Cold Pressor Test (CPT) adalah uji beban jantung dengan cara mencelupkan salah satu

tangan ke dalam air es tanpa diangkat untuk melihat kenaikan tekanan darah sebagai perlawanan
terhadap ejeksi dari ventrikel kiri dalam system arteri sestemik. CPT merupakan metode yang
sederhana untuk mengetahui resiko gangguan kardiovaskuler, seperti hipertensi di kemudian
hari.

Karhonen (2006) menyatakan bahwa peningkatan selama tekanan darah selama CPT
dapat disebabkan oleh beberapa factor, antara lain peningkatan aktifitas system saraf simpatis,
vasokontriksi, dan perasaan nyeri selama perendaman di dalam air es. Black and Jacobs (1997)
menyatakan bahwa tekanan darah dipengaruhi oleh dua factor yaitu aliran darah dan tekanan
perifer vaskuler. Aliran darah tubuh dipengaruhi oleh curah jantung, denyut jantung, dan volume
darah itu sendiri. Rangsangan dingin terhadap tangan yang dicelupkan di air es menimbulkan
stimulus pada saraf simpatis jantung yang menyebabkan adanya vasokontraksi pada pembuluh
darah. Vasokontraksi pembuluh darah menyebabkan meningkatnya nilai tekanan darah.

Selain hal tersebut, nyeri selama perendaman air es juga berpengaruh terhadap naiknya
tekanan darah pada CPT. Morton et al (2005) menyatakan bahwa nyeri menyebkan rangsangan
terhadap system saraf otonom yang dapat meningkatkan denyut jantung.

Secara teori tekanan darah sisitol dan diastole mengalami peningkatan saat tangan
dimasukkan ke dalam air es, hal ini sesuai dengan mekanisme tubuh manusia. Saat tubuh berada
pada kondisi temperature yang relative rendah pembuluh darah akan menyempit (vasokontraksi).
Bila pada pendinginan tekanan sistolik naik lebih besar dari 20mmHg dan tekanan diastolic lebih
dari 15mmHg dari tekanan basal maka Op merupakan termasuk golongan hiperreaktor yang
memiliki potensi hipertensi di masa mendatang, apabila kenaikan tekanan darah kurang dari anka
tersebut makan Op digolongkan hiporeaktor yang merupakan kenaikan yang masih dianggap
normal dan kemungkinan untuk terjadinya hipertensi di masa mendatang adalah kecil.

Pada percobaan didapatkan data yang berbeda dengan teori tekanan darah yang semula
dalam keadaan basal 114/palpasi dengan dimasukkan kedalam es selama 30 detik tekanan darah
menjadi 110/palpasi lalu pada detik ke 60 menjadi 97/palpasi

, dalam teori saat Op melakukan prosedur CPT seharusnya tekanan darahnya mengalami
kenaikan yang diakibatkan adanya vasokontraksi dan rasa nyeri yang timbul ketika memasukkan
tangan ke dalam air es, hal ini akan merangsang saraf otonom untuk meningkatkan denyut
jantung sehingga aliran darah menjadi cepat dan tekanan darahpun menjadi meningkat.
Perbedaan hasil pengujian dengan teori ini mungkin terjadi karena kesalahan pengujuan tekanan
darah dari praktikan yang kurang teliti saat melakukan percobaan terhadap Op.