipertensi, yaitu :

1) Sakit kepala

2) Pusing

3) Lemas, kelelahan

4) Sesak napas

5) Gelisah

6) Mual

7) Muntah

8) Epistaksis

9) Kesadaran menurun

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium (NANDA, NIC-NOC 2015)

1) Hb/ht : untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume

cairan (viskositas) dan dapat mengindikasi faktor risiko seperti :

hipokoagulabiltas, anemia.

2) BUN/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/ fungsi

ginjal.

3) Glukosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat

diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.

4) Urinalisa : darah, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan DM

b. CTScan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati

c. EKG : Dapat menunjukkan pola regangan, dimana luas, peninggian

gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
d. IUP : Mengientifikasi penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,

perbaikan ginjal.

e. Photo Dada : Menunjukkan destruksi klasifikasi pad area katup,

pembesaran jantung

6. Penatalaksanaan

Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:

 Target tekanan darah yatiu <140/90 mmHg dan untuk individu

berisiko tinggi seperti diabetes melitus, gagal ginjal target tekanan

darah adalah <130/80 mmHg.

 Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler

 Menghambat laju penyakit ginjal.

a. Non Farmakologis

Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan merokok,

menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol berlebih, asupan

garam dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan konsumsi

buah dan sayur.

1) Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih

2) Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh

terhadap tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat

badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.

Meningkatkan aktifitas fisik

3) Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50%

daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45
menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari

hipertensi.

4) Mengurangi asupan natrium

5) Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian

obat antihipertensi oleh dokter.

6) Menurunkan konsumsi kafein dan alcohol. Kafein dapat memacu

jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak

cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari

2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.

b. Farmakologis

Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh

JNC VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron

antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau calcium

antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI),

Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/ blocker

(ARB).

7. Komplikasi

Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit

jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan

penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko

terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan

mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan

hidup sebesar 10-20 tahun.
8. Pencegahan

a. Berhenti merokok secara total dan tidak mengkonsumsi alkohol.

b. Melakukan antisipasi fisik secara teratur atau berolahraga secara

teratur dapat mengurangi ketegangan pikiran (stress) membantu

menurunkan berat badan, dapat membakar lemak yang berlebihan.

c. Diet rendah garam atau makanan, kegemukan (kelebihan badan harus

segera dikurangi)

d. Latihan olahraga yang dapat seperti senam aerobic, jalan cepat, dan

bersepeda paling sedikit 7 kali dalam seminggu.

e. Memperbanyak minum air putih, minum 8-10 gelas/hari.

f. Memeriksa tekanan darah secara normal/berkala terutama bagi

ssorang yang memiliki riwayat pendeirta hipertensi.

B. KONSEP KEPERAWATAN

2. Pengkajian

a. Biodata

1) Identitas klien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin,

pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal

pengkajian, nomor register, dan diagnosa medis.

2) Identitas manusia tua yang tersusun dari : Nama Ayah & Ibu, usia,

pendidikan, pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat.

3) Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin,

hubungan dengan klien, & status kesehatan.
b. Keluhan Utama: Biasanya pasien merasakan nyeri pada kepala,

pusing.

c. Riwayat penyakit sekarang: Tanyakan sejak kapan keluhan dirasakan,

apakah tiba-tiba/perlahan-lahan, sejauh mana keluhan dirasakan, apa

yang memperberat dan memperingan keluhan dan apa usaha yg sudah

dikerjakan untuk mengurangi keluhan.

d. Riwayat penyakit dahulu : Tanyakan pada klien dan keluarganya ;

apakah klien dahulu pernah menderita sakit seperti ini, apakah

sebelumnya pernah menderita penyakit lain.

e. Riwayat penyakit keluarga: apakah ada diantara anggota keluarga

klien yg menderita penyakit seperti klien saat ini.

3. Diagnosa

Diagnosa keperawatan pada masalah Hipertensi menurut NANDA NIC-

NOC (2015) adalah sebagai berikut :

a. Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokontriksi,

hipertrofi/rigiditas vaskuler, iskemia miokard.

b. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral dan iskemia.

c. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen.

d. Kelebihan volume cairan.

e. Ketidakefektifan koping.

f. Defisiensi pengetahuan.

g. Ansietas.
h. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak.

i. Resiko cedera.

4. Intervensi

a. Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokontriksi,

hipertrofi/rigiditas vaskuler, iskemia miokard.

Intervensi :

1) Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, durasi).

2) Catat adanya disritmia jantung.

3) Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output.

4) Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung.

5) Monitor balance cairan.

6) Monitor TD, nadi, suhu, dan RR.

b. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral dan iskemia.

Intervensi :

1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.

2) Observasi reaksi nonverbal dari ketdaknyamanan.

3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri pasien.

4) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti

suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

5) Ajarkan tentang teknik non farmakologi

6) Monitor vital sign.
c. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen.

Intervensi :

1) Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas

2) Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan

3) Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

4) Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara

berlebihan

5) Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi,

disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan

hemodinamik)

6) Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

7) Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu

dilakukan

8) Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang

diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan

9) Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi

roda, krek

10) Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan

dalam beraktivitas.

d. Kelebihan volume cairan.

Intervensi :
1) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

2) Pasang urin kateter jika diperlukan

3) Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt

, osmolalitas urin )

4) Monitor vital sign

5) Kaji lokasi dan luas edema

6) Monitor masukan makanan / cairan

7) Berikan diuretik sesuai interuksi

8) Kolaborasi pemberian obat:

9) Monitor berat badan

10) Monitor tanda dan gejala dari odema

e. Ketidakefektifan koping.

1) Menginformasikan pasien alternatif atau solusi lain penanganan.

2) Memfasilitasi pasien untuk membuat keputusan.

3) Bantu pasien mengidentifikasi keuntungan, kerugian, dari

keadaan.

4) Gunakan pendekatan tenang menyakinkan.

5) Hindari pengambilan keputusan pada saat pasien berada dalam

stress berat.

6) Berikan informasi aktual yang terkait dengan diagnosis, terapi

dan prognosis.

f. Defisiensi pengetahuan.

Intervensi :
1) Berikan penilaian tentang tingkatan pengetahuan pasein tentang

proses penyakit yang spesifik
2) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini

berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang

tepat
3) Gambarkan tanda dan gejala yang bisa muncul pada penyakit,

dengan cara yang tepat
4) gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5) Diskusikusikan pilihan terapi atau penanganan

g. Ansietas.

Intervensi :

1) Gunakan pendekatan yang menenangkan.

2) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.

3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama

prosedur.

4) Pahami perspektif pasien terhadap situasi stres.

5) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi

takut

h. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak.

Intervensi :

1) Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap

panas/dingin/tajam/tumpul.

2) Monitor adanya paretese.

3) Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau

laserasi.
4) Gunakan sarung tangan untuk proteksi.

5) Kolaborasi pemberian analgetik.

i. Resiko cedera.

Intervensi :
1) Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien.
2) Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi

fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu

pasien.
3) Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih.
4) Membatasi pengunjung.
5) Menganjurkan klien untuk menemani pasien.
6) Mengontrol lingkungan dari kebisingan.

5. Implementasi

Implementasi merupakan rencana tindakan untuk mencapai tujuan

yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan

disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien

mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang

spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang

memengaruhi masalah kesehatan klien. Tujuan dari pelaksaan adalah

membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang

mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan, penyakit, pemulihan

kesehatan, dan memfasilitasi koping.

6. Evaluasi

Tahap evaluasi dalam keperawatan mencakup pencegahan terhadap

tujuan apakah masalah teratasi atau tidak, dan apabila tidak berhasilperlu
dikaji, direncanakan dan dilaksanakan dalam jangkawaktu panjang dan

pendek tergantung respon dalam kefektifan intervensi.
DAFTAR PUSTAKA

Nancy R.Ahern, Judith M.Wilkinson.2014.Buku Saku Diagnosis
Keperawatan.edisi 9.EGC. Jakarta

Nurarif Amin Huda, dkk. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC.Mediaction.Jogjakarta

Price, Sylvia Anderson,dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, Ed 6, Volume 1&2. EGC. Jakarta.