You are on page 1of 3

Sebuah pengorbanan

Akhir akhir ini dini telah mengurangi jatah pengeluaran maklum tanggal tua. Dan sudah menjadi
kebiasaan ia mendapatkan uang kiriman yang terlambat. Alhasil ia masih bisa menikmati enaknya
soto, gule, kari ayam namun dalam bentuk instannya mie. Bosan? Sudah pasti. Tapi ia tak bisa
berbuat banyak. Dan pada hari minggu ini dini benar2 sudah kehabisan supply mie. Dan mau tak
mau dia harus keluar untuk membeli mie lagi-. Belum sempat ia membuka pintu handphone nya
berdering. Panggilan masuk dari rachii.

hallo rachii?

pagi dini, kamu lagi sibuk nggak?. Sap rachii di ujung telpon.

eh enggak aku mau beli mie kata dini singkat.

Main donk kesini. Anaknya ibu kos baru pulang dari salatiga dan sambil bawa sapi lho Kata rachii
menginfokan

Wah salatiga kan memang banyak yang ternak sapi. Lagian mungkin dia sedang syukuran- kata batin
dini heh? Masa? aku mau, tapi aku nggak terlalu suka sapi. Ayam ada? balas dini penuh harapan.

ada, meski sedikit sich. kamu jadi main ke sini? jawab rachii agak ragu.

eh jadi,, aku otw za jawab semangat.

oke aku tunggu di kos. Ini aja aku lagi nemenin anaknya kata richi sebelum telfon terputus.

Senyum dini kembali sumriah (mau ngiler). Makan daging itu seraya lebaran. Terlebih dini memang
sudah eneg dengan mi yang berbgai rasa itu. Pada akhirnya uang yang akan ia belikan mi ia pakai
untuk naek angkutan umum. Maklum kos rachii agak jauh. Dan harus transit sekali. Namun dengan
penuh harapan akan daging ayam. Ia rela berkunjung ke kos rachii meski uang miliknya ini
merupakan sisa uang terakhirnya. Soal pulang itu urusan nanti. Yang penting utamakan perut.

Namun siapa sangka perjalanan ini butuh kesabaran lebih. Karena macet long weekend. Oarang2
yang menghabis kan hari libur kini harus kembali. Hal itu tak mengurangi niatnya untuk ke kos rachi.
Perjalanan pun sampai di kos rachii. Satu jam lebih lama dari biasanya.

akhirnya sampai meski huft, leulaaah buangit katanya dalam hatinya. Ia pun langsung masuk dan
menuju depan pintu. Ia langsung mengetuk agak nggak sabar.

rachii rachii rachii

Beberapa detik pintu terbuka oleh rachii dan ia menyabut dini dengan senyuman hangat. Lalu
mempersilahkan masuk ke kursi tamu. Sedangkan rachi masuk ke kamar paling belakang. Di sana ada
suara anak kecil. Dini tak terlalu menghiraukannya. Yang ada dalam kepalanya saat ini adalah lezatnya
daging ayam. Mau di masak gaya apapun ia akan langsung menyatapnya. Beberapa menit kemudian
rachii keluar dengan menggandeng anak kecil ditangan kanan dan memawa sebuah tas plastic kotak
di tangan kirinya. Ia langsung menuju ke ruang tamu. Dini aggak kurang paham kenapa rachii
membawa anak itu ke ruang tamu tampat ia duduk sekarang-. Lalu rachii menyuruh anak kecil itu
menyerahkan seekor zebra (dalam bentuk mainan) kepada dini. Dini masih tidak mengerti.

dini ini ayam kamu. Cuma satu gak ada pasangannya Rachii menyerahkan ayam jago ke tangan dini.

(tika buat kesimpulan sendirinya)


Akhir kebenaran

Hari ini adalah hari minggu yang kesekian kali. Selalu merasa bernasip buruk seminggu terakhir dini
memutuskan bunuh diri.

Situasinya saat ini dini hanya duduk nelangsa dipinggir tempat tidur. Hanya menatap kosong pada
tiga benda yang ada didepannya. Seutas tali, sebotoh pestisida, dan sebilah pisau. Hanya butuh
kemantapan hati untuk mengakhiri cerita. (tenang ini bukan episode akhir wkwkwkw)

Kasus bermula pada hari senin. Ketika siang hari itu entah apa pasal sasmi dan Ariana tiba2
menggeruduk meja dini dengan tergopoh2. Alhasil seluruh teman kelas jadi ikut nimbrung.

gue gak bohong din, yakin sama gue ucap sasmi agak melotot.

sumpeh dini, kita gak mungkin salah denger timbali Ariana gak mau kalah.

dan asal loe tau, dia nyebut nama loe gak Cuma sekali kata sasmi maksa untuk percaya. Teman
sekelas yang lain pun jadi geger. Gak percaya.

Denger za kita ini berangkat berempat aku , sasmi, viota dan mika duduk tepat di sekitar satria kata
Ariana mencoba menjelasakan. Karena sejak awal dini emang agak bingung dengan situasi di kelilingi
gadis gadis cantik dan popular macam mereka. Padahal sebelumnya mereka meyapa aja enggan.

awalnya kita malah gak tahu, karena ketika masuk ke bis satria sudah duduk manis dekat jendela
balas sasmi mencoba meyakinkan. Di ikuti anggukan mantap 3 teman lainnya yang menjadi saksi.

pada sekian detik aku melihat mulut satria kaya berkomat kamit makanya aku ajak mereka coba
untuk menyelidiki kata viota tak terlihat ekspresi kalau dia berbohong.

trus trus kita berempat susah payah mecoba menyapa. Tapi urung karena gue denger din, kita
denger dia nyebut nama loe disela sela keramain bis pagi kata mika tenang menjelaskan. Alamak
hati dini kini mulai bergejolak seakan tidak percaya. Satria pangeran tampan seuniversitas menyebut
namanya, ekspresi dini masih tak mau percaya. Siapa tau mereka Cuma ingin ngerjain dini. Namun
seperti teringat sesuatu. Sasmi meraih ponsel lalu beberapa detik menyerahkan pada dini. Sebuah
rekaman. Dini mem-play lalu mengeraskan suara maksimal. Awalnya suara kebisingan mesin, lalu
dihiasi percakapan yang tak dikenal lalu suara2 hampar ga jelas. Pada menit kelima lebih 15 detik
kata yang di tunggu pun terucap oleh seorang laki2 ya - itu dini kalimat setelahnya riuh lagi .
Ruang kelas seakan membeku. Busyet mereka bener, mereka gak bohong. Hati dini bagai terbang
bebas. Cowok senior pujaan seluruh fakultas, wakil bem, pintar meski agak pendiam. Mungkin dia
malu jika harus mengungkapkan langsung hihihi batin dini. Namun rachii hanya menganggap dini
berlebihan bayangkan sejak saat itu sampai sekarang hari kamis dini lebih sering senyam senyum
sendiri rachii agak jengkel dan gelisah-. namun tak sampai disitu. ini karena dini lebih cocok di
bilang stalker karena sejak saat itu dia, sasmi dan Ariana. Membututi satria.

Pada hari kamis mereka bertiga dini, sasmi dan Ariana mencoba mengklarifikasi (alias bertanya
langsung pada) namun gagal karena setelah lama di tunggu satria ada rapat sampai malam. Akhirnya
berlanjut pada hari jumat.

Sasmi dan ariana menyabotase jalan satria. Sedangkan dini tak sanggup menyapa. Dia berdiri sekitar
4 langkah di belakang satria sambil pura2 baca buku namun dini yakin bisa mendengarkan
percakapan mereka.

bang satria suka dini za ceplos Ariana tanpa basa basi. Satria hanya diam beberapa detik kemudian.
dini.. siapa? kata satria agak kesal bahkan kenal mereka saja enggak batin satria- Bagai petir
menyambar jantung. Mati tidak, sakit iya. Dini hamper beranjak dari ia berdiri. Tapi

tunggu dulu, aku pernah denger kalau kau sebut2 nama dini di bis ungkap sasmi lebih garang.

apa? Kalian itu sudah nguping, trus menanyakan hal yang g aku ngerti. Nyebelin buingit kalian ini.
kata satria tenang dan ekspresi datar. huft,, bego kalian, itu tak kurang Cuma sepenggal puisi yang
aku baca didinding bis

Pusaka hati tak kunjung aku miliki dini hari ini

Siang malam yang berputar sama tak sanggup aku jalani.

Bosan mungkin, marah tidak, malu aku ini.

Pada sang symbol waktu berganti yaitu dini.