You are on page 1of 11

MAKALAH

ENTERITIS KRONIS

RUMAH SAKIT HEWAN JAKARTA

Disusun oleh:

Fardi Tarang, SKH B94154117

Mayahsastriah Binti Jusman, SKH B94154126

Mohd. Ashraf Asmat, SKH B94154128

Tyas Noormalasari H, SKH B94154148

PPDH Angkatan 1 2015/2016 Kelompok B

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN

FSKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2016

Tanggal 24 Agustus 2016. Treatment yang diberikan adalah infus NaCl (IV). pukul 1030 WIB pasien kucing sekali lagi dibawa ke RSHJ untuk diinfus karena kucing tersebut masih tidak mau makan dan adanya reflek muntah serta turgor kulit yang buruk. Berdasarkan pemeriksaan fisik pada tanggal 23 Agustus 2016 diperoleh hasil bahwa terdapat gejala klinis berupa tinja kucing agak encer dan daerah sekitar anus kotor.diare yang telah berlangsung selama satu minggu. Gambar 1 Pasien kucing bernama Betty Signalement Nama hewan : Betty Jenis hewan : Kucing Ras hewan : Domestik Warna rambut : Tri Colour Jenis kelamin : Betina Umur : 10 bulan Berat badan : 1.2 kg . PEMERIKSAAN KLINIS ENTERITIS KRONIS Anamnesa Seekor pasien kucing yang bernama Betty dengan jenis kelamin betina datang ke Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) pada tanggal 23 Agustus 2016 dengan keluhan pemilik kucing tidak mempunyai nafsu makan 2 hari terakhir.

> 3 detik Permukaan kulit : Tidak ada infestasi caplak Bau kulit : Tercium bau tidak sedap Kepala dan leher Inspeksi Ekspresi wajah : Murung Posisi kepala : Kepala lebih tinggi dari tulang punggung Pertulangan kepala : Tegas. Status Present Keadaan Umum Perawatan : Kurang baik Temperamen : Penakut Habitus/tingkah laku : Tulang punggung lurus kepala lebih tinggi dari tulang punggung/jinak Gizi dan pertumbuhan : Kurang Pertumbuhan badan : Baik (sesuai umur) Sikap berdiri : Berdiri pada empat kaki Suhu tubuh : 38. kompak dan simetris Posisi tegak telinga : Tegak keduanya Palpasi Turgor kulit : > 3 detik Mata dan orbita Kiri Palpabrae : Membuka sempurna Cilia : Keluar sempurna Conjunctiva : Mukosa pink pucat Membrana nictitans : Tersembunyi Sclera : Putih Cornea : Bening Iris : Tidak ada perlekatan Limbus : Rata Pupil : Tidak ada perubahan Reflex pupil : Ada Vasa injectio : Tidak ada .3 °C Frekuensi nadi : 36 kali/menit Frekuensi nafas : 28 kali/menit Adaptasi lingkungan Kulit dan Rambut Aspek rambut : Kusam Kerontokan : Tidak ada kerontokan Kebotakan : Tidak ada kebotakan Turgot Kulit : .

kosong (tidak ada makanan) Sistem Pernafasan Inspeksi Bentuk rongga thorax : Proporsional Tipe pernafasan : Costalis Ritme : Teratur Intensitas : Dangkal Frekuensi : 28 kali/ menit Palpasi .Kanan Palpabrae : Membuka sempurna Cilia : Keluar sempurna Conjunctiva : Mukosa merah Membrana nictitans : Tersembunyi Sclera : Putih Cornea : Bening Iris : Tidak ada perlekatan Limbus : Rata Pupil : Tidak ada perubahan Reflex pupil : Ada Vasa injectio : Tidak ada Hidung dan sinus-sinus Bentuk : Tidak ada kelainan Hidung dan sinus-sinus : Nyaring Pendengaran dan Keseimbangan (Telinga) Posisi telinga : Tegak keduanya Bau : Bau khas cerumen Permukaan daun telinga : Licin Krepitasi : Tidak ada Refleks panggilan : Positif Mulut dan rongga mulut Rusak/ luka pada bibir : Tidak ada Mukosa : Pucat Gigi geligi : Lengkap Lidah : Tidak ada perlukaan Leher Perototan : Teraba. simetris Trachea : Tidak ada respon batuk Esofagus : Teraba.

Penekanan rongga thorax : Tidak ada respon sakit Palpasi intercostal : Tidak ada respon sakit Perkusi Lapangan paru-paru : Tidak ada perubahan Gema perkusi : Tidak ada kelainan (nyaring) Auskultasi Suara pernafasan : Tidak ada perubahan Suara ikutan : Tidak ada Sistem Sirkulasi Inspeksi Ictus cordis : Tidak terlihat Perkusi Lapangan jantung : Tidak ada kelainan Auskultasi Frekuensi : 36 kali/menit Intensitas : Kuat Ritme : Teratur Suara sistolik dan diastolik : Tidak ada kelainan Ekstrasistolik : Tidak ada Lapangan jantung : Tidak ada kelainan Sinkron pulsus dan jantung : Sinkron Abdomen Inspeksi Besar : Tidak ada kelainan Bentuk : Simetris Legok lapar :- Suara peristaltik lambung : Terdengar Palpasi Epigastrikus : Tidak ada respon sakit Mesogastrikus : Tidak ada respon sakit Hipogastrikus : Ada respon sakit Auskultasi Peristaltik usus : Terdengar Anus Sekitar anus : Tidak ada luka Refleks spinchter anii : Ada Kebersihan daerah perineal : Kotor Alat Perkemihan dan Kelamin (Urogenitalis) Betina Mukosa vagina : Pucat .

Tuber coxae : Tidak ada kelainan PEMERIKSAAN LANJUTAN Selain dilakukan pemeriksaan fisik. simetris. tidak ada kelainan Kaki kanan depan : Kompak.Konformasi : Stabil . simetris. tidak ada kelainan Kaki kanan belakang : Kompak. tidak ada kelainan Tremor : Tidak ada Spasmus otot : Tidak ada Sudut persendian : Proporsional Kestabilan pelvis : Konformasi : Tegak Kesimtrisan : Simetris Cara berjalan/berlari : Koordinatif Palpasi Struktur pertulangan Kaki kiri depan : Kompak. tidak ada kelainan Perototan kaki belakang : Kokoh.Discharge : Tidak ada kelainan Alat gerak Inspeksi Perototan kaki depan : Kokoh. simetris . juga dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pengambilan feses menggunakan stick untuk melihat ada tidaknya cacing ditemukan didalam feses tersebut. . tidak ada kelainan Konsistensi tulang : Keras Reaksi saat palpasi : Tidak ada rasa sakit Panjang kaki depan ka/ki : Sama panjang Panjang kaki belakang ka/ki : Sama panjang Ln.Tuber ischii : Tidak ada kelainan .Kesimetrisan : Tegas. tidak ada kelainan Kaki kiri belakang : Kompak. popliteus Ukuran : Proposional Konsistensi : Kenyal Lobulasi : Jelas Perlekatan : Tidak ada perlekatan Panas : Sama dengan daerah sekitar Kesimetrisan : Simetris Kestabilan pelvis .

2 ml Urinasi + + IV .201 Makan .12 ml IV 29.08.  Infus RL 100 Lemas 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0.00 (19.12 ml IV 27.00 WIB) WIB) 25.2 ml Urinasi + + IV  Ampicillin 0.12 ml IV 28.201 Makan . Tabel 1 Rekam medik dan kondisi umum kucing Tanggal Parameter Waktu Pengamatan Terapi Keterangan Pagi Malam (07.25 ml IV  Ulsikur 0.25 ml IV  Ulsikur 0.25 ml IV  Ulsikur 0.25 ml IV  Ulsikur 0. +  Infus RL 100 Responsif 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0.  Infus RL 100 Lemas 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0.12 ml IV 26.08. .2 ml Urinasi + + IV  Ampicillin 0.08.08.  Infus RL 100 Lemas 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0. .201 Makan .2 ml Urinasi + + IV  Ampicillin 0.08.201 Makan + . +  Infus RL 100 Lemas 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0.2 ml Urinasi + + IV  Ampicillin 0.201 Makan .

25 ml IV  Ulsikur 0.08.201 Makan .  Ampicillin 0.2 ml Urinasi + + IV  Ampicillin 0. .  Infus RL 100 Lemas 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0.2 ml Urinasi + + IV  Ampicillin 0.  Infus RL 100 Lemas 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0.2 ml Urinasi + + IV  Ampicillin 0.25 ml IV  Ulsikur 0.  Infus RL 100 Lemas 6 Minum + + ml IV Defekesi +(Diare) +(Diare)  Biodin 0.12 ml IV Tetes telinga .12 ml IV 01.25 ml IV Ulsikur 0.25 ml IV  Ulsikur 0.25 ml IV  Ulsikur 0.2 ml IV Ampicillin 0.12 ml IV 30.12 ml IV 31.12 ml IV DIAGNOSA DAN TERAPI Diagnosa: Enteritis kronis Prognosa: Fausta-Infausta Terapi: Infus RL 100 ml IV Biodin 0.201 Makan + .09.08.201 Makan + .

Berdasarkan pemeriksaan fisik pada tanggal 23 Agustus 2016 diperoleh hasil bahwa terdapat gejala klinis berupa tinja kucing agak encer dan daerah sekitar anus kotor. parasit. Selain dari itu. Kejadian diare yang telah berlangsung kurang dari 7 hari termasuk dalam diare akut. gejala muntah juga terjadi pada Betty dan dehidrasi yang buruk. Sesuai dengan pernyataan Kumar et al. protozoa dan faktor malabsorbsi (Depkes 1991). Enteritis sering terjadi pada hewan yang berumur muda karena sistem imun yang masih lemah sehingga mudah terjadi infeksi. Diare dapat bersifat akut mahupun kronis tergantung pada berapa lama kejadian diare telah berlangsung. (skor 2) yang didukung oleh hasil dari pemeriksaan laboratorium. turgor kulit yang buruk dan kucing semakin terlihat lemas. Sarwono & Soeparman 1990). anoreksia. feses yang terlihat agak encer dan tidak terlihat adanya bercak darah. Diare adalah suatu keadaan dimana terjadinya peningkatan frekuensi defekasi. Diare yang sudah berlangsung diatas dua minggu termasuk kedalam diare kronik dan diare yang disertai dengan adanya darah yang terlihat pada feses termasuk kedalam diare disentri (Waspadji. Treatment yang diberikan adalah infus NaCl (IV). Pengambilan sampel feses pada kucing Betty dilakukan dengan cara memasukkan stick kaca kedalam anus kucing secara perlahan-lahan agar tidak membuatkan kucing merasa sakit lalu sampel feses tersebut diproses di laboratorium. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pada kucing Betty didapatkan hasil bahwa Betty mengalami enteritis kronis karena diare yang telah dialami sudah berlangsung selama 2 minggu. Enteritis kronis yang terjadi pada Betty disebabkan oleh infeksi virus sehingga Betty ditempatkan di ruang isolasi pencernaan agar infeksi virus tidak merebak ke . dehidrasi. Kejadian diare dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Gejala dan tanda sudah berlangsung dibawah dua minggu sebelum pemeriksaan ke klinik. diare. Tanggal 24 Agustus 2016. 2014 gejala klinis enteritis kronis yang paling umum adalah muntah. dan depresi. Adanya Amoeba sp. Sarwono & Soeparman 1990). virus. pasien kucing sekali lagi dibawa ke RSHJ untuk diinfus karena kucing tersebut masih tidak mau makan. Kekerapan normal untuk defekasi sekitar 1-3 kali sehari (Waspadji. penurunan berat badan. PEMBAHASAN Seekor pasien kucing yang bernama Betty dengan jenis kelamin betina datang ke Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) pada tanggal 23 Agustus 2016 dengan keluhan pemilik kucing tidak mempunyai nafsu makan 2 hari terakhir. adanya reflek muntah. Enteritis dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu enteritis akut dan enteritis kronis. Kejadian diare ini disebabkan oleh adanya protozoa yang ditemukan pada feses yaitu Amoeba sp. yang ditemukan didalam feses Betty tersebut merupakan implikasi dari menurunnya sistem imun akibat adanya infeksi virus pada tubuh Betty sehingga menyebabkan enteritis kronis dan menimbulkan diare yang berterusan. Pada kasus ini. Hal ini dibuktikan dengan cara melihat turgor kulit pada Betty dimana turgor kulit Betty diatas 3 detik.diare yang telah berlangsung selama satu minggu.

canine parvovirus. Larutan ini digunakan untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit tubuh pada kasus dehidrasi. insulin. Terapi obat yang diberikan pada hari kali pertama perawatan (23 Agustus 2016) adalah pemberian obat Metrolet Syrup berisi metronidazole yaitu anti- mikroba dengan aktivitas yang sangat baik terhadap bakteri anaerob dan protozoa dimana senyawa nitroimidazol (turunan 5-nitroimidazol) yang lebih aktif terhadap amobiasis sistemik daripada amobiasis usus karena sebagian besar obat diabsorpsi melalui usus halus sehingga kemungkinan gagal untuk mencapai kadar terapetik dalam usus besar (Siswandono dan Soekardjo B 2000). Kandungan yang terdapat pada biodin berupa ATP. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat dalam larutan fisiologi. dan kalsium klorida dalam air sebagai obat suntik. Pemeriksaan lanjutan selain pemeriksaan feses seharusnya dilakukan seperti pemeriksaan darah untuk memperkukuhkan lagi bahwa kucing yang terdiagnosa sakit benar terinfeksi virus dari hasil darah yang didapatkan yaitu dengan melihat adanya penurunan pada sel darah putih. canine distamper. Buku Ajar Diare. K Aspartat. Setelah dilakukan pemeriksaan feses adanya protoza Amoeba sp yang ditemukan. Kalium klorida.25 ml (IV) 2 kali sehari. dan canine coronavirus. histamin. Cimetidine adalah antihistamin penghambat reseptor H2 secara selektif dan reversibel yang menghambat sekresi asam lambung baik pada keadaan istirahat maupun setelah perangsangan oleh makanan. Cara kerja ampicillin yaitu menghambat bakteri yang bersprektum luas. 1991. Jakarta (ID): Dirjen PPM dan PLP Dekpes RI . Pada tanggal 24 Agustus 2016 kucing tersebut diinfus menggunakan infus Ringer Laktat (RL) sebanyak 100 ml secara intra vena (IV). Infus RL adalah larutan steril Natrium klorida. DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan RI. pemberian Ampicillin 0.hewan lainnya. Na Selenite dan Vitamin B12. blue tongue. muntah. Selain itu. Pemberian biodin juga turut diberikan pada pasien yang berfungsi sebagai penguat otot dan membantu meningkatkan daya tahan tubuh. infectious bovine rhinotracheitis. MG Aspartat. Virus yang dapat menyebabkan enteritis adalah rhinotracheitis. dehidrasi dan kurang nafsu makan. Ulsikur juga turut diberikan pada pasien yang mengandung cimetidine. dan kafein (Iskandar & Junaidi 2010) KESIMPULAN Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang hewan Betty didiagnosa Betty menderita Enteritis kronis karena dari gejala yang terlihat yaitu diare yang berkepanjangan.

Kumar A. 1990. Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-2. Kimia Medisinal Edisi Ke-2. Jakarta (ID): FKUI . Sarwono . Siswandono dan Soekardjo B. Treatment of hemorrhagic gastroenteritis in dog. 2000. dan Pengobatan. Hipertensi Pengenalan. Surabaya (ID): Airlangga University Press Waspadji. Bisht S. Saini NS.2010.Soeparman. 2014. Pencegahan. International Journal of Information Research and Review 1(12): 193-194. Jakarta (ID): PT Bhuana Ilmu Populer.Junaidi dan Iskandar.