You are on page 1of 12

Kelarutan Gas dan Pertukaran Gas pada Proses Pernapasan

Michael Leaniel
102016115
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Email: michael.2016fk115@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Semua manusia diberikan karunia oleh Yang Maha Kuasa untuk hidup. Dan manusia dapat
dikategorikan masih hidup apa bila masih bernafas dan bergerak normal. Bernafas adalah sebuah
keharusan bagi manusia, dimana tubuh memerlukan gas yaitu oksigen yang nantinya akan
disebarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah agar manusia dapat bergerak dan
melakukan aktivitasnya seperti biasa. Akan terjadi pertukaran gas yang diedarkan dengan hasil
metabolisme yaitu karbon dioksida. . Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kelarutan gas
dalam darah, salah satunya adalah tekanan. Pada kedalaman laut tekanan akan semakin
bertambah dan mempengaruhi konsentrasi udara yang dihisap. Apabila gas inert seperti N2
dihisap, gas tersebut tidak dapat termetabolisme dan dapat menyebabkan penyakit dekompresi
yang untuk mengobatinya digunakan terapi hiperbarik.
Kata kunci : Pernafasan, Kelarutan, Pertukaran, Gas

Abstract
All human beings are granted by the Almighty to live. And humans can be categorized still alive
what if still breathing and moving normally. Breathing is a must for humans, where the body
requires gas that is oxygen which will be spread throughout the body through the blood vessels
so that humans can move and perform activities as usual. There will be a gas exchange that is
circulated with the metabolic result of carbon dioxide. There are many factors that affect the
solubility of the gas in the blood, one of which is pressure. At the depth of the sea the pressure
will increase and affect the concentration of air inhaled. When an inert gas such as N2 is
inhaled, the gas can not be metabolized and may cause decompression to treat it with hyperbaric
therapy.
Keywords : Respiratory, Solubility, Exchange, Gas

1

faring. manusia memperoleh oksigen yang berguna bagi tubunya dan membuang karbondioksida yang dihasilkan dari dalam tubuhnya.Pendahuluan Pernapasan merupakan satu proses pertukaran gas-gas respirasi yaitu oksigen dan karbondioksida. akan berlakulah proses difusi dan transportasi gas tersebut ke kapiler darah seterusnya ke jaringan dalam tubuh. yang diakibatkan oleh kontraksi otot-otot interkostal dan diafragma.  Sel serosa yang merupakan penghasil serum. bronkiolus terminalis.  Sel basal yang merupakan pengganti sel yang lama. Sistem pernapasan sendiri terdiri dari hidung.  Sel sikat atau brush cell yang berfungsi untuk mengabsorpsi cairan. bronkiolus. Dengan bernapas.  Sel intermediet yang merupakan hasil dari pembelahan yang dilakukan sel basal. dan alveoli. Jalur Pernapasan Anatomi Mikroskopis Saluran napas memiliki dinding yang berlapisan epitel kolumnar semu berlapis bersilia yang menjadi lebih pipih dengan dinding yang lebih dekat ke bagian kepala atau atas tubuh. bronkiolus respiratorius.  Sel Kulchitsky atau sel agrofil yang merupakan sel endokrin yang dapat membuat peptida menjadi aktif. 2 . Setiap makhluk hidup termasuk manusia perlu bernapas untuk kelanjutan hidupnya. Bermula dari rongga hidung. Proses bernapas terjadi akibat dari inspirasi dan ekspirasi. laring. trachea. Berikut macam-macam sel epitel saluran pernapasan yang ada pada tubuh:1  Sel bersilia yang memiliki silia. duktus alveolaris. larynx sehingga paru. Fungsi utama pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen untuk kelangsungan proses metabolisme sel-sel tubuh dan mengeluarkan karbondioksida hasil dari metabolisme tersebut. pharynx. organ pertukaran gas.  Sel goblet yang merupakan penghasil musinogen pada dinding jalan napas. Secara sederhana mekanisme pernapasan merupakan proses perukaran dan transportasi O2 dan CO2. Setelah oksigen disalurkan ke paru. dan sistem sirkulasi darah yang membawa oksigen ke jaringan tubuh dan membawa karbon dioksida ke alveolus. bronkus. Sistem pernapasan meliputi saluran pernapasan yang berfungsi dalam konduksi udara.

Anatomi Makroskopis Sistem pernapasan terdiri dari organ-organ internal yakni:  Sistem pernapasan atas o Mulut o Hidung.  Sel clara yang merupakan sel epitel tanpa silia yang berfungsi untuk menghasilkan cairan yang mencerna toksin. Sinus dan Pembauan  Sinus maxillaris  Bagian sinus maxillaris yang terbuka  Sinus ethmoidalis  Sinus sphenoidalis o Nasofaring o Orofaring o Laringofaring o Laring  Cartilago arytenoidea  Cartilago corniculata  Cartilago cricoidea  Articulatio cricothyeroidea  Ligamentum cricothyreoidea  Epiglottis  Membrana thyrohyoidea  Cartilago thyroidea  Sistem pernapasan bawah o Trakea o Paru-paru  Paru kanan  Bronchus lobaris superior dexter o Bronchus segmentalis apicalis B I o Bronchus segmentalis posterior B II o Bronchus segmentalis anterior B III 3 .

o mm. badan bagian atas. 4 . Subcostalis. sampai ke bagian punggung.  Bronchus lobaris medius dexter o Bronchus segmentalis lateralis B IV o Bronchus segmentalis medialis B V  Bronchus lobaris inferior dexter o Bronchus segmentalis superior B VI o Bronchus segmentalis medialis B VII o Bronchus segmentalis anterior B VIII o Bronchus segmentalis lateralis B IX o Bronchus segmentalis posterior B X  Paru kiri  Bronchus lobaris superior sinister o Bronchus segmentalis apicoposterior B I & B II o Bronchus segmentalis anterior B III o Bronchus lingularis superior B IV o Bronchus lingularis inferior B V  Bronchus lobaris inferior sinister o Bronchus segmentalis superior B VI o Bronchus segmentalis basalis anterior B VII o Bronchus segmentalis basalis medialis B VIII o Bronchus segmentalis basalis lateralis B IX o Bronchus segmentalis basalis posterior B X o Diafragma Proses pernapasan dibantu dengan otot-otot yang ada baik dari dinding dada. levatores costarum. o mm. dan. o m. o otot diaphragma. transversus thoracis. Intercostales external. serratus posterior. leher. Berikut adalah otot-otot yang berperan:3  Otot dinding dada murni/sejati (otot pernapasan normal): o m. o m.

serratus anterior. dan. latissimus dorsi. o otot parasternal intercartilaginous. o m. karena itu kelarutan oksigen dalam darah lebih besar dari kelarutan oksigen dalam air. transversus abdominis. Dalam plasma 5 . Bila butir-butir darah merah dihilangkan. cairan darah sisa tersebut dinamakan plasma darah. o m.  Otot anggota badan atas (otot tambahan inspirasi): o Mengangkat iga-iga untuk memperluas rongga thorax:  m. illiocostalis. obliquus abdominis externus. o Otot punggung dan bagian dorsal leher:  m. longissimus.  m. dan. pectoralis minor. rectus abdominis. o m.  m. Oksigen bereaksi secara kimia dengan hemoglobin darah. dan. Jadi kelarutan oksigen dalam plasma darah lebih rendah daripada dalam air. sternochleidomastoideus. o m. o m. o Otot-otot anterolateral dinding perut:  Otot ekspirasi tambahan: o m.  mm. scaleni. longissimus. o Memfiksasi tulang-tulang tempat melekatnya otot:  m. Plasma darah mengandung bermacam- macam elektrolit yang tak bereaksi dengan oksigen yang akan merendahkan kelarutan oksigen. berarti hemoglobin juga hilang. Kelarutan Gas dalam Darah Salah satu fungsi dari darah adalah mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan mengankut CO2 dari jaringan ke paru-paru untuk dikeluarkan.  m.  m. illiocostalis bagian bawah. obliquus abdominis internus. dan. pectoralis major.

Udara atau gas yang baru masuk dnegan cepat berdifusi atau bercampur dengan gas yang telah ada di dalam alveoli. Membran kapiler alveolar sangat tipis yaitu 0. ada zat yang bereaksi dengan CO2 sehingga kelarutan CO2 dalam plasma lebih besar daripada kelarutan dalam air. dinding kapiler pembuluh darah (endotel). Dalam hal ini. selanjutnya menembus dinding sel darah merah dan akhirnya masuk ke interior sel darah merah sampai berikatan dengan hemoglobin.1 mikrometer atau sepertujuh puluh dari tebal butir darah merah sehingga molekul udara tidak mengalami kesulitan untuk menenbusnya. Percampuran antara gas yang baru saja masuk ke dalam paru dengan yang lebih dahulu masuk akan komplit dalam hitungan perpuluhan detik. Peristiwa difusi selain oksigen adalah perpindahan molekul karbondioksida dari darah ke udara alveol. Kecepatan gas berdifusi di sini berbanding terbalik dengan berat molekulnya. Gas oksigen mempunyai molekul gas oksigen lebih cepat dibandingkan dengan gerak molekul gas karbondioksida sehingga kecepatan difusi oksigen juga lebih cepat. sedangkan pada alveoli yang tidan normal seperti pada emfisema. Oksigen dan karbondioksida menembus dinding alveolus dan kapiler pembuluh darah dengan cara difusi. kemudian melintasi plasma darah.3 Peristiwa difusi merupakan peristiwa pasif yang tidak memerlukan energi ekstra. Peristiwa difusi yang terjadi di dalam paru adalah perpindahan molekul oksigen dari rongga alveoli melintasi membran kapiler alveolar. lapisan plasma 6 . Berarti molekul kedua gas bergerak tanpa menggunakan tenaga aktif.darah. difusi adalah peristiwa pertukaran atau perpindahan molekul dari suatu daerah yang kosentrasi molekulnya tinggi ke daerah yang kosentrasi molekulnya rendah.2 Prinsip Kesetimbangan Dinamik pada Pertukaran Gas Secara umum. percampuran gas yang baru masuk dengan gas yang telah berada di alveoli lebih lambat. Urutan proses difusi meliputi: Difusi pada fase gas Udara atmosfer masuk ke dalam paru dengan aliran yang cepat. Difusi menembus membran pembatas Proses difusi yang melewati membran pembatas alveoli dengan kapiler pembuluh darah meliputi proses difusi fase gas dan proses difusi fase cairan. ketika dekat alveoli kecepatannta berkurang sampai terhenti. pembatas- pembatasnya adalah dinding alveoli. Hal semacam ini terjadi pada alveoli yang normal.

Tekanan gas yang tinggi dalam alveolus adalah tekanan oksigen sedangkan tekanan yang tinggi pada kapiler darah adalah tekanan 7 . gradien kosentrasi oksigen dan karbonbioksida antara darah dan alveolus mungkin meningkat atau menurun. Kelarutan karbondioksida lebih besar dibandingkan dengan kelarutan oksigen sehingga kecepatan difusi karbondioksida di dalam fase cairan 20 kali lipat kecepatan difusi oksigen. Tebalnya membran alveolus misalnya oleh karena edema paru. dna dinding butir darah merah (eritrosit). maka proses difusi semakin sulit. kecepatan difusi kedua gas tersebut akan meningkat sehingga lebih banyak oksigen yang berdifusi ke dalam darah dan lebih banyak karbondioksida berdifusi keluar dari darah.4 Pada keadaan tertentu. Luas Permukaan Membran Alveolus Penurunan luas permukaan paru-paru akan mengakibatkan kemampuan par-paru untuk berdifusi pun menurun. selama olahraga kosentrasi di dalam darah yang masuk ke kapiler paru mungkin kurang dari 40 mmHg karena otot-otot yang bekerja meningkatkan konsumsi oksigen. Kecepatan difusi di tentukan oleh beberapa faktor. Kecepatan difusi melewati face cairan tergantung kepada kelarutan gas ke dalam cairan. Kosentrasi karbondioksida akan lebih besar dalam darah yang mengalir ke paru dari jaringan yang aktif karena produksi metabolisme meningkat. Sebagai contoh. Penurunan luas permukaan paru akan mengganggu pertukaran gas pernapasan. Dalam keadaan ini. Semakin tebal membrana pembatas halangan bagi proses difusi semakin besar. Hal tersebut berarti semakin luas permukaan membran alveolus maka akan semakin banyak gas-gas pernapsan yang berdifusi dan begitu pun sebaliknya. Perbedaan Tekanan antara Kedua Sisi Membran Perbedaan tekanan antara kedua sisi membran merupakan perbedaan antara tekanan parsial gas dalam alveolus lebih besar daripada tekanan gas dalam darah. Akibatnya gas-gas pernapasan haris berdifusi tidak hanya melalui membran alveolus melainkan cairan tersebut. maka terjadi difusi dari alveolus ke dalam darah dan begitu sebaliknya. Gradien kosentrasi memengaruhi kecepatan difusi gas.pada kapiler. yaitu: Ketebalan Membran Semakin tebal membran alveolus.

Peningkatan ion hidrogen. Asam Karbonat pecah menjadi H2O & CO2 dengan bantuan enzim karbonat anhidrase. ion HCO3.Selanjutnya HCO3. Pertukaran pada Jaringan CO2 terlarut dalam jumlah kecil dalam plasma namun sebagian besar berdifusi ke dalam sel darah merah bereaksi dg air membentuk H2CO3 atau berikatan dengan Hb membentuk carbamino Hb. Peningkatan suhu dna peningkatan jumlah zat-zat yang diproduksi sel darah merah selama proses glikolisis. Reaksi antara H+ dan HCO3.karbondioksida. Hal ini mungkin berperan dalam memenuhi kebutuhan metabolik yang meningkat selama demam.menghasilkan H2CO3. afinitas terhadap CO2 ↓ sehingga CO2 yang terikat pada Hb akan terdisosiasi dan berdifusi keluar dari sel darah merah melalui plasma menuju alveoli.3- diphosphoglycerate (DPG). ion H+ 8 . Ion H+ yang dilepaskan Hemoglobin berikatan dengan ion HCO3. dna DPG terjadi selama periode peningkatan metabolisme. suhu. Afinitas oksigen menurun dapat diartikan bahwa hemoglobin melepas oksigen ke jaringan lebih cepat. Hal tersebut akan mengakibatkan oksigen berdifusi ke kapiler darah dan karbondioksida berdifusi ke alveolus.5 Pertukaran Gas Pertukaran pada Paru-paru O2 larut secara fisik dalam plasma . Suhu Penurunan suhu akan menurunkan kecepatan difusi oksigen dan karbondioksida. 2. Dalam sel darah merah. Pada saat Hb jenuh dengan O2. CO2 berdifusi keluar dari sel darah merah menuju plasma lalu ke alveoli.yang berdifusi ke dalam sel darah merah dari plasma dan saling bertukar tempat dengan Cl-. Peningkatan suhu akan meningkatkan kecepatan difusi kedua gas. Terdisosiasi jd H+ dan HCO3- . namun sebagian besar berdifusi dalam sel darah merah bereaksi dengan deoksiHb membentuk oksiHb sambil melepaskan H+ . oleh sebab itu penurunan afinitas hemoglobin melepaskan lebih banyak oksigen ke sel dan memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme yang meningkat. Reaksi dikatalisis oleh carbonate anhidrase.Selama pergeseran klorida.berdifusi keluar dari sel darah merah digantikan oleh Cl- .bertindak sbg buffer mengontrol pH darah.

tubuhnya menerima tekananan sebesar 2 atm. darah arteri memiliki saturasai 98-100%. maka konsentrasi gas yang larut dalam larutan tersebut akan meningkat secara proporsional. Tekanan ini berasal dari udara di atasnya. orang tersebut akan menerima tekanan N2 sebanyak 1. Pembawa oksigen ini adalah hemoglobin.6 atm dan tekanan O2 sebanyak 0.dibuffer oleh Hb . Dengan ini. contohnya karbondioksida kira-kira 23 kali lebih mudah larut dalam air dibandingkan oksigen. Gas yang berbeda memiliki koefisien kelarutan yang berbeda. Dengan demikian apabila dalam 1 atm dapat dikatakan seseorang menerima tekanan N2 sebanyak 0. tabung yang berisikan udara terkompres harus digunakan agar penyelam dapat tetap bernapas.7.8 atm dan tekanan O2 sebanyak 0. Sehingga jika seseorang menyelam sejauh 10m. gas seperti nitrogen dapat memiliki tekanan berkali-kali lipat dari tekanan total udara pada permukaan dan dapat menyebabkan penyakit seperti penyakit dekompresi. Di dalam darah. dua kali lipat dari pada tekanan yang diterima pada saat di permukaan laut. Tekanan pada air akan meningkat 1 atm tiap kedalaman 10m.4 atm. oksigen kurang larut dan membutuhkan ‘pembawa’.8 Hukum Henry Hukum ini menyatakan bahwa kelarutan gas dalam cairan tergantung dari tekanan parsial gas dan koefisien kelarutannya. karena snorkel tidak dapat lagi digunakan dengan tekanan yang terlalu besar (bahkan di kedalaman 50 cm). Normalnya.6 Perubahan Tekanan Atmosfer Tekanan pada cairan akan meningkat seiring dengan kedalaman air. Tekanan tersebut menggunakan merkuri karena untuk melihat tekanan. Semakin dalam. Istilah ‘saturasi’ digunakan untuk menjelaskan proporsi hemoglobin yang mengikat oksigen. Semakin tinggi koefisien kelarutan. Pada keadaan dimana Hb berikatan dg H+ Hb punya afinitas yang rendah thd O2. Pada tempat yang tinggi tekanan parsial gas di udara akan berkurang 9 . Saat tekanan parsial suatu gas di atas suatu larutan meningkat. digunakan barometer dan tekanan tersebut dapat diukur dengan melihat ketinggian merkuri yang ada di dalamnya dalam ukuran milimeter. karobondioksida akan langsung larut dan dengan mudah ditranspor dalam larutan. Saat berada di kedalaman 10 m. Akan tetapi. Sejumlah kecil O2 diangkut dalam keadaan terlarut secara fisik berdifusi keluar dari plasma masuk ke dalam sel jaringan.2 atm pada normalnya. semakin mudah larut gas tersebut. Dengan terus meningkatnya tekanan udara. maka semakin besar tekanan gas yang diterima. Tekanan 1 atm juga dapat dihitung sebanyak 760mm Hg atau merkuri.

sesak (dyspnea). cukup banyak nitrogen yang diangkut ke jaringan sehingga jaringan jenuh akan nitrogen. Karena kurangnya oksigen. Di bawah permukaan laut.9 Efek Dekompresi Bila orang bernapas dalam lingkungan udara bertekanan tinggi dalam jangka waktu lama. Pada tempat yang tinggi tekanan parsial oksigen yang rendah menyebabkan lebih sedikit oksigen yang rendah menyebabkan lebih sedikit oksigen yang berdifusi ke dalam darah. Orang yang baru saja datang ke tempat yang tinggi (pegunungan) akan beradaptasi dengan ketinggian dalam periode waktu tertentu. nitrogen akan keluar dari larutan dalam bentuk gelembung-gelembung gas kecil dalam jaringan dan darah. tekanan parsial semua gas akan meningkat. Hal sebaliknya terjadi pada tempat yang lebih rendah dari permukaan laut. Inilah decompression sickness. 10 . jumlah nitrogen yang larut dalam cairan tubuhnya akan banyak sekali. Hal ini menyebabkan ‘sakit ketinggian’. (sensasi ‘tercekik’). Terapinya adalah rekompresi dan dekompresi perlahan. dan hal ini dapat menimbulkan kerusakan di setiap tempat dalam tubuh. Mengapa demikian ? Darah yang mengalir melalui kapiler paru akan jenuh dengan nitrogen yang tekanannya sama dengan tekanan yang terdapat dalam udara campuran pernapasan. Karena nitrogen tidak di metabolism oleh tubuh. Hal ini disebut sindrom dekompresi. Jika seorang menyelam naik ke permukaan terlalu cepat. dari derajat ringan hingga berat bergantung pada jumlah dan ukuran gelembung yang terbentuk. Atlet-atlet membutuhkan latihan berminggu-minggu di tempat yang tinggu untuk beradaptasi (aklimatisasi) sebelum bertanding. Setelah beberapa jam. dimana tekanan atmosfer lebih tinggi dari normal. pada waktu itulah nitrogen dibuang melalui pernapasan. kerusakan jantung. batuk dan sesak (dyspnea). biasanya terjadi keluhan pusing. nitrogen akan tetap larut sampai tekanan nitrogen dalam paru turun. tetapi pembuangan ini memerlukan waktu beberapa jam dan sekumpulan masalah ini yang disebut “decompression sickness” Mekanisme Bila seorang penyelam telah lama berada di dalam laut sehingga sejumlah besar nitrogen terlarut dalam tubuhnya dan kemudian tiba-tiba naik ke permukaan laut. dan nyeri persendian yang hebat (bend). sejumlah gelembung nitrogen dapat timbul dalam cairan tubuhnya baik intrasel maupun ekstrasel. berarti gas seperti nitrogen akan larut dalam darah. dengan gejala paralisis.sebanding dengan berkurangnya tekanan atmosfer. mual muntah dan fatig. Orang-orang yang hidup pada tempat tinggi akan berkompensasi dengan memproduksi eritrosit (sel darah merah) lebih banyak.

Tetapi bila penyelam itu mendadak naik ke permukaan laut. Berbeda dengan oksigen yang biasa diangkut darah. saraf. hingga tulang.11. oksigen bertekanan udara tinggi mudah larut ke seluruh jaringan tubuh yang ada cairan. akan semakin baik bagi kemandirian tubuh dalam memperbaiki jaringan yang rusak.10 Terapi Hyperbaric Terapi oksigen hiperbarik adalah suatu cara pengobatan dimana peserta terapi bernapas dengan menghirup oksigen murni di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT) atau hyperbaric chamber lebih dari 1 atmosfer absolut. tentu akan mengalami kelainan dan ketidak-normalan. tekanan di luar tubuhnya menjadi hanya 1 atm ( 760 mmHg ). Terapi hiperbarik mengurangi risiko pengurangan tekanan udara atau "the bends" yang terjadi akibat gelembung gas nitrogen mulai terbentuk di paru-paru dan aliran darah ketika penyelam naik ke permukaan air yang dapat menghalangi dan merusak pembuluh darah. sedangkan tekanan gas dalam cairanb tubuhnya merupakan jumlah dari tekanan uap air. Namun apabila pernafasan manusia tidak teratur dan berada pada tekanan yang tidak tepat. dan nitrogen atau total 4065 mm Hg. Oleh karena itu gas akan keluar dari larutan dan membentuk gelembung-gelembung dalam jaringan. Cara bernafas yang tidak normal dipengaruhi oleh tekanan sehingga memberi dampak tidak baik pada sistem pernafasan manusia. dari darah.Selama penyelam itu masih tetap berada di laut. oksigen. yang jelas jauh lebih besar dari tekanan di luar tubuh dan sekitar 97 % nya disebabkan oleh nitrogen terlarut. terutama dalam darah yang kemudian menyumbat pembuluh darah. tekanan di luar tubuhnya ( 5000 mm Hg ) akan menekan jaringan tubuh sehingga gas tetap berada dalam keadaan terlarut.12 Kesimpulan Pernapasan merupakan suatu proses pertukaran gas-gas respirasi yaitu oksigen dan karbondioksida yang kemudian dibawa oleh darah keseluruh tubuh untuk kelangsungan hidup. Semakin banyak oksigen yang terserap. karbon dioksida. sistem getah bening. Terapi hiperbarik merupakan terapi utama pada penyakit penyelaman (penyakit dekompresi dan emboli gas arteri) dan terapi tambahan pada berbagai penyakit klinis. 11 .

Edisi kedua.rsmintohardjo.kompas. Somantri I. Shidham VB. Edisi ke-6. h. Arena S. Cytopathologic diagnosis of serous fluids. 2007. Hademenos G J. Diunduh dari www.com. Hoboken: John Wiley and Sons. Sherwood L. Jakarta: Erlangga. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Jakarta 2007. Respirologi (respiratory medicine). Fried G H. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan. 11.h. New York: John Wiley and Sons.h. 2011 9. Mitchel LG. Terapi oksigen hiperbarik. Atkinson BF. Campbell NA. Swain H.151 4. Foundations of college chemistry. Kompas. Terapi oksigen hiperbarik di RSAL Mintohardjo. An introduction to marine science. 2009. h. Philadelphia: Saunders Elsevier. Djojodibroto D. James J. 2nd Ed.14-5 7. Jakarta: Salemba Medika. Edisi 3. Meadows PS.health. Jakarta 2009.J. 2006: h. Diunduh dari www. Rumah Sakit Angkatan Laut Dr.h. 18 Mei 2016 12 . Schaum’s outlines biologi. Reece JB. Mintohardjo.Daftar Pustaka 1. Cowin E. 235-7 10. Buku saku patofisiologi. 2004 3.539. 2007 2. Alternate 13th Ed.25-7 5. 2008. Baker C.com 12. 1988 8. Hein M. Prinsip-prinsip sains untuk keperawatan: Erlangga. Edisi 1. Campbell JI.525-8 6. Biologi: Jakarta.