You are on page 1of 11

Judul percobaan : Penetapan kadar sakarin pada sampel minuman kemasan

menggunakan metode alkalimetri

Tujuan percobaan : untuk menentukan kadar sakarin pada minuman kemasan


menggunakan metode alkalimetri

Nama praktikan : Mulyati

Nim : 15 3145 453 140

Kelompok : 6 (Enam)

Anggota :

1. Lisdayanri
2. Nagawati
3. Linda rospita K
4. Nurhilaliyah

Makassar, 13 Juni 2017

Mengetahui
Dosen pembimbing Praktikan

Sulfiani, S.Si, M.Pd Ayu Andita


NIDN.

A. Judul Percobaan
Penetapan kadar sakarin pada sampel minuman kemasan menggunakan
metode alkalimetri
B. Landasan teori

Sakarin merupakan garam natrium dari asam sakarin yang memiliki tingkat
kemanisan 300 kali dari gula biasa (sukrosa). Dalam perdagangan, produk sakarin
dikenal dengan nama Gucide, Glucid, Garantose, Saccharimol, Saccharol, dan
Sykosa, Harga sakarin lebih murah dibanding dengan pemanis buatan lainnya,
karena itu sakarin banyak digunakan pedagang kecil.
Sakarin diperkenalkan pertama kali oleh Fahlberg pada tahun 1879 secara
tidak sengaja dari industri tar batubara. Penggunaannya secara komersial sudah
diterapkan sejak tahun 1884. Namun sakarin baru terkenal oleh masyarakat luas
setelah perang dunia, di mana sakarin berperan sebagai pemanis alternatif
pengganti gula pasir sulit diperoleh. Sakarin menjadi lebih populer lagi di pasaran
pada tahun 1960-an dan 1970-an. Saat itu, sifatnya sebagai pemanis tanpa kalori
dan harga murahnya menjadi faktor penarik utama dalam penggunaan sakarin.
Selain itu sakarin tidak bereaksi dengan bahan makanan, sehingga makanan yang
ditambahkan sakarin tidak mengalami kerusakan. Sifat yang penting untuk
industri minuman kaleng atau kemasan. Karena itulah, sakarin dalam hal ini
sering digunakan bersama dengan aspartame agar rasa manis dalam minuman
tetap bertahan lama.
Sifat fisik sakarin yang cukup dikenal adalah tidak stabil pada pemanasan.
Sakarin yang digunakan dalam industri makanan adalah sakarin sebagai garam
natrium. Hal ini disebabkan sakarin dalam bentuk aslinya yaitu asam, bersifat
tidak larut dalam air. Sakarin juga tidak mengalami proses penguraian gula dan
pati yang menghasilkan asam sehingga sakarin tidak menyebabkan erosi enamel
gigi.
Sakarin mulai diteliti sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Ahli yang pertama
kali menentang penggunaan sakarin, karena dianggap merugikan kesehatan;
adalah Harvey Wiley. Menurut beliau, sakarin memang manis seperti gula pasir
biasa, namun karena struktur kimianya yang menyerupai tar batubara; tetap saja
yang dikonsumsi adalah tar batubara yang seharusnya tidak dimakan. Namun
pernyataan terus dibantah keras oleh presiden Amerika Serikat saat itu, Theodore
Roosevelt. Memang sejak pertama diperkenalkan secara luas kepada masyarakat
sampai saat itu, belum ada efek buruk sebagai akibat konsumsi sakarin.
Sejak saat itu, keamanan penggunaan sakarin terus diperdebatkan sampai
sekarang. Adapun bahaya yang ditimbulkan sakarin adalah efek karsinogenik.
Pada sebuah penelitian di tahun 1977, mencit percobaan mengalami kanker
empedu setelah mengkonsumsi sakarin dalam jumlah besar. Penentuan efek
serupa pada manusia lebih sulit, karena sebagian besar produk makanan yang ada
saat ini menggunakan beberapa pemanis buatan sekaligus. Penelitian oleh
Weihrauch & Diehl (2004) menunjukkan bahwa konsumsi kombinasi pemanis
buatan dalam jumlah besar (>1.6 gram/hari) meningkatkan risiko kanker empedu
sebanyak hanya 1.3 kali lipat pada manusia. Namun pemanis manakah yang
menimbulkan efek ini tidak diketahui. Setelah beberapa tahun meneliti, sebagian
besar ahli akhirnya menyimpulkan bahwa sakarin tidak bersifat karsinogenik pada
manusia. Batas maksimum penggunaan siklamat menurut ADI (acceptable daily
intake) yang dikeluarkan oleh FAO ialah 50 - 300 ppm.
Pada praktikum ini dilakukan penetapan kadar sakarin menggunakan metode
alkali metri Alkalimetri (Alkali = basa, metri = pengukuran) diartikan sebagai
titrasi untuk penetapan asam dengan standart basa sebagai alat ukurnya. Faktor
utama dalam menentukan pengukuran adalah [H+] dan [OH-] dalam larutan, baik
sebagai titrat maupun sebagai titran. Karena itulah maka dalam mempersiapkan
larutan pemeriksaan harus menggunakan air suling sebagai bahan pelarut, sebab
air suling adalah netral. Dalam titrasi alakalimetri, didalam titrat asam sudah
mempunyai harga pH tertentu. Perjalanan titrasi dengan penambahan titran yang
akan menyebabkan perubahan pH, yang pada suatu saat nanti dimana meq titrat =
meq titran akan mempunyai pH tertentu
C. Alat dan Bahan
1. Alat-alat
a. Neraca analitik
b. Cawan porselin
c. buret dan statif,
d. Erlenmeyer
e. gelas ukur
f. pipet tetes
g. gelas kimia
h. labu ukur.
2. Bahan-bahan
a. sampel minuman
b. NaOH 0,1 N
c. larutan HCL 10%
d. larutan asam oksalat
e. aquadest
f. indikator PP
D. Prosedur kerja
1. Pembuatan larutan Asam klorida (HCL) 10% sebanyak 100 mL
Jika tersedia larutan HCL yang konsentrasinya 36%
Dik : K1 = 36%
V2 = 100 Ml
K2 = 10 Ml
Dit : V1 = .?
Penyelesaian:
V1 . K1 = V2 . K2
V1 . 37% = 100ml .10%
1 OOOmL
V1 =
37
= 2,7 mL
Dipipet HCL pekat sebanyak 2,7 mL, kemudian dimasukkan labu ukur 100
mL yang sebelumnya diisi dengan sedikit aquadest
Ditambahkan dengan aquadest sampai tanda batas labu ukur 100 ml
2. Pembuatan larutan NaOH 0,1 N
Gr NaOH = V NaOH x N NaOH x BE NaOH
= 1 x 0,1 N x 40
= 4 gr
Ditimbang 4 gr bubuk NaOH dan di larutkan dengan aquadest sampai batas
labu ukur 1000 mL
3. Pembuatan larutan asam oksalat 0,1 N
Gr asam oksalat = V as.oksalat x N as.oksalat x BE as.oksalat
= 0,25 x 0,1 N x 63,035
= 1,575 gr
Ditimbang 1,575 gr bubuk asam oksalat kemudian dilarutkan dengan aquadest
sebanyak 250 mL
4. Reagen eksitasi (burat untuk setiap kelompok)
1) Disiapkan labu takar 100 ml
2) Dimasukkan 90 ml larutan kloroform
3) Ditambahkkan 10 mlo larutan etanol
4) Dihomogenkan
5. Standarisasi larutan NaOH 0,1 N menggunakan larutan asam oksalat
1) Dimasukkan larutan NaOH 0,1 N kedalam buret
2) Dipipet sebanyak 10 mL larutan asam oksalat kedalam Erlenmeyer
3) Ditambahkan sebanyak 3 tetes indicator PP
4) Dititrasi larutan asam oksalat dengan larutan NaOH sampai terjadi
perubahan warna (dari tidak berwarna menjadi pink)
5) Dicatat volume titrasi
6) Diulangi minimal duplo.
7) Ditentukan konsentrasi normalitas NaOH dengan menggunakan rumus
V as . oks x N as . oks
N NaOH =
V rataratatitran
6. Penetapan kadar sakarin
1) Disiapkan corong pisah
2) Dimasukkan 10 mL larutan sampel ditambah dengan 2 mL HCL 10%
3) Ditambahkan 15 mL larutan ekstraksi
4) Kemudian diekstraksi dengan cara memutar corong pisah searah jarum
jam beberaa kali.
5) Setelah itu diamkan, biarkan sampai terbentuk dua lapisan pada corong
pisah.
6) Setelah terpisah, keluarkan lapisan bawahnya dan ditampung
menggunakan Erlenmeyer.
7) Lapisan atasnya ditambahkan kembali larutan ekstrasi 10 mL
8) Kemudian ekstraksi kembali seperti diatas
9) Ditampung kembali lapisan bawah dierlenmeyer yang sama. Kemudian
ditambahkan larutan ekstraksi 10 mL kemudian ekstraksi lagi seperti
diatas.
10) Diulangi ekstraksi sebanyak 5 kali dengan penambahan ekstraksi larutan
15 mL dan 10 mL.
11) Lapisan bawah ditampung, kemudian diuapkan sampai larutan chloroform
terlepas sampai lapisan lemaknya hilang.
12) Ditambahkan 25 mL aquadest panas dan ditambahkan 3 tetes indicator
PP.
13) Dititrasi dengan NaOH yang sudah distandarisasi.
14) Dicatat volume titran
15) Ditentukan kadar sakarin pada sampel.

E. Hasil pengamatan

Sampel Aquadest Ind. PP Perubahan Volume V titran


ale-ale warna sampel
sirsak
Ale-ale 1 25 ml 3 tetes Pink keunguan 0,3 ml 0,3 + 0,2
Ale-ale 2 25 ml 3 tetes Pink keunguan 0,2 ml
2
0,4

Perhitungan:
1) Normalitas NaOH
Dik : V As.Oks = 10 mL
N As.Oks = 0,1 N
10,6 ml +10,8 ml
V rata-rata = =10,7 mL
2
Dit : N NaOH = .?
Penyelesaian :
V As .Oks x N As .Oks
N NaOH =
V ratarata titran
10 ml x 0,1 N
=
11,8ml
= 0,085 N
2) Penetapan kadar sakarin
Dik : V titran sampel = 0,4 mL
BE Sakarin = 36,63
N NaOH = 0,085 N
gr sampel = 10 ml
Dit : kadar sakarin = .?
Penyelesaian :
V titran x N NaOH x BE Sakarin
Kadar sakarin = x 1000
ml sampel
0,4 ml x 0,085 N x 36,63
= x 1000
10
1245,42
=
10
= 124,5 mg/ ppm
F. Pembahasan

Sakarin adalah sejenis pemanis buatan yang memiliki setruktur dasar

Sulfinida Benzoat, Sakarin juga merupakan salah satu Zat Pemanis yang sering

digunakan oleh produsen makanan dan minuman pada Dunia produk. Sakarin

mempunyai struktur yang berbeda dengan Karbohidrat, Sakarin tidak menghasilakan

Kalori, Sakarin jauh lebih manis dibanding Sukrosa, Dengan perbandingan kira kira

400 kali lipat Sukrosa.

Pada percobaan yang telah dilakukan yaitu penetapan kadar sakarin metode

alkalimetri, dalam praktikum ini digunakan sampel minuman berkemasan plastik.

Kemuadian sampel yag telah di berikan perlakuan seperti yng tertera pada prosedur

percobaan di atas, kemudan di titrasi menggunakan NaOH (duplo) dan di dapatkan

volume titran 1= 0.3 ml, 2= 0,2 ml. Kemudian di rata-ratakan dan di dapatkan volume

titran akhir yaitu 0,4. Dilakukan perhitunagan dengan rumus

V titran x N NaOH x BE Sakarin


x 1000 dan di dapatkan kadar sakarin pada
ml sampel

sampel minuman yaitu 124,5 mg/ppm


G. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar sakarin
pada sampel minuman kemasan plastik sebesar 124.5 mg/ppm
DAFTAR PUSTAKA

Cahyadi, Wisnu. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.

Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Direktorat

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

Mursyidi, Achmad., Rohman, Abdul. 2006. Pengantar Kimia Farmasi Analisis

Volumetri dan Gravimetri. Yogyakarta: Yayasan Farmasi Indonesia.


LAPORAN LENGKAP

ANALISIS KIMIA AIR MAKANAN DAN MINUMAN

Penetapan kadar sakarin pada sampel minuman kemasan menggunakan metode


alkalimetri

DISUSUN OLEH :

Mulyati

15 3145 453 140

15 D

PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN


STIKES MEGA REZKY MAKASSAR

2017