You are on page 1of 33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anemia Gizi Besi

1. Pengertian Anemia Gizi Besi

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin menurun

sehingga tubuh akan mengalami hipoksia sebagai akibat kemampuan

kapasitas pengangkutan oksigen dari darah berkurang (Prof. dr. Iman

Supandiman, 2009).

Anemia merupakan keadaan dimana masa eritrosit dan/atau masa

hemoglobin yang beredar tidak memenuhi dungsinya untuk

menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh (Handayani & Hariwibowo,

2009).

Anemia gizi adalah keadaan dengan kadar hemoglobin,

hematokrit, dan sel darah merah yang lebih rendah dari nilai

normal,sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur

makanan esenisal yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi

tersebut (Dr. Arisman, 2015).

Anemia gizi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya

cadangan besi tubuh, sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis

berkurang yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang.

Anemia jenis ini adalah anemia yang paling sering dijumpai , terutama

di daerah tropis (Handayani & Hariwibowo, 2009).

Jadi dapat disimpulkan bahwa anemia adalah suatu keadaan

dimana kadar hemoglobin kurang dari nilai normal.anemia gizi besi

adalah anemia yang timbul karena kurangnya zt besi dalam darah.

8
9

WHO menetapkan cut off point atau batas hemoglobin yang diyatakan

anemia adalah:

Tabel 2.1 Cut Off Point Hemoglobin Untuk Menentukan Anemia.

Kelompok Umur Nilai (g/dl)

Anak usia 6 bulan 5 tahun 11,0

Anak usia 5-11 tahun 11,5

Anak usia 12-13 tahun 12,0

Wanita Dewasa 12,0

Wanita Hamil 11,0

Laki-Laki 13,0

Sumber : Indicators for Asessing Iron Deficiency and Strategies for Its Prevention,

WHO/UNICEF, UNU. Dalam Gizi dan Kesehatan Masyarakat, FKMUI,

2010.

2. Etiologi Anemia Gizi Besi

Menurut Handayani dan Hariwibowo anemia defisiensi besi dapat

disebabkan oleh rendahnya masukan besi, gangguan absorpsi, serta

kehilangan besi akibat perdarahan menahun.

1. Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun yang

dapat berasal dari:

a. Saluran cerna : akibat dari tukak peptik kanker lambung,

kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing

tambang.

b. Saluran genitalia wanita : hemoragi atau metroragi.

c. Saluran kemih : hematuria.

d. Saluran napas : hemaptoe.


10

2. Faktor nutrisi : akibat kurangnya jumlah besi total dalam

makanan atau kualitas besi yang tidak baik (makanan yang

banyak mengandung serat, rendah vitamin C, dan rendah

daging).

3. Kebutuhan besi meningkat : seperti pada prematuritasanak

dalam masa pertumbuhan dan kehamilan.

4. Gangguan absorpsi besi : gastrektomi, kolitis kronis.

(Handayani & Hariwibowo, 2009)

3. Tanda dan Gejala Anemia Gizi Besi

Tanda dan gejala anemia defisiensi besi biasanya tidak khas dan

sering tidak jelas, seperti: pucat, mudah lelah, berdebar, takikardia,

dan sesak napas. Kepucatan bisa diperiksa ditelapak tangan, kuku,

dan konjungtiva palpebra (Dr. Arisman, 2015).

Menurut Handayani dan Hariwibowo dalam bukunya menyatakan

bahwa gejala anemia defisiensi besi dapat digolongkan menjadi tiga

golongan besar seperti berikut:

1. Gejala umum anemia

Gejala umum anemia yang disebut juga sebagai sindrom

anemia dijumpai pada anemia defisiensijika kadar hemoglobin

turun di bawah 7-8 g/dl. Gejala ini berupa badan lemah, lesu,

cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga

mendenging. Pada anemia defisiensi besi, karena terjadi

penurunan kadar hemoglobin secara perlahan-lahan, sering

kali sindrom anemia tidak terlalu mencolok dibandingkan


11

dengan anemia lain yang penurunan kadar hemoglobinnya

lebih cepat.

2. Gejala khas akibat defisiensi besi

Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi dan tidak

dijumpai pada anemia jenis lain adalah sebagai berikut.

a. Koilorikia : kuku sendok (spoon nail) kuku menjadi rapuh,

bergaris-garis vertikal, dan menjadi cekung sehingga mirip

seperti sendok.

b. Atrofi papila lidah : permukaan lidah menjadi licin dan

mengilap karena papila liudah menghilang.

c. Stomatitis anugularis : adanya peradangan pada sudut

mulu, sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat

keputihan.

d. Disfagia : nyeri menelan karena kerusakan epitel

hipofaring.

e. Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan aklorida.

3. Gejala penyakit dasar

Pada anemia defisiensi besi dapat dijumpai gejala-gejala

penyakit yang menjadi penyebab anemia defisiensi. Misalnya

pada anemia akibat penyakit cacing tambang dijumpai

dispepsia, parotis membengkak, dan kulit telapak tangan

berwarna kuning (Handayani & Hariwibowo, 2009).


12

4. Patofisiologi Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi terjadi ketika pasokan zat besi tidak

mencukupi bagi pembentukansel darah merah yang optimal sehigga

terbentuk sel-sel yang berukuran lebih kecil (mikrositik) dengan warna

lebih muda (hipokromik) ketika dilakukan pewarnaan. Simpanan besi

di dalam tubuh yang juga mencakup besi plasma akan habis terpakai

dan konsentrasi transferin serum yang mengikat besi untuk

transportasinya akan menurun. Simpanan besi yang kurang akan

menimbulkan deplesi massa sel darah merah disertai konsentrasi

hemoglobin di bawah normal, dan selanjutnya kapasitas darah untuk

mengangkut iksigen juga berada di bawah kondisi normal (subnormal)

(Kowalak, Welsh, & Mayer, 2013)

5. Komposisi Zat Besi (Fe) Dalam Tubuh

Besi terdapat dalam berbagai jaringan tubuh, berupa (Bakta, 2006):

a. Senyawa besi fungsional, yaitu besi yang membentuk senyawa

yang berfungsi dalam tubuh.

b. Besi cadangan, senyawa besi yang dipersiapkan bila masukan

besi berkurang.

c. Besi transpor, besi yang berkaitan dengan protein tertemtu dalam

fungsinya untuk mengangkut besi dari dari satu kompartemen ke

kompartemen lainnya.

Besi dalan tubuh tidak pernah terdapat dalam bentuk logam bebas

(free iron), tetapi selalu berkaitan dengan protein tertentu. Besi bebas

akan merusak jaringan, mempunyai sifat seperti radikal bebas (Bakta,

2006).
13

Jumlah besi yang diperlukan oleh tubuh setiap hari untuk

mengkompensasi kehilangan besi dari tubuh dan untuk pertumbuhan

bervariasi menurut usia dan jenis kelamin. Kebutuhan paling tinggi

terdapat pada masa kehamilan, remaja dan wanita menstruasi.

Angka kecukupan besi untuk Indonesia adalah sebagai berikut

(Almatsier, 2005):

Tabel 2.2 Angka Kecukupan Zat Besi (Fe) pada setiap kelompok

Kelompok Kebutuhan Fe

Bayi 3 5 mg

Balita 8 9 mg

Anak Sekolah 10 mg

Remaja Laki-Laki 14 17 mg

Remaja Perempu-Lakian 14 25 mg

Dewasa Laki 13 mg

Dewasa Perempuan 14 26 mg

Ibu Hamil + 20 mg

Ibu Menyusui + 2 mg

Sumber : Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 1998 dalam Almatsier, 2005

Absorpsi Zat Besi

Diperkirakan hanya 5-15% diperkirkan besi makanan diabsorbsi

oleh orang dewasa yang berada dalam status besi baik. Dalam

keadaan defisiensi besi absorbsi mencapai 50%. Banyak faktor

berpengaruh terhadap absorbsi defisensi besi (Almatsier, 2005)


14

Bentuk besi di dalam makanan berpengaruh terhadap

penyerapannya. Besi-hem, yang merupakan bagian dari hemoglobin

dan mioglobin yang terdapat di dalam daging hewan dapat diserap

dua kali lipat daripada Besi-nonhem. Kurang lebih 40% dari besi

didalam daging, ayam dan ikan terdapat sebagai besi-hem dan

selebihnya sebagai nonhem. Besi nonhem juga terdapat di dalam

telur, serelia, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan beberapa jenis

buah-buahan. Makan besi-hem dan nonhem secara bersamaan dapat

meningkatkan penyerapan besi-nonhem. Daging, ayam dan ikan

mengandung suatu faktor yang membantu penyerapan besi. Faktor ini

terdiri atas asam amino yang mengikat besi dan membantu

penyerapannya. Susu sapi, keju dan telur tidak mengandung faktor ini

hingga tidak dapat membantu penyerapan besi (Almatsier, 2005).

Menurut Almatsier (2005) adapun faktor-faktor yang berpengaruh

dalam penyerapan zat besi, antara lain:

a. Faktor makanan

1) Faktor yang memacu penyerapan zat besi bukan pada

heme

a) Vitamin C

Vitamin C sangat membantu penyerapan besi-

nonhem dengan merubah feri menjadi bentuk fero.

Bentuk fero lebih mudah diserap. Vitamin C disamping

itu membentuk gugus besi-askorbat yang tetap larut

pada pH lebih tinggi dalam duodenum. Oleh karena itu,


15

sangat dianjurkan memakan makanan sumber vitamin

C tiap kali makan (Almatsier, 2005)

b) Daging, unggas, ikan dan makanan laut lain

c) pH rendah

2) Faktor yang menghambat penyerapan zat besi bukan

heme

a) Fitat (500 mg/hari) atau asam fitat

Asam fitat dan faktor lain di dalam serat serealia

dan asam oksalat di dalam sayuran menghambat

penyerapan besi. Faktor-faktor ini mengikat besi,

sehingga mempersulit penyerapannya. Protein kedelai

menurunkan absorbsi besi yang mungkin disebabkan

oleh nilai fitatnya yang tinggi. Karena kedelai dan hasil

olahannya mempunyai kandungan besi yang tinggi,

pengaruh akhir terhadap absorbsi besi biasanya

positif.

b) Polifenol (Tanin)

Tanin yang merupakan polifenol dan terdapat di

dalam teh, kopi dan beberapa jenis sayuran dan buah

juga menghambat absorbsi besi dengan cara

mengikatnya. Bila besi tubuh tidak terlalu tinggi,

sebaiknya tidak minum teh atau kopi waktu makan

(Almatsier, 2005).
16

b. Faktor penjamu

1) Status zat besi

2) Status kesehatan (infeksi, malabsorbsi).

6. Pemeriksaan Laboratorium

Kelainan laboratorium pada kasus anemia defisiensi besi yang

dapat dijumpai adalah sebagai berikut :

a. Kadar hemoglobin (Hb) dan indeks eritrosit. Didapatkan anemia

mikrositer hipokromik dengan penurunan kadar Hb mulai dari

ringan sampai berat, RDW meningkat yang menunjukkan adanya

anisostosis. Indeks erotrosit sudah dapat mengalami perubahan

sebelum kadar Hb menrun. Apusan darah menunjukkan anemia

mikrositer hipokromik, anisositosis, poikilositosis anulosit, leukosit

dan trombosit normal, retikulosit rendah.

b. Kadar besi serum menurun < 50 mg/dl, total iron binding capacity

(TIBC) meningkat > 350 mg/dl, dan saturasi transferin < 15%.

c. Kadar serum feritin. Jika terdapat inflamasi, maka feritin serum

sampai dengan 60 Ug/dl.

d. Protoporifineritrosit meningkat ( > 10Ug/dl).

e. Sumsum tulang. Menunjukkan hiperplasia normoblastik dengan

normoblast keil-kecil dominan (Handayani & Hariwibowo, 2009).

Penentuan anemia defisiensi zat besi secara klnis (kecuali anemia

berat) sangat dipengaruhi oleh banyak variabel, seperti ketebalan kulit

dan pigmentasi. Karena itu,pemeriksaan laboratorium sebaiknya

digunakan dalam mendiagnosis serta menentukan berat atau


17

ringannya anemia. Pemeriksaan tersebut akan sangat bermanfaat

terutama terhadap kelompok yang berisiko tinggi.

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah penentuan

derajat anemia dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah rutin,

seperti pemeriksaan Hb, Ht, hitung jumlah red blood cells (RBC),

bentuk red blood cells (RBC), jumlah retikulosit sementara uji

defisiensi zat besi melalui pemeriksaan feritin serum, kejenuhan

transferin, dan protoporfirin eritrosit.

Temuan laboratorium dapat memperlihatkan penurunan nila Hb

sampai 3 gr/dl, namun jarang ditemui jumlah RBC yang mencapai

<2,5 juta/L. Bentuk sel RBC biasanya kecil (mikrositik), dan mean

corpuscular volume (MCV) <79 fL. Jumlah retikulosit rendah menurut

derajat anemia. Jumlah platelet kerap meningkat, tettapi jumlah sel

white bllood cells (WBC) tetap normal. Kadang kala tampak sel

neutrofil yang bersegmen banyaj (hypersemented). Kadar zat besi

dalam serum biasanya <60 g/dl. Kemampuan total mengikat zat besi

(iron binding capacity) meningkat hingga 350-500 g/dl. Kejenuhan

transferin <16%, sementara kadar feritin serum <10 g/dl. Untuk

memperoleh nilai yang akurat mengenai simpana zat besi,

hemosiderin dam=lam sumsum tulang sebaiknya dihitung (Dr.

Arisman, 2015).
18

7. Penatalaksanaan Anemia Gizi Besi

Terapi pada anemia defisiensi besi dapat berupa terapi-terapi

berikut ini :

a. Terapi Kausal

Terapi kausal bergantung pada penyebabnya, misalnya

pengobatan cacing tambang, hemoroid, dan menoragi.

b. Pemberian Preparat Besi untuk Mengganti Zat Besi dalan Tubuh

Pemberian preparat besi biasanya diberikan secara per oral atau

parenteral.

1) Besi per oral

Pengobatan melalui oral jelas aman dan murah dibandingkan

dengan parenteral. Besi melalui oral harus memnuhi syarat bahwa

tiap tablet atau kapsul berisi 50-100 mg besi elemental yang mudah

dilepaskan dalam lingkungan asam, mudah diabsorpsi dalam bentuk

fero, dan kurang efek samping. Ada empat bentuk garam besi yang

dapat diberikan melalui oral yaitu sulfat, glukonat, fumarat, dan

suksinat. Efek samping yang terjadi biasanya pirosis dan kontipasi.

Pengobatan diberikan sampai enam bulan setelah kadar b normal

untuk mengisi cadangan tubuh.

2) Besi Parenteral

Diberikan bila indikasi seperti malabsorpsi, kurang toleransi

melalui oral, klien kurang kooperatif, dan memerlukan peningkatan Hb

secara cepat (Pre operasi, hamil trimester terakhir).


19

Preparat yang tersedia adalah iron dextran complex dan iron

sorbitol citic acid complex yang dapat diberikan secara IM dalam atau

IV. Efek samping pada pemberian intramuskular biasanya sakit pada

bekas suntikan sedagkan pemberian intravena bisa terjadi renjatan

atau tromboplebitis (Handayani & Hariwibowo, 2009).

Karena pemberian suplemen besi IV tidak menimbulkan rasa nyeri

dan memerlukan suntikan dengan frekuensi lebih sedikit, biasanya

cara pemberian ini lebih disukai daripada pemberian IM. Hal-hal yang

perlu diperhatikan, yaitu:

1. Pemberian total besi-dekstran (InFeD) melalui infus dalam larutan

normal saline dilaksanakan selama satu hingga 8 jam (pada

pasien hamil dan geriatrik dengan anemia berat)

2. Tes alergi dengan dosis 0,5 ml yang disuntikkan dahulu secara IV

(untuk mengurangi resiko reaksi alergi) (Kowalak, Welsh, &

Mayer, 2013).

Pengobatan lain

Pengobatan lain yang biasanya digunakan adalah sebagai berikut:

1. Diet : sebaiknya didiberikan makan bergizi yang tinggi protein

terutama protein hewani.

2. Vitamin C : diberikan 3 x 100 mg per hari u tuk meningkatkan

absorpsi besi.

3. Transfusi darah : indikasi pemberian taransfusi darah pada

anemia kekurangan besi adalah:

a. Adanya penyakit jantung anemik;

b. Anemia yang simptomatik:


20

c. Penderita memerlukan peningkatan kadar Hb yang cepat.

(Handayani & Hariwibowo, 2009).

c. Pencegahan Anemia Gizi Besi

Anemia gizi besi dapat dicegah dengan memelihara

keseimbangan antara asupan Fe dengan kebutuhan dan kehilangan

Fe. Jumlah Fe yang dibutuhkan untuk memelihara keseimbangan ini

bervariasi antara remaja putri dengan remaja lainnya, tergantung

pada riwayat reproduksi dan jumlah kehilangan darah selama

menstruasi. Peningkatan konsumsi Fe untuk memenuhi kebutuhan Fe

dilakukan melalui peningkatan konsumsi makanan yang mengandung

home iron (FKMUI, 2011).

Suplementasi Fe adalah suatu strategi untuk meningkatkan intake

Fe yang berhasil hanya jika individu mematuhi aturan konsumsinya.

Bentuk strategi yang digunakan untuk meningkatkan kepatuhan

mengkonsumsi Fe adalah melalui pendidikan tentang

pentingnyasuplementasi Fe dan efek samping akibat mengkonsumsi

Fe. Fortifikasi produk-produk sereal juga merupakan salah satu

strategi peningkatan konsumsi Fe di masyarakat yang bernilai rendah

biaya (FKMUI, 2011).

B. Remaja Putri

1. Pengertian Remaja Putri

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere

yang berarti tumbuh atau tumbuh mnejadi dewasa. Istilah seperti

yang digunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup
21

kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1980

dalam Sherly Novita, 2015)

Definisi remaja dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:

a. Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia antara 11-

12 tahun smapai 20-21 tahun.

b. Secara fisik reamaj ditandai oleh ciri perubahan pada penampilan

fisik dan funsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar

seksual.

c. Secara psikologis, remaja merupakan masa dimana individu

mengalami perubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan

moral, diantara masa anak-anak menuju dewasa (Kusmiran,

2011).

2. Tahap Perkembangan Remaja

Menurut Administartions Guidelines Amerika Serikat, rentang usia

remaja awal (11-14 tahun), remaja menengah (15-17 tahun, dan

remaja akhir (18-20 tahun) (Kusmiran, 2011).

Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan proses

kematangan manusia, sehingga terjadi perubahan yang sangat unik

dan berkelanjutan. Pertumbuhan fisik pada remaja terjadi secara

bersamaan dengan proses matangnya organ reproduksi. Masalah gizi

pada remaja akan berdampak pada tingkat kesehatan, misalnya

penurunan konsentrasi belajar (Sulistyoningsih H. , Gizi Untuk

Kesehatan Ibu dan Anak, 2011).

3. Kebutuhan Energi Zat Gizi untuk Remaja Putri


22

Terpenuhinya kebutuhan zat gizi adalah hal yang mutlak

diperlukan untuk mencapai tigkat kesehatan yang optimal. Beberapa

alasan yang mendasari masa remaja membutuhkan banyak zat gizi

adalah (Sulistyoningsih H. , Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak,

2011):

a. Secara fisik terjadi pertumbuhan yang sangat cepat ditandai

dengan peningkatanberat badan dan tinggi badan.

b. Mulai berfungsi dan berkembangnyaorgan-organ reproduksi. Jika

kebutuhan gizi tidak diperhatikan maka akan merugikan

pekembangan selanjutnya. Terutama pada perempuan karena ,

akan menyebabkan menstruasi tidak lancar, ganggiuan

kesuburan, rongga panggul tidak berkembang sehingga sulit

ketika melahirkan, kesulitan pada saat hamil, serta produksi SAI

tidak bagus. Perempuan yang fisiknya tidak tumbuh sempurna

karena kurang zat gizi juga beresiko melahirkan bayi dengan berat

badan lahir rendah.

c. Remaja umumnya melakukan aktivitas gizi lebih tingga

dibandingkan usia lainnya sehingga diperlukan zat gizi lebih

banyak

Penentuan kebutuhan zat gizi remaja secara umum diadasarkan

pada angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk Indonesia. Berikut

ini adalah angka kecukupan untuk energi, asam folat dan vitamin C

untuk remaja putri usia 10-12 dan 13-15 tahun.

Tabel 2.3 Kebutuhan Energi, Asam Folat dan Vitamin C untuk

Remaja Putri Usia 10-12 dan 13-15 Tahun


23

Kebutuhan zat Gizi 10-12 tahun 13-15 tahun

Energi 2050 mg 2350 mg

Asam Folat 300 mg 400 mg

Vitamin C 50 mg 65 mg

Sumber : Angka kecukupan Gizi Tahun 2004 bagi orang Indonesia

Tabel 2.4 Anjuran jumlah porsi makanan untuk memenuhi

kebutuhan zat gizi pada remaja

Wanita Usia 13-15 Usia 16-18 Tahun


Bahan Makanan
Tahun (2000 kkal) (2000 kkal)

Nasi 4,5 p 5p

Sayuran 3p 3p

Buah 4p 4p

Tempe 3p 3p

Daging 3p 3p

Susu 1p -

Minyak 5p 5p

Gula 2p 2p

Keterangan : p = porsi, 1p nasi = 100g, 1p sayuran = 100g

matang tanpa kuah, 1p buah = 50g, 1p tempe =

50g, 1p susu = 200g, 1 p minyak = 5g, dan 1p

gula = 10g.

Sumber : Anemia Masalah Gizi pada Remaja Putri.

Departemen Kesehatan (2005) merekomendasikan kepada remaja

untuk menerapkan pola konsumis pangan yang sehat melalui PUGS


24

(Pedoman Umum Gizi Seimbang), yaitu setiap hari mengkonsumsi

minimal dengan pokok, lauk-pauk (hewani dan nabati), sayur dan buah-

buahan. Pola frekuensi makanan remaja putri biasanya hanya dua kali

dalam sehari, yaitu kombinasi makan pagi-malam atau siang-malam

(Briawan, 2014).

4. Perilaku Makan Sehat untuk Remaja

Perilaku makan sehat untuk remaja adalah sama pentingnya

dengan perubahan fisik selama masa remaja dan hal ini biasanya

berpengaruh pada gizi yang dibutuhkan remaja. Remaja biasanya

merasa bebas dalam memutuskan memilih makanan sesuai dengan

keinginannya. Remaja cenderung lebih banyak makan diluar rumah

juga banyak terpengaruh oleh peer groupnya. Remaja lebih suka

mengonsumsi makanan yang sebenarnya termasuk tipe makanan

junk-food (misal : soft drink, fast food, makanan kemasan). Remaja

putri memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan yang kurang serat

(Sulistyoningsih, 2011)

C. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Gizi Besi

pada Remaja Putri.

Kejaidan anemia gizi besi rentan terjadi pada remaja putri. Anemia

gizi besi erat kaitannya dengan beberapa faktor diantaranya adalah siklus

menstruasi, kebiasaan sarapn pagi, kebiasaan konsumsi protein,

kebiasaan konsumsi vitamin C dan kebiasaan konsumsi teh dan kopi.

Beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia gizi

besi adalah:

1. Siklus Menstruasi
25

a. Pengertian Siklus Menstruasi

Menstruasi adalah proses alamiah yang terjadi

pada perempuan. Merupakan perdarahan teratur dari

uterus sebagai tanda bahwa organ kandungan telah

berfungsi matang. Umumnya, remaja putri yang

mengalami menarche adalah pada usia 12 tahun sampai

dengan 16 tahun. Periode ini akan mengubah perilaku dari

beberapa aspek, misalnya psikologi dan lainnya. Pada

wanita biasanya pertama kali n=mengalami menstruasi

(menarche) pada umur 12-16 tahun. Siklus menstruasi

normal terjadi setiap 22-28 harri, dengan lamanya

menstruasi 2-7 hari (Kusmiran, 2011).

Umumnya siklus menstruasi terejadi secara peridik

setiap 28 hari (ada pula setiap 21-30 hari), yaitu pada hari

1-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer

yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada saat tersebut,

sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan hormon

estrogen yang merangsang keluarnya LH dan hipofisis.

Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan

dinding uterus, yaitu endometrium, yang habis terkelupas

saat menstruasi. Selain itu estrogen menghambat

pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis

menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikelde

Graaf yang merusak atau mengadakan ovulasi yang terjadi


26

pada hari ke-14. Waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut

fase estrus (Kusmiran, 2011)

Selain itu, LH merangsang folikel yang telah

kosong untuk beruabh menjadi badan kuning (corpus

leteum). Bdan kuning menghasilkan horman progesteron

yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang

kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan

datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal. Selain

itu, progesteron juga menghambat pembentukan FSH dan

LH, akibatnnya korpus leteum mengecil dan menghilang.

Pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian

nutrisi kepada endometrium terhenti. Endometrium menjadi

mengering dan selanjutnya terkelupas dan terjadilah

perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Oleh karena

tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan

terjadilah proses oogenesis kembali (Kusmiran, 2011).

Kebutuhan zat besi (Fe) pada masa remaja juga

meningkat karena terjadinya pertumbuhan cepat. Pada

remaja putri kebutuhan tinggi akan besi terutama

disebabkan kehilangan zat besi selama masa menstruasi.

Hal ini mengakibatkan remaja putri lebih rawan terhadap

anemia berat. Pada remaja putri zat besi yang dibutuhkan

maksimum adalah 1,5 mg/hari, namun sebenarnya 1,3

mg/hari pun sudah mencukupi, hanya saja jumlah 1,5


27

mg/hari dibutuhkan untuk mengganti at besi yang hilang

pada saat menstruasi (Sulistyoningsih H. , 2011)

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Rahmawati

dkk pada tahun 2013 menunjukkan bahwa ada pola

hubungan yang signifikan antara pola menstruasi dengan

angka kejadian anemia pada remaja putri yang ditunjukkan

dengan nilai Value 0,0000 (Rahmawati & Alfiah,

Hubungan Pola Menstruasi Dengan Kejadian Anemia

Pada Remaja Putri di SMK Negeri 1 Boyolali, 2013).

Remaja putri memiliki resiko lebih besar untuk

terkena anemia karena mengalami menstruasi, semakin

sering dan lama menstruasi berlangsung, maka semakin

banyak darah keluar daritubuh. Hal ini akan mengkibatkan

pengeluaran besi meningkat dan keseimbangan zat besi

dalam tubuh terganggu. Siklus menstruasi tidak teratur dan

menstruasi sangat banyak memungkinkan kehilangan besi

dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang

memiliki pola menstruasi teratur. Frekuensi dan lama

menstruasi yang tidak teratur dipengaruhi oleh beberapa

faktor diantaranya yaitu, stres, perubahan berat badan,

olah raga yang berlebihan dan keluhan menstruasi (al L.

N., 2014)

2. Kebiasaan Sarapan Pagi Remaja Putri

a. Pengertian Sarapan Pagi


28

Sarapan pagi adalah makanan yang dimakan pada

pagi hari sebelum beraktifitas, yang terdiri dari makan

pokok dan lauk pauk atau makana ringan. Jumlah

mal=kanan yang dimakan kurang lebih 1/3 dari makanan

sehari, waktu sarapan yang baik adalah sekitar pukul

07.00-09.00 pagi.

Remaja putri sering menghindari sarapan pagi dan

makan siang atau hanya makan sehari sekali karena takut

kegemukan. Hal ini menyebabkan pertumbuhan dan

perkembangan tubuh akan terhambat. Salah satu

karakteristik perilaku makan yang dimilikioleh remaja

adalah kebiasaan tidak sarapan pagi atau makan pagi.

Pada masa pencarian identitas diri inilah yang

mempengaruhi pola mkana remaja termasuk pemilihan

bahan makanan dari frekuensi makan.

Hampir 50% remaja tidak sarapan pagi. Remaja

putri bahkan melewatkan dua kali waktu makan dan lebih

memilih cemilan. Dimana cemilan bukan hanya hampa

kalori, namun sedikit sekali mengandung zat gizi

khususnya zat besi (Dr. Arisman, 2015).

b. Manfaat Sarapan Pagi

Manfaat sarapan pagi adalah untuk memelihara

kebutuhan tubuh agar dapat belajar dengan baik,

mambantu memusatkan pikiran untuk belajar dan


29

memudahkan penyerapan pelajaran dan membantu

mencukupi zat gizi.

c. Kebiasaan Sarapan Pagi Remaja Putri Terhadap

Kejadian Anemia

Sarapan memberikan kontribusi besar pada energi

harian dan asupan nutrisi. Sarapan pagi merupakan suatu

kegiatan yang penting sebelum melakukan aktifitas fisik

pada pagi hari. Bagi anak sekolah sarapan pagi atau

makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan

memudahkan penyerapan pelajaran, sehingga persentasi

belajar menjadi lebih baik (Dewi & Mulyati, 2014)

Kurangnya asupan energi yang bersumber dari

makronutrien dan mikronutrien akibat melewatkan sarapan

dapat berkontribusi terhadap rendahnyakadar hemoglobin.

Energi dibutuhkan dalam berbagai proses fisiologis tubuh,

sehingga apabila asupan energi kurang dan terjadi secara

terus menerus akan terjadi pemecahan protein sebagai

sumber energi yang dapat mempengaruhi kadar

hemoglobin (Dewi & Mulyati, 2014).

Penelitian yang membahas mengenai hubungan

antara sarapan pagi dengan kadar hemomoglobin pada

remaja putri di SMA 2 Kota Bandar Lampung yang

dilakukan oleh Rahmawati (2011) menunjukkan bahwa ada

hubungan antara kebiasaan sarapan pagi dengan kejadian

anemia pada remaja. Pola konsumsi makanan merupakan


30

faktor langsung terhadap asupan zat gizi, dimana remaja

sering tidak mengetahuinya. Pola konsumsi remaja yang

perlu mendapat perhatian salah satunya adalah kebiasaan

sarapan pagi serta konsumsi makanan bergizi yang

membantu penyerapan zat gizi seperti buah, sayur dan

lauk pauk (Rahmawati,2011)

3. Konsumsi Protein Remaja Putri

Kebiasaan makan yang diperoleh semasa remaja akan

berdampak pada kesehatan dalam fase kehidupan

selanjutnya. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan anemia

gizi besi dan keletihan. Remaja khususnya remaja putri

membutuhkan lebih banyak zat besi daripada remaja putra,

hal ini dikarenakan remaja putri mengalami siklus menstruasi

yang membutuhkan zat besi lebih banyak untuk menggantikan

zat besi yang hilang sama menstruasi (Dr. Arisman, 2015)

Bahan makanan yang banyak mengandung zat besi dapat

diperoleh daribahan makanan yang bersumber protein hewani.

Zat besi hewani (heme) lebih mudah diserp oleh tubuh. Angka

kecukupan protein pada remaja putri usia 13-15 tahun ialah 62

gram. Beberapa jenis sumber protein hewani yaitu daging

sapi, jantung hati sapi, daging ayam, ikan dan telur (Vitahealth,

2006)

Sumber protein sangat diperlukan untuk pertumbuhan,

perkembangan badan pada masa remaja, pembentukan

jaringan-jaringan baru dan pemeliharaan tubuh. Protein juga


31

berguna untuk menjernihkan pikiran dan meningkatkan

konsentrasi kecerdasan. Sumber protein diperoleh dari hewani

dan nabati.

Dari penelitian yang dilakukan Syatriani dan Aryani tahun

2009 di salah satu SMP di Kota Makassar menunjukkan hasil

bahwa siswa dengan konsumsi protein cukup dan terkena

anemia sebanyak 23,8% dan siswi yang konsumsi protein

kurang dan menderita anemia sebanyak 82,8%. Itu berarti

remaja dengan konsumsi protein kurang beresiko lebih besar

mengalami anemia (Syatriani & Aryani, 2009)

4. Konsumsi Vitamin C Remaja Putri

1. Pengertian Vitamin C

Vitamin C adalah vitamin penting yang paling

banyak digunakan, dan dikenal dari tingginya sariawan

(scurvy) yang terjadi akibat kekurangan vitamin ini. Pada

abad ke-18, James Lind, dokter Angkatan Laut Inggris

menggunakan jus jeruk, yang kaya vitamin C, untuk

mengatasi sariawan pada anak buah kapal yang berlayar

lama. Tahun 1928 Szent Gyeogyi mencoba mengisolasi

vitamin C dari berbagai bahan (Vitahealth, 2006). Vitamin

C adalah vitamin essensial dimana manusia tidak dapat

menghasilkannya sendiri, sehingga diperlukan asupan dari

makanan. Adapun sumber Vitamin C pada makanan paling

banyak ditemukanpada buah-buahan, seperti : jeruk,


32

jambu biji, tomat, mangga, sirsak dan nanas. Sayuran

yang mengandung Vitamin C yaitu bayam, brokoli, cabai

dan kentang (Vitahealth, 2006).

Vitamin C merupakan satu-satunya unsur makanan

yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Tubuh

meneyerap sekitar 1-2 mgram zat besi dari makanan

setiap harinya, yang secara kasar sama dengan jumlah zat

besi yang dibuang dari tubuh setiap harinya. Tubuh

mendaur ulangzat besi, yaitu ketika sel darah merah mati,

zat besi didalamnya dikembalikan ke sumsum tulang

tulang untuk digunakan kembali oleh sel darah merah yang

baru.

Dalam penelitian yang dilakukan pleh Sytariani dan

Ariyani (2009) menunjukkan bahwa adanya hubungan

yang signifikan antara konsumsi Vitamin C dengan

kejadian anemia gizi dengan value = 0,014 (Syatriani &

Aryani, 2009).

2. Manfaat

Vitamin C sering digunakan untuk melindungi sel

darah putih dari enzim yang dilepaskan saat mencerna

bakteri yang te;ah ditelannya. Vitamin C membantu

mencegah infeksi yang diakibakan bebrapa jenis virus dan

bakteri, menambah masa hidup, serta mengurangi

terjadinya katarak. Selain itu, vVitamin C berguna untuk

pembentukan kolagen interseluler, membantu proses


33

penyembuhan luka, mejaga kesehatan gusi, memcegah

terjadinya memar, dan meningkatkan daya tahan tubuh

melawan infeksidan stres (Vitahealth, 2006).

Funsi lain dari vitamin C adalah sbegai antioksidan,

penghasil senyawa transmiter saraf dam hormon tertentu,

membantu memperbaiki sel tubuh dan meningkatkan kerja

enzim sebagai faktor penyerap dan pengguna zat gizi

lainnya. Juga mengurangi tekanan darah tinggi,

menurunkan kolesterol darah, mengurangi resiko penyakit

jantung dengan melindungi kerusakan jantung dan

pembuluh darah yang diesabkan oleh makanan kaya

lemak. Vitamin C juga mengurangi resiko kanker dengan

mengurangi kerusakan akibat radikal bebas pada DNA

yang dapat memicu kanker (Vitahealth, 2006).

3. Konsumsi Vitamin C Remaja Putri Terhadap Kejadian

Anemia

Defisiensi Vitamin C menyebabkan beberapa

bentuk anemia, meskipun belum jelas apa peran

langsungnya dalam menecegah anemia, Vitamin C

berperan pada penyerapan zat besi di usus dan

mobilisasidari penyimpanan dalam feritin. Suplementasi

Vitamin C juga meningkatkan penyerapan zat besi dari

pangan nabati (non-heme) (Briawan, 2014).

Vitamin C merupakan unsur esensial yang sangat

dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel-sel darah merah.


34

Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang

sukar dimobilisasi untuk membebaskan ebsi bila

diperlukan. Adanya Vitamin C dalam makanan yang

dikonsumsi akan memeberikan suasana asam sehingga

memudahkan reduksi zat besi ferr dalm bentul non-heme

meningkat empat kali lipat bila ada Vitamin C (al T. e.,

2013).

5. Zat Inhibitor (Konsumsi Kopi)

1. Pengertian Kopi

Kopi dalam bahasa arab disebut qahwah yang

bermakna kekuatan. Kata ini kemudian ber-metamorfose

menjadi kahve dalam bahasa Turki. Koffie dalam

bahasa Belanda. Sedangkan Indonesia sendiri lebih

dikenal dengan kata kopi.bubuk kopi inilah yang diseduh

dengan air dan dicampur dengan gula, sh=ehingga

menjadi minuman yang lezat.

Pengguanan kopi sebagai minuman dimulai sekitar

300 tahun, hal ni dikarenakan nilai kopi memiliki rasa

nikmat dan aromanya yang begitu menggoda, karena

aroma dan kenikmatan itulah kopi menjadi sangat populer

dan cepat menyebar ke berbagai belahan dunia manapun

(Haryadi, 2013).

2. Gejala Kopi secara Psikologis Bagi Pacandu:

a. Kekhawatiran yang berlebihan,


35

b. Perasaan gelisah dan cepat marah

c. Muntah-muntah

d. Kedinginan disertai demam, dan

e. Mengalami kebingungan

3. Dampak Kopi

Kafein yang bersifat larut dalam darah, sehingga

bisa mnegalir sampai ke otak dan akhirnya mampu

mempengaruhi pikiran dan menimbulkan kecanduan

orang-orang yang mengkonsumsinya. Kopi apabila

dikonsumsi secara rutin daam jangka waktu yang panjang,

maka dikhawatirkan akan berdampak membahayakan,

seperti pengerasan dinding arteri yang berimplikasi

menganggu kinerja jantung.

Kafein saat ini sudah sering disalah gunakan

bahkan dikonsumsi secara berlebihan. Kafein sendiri

merupakan zat kimia yang memiliki efek sangat banyak

dan kuat untuk sistem tubuh, sehingga membutuhkan

perhatian khusus. Dengan demikian ada baiknya

mengkonsumsi minuman yang berkafein harus sudah

mulai dibatasi dan jangan dijadikan rutinitas. Ada beberapa

hal terkait efek dari kafein tersebut yang berdampak

negatif bagi kesehatan:

a. Bagi penderita anemia atau ibu hamil yang

mengkonsumsi kopi akan berdampak buruk,

karena kafein yang terkandung dalam kopi


36

menyebabkan bayi lemah, mudah terinfeksi,

sehingga mningkatkan resiko kematian bayi

sampai 100%.

b. Penyempitan lubang pada pembuluh darah

yang diakibatkan endapan lemak, sehingga

beresiko serangan jantung dan stroke.

c. Menkonsumsi kopi dalam jangka waktu yang

lama akan menganggu pola tidur atau insomnia.

Efek ini ditimbulkan melalui blokade reseptor

adnosine yang berfunsi dalam proses

pengaturan pola tidur. Hal ini merupakan efek

samping yang bersifat kecanduan.

d. Menaikkan produksi asam lambung.

e. Mengakibatkan kanker oayudar dan kanker

kandung kemih.

6. Zat inhibitor (Konsumsi Teh)

1. Pengertian Teh

Teh adalah jenis minuman yang paling banyak

dikonsumsi manusia dewasa setelah air dan diperkirakan

manusia mengkonsumsi teh tidak kurang dari 120 ml

setiap harinya. Teh memiliki potensi sebagai penyebab

anemia, hal ini dikaitkan dengan peranan tanin yang

terkandung daladm kandungan teh.

Mineral makanan sebagai salah satu pembentuk

zat besi bila bereaksi dengan tanin akan membentuk


37

ikatan komplek yang tidak larut dalam sistem pencernaan,

apabila mineral makanan tidak berfungsi lagi dan akan

dikeluarkan oleh tubuh dalam bentuk feses. Tanin memiliki

kekuatan untuk mengikat protein sehingga memiliki

kemampuan mengabsorbsi sari makanan (Bungsu, 2012)

2. Dampak Mengkonsumsi teh

Teh mengandung tanin bila dikonsumsi bersamaan

dengan makanan akan mengurangi absorbsi besi.

Mengkonsumsi teh pada saat makan akan menurunkan

penyerapan besi sampai 50%. Ada dua jenis teh, yaitu teh

hitam dan teh hijau. Pada teh hitam senyawa polyphenol

yang berperan sebagai antioksidan ternyata telah

mengalami oksidasi, sehingga dapat mengikta zat seperti

Fe, Zn, dan Ca, serta dapat menyerap protein. Akan tetapi,

teh hijau memiliki senyawa polyphenol yang masih banyak,

sehingga kita masih dapat meningkatkan perannya

sebagai antioksidan.

Teh sebaiknya, dikonsumsi dengan diberi jarak

waktu sekitar 1 jam setelah mengkonsumsi sayuran atau

daging yang tinggi kandungan zat besinya. Langkah

tersebut dimaksudkan agar zat besi dapat diserap terlebih

dahulu oleh usus halus dan tidak terjadi tarik menarik

antara zat besi dengan tanin yang akan menghambat

penyerapan zat besi tersebut (Hidayanti, 2015)


38

D. Kerangka Teori

Remaja putri usia 15-17 tahu


(remaja menengah)

1. Siklus menstruasi
2. Kebiasaan sarapan pagi
3. Kebiasaan konsumsi
protein
4. Kebiasaan konsumsi
Vitamin C
5. Kebiasaan konsumsi teh
dan kopi

Anemia Gizi Besi Dampak yang ditimbulkan:

1. Menurunnya produktivitas
kerja.
2. Menurunnya kemampuan
akademis disekolah
3. Menurunkan konsentrasi
belajar
4. Mengganggu pertumbuhan
tubuh remaja.
5. Menurunkan daya tahan
tubuh sehingga mudah
terserang penyakit.

Sumber : (Bakta, 2006), (Dr. Arisman, 2015), (Sulistyoningsih H. , 2011), (Syatriani & Aryani,

2009), (Listiana, 2011)


39

DAFTAR PUSTAKA

al, L. N. (2014). Pola Menstruasi Tidak Teratur dan Kurang Energi Kronik
Meningkatkan Resiko Anemia Remaja Putri. Jurnla Teknologi
Kesehatan .

al, T. e. (2013). Hubungan antara Asupan Zat Besi, Protein dan Vitamin C
dengan Kejadian Anemia Pada Anak Sekolah Dasar di
Kelurahan Bunaken Kecamatan Bunaken Kepulauan Manado.
Manado: Universitas Sam Ratulangi Manado.

Almatsier, S. (2005). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia PUstaka


Utama.

Bakta, I. M. (2006). Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

Briawan, D. (2014). Anemia Masalah Gizi pada Remaja Wanita. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

Bungsu, P. (2012). Pengaruh Kadar Tanin pada Teh Celup terhadap Anemia Gizi
Besi (AGB). Depok: Universitas Indonesia.

Dewi, & Mulyati. (2014). Hubungan Kebiasaan Sarapam dengan Kadar


Hemoglobin pada Remaja Putri. ejournal-s1.undip.ac.id .

Dr. Arisman, M. (2015). Buku Ajar Ilmu Gizi : Gizi Dalam Daur Kehidupan.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

FKMUI, D. G. (2011). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Handayani, W., & Hariwibowo, A. S. (2009). Asuhan Keperawatan pada Klien


dengan Gangguan SIstem Hematologi. Jakarta: Salemba
Medika.

Haryadi, J. (2013). Fakta Buah Dan Sayur Yang Berbahaya. Jakarta: Niaga
Swadaya.

Hidayanti, F. (2015). Gambaran Pola Konsumsi Zat Pelancar dan Zat


Penghambat Absorbsi Zat Besi (Fe) serta Kadar Hb pada
Wanita. Makassar: Universitas Hasanudin Makassar.

Hurlock, E. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang


Rentang Kehidupan. Jakarta: Edisi Ke lima.
40

Kowalak, J. P., Welsh, W., & Mayer, B. (2013). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran.

Kusmiran. (2011). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba


Medika.

Listiana, A. (2011). Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian


Anemia Gizi Besi Pada Remaja Putri Di SMKN 1 Terbanggi
Lampung Tengah. Jurnal Kesehatan, Volume VII, Nomer 3,
November 2016 , 455-469.

Prof. dr. Iman Supandiman, D. (2009). Hematologi Klinik. Bandung: Penerbit


Alumni .

Rahmawati. (t.thn.). Analisis Faktor Penyebab Anemia Gizi Besi pada Remaja
Putri di SMAN 2 Kota Bandar Lampung. Depok FKM-UI .

Rahmawati, & Alfiah. (2013). Hubungan Pola Menstruasi Dengan Kejadian


Anemia Pada Remaja Putri di SMK Negeri 1 Boyolali. Akbid Estu
Oetomo Boyolali .

Sulistyoningsih, H. (2011). Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

Syatriani, S., & Aryani, A. (2009). Konsumsi Makanan dan Kejadian Anemia pada
Siswi Salah Satu SMP di Kota Makassar. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasiona .

Vitahealth, T. (2006). Seluk Beluk Food Suplement. Jakarta: PT Gramedia


Pustaka Umum.