Artinya persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan, yang manusia

bertanggung jawab di dalamnya dan dihisab atasnya. Dalil yang menunjukkan bahwa
menentukan pasangan hidup adalah pilihan manusia adalah:Maka kawinilah wanita-wanita (lain)
yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An-Nisa;4). Lafadz ( ‫ ) فا ْن ِك ُح ْوا ما طاب ل ُك ْم‬begitu jelas
menunjukkan bahwa setiap Muslim dipersilahkan memilih calon istrinya. Alasannya, ketika
Allah memubahkan untuk menikahi wanita-wanita yang ( ‫( ) طاب‬manis, enak, lezat,
menyenangkan) bagi mereka, dan tidak mencela lelaki yang tidak mau menikahi wanita karena
merasa kurang mantap, baik karena fisik maupun sifatnya, ini semua menunjukkan bahwa
persoalan ini adalah persoalan pilihan ( ‫اري‬ ْ ) bukan Qadha’.
ِ ‫اختِي‬

Dalil lain yang mendukung adalah kenyataan bahwa syara’ memberikan hak menentukan calon
suami sebagai hak penuh kaum wanita, yang tidak boleh ada intervensi dari siapapun meski itu
ayah, ibu, paman, musyrif, atau khalifah sekalipun.

‫عن بن بريدة عن أبيه قال جاءت فتاة إلى النبي صلى هللا عليه وسلم فقالت ثم إن أبي زوجني بن أخيه ليرفع بي خسيسته قال‬
(‫ )رواه ابن ماجه‬.‫فجعل األمر إليها فقالت قد أجزت ما صنع أبي ولكن أردت أن تعلم النساء أن ليس إلى اآلباء من األمر شيء‬

Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian
ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat
derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka
gadis itu berkata: Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya
ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini. (HR. Ibnu Majah
dan An-Nasa’i).

Dalam hadis di atas, Nabi memberi kebebasan penuh pada gadis tersebut untuk memutuskan
apakah melanjutkan pernikahannya ataukah membatalkannya. Ini menunjukkan bahwa
menentukan calon suami adalah hak penuh bagi wanita dan merupakan pilihan dia semata-mata.

Dalil lain yang mendukung adalah adanya syari’at talak. Talak adalah pembubaran akad nikah.
Syari’at talak memungkinkan seseorang yang menjadi pasangan hidup orang lain untuk berpisah
pada satu waktu tertentu dengan sebab-sebab tertentu. Karena itu mustahil dikatakan bahwa
seseorang sudah dipasangkan dengan orang tertentu jika ternyata syara’ memberikan suatu
mekanisme untuk membubarkan akad nikah.

Lebih dari itu studi terhadap akad-akad yang diatur dalam syari’at Islam menunjukkan bahwa
semua akad yang disana terdapat Ijab dan Qabul adalah mu’amalah yang berada dalam area yang
dikuasai manusia. Dengan demikian jual-beli, Ijarah, Wakalah, Syirkah, dan semisalnya adalah
termasuk perkara mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Manusia akan
dimintai pertanggung jawaban dalam aktivitas itu. Jika ia melakukan jual-beli, Ijarah, Wakalah,
dan Syirkah, dengan cara yang syar’i maka ia bebas dari hukuman, tetapi jika ia melakukannya
dengan cara batil maka ia akan dijatuhi hukuman. Demikian pula masalah menentukan pasangan
hidup. Jika seorang wanita Muslimah memutuskan menikah dengan orang kafir maka ia akan
dihukum, sebaliknya jika ia menikah dengan lelaki yang dihalalkan syara’ maka ia bebas dari
hukuman.

Adapun ayat yang berbunyi:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri. (QS. Ar-Rum [30] : 21)

Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan.(QS. An-Naba’ [78] : 8)

Juga termasuk ayat-ayat yang semisal dengannya, maka ayat ini sama sekali tidak terkait dengan
masalah jodoh, dan tidak ada Qorinah apapun yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan A
menikah dengan B, C menikah dengan D, baik secara ( ‫( ) صراحة‬jelas) maupun ( ‫) داللة‬
(penunjukan makna). Tidak hanya itu, secara Manthuq dan Mahfum ayat ini tidak bisa difahami
sebagai ayat jodoh, sebab Sighot (redaksional) ayat serta ( ‫( ) م ْوض ُْوع‬topik pembahasan) memang
tidak menunjuk ke arah sana. Maksud dari diciptakannya manusia berpasang-pasangan tidak lain
adalah bahwa manusia terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan yang dengannya Allah
memperkembangbiakkan spesies manusia di muka bumi, bukan ditetapkannya bahwa A akan
menikah dengan B atau C akan menikah dengan D.

Adapun ayat yang berbunyi Khobitsat adalah untuk Khobitsun, dan Khobitsun adalah buat
Khobitsat (pula), dan Thoyyibat adalah untuk Thoyyibun dan Thoyyibun adalah untuk Thoyyibat
(pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh
itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) (An-Nur; 26)
maka ayat ini juga bukan ayat jodoh. Sebab As-babun Nuzul dari ayat ini adalah terkait dengan
(‫ْث اْ ِإل ْف ِك‬
ُ ‫ ) ح ِدي‬yakni peristiwa tuduhan atas Aisyah yang diisukan berbuat serong dengan seorang
sahabat yang bernama Shofwan bin Mu’ath-thol. Karena itulah para mufassirin ketika
menafsirkan ayat ini, mereka menukil penafsiran Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang
dimaksud ( ‫ ) ْالخ ِبيْثات‬dalam ayat ini adalah ucapan-ucapan yang buruk. Artinya ucapan-ucapan
yang buruk (diantaranya adalah memfitnah wanita baik-baik berbuat zina) hanya akan muncul
dari orang-orang yang buruk, yakni orang-orang munafik atau orang-orang yang hatinya ada
penyakit. Bukannya orang shalih pasti akan menikah dengan wanita shalih dan lelaki shalih akan
menikah dengan wanita shalihah. Karena itu wajar jika diceritakan dalam al-Qur’an bahwa Nabi
Luth a.s beristri wanita yang tidak shalihah sebagaimana istri Fir’aun yang shalihah bersuami
Fir’aun yang kafir. Hal ini dikarenakan urusan pernikahan adalah mu’amalah biasa bukan
sesuatu yang telah ditetapkan sebagai mana rizki dan ajal. Jadi ayat ini tidak sah digunakan
sebagai dalil bahwa persoalan jodoh adalah sesuatu yang ditakdirkan, atau Allah telah
menentukan “kaidah umum” dalam pengaturan jodoh seseorang.

Dari sini bisa difahami, bahwa jodoh bukanlah perkara yang sudah ditetapkan di Lauhul
Mahfudz, tetapi ia adalah mu’amalah biasa sebagaimana mu’amalah yang lain, yang berada di
area yang dikuasai manusia dan manusia dihisab atasnya.

Namun pemahaman bahwa jodoh adalah sesuatu yang berada dalam area yang dikuasai manusia
bukan berarti pengingkaran bahwa Allah adalah ( ‫ ) اْل ُمد ِب ُِّر‬yang bersifat Maha Mengatur dan (
‫ ) ْالحا ِك ُم‬yang Maha Memutuskan. Setiap Mukmin ketika melaksanakan suatu aktivitas dalam
area yang dikuasainya kemudian ternyata apa yang terjadi di luar harapannya dan di luar
dugaannya, maka ia harus ridlo terhadap hal itu dan mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang
Maha Mengatur.
Sebagai contoh: Seorang Muslim hendak naik haji dan sudah menyiapkan semua biaya dan bekal
kemudian secara tiba-tiba Allah memberinya sakit. Pada kondisi ini, harus difahami bahwa
melaksanakan ibadah haji adalah wilayah yang dikuasai manusia, tetapi pemahaman ini harus
disertai keyakinan bahwa Allah bersifat ( ‫) اْل ُمدبِ ُِّر‬. Dengan demikian ia menjadi ridlo terhadap
segala apa yang menimpanya, karena semua itu berada diluar kuat kuasanya.

Demikian pula dalam persoalan pasangan hidup. Memilih siapapun yang akan menjadi pasangan
hidup semuanya adalah perkara (‫اري‬ ْ akan tetapi terkait dengan kesepakatan, ini adalah
ِ ‫)اخ ِتي‬,
masalah lain. Seorang dalam memutuskan sesuatu boleh jadi Allah mencondongkan pada suatu
keputusan tertentu, boleh jadi membiarkannya. Sebab Allah adalah Dzat yang kuasa membolak-
balikkan hati manusia. Namun ketika Allah mencondongkan pada suatu keputusan, bukan berarti
Allah memasangkan X dengan Y atau P dengan Q sejak zaman Azali, alasannya orang masih
punya pilihan mutlak untuk memutuskan hatta terhadap sesuatu yang berlawanan sama sekali
dengan kehendaknya. Karena itu keimanan yang harus dimiliki adalah keimanan bahwa Allah
bersifat ( ‫ ) اْل ُمدبِ ُِّر‬secara mutlak, baik pada area yang dikuasai manusia maupun yang tidak
dikuasai manusia, bukan keimanan bahwa Allah telah menetapkan dalam Lauhul Mahfudz
bahwa A dipasangkan dengan B atau C dipasangkan dengan D.

Atas dasar ini semua pemahaman yang belum sesuai dengan nash-nash syara’ sesegera mungkin
harus dikoreksi. Tidak boleh menjadikan alasan kemaslahatan misalnya: “cara ini cukup efektif
untuk menghentikan orang dari pacaran” untuk mengadopsi pemahaman yang keliru tentang
jodoh. Alasannya hal ini adalah persoalan hukum syara’ bukan persoalan uslub dakwah yang
masih mungkin dipilih uslub yang paling tepat.

Kesimpulan:

Jodoh merupakan sebuah pilihan, bukan ketetapan dari Allah. Tidak ada satupun nash-nash di
dalam al qur’an maupun di dalam hadist yang mengindikasikan bahwa Jodoh adalah sebuah
takdir/ketetapan dari Allah.

Adapun ketika manusia di dalam kandungan, memang ada hadist yang menerangkan bahwa Ajal
dan Rezeki telah Allah tetapkan, namun tidak ada kata Jodoh pada isi hadist tersebut.

‫ع ْن ع ْب ِدهللاِ قال‬:
‫ ث ُ َّم ي ُك ْونُ فِي‬.‫ط ِن أ ُ ِ ِّم ِه أ ْرب ِعيْن ي ْو ًما‬ ْ ‫إِ َّن أحد ُك ْم يُجْ م ُع خ ْلقُهُ فِي ب‬: ‫ق‬
ِ ‫صد ُْو‬ْ ‫ِق ْالم‬ ُ ‫صا د‬ َّ ‫ وهُو ال‬،‫س ْو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم‬ ُ ‫حدثنا ر‬
،‫ب ِر ْز ِق ِه‬ ُ
ِ ِ‫ت‬‫ك‬ُ ‫ب‬ :ٍ
‫ت‬ ‫ا‬ ‫م‬‫ل‬ ‫ك‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ر‬
ِ ِ ْ ِ ُ‫أ‬ ‫ب‬ ‫ر‬ ‫م‬ ْ‫ُؤ‬ ‫ي‬‫و‬ . ‫ح‬ ‫و‬ ‫الر‬ ‫ه‬
ْ ُّ ِ ِ‫ي‬
ْ ‫ف‬ ُ
‫خ‬ ُ ‫ف‬‫ن‬ْ ‫ي‬‫ف‬ ‫ك‬‫ل‬ ‫م‬ ْ
‫ال‬ ُ
‫ل‬ ‫س‬ ‫ُر‬ ‫ي‬
ِ ْ َّ ‫م‬ ُ ‫ث‬ . ‫ك‬‫ل‬ِ ‫ذ‬ ‫ل‬ ْ ‫ث‬‫م‬ ِ ً ‫ة‬ ‫ْغ‬
‫ض‬ ‫م‬ ‫ك‬‫ل‬ ‫ذ‬
ُ ِ ِ ْ َّ‫ي‬ ‫ف‬ ُ‫ن‬ ‫و‬ ُ
‫ك‬ ‫ي‬ ‫م‬ُ ‫ث‬ . ‫ك‬ ‫ل‬
ِ ‫ذ‬ ‫ل‬ ْ ‫ث‬‫م‬ ً
ِ ‫ذ ِلك عل‬
‫ة‬ ‫ق‬
َّ ْ َّ
.‫ فوالذِي ال إِله غي ُْرهُ! إِ َّن أحد ُك ْم لي ْعم ُل بِعم ِل أ ْه ِل الجنَّ ِة حتَّى ما ي ُك ْونُ بيْنهُ وبيْنها إِال ِذراع‬.‫ وش ِقي أ ْو س ِعيْد‬،‫ وعم ِل ِه‬،‫وأج ِل ِه‬
َّ‫ حتَّى ما ي ُك ْونُ بيْنهُ وبيْنها إال‬.‫ار‬ ِ َّ‫ و ِإ َّن أحد ُك ْم لي ْعم ُل ِبعم ِل أ ْه ِل الن‬.‫ فيدْ ُخلُها‬.‫ار‬ ِ َّ‫ في ْعم ُل ِبعم ِل أ ْه ِل الن‬. ُ‫في ْس ِب ُق عل ْي ِه ْال ِكتاب‬
ُ ْ ْ
‫ فيدْ ُخل ُها‬.‫ في ْعم ُل بِعم ِل أ ْه ِل الجنَّ ِة‬. ُ‫ في ْسبِ ُق عل ْي ِه ال ِكتاب‬.‫ذِراع‬

Hadist riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami:

Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama
empat puluh hari (sebagai nutfah).
Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama
itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan
diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta
apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia.

Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan
amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja
namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka
masuklah ia ke dalam neraka.

Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai
ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului
takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.

Related Interests