MAKALAH PRINSIP STRATIGRAFI & SEDIMENTOLOGI

“Fasies dan Ketidakselarasan”

Disusun Oleh :

 Awal Pratama (1601055)
 Gamma Airlangga A.S.P (1601037)
 Haza Umaya (1601036)
 Muhammad Faisal Akbar (1601016)

Kelas : Teknik Perminyakan Reg. A ‘16

JURUSAN S1 TEKNIK PERMINYAKAN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK & GAS BUMI
BALIKPAPAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan nikmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan makalah ini dapat
diselesaikan sebagaimana mestinya sesuai waktu dan kesempatan yang telah
diberikan.

Terlebih dahulu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Bapak Oktoviktor Limbong, ST., selaku Dosen Penganpu mata kuliah
Prinsip Stratigrafi dan Sedimentologi yang telah mendukung kami dalam
pembuatan makalah ini.

Kami sangat berharap bahwa makalah ini dapat memberikan kontribusi
positif dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai fosil
dan batuan, serta korelasinya terhadap skala waktu geologi. Kami sadari bahwa
penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kami juga berharap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
makalah yang akan kami buat pada masa yang akan datang.

Semoga makalah ini dapat mudah dipahami bagi siapapun yang
membacanya, dan khususnya berguna teruntuk kami sendiri. Kami mohon maaf
apabila terdapat banyak kesalahan dan kata-kata yang kurang berkenan kepada
siapapun yang membacanya. Terima kasih.

Balikpapan, 14 Mei 2017

Penyusun

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………… ..................... 2

DAFTAR ISI……………………………………………………………... ..................... 3

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………… ..................... 4

BAB I : PENDAHULUAN ……………………………………………... .................... 5

1.1 Definisi Fasies …………………………………………........... .................... 5

1.2 Macamp-macam Fasies ………………………………………. .................... 5

1.3 Definisi Ketidaklarasan ………………………………………. .................... 9

BAB II : Fasies & Ketidakselarasan ……………………………………................... 10

2.1 Lithofasies ………………………………….........…………… .................. 10

2.2 Biofasies ....................………………….……………………… .................. 11

2.3 Fasies Pengendapan ……………….…………………………... ................. 12

2.4 Hubungan Antar Fasies ................................................................................. 16

2.5 Ketidakselarasan ....................…………………………………. ................. 17

KESIMPULAN …………………………………………………………..................... 21

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. ................. 22

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. : Asosiasi Fasies ……………………………………………. .................... 7

Gambar 2.1. : Analisa Fasies Sedimen ...............................……………….................... 11

Gambar 2.2. : Biofasies Pada Tribolita …………………………………… .................. 12

Gambar 2.3. : Distribusi Ichnofasies Laut Dalam ………………………… .................. 12

Gambar 2.4. : Delta ......................................................................................................... 14

Gambar 2.5. : Pantai ........................................................................................................ 14

Gambar 2.6. : Tidal Flats................................................................................................. 15

Gambar 2.7. : Reefs ......................................................................................................... 15

Gambar 2.8. : Sea Level .................................................................................................. 16

Gambar 2.9. : Tipe-tipe Ketidakselarasan ………………………………… .................. 17

Gambar 2.10. : Non Conformity …………………………………………… ................ 18

Gambar 2.11 : Angular Unconformity ……………………………………. .................. 18

Gambar 2.12. : Disconformity ...............................................................….. ................. 19

Gambar 2.13. : Para Conformity .........................………………………….. ................. 20

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Definisi Fasies

Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki
kombinasi karakteristik yang khas dilihat dari litologi, struktur
sedimen dan struktur biologi memperlihatkan aspek fasies yang
berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di bawah, atas dan di
sekelilingnya.
Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association
dimana fasies-fasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga
asosiasi fasies ini memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas
asosiasi fasies bisa disebut atau dipandang sebagai basic architectural
element dari suatu lingkungan pengendapan yang khas sehingga akan
memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya (Walker dan James,
1992).

1.2. Macam-macam Fasies

1. Facies Model
Model fasies adalah miniatur umum dari sedimen yang
spesifik. Model fasies adalah suatu model umum dari suatu
sistem pengendapan yang khusus ( Walker , 1992).
Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari
fasies dengan diagram blok atau grafik dan kesamaan.
Ringkasan model ini menunjukkan sebagaio ukuran yang
bertujuan untuk membandingkan framework dan sebagai
penunjuk observasi masa depan. model fasies memberikan
prediksi dari situasi geologi yang baru dan bentuk dasar dari
interpretasi lingkungan. pada kondisi akhir hidrodinamik.
Model fasies merupakan suatu cara untuk menyederhanakan,
menyajikan, mengelompokkan, dan menginterpretasikan data
yang diperoleh secara acak.
Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya
adalah: :
a. Model Geometrik berupa peta topografi, cross section,
diagram blok tiga dimensi, dan bentuk lain ilustrasi grafik
dasar pengendapan framework.
b. Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray
dalam erosi dan deposisi oleh waktu .

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 5
c. Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti
regresi linear multiple, analisis trend permukaaan dan
analisis faktor. Statistika model berfungsi untuk
mengetahui beberapa parameter lingkungan pengendapan
atau memprediksi respon dari suatu elemen dengan elemen
lain dalam sebuah proses-respon model.

2. Facies Sequence
Suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen
tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies
ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat
fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh
eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan
tidak dari interpretasi global atau asalnya regional (sea level
change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya ada
perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically
unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
a. membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
b. terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
c. mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
d. selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
e. batas sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up
ward.

3. Asosiasi Fasies
Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa
fasies adalah suatu lapisan atau kumpulan lapisan yang
memperlihatkan karakteristik litologi, geometri dan
sedimentologi tertentu yang berbeda dengan batuan di
sekitarnya. Suatu mekanisme yang bekerja serentak pada saat
yang sama. Asosiasi fasies didefinisikan sebagai suatu
kombinasi dua atau lebih fasies yang membentuk suatu tubuh
batuan dalam berbagai skala dan kombinasi. Asosiasi fasies ini
mencerminkan lingkungan pengendapan atau proses dimana
fasies-fasies itu terbentuk. Sekelompok asosiasi fasies endapan
fasies digunakan untuk mendefinisikan lingkungan sedimen
tertentu. Sebagai contoh, semua fasies ditemukan di sebuah
fluviatile lingkungan dapat dikelompokkan bersama-sama
untuk menentukan fasies fluvial asosiasi. Pembentukan dibagi
menjadi empat fasies asosiasi (FAS), yaitu dari bawah ke atas.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 6
Litologi sedimen ini menggambarkan lingkungan yang
didominasi oleh braided stream berenergi tinggi.

. Gambar 1.1 Asosiasi Fasies

a. Asosiasi fasies 1
Asosiasi fasies terendah di unit didominasi oleh
palung lintas-stratifikasi, tinggi energi braided stream
yang membentuk dataran outwash sebuah sistem aluvial.
Trace fosil yang hampir tidak ada, karena energi yang
tinggi berarti depositional menggali organisme tidak dapat
bertahan.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 7
b. Asosiasi fasies 2
Fasies ini mencerminkan lingkungan yang lebih
tenang, unit ini kadang-kadang terganggu oleh lensa dari
FA1 sedimen. Bed berada di seluruh tipis, planar dan
disortir dengan baik. Bed sekitar 5 cm (2 in) bentuk tebal 2
meter (7 ft) unit "bedded sandsheets"- lapisan batu pasit
yang membentuk lithology dominan fasies ini.
Sudut rendah (<20 °), lintas-bentuk batu pasir berlapis unit
hingga 50 cm (19,7 inci) tebal, kadang-kadang mencapai
ketebalan sebanyak 2 meter (7 kaki). Arah arus di sini
adalah ke arah selatan timur - hingga lereng - dan
memperkuat interpretasi mereka sebagai Aeolian bukit
pasir. Sebuah suite lebih lanjut lapisan padat berisi fosil
jejak perkumpulan; lapisan lain beruang riak saat ini
tanda, yang mungkin terbentuk di sungai yang dangkal,
dengan membanjiri cekungan hosting mungkin pencipta
jejak fosil. Cyclicity tidak hadir, menunjukkan bahwa,
alih-alih acara musiman, kadang-kadang innundation
didasarkan pada peristiwa-peristiwa tak terduga seperti
badai, air yang berbeda-beda tabel, dan mengubah aliran
kursus.
c. Asosiasi fasies 3
Fasies ini sangat mirip FA1, dengan peningkatan
pasokan bahan clastic terwakili dalam rekor sedimen tdk
halus, diurutkan buruk, atas-fining (yaitu padi-padian
terbesar di bagian bawah unit, menjadi semakin halus ke
arah atas), berkerikil palung lintas-unit tempat tidur hingga
empat meter tebal. Jejak fosil langka. Sheet-seperti sungai
dikepang disimpulkan sebagai kontrol dominan pada
sedimentasi di fasies ini.

d. Asosiasi fasies 4
Asosiasi fasies paling atas muncul untuk
mencerminkan sebuah lingkungan di pinggiran laut.
Fining-up yang diamati pada 0,5 meter (2 kaki) hingga 2
meter (7 kaki) skala, dengan salib melalui seperai pada
unit dasar arus overlain oleh riak. Baik shales batu pasir
dan hijau juga ada. Unit atas sangat bioturbated, dengan
kelimpahan Skolithos - sebuah fosil biasanya ditemukan di
lingkungan laut.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 8
1.3. Definisi Ketidakselarasan

Ketidakselarasan adalah suatu bidang erosi yang memisahkan
batuan yang lebih muda dari lapisan lain yang telah terbentuk
sebelumnya.
Dalam stratigrafi ada suatu fenomena yang disebut dengan
ketidakselarasan(unconformity). Ketidakselarasan berhubungan
dengan sedimentasi antara satu lapisan batuan dengan batuan lain.
Dalam proses sedimentasi, jika sedimentasi normal maka alur
perlapisan batuan akan terlihat normal dan tidak ada perbedaan yang
mencolok tiap lapisan. Akan tetapi kadangkala terdapat kasus dimana
sedimentasi hilang pada satu waktu sehingga terjadi
ketidakselarasan(unconformity) antara lapisan atas dan bawah.
Proses terbentuknya meliputi:
1. Pembentukan batuan tua
2. Adanya erosi dan pengangkatan
3. Pengendapan Batuan yang lebih muda

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 9
BAB II

Fasies & Ketidakselarasan

2.1. Lithofasies
Menurut Selley (1985, dalam Walker dan James 1992)
lithofasies atau fasies sedimen adalah suatu tubuh batuan yang dapat
dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan lain atas dasar geometri,
litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Berbekal cirri
fisik, kimia, dan biologi dapat direkonstruksi lingkungan pengendapan
dari suatu runutan batuan sedimen dan disebut sebagai analisis fasies.
Fasies sedimen merupakan produk dari proses pengendapan ba
tuan sedimen di dalam suatu jenis lingkungan pengendapannya.
Diagnosa lingkungan pengendapan tersebut dapat dilakukan
berdasarkan analisa fasies sedimen, yang merangkum hasil interpretasi
dari berbagai data, diantaranya :
1) Geometri
Umumnya geometri tergantung dari proses
pengendapan yang berlangsung pada lingkungan
sedimentasinya. Seluruh bentuk dari fasies sedimen adalah
fungsi dari topografi sebelum pengendapan, geomorfologi
lingkungan pengendapan, dan sejarah pengendapan.
2) Litologi
Litologi dalam fasies sedimen merupakan salah satu
parameter yang penting untk mengobservasi dan intepretasi
lingkungan pengendapan
3) Struktur Sedimen
Struktur sedimen dan lingkungan pengendapan
menggambarkan indikasi dari kedalaman, tingkat energi,
kecepatan hidrolik, dan arah arus.
4) Paleocurrent
Merupakan arus yang dapat diidentifikasi dari pola-pola
struktur sedimen yang terbentuk pada masa pengendapan

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 10
Gambar 2.1 Analisa fasies sedimen

Ada tiga parameter dalam membedakan fasies sedimen, yaitu :
1) Parameter fisik : temperatur, kedalaman air, kecepatan arus
, sinar matahari, kecepatan angin, dan arahnya.
2) Parameter kimia : komposisi air (salinitas), mineralogi
(Auchthonus atau allochthnus).
3) Parameter biologi : Soil, tumbuhan darat, tumbuhan air dan
binatang

2.2. Biofasies

Biofasies adalah pembagian satuan endapan berdasarkan fosil-
fosil yang dikandungnya. Biofasies juga bisa diartikan dengan adanya
kehadiran flora dan fauna.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 11
Gambar 2.2 Biofasies pada tribolita

j

ftjftjfthgvnbvgcvgfcfGambar 2.3 Distribusi Ichnofasies Laut Dalam

2.3. Fasies Pengendapan

Lingkungan pengendapan adalah suatu daerah di permukaan
bumi dimana terdapat sesuatu bahan yang terendapkan atau terdapat
suatu deposit. Lingkungan pengendapan dapat dibedakan dengan
daerah sekitarnya berdasarkan karakteristik biologi, kimia, dan
fisiknya. Terdapat beberapa tipe lingkungan pengendapan yang ada di
bumi sekarang.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 12
2.3.1 Lingkungan Pengendapan Daratan

1. Kipas Aluvial (Aluvial Fans)
endapan menyerupai kipas yang terbentuk di kaki gunung. Alluvial
fans umum berada di daerah kering sampai semi-kering dimana curah
hujan jarang tetapi deras, dan laju erosi besar. Endapan alluvial fan khas
akan kwarsa, pasir dan gravel bersorting buruk.
2. Lingkungan Fluvial (Fluvial Environments)
mencakup braided river, sungai bermeander, dan jeram. Saluran-saluran
sungai, ambang sungai, tanggul, dan dataran-dataran banjir adalah bagian
dari lingkungan fluvial. Endapan di saluran-saluran sungai terdiri dari
kwarsa, gravel dengan kebundaran baik, dan pasir. Ambang sungai
terbentuk dari gravel atau pasir, tanggul-tanggul terbuat dari pasir berbutir
halus ataupun lanau. Sementara, dataran-dataran banjir ditutupi oleh
lempung dan lanau.
3. Lacustrine environments (danau): mempunyai karakteristik yang
bermacam-macam; besar atau kecil, dangkal atau dalam; diisi oleh
sedimen evaporit, karbonatan, atau terrigeneous. Sedimen berbutir halus
dan bahan organic yang mengendap pada beberapa danau menghasilkan
serpih berlapis yang mengandung minyak.
4. Gurun (Aeolian or aolian environments): biasanya berupa daerah luas
dengan bukit-bukit dari endapan pasir. Endapan pasir mempunyai sorting
yang baik, kebundaran yang baik, cross-bedded tanpa adanya asosiasi
dengan gravel atau lempung.
5. Rawa (Paludal environments): air yang diam dengan tumbuhan hidup
didalamnya. Terdapat endapan batu bara.

2.3.2 Lingkungan Pengendapan Transisi

Lingkungan pengendapan transisi adalah semua lingkungan
pengendapan yang berada atau dekat pada daerah peralihan darat
dengan laut.

 Delta: endapan berbentuk kipas, terbentuk ketika sungai mengaliri badan
air yang diam seperti laut atau danau. Pasir adalah endapan yang paling
umum ditemui.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 13
Gambar 2.4 Delta

 Pantai dan barrier islands: didominasi oleh pasir dengan
fauna marine. Barrier islands terpisah dari pulau utama oleh lagoon.
Umumnya berasosiasi dengan endapan tidal flat.

Gambar 2.5 Pantai

 Lagoons: badan dari air yang menuju darat dari barrier
islands. Lagoons dilindungi dari gelombang laut yang merusak
oleh barrier islands dan mengandung sediment berbutir lebih halus
dibandingkan dengan yang ada di pantai (biasanya lanau dan
lumpur). Lagoons juga hadir di balik reef atau berada di pusat atoll.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 14
 Tidal flats: membatasi lagoons, secara periodik mengalami pasang surut
(biasanya 2 kali sehari), mempunyai relief yang rendah, dipotong oleh
saluran yang bermeander. Terdiri dari lapisan-lapisan lempung, lanau,
pasir halus. Stromatolit dapat hadir jika kondisi memungkinkan.

Gambar 2.6 Tidal Flats

2.3.3 Lingkungan Pengendapan Laut

 Reefs: tahan terhadap gelombang, strukturnya terbentuk dari
kerangka berbahan calcareous dari organisme seperti koral dan
beberapa jenis alga. Kebanyakan reef zaman resen berada pada laut
yang hangat, dangkal, jernih, laut tropis, dengan koordinat antara
garis lintang 30oN dan 30oS. Cahaya matahari diperlukan untuk
pertumbuhan reef.

Gambar 2.7 Reefs

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 15
 Continental shelf: terletak pada tepi kontinen, relative datar (slope < 0.1o),
dangkal (kedalaman kurang dari 200 m), lebarnya mampu mencapai
beberapa ratus meter. Continental shelf ditutupi oleh pasir, lumpur, dan
lanau.

 Continental slope dan continental rise: terletak pada dasar laut
dari continental shelf. Continental slopeadalah bagian paling curam pada
tepi kontinen. Continental slope melewati dasar laut menuju continental
rise, yang punya kemiringan yang lebih landai. Continental rise adalah
pusat pengendapan sedimen yang tebal akibat dari arus turbidity.

 Abyssal plain: merupakan lantai dasar samudera. Pada dasarnya datar dan
dilapisi oleh very fine-grained sediment, tersusun terutama oleh lempung
dan sel-sel organisme mikroskopis seperti foraminifera, radiolarians dan
diatom.

Gambar 2.8 Sea Level

2.4 Hubungan Antar Fasies

Pengertian hubungan antar fasies dapat didefinisikan sebagai
hubungan antara satu facies dengan facies yang lainnya baik secara
lateral maupun vertikal. Secara lateral tentu berhubungan dengan
paleogeografi / paleoenvironment. Misalnya facies dari paparan ke
facies di lereng cekungan; secara vertikal berhubungan dengan urutan
evolusi geologi, misalnya facies paparan berubah ke atasnya menjadi
facies lereng (berarti ada pendalaman atau transgersi dari bawah ke
atas).
Hubungan suatu fasies dapat digagaskan dalam pembagian
grup fasies yang terjadi secara bersama – sama yang selanjutnya akan
berkaitan dengan lingkungan. Sebagai contohnya, jika pada perlapisan
silang siur batupasir asosiasi terdekatnya adalah dengan
terkandungnya tanah, batubara, atau serpih lanauan yang mengandung
Fasies dan Ketidakselarasan Hal 16
akar, daun, dan batang, kita bisa membuat interpretasi
pengendapannya pada sistem sungai. Dalam mempelajari hubungan
fasies dan urutannya, kita harus benar – benar memperhatikan keadaan
alami dari kontak hubungan antara fasies dan derajat urutan baik acak
maupun tidak

2.5 Ketidakselarasan

Ketidakselarasan adalah permukaan erosi atau non-deposisi
yang memisahkan lapisan yang lebih muda dari yang lebih tua dan
menggambarkan suatu rumpang waktu yang signifikan.
Ketidakselarasan digolongkan berdasarkan hubungan struktur antar
batuan yang ditumpangi dan yang menumpangi. Ia menjelaskan
rumpang pada sikuen stratigrafi, yang merekam periode waktu yang
tidak terlukiskan di kolom stratigrafi. Ketidakselarasan juga merekam
perubahan penting pada satu lingkungan, mulai dari proses
pengendapan menjadi non-deposisi dan/atau erosi, yang umumnya
menggambarkan satu kejadian tektonik yang penting.

Gambar 2.9 Tipe-tipe Ketidakselarasan

2.4.1 Non Conformity

Non Conformity adalah fenomena adanya lapisan batuan
beku/metamorf yang dibawah lapisan sedimen, atau dapat juga
diartikan ketidakselarasan yang terjadi ketika batuan sedimen
menumpang di atas batuan kristalin (batuan metamof atau batuan
beku).

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 17
Gambar 2.10 Non Conformity

2.4.2 Angular Unconformity

Angular Unconformity Adalah fenomena dimana beberapa
lapisan sedimen memiliki perbedaan sudut yang tajam dengan lapisan
di atasnya (ketidakselarasan menyudut). Ketidakselarasan dimana
lapisan yang lebih tua memiliki kemiringan yang berbeda (umumnya
lebih curam) dibandingkan dengan lapisan yang lebih muda.
Hubungan ini merupakan tanda yang paling jelas dari sebuah rumpang,
karena ia mengimplikasikan lapisan yang lebih tua terdeformasi dan
terpancung oleh erosi sebelum lapisan yang lebih muda diendapkan.

Gambar 2.11 Angular Unconformity

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 18
2.4.3 Disconformity

Disconformity adalah hubungan antara lapisan batuan sedimen
yang dipisahkan oleh bidang erosi. Fenomena ini terjadi karena
sedimentasi terhenti beberapa waktu dan mengakibatkan lapisan paling
atas tererosi sehingga menimbulkan lapisan kasar. Ketidakselarasan
dimana lapisan yang berada di bagian atas dan bawah sejajar, namun
terdapat bidang erosi yang memisahkan keduanya (umumnya
berbentuk tidak rata dan tidak teratur).

Gambar 2.12 Disconformity

2.4.4 Paraconformity

Paraconformity adalah hubungan antara dua lapisan sedimen
yang bidang ketidakselarasannya sejajar dengan perlapisan sedimen.
Pada kasus ini sangat sulit sekali melihat batas ketidakselarasannya
karena tidak ada batas bidang erosi. Cara yang digunakan untuk
melihat keganjilan antara lapisan tersebut adalah dengan melihat fosil
di tiap lapisan. Karena setiap sedimen memiliki umur yang berbeda
dan fosil yang terkubur di dalamnya pasti berbeda jenis. Lapisan yang
berada di atas dan di bawah bidang ketidakselarasan berhubungan
secara sejajar/paralel dimana tidak terdapat bukti permukaan erosi,
namun hanya bisa diketahui berdasarkan rumpang waktu batuan.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 19
Gambar 2.13 Paraconformity

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 20
KESIMPULAN

Dari Penjabaran diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwasannya fasies
adalah suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi karakteristik yang khas
dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi memperlihatkan aspek
fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di bawah, atas dan di
sekelilingnya

Fasies yang kita bahas yaitu lithofasies, biofasies, dan Fasies
pengendapan. Hubungan antar fasies ini dapat diartikan sebagai hubungan antara
satu facies dengan facies yang lainnya baik secara lateral maupun vertikal. Secara
lateral tentu berhubungan dengan paleogeografi / paleoenvironment.

Ketidakselarasan adalah permukaan erosi atau non-deposisi yang
memisahkan lapisan yang lebih muda dari yang lebih tua dan menggambarkan
suatu rumpang waktu yang signifikan. Ketidakselarasan digolongkan berdasarkan
hubungan struktur antar batuan yang ditumpangi dan yang menumpangi. Ia
menjelaskan rumpang pada sikuen stratigrafi, yang merekam periode waktu yang
tidak terlukiskan di kolom stratigrafi. Ketidakselarasan juga merekam perubahan
penting pada satu lingkungan, mulai dari proses pengendapan menjadi non-
deposisi dan/atau erosi, yang umumnya menggambarkan satu kejadian tektonik
yang penting. Jenis-jenis ketidakselaran ada 4 macam Paraconformity,
Disconformity, Angular Unconformity dan yang terakhir Non Conformity.

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 21
DAFTAR PUSTAKA

https://geograph88.blogspot.co.id/2013/03/jenis-ketidakselarasan-unconformity.html

http://ensiklopediseismik.blogspot.co.id/2008/01/ketidakselarasan.html

https://anggajatiwidiatama.wordpress.com/2013/06/14/fasies/

https://pengertianpengertian.blogspot.co.id/2015/12/pengertian-biofasies-biofacies.html

http://geofact.blogspot.co.id/2011/01/lingkungan-dan-fasies.html

http://fauziahedogawa.blogspot.co.id/

http://blogsemaumu.blogspot.co.id/2013/04/fasies.html

http://sedimentologiduaribusembilan.blogspot.co.id/2010/12/fasies.html

http://suarageologi.blogspot.co.id/2013/12/lingkungan-pengendapan-batuan-
sedimen.html

Fasies dan Ketidakselarasan Hal 22