PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI GAWAT DARURAT

RSUD Dr. M. ASHARI KABUPATEN PEMALANG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan oleh suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah
pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa
pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk,
serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar
pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
Pelayanan gawat darurat merupakan pelayanan yang dapat
memberikan tindakan yang cepat dan tepat pada seorang atau kelompok
orang agar dapat meminimalkan angka kematian dan mencegah terjadinya
kecacatan yang tidak perlu. Upaya peningkatan gawat darurat ditujukan
untuk menunjang pelayanan dasar, sehingga dapat menanggulangi pasien
gawat darurat baik dalam keadaan sehari-hari maupun dalam keadaan
bencana. Dengan semakin meningkatnya jumlah penderita gawat darurat,
maka diperlukan peningkatan pelayanan gawat darurat baik yang
diselenggarakan ditempat kejadian, selama perjalanan ke rumah sakit,
maupun di rumah sakit.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka di Instalasi Gawat Darurat perlu
dibuat pedoman pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak
dalam tata cara pelaksanaan pelayanan yang diberikan ke pasien pada
umumnya dan pasien IGD RSUD Dr. M. Ashari Kabupaten Pemalang
khususnya. Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka, dalam melakukan
pelayanan gawat darurat di IGD RSUD Dr. M. Ashari Pemalang harus
berdasarkan pedoman pelayanan di IGD RSUD Dr. M. Ashari Kabupaten
Pemalang

1

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan Instalasi Gawat Darurat meliputi :
1. Pasien dengan kasus True Emergency
Yaitu pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat darurat atau
akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya
( akan menjadi cacat ) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.
2. Pasien dengan kasus False Emergency
Yaitu pasien dengan :
- Keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat
- Keadaan gawat tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota
badannya
- Keadaan tidak gawat dan tidak darurat

C. Batasan Operasional
1. Instalasi Gawat Darurat
Adalah unit pelayanan di rumah sakit yang memberikan pelayanan
pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara
terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin.
2. Triage
Adalah pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya
trauma / penyakit serta kecepatan penanganan / pemindahannya.
3. Prioritas
Adalah penentuan mana yang haarus didahulukan mengenai
penanganan dan pemindahan yang mengacu tingkat ancaman jiwa yang
timbul.
4. Survey Primer
Adalah deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang
mengancam jiwa.
5. Survey Sekunder
Adalah melengkapi survey primer dengan mencari perubahan-
perubahan anatomi yang berkembang menjadi semakin parah dan
memperberat perubahan fungsi vital yang ada berakhir dengan
mengancam jiwa bila tidak segera diatasi.
6. Pasien Gawat Darurat

2

Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi
gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya ( akan menjadi
cacat ) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.
7. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan
darurat misalnya kanker stadium lanjut.
8. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba tetapi tidak mengancam
nyawa dan anggota badannya, misalnya luka sayat dangkal.
9. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Misalnya pasien dengan uclus peptikum, TBC kulit dan sebagainya.
10. Kecelakaan ( Accident )
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang datangnya
mendadak, tidak dikehendaki sehingga menimbulkan cedera fisik,
mental dan sosial.
Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut :
a. Tempat kejadian :
1) Kecelakaan lalu lintas
2) Kecelakaan di lingkungan rumah tangga
3) Kecelakaan di lingkungan pekerjaan
4) Kecelakaan di sekolah
5) Kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya :
tempat rekreasi, perbelanjaan, di area olah raga, dan lain-lain.
b. Mekanisme kejadian
Tertumbuk, terjatuh, terpotong, tercekik oleh benda asing,
tersengat, terbakar baik karena efek kimia, fisik maupun listrik atau
radiasi.
c. Waktu kejadian
1) Waktu perjalanan ( travelling / transport time )
2) Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain, dan lain-lain.
11. Cidera
Masalah kesehatan yang didapat / dialami sebagai akibat kecelakaan.
12. Bencana

3

Trauma / cedera b. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar ( excessive loss of water and electrolit ) g. kardiovaskuler. Susunan saraf pusat b. Hati e. Keracunan ( poisoning ) d. Pancreas Kegagalan ( kerusakan ) System / organ tersebut dapat disebabkan oleh: a. Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. Kecepatan meminta pertolongan 3. Infeksi c. Kardiovaskuler d. Asfiksi f. pernafasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. kerusakan lingkungan. yaitu : a. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan a. Ditempat kejadian 4 . Ginjal f. Dengan demikian keberhasilan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh : 1. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat 2. kerugian harta benda. Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah satu system / organ di bawah ini. sedangkan kegagalan sistim/organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu lama. Kegagalan sistim susunan saraf pusat. Pernafasan c. Dan lain-lain. Degerenerasi ( failure ) e. kerusakan sarana dan prasarana umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional yang memrlukan pertolongan dan bantuan.

8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431) 2.Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit. Landasan Hukum 1. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang. Peraturan Daerah Kabupaten Pemalang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072 Tahun 2009) 5. b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 129/MENKES/SK/II/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit 6. 3. Dalam perjalanan ke rumah sakit c. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 856/Menkes/SK/IX/2009 Tentang Standar Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116. Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063 ). 5 . Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Pertolongan selanjutnya secara mantap di rumah sakit D.

6 .

Distribusi Ketenagaan Pola pengaturan ketenagaan Instalasi Gawat Darurat yaitu : 1. Untuk Dinas Sore : Yang bertugas sejumlah 6 orang dengan standar minimal bersertifikat BLS Kategori : 1 orang penanggung jawab shift 2 orang pelaksana 2 orang caraka 7 . Kualifikasi SDM Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM IGD adalah : No Nama Jabatan Kualifikasi Normal Keterangan 1 Kepala Instalasi Gawat Darurat Dokter Umum Bersertifikat ACLS/ATLS 2 Kepala Ruang IGD D III Keperawatan Bersertifikat BLS/BTCLS/PPGD 3 Perawat Pelaksana IGD D III Keperawatan Bersertifikat BLS/BTCLS/PPGD 4 Dokter IGD Dokter Umum Bersertifikat ACLS/ATLS 5 Caraka SLTP - B. BAB II STANDAR KETENAGAAN A. Untuk Dinas Pagi : Yang bertugas sejumlah 8 orang dengan standar minimal bersertifikat BLS Kategori : 1 orang kepala ruang 1 orang wakil kepala ruang 4 orang pelaksana 2 orang caraka 2.

Untuk Dinas Malam : Yang bertugas sejumlah 5 orang dengan standar minimal bersertifikat BLS Kategori : 1 orang penanggung jawab shift 3 orang Pelaksana 1 orang caraka C. Apabila perawat yang bersangkutan tidak mendapatkan perawat pengganti. lepas malam. maka permintaan disetujui). Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke perawat pelaksana IGD setiap satu bulan c. diharapkan perawat yang bersangkutan sudah mencari perawat pengganti. libur. Pengaturan jadwal dinas perawat IGD dibuat dan di pertanggung jawabkan oleh Kepala Ruang IGD dan disetujui oleh Kepala Seksi Keperawatan b. f. Pengaturan Jaga Perawat IGD a. maka Kepala Ruang IGD akan mencari tenaga perawat pengganti yaitu perawat yang hari itu libur atau perawat IGD yang tinggal di sekitar rumah sakit. serta memiliki sertifikat tentang kegawat daruratan. dinas malam. 3. Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada (apabila tenaga cukup dan berimbang serta tidak mengganggu pelayanan. Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi. Setiap tugas jaga / shift harus ada perawat penanggung jawab (PJ Shift) dengan syarat pendidikan minimal D III Keperawatan dan masa kerja minimal 2 tahun. e. 4 jam sebelum dinas sore atau dinas malam. Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah ditetapkan ( terencana ). dan cuti. maka perawat tersebut dapat mengajukan permintaan cuti dinas pada buku permintaan. maka perawat yang bersangkutan harus memberitahu Kaur IGD : 2 jam sebelum dinas pagi. Sebelum memberitahu Kepala Ruang IGD. Pengaturan Jaga 1. Untuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu. dinas sore. 8 . d.

maka perawat yang dinas pada shift sebelumnya wajib untuk menggantikan. Pengaturan jadwal dokter jaga IGD menjadi tanggung jawab Kepala Instalasi Gawat Darurat dan disetujui oleh Kepala Bidang Pelayanan b. Apabila dokter jaga 9 . g. dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke Kepala Instalasi Gawat Darurat dan di harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga pengganti. dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke Kepala Instalasi Gawat Darurat paling lambat 3 hari sebelum tanggal jaga. yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu libur atau dirangkap oleh dokter jaga ruangan. maka Kepala Instalasi Gawat Darurat wajib untuk mencarikan dokter jaga pengganti. maka Kepala Instalasi Gawat Darurat wajib untuk mencarikan dokter jaga pengganti. maka Kepala Ruang IGD akan mencari perawat pengganti yang hari itu libur atau perawat IGD yang tinggal di sekitar rumah sakit. c. 3) Untuk yang tidak terencana. Apabila dokter jaga IGD karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka : 1) Untuk yang terencana. Apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk menggantikan. apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan. Apabila ada tenaga perawat tiba-tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah ditetapkan ( tidak terencana ). Jadwal dokter jaga IGD dibuat untuk jangka waktu 1 bulan serta sudah diedarkan ke unit terkait dan dokter jaga yang bersangkutan 1 minggu sebelum jaga di mulai. Pengaturan Jaga Dokter IGD a. dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke Kepala Instalasi Gawat Darurat dan di harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga pengganti. 2) Untuk yang tidak terencana. apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan. yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu libur atau dirangkap oleh dokter jaga ruangan. serta dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga pengganti. Apabila perawat pengganti tidak di dapatkan. 2.

3. Jadwal jaga dokter konsulen dibuat untuk jangka waktu 3 bulan serta sudah diedarkan ke unit terkait dan dokter konsulen yang bersangkutan 1 minggu sebelum jaga dimulai. Pengaturan Jadwal Dokter Konsulen a. maka Kepala Bidang Pelayanan wajib untuk mencarikan dokter jaga konsulen pengganti. 10 . serta dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga konsulen pengganti 2) Untuk yang tidak terencana. c. dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke Kepala Bidang Pelayanan atau ke Petugas sekretariat dan di harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga konsulen pengganti. Apabila dokter konsulen jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan. apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan. Pengaturan jadwal jaga dokter konsulen menjadi tanggung jawab Kepala Bidang Pelayanan b. pengganti tidak di dapatkan maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk mengantikan. dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke Kepala Bidang Pelayanan atau ke petugas sekretariat paling lambat 3 hari sebelum tanggal jaga. maka : 1) Untuk yang terencana.

K IGD R.TUNGGU R. BAB III STANDAR FASILITAS TERAS DEPAN A.OBAT ODC DAPUR TOILET KELUAR TERAS BELAKANG 11 . Denah Ruangan PINTU MASUK R.DEKONTAM JAGA PASIEN INASI TOILET PENDAFTA TRIASE UTARA RAN R. DOKTER R. TIND BEDAH R. TIND BEDAH R.JAGA R.

ruangan tindakan bedah terdiri dari 2 (dua) tempat tidur. Oropharingeal air way ( sesuai kebutuhan ) 7. a. Trolly Emergency yang berisi alat-alat untuk melakukan resusitasi 1 unit 14.B. Standar Fasilitas 1. Spuit semua ukuran ( masing-masing 10 buah ) 6. dan ruangan one day care (ODC). Alat . 2. Brandcard fungsional diatur posisi trendelenberg. Ambu bag dewasa 1 set 15. ruangan tindakan non bedah. ruangan ODC terdiri dari 2 ( dua ) tempat tidur. Ashari Kabupaten Pemalang berlokasi di lantai I gedung utama yang terdiri dari ruang triase. EKG 1 unit 13. Mesin suction 3 unit 2. Ambu bag anak 1 set 12 . ruang tindakan bedah. ada gantungan infus & penghalang ( 5 buah ) 9. Infus set / tranfusi set ( 5 / 5 buah ) 8. Oxigen lengkap dengan flowmeter 2 unit 3. Defribrilator ( 1 buah ) 11. ruang resusitasi.alat untuk ruang resusitasi : 1. Monitor vital sign 4 unit 12. resusitasi terdiri dari 1 (satu) tempat tidur. M. ruangan tindakan non bedah terdiri dari 4 (empat) tempat tidur. Ruangan triase terdiri 1 (satu) tempat tidur. Peralatan Peralatan yang tersedia di IGD mengacu kepada buku pedoman pelayanan Gawat Darurat Departemen Kesehatan RI untuk penunjang kegiatan pelayanan terhadap pasien Gawat Darurat. Alat-alat yang tersedia adalah bersifat life saving untuk kasus kegawatan jantung seperti monitor dan defribrilator. Gunting plester ( 1 buah ) 10. Laringoskope dewasa 1 set 5. Fasilitas & Sarana IGD RSUD Dr. Oxigen dinding dengan flowmeter 12 unit 4.

Tensi meter ( 7 buah ) 19. Vena seksi set ( 1 set ) 4. Cairan infus 2 botol 13. Benang-benang / jarum segala jenis dan ukuran : a) Cat gut 2/0 dan 3/0 ( 1 buah ) b) Silk black 2/0 . 0 ( 1 buah ) c) Cromik 3/0 ( 1 buah ) d) Jarum ( 1 set ) 7. Thermometer ( 2 buah ) 20. THT set ( 2 set ) 5. Ambu bag bayi 1 set 17.alat untuk tindakan bedah 1. Alat . 3/0. Infus set ( 2 buah ) 12. Verban dengan ukuran : a) 4 x 5 cm ( 5 buah ) b) 4 x 10 cm ( 5 buah ) 3. Stetoskop ( 5 buah ) 18. Hecting set ( 5 set ) 6. Dower Catheter dengan ukuran a) Nomer 16 ( 2 buah ) b) Nomer 18 ( 2 buah ) 13 . Bidai segala ukuran untuk tungkai. lengan. 16. leher. Tiang infus ( 7 buah ) b. Stomach tube / NGT a) Nomer 12 (2 buah ) b) Nomer 16 ( 2 buah ) c) Nomer 18 ( 2 buah ) 10.5 cc ( 5 buah ) 11. Spuit sesuai kebutuhan a) 10 cc ( 5 buah ) b) 5 cc ( 5 buah ) c) 2. Lampu sorot ( 2 buah ) 8. Kassa 10 box 9. tulang punggung ( 1 set ) 2.

Tiang infus ( 5 buah ) d. Tensimeter ( 5 buah ) 10. Infus set ( 1 set ) 7. Thermometer ( 1 buah ) 17. Tensimeter ( 1 buah ) 16. Tensi meter ( 1 buah ) 2.alat untuk ruang one day care 1. Standar infus ( 1 buah ) 6. Stetoskop ( 6 buah ) 11. Stetoskop ( 1 buah ) 15. Mesin EKG ( 1 buah ) 6. Termometer ( 1 buah ) 4. Thermometer ( 2 buah ) 12. IV Catheter segala ukuran ( 1 set ) 14 . Otoscope ( 1 buah ) 4. 14. Infus set ( 1 0 buah ) 7. Stetoskop ( 1 buah ) 5. IV catheter semua nomer ( 10 set ) 8.5 cc ( 5 buah ) c) 5 cc ( 5 buah ) d) 10 cc ( 5 buah ) e) 20 cc ( 3 buah ) f) 50 cc ( 3 buah ) 9. Alat . Oxygen dinding dengan flow meter ( 1 buah ) 3. Alat . Stomach tube / NGT a) Nomer 16 ( 2 buah ) b) Nomer 18 ( 2 buah ) c) Nomer 12 ( 2 buah ) 2.alat untuk ruang tindakan non bedah : 1. Urine bag ( 3 buah ) 3. Spuit sesuai kebutuhan : a) 1 cc ( 5 buah ) b) 2. Nebulizer (2 buah ) 5. Tiang infus ( 2 buah ) c.

8. Spuit sesuai kebutuhan : a) 1 cc ( 5 buah ) b) 2. M.5 ( 1 buah ) 2) Nomer 3 ( 1 buah ) 3) Nomer 4 ( 1 buah ) 4) Nomer 7 ( 1 buah ) 5) Nomer 7.5 ( 1 buah ) 6) Nomer 8 ( 1 buah ) i) Slang oksigen sesuai kebutuhan j) Stomach tube / NGT 1) Nomer 16 ( 2 buah ) 2) Nomer 18 ( 2 buah ) 3) Nomer 12 ( 2 buah ) 15 . Obat Life saving (terlampir pada standar obat IGD RSUD Dr. Alat – alat dalam trolly emergency 1. Ashari Kabupaten Pemalang) 3. Ashari Kabupaten Pemalang) 2. Obat Penunjang (terlampir pada standar obat IGD RSUD Dr. Alat – alat kesehatan a) Ambu bag / Air viva untuk dewasa & anak ( 1 buah / 1 buah ) b) Oropharingeal airway 1) Nomer 3 ( 2 buah ) 2) Nomer 4 ( 2 buah ) c) Laringoscope dewasa (1 set) d) Magyl forcep e) Face mask ( 1 buah ) f) Spuit semua ukuran g) Infus set ( 1 set ) h) Endotracheal tube ( dewasa) 1) Nomer 2. M.5 cc ( 5 buah ) c) 5 cc ( 5 buah ) d) 10 cc ( 5 buah ) e) 20 cc ( 3 buah ) f) 50 cc ( 3 buah ) e.

Pemeliharaan. Bila tidak dapat diperbaiki oleh tehnisi internal. k) IV Catheter sesuai kebutuhan 1) Nomer 18 Cath ( 2 buah ) 2) Nomer 20 Cath (2 buah ) 3) Nomer 22 Cath ( 2 buah ) l) Suction catheter segala ukuran 1) Nomer 10 ( 2 buah ) 2) Nomer 12 ( 2 buah ) m) Neck collar Ukuran S / M ( 1 / 1 ) 3. Ambulance Untuk menunjang pelayanan terhadap pasien di RSUD Dr. Sebagai bahan informasi untuk perencanaan peremajaan peralatan medis yang diperlukan. c. 1. 2. maka alat diperbaiki oleh tehnisi luar (melalui bagian pembelian). alat dikembalikan ke ruang intensif. Prosedur a. Agar nilai yang dikeluarkan dari alat medis sesuai dengan nilai yang diinginkan. Perbaikan dan Kalibrasi Peralatan Setiap peralatan yang ada baik medis dan non medis harus dilakukan pemeliharaan. saat ini memiliki 2 (dua) unit ambulan gawat darurat yang kegiatannya berada di bagian umum dan seksi keperawatan. d. Ashari Kabupaten Pemalang. c. Setelah alat diperbaiki ditehnisi. Tujuan : a. dan kalibrasi agar peralatan dapat tetap terpelihara dan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. M. 16 . b. Agar peralatan yang ada dapat digunakan sesua dengan fungsi dan tujuan. merah. perbaikan. Agar peralatan yang ada dapat tetap terpelihara dan siap digunakan. Untuk perbaikan peralatan yang rusak ruang intensif mengisi buku permintaan perbaikan rangkap 3 (putih. kuning) dan diantar kebagian tehnisi beserta alat yang rusak. C. b.

B. Ashari Kabupaten Pemalang KabupatenPemalang adalah dengan nomor extension masing-masing unit b. Perangkat Kerja a. Petugas Penanggung Jawab a. Status Medis 3. sementara keluarga/penanggung jawab melakukan pendaftaran di bagian admissi. Tata Laksana Pendaftaran pasien IGD a. Bila keluarga tidak ada petugas IGD bekerja sama dengan security untuk mencari identitas pasien. Tata Laksana Sistim Komunikasi 1. Perawat IGD b. Antara IGD dengan unit lain dalam RSUD Dr. Pendaftaran pasien yang datang ke IGD dilakukan oleh pasien / keluarga dibagian admission b. BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN A. Perangkat Kerja a. Handphone 3. Tata Laksana Sistim Komunikasi IGD a. maka akan langsung diberikan pertolongan di IGD. c. Petugas Penanggung Jawab a. Bila pasien dalam keadaan gawat darurat. Petugas admisi 2. Tata Laksana Pendaftaran Pasien 1. Antara IGD dengan dokter konsulen / rumah sakit lain / yang terkait dengan pelayanan diluar rumah sakit adalah menggunakan 17 . Petugas Operator b. Sebagai bukti pasien sudah mendaftar di bagian admission akan memberikan status untuk diisi oleh dokter IGD yang bertugas. Pesawat telepon b. M. d. Dokter / perawat IGD 2.

Status Medis 3. Petugas Penanggung Jawab Dokter Jaga IGD 2. c. Antara IGD dengan petugas ambulan yang berada di lapangan menggunakan pesawat telepon dan handphone. 18 . Tensimeter c. ATS ( Australian Triase Scale ) I Keadaan mengancam kehidupan. Tata Laksana Pelayanan Triase 1. harus segera di lakukan tindakan. pesawat telepon langsung dari IGD dengan disambungkan melalui bagian informasi. Dokter jaga IGD melakukan pemeriksaan pada pasien secara lengkap dan menentukan prioritas penanganan c. Stetoscope b. ATS ( Australian Triase Scale ) II Ancaman terhadap kehidupan/organ tubuh akan rusak atau gagal jika tidak dilakukan tindakan dalam 10 menit. dengan ancaman kekerasan yang segera 10) Overdosis obat intravena atau hipoventilasi 11) Pasien ditempatkan di ruang resusitasi d. Pasien / keluarga pasien mendaftar ke bagian admission b. Perangkat Kerja a. C. Gambaran Klinis : 1) Henti jantung 2) Henti nafas 3) Distress pernafasan 4) Frekuensi pernafasan < 10 x/menit 5) Sesak berat 6) Tekanan darah < 80 mmHg atau shock pada anak dan bayi 7) Tidak ada respon /respon hanya dengan rangsang nyeri (GCS < 9) 8) Kejang yang sedang berlangsung 9) Gangguan jiwa. Tata Laksana Pelayanan Triase IGD a.

Gambaran Klinis : 1) Risiko gangguan pada jalan nafas.trauma lokal berat (fraktur berat. ATS ( Australian Triase Scale ) III Pemeriksaan dan pengobatan dimulai dalam waktu 30 menit berpotensi mengancam kehidupan Gambaran Klinis : 1) Hipertensi berat 2) Kehilangan darah banyak 3) Nafas pendek 4) Sa02 90 – 95 % 5) BSL > 16 mmol/It 19 . ngorok berat 2) Sesak nafas 3) Sirkulasi terganggu a) Kulit dingin. perfusi buruk b) HR < 50 atau > 150 x/menit c) Hipotensi d) Kehilangan banyak darah 4) Nyeri dada 5) Nyeri hebat dengan penyebab lain 6) BSL < 2 mmol / It 7) GCS < 13. amputasi ) 12) Riwayat risiko tinggi ( pemakaian sedative atau obat toksik lainnya ) 13) Keracunan 14) Nyeri hebat pada kehamilan diluar kandungan 15) Kasus – kasus psychiatri : a) Kekerasan / agresivitas b) Ancaman terhadap diri sendiri c) Kecanduan atau beringas e. penurunan respon 8) Hemiparese / dysphasia mendadak 9) Demam dengan tanda – tanda kejang 10) Asam atau basa yang mengenai mata 11) Multiple trauma.

oergelangan kaki terkilir 20 . usia pasien > 65 tahun 13) Cedera ekstremitas sedang ( deformitas. laserasi berat ) 14) Terganggunya sensasi raba pada ekstremitas ( denyut nadi tidak teraba ) 15) Trauma dengan riwayat risiko tinggi 16) Anak – anak berisiko 17) Psychiatri a) Sangat stress. ATS ( Australian Triase Scale ) IV Pemeriksaan dan pengobatan dimulai dalam waktu 60 menit berpotensi mengancam jiwa. Gambaran Klinis : 1) Pendarahan sedang 2) Aspirasi benda asing. reaksi steroid 7) Muntah persisten 8) Kurang cairan ( dehidrasi ) 9) Cedera kepala 10) Nyeri hebat dengan sebab lain sehingga memerlukan obat analgesik 11) Nyeri dada bukan karena jantung 12) Nyeri perut. risiko untuk melukai diri sendiri b) Psichotik mendadak c) Krisis keadaan d) Ketagihan / potensi untuk menyerang 18) Riwayat kejang Pasien ditempatkan di ruang resusitasi atau ruang bedah/non bedah f. tidak ada didtress pernafasan 3) Cedera pada dada tanpa gangguan pada pernafasan 4) Cedera kepala ringan tanpa penurunan kesadaran 5) Nyeri sedang 6) Muntah atau diare tanpa dehidrasi 7) Visus normal. 6) Demam sebab lain misalnya akibat kekebalan yang menurun. inflamasi atau benda asing pada mata 8) Trauma ekstremitas ringan.

Perangkat Kerja Formulir persetujuan 3. D. g. informed consent diisi dengan lengkap disaksikan oleh perawat. Tata Laksana Informed Consent a. Setelah diisi dimasukkan dalam status medik pasien. Dokter IGD yang bertugas menjelaskan tujuan dari pengisian informed consent pada pasien / keluarga pasien disaksikan oleh perawat. 21 . Gambaran Klinis : 1) Nyeri ringan 2) Risiko ringan dan tidak ada gejala klinis 3) Gejala ringan dari sakit yang stabil 4) Gejala ringan dari kondisi risiko rendah 5) Luka lecet yang ringan(tidak memerlukan penjahitan luka ) 6) Imunisasi 7) Psikiatri a) Gejala kronik b) Krisis sosial. b. Pasien menyetujui. secara klinis pasien sehat Pasien ditempatkan di ruang bedah / non bedah. Tata Laksana Pengisian Inform Consent 1. Petugas Penanggung Jawab Dokter jaga IGD 2. ATS ( Australian Triase Scale ) V Penilaian dan pengobatan dimulai dalam waktu 120 menit. c. 9) Nyeri abdomen tidak spesifik 10) Psychiatri a) Masalah kesehatan mental b) Dalam pengawasan dan tidak ada risiko langsung terhadap diri sendiri atau orang lain Pasien ditempatkan di ruang bedah / non bedah.

Perawat Admission b. Pengawas jaga keperawatan menghubungi bagian / supir ambulan untuk menyiapkan kendaraan. Bagi pasien yang memerlukan ambulan RSUD Dr. Tata Laksana Transportasi Pasien 1. Stetoscope b. F. Dilakukan triase untuk penempatan pasien diruang non bedah c. Bila perlu dirawat / observasi pasien dianjurkan kebagian admission f. Petugas Penanggung Jawab a. Dokter jaga IGD 2. Pengawas jaga keperawatan menyiapkan alat medis sesuai dengan kondisi pasien. Tata Laksana Pelayanan False Emergency 1. Dokter jaga menjelaskan kondisi pasien pada keluarga / penanggung jawab e. Perangkat Kerja a. Pengawas jaga keperawatan b. Alat Tulis 3. Bila tidak perlu dirawat pasien diberikan resep dan bisa langsung pulang Pasien dianjurkan untuk kontrol kembali sesuai dengan saran dokter 22 . Ashari Kabupaten Pemalang Pemalang sebagai transportasi. c. Perangkat Kerja a. Pasien dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter jaga IGD d. Petugas Penanggung Jawab a. Supir Ambulan 2. M. Tensi meter c.E. maka perawat menghubungi pengawas jaga b. Pasien / keluarga pasien mendaftar di bagian admission b. Ambulan b. Tata Laksana Pelayanan False Emergency a. Tata Laksana Transportasi Pasien IGD a. Alat Tulis 3.

23 . Petugas Penanggung Jawab a. Dokter jaga IGD b. Tata Laksana Pelayanan Visum Et Repertum a. EKG d. Dokter jaga IGD membuat surat keterangan meninggal. Surat Kematian 3. Stetoscope c. Petugas rekam medik menerima surat permintaan visum et repertum dari pihak kepolisian. Bila dokter sudah menyatakan meninggal. Perawat IGD 2. Petugas Penanggung Jawab a. c. Tata Laksana Pelayanan Death On Arrival ( DOA ) 1. Jenazah dipindahkan / diserah terimakan di ruangan jenazah dengan bagian umum / keamanan.G. Tata Laksana Death On Arrival IGD ( DOA ) a. c. b. Perangkat Kerja a. Senter b. Surat permintaan visum et repertum diserahkan kebagian rekam medik. Dokter Jaga IGD b. Petugas Rekam Medis 2. Dokter Perangkat Kerja Formulir Visum Et Repertum dari rekam medik 3. Petugas rekam medik menyerahkan status medis pasien kepada dokter jaga yang menangani pasien terkait Setelah visum et repertum diselesaikan oleh rekam medik maka lembar yang asli diberikan pada pihak kepolisian. Tata Laksana Pelayanan Visum Et Repertum 1. H. Pasien dilakukan triase dan pemeriksaan oleh dokter jaga IGD b. maka dilakukan perawatan jenazah.

Ambulan b. Ashari Kabupaten Pemalang Kabupten Pemalang b.I. Perawat yang mendampingi pasien memberikan informasi mengenai kondisi pasien yang akan dibawa. Tata Laksana Sistim Rujukan 1. Isi informasi mencakup : 1) Keadaan umum ( kesadaran dan tanda – tanda vital ) 2) Peralatan yang diperlukan di IGD (suction. J. Tata Laksana Sistim Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit 1. kepada perawat IGD RSUD Dr. Perangkat Kerja a. Handphone 3. Pengawas Jaga 2. Dokter IGD b. defribrillator) 3) Kemungkinan untuk dirawat di unit intensive care Perawat IGD melaporkan pada dokter jaga IGD & PJ Shift serta menyiapkan hal-hal yang diperlukan sesuai dengan laporan yang diterima dari petugas ambulan. Formulir rujukan 3. Ambulan b. Petugas Penanggung Jawab a. Formulir persetujuan tindakan c. M. Tata Laksana Sistim Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit a. Petugas Penanggung Jawab Perawat IGD 2. Tata Laksana Sistim Rujukan IGD a. Perangkat Kerja a. monitor. Alih Rawat 1) Perawat IGD menghubungi rumah sakit yang akan dirujuk 2) Dokter jaga IGD memberikan informasi pada dokter jaga rumah sakit rujukan mengenai keadaan umum pasien 24 .

perawat IGD menghubungi RSUD Dr. 25 . bila setuju maka keluarga pasien harus mengisi informed consent 2) Perawat IGD menghubungi rumah sakit rujukan 3) Perawat IGD menghubungi petugas ambulan RSUD Dr. maka harus mengisi inform consent 3) Dokter jaga mengisi formulir pemeriksaan. 3) Bila tempat telah tersedia di rumah sakit rujukan. Ashari Kabupaten Pemalang Pemalang c. Ashari Kabupaten Pemalang Pemalang / ambulan 118 sesuai kondisi pasien b. M. dan diserahkan ke petugas laboratorium Petugas laboratorium melakukan rujukan ke laboratorium yang dituju. M. Pemeriksaan Diagnostik 1) Pasien / keluarga pasien dijelaskan oleh dokter jaga mengenai tujuan pemeriksaan diagnostik. Spesimen 1) Pasien/keluarga pasien dijelaskan mengenai tujuan pemeriksaan specimen 2) Bila keluarga setuju.

Aminophilin Ampul 15 preparations 2. Lidocain Ampul 20 Anasterik lokal 11. Atropin sulfat Ampul 20 Anti spasmodies 3. BAB V LOGISTIK A. Buscopan Ampul 10 Anti spasmodies 5. Dexamethasone Ampul 5 Corticosteroid Hormones 6. Furosemide Ampul 5 Diuretics 9. Paracetamol 1 gr botol 5 Anti piretik 12. Ranitidine Ampul 5 Antacida 15. Ephinephrin Ampul 2 Asnastetic lokal & general 8. Vit K infant Ampul 2 Anti perdarahan 26 . Ketorolak Ampul 5 Analgetik 10. Ventolin dan combiven Ampul 5 preparation 17. Vit K Ampul 5 Haemostatics 18. Obat Live Saving 1. Pehacain Ampul 10 Anastesi lokal 13. Diazepam Ampul 5 Minor Transquillizer 7. Piracetam 1 gr Ampul 5 Neuroprotector 14. ATS 1500 u Ampul 2 Anti tetanus 4. Injeksi No Nama Obat Satuan Jumlah Jenis Obat Anti asmatic dan COPD 1. Traneksamid acid 5ml Ampul 5 Haemostatic Anti asthmatic dan COPD 16.

255 Kolf 5 5. Larutan 2 A Kolf 5 6. Cairan Infus No Nama Obat Satuan Jumlah Jenis Obat 1. Tablet No Nama Obat Satuan Jumlah Jenis Obat 1. Amlodipin 5 mg Tablet 5 Anti hypertensi/ Betabloker 2. Asering Kolf 2 2. Dextrose 5 % 500 ml Kolf 5 4. Suppositoria No Nama Obat Satuan Jumlah Jenis Obat 1 Stesolid 5 mg rect Tube 5 Sedatif B. Cedocard 5 mg Tablet 5 Anti anginal 4.9 % 500 ml Kolh 5 7. Captropil 25 mg Tablet 5 Anti hypertensi/ Betabloker 3. Nacl 0. Ringer Lactat Kolf 10 4. Ringer Dextrose Kolf 5 8. Obat Penunjang No Nama Obat Satuan Jumlah Jenis Obat 1. Ondencantron Ampul 5 Anti emetik 27 . Dex 40 % 25 ml Flas 5 3. Dextrose In Saline 0. Nitrobat Tablet 5 Nitrogliserida 3. 2.

Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil B. Tujuan 1. Mendidik staf tentang keselamatan pasien 6. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien 28 . Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 7. Asesmen resiko 2. Pengertian Keselamatan Pasien ( Patient Safety ) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan 2. Sistem tersebut meliputi : 1. BAB VI KESELAMATAN PASIEN A. Hak pasien 2. C. Terlaksananya program – program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD). Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya 5. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan 4. Standar Keselamatan Pasien 1. Mendidik pasien dan keluarga 3. Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh : 1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit 2. Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien 3. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat 3. Pelaporan dan analisis insiden 4. Penggunaan metoda – metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien 5. Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di rumah sakit 4.

yang mengakibatkan cedera pasien akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi (seperti. yang dapat mencederai pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat dicegah. seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah. KTD yang tidak dapat dicegah Unpreventable Asverse Event : Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan mutakhir. KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KDC ) Near Miss : Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission ) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil ( omission ). tetapi cedera serius tidak terjadi :  Karena “ keberuntungan ”  Karena “ pencegahan ”  Karena “ peringanan ” KESALAHAN MEDIS Medical Errors : Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pasien KEJADIAN SENTINEL Sentinel Event : Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius.KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD ) ADVERSE EVENT : Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan. biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima. amputasi pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta terhadap 29 .

Melaporkan pada dokter jaga IGD 3. D. Tata Laksana 1. Mengobservasi keadaan umum pasien 5. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir “ Pelaporan Insiden Keselamatan ” 30 . Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga 4. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada pasien 2. kejadian ini mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.

Setiap hari ribuan anak berusia kurang dari 15 tahun dan 14. dll ) Penyakit Hepatitis B dan C. tindik. oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dari resiko tertular penyakit agar dapat bekerja maksimal. Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat keinginan untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungisemua pihak dari penyebaran infeksi.000 penduduk berusia 15 – 49 tahun terinfeksi HIV.10 %. penggunaan bersama peralatan menembus kulit : tato. Pendahuluan HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. sementara potensi penularan dimasyarakat cukup tinggi ( misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa pelindung. Dari keseluruhan kasus baru 25 % terjadi di Negara – negara berkembang yang belum mampu menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang memadai. dengan peningkatan kasus yang sangat bermakna. Ancaman penyebaran HIV menjadi lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejala.08 % pada tahun 1998 dan angka kesakitan hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan WHO adalah 2. 31 . Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut data PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2. Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat. Upaya pencegahan penyebaran infeksi dikenal melalui “ Kewaspadaan Umum ” atau “ Universal Precaution ” yaitu dimulai sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman bagi “ Petugas Kesehatan ”. Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan kontak langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya mempunyai resiko terpajan infeksi. pelayanan kesehatan yang belum aman karena belum ditetapkannya kewaspadaan umum dengan baik. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat masuknya kasus secara langsung ke masyarakat melalui penduduk migran. Kedua penyakit ini sering tidak dapat dikenali secara klinis karena tidak memberikan gejala. yang keduanya potensial untuk menular melalui tindakan pada pelayanan kesehatan. BAB VII KESELAMATAN KERJA A.

3. setiap petugas harus menerapkan prinsip “Universal Precaution”.B. Tujuan 1. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat. 2. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok. 3. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat. 5. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang. pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan. D. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai resiko tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat kerjanya. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman. Cuci tangan yang kurang benar. 5. yaitu : 1. 4. C. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai. untuk menghindarkan paparan tersebut. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi diri sendiri. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman. 2. Prinsip Keselamatan Kerja Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja adalah menjaga higiene sanitasi individu. 2. higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. 32 . 6. 4. Tindakan yang Beresiko Terpajan 1.

BAB VIII PENGENDALIAN MUTU Indikator mutu yang digunakan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Ketersediaan pelayanan pemeriksaan penunjang selama 24 jam. Ashari yaitu sebagai berikut : Angka Kematian Pasien True Emergency. Angka Kecepatan Pelayanan Pertama Gawat Darurat (KPPGD) > 5’. Angka ini dilaporkan setiap bulan pada panitia mutu dan direktur pelayanan. Tabel Indikator Mutu IGD JML NO NAMA INDIKATOR NUMERATOR / DENUMERATOR Jumlah pasien true emergency yang meninggal di Angka Kematian unit gawat darurat 1 Pasien True Emergency Jumlah semua pasien true emergency yang mendapat pertolongan di unit gawat darurat Angka Kecepatan Jumlah kumulatif waktu yang diperlukan sejak Pelayanan Pertama kedatangan 2 Gawat Darurat (KPPGD) > 5’ Jumlah seluruh pasien yang di sampling Ketersediaan Jumlah pasien yang memiliki indikasi pelayanan pemeriksaan pemeriksaan penunjang saat diperiksa di IGD 3 penunjang selama 24 Jumlah semua pasien yang dilakukan jam pemeriksaan penunjang dari IGD Jumlah seluruh tindakan life saving di IGD dikurangi jumlah tindakan life saving di IGD yang Ketersediaan obat dan tertunda atau tidak terpenuhi pelayanannya 4 alat kesehatan life karena obat dan alat life saving yang tidak saving di ruang IGD tersedia di IGD Jumlah seluruh tindakan life saving di IGD 33 . dan Ketersediaan obat dan alat kesehatan life saving di ruang IGD. M.

sehingga memerlukan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak dalam penyampaiannya untuk mencapai tujuan. Ashari ini mempunyai peranan yang penting sebagai pedoman bagi pemberi jasa pelayanan keperawatan yang bertugas di IGD. M. BAB IX PENUTUP Buku Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Dr. sehingga mutu pelayanan yang diberikan kepada padien dapat terus ditingkatkan. Penyusunan Buku Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat ini adalah suatu langkah awal kesuatu yang panjang. 34 .

Depkes RI. tahun 2009 Pedoman pelayanan Keperawatan Gawat Darurat di rumah sakitt. DAFTAR PUSTAKA Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 35 . Standar Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Sub Direktorat Pelayanan Medik Khusus dan Matra Direktorat Pelayanan Medik dan Gigi Dasar Direktorat Jendral Pelayanan Medik Depkes RI. Nomor 856/Menkes/SK/IX/2009 tentang Standar Gawat Darurat di Rumah Sakit. 2005. 2004.