You are on page 1of 39

LAPORAN PBL SISTEM GASTROENTERO HEPATICA

LAPORAN PBL SISTEM GASTROENTERO HEPATICA Tutor MODUL 1 : MUNTAH DARAH KELOMPOK 1 CEMPAKA PUTIH :

Tutor

MODUL 1 : MUNTAH DARAH KELOMPOK 1 CEMPAKA PUTIH : Dr. Farsida

Ketua Kelompok

: Ambiyo Budiman

(2012730117)

Sekretaris

: Siti Sahara Andiyanti

(2012730156)

Anggota

: Nur Sigit

(2012730151)

Lidia Dwi Putri

(2011730054)

Jovan Octara

(2011730143)

Amalia Devi

(2012730116)

Fanny Nurlatifah

(2012730125)

Grisel Nandecya

(2012730129)

Novia Ayu Larasati

(2012730144)

Rivaldi Puala Yuka

(2012730151)

Rizka Sekar Kinasih (2012730154)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2014

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya maka Laporan Tutorial Sistem GEH Modul 1 dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tidak lupa kita sampaikan salam dan shalawat kepada Rasul junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman nanti.

Laporan ini kami buat untuk memenuhi tugas wajib yang dilakukan setelah diskusi Tutorial.Pembuatan laporan ini bertujuan untuk meringkas semua materi yang ada di Muntah Darah.

Terima kasih kami ucapkan kepada dr. Farsida yang telah membantu kami dalam kelancaran diskusi Tutorial serta dalam membuatan laporan ini, serta terima kasih pula kepada seluruh pihak yang sudah membantu kami dalam mencari informasi, mengumpulkan data, dan menyelesaikan laporan ini. Semoga laporan ini memberikan manfaat kepada orang lain terutama para Mahasiswa Kedokteran.

Laporan ini masih jauh dari kata sempurna, maka dimohonkan kritik dan saran yang membangun agar kelak dapat lebih baik dari pada sebelumnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Jakarta, September 2014

Penyusun

Daftar Isi

Tujuan Intruksional Umum……………………………………………………………

i

Skenario………………………………………………………………………………. ii

Kata/ kalimat kunci…………………………………………………………………… iii

  • 1. Jelaskan anatomi, fisiologi dari system pencernaan atas dan bawah

  • 2. Jelaskan biokimia, histologi dari system pencernaan atas dan bawah

  • 3. Jelaskan mekanisme dan definisi muntah darah sesuai dengan klasifikasinya

  • 4. Jelaskan etiologi muntah darah

  • 5. Apakah hubungan pasien minum obat rematik dengan muntah darah

  • 6. Jelaskan alur diagnosis pada skenario

  • 7. Jelaskan pencegahan muntah darah hitam

  • 8. Sebutkan dan jelaskan penyakit dengan muntah darah

  • 9. Jelaskan penatalaksanaan bedah dan non bedah dan kapan harus dilakukannya

    • 10. Jelaskan faktor resiko muntah darah

    • 11. Asupan gizi untuk penyakit dengan muntah darah

I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Gastroenterologi ialah suatu ilmu yang mempelajari kelainan atau penyakit pada jalan makanan atau pencernaan. Kedalamnya termasuk kelainan-kelainan atau penyakit kerongkongan (esophagus), lambung (gaster), usus halus (intestinum), usus besar (colon), hati (liver), saluran empedu (tractus biliaris) dan pancreas.

I.2 Tujuan Pembelajaran TIU:

Setelah selesei mempelajari modul ini, para mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang pathogenesis, penyebab, diagnosis kerja, diagnosis banding serta penanganan (kegawatdaruratan dan non-kegawatdaruratan) dan pencegahan dari penyakit dengan keluhan hematemesis melena ini.

TIK:

Setelah mempelajari modul ini, para mahasiswa diharapkan dapat:

  • 1. Menjelaskan patomekanisme muntah darah dan BAB hitam (Anatomi, Fisiologi, Histologi saluran cerna bagian atas)

  • 2. Menjelaskan penyebab hematemesis melena Didalam saluran cerna:

Esofagus: varises esophagus, ulserasi, Mallory-weiss tear, tumor esophagus,

Lambung: tukak peptic, stress ulcer, gastropati hipertensi portal, tumor lambung, teleangiektasis herediter, gastritis erosive, dieulafoy’s lesion.

Duodenum: Tukak peptic, duodenum erosive

Diluar saluran cerna: defek hemostatic, angiodisplasia, keadaan sakit berat (stress ulcear) Menjelaskan obat-obat yang bersifat ilserogenik pada saluran cerna bagian atas.

  • 3. Menjelaskan langkah-langkah pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis kelainan dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan definisi hematemesis melena, derajatnya dan kegawatdaruratan pada penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan cara pemeriksaan klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisik) pada penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan pemeriksaan laboratorium klinik yang diperlukan pada keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis yang diperlukan pada keluhan hematemesis melena.

  • 4. Menjelaskan pentalaksanaan non-farmakologis, farmakologis dan tindakan intervensi (bedah dan non-bedah) pada penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan penatalaksanaan kegawadaruratan sebelum merujuk ke pelayanan kesehatan yang lebih tinggi pada penyakit keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan penatalaksanaan terapi non-farmakologis pada penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan terapi farmakologis pada penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan terapi tindakan intervensi (non bedah dan bedah) pada penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan asuhan gizi pada penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

5.

Menjelaskan pencegahan primer dan sekunder pada kelainan dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan epidemiologi penyakit dengan keluhan hematemesis melena.

Menjelaskan pencegahan primer dan sekunder.

I.3

Kegiatan yang dilakukan

Diskusi Tutorial

Pertemuan Mandiri

Mencari Informasi

Presentasi Hasil Diskusi

II.1 Skenario

BAB II

ISI

Seorang laki-laki umur 50 tahun MRS dengan keluhan muntah darah hitam bergumpal selama 2 hari. Pasien sudah 5 tahun mengeluh nyeri ulu hati yang hilang timbul. Sebelum muntah darah, pasien minum obat anti rematik sebanyak 3 tablet oleh karena daerah sendi lutut. Pasien belum berak setelah muntah sampai saat ini.

II.2

Kata/ Kalimat Sulit

-

II.3

Kata/ Kalimat Kunci

Laki-laki umur 50 tahun

Muntah darah hitam bergumpal selama 2 hari

Pasien sudah 5 tahun mengeluh nyeri ulu hati yang hilang timbul

Minum obat anti reumatik sebanyak 3 tablet

Pasien belum berak setelah muntah sampai saat ini

II.4 Identifikasi Masalah

3. Jelaskan patomekanisme dan definisi muntah darah pada pasien?

Muntah/vomitting adalah adalah cara traktus gastrointestinal membersihkan dirinya sendiri dan isinya ketika hampir semua bagian atas traktus gastrointestinal teriritasi secara luas. Distensi / iritasi yang berlebihan dari duodenum menyebabkan rangsangan yang kuat untuk muntah.

Muntah ada beberapa macam , di tinjau dari segi isi atau kandungan muntah , yaitu:

  • a. Muntah berisi darah disebut hematemesis

  • b. Muntah dengan kandungan darah ,dimana zat besi dalam darah telah teroksidasi atau disebut coffee ground vommiting

  • c. Muntah dengan kontraksi duodenal dimana isi muntahan terdapat cairan empedu

  • d. Muntah dengan feses biasanya terjadi pada fistula gastrocolic dan obstruksi intestinal.

Muntah darah atau Hematemesis adalah muntah darah .Warna hematemesis tergantung pada

lamanya hubungan atau kontak antara drah dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal.

Hematemesis adalah muntah darah hitam sedangkan melena adalah pengeluaran kotoran yang hitam seperti ter. Gejala perdarahan Gastrointestinal ini menunjukkan bahwa sumber perdarahan terletak di bagian proksimal. Warna darah yang dimuntahkan tergantung pada konsentrasi asam Hidroclorida didalam lambung dan campurannya dengan darah. Hematemesis biasanya menunjukkan perdarahan di proksimal ligamentum Treitz, karena darah yang memasuki traktus gastrointestinal di bawah duodenum jarang masuk ke lambung.

Etiologi perdarahan saluran cerna bagian atas yang paling sering ditemukan yaitu ulkus peptikum, gastritis erosif, varises, ruptur mukosa esofagogastrika (sindroma Mallory Weiss) dan keganasan.

Hematemesis adalah muntah darah berwarna merah cerah dapat disertai dengan bercak-bercak kehitaman seperti kopi dan termasuk perdarahan saluran cerna bagian atas. Melalui pemeriksaan endoskopi, berdasarkan penyebab hematemesis, dapat dibedakan menjadi variceal dan nonvariceal

(Adi,2006).

Perdarahan variceal disebabkan oleh kelainan fungsi hati dan hipertensi porta. Sehingga pada perdarahan variceal akan ditemukan tanda-tanda kegagalan hati seperti jaundice, eritema palmaris, caput meduse, spider nevi. Perbedaan lain dengan perdarahan nonvariceal adalah bila diberikan NGT berisi air es, perdarahan tidak akan berhenti. Contoh perdarahan variceal adalah perdarahan varises gatroesofagus yang merupakan komplikasi utama hipertensi porta pada sirosis hati

(Adi,2006).

Perdarahan nonvariceal tidak disebabkan oleh kelainan pada hati dan bila diberikan NGT berisi air es, maka perdarahan akan berhenti. Contoh kelainan nonvarises yang menyebabkan perdarahan saluran cerna bagian atas adalah refluks esofagitis, ulkus esofagus, ulkus peptikum, ulkus gaster, ulkus duodeni, kanker lambung, kanker duodeni, gastritis erosif, sindroma Mallory-Weiss (Adi,

2006).

Faktor pencetus muntah dan patomekasnisme muntah Muntah di cetuskan oleh rangsangan iritasi traktus gastrointestinal itu sendiri

Faktor pencetus muntah dan patomekasnisme muntah

Muntah di cetuskan oleh rangsangan iritasi traktus gastrointestinal itu sendiri . muntah juga dapat di sebabkan oleh implus saraf yang timbul pada daerah otak di medulla oblongata area postrema daerah ventrikulus ke empat dekat nervus vagal yang disebut zona pencetus kemoseptor untuk muntah. Perangsangan elektrik pada daerah ini dapat mencetuskan muntah. Pemakaian obat-obat tertentu termasuk apomorfin, morfin, dan beberapa derivat digitalis dapat secara langsung merangsang zona pencetus kemeoreseptor ini dan mencetuskan muntah. Iritasi pada mukosa gastrointestinal akibat kemoterapi, radiasi atau infeksi yang akan menyebabkan aktivasi reseptot Serotoni 5HT3 dimana selanjutnya akan terjadi aktivasi di reseptor pusat muntah. Iritasi pada pharynx dapat menyebabkan stimulasi N.X yang akan menyebabkan gag reflex. Gerakan merangsang resptor di dalam labirin vestibular pada telinga dalam dan dari sini implus di transmisikan terutama lewat jalur nuklei vestibular batang otak ke dalam cerebelum kemudian ke zona pencetus kemoreseptor dan akhirnya ke pusat muntah untuk menyebabkan muntah. Muntah darah disebabkan pecahnya varises esophagus, gastritis erosive, tukak peptic, gastropati kongestif, sindroma Mallory-Weiss, dan keganasan.

Patomekanisme terjadinya muntah akibat sekresi HCl berlebih (Sheerwood, 2001).

Akumulasi HCl di malam hari

N Vagus terangsang

Diterima oleh CTZ (chemoreseptor Trigger Zone) di Medula Oblongata

Cortex serebral dan organ vestibularis

Inspirasi dalam dan penutupan glottis

Diafragma dan otot abdomen berkontraksi

Tekanan intra-abdomen ↑ ↓

Isi abdomen terdorong ke esofagus

Glottis menutup, uvula terangkat

Muntah

Patomekanisme terjadinya muntah darah

Patofisiologi muntah darah :

Produksi HCL pada gaster ↑

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Meningkatkan refleks muntah

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

HCL bersifat merusak jaringan, jika regenerasi jaringan buruk dapat menghancurkan sawar epitel

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Asam berdifusi ke mukosa

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Penghancuran mukosa dan lapisan - lapisan gaster

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Perusakan lapisan pembuluh darah pada gaster

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Destruksi kapiler dan vena

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Perdarahan

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Bercampur dengan HCL

Patomekanisme terjadinya muntah darah Patofisiologi muntah darah : Produksi HCL pada gaster ↑ Meningkatkan refleks muntah

Muntah dengan bercak darah berwarna kehitaman

Skema 1. Patofisiologi Muntah Darah (Price, 2006)

4.

Etiologi muntah darah

Terdapat perbedaan distribusi penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) di Indonesia dengan laporan pustaka barat. Di Indonesia sebagian besar kasus Perdaraha SCBA (lebih kurang 70%) disebabkan oleh pecahnya varises esophagus atau dampak lain dari akibat adanya hipertensi portal (adanya gastropati hipertensi portal), sedangkan di Negara Barat sebagian besar diakibatkan perdarahan tukak peptic dan gastritis erosive. Data statistik ini membawa kita bagaimana harus bersikap bila menghadapi kasus baru pedarahan SCBA. Pemakaian aspirin atau obat non steroid anti inflammatory drugs (NSAID) maupun obat antikoagulan dapat membawa kita untuk memprediksi adanya pedarahan tukak/gastropati NSAID yang dapat teridentifikasi pada proses pemeriksaan penunjang. Tapi tidak jarang kita menghadapi perdarahan karena pecahnya varises esophagus tanpa manifestasi klinik sirosis hati yang klasik pada kasus baru. Berdasarkan dari populasi etiologinya, biasanya kita membagi antara perdarahan variseal dan non-variseal, karena akan berdampak pada perbedaan dalam tatalaksanaannya.

Berdasarkan data penelitian penulisan selama lima tahun (dari permulaan tahun 1980 sampai akhir 1984) pada 353 kasus hematemesis dan melena yang telah dilakukan panendoskopi pada 277 kasus maka dapat ditentukan perdarahan saluran makan bagian atas, antara lain:

  • 1. Kelainan di esophagus

  • 2. Kelainan di lambung

  • 3. Kelainan di duodenum

Etiologi perdarahan SCBA

Sobekan daerah esofago-gastric junction (Mallory Weiss tears)

Pecahnya varises esophagus, gaster dan duodenum

Robeknya esophagus (Boerhaave’s syndrome)

Esofagitis

Tukak esophagus, gaster dan duodenum

Tukak pada anastomosis

Gastritis erosiva

Dieulafoy’s lesion (pecahnya arteri mukosa)

Keganasan SCBA

Hemobilia

Fistula vaskular-enterik

Djodjoningrat D. 2000. Hematemesis Melena. Dalam: penatalaksanaan kedaruratan dibidang ilmu penyakit dalam. Pusat informasi dan penerbitanbagian ilmu penyakit dalam FKUI-RSCM.

Dipantau dari gejala klinis (patofisiologi)

Hematemesis (muntah darah), Melena (Berak encer berwarna hitam) hematokhezia (darah segar berwarna hitam)), Hematokhezia (darah segar bersama buang air besar), Chronic occult gastrointestinal blood loss (kehilangan darah kronis tersembunyi) atau anemia. Penyebab:

  • - Adanya riwayat minum jamu

  • - NSAIDs

  • - Minum alcohol

  • - Riwayat penyakit kuning/hepatitis kronis yang menyebabkan ulkus peptikum

  • - Komplikasi radiasi langsung/tidak langsung

  • - Post- polypectomy Hemorrhage

  • - IBD (inflammatory bowel disease)

  • - Proctitis radiasi

  • - Helicobacter pylori and acid-related disease

  • - Critical ill

  • - Anemia pernisiosa

  • - Portal-hipertensif gastropati (PHG)

  • - Hemorrhoid

5, Hubungan Obat Anti Reumatik dengan Keluhan Pasien

Berbagai obat anti reumatik, salah satunya yang paling banyak digunakan adalah Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS), misalnya indometasin, diklofenak, aspirin (terutama dalam dosis tinggi). Mekanisme kerja OAINS didasarkan atas penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2). COX-1 menghasilkan Prostaglandin (PG) yang dapat melindungi mukosa saluran cerna, sedangkan COX-2 merupaka enzim yang merespon stimulus inflamasi dan menghasilkan PG yang berhubungan dengan inflamasi. Penghambatan COX-1 dapat menyebabkan penurunan agregasi platelet dan terjadinya pendarahan mukosa saluran cerna.

NSAID terbagi menjadi dua macam yaitu NSAID selektif dan non selektif. NSAID selektif bekerja menghambat enzim COX-2 saja dan NSAID non selektif bekerja menghambat enzim COX-1 dan juga COX-2. Karena COX-1 merupakan suatu isoform konstitutif yang terdapat dalam kebanyakan sel dan jaringan normal, contohnya enzim COX-1 menghasilkan PGE 2 dan PGI 2 yaitu prostaglandin utama yang disintesis oleh mukoasa gastrik. Senyawa-senyawa ini (PGE 2 dan PGI 2 ) berfungsi sebagai zat sitoprotektif di mukosa lambung dengan cara: (1) dapat menghambat sekresi asam lambung; (2) meningkatkan aliran darah mukosa; (3) meningkatkan sekresi mucus sitoprotektif. Apabila terjadi penghambatan sintesis senyawa ini (PGE 2 dan PGI 2 ) dapat menyebabkan rusaknya mukosa lambung, dan terjadilah nyeri ulu hati (epigastrium).

Perlu diketahui, sekresi asam lambung dipengaruhi oleh histamine yang bekerja sebagai sekretagog (senyawa yang meningkatkan sekresi) lambung yang kuat dan memicu sekresi asam secara berlebihan dari sel parietal melalui kerjanya pada reseptor H2. Namun sel-sel di mukosa lambung yang mengandung somastatin, yang dapat menghambat sekresi asam oleh sel parietal.

Jika mukosa lambungnya telah rusak sepeti yang telah dijelaskan tadi maka histamine akan meningkat dan sekresi asam lambung juga akan terus meningkat hal ini akan memperburuk keadaan lambung karena telah kita ketahui bahwa asam bersifat korosit sehingga dapat terjadi iritasi, erosi ataupun ulkus lambung.

Selain itu, obat-obat tersebut menyebabkan kerusakan mukosa secara local dengan mekanisme difusi non ionik pada sel mukosa (pH cairan lambung<<pKa OAINS). Selama asupan OAINS

pada tukak akut dapat berkembang setelah beberapa hari atau minggu, efek inhibisi terhadap agregasi platelet meningkatkan risiko terjadinya perdarahan akibat tukak.

Sumber:

Buku Ajar Gastroenterologi. 2011. Rani, Aziz A., dkk. Jakarta: InternaPublishing

Farmakologi dan Terapi Ed. 5. 2007. Gunawan, Sulistia Gan., dkk. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI

6.

ALUR DIAGNOSIS PADA SKENARIO

ANAMNESIS Mengucapkan salam,pemeriksa berdiri dan melakukan jabat tangan

Mempersilahkan duduk bersebrangan /berhadapan

Menciptakan suasana membantu dan menyenangkan

Menanyakan identitas : nama,usia,alamat dan pekerjaan

k e l u h a n u t a m a : - d y s p e p si a .

Dis p ep si a

mer up akan

k umpul an

k el uhan

b eb er ap a

p en ya k it

s al ur an

sep e rtimual,muntah,kembung,nyeri

ulu

hati,

sendawa/terapan,

rasa

c e r n a terbakar,

rasa

penuh

uluhati dan cepat merasa kenyang. D is p e p si a

s e c a r a

k l i n is d i b a g i a t a s

  • 1 . D is p e p si a a k i b a t

g a n g g u a n

m o t i l i t a s

  • 2 . Dispepsia akibat tukak

    • 3. dyspepsia akibat refluks

    • 4. dyspepsia tidak spesifik.

Dispepsia akibat motilitas keluhan paling menonjol yaitu kembung, rasa penuh uluhati setelah makan, cepat merasa kenyang disertai sendawa.

Dispepsia akibat refluks keluhan paling menonjol berupa perasaan nyeri ulu hatidan rasa seperti terbakar,harus disingkirkan adanya pasien kardiologis.Pada pasien penderita tukak peptic biasanya

mengeluhkan nyeri ulu hati,rasa tidak n yaman/d is comfo rt dise rt ai mun t ah .Ras a

s akit

tu k ak p ep ti c timb ul s e t el ah p asi en makan. Muntah juga dapat terjadi pada

tukak peptic yang disebabkan oleh adanyaedema dan spasme seperti tukak kanal pilorik (obstruksi gastric outlet).

Menanyakan keluhan tambahan

Menanyakan riwayat penyakit sekarang

Menanyakan riwayat penyakit dahulu : Yang memiliki keluhan dan gejala yang sama

Riwayat penyit keluarga : Menanyakan penyakit yang menyebabkan perdarahan

Riwayat pengobatan : Apakah sedang atau pernah mengkonsumsi obat OAINS,pemakaian

aspirin,NSAID,anti koagulan Menanyakan alergi obat dan makanan

M e n a n y a k a n

r i w a y a t

p s i k o s o s i a l

:

M e r o k o k ,

m i n u m

b e r a l k o h o l ,

o b a t

n o n steroid,olahraga ,makanan, BAB ,BAK.

PEMERIKSAAN FISIS

Inspeksi :

Periksa kulit dan sclera In s ep k si abd omen un tu k melih at ko nt ur ab domen ,s ka r, k onge sti v en a , p e rist alti c yang tampak atau adanya massa. Melihat distensi abdomen : obesitas,distented,asites yang massif,kehamilan, feses dantumor/benjolan

Auskultasi

Mendengarkan dan menentukan bising usus yang normal atau abnormal Mendengarkan bunyi peristaltic dibawah umbilicus atau diatas suprapubik Mendengarkan bunyi bergerumuh dan hepatic rub diatas dan dikanan umbilicus Mendengarkan murmur aorta abdominal pada 5 jari dibawah processus xipoideusatau pada region epigastrium Br u it d a ri ka rsin oma p an cr e a s di kiri r egi on epi ga stri um d an sp leni k fri cti on ru b dilateral.

Palpasi

Lakukan palpasi pada daerah empat kuadran abdomen dengan kedalaman 1 cm untuk mengetahui adanya nyeri tekan atau tidak Lakukan palpasi pada dinding abdomen dengan kedalaman 4 -5 cm untuk

mengetahuiadanya pembesaran hepar atau tidak Perhatkan wajah atau ekspresi pasien saat melakukan palpasi

Palpasi kuadran kiri abdomen bertujuan untuk menemukan palpable lien,ginjal kiri

Lakukan bimanual palpasi

P a l p a si k u a d a r a n k a n a n k a n a n a b d o m e n

b e r t u j u a n

u n t u k

  • m p a l p a b l e hepar,ginjal kanan

e n e m u k a n

 

L a k u k a n

p a l p a si

r e b o u n d

( n y e r i

p a n t u l )

b e r t u j u a n

u n t u k

  • m a d a n y a peritonitis

e n g e t a h u i

Perkusi

Melakukan perkusi pada empat kuadran abdomen

 

Perkusi batas atas hepar

Menentukan lokasi dan ukuran hepar

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Gold Standar ad a l ah p emerik sa an en do sk o pi s al u r an c e rn a b agi an a t as (

UGIE-

Upper Gastrointestinal Endoscopy) d an bi op si l amb un g (u nt uk d et eksi k uman

H.Pylori, m a ss a tumor, kondisi mukosa lambung)

  • 1. Tes Hemoglobin Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin

ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan hemoglobin yang biasa disebut anemia.

  • - Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl

  • - Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl

  • - Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl

  • - Anak anak : 11-13 gram/dl

  • - Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl

  • - Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl

  • - Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl

  • - Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl

  • 2. Tes Hematokrit

    • - Dewasa pria : 40 52 %

    • - Dewasa wanita : 35 47 %

    • - Bayi baru lahir : 44 72 %

    • - Anak usia 1 3 tahun : 35 43 %

    • - Anak usia 4 5 tahun : 31 43 %

    • - Anak usia 6-10 tahun : 33 45 %

Penurunan kadar : kehilangan darah akut, anemia (aplastik, hemolitik, defisiensi asam folat, pernisiosa, sideroblastik, sel sabit), leukemia (limfositik, mielositik, monositik), penyakit Hodgkin, limfosarkoma, malignansi organ, mieloma multipel, sirosis hati, malnutrisi protein, defisiensi vitamin (tiamin, vitamin C), fistula lambung atau duodenum, ulkus peptikum, gagal, ginjal kronis, kehamilan, SLE. Pengaruh obat : antineoplastik, antibiotik (kloramfenikol, penisilin), obat radioaktif.

Peningkatan kadar : dehidrasi/hipovolemia, diare berat, polisitemia vera, eritrositosis, diabetes asidosis, emfisema pulmonar tahap akhir, iskemia serebrum sementara, eklampsia, pembedahan, luka bakar.

  • 3. Tes Leukosit Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Nilai normal :

Bayi baru lahir Bayi/anak Dewasa

9000 -30.000 /mm3 9000 12.000/mm3

4000-10.000/mm3

Peningkatan jumlah leukosit (disebut Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut,misalnya pneumonia (radang paru-paru), meningitis (radang selaput otak), apendiksitis (radang usus buntu), tuberculosis, tonsilitis, dan Iain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan oleh obat-obatan misalnya aspirin, prokainamid, alopurinol, antibiotika terutama ampicilin, eritromycin, kanamycin, streptomycin, dan Iain-Iain.

Penurunan jumlah Leukosit (disebut Leukopeni) dapat terjadi pada infeksi tertentu terutama virus, malaria, alkoholik, dan Iain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan obat- obatan, terutama asetaminofen (parasetamol),kemoterapi kanker, antidiabetika oral, antibiotika (penicillin, cephalosporin, kloramfenikol), sulfonamide (obat anti infeksi terutama yang disebabkan oleh bakteri).

  • 4. Golongan Darah Untuk mengetahui golongan darah yang ada dalam tubuh manusia sehingga dapat digunakan untuk memilih golongan darah yang cocok apabila orang tersebut memerlukan donor darah.

5.

Uji Fungsi Hati Tes ini biasanya berisi beberapa tes yang dilakukan bersamaan pada contoh darah

5. Uji Fungsi Hati Tes ini biasanya berisi beberapa tes yang dilakukan bersamaan pada contoh darah

yang diambil. Ini bisa meliputi:

  • - Alanine Aminotransferase (ALT) suatu enzim yang utamanya ditemukan di hati, paling baik untuk memeriksa hepatitis. Dulu disebut sebagai SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase). Enzim ini berada di dalam sel hati/hepatosit. Jika sel rusak, maka enzim ini akan dilepaskan ke dalam aliran darah.

  • - Alkaline Phosphatase (ALP) suatu enzim yang terkait dengan saluran empedu; seringkali meningkat jika terjadi sumbatan.

  • - Aspartate Aminotransferase (AST) enzim ditemukan di hati dan di beberapa tempat lain di tubuh seperti jantung dan otot. Dulu disebut sebagai SGOT (Serum Glutamic Oxoloacetic Transaminase), dilepaskan pada kerusakan sel-sel parenkim hati, umumnya meningkat pada infeksi akut.

  • - Bilirubin biasanya dua tes bilirubin digunakan bersamaan (apalagi pada jaundice): Bilirubin total mengukur semua kadar bilirubin dalam darah; Bilirubin direk untuk mengukur bentuk yang terkonjugasi.

  • - Albumin mengukur protein yang dibuat oleh hati dan memberitahukan apakah hati membuat protein ini dalam jumlah cukup atau tidak.

  • 6. Pemeriksaan Radiologi. Ba ri um Me al Ko ntr as Gand a d ap a t d i gun ak an un tu k men egak k an d i agno sis tu kak p ep ti k. Gambaran berupa kawah, batas jelas disertai lipatan mukosa teratur dari pinggiran tukak.Apabila permukaan pinggir tukak tidak teratur dicurigai ganas

  • 7. Endoskopi Endoskopi adalah suatu alat untuk melihat ke bagian dalam tubuh dengan menggunakan suatu selang fiberoptik yang disesuaikan dengan sistem kerja lapangan pandang manusia sehingga memungkinkan kita untuk melakukan pemeriksaan pada organ-organ bagian dalam tubuh manusia.

Prinsip Dasar Endoskopi 1.Control Head 2.Flexible Shaft yang dilengkapi dengan manoeverable tip 3.Head sendiri yang dihubungkan dengan sumber cahaya via umbilical cord dan melalui saluran yang lain akan mengalirkan udara/ air, suctiondan sebagainya saluran suction juga bisa dipakai untuk memasukkan alat diagnostik seperti forsep biopsy dan alat- alat perlengkapan terapetik yang lain.

a.Indikasi

Indikasi endoskopi, yaitu: perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA), dyspepsia, disfagia, odinofagia, nyeri epigastrium kronis, kecurigaan obsruksi outlet, survey endoskopi, curiga keganasan, dan nyeri dada tidak khas

b.Kontra Indikasi Absolut

Kontra indikasi endoskopi, yaitu: tidak kooperatif, psikopat, alergi obat premedikasi, syok, infark miokard akut, respiratori distress, dan perdarahan masif

c.Kontra Indikasi Relatif

Kontra indikasi relatif, yaitu: kelainan kolumna vertebralis, gagal jantung, sesak nafas, gangguan kesadaran, infeksi akut, aneurisma aorta torakalis, tumor mediastinum, stenosis esofagus, gastritis korosif akut,dan gastritis flegmonos

7.

Bagaimana pencegahan dari kasus di skenario?

  • Menghindari faktor pencetus terjadinya hematemesis dan melena

    • Makanan yang dapat mengiritasi lambung (asam dan pedas). Makanlah makanan yang bergizi dan teratur.

    • Obat-obatan yang bersifat mengiritasi lambung (ulserogenik) seperti aspirin, indometasin, fenilbutazon, naproksen, dan kortikosteroid.

    • Minuman beralkohol dan rokok.

    • Kopi, teh, soda dan yang mengandung kafein yang dapat merangsang pelepasan asam lambung.

  • Mengobati penyakit yang mungkin menyertai hematemesis dan melena.

    • 8. . Sebutkan dan jelaskan penyakit dengan muntah darah! Jelaskan Differensial Diagnosis!

    • 1. Esofagitis

    • 2. Karsinoma esofagus

    • 3. Varises esofagus

  • Penyakit yang ditandai dengan pembesaran abnormal pembuluh darah vena di esofagus bagian bawah. Varises esofagus basanya tidak bergejala, kecuali jika sudah robek dan berdarah.

    Gejala yang bisa terjadi : muntah darah, tinja hitam, kencing sedikit, sangat haus dan bisa syok

    • 4. Gastritis akut erosif

    Suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosi. Disebabkan oleh kuman-kuman (misalnya pada pneumonia), virus (influenza, variola, morbili dan lain-lain) atau karena makanan-minuman (bahan-bahan kimian, arsen, plumbum, obat-obatan yang mengandung salisilat, asam-basa kuat, KmnO4 dan lain-lain). Terjadi radang difus di mukosa lambung, dengan erosi-erosi yang mungkin berdara. Sering kali nyeri epigastrium tiba-tiba dan hematemesis. Disebut erosif akibat kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa

    muskularis. Penyakit ini di jumpai di klinik, sebagai akibat samping pemakaian obat, sebagai penyakit-penyakit lain atau karena sebab yang tidak diketahui

    • 5. Tukak peptik (ulkus peptikum)

    Tukak didefinisikan sebagai integritas mukosa lambung dan atau duodenum yang menyebabkan terjadinya inflamasi lokal disebut tukak apabila robekan mukosa berdiameter lebih dari 5 mm kedalaman submukosa dan muskularis mukosa

    • 6. Sindroma zollinger-ellison

    • 7. Karsinoma lambung

    Suatu tumor epitel pada mukosa gaster yang bersifat malignan dengan diferensiasi kelenjar. Secara anatomi, kelenjar pada gaster mempunyai dua komponen yaitu : foveola (crypt, pit) dan komponen sekretori (adenomere). Bagian faveola ini merupakan daerah yang penting untuk pertumbuhan karsinoma lambung, terutama sel generatif yang terletak pada bagian basal. Perbedaan antara tipe- tipe karsinoma lambung tergantung pada proporsi dari foveola dan sekretori.

    • 8. Hipertensi portal

    • 9. Sirosis hati

      • 10. Perforasi esofagus

    Pecahnya dinding esofagus karena muntah-muntah. 90% penyebab rupture esofagus adalah iatrogenik, yang biasanya diakibatkan oleh instrumentasi medis seperti paraesophageal endoskopi atau pembedahan. Dan 10% nya disebabkan oleh muntah-muntah

    • 11. Hematemesis melena

    Hematemesis adalah muntah darah. Darah bisa dalam bentuk segar (bekuan atau gumpalan atau cairan berwarna merah cerah) atau berubah karena enzim dan asam lambung, menjadi kecoklatan

    dan berbentuk seperti butiran kopi. Hematemesis dapat dikarenakan oleh adanya luka atau pendarahan pada saluran pencernaan bagian atas. Memuntahkan sedikit darah dengan warna yang telah berubah adalah gambaran nonspesifik dari muntah berulang dan tidak selalu menandakan pendarahan saluran pencernaan atas yang signifikan. Hematemesis dapat disebabkan oleh perdarahan akut dari saluran pencernaan bagian atas atau mulut atau faring.

    • 12. Sindrom Mallory-weiss

    Karena laserasi yang aktif disertai ulserasi pada daerah kardia dapat timbul perdarahan yang masif. Timbulnya laserasi yang akut tersebut dapat terjadi sebagai akibat terlalu sering muntah-muntah yang hebat, sehingga tekanan intra abdominal menaik yang dapat menyebabkan pecahnya arteri di submukosa esofagus atau kardia

    • 13. Dieulafoy’s lesion

    Dieulafoy ini lesi (exulceration simpleks Dieulafoy) adalah suatu kondisi medis yang ditandai oleh arteriol berliku-liku besar di dinding perut yang mengikis dan berdarah. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan lambung tetapi relatif jarang. Hal ini diduga menyebabkan kurang dari 5% dari semua gastrointestinal berdarah pada orang dewasa. Hal ini dinamakan ahli bedah Perancis Paul Georges Dieulafoy, yang menggambarkan kondisi ini dalam makalahnya "Exulceration simplex: Leçons 1-3" pada 1898. Hal ini juga disebut "arteri kaliber-persistent" atau "aneurysm" dari kapal lambung. Namun, tidak seperti kebanyakan aneurisma lain ini dianggap malformasi perkembangan daripada perubahan degeneratif.

    • 14. Esofagogastritis korosiva

    Pada penelitian penulis ditemukan seorang penderita wanita dan pria yang muntah darah setelah minum air keras. Hasil analisis air keras tersebut mengandung asam sitrat dan asam Hcl, yang bersifat korosif untuk mukosa mulut, esofagus, lambung. Disamping muntah darah, penderita juga mengeluh rasa nyeri dan panas seperti terbakar dimulut, dada dan epigastrium.

    • 15. Tukak duodeni

    Tukak duodeni menyebabkan perdarahan secara panendoskopi terletak di bulbus. Sebelum timbul perdarahan, semua kasus mengeluh merasa nyeri dan pedih di perut atas agak ke kanan. Keluhan ini juga dirasakan waktu tengah malam sedang tidur pulas, sehingga terbangun.

    16.

    Karsinoma papilla veterii

    Karsinoma papilla vaterii merupakan penyebaran dari karsinoma di ampula, menyebabkan penyumbatan saluran empedu dan saluran pankreas yang pada umumnya sudah dalam fase lanjut. Gejala yang ditimbulkan selain kolestatik ekstrahepal, juga dapat menyebabkan timbulnya perdarahan. Perdarahan yang terjadi bersifat perdarahan tersembunyi.

    • 17. Gastritis erosiva hemorhagik

    Sebagai penyebab terbanyak dari gastritis erosiva hemoragika ialah obat-obatan yang dapat menimbulkan iritasi pada mukosa lambung atau obat yang dapat merangsang timbulnya tukak. Misalnya beberapa jam setelah minum obat aspirin. Obat-obat lain yang dapat menimbulkan hematemesis ialah : golongan kortikosteroid, butazolidin, reserpin, alcohol, dll

    • 18. Tumor esofagus

    Tumor jinak esofagus jarang dijumpai, tipe yang paling sering adalah leiomioma (tumor otot polos). Leiomioma kadang-kadang mengeluarkan darah tetapi kurang memiliki klinisdan ditemukan secara kebetulan.

    Differensial diagnosis

    • Tukak peptikum

    Definisi

    Tukak gaster jinak adalah suatu gambaran bulat atau semi bulat/oval, ukuran >5 mm kedalaman submukosal pada mukosa lambung akibat terputusnya kontinuitas/integritas mukosa lambung

    Epidemiologi

    Tukak gaster tersebar diseluruh dunia dengan prevalensi berbeda tergantung pada sosial ekonomi, demografi, dijumpai lebih banyak pada pria meningkat pada usia lanjut dan kelompok social ekonomi rendah. Di Britania Raya sekitar 6-20% penduduk menderita tukak pada usia 55 tahun, sedangkan prevalensinya 2-4%. Di USA ada 4 juta pasien gangguan asam-pepsin, prevalensi 12% pada pria dan 10% perempuan dengan angka kematian pasien 15.000 pertahun dan menghabiskan dana $10 miliyar/tahun

    Etiologi

    • 1. Infeksi Helicobacter pylori

    • 2. Penggunaan NSAID

    • 3. Hipersekresi asam lambung

    • 4. Kondisi stress related erosive syndrome (SRES)

    Gejala klinik

    Tanda-tanda dan gejala tukak peptic bervariasi, tergantung tingkat keparahan dan komplikasi yang terjadi. Secara umum gejalanya berupa rasa sakit epigastrik, dan dapat juga terjadi komplikasi akut pada saluran cerna bagian atas. Pada tukak duodenal, rasa sakit dapat terjadi 1 hingga 3 jam setelah makan. Sedangkan pada tukak gastric, rasa sakit langsung terasa ketika makanan masuk. Dapat juga terjadi nyeri abdominal dan dyspepsia.

    Untuk tukak peptic kronis, tanda dan gejalanya yaitu :

    • 1. Penurunan berat badan disertai mual, muntah dan anoreksia

    • 2. Sakit abdominal (umumnya epigastrik) disertai perasaan terbakar, perut terasa penuh, kram

    • 3. Sakit nocturnal yang dapat membangunkan penderitaan sekitar pukul 24.00 03.00

    • 4. Periode ketidaknyamanan biasanya terjadi selama seminggu hingga beberapa minggu, diikuti dengan periode bebas sakit (dapat bertahan berminggu-minggu hingga bertahun- tahun). Tingkat keparahan rasa sakit tukak bervariasi pada setiap individu, dan dapat terjadi musiman.

    • 5. Perubahan karakteristik sakit yang dapat timbul akibat komplikasi

    • 6. Heartburn, sendawa, dan bloating saat sakit

    Pemeriksaan penunjang

    Radiologi

    Pemeriksaan radiologi dengan barium meal kontras ganda dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis tukak peptic Endoskopi Gambaran endoskopi untuk suatu tukak jinak berupa luka terbuka dengan pinggiran teratur, mukosa licin dan normal disertai lipatan yang teratur keluar dari pinggiran tukak

    Biopsy

    Biopsy diambil dari pinggiran dan dasar tukak minimal 4 sampel untuk 2 kuadran, bila ukuran tukak besar diambil sampel dari 3 kuadran dari dasar, pinggir dan sekitar tukak Uji laboratorium Uji laboratorium dapat mendukung diagnosis tukak peptic. Pengujian ini antara lain studi sekresi asam lambung, konsentrasi gastrin serum puasa, nilai hematokrit dan hemoglobin (umumnya rendah)

    Penatalaksanaan

    Terapi non farmakologi

    • Pengaturan pola makan dan pola hidup Langkah awal adalah dengan mengkonsumsi sedikit makan tetapi berulang (sering). Tukak dapat dicegah dengan mengkonsumsi makanan secara teratur. Pasien juga harus menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan dyspepsia atau dapat merangsang terjadinya tukak, misalnya makanan pedas, asam, kafein, dan alcohol. Pasien dianjurkan cukup istirahat dan menghindari atau mengurangi stress.

    • Menghindari merokok Merokok dapat memicu pengeluaran asetilkolin yang dapat mempengaruhi pelepasan histamine di sel parietal sehingga meningkatkan sekresi asam lambung.

    • Pembedahan Penderita yang tidak memberikan respon terhadap terapi medic atau mengalami komplikasi lain seperti perforasi perdarahan atau obstruksi diobati secara pembedahan

    Terapi farmakologi

    o

    Pengobatan akibat HP Tujuan utama terapi HP adalah sepenuhnya membasmi organisme menggunakan antibiotic yang efektif dengan beberapa regimen terapi. Umumnya menggunakan terapi kombinasi, yaitu:

    Regimen 2 obat : Klaritromisin + PPI/RBC (Ranitidin Bismuth Citrate), atau Amoksisilin + PPI Regimen 3 obat : 2 antibiotik + PPi atau 2 antibiotik + RBC

    o

    Regimen 4 obat : 2 antibiotik + BBS (Bismuth Subsalisilat) + PPI/H2RA Pengobatan akibat induksi NSAID Sasaran terapi adalah menghilangkan nyeri tukak, mengobati ulkus, mencegah kekambuhan dan mengurangi komplikasi yang berkaitan dengan tukak.

    Prognosis

    Kebanyakan penderita sembuh dengan terapi untuk infeksi H.Pylori, mengindari OAINS dan meminum obat anti sekretorus pada lambung.

    Terapi untuk infeksi H.Pylori akan mengubah secara alamiah riwayat penyakit dengan menurunkan angka rekurens 60-90% dari 10% per tahun

    Komplikasi Komplikasi meliputi pendarahan, perforasi, penetrasi, atau obstruksi

    • Gastritis Akut Erosif

    Definisi

    Suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosi. Disebabkan oleh kuman-kuman (misalnya pada pneumonia), virus (influenza, variola, morbili dan lain-lain) atau karena makanan-minuman (bahan-bahan kimian, arsen, plumbum, obat-obatan yang mengandung salisilat, asam-basa kuat, KmnO4 dan lain-lain). Terjadi radang difus di mukosa lambung, dengan erosi-erosi yang mungkin berdara. Sering kali nyeri epigastrium tiba-tiba dan hematemesis. Disebut erosif akibat kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa muskularis. Penyakit ini di jumpai di klinik, sebagai akibat samping pemakaian obat, sebagai penyakit-penyakit lain atau karena sebab yang tidak diketahui

    Epidemiologi

    Berdasarkan penelitian ditemukan 74 dari 277 kasus (26,7%) dengan gastritis erosiva hemoragika yang menduduki urutan kedua setelah varises esofagus sebagai penyebab perdarahan saluran makan bagian atas

    Etiologi

    Obat analgetik anti infamasi, terutama aspirin

    Bahan-bahan kimia

    Merokok

    Alcohol

    Stress fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal

    pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat Refluks usus ke lambung

    Endotoksin

    Gejala klinik

    • 1. Muntah darah

    • 2. Nyeri epigastrium

    • 3. Nausea dan rasa ingin vomitus

    • 4. Nyeri tekan yang ringan pada epigastrium

    Pemeriksaan penunjang

    • 1. Endoskopi Pada pemeriksaan endoskopi akan Nampak erosi multiple yang sebagian biasanya tampak berdarah dan letaknya tersebar

    • 2. Histopatologi Pada pemeriksaan histopatologi kerusakan mukosa karena erosi tidak pernah melewati mukosa muskularis

    • 3. Laboratorium (anemia)

    Penatalaksanaan

    • 1. Istirahat yang cukup

    • 2. Diet makanan cair

    • 3. Bila mual Antiemetic seperti dimenhidrinat 50-100 mg per-os atau klorpromazin 10-20 mg per-os. Bila disebabkan oleh kuman-kuman, berikan antibiotika yang sesuai

    Dengan antasida, berikan oksitosin tablet 15 menit sebelum makan Prognosis

    Gastritis akut umumnya sembuh dalam waktu beberapa hari. Insidensi ulkus lambung dan kanker lambung meningkat pada gastritis kronis tipe A. gastritis dapat menimbulkan komplikasi perdarahan saluran cerna dan gejala klinis yang berulang.

    Komplikasi

    • 1. Perdarahan saluran cerna bagian atas yang merupakan kedaruratan medis. Kadang-kadang perdarahannya cukup banyak sehingga dapat menyebabkan kematian

    • 2. Terjadinya ulkus, kalau prosesnya hebat

    • 3. Jarang terjadi perforasi

    • Kanker lambung

    Definisi

    Suatu tumor epitel pada mukosa gaster yang bersifat malignan dengan diferensiasi kelenjar. Secara anatomi, kelenjar pada gaster mempunyai dua komponen yaitu : foveola (crypt, pit) dan komponen sekretori (adenomere). Bagian faveola ini merupakan daerah yang penting untuk pertumbuhan karsinoma lambung, terutama sel generatif yang terletak pada bagian basal. Perbedaan antara tipe- tipe karsinoma lambung tergantung pada proporsi dari foveola dan sekretori.

    Epidemiologi

    Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma gastrointestinal yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,4% kematian akibat kanker (American Cancer Society, 1990). Laki-laki lebih sering terserang penyakit ini dibandingkan dengan perempuan sebagian besar kasus terjadi setelah usia 40 tahun.

    Etiologi

    Penyebab kanker tidak dapat di ketahui, tetapi dikenal adanya faktor predisposisi tertentu. Faktor genetic tampaknya berperan penting, karena kanker lambung lebih sering terjadi pada orang bergolongan darah A daripada golongan darah lain. Faktor geografis atau lingkungan tampaknya juga berperan penting, karena kanker lambung sangat sering terjadi di Jepang, Cina, Thailand, Finlandia, Irlandia, dan Colombia. Faktor karsinogemik dalam makanan, seperti daging asap, makanan yang diasamkan, dan tinggi nitrat, berkaitan dengan meningkatnya insidensi kanker lambung. Kanker lambung di Amerikasudah berkurang selama 60 tahun terakhir dan alasannya tidak diketahui. Kanker lambung lebih sering terjadi pada golongan sosai ekonomi rendah. Salah satu faktor predisposisi yang paling penting adalah adanya gastritis atrofik atau anemia permisiosa. Infeksi H.pylori kini sudah semakin diterima sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya gastritis atrofik kronis sehingga berkaitan dengan meningkatnya risiko terjadinya kanker lambung. Riwayat ulkus peptikum yang tidak sembuh juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker lambung.

    Gejala klinik

    Karsinoma lambung jarang didiagnosis pada stadium dini karena gejala timbul lambat atau tidak jelas dan tidak pasti. Gejala dini dapat berupa rasa sedikit tidak enak pada abdomen bagia atas atau

    rasa penuh setelah makan. Pada akhirnya pasien mengalami anoreksia dan penurunan berat badan. Bila tumor dekat dengan kardia, disfagia mungkin gejala utama yang paling dini. Muntah karena obstruksi pylorus dapat terjadi bila tumor berada dekat saluran keluar lambung.

    Pemeriksaan penunjang

    pemeriksaan radiologis, sitology eksfoliatif, dan endoskopi disertai biopsy, semuanya merupakan cara diagnosis kanker lambung yang penting

    penatalaksnaan eksisi pembedahan merupakan satu-satunya terapi yang efektif prognosis

    penegakan diagnosis biasanya terlambat, sehingga prognosisnya jelek dengan angka kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 10%

    komplikasi

    • a. Perforasi Dapat terjadi perforasi akuta dan perforasi kronika

      • 1. Perforasi Akut AIRD 1935 menjumpai 35 penderita demean perforasi akut yang terbuka dari karsinoma ventrikuli. Yang sering terjadi perfirasi yaitu: tipe ulserasi dari kanker yang letaknya di kurvatura minor, diantrium dekat pylorus. Biasanya mempunyai gejala-gejala yang mirip demean perforasi dari ulkus peptikum. Perforasi ini sering dijumpai pada pria (Hadi, 2002)

      • 2. Perforasi kronika Perforasi yang terjadi sering tertutup oleh jaringan didekatnya, misalnya oleh omentum atau bersifat penetrasi. Biasanya lebih jarang dijumpai jika dibandingkan dengan komplikasi dari ulkus benigna. Penetrasi mungkin dijumpai antara lapisan omentun gastrohepatik atau dilapisan bawah dari hati. Yang sering terjadi yaitu perforasi dan tertutup oleh pancreas. Dengan terjadinya penetrasi maka akan terbentuk suatu fistul, misalnya gastrohepatik, gastroenterik dan gastrokolik fistula

  • b. Hematemesis

  • Hematemesis yang masif dan melena terjadi ± 5% dari karsinoma ventrikuli yang gejala- gejalanya mirip seperti pada pendarahan massif maka banyak darah yang hilang sehingga timbullah anemia hipokromik

    • c. Obstruksi Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan muntah-muntah

    • d. Adhesi Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut

    Kesimpulan

    Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa penderita pada skenario menderita penyakit Tukak Peptikum karena pasien datang dengan keluhan muntah darah hitam bergumpal selama 2 hari. Pasien sudah 5 tahun mengeluh nyeri ulu hati yang hilang timbul. Sebelum muntah darah, pasien minum obat anti reumatik sebanyak 3 tablet oleh karena daerah sendi lutut. Pasien belum berak setelah muntah sampai saat ini.

    9.

    PENATALAKSANAAN

    NON BEDAH Pengaturan pola makan dan pola hidup

    Langkah awal adalah dengan mengonsumsi sedikit makanan tetapi berulang (sering).Tukak dapat

    dicegah dengan mengkonsumsi makanan secara teratur.Pasien juga harus menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan dispesia atau dapat merangsang terjadinya tukak,misalnya makanan pedas,asam,kafein,dan alkohol.Pasien dianjurkan cukup istirahat dan menghindari atau mengurangi stress

    Menghindari iritan

    misalnya makanan yang tampaknya bisa memperberat rasa nyeri atau kembung yang ada, serta obat atau bahan yang bisa mengiritasi lambung, misalnya obat NSAID, alkohol, dan nikotin

    Medikamentosa

    Antibiotik, seringkali dilakukan, karena penyebab utama terjadinya ulkus adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori. Antasida atau obat-obat untuk mengurangi produksi asam lambung. Antasida tidak efektif untuk menyembuhkan ulkus, tetapi bisa meredakan gejala dengan cara menetralkan asam lambung, misalnya Magnesium hidroksida. Sejumlah kecil magnesium bisa diserap ke dalam darah, sehingga sebaiknya orang-orang dengan gangguan ginjal hanya menggunakannya dalam dosis kecil. Sukralfat. Obat ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada dasar ulkus untuk membantu penyembuhan.

    • Bloker H2 (ranitidin, cimetidine)
      PPI (omeprazole)
      Bismuth koloidal
      Ampisilin atau tetrasiklin + metronidazole (efektif melawan Helicobacter pylori)
      Re-endoskopi pasien dengan ulkus gaster setelah 6 minggu karena terdapat risiko Keganasan

    Pembedahan.

    Tindakan ini jarang dilakukan karena obat-obat yang ada sangat efektif untuk mengobati ulkus peptikum. Pembedahan baru dilakukan jika terdapat komplikasi, misalnya perforasi, sumbatan saluran cerna, perdarahan hebat berulang, adanya dugaan keganasan pada ulkus gaster, atau adanya ulkus peptikum berat yang sering berulang. Namun, ulkus masih bisa terjadi kembali setelah pembedahan.

    10. Faktor risiko untuk skenario

    • A. Umur Usia di atas 40 tahun: ulkus duodenum Usia 50-60 tahun : ulkus peptikum

    • B. Jenis kelamin Pria : wanita (1,3 : 1)

    • C. Obat-obatan Aspirin, indometasin, fenibutazon, dan kortikosteroid mungkin memiliki efek langsung terhadap mukosa lambung dan menyebabkan terbentuknya ulkus.

    • D. Stres:

    berhubungan dengan stres, trauma, sepsis, luk bakar, cedera kepala yang berat.

    • E. Psikososial Merokok dan minuman mengandung kafein

    • F. Infeksi Helicobacter pylori

    Sumber :

    Price, Sylvia A.dan Lorraine M.Wilson. 2005. Patofisiologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

    Rani, aziz , Marcellus Simadibrata, Ari Fahrial Syam. 2011. Buku Ajar Gastroenterologi. Jakarta:

    InternaPublishing

    11. Asupan gizi untuk hematemesis Diet Pasca Hematemesis Gambaran Umum

    Hematemesis adalah keadaan muntah dan buang air besar berupa darah akibat luka atau kerusakan pada saluran cerna.

    Tujuan Diet

    Tujuan diet pasca hematemesis melena adalah untuk:

    • 1. Memberikan makanan secukupnya yang memungkinkan istirahat pada saluran cerna, mengurangi risiko perdarahan ulang, dan mencegah aspirasi.

    • 2. Mengusahakan keadaan gizi sebaik mungkin.

    Syarat Diet

    Syarat-syarat diet pasca hematemesis adalah untuk:

    • 1. Tidak merangsang saluran cerna.

    • 2. Tidak meninggalkan sisa.

    • 3. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam untuk memberi istirahat pada lambung.

    • 4. Diet diberikan jika perdarahan pada lambung atau duodenum sudah tidak ada.

    Jenis Diet dan Indikasi Pemberian

    Diet diberikan dalam bentuk makanan cair jernih, tiap 2-3 jam pascaperdarahan. Nilai gizi makanan ini sangat rendah, sehingga diberikan selama 1-2 hari saja (lihat makanan cair jernih).

    Cara Memesan Diet

    Makanan cair jernih (MCJ).

    Source: Penuntun Diet Edisi Terbaru, hal 108. ( Instalasi Gizi Perja RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia)

    Makanan Cair Jernih

    • a. Gambaran umum

    Makanan cair jernih adalah makanan yang disajikan dalam bentuk cairan jernih pada suhu ruang dengan kandungan sisa (residu) minimal dan tembus pandang bila diletakkan pada wadah bening. Jenis cairan yang diberikan tergantung pada keadaan penyakit atau jenis operasi yang dijalani.

    • b. Tujuan Diet

    Tujuan diet makan cair jernih adalah untuk:

    • 1. Memberikan makanan dalam bentuk cair, yang memenuhi kebutuhan cairan tubuh yang mudah diserap dan hanya sedikit meninggalkan sisa (residu).

    • 2. Mencegah dehidrasi dan menghilangkan rasa haus.

      • c. Syarat Diet

    Syarat diet makanan cair jernih adalah sebagai berikut:

    • 1. Makanan diberikan dalam bentuk cair jernih yang tembus pandang.

    • 2. Bahan makanan hanya terdiri dari sumber karbohidrat.

    • 3. Tidak merangsang saluran cerna dan mudah diserap.

    • 4. Dan sangat rendah sisa.

    • 5. Diberikan hanya selama 1-2 hari.

    • 6. Porsi kecil dan diberikan sering.

      • d. Indikasi Pemberian

    Makanan cair jernih diberikan pada pasien sebelum dan sesudah operasi tertentu, keadaan mual dan muntah dan sebagai makanan tahap awal pasca perdarahan saluran cerna. Nilai gizinya sangat rendah karena hanya terdiri dari sumber karbohidrat.

    • e. Bahan makanan yang dapat diberikan antara lain :

    Teh, sari buah, sirop, air gula, kaldu jernih serta cairan mudah dicerna seperti cairan yang mengandung malto dekstrin. Makanan dapat ditambah dengan suplemen energi tinggi dan rendah sisa.