BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Daya ingat adalah kemampuan psikis untuk menerima, menyimpan dan menghadirkan
kembali rangsangan atau peristiwa yang pernah dialami seseorang. Secara umum dikatakan
bahwa hampir semua orang akan mengalami masalah daya ingat suatu saat karena proses
penuaan. Selain itu,dalam kesehariankita semakin dihadapkan pada kondisi lingkungan yang
tidak sehat. Polusi udara dan pola makan tidak sehat dapat mengakibatkan dampak yang
buruk bagi kesehatan dan fungsi otak (Noverina, 2011 ).
Kehilangan sedikit daya ingat yang disebabkan faktor usia atau stres dapat
menimbulkan masalah, meskipun hal tersebut bersifat normal. Tapi terkadang kehilangan
ingatan merupakan sebuah gejala dari kondisi tertentu, misalnya demensia (penurunan daya
ingat). Terdapat beberapa cara dalam menangani dan mengurangi perkembangan demensia.
Umumnya pengobatan yang tersedia hanya dapat mengurangi gejala atau memperlambat
perkembangan dari demensia tersebut secara sementara. Pengobatan yang tersedia merupakan
yang terbaik untuk sementara mengurangi gejala-gejalanya atau memperlambat
perkembangan dari demensia tersebut. Diantaranya adalah nutrisi dan vitamin yang dapat
membantu kinerja otak dalam proses meningkatkan daya ingat agar otak dapat bekerja secara
maksimal (Noverina, 2011).
Pegagan dapat membantu menyeimbangkan energi serta menurunkan gejala stres dan
depresi, bahkan pegagan juga dipercaya dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi pada
anak yang mengalami retardasi mental. Pegagan dapat meningkatkan short term memory dan
kemampuan belajar karena aksi nootropik melibatkan modulasi kolinergik dan GABAergik.
Diperkirakan peningkatan memori disebabkan oleh penurunan pengubahan monoamine
sentral, melibatkan 2 norepinephrine, dan sistem 5-HT (5-hydrotetraamine) pada proses
learning and memory (Annisa, 2006).
Senyawa aktif (triterpen) dari pegagan (Centella asiatica (L) Urban) dengan dosis 40
mg/kg BB terbukti mempunyai efek meningkatkan fungsi kognitif (belajar dan mengingat)
pada mencit (Mus musculus) betina yang setara dengan pirasetam 500 mg/kg BB (p>0,05)
(Herlina, 2011). Penelitian ini membuktikan, tanaman pegagan atau Centella ini dapat

) dapat dibuat menjadi sediaan chewable lozenges menggunakan gelatin gliserin sebagai basisnya? 2. Basis yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelatin gliserin. Bentuk dan rasa chewable lozenges diharapkan lebih disukai karena lebih mudah dalam penyimpanan dan penggunaan. dan stabilitas fisik (Rahayu. Membuat formulasi chewable lozenges ekstrak pegagan (Cantella asiatica) menggunakan basis gelatin gliserin .meningkatkan kemampuan belajar dan memori seseorang.Tujuan Penelitian 1. Variasi dari gelatin gliserin diharapkan mampu menghasilkan lozenges dengan sifat fisik yang baik. Gelatin merupakan bahan yang mampu mengembang di dalam air dan dapat membentuk sediaan yang kenyal atau gummy seperti gel dengan penambahan gliserin (Rowe. sehingga sangat menguntungkan bagi konsumen yang memiliki kesulitan dalam menelan. Chewable lozenges merupakan sediaan yang berbentuk kenyal atau gummy sehingga diperlukan bahan yang dapat membentuk sediaan menjadi kenyal atau gummy. waktu leleh. 2010) Berdasarkan latar belakang tersebut. 2006). elastisitas. Bahan yang paling berpengaruh adalah basis. konsistensi sediaan. Gelatin dengan persentase yang semakin tinggi akan membuat sediaan menjadi keras dan kaku. tekstur permukaan. dengan demikian ia cukup mengulum chewable lozenges tersebut. Apakah ekstrak pegagan (Cantella asiatica L. sehingga dibutuhkan basis yang tepat dalam pembuatan chewable lozenges. sedangkan gliserin dengan presentase yang semakin tinggi akan menjadikan sediaan lunak atau lembek.3. Apakah chewable lozenges yang dibuat dapat memenuhi persyaratan rasa yang dapat diterima oleh pasien 1.2. tanaman ini juga dikenal sebagai "makanan otak". Sifat fisik chewable lozenges meliputi warna produk. keseragaman bobot. maka pada penelitian kali ini akan dibuat sediaan Chewable lozenges atau gummy yang mengandung ekstrak daun pegagan sebagai penguat daya ingat. kecerahan produk. Karena manfaatnya itu. penampilan. sehingga kombinasi dari gelatin dan gliserin yang proporsional akan mampu menjadi basis yang baik untuk sediaan chewable lozenges. 1. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakan pengaruh perbandingan konsentrasi basis gelatin gliserin terhadap sifat fisik chewable lozenges? 3.

2. Menemukan formula sediaan chewable lozenges yang memenuhi persyaratan rasa yang dapat diterima oleh pasien . Menemukan formula sediaan chewable lozenges terbaik yang sesuai dengan Farmakope Indonesia dan kepustakaan yang ada 3.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.