POLA PEMBELAJARAN TAMAN PENITIPAN ANAK DI TAMAN BALITA KLUB MERBY

(Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang)

Skripsi Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata I untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun oleh: Nama NIM Jurusan : Nuri Handayani : 1201401018 : Pendidikan Luar Sekolah

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : Rabu : 19 Oktober 2005

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd NIP. 130870431

Drs. Sawa Suryana NIP. 131413203

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

Drs. Achmad Rifa’i RC, M. Pd NIP. 131413232

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Jumat : 28 Oktober 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. H. Siswanto, M.M NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Liliek Desmawati, M. Pd NIP. 131413202 Anggota Penguji

Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd NIP. 130870431 Pembimbing II

Drs. Zoedindarto. Bdh NIP. 130345749

Drs. Sawa Suryana NIP. 131413203

Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd NIP. 130870431

Drs. Sawa Suryana NIP. 131413203

iii

Nopember 2005 Nuri Handayani NIM. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Semarang. 1201401018 iv . Sawa Suryana Dosen Pembimbing II. Khomsun Nurhalim. baik sebagian atau seluruhnya. Pd Dosen Pembimbing I dan Drs. M. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya sendiri dengan sumbangan pemikiran dari Drs.

Teman-teman Hidayah Cost dan Venus Cost. Lakukan apa yang dapat kau lakukan karena nafas berhenti itu berarti mati.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: Janganlah pernah meminta apapun jika tiada pernah memberi. Pd dan Drs. Kakakku tersayang (Muhammad Mirzah). cinta. Taman Balita Klub Merby. skripsi ini penulis persembahkan kepada : Ibunda dan Ayahanda tercinta yang telah memberikan doa. M. Almamater UNNES. kasih sayang. Teman-teman seperjuanganku “Angakatan 2001” Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Drs. Khomsun Nurhalim. v . Calon suamiku tercinta (Mas Anto). Sawa Suryana. Persembahan: Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT. dan segalanya. Jangan pernah menyesal pemberianmu tiada pernah kembali kecuali kamu tiada pernah mengikhlaskan.

Rasa keingintahuan anak balita cukup besar sehingga para pendidik dan orang tua harus memberikan bimbingan kepada mereka. dan evaluasi. Sesuai dengan hasil observasi. sumber belajar. dan evaluasi. alat/ media belajar. 2) Faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. Pengasuh. Berkaitan dengan faktor penghambat. dan orang tua anak balita untuk selalu menjalin kerja sama. bahan pembelajaran.ABSTRAK Nuri Handayani. yaitu dengan dilakukan pemeriksaan keabsahan data yang menggunakan teknik triangulasi akhirnya peneliti memperoleh gambaran bahwa pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby memiliki aspek-aspek tujuan. Penelitian ini dilakukan di Taman Balita Klub Merby dengan mengambil informan sebanyak 7 (tujuh) orang yang terdiri dari Koordinator Pelaksana. kegiatan belajar mengajar. metode. sumber belajar. kegiatan belajar mengajar. Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. bahan pembelajaran. 2005. Keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi. Pendidik. dan dokumentasi yang telah dilakukan peneliti. pengasuh. kegiatan belajar mengajar. bahan pembelajaran. dan tahap analisis data. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan antara lain: penelitian pra lapangan. dan Orang tua anak balita. Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Selain itu pihak-pihak yang terkait sebaiknya selalu mempertahankan faktor-faktor pendukung yang ada dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: 1) Pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. wawancara. pekerjaan lapangan. Selain itu ingin mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. wawancara. Pandanaran II/ 2D Semarang). dan evaluasi. alat/ media belajar. Penulis menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait dalam Taman Balita Klub Merby seperti koordinator pelaksana. vi . Suatu pola pembelajaran tidak dapat dipaksakan kepada anak balita karena mereka memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. alat/ media belajar. metode. sumber belajar. pendidik. penulis menyarankan untuk diminimalkan yaitu dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana seperti pengadaan APE dan alat peraga serta meningkatkan fasilitas-fasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby. dan dokumentasi. metode.

dan saran dalam penyusunan skripsi ini. 4. M. Drs. Pd. pengarahan. maka dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Sawa Suryana. 2. Drs. Achmad Rifa’i RC. Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. H. Taman Balita Klub Merby yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis. Khomsun Nurhalim. Drs. Pandanaran II/ 2D semarang)”. dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan. dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan.KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah atas rahmat dan hidayah yang dilimpahkan oleh-Nya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. 3. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah yang telah memberikan pengalaman dan ilmunya kepada penulis. Siswanto. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. 5. dan saran dalam penyusunan skripsi ini. M. pengarahan. vii . 6. Pd. M. M. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. Drs.

7. penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya semoga segala kebaikan beliau mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Semarang. Kepada beliau-beliau tersebut di atas. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Amiin … Dengan penyusunan skripsi ini penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca. Nopember 2005 Penulis viii .

.......................................................................................................................................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA A.......................................................................................... Latar Belakang Masalah ......................................................................... Definisi Operasional.................................... ABSTRAK . HALAMAN PERNYATAAN........................... B................................................................................................................ DAFTAR ISI................................................................ DAFTAR GAMBAR......................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...... E......................................... HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN ............................................................................. D............................................................................................................................ 2................................................................................. Tujuan Penelitian......................................... Rumusan Masalah ... Teori Belajar ..................... Pengertian Pembelajaran ................................ DAFTAR LAMPIRAN ..................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................ BAB I PENDAHULUAN A.... C.................................... i ii iii iv v vi viii ix xii xiii xiv 1 4 4 5 5 8 21 ix ....................... Pola Pembelajaran 1.................................... DAFTAR TABEL ......................................................... Manfaat Penelitian......... KATA PENGANTAR.................................

........................................................ Tipe Belajar ....... B............... 4........................... Pengertian Anak Usia Dini ................................. Metode Pengumpulan Data ................ Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care 1.................. Setting Penelitian ......................................................... Sistem Pengelolaan TPA .............. Fokus Penelitian ........ Tugas Perkembangan Anak Usia Dini................... Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini........ Pengertian TPA......................................................... Subyek Penelitan ..................... Strategi Pembelajaran TPA........................... 2............ 2................................. C......... Pendekatan Penelitian........................................ E............ 3.... Model Pendidikan dan Pengasuhan ......................................................................................................................................................... 5....... 4............................................ B............................................................3.............................. H..... 23 27 40 41 51 54 59 62 62 64 67 67 69 70 70 71 83 86 x .......... Jenis Pelayanan TPA ................................ C........................... 3.................... Rancangan Penelitian ....... G................................................... Analisis Data ............. Keabsahan Data .................................. Komponen Pembelajaran........................ BAB III METODE PENELITIAN A..................... Anak Usia Dini 1......................... D............................ F...........................

............. LAMPIRAN........................................... 4............................................................................. Latar Belakang Berdirinya Taman Balita Klub Merby ................ 127 129 129 131 132 133 133 90 94 95 100 101 101 102 8..... 7............................... 5....................... B................................................................................................................................................................................................ 6..................... 2..................... Ketenagaan Taman Balita Klub Merby ... Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby................................ 4..... BAB V PENUTUP A........... Saran .... Pembahasan 1................................................... Sumber Belajar ...................... 5........ Alat/ Media Belajar.................................. Tujuan ............................... 3............................ DAFTAR PUSTAKA ..............BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A...................................................................... Standar Pelayanan Minimal PAUD pada TPA di Taman Balita Klub Merby............. Identitas Informan................................................................ 2......... Metode ................................ Hasil Penelitian 1......... Bahan Pembelajaran .................. Kegiatan Belajar Mengajar ................................................................... Gambaran Umum Taman Balita Klub Merby ....................................... 3............................................................................... Hasil Wawancara dengan Informan. B.................................... 7............ 6....... Kesimpulan.... 143 146 148 150 135 xi ...................... Evaluasi....... Sejarah Singkat Berdirinya Klub Merby .....................

Pendidikan Anak Usia Dini .............4 Tabel 2.....................1 Tabel 4......... Pemberian Makanan pada Bayi .......2 Tabel 2..............2 Tabel 4... Ketenagaan Taman Balita Klub Merby...................................................1a Tabel 2............ Klasifikasi Kegiatan Klub Merby..............6 Tabel 4.......2a Tabel 2.................................. Identitas Informan ................. Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak............................................................. Layanan Bimbingan Sosial............................................................ Model Pendidikan dan Pengasuhan Taman Penitipan Anak...3 Tabel 2.........1 Tabel 2.....DAFTAR TABEL Tabel 2............................5 Tabel 2....... 45 45 47 48 49 50 51 58 94 101 101 xii ......3 Kebutuhan Pokok Anak..... Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ................................................................................................ Jadwal Imunisasi pada Anak ...................................

........... Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby......................................... 72 74 81 87 100 xiii ........................... Analisis Data Kualitatif menurut Spradley.4 Gambar 4.... Proses Metode Pengumpulan Data menurut Spradley ...2 Gambar 3............1 Macam-macam Teknik Observasi....1 Gambar 3.........................................................3 Gambar 3.... Tahap Observasi menurut Spradley.DAFTAR GAMBAR Gambar 3..........

......... Lampiran 11 Denah Ruang Taman Balita Klub Merby................................................................ Catatan Lapangan ........... Pedoman Wawancara ....................................................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Permohonan Ijin Penelitian ....................................................................... Lembar Observasi Terfokus ........................... xiv ............................. Lembar Observasi Deskriptif ................................ Lampiran 12 Hasil Dokumentasi ........................................................................................................................................................... Kisi-kisi Instrumen Penelitian ...... Pedoman Observasi Deskriptif ............................................................................................... Surat Keterangan Penelitian . Pedoman Observasi Terfokus.................................................... 150 151 152 154 161 187 188 189 202 212 213 214 Lampiran 10 Denah Lokasi Taman Balita Klub Merby ..........................................

sebagian orang tua lebih memilih anak-anaknya diasuh di tempat pengasuhan. Tidak bermaksud merendahkan peran para pembantu. berpandangan: “menitipkan anak ke tempat pengasuhan saat orang tua sibuk merupakan sarana pendidikan yang baik. Edisi Kamis 13 Maret 2003). Agnes Widanti. Selain pekerjaan kantor tidak terganggu. Program PAUD memiliki beberapa bentuk organisasi. Dia yakin. (Suara Merdeka. keselamatan dan keamanan anak-anak akan lebih terjamin. Ada pula yang menitipkan di tempat pengasuhan anak. Semarang. Di kota Semarang a da beberapa TPA. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Karena kesibukan orang tua. orang-orang yang 1 xv . salah satunya yaitu Taman Balita Klub Merby yang beralamat di Jl. anak-anak sering kali harus ditinggal bersama pembantu di rumah.BAB I PENDAHULUAN A. Bab I Pasal 1 menjelaskan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pandanaran II/ 2 D. salah satunya adalah Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care. Aktivis perempuan Semarang.

Dengan catatan. Sekarang ini. perawatan dan pendidikan. Palayanan yang diberikan oleh TPA berupa peningkatan gizi. Kecenderungan orang tua untuk memasukkan anak dalam program TPA tampaknya sudah mengalami perubahan karena anak balita yang mengikuti program bukanlah disebabkan karena ibunya harus bekerja sepanjang hari. penitipan anak masih lebih baik dibandingkan dengan pendidikan di rumah yang belum tentu ajaran pendidikan dan pengawasannya. Proses pembelajaran anak akan berjalan efektif apabila anak dalam kondisi senang dan bahagia. xvi . Berbagai aspek kecerdasan (intelegensi) anak juga dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain yang edukatif. anak dapat belajar apa saja. Tujuan orang tua yang sibuk bekerja menitipkan anaknya adalah agar anaknya diasuh dan dididik. Ini berarti kegiatan tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kecerdasan majemuk mereka. anak melakukan proses pembelajaran dengan pengalaman hidupnya. Dia berpendapat. Melalui kegiatan bermain. Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Anak dalam perkembangannya yang normal tidak akan lepas dari kegiatan tersebut. Melalui TPA. pendidikan dan pemahaman khusus. asuhan. behkan tanpa ia sadari. Pelayanan-pelayanan tersebut diberikan untuk membantu mengatasi kesulitan orang tua yang bekerja dalam membimbing putra-putrinya yang masih balita. lokasi penitipan tidak terlalu jauh dari lokasi orang tua bekerja”. memasukkan anak balita dalam program TPA lebih banyak dipengaruhi oleh alasan trend atau mode sehingga seringkali lupa untuk melihat pada kebutuhan sebenarnya dari sang anak.bekerja di tempat pengasuhan anak sudah memiliki keterampilan.

dokter. bersih. 5.Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun (balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. nyaman. dan tenang. dan psikolog mengenai perkembangan balita mereka. Arena bermain yang luas. Para balita di bawah pengawasan dokter dan psikolog. Pandanaran II/ 2D Semarang. pengasuh. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan dari Taman Balita Klub Merby. 3. 2. 4. Disediakan Mother’s Room bagi para orang tua yang ingin berkonsultasi kepada pendidik. Taman Balita Klub Merby terletak di pusat kota yaitu Jl. xvii . Menanggapi kondisi yang demikian maka peneliti membuat judul untuk diteliti yaitu: “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang)”. Kelebihan-kelebihan yang lain adalah: 1.

Untuk mendeskripsikan pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. alat/ media belajar. metode. alat/ media belajar. sumber belajar. 2. Ingin mendeskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. bahan pembelajaran. dan evaluasi. metode. Bagaimanakah pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. xviii . bahan pembelajaran. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby? C. kegiatan belajar mengajar. sumber belajar.B. Tujuan Penelitian Penelitian yang akan dilakukan di Taman Balita Klub Merby ini bertujuan sebagai berikut: 1. kegiatan belajar mengajar. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang sebagaimana dikemukakan di atas. dan evaluasi? 2.

cara kerja. pola adalah sistem. Pembelajaran Menurut Max Darsono dkk (2000:24-25). Segi Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk pengambilan kebijakan bagi pemerintah dan swasta sebagai penyelenggara. 2. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian yang akan dilakukan di Taman Balita Klub Merby ini antara lain: 1. Sesuai dengan pengertian belajar secara umum. Definisi Operasional 1. Pola Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:692). E. Segi Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) khususnya pada bidang penitipan anak. para orang tua. yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. 2. pengertian pembelajaran sebagai berikut: Secara Umum Pembelajaran berasal dari kata belajar.D. dan pengasuh TPA dalam melaksanakan pembelajaran di TPA. bentuk (struktur) yang tetap. Maka pengertian xix .

pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Menurut Teori Gestalt. pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan). sebagai berikut: “Lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak balita yang dikhawatirkan akan mengalami hambatan dalam xx . Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan. dikemukakan pengertian Taman Penitipan Anak (TPA) dalam Soemiarti Patmonodewo (2003:77). sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola bermakna).pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. 3. sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Secara Khusus Menurut Teori Behavioristik. Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care Dari hasil rapat koordinasi “Usaha Kesejahteraan Anak” Departemen Sosial Republik Indonesia. pembelajaran adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa. Menurut Teori Kognitif. pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Menurut Teori Humanistik.

Pelayanan-pelayanan tersebut diberikan untuk membantu mengatasi kesulitan orang tua yang bekerja dalam membimbing putra-putrinya yang masih balita. Taman Balita Klub Merby beralamat di Jl. emosional dan sosial”. Rahman. pengembangan intelektual. Telepon: (024) 8317067. dan pendidikan bagi anak balita selama anak balita tersebut ditinggal bekerja oleh orang tuanya (Hibana S. Pelayanan ini diberikan dalam bentuk peningkatan gizi. xxi . Pandanaran II/ 2D Semarang. TPA adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan pelayanan pengganti berupa asuhan. 4. karena ditinggalkan orang tua atau ibunya bekerja. perawatan. 2002:59). Taman Balita Klub Merby Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun (balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan.pertumbuhannya.

1) Classical Learning Theory Slamet Suyanto dalam bukunya “Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini” (2003:89). seperti bagaimana otak bekerja. Proses dimana anjing bisa menghubungkan antara bunyi bel dengan daging dengan respon air liur seperti itu disebut belajar. Setiap 8 xxii . menuliskan: “Teori ini memandang bahwa belajar adalah perubahan perilaku. Menurut teori ini belajar pada prinsipnya mengikuti suatu hukum yang sama untuk semua manusia. Teori ini menjelaskan perubahan secara internal yang terjadi di dalam diri anak. seorang kebangsaan Rusia yang meneliti proses belajar dengan melakukan percobaan melalui anjing.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pavlov (1849-1936). Pavlov memberi daging secara periodik kepada anjing didahului dengan membunyikan bel. Teori ini dapat digunakan untuk memprediksi dan mengontrol perubahan perilaku anak. Pencetus teori ini adalah Ivan P. ketika mendengar bunyi bel anjing membayangkan datangnya daging sehingga air liurnya keluar. Percobaannya yaitu anjing mampu menghubungkan bunyi bel dengan daging. Teori Belajar a.” Dalam percobaannya. Behavioral Learning Theory (Teori Perilaku) Teori perilaku memandang bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati dan dapat diukur (dalam Slamet Suyanto. 2003:88). Pola Pembelajaran 1.

guru memberi pujian. anjing juga mengeluarkan air liur. Konsistensi merupakan bagian yang amat penting dalam menanamkan perilaku. Pandangan seperti itu tidak benar. penanaman disiplin. disiplin. Menurut Slamet Suyanto (2003:90-91). misalnya setiap kali ada anak yang menjawab pertanyaan. Bahkan ketika bel dibunyikan tanpa daging. xxiii . dan sikap. Banyak orang yang keliru memandang bahwa teori tersebut tidak banyak berguna karena hanya dapat dipakai untuk anjing. bel dibunyikan dan anjing mengeluarkan air liur. atau sebaliknya setiap kali ada anak yang nakal. moral hendaknya dipasangkan dengan suatu ganjaran dan hukuman. Dalam menanamkan aturan. Jadi anjing dikatakan telah belajar (mengetahui) bahwa bel merupakan tanda akan datangnya daging. aplikasi dari teori Classical Conditioning dalam pembelajaran yaitu berkaitan dengan perilaku. Guru memasangkan stimulus dan respon secara konsisten.kali daging akan diberikan. Setiap pula kali memperkenalkan dan aturan. Jika guru tidak konsisten maka anak menjadi bingung dan hubungan antara stimulus-respon yang diinginkan tidak terwujud. hendaknya sebaiknya diperkenalkan hadiah sangsinya. maka guru memberi teguran atau hukuman.

menuliskan: “Edward L.” Menurut Thorndike binatang dan manusia tidak selalu memecahkan masalah dengan cara memikirkan caranya secara algoritmik. tetapi banyak yang memecahkan masalah dengan cara mencoba-coba (trial and error). dimana S (stimulus). pada intinya individu melakukan proses berpikir terlebih dahulu untuk menentukan respon dari suatu stimulus. O (kondisi internal organisme). sehingga menjadi S-O-R.2) Operant Conditioning Theory Slamet Suyanto dalam bukunya “Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini” (2003:91-92). maka respon tersebut cenderung diulang. xxiv . Menurut Hull. Hasil kerja Thorndike dilanjutkan oleh Clark L. Hasil penelitiannya melahirkan Law of Effect atau hukum akibat. Konsekuensi dapat berupa hadiah (reinforcement) atau hukuman (punishment). Hukum akibat menekankan bahwa konsekuensi memegang peranan penting akan muncul-tidaknya suatu respon. dan R (respon). Hull (1884-1952) dan Burrhus Frederic Skinner (1904-1990). maka respon tersebut tidak dilakukan lagi. Kucing mencari jalan keluar dari kotak dengan cara mencoba-coba. Ia mengadakan percobaan belajarnya dengan seekor kucing yang ditaruh di dalam kotak pasel. Sebaliknya jika suatu respon diikuti oleh hal yang tidak menyenangkan. teori S-R (stimulus-respon) ditentukan oleh kondisi individu. yaitu apabila suatu respon dari suatu stimulus diikuti dengan kepuasan. Menurut Hull dalam Slamet Suyanto (2003:92). Thorndike (1874-1949) merupakan salah satu pencetus teori belajar ini.

Jika perilaku itu mendapat hukuman. perilaku bukan semata ditentukan oleh stimulus tetapi tergantung bagaimana individu tersebut memandang bentuk hadiah atau hukuman tersebut. Jangan sampai anak yang diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau sebaliknya. dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai anak. Perilaku bukan semata-mata ditentukan oleh konsekuensinya. maka perilaku tersebut cenderung ditinggalkan atau menurun (dalam Slamet Suyanto. 2003:92). xxv . B. Pada teori ini meskipun konsekuensi penting. Jika suatu perilaku mendapat hadiah maka perilaku itu cenderung diulang atau meningkat. namun organisme memegang peranan yang lebih penting terhadap munculnya suatu perilaku. F. Guru harus mengetahui benar hobi atau kesenangan siswanya. Dalam teori Operant Conditioning. tetapi bagaimana individu memandang konsekuensi tersebut. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang tidak disukai anak. Menurut B. Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus hati-hati dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. konsekuensi memegang peranan penting terhadap munculnya suatu perilaku. menerjemahkan konsekuensi yang dimaksud pada teori Thorndike ialah hadiah dan hukuman. F. Skinner. Skinner.Sejalan dengan Hull.

mengolah informasi. b. Teori ini lebih banyak membahas bagaimana otak memperoleh. mengolah. 1) Teori Proses Informasi (Information Processing Theory) Robert Gagne merupakan salah satu tokoh pencetus teori ini. 2003:96). Cognitive Learning Theory (Teori Kognitif) Teori kognitif menggunakan perubahan perilaku anak untuk menerangkan perubahan yang terjadi di dalam diri anak. pola ingatan. menyimpan dan mengingat informasi. Teori ini memandang bahwa belajar adalah proses memperoleh informasi. dan menggunakan informasi untuk berpikir.apa yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap sebagai hadiah. persepsi. Selain itu juga dibahas bagaimana anak menggunakan informasi untuk memecahkan masalahdan membuat keputusan (dalam Slamet Suyanto. dan merespon. menyimpan informasi. organisasi informasi. Pada umumnya tidak semua rangsang pada saat yang sama dapat diterima oleh indera. xxvi . Input ialah informasi atau rangsang dari lingkungan yang diterima anak melalui organ sensoris (indera). serta mengingat kembali informasi yang dikontrol oleh otak. Ada beberapa istilah penting untuk memahami Teori Proses Informasi yaitu input. long-term memory (memori jangka panjang). short-term memory atau working memory (memori jangka pendek).

yang selanjutnya dialirkan ke otak melalui syaraf sensoris. Caranya antara lain ialah dengan menambah kompleksitas dan tingkat kesukaran tugas sedikit di atas kemampuan anak. Bagi orang yang kapasitas STM-nya besar. Semakin kompleks suatu input untuk dipikirkan. STM disebut juga working memory. ia akan dapat memikirkan banyak hal atau persoalan yang lebih kompleks dengan mempertimbangkan banyak hal pada saat yang sama. sehingga membentuk suatu persepsi. karena merupakan memori yang sedang diproses. STM atau working memory bekerja mulai dari otak memperoleh informasi sampai otak menentukan selesai mengolah informasi itu. semakin banyak STM yang dibutuhkan. Implikasi STM dalam pembelajaran ialah guru harus mengembangkan kapasitas memori anak. Persepsi adalah hasil tanggapan otak terhadap stimulus dengan menggunakan seluruh memori yang dimilikinya yang terkait dengan stimulus tersebut.kecuali rangsangan tersebut merupakan satu kesatuan. Otak akan menerima input dan secara otomatis akan mencari informasi yang sebelumnya sudah ada di oatak untuk mengolahnya dalam ShortTerm Memory (STM) atau memori jangka pendek. xxvii . Kapasitas STM setiap orang berbeda-beda. Indera mengubah rangsang yang diterimanya menjadi arus listrik (impuls).

Penataan memori ini dapat dilakukan melalui berbagai metode. LTM bisa juga terlupakan jika tidak pernah digunakan. otomatisasi. sedangkan informasi yang tidak penting akan dibuang atau diabaikan. LTM diyakini disimpan di otak pada bagian korteks. Anak memiliki LTM yang terbatas dan berbeda dengan memori gurunya. Mengingat bukanlah hal yang sederhana. dan STM.Implikasi teori persepsi bagi pembelajaran antara lain guru harus senantiasa mengontrol apakah siswa memiliki persepsi yang sama dengan apa yang dikatakan guru. Oleh karena itu untuk memudahkan proses mengingat. Apa yang menurut guru sudah jelas. Informasi yang disimpan dengan tidak teratur dan tidak tertata aakan sulit untuk diingat. Informasi yang telah diproses otak dan dianggap penting akan disimpan sebagai Long-Term Memory (LTM). Kemampuan mengingat ditentukan oleh beberapa faktor. Jadi LTM adalah memori yang dapat disimpan dan dapat bertahan dalam waktu yang lama. sehingga sering salah persepsi. seperti organisasi memori. belum tentu jelas bagi anak. antara lain xxviii . maka memori harus ditata dengan baik. Memori yang diorganisasi dengan baik akan mudah diingat. Lupa adalah peristiwa dimana memori yang disimpan dalam LTM sulit atau tidak bisa dipanggil ke STM untuk digunakan. Mengingat adalah proses memanggil kembali informasi yang telah tersimpan sebagai LTM ke dalam STM.

Memberikan pengalaman jauh lebih berharga daripada mencekoki anak dengan konsep yang harus dihafalkan. Bagi anak fase sensori-motorik. Implikasi teori Piaget bagi pembelajaran adalah guru harus mampu mendesain kegiatan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan anak. sampai mampu berpikir secara abstrak dengan menggunakan logika tingkat tinggi. dan (4) operasi formal atau proporsional. Anak fase konkret belajar paling baik dari bendabenda atau objek secara langsung. mengidentifikasi empat tahapan perkembangan kognitif pada individu.dengan menunjukkan bahwa sesuatu yang menarik atau menyita perhatian anak. yaitu (1) sensori-motorik. (2) pra-operasional. Keempat tahapan tersebut menggambarkan perkembangan kognitif anak yang secara umum mengikuti pola dari perilaku yang bersifat refleks (tidak berpikir). xxix . 2) Teori Perkembangan Kognitif a) Teori Piaget Jean Piaget dalam Slamet Suyanto (2003:107). Begitu pula anak fase pra-operasional. Ia belum dapat berpikir sebagaimana orang dewasa. jangan dipaksa untuk menarik kesimpulan dari dua variabel yang tidak dapat diamati langsung. (3) operasional konkret. belajar melalui interaksi organ sensoris dan motoris dengan lingkungan sangat penting.

Cara Algoritmik didasarkan atas pemikiran yang mendasar. Ada dua cara pemecahan masalah yaitu secara Heuristik dan Algoritmik. xxx . yaitu (1) mengidentifikasi masalah. dan (3) menyusun prosedur pemecahan masalah (schema). belajar adalah meningkatnya kemampuan anak untuk memecahkan persoalan (problem solving).b) Teori Neo-Piagetian Robi Case (1978 dan 1985) dalam Slamet Suyanto (2003:111). Melalui pemecahan masalah maka anak mengembangkan pengetahuan. (2) menentukan tujuan pemecahan masalah. Cara Heuristik didasarkan atas mencoba-coba (trial-error). Strategi pemecahan masalah meliputi tiga tahapan umum. sehingga disebut teori Neo-Piagetian. Menurut Case. Implikasinya adalah anak sebagai pemecah masalah (problem solver) yang senantiasa berusaha memecahkan persolan. Ia berusaha mengembangkan cara yang lebih baik dan efisien untuk memecahkan masalah. misalnya didasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. mengembangkan teori perkembangan kognitif yang sedikit berbeda dengan Piaget tetapi secara prinsip teori tersebut didasarkan atas teori Piaget. mungkin gagal atau mungkin pula berhasil.

Pertanyaan “Apa itu?” sangat penting untuk mengenal nama dari benda-benda. Dengan proses yang sama anak belajar tentang berbagai benda (konsep).3) Teori Jerome Bruner Slamet Suyanto dalam bukunya “Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini” (2003:116). xxxi . Pada tahap enactive. Ketika anak berusia 4-5 tahun pertanyaan “Apa itu?” akan berubah menjadi “Kenapa?” atau “Mengapa?”. iconic. Menurut Ausubel. Pada tahap ini anak mulai mampu menghubungkan keterkaitan antara berbagai benda. menuliskan: “Bruner (1966) dalam bukunya Toward Theory of Instruction menyatakan bahwa anak belajar dari konkret ke abstrak melalui tiga tahapan yaitu enactive. Inti dari belajar bermakna ialah bahwa apa yang dipelajari anak memiliki fungsi bagi kehidupannya. dimana anak mengembangkan konsep. Itulah sebabnya anak usia 2-3 tahun akan banyak bertanya “Apa itu?”. Kelak. 2003:117-118). orang. atau objek dalam suatu urutan kejadian”. dan kejadian. Proses selanjutnya adalah proses symbolic. sepanjang jalan mungkin ia akan banyak bertanya “Apa itu?”. 4) Teori Belajar Bermakna Teori belajar dari David Ausubel dikenal dengan belajar bermakna (Meaningfull Learning). Dalam proses itu seseorang dapat mengembangkan skema yang ada atau mengubahnya (dalam Slamet Suyanto. anak berinteraksi dengan objek berupa benda-benda. dan symbolic. orang. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punyai. Ketika mengajak anak berpergian. semakin dewasa ia akan mampu mengembangkan arti atau makna dari suatu kejadian. sehingga anak menghubungkan antara benda dengan simbol yaitu nama bendanya.

Kedua. Ada tiga ciri dari belajar bermakna. fenomena. Jadi dalam proses belajar tersebut. dan cita-cita yang berbeda-beda sehingga apa yang mereka minati untuk mereka pelajari akan menggunakan cara belajar yang berbeda-beda. siswa memiliki kebebasan memilih apa yang dipelajari. minat. b) siswa memiliki bakat. dan fakta-fakta baru ke dalam sistem pengertian yang telah ia punyai. 2003:118-119). siswa harus aktif. ada keterkaitan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan pengetahuan baru yang dipelajari. Jadi ciri belajar bermakna yaitu a) guru harus mampu menghubungkan apa yang dipelajari siswa dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. xxxii . kegiatan pembelajaran memungkinkan siswa mengkonstruksi pemahaman sendiri (dalam Slamet Suyanto. tetapi otak anak ibarat lilin yang harus dinyalakan agar mampu menerangi dirinya. dan c) otak anak bukan seperti wadah yang kosong dimana guru dapat menuangkan apa saja kedalamnya. dalam proses belajar siswa mengkonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. Seorang anak juga mengasimilasi pengalaman baru ke dalam struktur pengetahuan yang sudah dipunyai siswa. Ketiga. Seorang anak mengasosiasikan pengalaman.Menurut teori ini. Pertama.

c. b) tingkat struktural. Anak belajar melalui dua tahapan. Anak merespon orang lain (melalui proses berpikir) secara berbeda karena perbedaan karakter orang tersebut. bersikap. Konteks sosial meliputi seluruh lingkungan dimana anak tinggal secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh kultur masyarakatnya. kedua dilanjutkan secara individual yaitu dengan cara mengintegrasikan apa yang ia pelajari dari orang lain ke dalam struktur mentalnya (dalam Slamet Suyanto. pertama melalui interaksi dengan orang lain. c) belajar mempengaruhi perkembangan mental. Social Learning Theory 1) Lev Vygotsky (1896-1934) Lev Vygotsky adalah seorang psikolog berkebangsaan Rusia yang teorinya disebut juga Social-Cognitive Learning Theory. baik keluarga. dan d) bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan mental anak (dalam Slamet Suyanto. 2003:121-122). 2003:119). Teori belajar Vygotsky memiliki empat prinsip umum: a) anak mengkonstruksi pengetahuan. Ada tiga tingkatan konteks berdasarkan ruang lingkupnya yaitu: a) tingkat interaktif. dan berperilaku. Konteks sosial mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir. teman sebaya. maupun gurunya. yang xxxiii . yaitu orang atau teman yang sedang berinteraksi dengan anak. b) belajar terjadi dalam konteks sosial. Menurutnya interaksi sosial memegang peranan terpenting dalam perkembangan kognitif anak.

baik orang tuanya. seperti bahasa. seperti bekerjasama. Jadi memodelkan suatu karakter xxxiv . 2) Albert Bandura Teori dari Albert Bandura dikenal dengan Social Learning Theory (teori belajar sosial). dan teknologi yang digunakan dalam masyarakat tersebut. Menurut teori ini. Fokus dari teori ini adalah bagaimana anak-anak belajar perilaku sosial. sharing. dan menyerang (dalam Slamet Suyanto. Jadi perilaku. yaitu keseluruhan komponen masyarakat. orang. Ia mengamati banyak anak belajar dengan cara memodelkan perilaku yang dilakukan orang lain. dan lingkungan saling terkait. Bandura mengidentifikasi adanya belajar dengan memodelkan perilaku orang lain yang dikenal dengan teori Learning by Modelling. bertengkar. c) tingkat kultural atau sosial. 2003:124). atau perilaku profesi (dalam Slamet Suyanto. atau bahkan perilaku negatif seperti berkelahi. Informasi dari lingkungan tentang suatu perilaku atau kegiatan ditransfer oleh anak menjadi bentuk-bentuk simbolik dengan memodelkannya. 2003:126). perilaku. cara berpikir dan motivasi. sistem numerik. aktor film di TV.meliputi struktur sosial seperti keluarga dan sekolah. serta kondisi seseorang dan lingkungannya membentuk satu kesatuan.

2. Pertama. xxxv . Sesuai dengan pengertian belajar secara umum. proses retensi dimana anak mulai mentransfer peran yang akan dimodelkan dalam struktur pengetahuannya menjadi schema tentang peran tersebut. Implikasi teori ini dalam pembelajaran adalah bagaimana kita menciptakan model yang baik bagi anak. Anak akan sangat senang untuk memodelkan apa yang dilakukan orang tua dan gurunya. Ketiga. Pengertian Pembelajaran Menurut Max Darsono dkk (2000:24-25). Kedua. sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. proses produksi dimana anak mengkonversi kode simbolik dalam memorinya tentang peran yang akan dimodelkan ke dalam kegiatan nyata.merupakan bukti bahwa anak telah belajar tentang karakter tersebut dan dicoba ditampilkannya dengan menjadi karakter yang sama. proses motivasi ialah pengaruh faktor-faktor di luar anak yang memungkinkan anak menampilkan model tersebut. Keempat. Pembelajaran yang menarik atensi anak akan cenderung dimodelkan dan diingat terus. Ada empat tahapan belajar dengan memodelkan peran. yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. pembelajaran berasal dari kata belajar. Maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. Guru dan orang tua harus dapat menjadi model yang baik bagi anak. proses atensi adalah proses menaruh perhatian yang besar dan teliti terhadap suatu kejadian atau peran dari lingkungannya yang akan dimodelkan.

Menurut Teori Humanistik. pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Kegiatan belajar dilakukan dengan merespons tanda-tanda atau simbol yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran. Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan. Tipe kegiatan belajar ini didasarkan atas situasi bersyarat yang dikemukakan Ivan Pavlov. Menurut Teori Kognitif. Respons xxxvi . pembelajaran adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa. Jadi pembelajaran adalah usaha pendidik membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir agar peserta didik lebih mudah mengorganisasikan (mengaturnya) sesuai dengan minat dan kemampuannya. mengklasifikasikan kegiatan belajar menjadi delapan tipe yaitu: a. Menurut Teori Gestalt. Gagne (1970) dalam Sudjana (2000:117-118). Tipe Belajar Gagne berpendapat bahwa belajar dapat dilihat dari segi proses dan dapat pula dilihat dari segi hasil. 3. dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan). Dari segi proses. pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola bermakna).Menurut Teori Behavioristik. pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Kegiatan belajar mengenal tanda-tanda (Signal Learning).

e. Kegiatan belajar dengan perbedaan berganda (Multiple Discrimination Learning). dan/ atau emosional. d. Tipe belajar ini berhubungan dengan kegiatan peserta didik dalam membuat berbagai perbedaan respons yang digunakan terhadap stimulus yang beragam. Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan upaya peserta didik dalam menghubungkan respons (jawaban) lisan. Kegiatan belajar melalui rangkaian (Chaining Learning). Kegiatan belajar dalam tipe ini dilakukan peserta didik dengan menyusun hubungan antara dua stimulus atau lebih dengan berbagai respons yang berkaitan dengan stimulus tersebut. b. Tipe kegiatan belajar ini berhubungan dengan perilaku peserta didik yang secara sadar melakukan respons yang tepat terhadap stimulus yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran. c. Kegiatan belajar melalui stimulus dan respons (Stimulus Response Learning). walaupun dalam merangkaikan gerakan-gerakan tadi penggunaan bahasa tetap dilakukan untuk menunjukkan hubungan antara stimulus dan respons tersebut.yang dilakukan peserta didik bisa rasional. namun berbagai respons dan stimulus itu saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Kegiatan menghubungkan ini dapat diterapkan pula dalam merangkaikan kegiatan anggota badan. reflektif. Kegiatan belajar melalui asosiasi lisan (Verbal Association). xxxvii .

Belajar konsep. g. Konsep diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan dan banyak terjadi dalam realitas kehidupan. h. belajar konsep.f. Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan berbagai respons dalam waktu yang bersamaan terhadap sejumlah stimulus yang berupa konsep-konsep yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Belajar kemahiran intelektual (Cognitif). pada xxxviii . Gagne dalam Nana Sudjana (2000:47-49) mengemukakan ada lima tipe yaitu: a. Belajar yang berkenaan dengan hasil. Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan kegiatan peserta didik dalam menghadapi dan memecahkan masalah sehingga pada akhirnya peserta didik memiliki kecakapan dan keterampilan baru dalam pemecahan masalah. Belajar kaidah. dan pendidikannya. Dalam tipe ini termasuk belajar deskriminasi. Kegiatan belajar konsep (Concept Learning). dan belajar kaidah. Tipe kegiatan belajar ini digunakan peserta didik untuk menghubungkan beberapa prinsip yang digunakan dalam merespons stimulus. Belajar deskriminasi. pertumbuhan. yakni kesanggupan menempatkan objek yang mempunyai ciri yang sama menjadi satu kelompok (klasifikasi) tertentu. Kemampuan membedakan objek dipengaruhi oleh kematangan. Kegiatan belajar pemecahan masalah (Problem-solving Learning). yakni kesanggupan membedakan beberapa objek berdasarkan ciri-ciri tertentu. Kegiatan belajar prinsip-prinsip (Principle Learning).

seperti membaca. b. yaitu langkah-langkah berpikir dalam pemecahan masalah. apakah berarti atau tidak bagi dirinya. belajar konsep. Dengan kata lain. kemampuan memecahkan masalah merupakan aspek kognitif tingkat tinggi. Belajar kaidah melalui simbol bahasa baik lisan maupun tulisan. dan kesanggupan memberi arti dari setiap kata/ kalimat. Pada umumnya belajar berlangsung melalui informasi verbal. bercerita. Belajar mengatur kegiatan intelektual. Hasil belajar sikap nampak dalam bentuk kemauan. Dengan kata lain. Penekanannya pada kesanggupan memecahkan masalah melalui konsep dan kaidah yang telah dimilikinya. tipe belajar ini menekankan pada aplikasi kognitif dalam pemecahan persoalan. minat. kesanggupan menyatakan pendapat dalam bahasa lisan/ tulisan.hakikatnya menghasilkan beberapa konsep. Pemecahan masalah memerlukan kemahiran intelektual seperti belajar deskriminasi. d. perhatian. Belajar sikap. yaitu prinsip pemecahan masalah dan langkah berpikir dalam pemecahan masalah (problem solving). c. dan belajar kaidah sehingga akan membentuk satu kemampuan intelektual yang lebih tinggi. dan perubahan xxxix . Belajar informasi verbal. Ada dua aspek penting dalam tipe belajar ini. Sikap merupakan kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu. berkomunikasi.

kegiatan belajar prinsipprinsip. luwes. sebab dalam belajar motorik bukan semata-mata hanya gerakan anggota badan. Belajar tipe ini banyak berhubungan dengan kesanggupan menggunakan gerakan anggota badan. kegiatan belajar melalui rangkaian. belajar informasi verbal. kegiatan belajar konsep. Komponen Pembelajaran xl . Aspek utama belajar motorik adalah tercapainya otomatisme melakukan gerakan. ada delapan tipe yaitu kegiatan belajar mengenal tanda-tanda. belajar mengatur kegiatan intelektual. kegiatan belajar melalui stimulus dan respon. Dari segi proses. Kesimpulan dari pendapat Gagne tersebut di atas adalah belajar dapat dilihat dari segi proses dan dapat pula dilihat dari segi hasil. kegiatan belajar dengan perbedaan berganda. Belajar keterampilan motorik. tetapi juga memerlukan pemahaman dan penguasaan akan prosedur gerakan yang harus dilakukan serta konsep mengenai cara melakukan gerakan. Gerakan yang sudah otomatis merupakan puncak belajar motorik. sehingga memiliki rangkaian urutan gerakan yang teratur. Ada pula lima tipe belajar yang berkenaan dengan hasil. Belajar motorik memerlukan kemahiran intelektual dan sikap. tepat. dan kegiatan belajar pemecahan masalah. 4. dan belajar keterampilan motorik. cepat. yaitu belajar kemahiran intelektual. kegiatan belajar melalui asosiasi lisan. e. dan lancar. Sikap dapat dipelajari dan dapat diubah melalui proses belajar.perasaan. belajar sikap.

Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah sesuatu yang bernilai normatif.Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48). dan evaluasi. Komponen-komponen pembelajaran antara lain: a. tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. ada empat tingkatan tujuan pendidikan yaitu: 1) Tujuan Umum Pendidikan Yaitu pembentukan manusia Pancasila. 2) Tujuan Institusional (Tujuan Lembaga Pendidikan) Tujuan institusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh lembaga atau jenis tingkatan sekolah sebagai tujuan antara untuk sampai pada tujuan umum. kegiatan belajar mengajar. metode. bahan pembelajaran. sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan. Di dalam TPA. Tujuan Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48). Menurut Nana Sudjana (2000:57-58). juga terdapat kegiatan belajar mengajar yang disesuaikan dengan acuan pendidikan anak usia dini. Tujuan antara (tujuan intermidier) adalah tujuan yang berfungsi sebagai perantara untuk mencapai tujuan xli . Demikian pula dengan TPA yang merupakan suatu lembaga nonformal yang memberikan pelayanan pengasuhan dan pendidikan. sumber belajar. alat/ media belajar.

bahan pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. ada beberapa kriteria untuk menentukan bahan dan perlengkapan belajar anak usia dini.umum. 3) Tujuan Kurikuler (Tujuan Bidang Studi/ Mata Pelajaran) Tujuan kurikuler adalah penjabaran tujuan institusional yang berisi program-program pendidikan dalam kurikulum lembaga pendidikan. Bahan Pembelajaran Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:50). Tujuan ini menyangkut tujuan yang hendak kita capai dalam kegiatan pendidikan kita sehari-hari. Masing-masing lembaga mempunyai tujuan institusional yang dijabarkan dari dan menuju ke tujuan umum pendidikan. 4) Tujuan Instruksional (Tujuan PBM) Tujuan instruksional merupakan tujuan yang terbawah dari jenis tujuan-tujuan di atas. antara lain: 1) Relevan dengan kondisi anak Artinya bahan dan perlengkapan yang disediakan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. 2) Berwarna dan atraktif Bahan yang berwarna. 3) Sederhana dan kongkrit xlii . Rahman (2002:77-79). apalagi dengan warna yang mencolok akan mengundang anak untuk memegang dan menggerakkannya. Menurut Hibana S. b.

Bahan dan perlengkapan belajar anak bukanlah yang rumit dan sulit. 5) Berkait dengan aktivitas keseharian anak Anak tumbuh dan berkembang bersama lingkungan yang ada. 7) Bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan Bahan dan perlengkapan belajar dipilih yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kemampuan anak dan juga mengandung nilai pendidikan yang positif. jelas. dia dengar dan dia rasakan. Dengan demikian tidak membahayakan bagi anak untuk bereksplorasi dengan alat tersebut. Segala yang dia lihat. bentuk. Kegiatan Belajar Mengajar xliii . melainkan sederhana. karena sifat dasar anak adalah ingin tahu dan selalu ingin mencoba. ingin ditiru dan diulang. c. dan pewarna yang digunakan. dan kongkrit di mata anak. 6) Aman dan tidak membahayakan Bahan dan perlengkapan belajar anak harus aman dari segi bahan. 4) Eksploratif dan mengundang rasa ingin tahu Bahan dan perlengkapan yang tersedia dapat dieksplorasi oleh anak. Oleh karena itu bahan dan perlengkapan belajar anak diupayakan untuk sesuai dan berkait dengan aktivitas keseharian anak.

dan demokratis sehingga menarik anak untuk terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. bermain bebas dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan bermain di mana anak mendapat kesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan mereka dapat memilih bagaimana menggunakan alat-alat tersebut. 2003:102-103). gembira. Pada TPA. pengasuh TPA memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna menemukan suatu konsep (pengertian tertentu). bermain dalam tatanan sekolah dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang berujung pada bermain bebas. Apabila tujuannya melakukan klasifikasi benda dalam ukuran tertentu (besar/ kecil). Bermain merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. bermain dengan bimbingan dan berakhir pada bermain dengan diarahkan (dalam Soemiarti Patmonodewo. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. maka xliv . kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Menurut Bergen (1988). Kegiatan bermain dengan bimbingan.Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:51). Pembelajaran dalam TPA disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan.

Rahman (2002:76). memberikan kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak (Anggani Sudono. dan belajar. bergerak. pengasuh TPA mengajarkan bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas yang khusus. Menyanyikan suatu lagu. secara teknis ada beberapa metode yang tepat untuk diterapkan pada anak usia dini. bernyanyi. bermain adalah tahap awal dari proses panjang belajar pada anak-anak yang dialami oleh semua manusia xlv . Menurut Slamet Suyanto (2003:162). metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.pengasuh TPA akan menyediakan sejumlah mainan yang dapat diklasifikasikan dalam kelompok yang berukuran besar atau yang kecil. Dalam bermain yang diarahkan. Metode Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:53). Pengertian lainnya. metode pembelajaran untuk anak usia dini hendaknya menantang. d. antara lain: 1) Bermain Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. menyenangkan. 2000:1). bersama bermain jari dan bermain dalam lingkaran adalah contoh dari bermain yang diarahkan. melibatkan unsur bermain. Menurut Hibana S.

berkhayal. Penerapan kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. video. dan mengembangkan kognisinya. Bercerita merupakan suatu stimulan yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental. hanya mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita. Melalui bercerita. seperti boneka. 3) Bernyanyi Melalui nyayian dan musik. anak diajak berkomunikasi. 3) Bercerita dengan cara membaca buku cerita (story reading). gambargambar. yaitu dapat berupa kaset. televisi. seperti: 1) Bercerita tanpa alat peraga. dan benda lain. Melalui bermain yang menyenangkan anak menyelidiki dan memperoleh pengalaman yang kaya baik dengan dirinya sendiri. 2004:54). cerita adalah penggambaran tentang sesuatu secara verbal. 4) Bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan. 2) Bercerita dengan menggunakan alat peraga. Dalam hal ini anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan kemampuan kognitifnya untuk menyusun kembali ide-idenya.(Kak Seto. 2) Bercerita Menurut Hibana S. Rahman (2002:89-90). lingkungan maupun orang lain disekitarnya. berfantasi. dan sebagainya. kemampuan apresiasi anak akan berkembang dan melalui nyanyian anak dapat mengekspresikan xlvi . 5) Bercerita melalui alat pandang dengar (audio visual aids).

artinya anak melakukan secara langsung kegiatan bernyanyi. baik dilakukan sendiri. Pertanyaan-pertanyaan diajukan untuk memancing dialog yang berasal dari kegiatan si anak sehari-hari. gosok gigi. misalnya dengan terlebih dahulu mengajak anak untuk bernyanyi dengan memperagakan gerakan-gerakan tubuh. bernyanyi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk seperti: 1) Bernyanyi pasif. 4) Bercakap (dialog dan tanya jawab) Menurut Kak Seto (2004:66). Menurut Hibana S. mengkondisikan agar anak dapat sering dan rajin bertanya sangat penting dilakukan karena bertanya disebabkan rasa ingin tahu dan ini merupakan bagian dari pikiran yang terus menyelidiki. dan lain-lain. 2) bernyanyi aktif. mengikuti atau bersama-sama. Rahman (2002:93). makan pagi. seperti mandi. Misalnya seorang anak yang xlvii . artinya anak hanya mendengarkan suara nyanyian atau musik dan menikmatinya tanpa terlibat secara langsung kegiatan bernyanyi.segala pikiran dan isi hatinya. 5) Bermain peran (sosio-drama) Bermain drama. Menyayi merupakan bagian dari ungkapan emosi. Hal ini harus dengan perasaan gembira. merupakan bentuk bermain aktif dimana anak melalui suatu perilaku dan bahasa yang jelas berhubungan dengan benda-benda atau situasi seolah-olah hal tersebut memiliki atribut yang lain daripada sebenarnya.

Dilihat dari tempat asal pengadaan alat permainan. kelompok kecil maupun kelompok besar. media belajar anak usia dini pada umumnya adalah alat permainan. alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. pengasuh TPA dapat mengambilnya dari lingkungan alam sekitar anak. Perlu adanya perbedaan yang jelas antara alat peraga dan alat permainan. Alat/ Media Belajar Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:54).bermain dengan benda-benda mainannya seolah-olah merupakan orang-orang atau hewan yang sesungguhnya. anak aktif mengadakan eksplorasi walaupun tidak menutup kemungkinan mereka akan meggunakannya untuk bermain. Sedangkan pada alat permainan. xlviii . e. baik lingkungannya di pedesaan maupun di perkotaan. Alat permainan dari lingkungan Alat-alat permainan yang diperlukan dalam proses pengembangan diri dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan individual. Mereka bereaksi terhadap benda-benda tersebut dengan cara yang ditiru dari pengamatan terhadap lingkungan sekelilingnya. Alat peraga berfungsi untuk menerangkan atau memperagakan suatu mata pelajaran dalam proses “belajar-mengajar”. Menurut Slamet Suyanto (2003:161).

Alat Permainan Edukatif (APE) Selain hal tersebut di atas. dan lain-lain. cup es krim dan sendoknya. Selain barang-barang dari tempat-tempat tersebut di atas. supermarket. dan sebagainya (Mayke S. Misalnya dari toko besi didapatkan: karet gelang. kertas ampelas. toko besi. daerah pegunungan. dan sebagainya. pasar maupun tempat makan dan minum. tanaman. batu-batuan. pasar induk. ada juga alat permainan edukatif. hasil yang dikumpulkan dari tempat-tempat seperti pantai. bahan mainan yang terbuat dari tanah liat. bermacam-macam daun. grosir. tanah. piring kertas.Di pedesaan. Alat permainan dari tempat-tempat tersebut terdiri atas benda-benda yang sebenarnya dan bukan tiruan atau miniaturnya sehingga anak akan sangat menyukainya karena merasa seperti dalam kehidupan yang sebenarnya. pasir. Tedjasaputra. lingkungan alam penuh dengan alat permainan seperti biji-bijian. dan lain-lain. yaitu alat permainan yang dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: xlix . cantolan-cantolan. 2003:75-77). toko-toko kelontong. biskuit huruf. penggaris. dan lain-lain. Di perkotaan. ada bahanbahan yang dapat diperoleh dari lingkungan alam seperti: air. Dari toko makanan dan kue dikumpulkan: gelas-gelas plastik bekas. banyak tempat penjualan bahan bangunan. hasil pepohonan.

ada beberapa macam sumber belajar antara lain: Tempat sumber belajar alamiah l . (dalam Mayke S. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. Menurut Slamet Suyanto (2003:160). Sumber Belajar Menurut Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata (1991:165) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:55). sikap. e) Sifatnya konstruktif. dan menjadi bermacam-macam bentuk.a) Dapat digunakan dalam berbagai cara. dan keterampilan yang ia pelajari. b) Ditujukan terutama untuk anak-anak usia prasekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan serta motorik anak. Menurut Anggani Sudono (2000:11-14). manfaat. d) Membuat anak terlibat secara aktif. sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. f. sumber belajar merupakan tempat di mana anak dapat memperoleh informasi. 2003:81). Tedjasaputra. c) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat.

Tempat-tempat tersebut mampu memberikan informasi secara langsung dan alamiah. Gambar-gambar yang ekspresif dapat memberi kesempatan anak menggunakan nalar dan mengungkapkan pikirannya dengan menggunakan kosa kata yang semakin hari semakin berkembang. Nara sumber Para tokoh dan ahli diberbagai bidang merupakan salah satu sumber belajar yang dapat diandalkan karena biasanya mereka memberikan informasi berdasarkan penelitian dan pengalaman mereka. buku-buku dengan beragam tema dapat dikumpulkan dan ditata rapi di ruang perpustakaan. atau lapangan udara. hutan.Sumber belajar yang dapat berupa tempat yang sebenarnya di mana anak mendapatkan informasi langsung. kantor polisi. Perpustakaan Perpustakaan memiliki fungsi sebagai “jantung sekolah”. peternakan. Berbagai ensiklopedi. li . Media cetak Termasuk didalamnya bahan cetak. Dengan demikian diharapkan para siswa dapat melatih kemahiran mereka dalam berbahasa melalui wawancara dan berkomunikasi dengan para nara sumber. perkapalan. seperti kantor pos. karena didalamnya berisi berbagai informasi yang dapat membantu setiap orang yang menggunakannya untuk mengembangkan diri. atau tabloid. sawah. pemadam kebakaran. buku. majalah.

N Sumartana (1983:1) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:58). checklist. hasil pekerjaan anak. Keterangan-keterangan mengenai masing-masing siswa akan dicatat secara periodik dan teratur serta sistematis. Karena itu bentuk penilaian di mana anak dibandingkan dengan anak yang lain menjadi kurang bermakna. Menurut Slamet Suyanto (2003:224). dan sebagainya. apapun kondisinya. lii . Evaluasi Menurut Wayan Nurkancana dan P. Pendidik harus mau menganggap bahwa semua anak. g. keterangan yang berupa hasil observasi. evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. penilaian pada anak usia dini hendaknya lebih didasarkan atas kemajuan belajar atau pengembangan individual. Keterangan tersebut meliputi kemampuan anak. pertumbuhan dan perkembangan anak. penilaian diri dari masing-masing anak. Alat peraga Alat peraga berfungsi untuk menerangkan atau memperagakan suatu mata pelajaran dalam proses “belajar-mengajar”.Perkembangan media elektronik khususnya televisi akan menambah pengetahuan anak terutama dari segi visualisasi. P. adalah siswanya yang harus dikembangkan secara optimal sesuai dengan kapasitas masing-masing.

liii . Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:15). dikemukakan pengertian Taman Penitipan Anak (TPA) dalam Soemiarti Patmonodewo (2003:77). emosional dan sosial”. Pelayanan ini diberikan dalam bentuk peningkatan gizi. antara lain dengan cara melakukan konferensi. Pengertian TPA Dari hasil rapat koordinasi “Usaha Kesejahteraan Anak” Departemen Sosial Republik Indonesia. memberikan laporan tentang anak kepada orang tuanya adalah bagian dari tugas pendidik. sebagai berikut: “Lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak balita yang dikhawatirkan akan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya. penilaian pendidikan di TPA dilaksanakan setiap empat bulan sekali (caturwulan) dan prosesnya didasarkan pada pencapaian perkembangan anak. dengan memberikan rapor. karena ditinggalkan orang tua atau ibunya bekerja. pengembangan intelektual. pembicaraan melalui telepon atau pembicaraan yang santai. Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care 1.Menurut Soemiarti Patmonodewo (2003:151). Penilaian berupa “laporan perkembangan anak” dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua dalam waktu tertentu. Bentuk pemberian laporan kepada orang tua. Dasar penilaian mengacu pada hasil karya dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu.

bimbingan. Jenis Pelayanan TPA Dari pengertian TPA di atas. Dalam hal ini. asuhan. pada pasal 1 ayat 1b dan pasal 2 ayat 2 (dalam Catur Sri Sapanta. Rahman. Jenis pelayanan yang harus diberikan baik pelayanan langsung maupun tidak langsung berlandaskan pada Undang-undang No. jenis pelayanan di TPA meliputi: perawatan. dan sosial yang dilakukan selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. biasanya dilakukan pada saat jam kerja. jelas bahwa secara umum pelayanan TPA adalah memberikan pengasuhan kepada anak balita. 2003:77). day care hanya sebagai pelengkap terhadap asuhan orang tua dan bukan sebagai pengganti asuhan orang tua (dalam Soemiarti Patmonodewo. 2002:59). dan bimbingan untuk mengembangkan kemampuan serta kehidupan sosialnya sesuai dengan kepribadian bangsa agar menjadi warga negara yang baik. asuhan. perawatan. emosional. pengembangan intelektual. tempat tinggal. Adapun isi dari kedua pasal tersebut adalah bahwa anak berhak atas kesejahteraan.TPA adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan pelayanan pengganti berupa asuhan. liv . dan kebutuhan pokok anak seperti: makanan. 2003:27). Jadi TPA adalah salah satu bentuk organisasi program PAUD yang memberikan pelayanan kepada anak balita dalam bentuk peningkatan gizi. serta pakaian. perawatan. Berdasarkan hal tersebut di atas. Selain itu anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. 2. Day care merupakan upaya yang terorganisasi untuk mengasuh anak di luar rumah mereka selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. dan pendidikan bagi anak balita selama anak balita tersebut ditinggal bekerja oleh orang tuanya (Hibana S. day care adalah sarana pengasuhan anak dalam kelompok. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (1990).

e. perbaikan hubungan social. lv . Bimbingan Bimbingan dimaksudkan untuk mengembangkan kecerdasan (intelegensi) dan kepribadian anak melalui permainan. disiplin anak. dan sarana serta prasarana untuk kepentingan anak. pakaian. Asuhan Asuhan diberikan dalam bentuk pemberian makan. Tempat Tinggal (Shelter) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk penyediaan lingkungan tempat tinggal sesuai dengan standart kesehatan rumah (layak huni). c. Perawatan Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk perawatan fisik. f. dan penciptaan kelompok. Pakaian (Clothing) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk pemberian pakaian yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. b. d.a. Makanan (Food) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk pemberian makanan secukupnya sesuai dengan martabat dan standart pemenuhan gizi seimbang.

akses terhadap pelayanan kesehatan. Berpendidikan minimal tamat Sekolah Menengah Umum (SMU) atau sederajat. Persyaratan Pengasuh/ Perawat 1) Berpendidikan minimal tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau sederajat.g. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:4). lvi . sosialisasi. memiliki sarana pendidikan minimal sesuai dengan daftar Sarana Pendidikan Minimal Taman Penitipan Anak. b. Kesehatan (Health) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk penyediaan fasilitas kesehatan. memiliki tenaga kependidikan (guru/ pendidik) dan tenaga pengasuh/ perawat dengan kualifikasi sebagai berikut: a. standar pelayanan minimal harus mempergunakan Kurikulum Program Pendidikan pada Taman Penitipan Anak yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Pendidikan (Education) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk pendidikan anak dalam keluarga. Sehat jasmani dan rohani. Persyaratan Guru/ Pendidik Berpendidikan SPG/ SPGTK. dan kemampuan berobat. memiliki tempat pendidikan. dan memiliki keterampilan khusus tentang PAUD. h. dan disiplin keluarga.

Sirup Fe. dacin. leaflet. 2) ASI Eksklusif membutuhkan sarana yaitu Buku Pedoman Kader Posyandu. gizi. Standar pelayanan untuk makanan pokok anak antara lain: 1) Pemberian makanan/ minuman membutuhkan sarana seperti: Piring.2) Sehat jasmani dan rohani. sendok. dan Kapsul Yodium. 3) Berpendidikan atau memiliki keterampilan di bidang perawatan dan pengasuhan anak (Pramubalita). dan istirahat. Standar pelayanan untuk gizi antara lain: 1) Penyuluhan Gizi membutuhkan sarana yaitu Modul Simulasi Posyandu. 2) Pemberian Paket Pertolongan Gizi membutuhkan sarana seperti: Vitamin A. sebagai berikut: a. 3) Penyuluhan Gizi Seimbang membutuhkan sarana seperti: Poster. lvii . Kebutuhan Pokok Anak Kebutuhan pokok anak yaitu makanan pokok. Paket PMT. dan register. Standar pelayanan minimal Pendidikan Anak Usia Dini pada Taman Penitipan Anak. dan Blended Food. 3) PMT Penyuluhan membutuhkan sarana yaitu Buku Pedoman Pembuatan Makanan Lokal. gelas. KMS. 4) Bertempat tinggal di sekitar Taman Penitipan Anak. dan lembar balik. 4) PMT Pemulihan membutuhkan sarana seperti: Home Economi Sets.

3. Istirahat Tidur.Standar pelayanan untuk istirahat adalah tidur yang membutuhkan sarana yaitu perlengkapan tidur. 2001:22) lviii . Penyuluhan Gizi Seimbang. lembar balik.1: Kebutuhan Pokok Anak (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Perlengkapan tidur. 1. buah. Jenis makanan untuk anak berusia 1-4 bulan adalah ASI. 2. dan c. Kapsul Yodium. Jenis makanan untuk anak berusia 5 bulan adalah ASI dan buah. Paket PMT. KMS. PMT Pemulihan. Sirup Fe. Blended Food. Home Economi Sets. dacin. d. leaflet. Poster. 2001:17) Pemberian Makanan pada Bayi Pelayanan pemberian makanan pada bayi harus disesuaikan dengan usia bayi tersebut. gelas. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: No. Tabel 2. Buku Pedoman Kader Posyandu. c.1a: Pemberian Makanan pada Bayi (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. bubur dan TIM. Komponen Makanan Pokok Standar Pelayanan a. Jenis makanan untuk anak berusia 6 bulan adalah ASI. Vitamin A. b. sendok. Buku Pedoman Pembuatan Makanan Lokal. buah. ASI Eksklusif. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Umur/ Bulan Jenis Makan an 1 2 3 4 5 6 ASI Buah Bubur Tim 7 ASI Buah Tim 8 ASI Buah Tim 9 ASI Buah Tim 10 ASI Buah Tim 11 ASI Buah Tim 12 ASI Buah Tim A A A A ASI S S S S Buah I I I I Tabel 2. Pemberian makanan/ minuman. dan TIM. Modul Simulasi Posyandu. Gizi a. PMT Penyuluhan. Penyuluhan Gizi. b. register. Jenis makanan untuk anak berusia 7-12 bulan adalah ASI. dan Sarana Piring. Pemberian Paket Pertolongan Gizi.

Modul TN BBLR (Pegangan bagi Tenaga Kesehatan). Sarana yang dibutuhkan adalah Buku Pedoman Penanggulangan Kecelakaan dan Cidera pada Usia Balita di rumah tangga. lix . dan leaflet Tahapan Perkembangan Anak. mencegah infeksi. 2) Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Standar pelayanannya antara lain: mengenali secara dini penyimpangan perkembangan serta mengenali cara stimulasi dan intervensi. Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak Pelayanan perawatan kesehatan anak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar pelayanannya antara lain: menjaga bayi tetap hangat. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku Pedoman Pemantauan Perkembangan Anak di tingkat keluarga. memberikan ASI dini dan Eksklusif. cara pemberian makanan pada bayi. dan Materi penyuluhan tentang pencegahan dan penenganan hipotermi bayi.b. memelihara kebersihan diri. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku KIA (Kesejahteraan Ibu dan Anak). 3) Penanggulangan Kecelakaan Standar pelayanannya antara lain: Pencegahan serta penanggulangan kecelakaan dan cidera. Buku pegangan Kader Kesehatan. mengenali tanda bahaya pada bayi. dan memelihara kebersihan lingkungan anak. Lembar balik poster. ASI Eksklusif.

Modul TN BBLR (Pegangan bagi Tenaga Kesehatan). Mencegah infeksi. dan verban. dan Lembar balik poster dan leaflet Tahapan Perkembangan Anak. ASI Eksklusif. salep hitam (Iontiol). Mengenali cara stimulasi dan intervensi. b.Sarana yang dibutuhkan adalah obat-obat P3K. Memelihara kebersihan diri. pemberian obat cacing. obat batuk putih. Sarana Buku KIA (Kesejahteraan Ibu dan Anak). 5) Kuratif Standar pelayanannya antara lain: Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dan Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). Buku Pedoman Pemantauan Perkembangan Anak di tingkat keluarga. dan Materi penyuluhan tentang pencegahan dan penenganan hipotermi bayi. pemeriksaan gigi dan mulut. imunisasi TT pada ibu hamil. Obat-obatan P3P seperti: obat turun panas. obat merah. d. Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Penanggulang an Kecelakaan 3. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: No. B Komplek. Komponen Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar Pelayanan a. f. Memelihara kebersihan lingkungan anak. Pencegahan serta penanggulangan lx . Menjaga bayi tetap hangat. dan Pemberian vitamin A. dan Tetes mata. Mengenali tanda bahaya pada bayi. Salep 2-4/ salep 88. 1. b. kotak obat. tensoplast. gunting.4) Preventif Standar pelayanannya antara lain: Imunisasi lengkap pada bayi dan anak. Buku Pedoman Penanggulangan Kecelakaan 2. oralit. . a. Memberikan ASI dini dan Eksklusif. Buku pegangan Kader Kesehatan. cara pemberian makanan pada bayi. Mengenali secara dini penyimpangan perkembangan. pemeriksaan tubuh. gentian violet. kapas. e. providon iqdine. c.

B Komplek. Tensoplast. d. b.d 6 bulan sekali. kudis). 2001:18-19) Jadwal Imunisasi pada Anak Jenis imunisasi anak usia 0 bulan adalah hepatitis B. Rubella).kecelakaan dan cidera. Verban. 1 minggu sekali secara bergantian. C a. Obat batuk putih. Gentian Violet. Obat-obat P3K. Obat merah. Jenis imunisasi anak usia 3 bulan adalah DPT I dan Polio. Jadwal: Lihat tabel 2. kadas. Preventif a. Jenis imunisasi anak usia 4 bulan adalah DPT II dan Polio. Kuratif Tabel 2. Tetes mata 5. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan meliputi: luka lecet dan luka bakar. infeksi kulit (koreng. Kapas. Jenis imunisasi anak usia lebih dari 5 tahun adalah HiB dan Varicella (Cacar). Mumps.2a. Jenis imunisasi anak usia 5 bulan adalah DPT III dan Polio. Jenis imunisasi anak usia 12 bulan adalah DPT IV dan Polio. Salep 2-4/ salep 88. Jenis imunisasi anak usia 15 bulan adalah MMR (Muasles. meliputi: panas/ demam. Kotak Obat. Providon Iqdine. Obat cacing 6 bulan sekali dengan petunjuk dokter. c. Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). Jenis imunisasi anak usia 2 bulan adalah BCG. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Usia 0 bulan Jenis Imunisasi Hepatitis B lxi . Obat-obatan P3P seperti: Obat turun panas. 4. sariawan. dan Cidera pada Usia Balita di rumah tangga.2: Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Pemberian obat cacing. b. Salep hitam (Iontiol). Imunisasi lengkap pada bayi dan anak. bisul. Oralit. diare. Jenis imunisasi anak usia 9 bulan adalah Campak. Pemberian vitamin A.d 1 bulan sekali. e. Pemeriksaan gigi dan mulut. 3 s. Jenis imunisasi anak usia 5 tahun adalah DPT V dan Polio. 1 minggu s. Pemeriksaan tubuh. dan mata merah. f. Imunisasi TT pada ibu hamil. Gunting. batuk pilek.

alat-alat lxii . kubus. agama. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Standar Pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sarana Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS Tabel 2. balok bangunan. dan kemampuan bermasyarakat. daya pikir. displin. alat pertukangan.3: Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Pendidikan Anak Usia Dini Standar pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini antara lain: 1) Pembentukan perilaku: moral.2a: Jadwal Imunisasi pada Anak (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. sikat gigi. Rubella) DPT V + Polio HiB Varicella (Cacar) Tabel 2. binatang mainan. TV. kendaraan mainan. daya cipta. alat musik. Mumps. radio.2 bulan 3 bulan 4 bulan 5 bulan 9 bulan 12 bulan 15 bulan 5 tahun - BCG DPT I + Polio DPT II + Polio DPT III + Polio Campak/ meases DPT IV + Polio MMR (Muasles. alat olah raga. 2) Pengembangan kemampuan dasar: berbahasa. keterampilan. Sarana yang dibutuhkan dalam pelayanan ini adalah buku cerita. Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) membutuhkan sarana Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS. tape. alat masakan. puzzle. perasaan/ emosi. gelas minum. boneka. 2001:23) c. plastisin. dan jasmani. 2001:20) d. alat geometri.

alat pertukangan. batu-batuan. menyanyi. alat-alat menggambar.6 tahun). agama. balok bangunan. dan jasmani. Standar pelayanan yang diberikan dapat berupa penyuluhan tentang: 1) Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan . lxiii . tape.menggambar. gambar seri. 2) Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. kendaraan mainan. gelas minum. alat geometri. menari). alat meronce. alat olah raga. sikat gigi. 3) Media interaksi (bermain. radio. Pembentukan Perilaku: Moral. b. 4) Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. binatang mainan.4: Pendidikan Anak Usia Dini (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. daya cipta. puzzle. Sarana Buku cerita. gambar seri. dan kemampuan bermasyarakat. 6) Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak. biji-bijian. alat meronce. Layanan Bimbingan Sosial Pelayanan bimbingan sosial diberikan kepada orang tua. alat untuk menganyam. boneka. displin. Tabel 2. alat musik. 2001:20) e. Pelayanan ini akan membantu orang tua dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Komponen Pendidikan Anak Usia Dini Standar Pelayanan a. alat untuk menganyam. TV. daya pikir. batu-batuan. bercerita. alat masakan. keterampilan. biji-bijian. plastisin. 5) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. perasaan/ emosi. Pengembangan Kemampuan Dasar: Berbahasa. kubus.

tetapi sudah merupakan ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari. buku cara penggunaan APE. d. kartu tumbuh kembang anak. menyanyi. Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. kartu tumbuh kembang anak. b. strategi adalah suatu seni yaitu seni membewa pasukan ke dalam medan tempur dalam posisi yang paling menguntungkan (dalam W. buku pedoman. dan APE. Media interaksi (bermain. Gulo. Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan . Sarana Model penyuluhan. Tabel 2. buku cara penggunaan APE. menari). leaflet. Dengan demikian istilah strategi yang diterapkan dalam dunia pendidikan. f. Strategi Pembelajaran TPA a. poster. booklet. khususnya dalam kegiatan belajar-mengajar adalah suatu seni dan ilmu untuk membawakan pengajaran di kelas sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.Sarana yang dibutuhkan dalam pelayanan ini adalah model penyuluhan. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Komponen Pelayanan bimbingan sosial membantu pertumbuhan dan perkembangan Standar Pelayanan Penyuluhan: a.5: Layanan Bimbingan Sosial (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. booklet. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. c. Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak. 2001:21) 3.6 tahun). dan APE. buku pedoman. poster. leaflet. Pengertian Strategi Pembelajaran Menurut Ensiklopedi Pendidikan. bercerita. Dalam perkembangan selanjutnya strategi tidak lagi hanya seni. 2002:2). e. lxiv .

2002:2). Strategi dapat diartikan sebagai rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: 1) Strategi belajar-mengajar adalah rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan dapat dicapai secara efektif. Metode pengajaran termasuk dalam perencanaan kegiatan atau strategi. Gulo. dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu (dalam W. Raka Joni mengartikan strategi belajar adalah pola dan urutan umum perbuatan guru-murid dalam mewujudkan kegiatan belajar-mengajar (dalam W. metode. lxv . Kadang-kadang strategi belajar-mengajar sering dikacaukan dengan metode pengajaran. David. Menurut J. 2002:3). sedangkan metode ialah cara untuk mencapai sesuatu. strategi belajar-mengajar meliputi rencana. 2) Cara-cara membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum perbuatan guru-murid dalam perwujudan kegiatan belajarmengajar. R.T. Gulo. 3) Pola dan urutan umum perbuatan guru dan murid itu merupakan suatu kerangka umum kegiatan belajar-mengajar yang tersusun dalam suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan.

b. di dalam maupun di luar ruangan dengan tetap dalam pengawasan guru/ pamong belajar. d) Kegiatan yang dapat dipilih anak untuk memunculkan inisiatif. 2 (Agustus 2003:34). Termasuk dalam kegiatan ini adalah kegiatan bermain bebas. yang diisi dengan kegiatan yang bersifat menenangkan anak disamping menyimpulkan kegiatan hari itu. Istirahat/ makan.” lxvi . 2. 2 No. Strategi Pembelajaran TPA Strategi dapat diartikan sebagai rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu. serta bercakap-cakap dengan anak tentang tema yang akan diberikan pada hari itu. Kegiatan Inti. e) Kegiatan yang dapat mengembangkan kebiasaan bekerja yang baik. 3. c) Kegiatan yang meningkatkan konsep atau pengertian dan konsentrasi. Dalam Buletin PADU Vol. berdoa dan/ atau bernyayi. Penutup. berupa kegiatan pengantar atau pemanasan proses pembelajaran yang berhubungan dengan tema. Strategi pembelajaran pada TPA dapat diartikan sebagai pola dan urutan umum perbuatan pendidik dan anak balita dalam mewujudkan kegiatan belajar-mengajar. apresiasi seni. berdoa. dimana anak dibebaskan untuk bermain. Pembukaan. Strategi pembelajaran pada TPA dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan. krativitas. dan f) Kegiatan yang dapat digunakan untuk membantu anak yang masih membutuhkan pertolongan dalam mencapai kemampuan yang hendak dicapai. dan ditutup dengan kegiatan menyanyi. dituliskan: “Tahapan-tahapan kegiatan dalam mengelola proses pembelajaran adalah: 1. yang biasanya berkaitan dengan kegiatan makan bersama dengan melatihkan kebiasaan makan yang benar dan/ atau dimanfaatkan untuk kegiatan bermain bebas dalam pengawasan guru/ tutor. berupa kegiatan bermain yang dipilih sesuai dengan kemampuan yang hendak dicapai melalui: a) Kegiatan yang mengacu pada tema. dengan kegiatan antara lain memusatkan perhatian anak melalui salam. Kegiatan yang dapat dilakukan pada tahapan ini antara lain membacakan cerita. dan salam. b) Kegiatan bermain yang memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen. dan kemandirian anak. 4.

berulang.d 4 tahun. Bertahap adalah mengikuti tahapan perkembangan usia anak (developmentally apropriate practice) usia 3 bulan s. Terpadu adalah mengintegrasikan seluruh aspek pengembangan anak (pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan kemampuan dasar). bertahap. dan terpadu. Baik program pendidikan yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional maupun yang dibuat sendiri oleh lembaga harus dituangkan dalam sebuah rencana tahunan yang mengintergasikan keduanya. Model Pendidikan dan Pengasuhan TPA a.4. Selain itu lembaga Taman Penitipan Anak dapat melaksanakan program pendidikan yang dibuat sendiri oleh lembaga sesuai dengan kebutuhan setempat. Berulang artinya latihan/ stimulasi diberikan secara berulang-ulang (anak memerlukan pengulangan dalam belajar).d 3 tahun dan untuk 3 tahun s. Model Pendidikan TPA 1) Program Pendidikan Program pendidikan yang dipergunakan adalah Kurikulum Program Pendidikan pada Taman Penitipan Anak yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. 2) Prinsip-prinsip Pendidikan Program pendidikan dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan anak secara tepat. lxvii .

situasi. lxviii . 3) Proses Pendidikan Proses pendidikan dalam satu hari minimal 2 (dua) jam @ 45 menit atau disesuaikan dengan kebutuhan. dan perumusan pencapaian kompetensi. minat. dan kondisi anak. Proses pendidikan dalam satu minggu minimal 3 (tiga) kali pertemuan atau dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. dan kondisi anak. Program pendidikan menekankan proses interaksi dengan orang dewasa. teman sebaya. mengarahkan proses pendidikan. bakat. dan tingkat perkembangan yang berbeda-beda pada setiap anak secara individual. mengenal. dan benda-benda sekitarnya. 4) Pengelolaan Proses Pendidikan Kegiatan yang dilakukan dalam mengelola proses bermain sambil belajar adalah perumusan tujuan program pendidikan. situasi. penggunaan metode yang tepat. dan mencoba benda-benda). Program pendidikan dikembangkan untuk memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi aktif melalui kegiatan permainan (menyentuh. Program pendidikan memberikan pengalaman nyata bagi anak sehingga anak termotivasi dan memperoleh pengalaman belajar bermakna.Program pendidikan disesuaikan dengan usia. kemampuan.

Sarana yang digunakan dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitarnya. Dasar penilaian mengacu pada hasil karya dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu. nyanyian. Model pelayanan langsung menurut Pedoman Kesejahteraan Sosial Anak Usia Dini (1998:12) adalah pelayanan yang diberikan langsung kepada anak usia dini atau keluarga untuk lxix . dan bermain peran. 6) Penyiapan Sarana Pendidikan Sarana pendidikan disiapkan sesuai dengan tema. Model Pengasuhan TPA Model pengasuhan TPA ada dua yaitu pelayanan langsung dan tidak langsung. bercerita atau mendongeng. 7) Penilaian Pendidikan Penilaian pendidikan dilaksanakan setiap empat bulan sekali (caturwulan) dan prosesnya didasarkan pada pencapaian perkembangan anak. piknik/ wisata. b. Penilaian berupa “laporan perkembangan anak” dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua dalam waktu tertentu. Pemilihan metode bermain dimaksudkan untuk menarik minat anak menuju ke arah belajar.5) Metode Pendidikan Metode pokoknya adalah bermain yang merupakan metode Pendidikan Anak Usia Dini. penugasan. Selain itu ada metode pelengkap antara lain: metode latihan.

2) Pelayanan Tambahan (Suplement) Pelayanan tambahan diberikan kepada anak usia dini sebagai pelayanan tambahan atas pelayanan yang telah diberikan orang tua atau keluarganya. Pelayanan ini dilakukan dalam program-program pelayanan seperti Bina Keluarga Balita (BKB) dan konsultasi keluarga. maupun bantuan sosial. 3) Pelayanan Penguat Fungsi Keluarga (Supertive) Pelayanan ini diberikan kepada orang tua atau keluarga melalui lembaga bantuan informasi. Pelayanan tambahan diberikan kepada anak dalam upaya menunjang perkembangan anak. ekonomi. Model pelayanan langsung ini dapat diselenggarakan sebagai: 1) Pelayanan Pengganti Keluarga (Subtitute) Pelayanan pengganti keluarga diberikan kepada anak usia dini yang dikarenakan orang tua atau keluarganya tidak lagi mampu memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan anaknya.memenuhi kebutuhan dasar anak dan terwujudnya hak-hak asasi anak (dalam Catur Sri Sapanta. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan orang tua atau keluarga dalam memberikan pelayanan kepada anak usia dini. baik secara sementara ataupun peranan selamanya. 4) Pelayanan Perlindungan (Protective) Pelayanan perlindungan diberikan kepada anak usia dini yang dirawat oleh keluarganya sendiri atau keluarga pengganti dan lxx . 2003:25).

lxxi . Sedangkan model pelayanan tidak langsung adalah segala upaya yang diarahkan kepada penciptaan dan perbaikan sistem pelayanan anak usia dini. Model Pelayanan Langsung Pelayanan pengganti keluarga. dapat disimpulkan bahwa pelayanan langsung itu dapat dirasakan oleh anak dan pelayanan langsung tersebut sebagai pelayanan pengganti keluarga. memperkuat fungsi keluarga.pengasuh agar anak terjamin. c. dan sistem informasi pelayanan. penataan manajemen. teman sebaya. kemampuan. Disesuaikan dengan usia. dan terpadu. bertahap. dan tingkat perkembangan anak. terlindungi dari tindakan serta situasi yang memberikan kebahagiaan anak. Dari pengertian tersebut di atas. berulang. minat. b. dan perlindungan. Prinsip-prinsip Pendidikan a. tambahan. penguat fungsi keluarga. Sesuai dengan Kurikulum Program Pendidikan pada TPA yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. dan perlindungan. d. Sedangkan pelayanan tidak langsung yaitu hal-hal yang mendukung pelayanan langsung seperti analisis kebijakan. Program Pendidikan a. Penekanannya pada proses interaksi dengan orang dewasa. c. Dikembangkan untuk memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi aktif melalui kegiatan Model Pengasuhan Anak 1. Lembaga TPA dapat melaksanakan program pendidikan yang dibuat sendiri sesuai dengan kebutuhan setempat. Model Pelayanan tidak Langsung Segala upaya yang diarahkan kepada penciptaandan perbaikan sistem pelayanan bagi anak usia dini. 2. tambahan. Harus dituangkan dalam sebuah rencana tahunan yang mengintergasikan keduanya. bakat. penataan administrasi. c. Dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan anak secara tepat. b. Matrik Model Pendidikan dan Pengasuhan TPA Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Model Pendidikan TPA 1. dan benda-benda sekitarnya. 2.

Menggunakan metode yang tepat. Tabel 2. dan kondisi anak. Memberikan pengalaman nyata bagi anak. lxxii . c. Penyiapan Sarana Pendidikan a. Metode Pendidikan a. c. b. piknik/ wisata. b. c. Setiap empat bulan sekali (caturwulan). dan bermain peran. Sistem Pengelolaan TPA Pengelolaan lembaga TPA pada prinsipnya terdapat dua pengertian yang berbeda yaitu: a. Proses Pendidikan a. Berdasarkan pada pencapaian perkembangan anak. 7. Laporan perkembangan anak dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua dalam waktu tertentu. e. Merumuskan pencapaian kompetensi. 6. nyanyian. b. d. situasi.permainan (menyentuh. Dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitarnya. dan b. penugasan. Mengacu pada hasil karya dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu. Disesuaikan dengan kebutuhan. Disesuaikan dengan tema. 5. Minimal 2 jam @ 45 menit per hari.6: Model Pendidikan dan Pengasuhan pada Taman Penitipan Anak 5. Mengarahkan proses pendidikan. dan mencoba benda-benda). Metode Pokok: Bermain b. Merumuskan tujuan program pendidikan. Minimal 3 kali pertemuan per minggu. Metode Pelengkap: metode latihan. Pengelolaan Proses Pendidikan a. Sistem terbuka yaitu dimana lembaga mengakui adanya interaksi diantara bagian-bagian dalam sistem tersebut dengan lingkungan mereka. 4. d. Sistem tertutup merupakan bagian yang tidak dipengaruhi dan tidak berinteraksi dengan lingkungan mereka. b. bercerita atau mendongeng. Penilaian Pendidiakan a. 3. mengenal.

perawatan. dan pengasuhan. 3) Modal berkenaan dengan biaya-biaya yang diperlukan. dan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk penyelengaraan TPA. dan peralatan pendidikan. 2) Sumber daya manusia administrasi berkenaan dan dengan upaya sebagai penyelengara ketatausahaan. alat tulis kantor. teknik dan metode High Scope. transformasi dan output yang menjadi target dari lembaga. Analisis penyelenggaraan TPA sebagai sistem organisasi terbuka dapat dijelaskan sebagai berikut: a. 4) Teknologi berkenaan teknik-teknik yang diperiukan untuk pembelajaran pada TPA seperti teknik dan metode pembelajaran Montesori. perlengkapan. sehingga sangat memungkinkan lembaga dapat berkembang dan diterima masyarakat disamping memudahkan dalam memberikan pembinaan. teknik dan metode Hanaika. dengan sistem ini diharapkan adanya kejelasan antara input. honorarium.Relevansi pengelolaan dalam penyelenggaraan lembaga TPA ialah mengikuti sistem terbuka. Masukan yang diperlukan: 1) Bahan berkenaan dengan alat dan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan TPA antara lain: alat tulis kantor. 5) Informasi lain: ijin berkenaan dengan TPA. perlengkapan. pendidikan. penyelenggaraan koordinasi antara penyelenggaraan pembinaan lxxiii . teknik dan metode Al-Falah yang memadukan teknik dan metode belajar dan bernafaskan Islam.

bagaimana lembaga tersebut dikenal oleh masyarakat luas. 2) Kegiatan manajemen berkaitan dengan perencanaan penyelenggaraan TPA. gizi serta pendidikan. hasil yang dicapai. penentuan sumber pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan lembaga. menentukan figur kepemimpinan serta melakukan pengawasan terhadap sumber daya lembaga penyelenggaraan proses belajar.kelembagaan. dan penyelenggaraan pendidikan secara holistik antara kesehatan. Keluaran berkaitan dengan produk yang dihasilkan oleh lembaga TPA baik dalam bentuk catatan hasil belajar maupun karya dari proses pembelajaran tersebut. b. menyusun organisasi yang sesuai dengan kebutuhan lembaga. bagaimana menyelenggarakan TPA yang relevan dengan sasaran dan kebutuhan lingkungan setempat. c. hasil yang bersifat manusiawi sebagaimana diaplikasikan lingkungannya. 3) Teknologi dan metode dalam penyelenggaraan TPA berkenaan dengan teknik dan metode pembelajaran yang akan diterapkan. sarana dan alat pendidikan yang digunakan. dalam bentuk perilaku dan interaksi dengan lxxiv . Trasformasi sebagai bentuk mengaktualisasikan kegiatan-kegiatan penyelenggaraan TPA melalui: 1) Kegiatan keorganisasian berkaitan dengan sistem administrasi dan ketatausahaan maupun penyelenggaraan program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan potensi peserta didik.

Anak Usia Dini (0-8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. merangkak. 2004:31).id) Anak Usia Dini 1. Rahman (2002:32-36). duduk. 2002:4).go. Taman Kanak-kanak atau Taman Pengasuhan Anak (Kak Seto. secara rinci karakteristik perkembangan anak usia dini sebagai berikut: a. 2) Mempelajari keterampilan menggunakan panca indera. 2002:32). Usia dini dapat dikatakan sebagai usia emas (golden age) yaitu usia yang sangat berharga dibanding usia-usia selanjutnya (Hibana S. dan berjalan. Bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. berdiri. beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan antara lain: 1) Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling. b. 3) Mempelajari komunikasi sosial. 2. Pengertian Anak Usia Dini Anak adalah seorang individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri (Elizabeth G. Usia prasekolah dimaksudkan sebagai usia dimana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Dasar (SD). Rahman.(online: www. Biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam berbagai bentuk lembaga pendidikan prasekolah seperti Kelompok Bermain. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini Menurut Hibana S. Usia 0-1 tahun. Usia 2-3 tahun.plsp. Hainstock. beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia ini antara lain: 1) Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada lxxv .

disekitarnya; 2) Anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa; 3) Anak mulai belajar mengembangkan emosi. c. Usia 4-6 tahun, memiliki karakteristik antara lain: 1) Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan; 2) Perkembangan bahasa semakin baik; 3) Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar; 4) Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial. d. Usia 7-8 tahun, karakteristik anak usia ini antara lain: 1) Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat; 2) Perkembangan sosial, anak mulai melepaskan diri dari otoritas orang tuanya; 3) Anak mulai menyukai permainan sosial yang melibatkan banyak orang dengan saling berinteraksi; 4) Perkembangan emosi

sudah mulai terbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak.

3. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini Tugas perkembangan adalah kegiatan atau tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh anak. Bayi memiliki tugas perkembangan yang lebih sederhana daripada orang dewasa. Tugas perkembangan tersebut semakin berkembang sejalan dengan bertambahnya usia. Menurut Slamet Suyanto (2003:81-85), tugas-tugas perkembangan anak sebagai berikut: a. Usia 0-6 bulan lxxvi

Menunjukkan gerak refleks survival. Mengenali pengasuhnya. Menunjukkan komunikasi wajah, tersenyum, tertawa, bersuara. Tangan mencoba meraih benda di depannya. Memegang mainan dan menggoyangkannya. Memegang benda dengan dua tangan dan memasukannya ke mulut. b. Usia 7 bulan - 1 tahun 1) Mampu memegang dan meggerakkan objek. 2) Koordinasi mata dan tangan sudah baik. 3) Mampu membedakan orang tuanya/ keluarga dekat dengan orang asing. 4) Mampu duduk di lantai dengan baik. 5) Mulai merangkak untuk mengambil objek. 6) Mulai menunjukkan kemampuan mencari objek yang

disembunyikan. 7) Mengambil dan melempar objek dan menyukai suara objek ketika jatuh. 8) Menunjuk dan meminta sesuatu dengan bahasa tangan dan bunyi. 9) Mulai bisa berjalan dengan dibantu. 10) Mulai berdiri dan berjalan sendiri. c. Usia 1-2 tahun 1) Mulai lancer berjalan dan tidak mau berhenti berjalan. 2) Belajar mengenal benda-benda secara intensif.

lxxvii

3) Mulai mengembangkan memori jangka pendek dan jangka panjang. 4) Memegang pensil dengan semua jari dan mulai mencorat-coret. 5) Mulai tertarik dengan gambar pada buku. 6) Membalik-balik halaman buku (banyak halaman dalam sekali membalik). 7) Mengambil dan melempar benda-benda seperti bola. 8) Mulai menunjukkan kemampuan komunikasi. 9) Mulai mengenal nama panggilannya. 10) Bisa menunjukkan “papa” dan “mama”nya. 11) Mulai berinteraksi dengan anak lain yang lebih dewasa. 12) Bisa menarik dan membawa mainannya. 13) Dapat menaiki trap dan menunjukkan keseimbangan badan. 14) Menyukai benda-benda yang berbunyi. 15) Mulai senang berlari dan menendang bola.

d. Usia 2-5 tahun 1) Mulai menirukan apa yang dilakukan orang dewasa. 2) Motorik halus mulai berkembang pesat. 3) Mulai belajar memakai benda-benda seperti topi, sepatu besar, atau kaca mata menirukan orang dewasa. 4) Mulai bermain peran sendiri, misalnya meniru telepon. 5) Mulai belajar makan dan minum sendiri. 6) Menata benda-benda ditumpuk ke atas.

lxxviii

maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. 14) Menggambar pada kanvas.7) Mulai belajar melempar bola. 8) Mulai bicara satu kata. 13) Menunjukkan perkembangan bahasa yang cepat. 15) Berkomunikasi dengan anak lain sebagai wujud perkembangan sosial. BAB III METODE PENELITIAN A. 12) Bermain paralel. 10) Menunjukkan koordinasi yang baik antar organ. seperti memandikan boneka sebagai memandikan adik. 9) Menunjukkan koordinasi bilateral yang baik. 2004:70) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif dilakukan lxxix . Pendekatan Penelitian Agar peneliti dapat mendeskripsikan secara jelas dan rinci serta mendapatkan data yang mendalam dari fokus penelitian. Menurut Nawawi dan Martina (dalam Sutrisno. 11) Menunjukkan kemampuan bermain peran.

Inti studi kasus yaitu kecenderungan utama diantara semua ragam studi lxxx . 1981b) dalam Robert K. Studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial. maka penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan studi kasus. menerangkan. terarah. bukan angka-angka. atau menginterpretasikan suatu kasus (case) dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Menurut Agus Salim (2001:93). terutama ciri-ciri yang dapat membedakannya dari strategi yang lain. yaitu: “Studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas dan dimana multi sumber bukti dimanfaatkan”. Pandanaran II/ 2D Semarang. Untuk menunjukkan ciri yang sesungguhnya dari strategi studi kasus. B. Rancangan Penelitian Untuk mengetahui secara rinci tentang “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby”. Yin (2003:18) memberikan definisi 67 yang lebih teknis. maka Yin (1984a. dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak kehilangan sifat ilmiahnya. studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari. mempergunakan cara kerja yang sistematis. Kasus dalam penelitian ini dilaksanakan di Taman Balita Klub Merby dengan alamat Jl. gambar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena bersifat deskriptif dan data yang dikumpulkan berupa kata-kata.dengan menghimpun data dalam keadaan sewajarnya.

Beranjak dari fokus penelitian ini. sifat-sifat serta karakter yang khas dari kasus. dilihat dari tujuannya. Menurut Moch. Pandanaran. 2004:71). Penelitian ini dilakukan pada taman penitipan anak yang bernama Taman Balita Klub Merby dengan alamat Jl. Pandanaran II/ 2D. ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas tersebut akan dijadikan hal yang bersifat umum (dalam Sutrisno. penelitian studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang.kasus adalah bahwa studi kasus ini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan. Hal tersebut lxxxi . TPA Mardi Waluyo di Jl. maka “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby” adalah sistem atau cara kerja dari suatu peristiwa atau kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan pengasuh Taman Balita Klub Merby sebagai TPA dalam kaitannya memberikan pendidikan dan pengasuhan. dan Taman Balita Klub Merby di Jl. Alasannya Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun (balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. C. antara lain: TPA Melati (milik UNDIP) di lingkungan kampus UNDIP Pleburan. Nazir (1988). Setting Penelitian Di Semarang ada beberapa TPA. Pandanaran II/ 2D Semarang karena ada beberapa alasan dan kriteria yang perlu diperhatikan.

Kriteria-kriterianya. Arena bermain yang luas. Pandanaran II/ 2D Semarang. Pengasuh Taman Balita Klub Merby. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah: 1. Kelebihankelebihan yang lain: 1. yang berjumlah dua orang. 2. pengasuh. menggunakan berbagai media dan sumber belajar. belajar melalui bermain. dan stimulasi terpadu. pembelajaran yang berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak. bersih. 5. 4.merupakan salah satu kelebihan dari Taman Balita Klub Merby. mengembangkan keterampilan hidup. D. Disediakan Mother’s Room bagi para orang tua yang ingin berkonsultasi kepada pendidik. kreatif dan inovatif. nyaman. lingkungan yang kondusif. dokter. 2. 3. menggunakan pembelajaran terpadu. dan tenang. 3. Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby. yang berjumlah satu orang. Pendidik Taman Balita Klub Merby. Para balita di bawah pengawasan dokter dan psikolog. antara lain: berorientasi pada kebutuhan anak. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif. lxxxii . dan psikolog mengenai perkembangan balita mereka. Taman Balita Klub Merby terletak di pusat kota yaitu Jl. yang berjumlah dua orang.

E. fokus penelitian berisi pokok kajian yang menjadi pusat perhatian. Fokus Penelitian Menurut Lexy S. 2. Orang Tua Anak Balita. dan evaluasi. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode.4. bahan pembelajaran. Moleong (2002:62-63). Faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. metode. kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain fokus dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara. artinya penyempurnaan rumusan fokus atau masalah itu masih tetap dilakukan sewaktu peneliti sudah berada di latar penelitian. alat/ media belajar. peneliti mengambil sampel dua orang tua anak balita. masalah dalam penelitian kualitatif dinamakan fokus. sumber belajar. Metode Observasi atau Pengamatan lxxxiii . antara lain: 1. Pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. Perumusan fokus atau masalah dalam penelitian kualitatif bersifat tentatif. F. Dalam penelitian ini. tentatif dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan. adalah: 1.

Untuk memudahkan pemahaman tentang bermacam-macam observasi. Dalam penelitian ini. active participation.1: Macam-macam teknik observasi (dalam Sugiyono. 1998:146). and complete participation (dalam Sugiyono.Di dalam pengertian psikologik. dimana peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari Taman lxxxiv . Sanapiah mengklasifikasikan Faisal (1990) dalam Sugiyono observasi (2005:64). meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera (Suharsimi Arikunto. 2005:64). peneliti akan menggunakan observasi partisipatif. observasi atau yang disebut pula pengamatan. maka dapat digambarkan seperti gambar berikut: Observasi partisipati Macammacam Observa Observasi yang pasif Observasi yang moderat Observasi terus Observasi yang pasif terang & Observasi tak Observasi yang lengkap Gambar 3. 2005:65). dan observasi yang tak berstruktur (unstructured observation). Selanjutnya Spradley dalam Susan Stainback (1988) membagi observasi berpartisipasi menjadi empat yaitu: pasive participation. moderate participation. observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt obsevation and covert observation). berpartisipasi observasi menjadi (participant observation).

melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang akan diteliti. Tiga elemen tersebut dapat diperluas sehingga apa yang dapat kita amati adalah: a. dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. maka data yang diperoleh akan lebih lengkap. Observasi partisipan dimaksudkan untuk memperoleh data yang lengkap dan rinci melalui pengamatan yang seksama dengan melibatkan diri dan berpartisipasi dalam fokus yang sedang diteliti. Dengan observasi partisipan ini. actor (pelaku). yang terdiri atas tiga komponen yaitu place (tempat). Actor: semua orang yang terlibat dalam situasi sosial. Menurut Spradley dalam Sugiyono (2005:68-69). observasi partisipan adalah suatu bentuk observasi khusus dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat pasif. b. d.Balita Klub Merby. Activity: seperangkat kegiatan yang dilakukan orang. Space: ruang dalam aspek fisiknya. obyek penelitian dalam penelitian kualitatif yang diobservasi dinamakan situasi sosial. Menurut Robert K. peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan pendidik dan pengasuh serta ikut merasakan suka dukanya. peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang. Dalam observasi ini. c. tajam. lxxxv . Yin (2003:113-114). Selain melakukan pengamatan. Object: benda-benda yang terdapat di tempat itu. dan activities (aktivitas). dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka. mendengarkan apa yang mereka ucapkan.

Menurut Spradley dalam Sugiyono (2005:69). g. g. dan c. tujuan dan alasan orang tua menitipkan anak balitanya di Taman Balita Klub Merby. Goal: tujuan yang ingin dicapai orang-orang. Actor: Koordinator Pelaksana. lxxxvi 1 2 3 . Feeling: emosi yang dirasakan dan diekspresikan oleh orang-orang. i. Object: Pengadaan bahan belajar. Activity: Pelaksanaan KBM. obyek penelitian yang akan diobservasi sebagai berikut: a. dan sumber belajar. Pendidik. e. Feeling: Kondisi perasaan Koordinator Pelaksana. Pengasuh. dan Orang tua Anak Balita. Observasi Terfokus. i. h. penggunaan metode. Time: Urutan kegiatan TPA/ jadwal TPA. Act: Pelaksanaan strategi pembelajaran. Observasi Deskriptif. Event: rangkaian aktivitas yang dikerjakan orang-orang. Time: urutan kegiatan. f. model pendidikan dan pengasuhan TPA. dan sistem evaluasi. h. Goal: Visi dan misi TBKM. b. Pengasuh. Orang tua anak balita serta anak balita. alat/ media belajar. Pendidik. Space: Lingkungan fisik Taman Balita Klub Merby.e. Act: perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu. b. d. Dalam penelitian ini. c. tahapan observasi ada tiga yaitu: a. f. Event: Aktivitas para orang tua anak balita.

2: Tahap Observasi menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:70) Dalam penelitian ini. didengar. Semua data direkam. Observasi Deskriptif Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Tahap Reduksi Menentukan Fokus: Memilih diantara yang telah dideskripsikan Tahap Seleksi Mengurai Fokus: Menjadi komponen yang lebih rinci Gambar 3. aktivitas. Tahapan observasi dapat digambarkan sebagai berikut: Tahap Deskripsi Memasuki situasi sosial: ada tempat. maka peneliti melakukan penjelajahan umum dan menyeluruh. oleh karena itu hasil dari observasi ini disimpulkan dalam keadaan yang belum tertata dan peneliti menghasilkan kesimpulan pertama. aktor. Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti. peneliti melakukan observasi pertisipan dengan tahapan sebagai berikut: a. Bila lxxxvii . melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat.Observasi Terseleksi. dan dirasakan.

maka tahap ini penelititelah menemukan karakteristik. Pada tahap ini peneliti menemukan pemahaman yang mendalam. metode. Metode Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. b. c. sumber belajar. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. yaitu pewawancara (interviewer) lxxxviii . Observasi ini dinamakan observasi terfokus karena pada tahap ini peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus. yaitu pola pembelajaran TPA di Taman Balita Klub Merby serta faktor pendukung dan penghambat dari pola pembelajaran tersebut. peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya lebih rinci. Observasi Terseleksi Pada tahap observasi ini. Dengan melakukan analisis komponensial terhadap fokus. 2. dan evaluasi. Observasi Terfokus Pada tahap ini peneliti melakukan suatu observasi yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu yaitu aspek-aspek: tujuan. sehingga mampu mendeskripsikan terhadap semua yang ditemui. kegiatan belajar mengajar. kontras-kontras/ perbedaan dan kesamaan antar kategori dengan kategori lain. bahan pembelajaran.dilihat dari segi analisis maka peneliti melakukan analisis domain. alat/ media belajar.

Wawancara Tersruktur Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Adapun jenis wawancara yang akan digunakan oleh peneliti adalah pembagian wawancara yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln (1981:160-170) dalam Dr. b. Dalam penelitian ini. Semua subjek mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. 2002:135). pengasuh. Lexy J. dan orang tua anak balita. peneliti sebagai pewawancara (interviewer) akan melakukan wawancara secara langsung dengan pihak yang diwawancarai (interviewee) yaitu koordinator pelaksana. Sebelum mengadakan wawancara dengan subjek penelitian. peneliti telah membuat dan menetapkan masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Lexy J. Moleong. Dalam wawancara terbuka ini. Wawancara Terbuka Dalam wawancara terbuka para subjek tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu. karena sebelum wawancara berlangsung peneliti meminta ijin kepada Pimpinan Taman Balita Klub Merby untuk mengadakan wawancara. Moleong. para subjek penelitian mengetahui bahwa dirinya sedang diwawancarai. pendidik. M. lxxxix . A (2002:137-138) yaitu: a.

umur. yaitu: a. Adapun pihak-pihak yang akan diwawancarai. xc . Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby 1) Identitas koordinator pelaksana meliputi: nama. kegiatan belajar mengajar. kurikulum. 2) Pendapat koordinator pelaksana tentang visi. sumber belajar. jumlah personil yang meliputi pendidik dan pengasuh. Selain itu peneliti menggunakan metode wawancara untuk memperoleh data tentang faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pola pembelajaran TPA. pendidikan terakhir. tempat/ tanggal lahir. misi. Metode wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai aspek-aspek yang akan diteliti yaitu: tujuan. dan gaji pegawai. bahan pembelajaran. metode. biaya pendidikan. dan evaluasi. jenis-jenis program yang ada. Setiap hari Senin sampai Jumat peneliti datang ke Taman Balita Klub Merby untuk melakukan penelitian dengan menggunakan metode wawancara terbuka dan terstruktur. jadwal TPA. alat/ media belajar.Pelaksanaan metode wawancara ini dilakukan selama penelitian berlangsung yaitu pada bulan Oktober 2005. dan alamat. aspek evaluasi. jumlah anak balita.

metode. dan cara mengatasi kendala tersebut. alat/ media belajar. 2) Pendapat pengasuh tentang jumlah pengasuh. alat/ media belajar. tempat/ tanggal lahir. c. tempat/ tanggal lahir. 3) Pendapat pendidik tentang tujuan. umur. bahan pembelajaran. sistem pengasuhan.3) Pendapat koordinator pelaksana tentang tujuan. metode. 2) Pendapat pendidik tentang jumlah pendidik. 4) Pendapat pendidik tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA. pendidikan terakhir. hasil pembelajaran. kegiatan belajar mengajar. penerapan kurikulum. kegiatan belajar mengajar. Pendidik Taman Balita Klub Merby 1) Identitas pendidik meliputi: nama. jumlah anak balita. bahan pembelajaran. Pengasuh Taman Balita Klub Merby 1) Identitas pengasuh meliputi: nama. 4) Pendapat koordinator pelaksana tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA. jumlah honor. dan cara mengatasi kendala tersebut. xci . dan evaluasi. sumber belajar. jumlah honor. sumber belajar. dan evaluasi. pendidikan terakhir. umur. jumlah anak balita. dan alamat. b. kendala yang dihadapi dalam proses pengasuhan. kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. dan alamat.

d. 3) Pendapat orang tua anak balita tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA.3) Pendapat pengasuh tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA. dan sebagainya yang berhubungan dengan fokus penelitian. gambar/ foto. dan mendorong. tujuan orang tua menitipkan anaknya di TPA. 3. b) berguna sebagai bukti untuk suatu kejadian. Metode dokumentasi sebagai suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan atau pengutipan data dari dokumen yang ada di setting penelitian. Menurut Guba dan Lincoln (1981:232-235) dalam Lexy J. majalah. ada beberapa alasan dari penggunaan dokumentasi. Orang Tua Anak Balita 1) Identitas orang tua anak balita meliputi: nama. buku. kaya. surat kabar. Metode ini dimaksudkan untuk melengkapi data dari observasi dan wawancara. c) xcii . tempat/ tanggal lahir. Moleong (2002:161). dan alamat. antara lain: a) dokumen dan record merupakan dokumen yang stabil. 2) Pendapat orang tua anak balita alasan orang tua menitipkan anaknya di TPA. umur. dan sistem pembayaran di TPA. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah metode yang mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan. pekerjaan. pendidikan terakhir.

hasil-hasil wawancara.memiliki sifat yang alamiah. yaitu data utama dan data pendukung. alat/ media yang digunakan. dan orang tua anak balita. rekaman. catatan. wawancara mendalam (in dept interview) secara terbuka dan terstruktur. pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi partisipan (participant observation). Sedangkan data pendukung bersumber dari dokumendokumen seperti arsip administrasi. kegiatan belajar mengajar. d) murah dan mudah diperoleh. dan e) tidak sukar untuk ditemukan. data anak balita di Taman Balita Klub Merby. metode. surat izin penelitian di Taman Balita Klub Merby. hasil-hasil observasi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dikelompokan menjadi dua. dan bahan-bahan referensi lain yang dapat mendukung dalam penelitian ini. letak geografis. gambar/ foto kegiatan. tujuan. bahan pembelajaran. data pengasuh. dan foto pelaksanaan kegiatan pembelajaran di Taman Balita Klub Merby Data-data tersebut dapat diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. dan dokumentasi. pendidik. yaitu orang-orang yang terlibat secara langsung dalam TPA seperti koordinator pelaksana. Dalam penelitian kualitatif ini. data pendidik. Data utama diperoleh dari para informan. pengasuh. xciii . Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data tertulis yang meliputi: sejarah Taman Balita Klub Merby. organisasi dan tata kerja.

Skema proses kegiatan observasi dan wawancara tersebut di atas dapat digambarkan sebagai berikut: DESKRIPTIF TERFOKUS SELEKTIF KONTRAS STRUKTURAL DESKRIPTIF Gambar 3. 2004:62).3: Proses Metode Pengumpulan Data menurut Spradley Penjelasan skema di atas sebagai berikut: Pengamatan deskriptif dilakukan untuk melihat secara umum tentang kondisi Taman Balita Klub Merby.Observasi dan wawancara dipedomani dan dikembangkan sebagaimana yang diajukan oleh Spradley dalam Sanapiah Faisal (1990:91108) yang diawali dengan observasi terfokus dan wawancara struktural serta diakhiri dengan observasi selektif dan wawancara kontras (dalam Wiwik Puji Rahayu. Proses selanjutnya dilakukan pengamatan secara xciv . Setelah itu dilakukan pengamatan yang terfokus pada obyek yang akan diteliti mengenai pola pembelajaran TPA di Taman Balita Klub Merby serta faktor pendukung dan penghambat dari pembelajaran tersebut.

sumber belajar. G. penggunaan metode. Selanjutnya dilakukan wawancara terstruktur secara mendalam kepada Kooedinator Pelaksana. bahan pembelajaran. Untuk mendukung atau melengkapi dari berbagai data yang diperoleh. pengadaan sumber belajar. Keabsahan Data Untuk menetapkan keabsahan (trutworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. wilayah kerja. Serta faktor pendukung dan faktor penghambat dari pembelajaran tersebut. ketenagaan. Bersamaan dengan proses pengamatan tersebut juga dilakukan wawancara deskriptif kepada Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby untuk memperoleh gambaran secara umum tentang sejarah singkat. metode. kegiatan belajar mengajar. penggunaan bahan pembelajaran. dan pelaksanaan evaluasi. Kegiatan ini terus berulang kali hingga semua data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat terpenuhi. penggunaan alat/ media belajar. dan evaluasi. Pengasuh. kegiatan belajar mengajar. alat/ media belajar. Melulai metode dokumentasi ini dapat diperoleh berbagai kejadian-kejadian penting yang dapat memperjelas dari setiap kegiatan. Pendidik. kemudian peneliti menggunakan metode dokumentasi. struktur organisasi dan program Taman Balita Klub Merby. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah xcv .selektif untuk melihat bagaimana perumusan tujuan. dan Orang tua Anak Balita untuk mengungkap fokus dari penelitian ini yaitu pola pembelajaran TPA di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan.

kriteria tertentu. Menurut Lexy J. Moleong (2002:173), ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan (credibility), dan keteralihan kepastian

(transferability), (confirmability).

ketergantungan

(dependability),

Kriteria keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan temuan hasil penelitian dengan kenyataan yang ada di lapangan. Adapun teknik-teknik pemeriksaan yang digunakan untuk membuktikan derajat kepercayaan meliputi: 1) Perpanjangan Keikutsertaan; 2) Ketekunan Pengamatan; 3) Triangulasi; 4) Pengecekan Sejawat; 5) Kecukupan Referensial; 6) Kajian Kasus Negatif; 7) Pengecekan Anggota. Untuk membuktikan keabsahan data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Menurut Lexy J. Moleong (2002:178), triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzim (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepergayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Patton, 1987:331). Hal itu dapat digapai dengan jalan: 1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; 2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi; 3) membandingkan apa

xcvi

yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; 4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan; 5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178). Pada triangulasi metode, menurut Patton (1987:329), terdapat dua strategi, yaitu: 1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data; dan 2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178). Teknik triangulasi jenis ketiga (penyidik) ialah dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi kemencengan dalam pengumpulan data. Pada dasarnya

penggunaan suatu tim penelitian dapat direalisasikan dilihat dari segi teknik ini. Cara lain ialah membandingkan hasil pekerjaan seorang analisis dengan analisis lainnya (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178). Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba (1981:307), berdasarkan anggapan bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178).

xcvii

Teknik triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, dengan pertimbangan bahwa untuk memperoleh informasi dari para informan perlu diadakan cros cek antara satu informan dengan informan lain sehingga akan diperoleh informasi yang benar-benar valid. Informasi yang diperoleh diusahakan dari nara sumber yang betul-betul mengetahui akan permasalahan dalam penelitian ini. Informasi yang diberikan oleh salah satu informan dalam menjawab pertanyaan peneliti, peneliti mengecek ulang dengan jalan menanyakan ulang pertanyaan yang disampaikan oleh informan pertama ke informan kedua. Apabila kedua jawaban yang diberikan itu sama, maka jawaban itu dianggap sah. Apabila kedua jawaban saling berlawanan atau berbeda, maka langkah alternatif sebagai solusi yang tepat adalah dengan mencari jawaban atas pertanyaan itu kepada informan ketiga yang berfungsi sebagai pembanding antara keduanya. Hal ini dilakukan untuk membahas setiap fokus penelitian yang ada sehingga keabsahan data tetap terjaga dan dapat dipertanggungjawabkan.

H. Analisis Data
Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (dalam Sugiyono, 2005:88). Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan

xcviii

memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. menjabarkan ke dalam unitunit. Tahapan analisis data dapat digambarkan sebagai berikut: Analisis Domain (Domain Analysis) Memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari obyek penelitian/ situasi sosial. hubungan antar bagian. komponensial. dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh peneliti maupun orang lain. menyusun ke dalam pola. untuk mengetahui struktur internalnya. Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:89) menyatakan bahwa analisis dalam penelitian apapun. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara. memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. Analisis adalah untuk mencari pola. Ditemukan berbagai domain/ kategori. catatan lapangan. adalah cara berpikir. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian. Menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:101). Peneliti menetapkan Analisis Taksonomi (Taxonomic Analysis) Domain yang dipilih tersebut selanjutnya dijabarkan menjadi lebih rinci. dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. dan tema kultural. dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori. taksonomi. menyusun ke dalam pola. . Dilakukan xcix dengan observasi terfokus. terdapat tahapan analisis data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif yaitu analisis domain. melakukan sintesa. dan hubungannya dengan keseluruhan.sintesa.

maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis domain. tahapan analisis data dengan mengacu pada pendapat Spradley (1980) sebagai berikut: 1. Hasilnya berupa gambaran umum tentang obyek yang diteliti yang sebelumnya belum diketahui. Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau obyek penelitian. melakukan observasi deskriptif. Analisis Domain Setelah peneliti memasuki obyek penelitian yang berupa situasi sosial yang terdiri atas place. Dalam analisis ini informasi yang diperoleh c .4: Analisis Data Kualitatif menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:102) Dalam penelitian ini.Analisis data kualitatif Analisis Komponensial (Componential Analysis) Mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen. bagaimana hubungan dengan keseluruhan. mencatat hasil observasi dan wawancara. Dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi dengan pertanyaan yang mengkontraskan (contras question). Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Theme) Mencari hubungan diantara domain. dan activity (PAA). actor. selanjutnya melaksanakan observasi partisipan. dan selanjutnya Gambar 3.

Analisis Komponensial Pada analisis komponensial. 3. masih di permukaan. tetapi yang memiliki perbedaan atau yang kontras. perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data di lapangan. sehingga ditemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial tertentu. Ini diperoleh melalui observasi dan wawancara serta dokumentasi yang terfokus. wawancara mendalam.belum mendalam. Oleh karena itu pada tahap ini diperlukan analisis lagi yang disebut dengan analisis taksonomi. 2. Dalam analisis ini. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi ci . yang diurai adalah domain yang telah ditetapkan menjadi fokus. wawancara. maka selanjutnya domain yang dipilih oleh peneliti selanjutnya ditetapkan sebagai fokus penelitian. namun sudah menemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial yang diteliti. Data ini dicari melalui observasi. Melalui analisis ini. setiap domain dicari elemen yang serupa atau serumpun. dan dokumentasi yang terseleksi. yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain. Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan. dan dokumentasi sehingga data yang terkumpul menjadi banyak. Analisis taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan. Analisis Taksonomi Setelah peneliti melakukan analisis domain.

Analisis Tema Budaya Analisis tema sebenarnya merupakan upaya mencari “benang merah” yang mengintegrasikan lintas domain yang ada. sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan.tersebut. 4. cii .

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian ini pada dasarnya merupakan data yang diperoleh melalui metode observasi. Di usia yang menginjak 15 tahun ini. Klub Merby kini telah tumbuh menjadi “remaja” yang dewasa. Awal Kelahiran: Pelatihan Perdana (1989). gambaran umum Taman Balita Klub Merby. Gagasan pertama mulai dibukanya Klub Merby (yang pada awal kelahiran dikenal dengan nama Pusat Pelatihan Merbabu) adalah dari pemikiran bagaimana dibentuk wadah penampungan bagi anak-anak yang dunianya penuh dengan daya imajinasi yang perlu diekspresikan melalui media coret-mencoret. Sejarah Singkat Berdirinya Klub Merby Perjalanan dari tahun 1989 bukanlah waktu yang singkat. latar belakang berdirinya Taman Balita Klub Merby. karena dalam masa itu sama sekali belum ada “trend” untuk mengadakan pelatihan lukis pemula bagi anak-anak. 1. struktur organisasi Taman Balita Klub Merby. identitas informan. wawancara. Tantangan awal perintisan penyelenggaraan pelatihan ini adalah mencari pelatih. dan dokumentasi. Walaupun semula ciii . Pada bagian ini akan dipaparkan tentang sejarah singkat berdirinya Klub Merby. dan hasil wawancara dengan informan. Bakat “coret-coret” ini tentu harus disalurkan secara tepat dan terarah sehingga coretan menjadi bentuk lukisan yang tentu saja memiliki nilai seni dibaliknya. ketenagaan. Tidak mudah bagi perintis untuk dapat mencari pelatih.

bangunan baru terdiri dari 6 ruangan dengan fasilitas yang memadai serta dilengkapi dengan AC dan sound system. pelatihan ini mampu menjanjikan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada. Berlokasi di bagian belakang toko yang sama. dibangunlah gedung baru tersendiri yang khusus untuk pelatihan. melainkan belum civ . Perkembangan Awal. Mawar. Kampus I dan Pengesahan Pemerintah (1992). Pelatihan perdana dijalankan bertempat di lantai II Toko Buku dan Alat Tulis Merbabu Semarang. Masalah pengesahan muncul bukan karena prosedurnya. Anggrek. membawa pula anak-anak lain untuk bergabung.30 WIB. Kedatangan peserta baru yang semakin “antri” menyebabkan kelas dikembangkan menjadi tiga shift mulai dari pukul 15. Diselenggarakan dengan sasaran belajar dan jadwal yang teratur. Kelas berdurasi 1.juga ragu. Cempaka.5 jam sudah dipadati peserta sebanyak 15 anak sesuai kapasitas maksimal. Ruang Melati. dan Sakura menjadi saksi bisu anak-anak menghasilkan karya seni yang polos dan lucu. akhirnya ditemukan seorang seniman Noehoni Harsono yang bersedia menjadi pelatih pertama. Kerinduan anak-anak untuk selalu berlatih dan berlatih. Dengan murid 5 (lima) anak kecil yang rata-rata duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Setelah dirasakan suasana toko kurang sesuai dengan usaha pengembangan kreativitas anak untuk berseni. Ruang-ruang diberi nama dengan bunga agar anak-anak mudah mengingat dan mendekatkan anak-anak pada alam. Seruni.00 WIB sampai dengan pukul 19.

diresmikan Kampus II yang bertempat di Jl. Permasalahan dapat dijernihkan dengan menyodorkan kurikulum yang teratur yang memang telah dipersiapkan dengan baik. Ring Road Utara 199. Klub Merby juga membuka berbagai macam pelatihan baik itu bidangt seni maupun ilmu umum. dibuka pelatihan musik: Biola dan cv . Pandanaran II/ 2D Semarang. Sekaligus dapat menyelenggarakan evaluasi semester di bawah pengawasan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu) guna mengukur kemampuan dan perkembangan siswa. 493/103/H/92 tertanggal 14 Desember 1992. Perkembangan Mutakhir: Penambahan Kampus dan Bidang Kepelatihan. bahkan mungkin di Indonesia.adanya bentuk pelatihan semacam ini. Guna memenuhi permintaan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Selain merentangkan sayapnya ke bidang Child Day Care. Klub Merby membuka Kampus III yang bertempat di Jl. Tahun 2002. Bagi siswa juga yang berhak memperoleh Sertifikat dan Laporan Hasil Evaluasi. Kampus baru ini terutama digunakan sebagai tempat Child Day Care yang merupakan sarana untuk membantu mengasuh anak-anak bagi para orang tua yang bekerja. Yogyakarta (7 Juli 2003). Dalam hal ini. September 2002. Akhirnya keluarlah surat ijin penyelenggaraan dengan no. Klub Merby menyediakan saran taman penitipan anak: Taman Bermain Balita (6 bulan-3 tahun) dan Daily Homework Supervision (DHS) pendampingan belajar anak sepulang sekolah selama orang tua masih bekerja. Pelatihan semacam ini adalah yang pertama di Semarang.

Kampus Utama: Merby Centre (2004). Acting. Klub Merby dengan lantang mengucapkan “Welcome to Merby Centre”. Intensif. dan masih banyak pelatihan lainnya. Selain membuka pelatihan bagi kalangan dewasa atau umum yang mempunyai hobi di bidang tertentu. Divisi Pelatihan RUMPUN 1. Mandarin. Klub Merby beranggotakan tidak kurang dari 1250 siswa dan telah menghasilkan lebih dari 6000 alumni dengan segudang prestasi yang mengagumkan. Bermodalkan semboyan New Campus-New Spirit-New Management. meliputi Pra Pemula (PG). 7 rumpun. dibuka pula pelatihan untuk para lansia yang berminat di bidang lukis. seperti tabel di bawah ini: DIVISI 1. Klub Merby telah merentangkan sayapnya sampai ke semua jenis kesenian. vocal. Lanjutan (SLTP/SLTA). cvi . Tidak hanya jumlah bidang kepelatihan saja yang bertambah. Setelah itu muncul juga pelatihan Clay. dan Perhatian Khusus. Lansia. Klub Merby memindahkan sebagian besar kegiatannya ke kampus baru yang lebih dikenal dengan nama Merby Centre. dan berpengalaman. Pemula (TK). Klasifikasi kegiatan Klub Merby. dan 3 divisi.Gitar. dan clay. diusianya yang menginjak 15 tahun. Dasar B (SD 3-5). Pra Uni. professional. tetapi juga peserta pelatihan juga berkembang segmennya. Hobby. berkompeten dibidangnya. Saat ini. Dengan dipandu oleh lebih dari 35 pelatih yang bergelar S1/ S2. Dasar A (SD 1-2). Rumpun Seni Lukis. Dengan menyelenggarakan lebih dari 70 jenis kegiatan kelas yang tergabung dalam 11 subrumpun. English.

2004:18-19) 2. Business. Piano. Kemudian anak balita tersebut dipukul-pukul pada bagian belakang pundaknya. 3. 2. anak balita diasuh oleh seorang pembantu.1: Klasifikasi Kegiatan Klub Merby (Buku Semarak Klub Merby. dan Smart Class (Persiapan TK). Rumpun Ilmu Umum. M pernah mempunyai pengalaman yang nyata dalam kehidupannya. Beliau memiliki teman yang bekerja sebagai dokter. 1.2. Sehingga anak balita tersedak ketika sedang makan. meliputi Interior dan Art. Karena kesibukan orang tua. Sports dan Art. 2 Language (Inggris dan Mandarin). Grace W. 1 Design. meliputi Aksara. Little Class (2-3 tahun). Suatu ketika pembantu tersebut sedang lalai (kurang memperhatikan dan tidak teliti) terhadap anak asuhnya. cvii . M. Tari. Susanto. Recorder. serta Psikologi. Biola. Divisi College (segera dibuka) 2. Acting. Hal tersebut yang membuat Ibu Grace tergugah hatinya. Daily Homework Supervision (DHS). meliputi 1-2 Class. Taman Bermain Balita. KEC. Akhirnya didirikanlah Taman Balita Klub Merby. 3-4 Class. Mandarin. dan Clay. dan Secretary. meliputi Tourism. Latar Belakang Berdirinya Taman Balita Klub Merby Awal mula berdirinya Taman Balita Klub Merby yaitu pimpinan Klub Merby yang bernama drg. Rumpun Seni Umum. Tuition. Akhirnya anak balita itu meninggal dunia. Drum. Pembantu pada saat itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sempoa. Divisi Child Day Care 3. Happy Class (3-4 tahun). Tabel 4. Musik. meliputi Vokal. Teman beliau memiliki seorang anak balita. dan 5-6 Class. Keyboard. Beliau menemukan ide yaitu bagaimana jika anak balita yang ditinggalkan orang tua bekerja dititipkan pada taman penitipan anak yang dirancang agar anak balita merasa seperti di rumah tetapi tetap mendapatkan pendidikan. Gitar. meliputi Tiny Class (1-2 tahun).

Taman Balita Klub Merby termasuk dalam Divisi Child Day Care. Bangunan seluas 469 m 2 ini diresmikan pada tanggal 12 september 2002. Walaupun terletak di jantung kota Semarang, lokasi Kampus II berada di daerah “nyelampit” sehingga menimbulkan suasana tentram dan asri. Guna menunjang fungsinya sebagai taman balita, kampus ini dilengkapi pula dengan fasilitas Mother’s Room. Selain itu, terdapat beberapa kamar yang dilengkapi dengan tempat tidur mini untuk anakanak. Di bagian tengah, bangunan ini memiliki kebun dengan hamparan hijau yang luas sebagai sarana playground. 3. Gambaran Umum Taman Balita Klub Merby Taman Balita Klub Merby merupakan jenis taman penitipan anak dengan model penyelenggaraan TPA Umum di perumahan. Luas bangunan Taman Balita Klub Merby adalah 469 m 2 yang berlokasi di Kelurahan Mugasari Kecamatan Semarang Selatan, dengan alamat Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang. Maskot Klub Merby adalah Katak (Frog) yang merupakan Happy Animal. DAsar pemilihan katak sebagai mascot adalah: a. Dekat dengan air sebagai sumber kehidupan; b. Mencintai lingkungan; c. Mudah menyesuaikan diri dengan alam (air dan darat); d. Senantiasa gembira, bernyanyi, dan menari. Visi Taman Balita Klub Merby adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Misi Taman Balita Klub Merby adalah memberikan

cviii

pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif. Motto Taman Balita Klub Merby adalah 8 C yang artinya sebagai berikut: a. Cerdas Sempurna perkembangan akal budinya, dan sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat). b. Ceria Gembira, berseri-seri, wajah cerah, bersih, dan murni. c. Cerdik Cepat mengerti situasi, pandai mencari pemecahan, dan panjang akal. d. Cekatan Cepat dan mahir, melakukan sesuatu, tangkas, dan selalu siap menghadapi masalah. e. Cermat Penuh minat, seksama, teliti, hemat, dan berhati-hati. f. Cendekia Tajam pikiran, cepat mengerti situasi, pandai mencari jalan keluar, dan terpelajar. g. Cantas Terampil dan tanggung jawab. h. Cerah Segar dan penuh harapan.

cix

Jumlah anak balita yang dititipkan di Taman Balita Klub Merby berjumlah 30 anak balita, yaitu: a. Little Class (2-3 tahun): 14 anak balita Dari 14 anak balita tersebut, ada 5 anak balita yang dititipkan sampai sore (full day). Sedangkan 9 anak balita lainnya hanya mengikuti kegiatan pembelajarannya saja dan tidak dititipkan sampai sore (half day). b. Happy Class (3-4 tahun): 16 anak balita Dari 16 anak balita tersebut, ada 5 anak balita yang dititipkan sampai sore. Sedangkan 11 anak balita lainnya hanya mengikuti kegiatan pembelajarannya saja dan tidak dititipkan sampai sore (half day). Taman Balita Klub Merby memiliki beberapa tata tertib yang harus dipatuhi oleh orang tua dan anak balita, antara lain: a. Tata Tertib untuk Anak Balita 1) Anak balita yang dititipkan harus sudah dapat berjalan. Jika belum dapat berjalan maka ada biaya pengasuhan tambahan. 2) Anak balita datang dalam keadaan telah mandi pagi dan sarapan pagi. Jika belum, anak balita harus dating sebelum pukul 08.00 WIB. 3) Untuk makan siang anak balita, membawa makanan sendiri. 4) Anak balita memakai seragam pada hari: a) Senin dan Kamis: Atasan putih, bawahan kotak-kotak b) Selasa dan Jumat: Kaos Merby c) Rabu: Bebas

cx

kaos Merby. 2) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara lain: menulis identitas diri anak. dan lain-lain). 3) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian sebagai berikut: a) Biaya administrasi per bulan : Rp. buku. Tata Tertib untuk Orang Tua Anak Balita 1) Penjemputan anak balita paling lambat pukul 17.000 d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. 300. 500. crayon. foto copy akte kelahiran anak. 150.00 WIB. lem.15 WIB karena jam kerja pendidik dan pengasuh sampai dengan 17. foto copy kartu keluarga.000 (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu) c) Biaya pendaftaran : Rp.000 (untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu) Rp. dan foto copy KTP kedua orang tua. Gedung Sekolah 1) Lobby 2) Ruang Administrasi : 1 ruang : 1 ruang cxi .b. 100. Taman Balita Klub Merby memberikan fasilitas-fasilitas kepada anak balita yang dititipkan dan orang tua anak balita tersebut. 135. gunting.000 e) Biaya perlengkapan : Rp.000 b) Biaya SPP per bulan : Rp.000 (mendapatkan seragam. 200. tas. media belajar: drawing board. antara lain: a.

puzzle angka. boneka PON XVI. tea set meidi ks. Vanda. alat peraga (putar). boneka tangan. kubus angka. alat peraga masak-memasak. kubus huruf. tea set meidi ts. Xmas box. alat musik berdiri. alat peraga pohon. binatang peraga. 2) Mainan Education Alat peraga bangun geometri. Mainan 1) Mainan Dalam Anyaman busa. my big play. pola keluarga berdiri. pola tani berdiri. papan pasak. alat peraga bangun geometri bongkar pasang. rumah ibadah. boneka salju. alat peraga balok lingkar. puzzle alat transportasi. Kana. Bakung. Kantil) 5) Ruang Makan (Ruang Kemuning) 6) Ruang Perpustakaan (Ruang Aster) 7) Ruang Kesehatan (Ruang Tulip) 8) Ruang Kamar mandi/ Toilet 9) Ruang Gudang 10) Ruang Dapur b. alat peraga kapal geometri bongkar pasang. peraga buah-buahan. peraga mobil bongkar pasang. : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 4 ruang : 1 ruang : 1 ruang cxii . Xmas.3) Ruang Kelas (Ruang Matahari dan Teratai) 4) Ruang Tidur : 2 ruang : 5 ruang (Ruang Soka. magic fun.

Fasilitas Umum Terletak di pusat kota. c. buku cerita perilaku. permainan sepak bola (foot ball). bersertifikat. golf. Ketenagaan Taman Balita Klub Merby cxiii . buku cerita agama. kolam berpasir. d. dan tenang. papan titian.3) Mainan Luar Ayunan pasangan (see saw).1: Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby 5. nyaman. arena bermain yang luas. rekreasi bersama. di bawah pengawasan Dokter dan Psikolog. bersih. 4. pelatih profesional. buku cerita bahasa Inggris. buku pengetahuan. tooter. ruangan ber-AC. mangkuk putar (merry go round). Perpustakaan Buku cerita legenda. ayunan single (swing single). Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby Adapun struktur organisasi Taman Balita Klub Merby yaitu seperti gambar di bawah ini: Koordinator Taman Balita Klub Merby Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby Pendidik Pengasuh Gambar 4. playground small.

TERAKHIR 1. Eridani Sukmawati. 1.3: Identitas Informan 7. 3.Berikut ini adalah ketenagaan dalam Taman Balita Klub Merby. Identitas Informan Identitas informan yang terdiri dari Koordinator Pelaksana. A. NAMA Dra. yaitu: NO. 4. Frasnsiska Dyah Winarni Sri Rahayu Eridani Sukmawati. 6. Sri Rahayu Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby Pendidik Pendidik Pengasuh Pengasuh Swasta SMU Semarang ALAMAT 2. Pendidik. Pd Santy Sulistyowati Is Rahayu JABATAN Koordinator Taman Balita Klub Merby Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby Pendidik Pendidik Pengasuh Pengasuh MASUK KERJA 2002 2004 2003 2004 2002 2005 Tabel 4. Pd Santy Sulistyowati Is Rahayu MB. 2. dan Orang tua anak balita. A. 5. 3. NAMA PEKERJAAN PEND. sebagai berikut: NO. 6.2: Ketenagaan Taman Balita Klub Merby 6. 7. Indah Novianti (Orang tua anak balita) Lili Umiati (Orang tua anak balita) D3 S1 SMU SMU Akademi Semarang Semarang Semarang Semarang Semarang Swasta SMEA Semarang Tabel 4. S. S. Pengasuh. Hasil Wawancara dengan Informan cxiv . Md Yulianti Astriningrum. Md Yulianti Astriningrum. 5. 4.

2) Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Miss Dani. Namanya adalah Eridani Sukmawati. Tujuan institusional ini dirumuskan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby. 6) Menemani belajar sambil bermain. Md. 7) Membimbing balita agar mandiri. 3) Memotivasi anak belajar bicara. 4) Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak. 5) Memahami potensi anak. Pandanaran II/ 2D Semarang)” dapat dipahami melalui wawancara dari 7 orang informan yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Informan 1 Beliau adalah salah seorang pendidik di Taman Balita Klub Merby yaitu pendidik Happy Class (3-4 tahun). Tujuan Menurut pendapat Miss Dani mengenai tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan) dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub Merby yaitu membantu para ibu dalam: 1) Membiasakan sopan santun dan budi pekerti. Alamat Miss Dani adalah Tanggul Mas Tengah VI/ 88 Semarang. cxv . A. a.Hasil penelitian mengenai “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl.

nada. gerakan halus. mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama. memberi alasan. serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera). dan menghargai keragaman sosial dan budaya. serta menghargai hasil karya yang kretif. dan rasa memiliki. tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat cxvi . 5) Anak mampu mengenal lingkungan alam. dan gerakan kasar. Menurut pendapatnya mengenai tujuan instruksional (tujuan proses belajar mengajar) adalah disesuaikan dengan tema. Serta mampu mengembangkan konsep diri. 6) Anak memiliki kepekaan terhadap irama. Misalnya tema sekolah.Menurut pendapatnya mengenai tujuan kurikuler (tujuan bidang studi/ mata pelajaran) adalah: 1) Anak mampu melakukan ibadah. 4) Anak mampu berpikir logis. Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby. peranan masyarakat. bertepuk tangan. kritis. berbagai bunyi. kontrol diri. 3) Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar. birama. 2) Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakangerakan yang mengontrol gerakan tubuh. sikap positif terhadap belajar. lingkungan social. memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

Menurut pendapatnya mengenai proses belajar mengajar di Taman Balita Klub Merby yaitu menggunakan bahasa Indonesia dan cxvii . sesuai dengan tema. c. Kegiatan Belajar Mengajar Menurut Miss Dani mengenai kegiatan belajar mengajar yaitu kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 09. dan dapat dikuasai oleh anak. Bahan Pembelajaran Menurut pendapat Miss Dani mengenai bahan pembelajaran yang digunakan yaitu dalam menentukan bahan pembelajaran hendaknya memenuhi kriteria: aman. Menurut pendapatnya mengenai cara menentukan bahan pembelajaran di Taman Balita Klub Merby yaitu disesuaikan dengan Menu Pembelajaran dari Pendidikan Anak Usia Dini dan disesuaikan pula dengan tingkat kemampuan anak.00-11. Menurut pendapatnya mengenai dasar penentuan waktu pelaksanaannya adalah menyesuaikan dengan kondisi anak balita yang orang tuanya bekerja. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby. Selain itu juga menyesuaikan kebiasaan anak Waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby.mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat sekolah. b. menarik.00 WIB selama 5 hari dalam satu minggu.

dan bermain peran. Metode bermain peran akan memberikan kesempatan seluasluasnya kepada anak untuk bermain peran dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dongeng/ cerita guna mengembangkan imajinasinya. bernyanyi. Metode bercerita digunakan sebagai metode pembelajaran karena mendengarkan cerita atau dongeng merupakan kegiatan yang cukup mengasyikan bagi anak-anak.bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Metode bernyanyi digunakan sebagai metode pembelajaran karena dengan menyenyi akan membawa anak pada suasana emosional. d. Kamis adalah Day of Arts. cxviii . bercerita. Sesuai dengan jadwal Taman Balita Klub Merby. Metode bermain dapat dilakukan di dalam ruangan dan di luar ruangan. Senin adalah Day of Knowledge. Rabu adalah Day of Health. Metode Menurut Miss Dani mengenai metode pembelajaran yang digunakan di Happy Class adalah metode bermain. baik sedih atau gembira. berdialog/ bercakap. Selasa adalah Day of Skill. Metode berdialog/ bercakap digunakan untuk melatih anak-anak berkomunikasi juga melihat berapa besar respon anak tentang tema pembelajaran pada hari itu. dan Jumat adalah Day of Sports.

pasir) dan jenis APE (seperti puzzle. Evaluasi Menurut Miss Dani mengenai evaluasi pembelajaran adalah evaluasi ini dilakukan secara harian dan setiap akhir bulan. perpustakaan.e. Hal-hal yang dievaluasi meliputi pengetahuan. alat peraga. Selain itu pendidik juga memberitahu kepada orang tua anak balita tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada hari itu. Selain itu pendidik menuliskan pesan di dalam buku tersebut untuk orang tua anak balita. Kemudian orang tua anak balita memberikan respon yaitu menuliskan catatan-catatan untuk pihak cxix . Sedangkan evaluasi yang dilakukan setiap akhir bulan dilakukan dengan cara pendidik memberikan buku evaluasi kepada orang tua anak balita. keterampilan. Alat/ Media Belajar Menurut Miss Dani mengenai alat/ media belajar yang digunakan di Happy Class adalah jenis alat permainan dari lingkungan (seperti air. media cetak dan elekrtonik. papan pasak. Sumber Belajar Menurut Miss Dani mengenai sumber belajar yang digunakan di Taman Balita Klub Merby adalah sumber belajar alamiah. gelang susun. f. balok. Secara harian dilakukan dengan cara pendidik menyampaikan perkembangan anak hari itu kepada orang tua anak balita. dan perilaku anak balita. kubus. g. dan nara sumber (bila ada). dan lain-lain).

Mugas Barat VII/ 20 Semarang. Pd. 3) Memotivasi anak belajar bicara. Namanya adalah Yulianti Astriningrum. 4) Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak. 5) Memahami potensi anak. Tujuan Menurut pendapat Miss Astri mengenai tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan) dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub Merby yaitu membantu para ibu dalam: 1) Membiasakan sopan santun dan budi pekerti. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Miss Astri. a. 2) Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita. M.Taman Balita Klub Merby sehingga terjadi komunikasi antara pihak Taman Balita Klub Merby dengan orang tua anak balita. Tujuan evaluasi ini adalah sebagai sarana untuk mendukung proses perkembangan anak. 6) Menemani belajar sambil bermain. Susanto. Grace W. S. M. Tujuan institusional ini dirumuskan oleh pimpinan Taman Balita Klub Merby yaitu drg. cxx . Informan 2 Beliau adalah salah seorang pendidik di Taman Balita Klub Merby yaitu pendidik Little Class (2-3 tahun). 7) Membimbing balita agar mandiri. Alamat Miss Astri adalah Jl.

5) Anak mampu mengenal lingkungan alam. 2) Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakangerakan yang mengontrol gerakan tubuh. Serta mampu mengembangkan konsep diri. kritis. tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat cxxi . nada. Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik dan koordinator pelaksana Taman Balita Klub Merby. serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera). 4) Anak mampu berpikir logis. mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama. 3) Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar. dan menghargai keragaman sosial dan budaya. sikap positif terhadap belajar. memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.Menurut pendapatnya mengenai tujuan kurikuler (tujuan bidang studi/ mata pelajaran adalah: 1) Anak mampu melakukan ibadah. Menurut pendapatnya mengenai tujuan instruksional (tujuan proses belajar mengajar) adalah disesuaikan dengan tema. Misalnya tema sekolah. gerakan halus. bertepuk tangan. dan rasa memiliki. peranan masyarakat. berbagai bunyi. memberi alasan. birama. dan gerakan kasar. lingkungan social. serta menghargai hasil karya yang kretif. kontrol diri. 6) Anak memiliki kepekaan terhadap irama.

00 WIB. b. Tujuannya agar dapat mengamati perkembangan anak. dan aman. Bahan Pembelajaran Menurut pendapat Miss Astri mengenai bahan pembelajaran yang digunakan yaitu dalam menentukan bahan pembelajaran sebaiknya memenuhi kriteria: sesuai dengan tema. warna menarik.00 WIB.mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat sekolah.00-10. Sedangkan Jumat pukul 08. cxxii . Kegiatan Belajar Mengajar Menurut Miss Astri mengenai kegiatan belajar mengajar yaitu setiap hari Senin-Kamis pukul 09.00-11. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik dan Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby. dan orang tua anak balita. Waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby seperti koordinator pelaksana. Menurut pendapatnya mengenai dasar penentuan waktu pelaksanaannya adalah 5 kali pertemuan dalam satu minggu. pendidik. c. Menurut pendapatnya mengenai cara menentukan bahan pembelajaran di Taman Balita Klub Merby yaitu disesuaikan dengan tema dan kemampuan anak.

Metode bercerita digunakan sebagai metode pembelajaran karena dapat mempengaruhi jalan pikiran dan daya imajinasi anak. Alat/ Media Belajar Menurut Miss Astri mengenai alat/ media belajar yang digunakan di Little Class adalah jenis alat permainan dari lingkungan cxxiii . Metode Menurut Miss Astri mengenai metode pembelajaran yang digunakan di Little Class adalah metode bermain. dengan bimbingan. pendidik memberi pertanyaan kepada anak. e. Metode bernyanyi digunakan sebagai metode pembelajaran karena cocok untuk tujuan mengembangkan penghayatan anak terhadap suatu peristiwa. gambar-gambar.d. Pada akhir cerita. Metode bermain dapat dilakukan di dalam ruangan dan di luar ruangan. bernyanyi. atau alat peraga lain yang masih ada hubungannya dengan bahan yang sedang diceritakan. atau sebaliknya menjawab pertanyaan/ komentar anak. bercerita. Metode ini bermanfaat untuk menambah kosakata yang dimiliki anak agar dapat berkomunikasi dengan baik. Untuk melengkapi metode ini maka digunakan alat peraga berupa boneka-boneka. dan berdialog/ bercakap. Jenis bermainnya ada bermain bebas. Metode berdialog/ bercakap dapat dilakukan bersamaan dengan metode bermain. dan dengan pengarahan. dan bernyanyi. bercerita.

bola. pendidik. g. dan perbendaharaan kata semakin bertambah. pengasuh dan orang tua anak balita. Sumber Belajar Menurut Miss Astri mengenai sumber belajar yang digunakan di Taman Balita Klub Merby adalah buku. dan alat peraga yang disesuaikan dengan tema. audio visual. alat permainan modern. perpustakaan. lingkungan sekitar. balok. Evaluasi Menurut Miss Astri mengenai evaluasi pembelajaran adalah evaluasi ini dilakukan dengan melibatkan koordinator pelaksana. Dilihat dari perkembangan anak balita yaitu anak balita menjadi lebih percaya diri. lebih mandiri. dan jenis APE (seperti puzzle. kubus. Dilihat dari hasil pekerjaan anak balita terhadap tugas-tugas yang diberikan yaitu hasil tidak diutamakan.alam. Tujuan evaluasi ini adalah memantau perkembangan anak balita. Dilihat dari pertumbuhan anak balita yaitu motorik kasar dan motorik halus anak balita menjadi lebih baik. Dari hasil evaluasi ini dapat dilihat kemampuan anak balita sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran yaitu terdapat perubahan terutama pada perilaku. cxxiv . dan lain-lain). yang diutamakan adalah proses pembelajarannya. sosialisasi. f. dan kemandirian (ke arah yang lebih baik).

00 WIB. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby Menurut Ibu Yayuk mengenai sistem pengasuhan yaitu sistem pengasuhan di Taman Balita Klub Merby ada dua jenis yaitu secara full day dan half day. Syuhada Raya. Menurut pendapatnya.00 WIB. dan lain-lain). cxxv . Sedangkan untuk yang half day. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu Yayuk. kemandirian. Semarang. asuhan. Pelayanan yang diberikan kepada anak balita antara lain pendidikan (tentang budi pekerti. Namanya adalah Sri Rahayu. a. pemeriksaan kesehatan tubuh dan gigi.Informan 3 Beliau adalah seorang koordinator pelaksana di Taman Balita Klub Merby. pelayanan yang diberikan oleh Taman Balita Klub Merby tidak hanya untuk anak balita tetapi juga untuk orang tua anak balita. serta penggunaan fasilitas-fasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby. Untuk yang full day. anak balita yang dititipkan hanya mendapatkan pelayanan pembelajaran saja. Anak balita dengan sistem pengasuhan ini biasanya mereka dijemput oleh orang tuanya pada siang hari setelah pembelajaran selesai yaitu pukul 11. perawatan. anak balita yang dititipkan selain mendapatkan pelayanan pembelajaran juga mendapatkan pelayanan asuhan. sopan santun. Anak balita dengan sistem pengasuhan ini biasanya mereka dijemput oleh orang tuanya pada sore hari yaitu pukul 17. Alamat Ibu Yayuk adalah Jl.

Para orang tua anak balita belum seluruhnya mentaati tata tertib Taman Balita Klub Merby. kemandirian. dan pegawai swasta pada perusahaanperusahaan besar di Semarang. pendidik. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar ada kesinambungan antara pendidikan dan pengasuhan di Taman Balita Klub Merby dengan di rumah. dan lain-lain) sebaiknya diterapkan pula di rumah. Biasanya cxxvi . Menurut pendapatnya.Sedangkan pelayanan yang diberikan kepada orang tua anak balita yaitu konsultasi kepada dokter dan psikolog yang ada di Taman Balita Klub Merby. Orang tua anak balita dapat berkonsultasi tentang pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Selain itu orang tua anak balita dapat bertukar pikiran kepada koordinator pelaksana. Meraka ada yang bekerja sebagai dokter. dan pengasuh jika anak balita mereka sedang mengalami permasalahan. Kemudian pihak Taman Balita Klub Merby akan membantu memberikan solusi kepada orang tua anak balita. pegawai bank. wiraswasta. pegawai negeri. pengasuhan yang telah diterapkan di Taman Balita Klub Merby (seperti kedisiplinan. para orang tua anak balita berasal dari kota Semarang. Saat ini anak balita yang mendapatkan system pengasuhan secara full day ada 10 anak balita. Menurut pendapatnya. sopan santun. daya tampung di Taman Balita Klub Merby untuk sistem pengasuhan secara full day ada 16 anak balita. Menurut pendapatnya.

Adapun kegiatan-kegiatan anak balita setelah proses pembelajaran.yang sering terjadi adalah tentang penjemputan anak balita lewat dari yang telah ditantukan. b. Sehingga para pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17. Tidak jarang para pengasuh menunggu jemputan anak balita dating sampai pukul 17. Semarang. Informan 4 Beliau adalah seorang pengasuh di Taman Balita Klub Merby. Alamat Ibu Wati adalah Bongsari Rt 04/ I.30 WIB. maka koordinator pelaksana dan pengasuh tetap menyampaikan informasi tersebut. koordinator pelaksana dan pengasuh menyampaikan informasi kepada orang tua anak balita tentang perkembangan anak balita dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak balita pada hari itu. antara lain: cxxvii .15 WIB. Sebagian besar dari mereka pulang dari kantor pukul 17. Sistem Evaluasi Menurut pendapatnya mengenai evaluasi pengasuhan yaitu evaluasi dilakukan setiap hari. Namanya adalah Santy Sulisyowati. Jika orang tua anak balita tidak aktif menanyakan terlebih dahulu. a. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu Wati. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapat Ibu Wati mengenai sistem pengasuhan yaitu asuhan dan perawatan dilakukan setelah proses pembelajaran selesai.00 WIB. sedangkan perjalanan dari kantor ke Taman Balita Klub Merby antara 15-30 menit.

Karena setelah makan siang kondisi anak balita (terutama pakaiannya) kotor. ayunan. mangkuk putar. mereka ganti pakaian kemudian tidur siang.30-13. pengasuh memandikan anak balita secara bergantian. Sebagian besar anak balita senang jika makan sambil bermain-main di halaman belakang karena di sana terdapat beberapa alat permainan seperti jungkat-jungkit.30 WIB cxxviii . Setelah anak balita tertidur. 4) Mandi sore pada pukul 15. perosotan. 2) Mandi siang pada pukul 13.00 WIB Pengasuh memberikan makanan dan minuman kepada anak balita.30-16.30 WIB Setelah makan siang selesai. pengasuh bangun untuk melakukan pekerjaan lainnya. Jadi anak balita perlu dimandikan sehingga mereka tidur dalam keadaan bersih. Para pengasuh pun ikut menemani sampai anak balita tidur.30-15. Mereka diajarkan oleh pengasuh untuk makan sendiri. Makan siang dilakukan di ruang makan yaitu Ruang Kemuning.00-13. dan lainlain. Anak balita diajarkan pula untuk makan sambil duduk.1) Makan siang pada pukul 11. Tetapi bagi anak balita yang belum dapat makan sendiri maka akan disuapi oleh pengasuh. 3) Istirahat (tidur siang) pada pukul 13.30 WIB Setelah anak balita balita mandi.

b. Setelah itu anak balita dimandikan oleh pengasuh secara bergantian. c. kesetiakawanan. pengasuh juga memberikan bimbingan.30-17.Setelah anak balita tidur. asuhan dan menanamkan rasa kasih sayang. Ada pula pelayanan pemeriksaan kesehatan seperti pemeriksaan kuku. Tetapi pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17. 5) Penjemputan balita pada pukul 16. gigi.15 WIB. Kendala-kendala Menurut pendapatnya mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pengasuhan adalah kadang-kadang anak balita muncul rasa cxxix . Jenis Pengasuhan Menurut pendapatnya mengenai jenis pengasuhan yang diberikan oleh pengasuh kepada anak balita adalah selain diberikan pendidikan untuk bekal mereka masuk Taman Kanak-kanak (TK). menunggu orang tuanya menjemput.00 WIB. konsultasi kesehatan umum dan gigi antara orang tua anak balita dan dokter dilaksanakan setiap bulan sekali. Mereka menunggu orang tuanya sambil bermain di halaman belakang. kebersamaan. mereka bangun kemudian minum susu. kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Ada beberapa anak balita yang minum susu dengan menggunakan botol dan ada pula yang disuapi oleh pengasuh. Sedangkan penimbangan berat badan.00 WIB Anak balita yang sudah bersih dan rapi. Batas penjemputan adalah pukul 17. dan telinga setiap seminggu sekali.

a.egois. Jenis Pengasuhan Menurut pendapatnya mengenai jenis pengasuhan yang diberikan oleh pengasuh kepada anak balita adalah pengasuh mengajarkan anak balita cxxx . mereka juga mendapatkan asuhan dan perawatan setelah proses pembelajaran selesai. manja. Informan 5 Beliau adalah seorang pengasuh di Taman Balita Klub Merby. kurang percaya diri. Namanya adalah Is Rahayu. Alamat Ibu Is adalah Jl. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapat Ibu Is mengenai sistem pengasuhan yaitu sistem pengsuhan di Taman Balita Klub Merby ada dua macam yaitu: 1) Sistem Pengasuhan Half Day Anak balita hanya mengikuti proses pembelajaran. sensitif. Biasanya mereka dijemput orang tuanya setelah proses pembelajaran selesai (siang hari). Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu Is. 2) Sistem Pengasuhan Full Day Anak balita selain mengikuti proses pembelajaran. Biasanya mereka dijemput orang tuanya pada sore hari. dan sifat-sifat kekanakkanakan lainnya yang membuat pengasuh harus memberikan perhatian lebih kepada anak balita tersebut tetapi tidak membuat iri hati kepada anak balita lainnya. b. Mataram 653 Semarang atau di Merby Centre.

untuk mandiri. Tetapi bagi anak balita yang belum dapat makan sendiri maka akan disuapi oleh pengasuh.30 WIB Setelah makan siang selesai.00-13.30-13. 2) Mandi siang pada pukul 13. Makan siang dilakukan di ruang makan yaitu Ruang Kemuning. Jadi anak balita perlu dimandikan sehingga mereka tidur dalam keadaan bersih. Menurut pendapatnya mengenai kegiatan-kegiatan anak balita selama dalam proses pengasuhan setelah proses pembelajaran selesai.30-15. antara lain: 1) Makan siang pada pukul 11. 3) Istirahat (tidur siang) pada pukul 13. pengasuh memandikan anak balita secara bergantian. mangkuk putar. Sebagian besar anak balita senang jika makan sambil bermain-main di halaman belakang karena di sana terdapat beberapa alat permainan seperti jungkat-jungkit. perosotan. Karena setelah makan siang kondisi anak balita (terutama pakaiannya) kotor. Anak balita mendapatkan pelayanan tersebut selama mereka masih dititipkan di Taman Balita Klub Merby. bergaul dengan teman agar memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama. ayunan. Mereka diajarkan oleh pengasuh untuk makan sendiri. dan lainlain. Anak balita diajarkan pula untuk makan sambil duduk.00 WIB Pengasuh memberikan makanan dan minuman kepada anak balita.30 WIB cxxxi .

pengasuh bangun untuk melakukan pekerjaan lainnya. 4) Mandi sore pada pukul 15. Setelah itu anak balita dimandikan oleh pengasuh secara bergantian. Mereka menunggu orang tuanya sambil bermain di halaman belakang. Ada beberapa anak balita yang minum susu dengan menggunakan botol dan ada pula yang disuapi oleh pengasuh. cxxxii . c. mereka ganti pakaian kemudian tidur siang. Karena kain sprei berwarna putih maka harus langsung dicuci apabila terkena kotoran anak balita.Setelah anak balita balita mandi. 5) Penjemputan balita pada pukul 16.30-17. asuhan.00 WIB Anak balita yang sudah bersih dan rapi. Para pengasuh pun ikut menemani sampai anak balita tidur. dan perhatian yang lebih. Setelah anak balita tertidur.00 WIB. mereka bangun kemudian minum susu. maka kotoran mereka akan meninggalkan noda pada kain sprei (bed cover). Kendala-kendala Menurut pendapatnya mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pengasuhan adalah bila anak balita sedang sakit maka mereka harus mendapatkan perawatan.30-16. Tetapi pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17. Batas penjemputan adalah pukul 17.30 WIB Setelah anak balita tidur.15 WIB. menunggu orang tuanya menjemput. Selain itu bila anak balita buang air besar/ buang air kecil ketika sedang tidur.

Informan 6 Beliau adalah orang tua dari Viera (3 tahun). Namanya adalah MB. Indah Novianti. Ibu Indah bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan besar di Semarang. Alamat Ibu Indah adalah Jl. Sambiroto Baru No. 54 Kedungmundu Semarang. a. Alasan Orang Tua Menitipkan Anak Balitanya di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai alasan Ibu Indah menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby adalah karena beliau bekerja dari pagi sampai sore. Beliau juga tidak tega bila meninggalkan Viera dengan pembantu saja di rumah selama beliau bekerja. Selain itu lokasi Taman Balita Klub Merby dekat dengan kantor beliau. Adapun tujuan beliau menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby yaitu agar Viera mendapatkan pendidikan sebagai persiapan masuk TK. Beliau merasakan manfaat selama Viera dititipkan di Taman Balita Klub Merby yaitu Viera dapat lebih mandiri dibandingkan teman-teman lainnya (di rumah). Viera sekarang juga lebih kreatif.

b. Persyaratan Menitipkan Anak Balita di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai persyaratan yang harus dipenuhi untuk menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby yaitu:

cxxxiii

1) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara lain: menulis identitas diri anak, foto copy akte kelahiran anak, foto copy kartu keluarga, dan foto copy KTP kedua orang tua. 2) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian sebagai berikut: a) Biaya administrasi per bulan : Rp. 300.000 b) Biaya SPP per bulan : Rp. 200.000

(untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu) Rp. 150.000 (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu) Pembayaran SPP dilakukan setiap bulan antara tanggal 1-10. c) Biaya pendaftaran : Rp. 100.000

d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. 500.000 e) Biaya perlengkapan : Rp. 135.000

(mendapatkan seragam, kaos Merby, tas, media belajar: drawing board, buku, crayon, gunting, lem, dan lain-lain). Viera dititipkan di Taman Balita Klub Merby sejak usianya 2 tahun. Sebelum dititipkan di Taman Balita Klub Merby, Viera sudah pernah dititipkan di tempat penitipan anak lain pada usia 3 bulan. Jadi Viera sudah terbiasa dengan suasana penitipan anak. Tetapi Viera perlu beradaptasi lagi ketika Viera dipindahkan ke Taman Balita Klub Merby. Kondisi Viera setelah dititipkan di Taman Balita Klub Merby menjadi lebih mandiri, kreatif, mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan

cxxxiv

lingkungan. Dengan demikian perkembangan Viera saat ini menjadi lebih baik karena Taman Balita Klub Merby dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Jika Viera sedang mengalami permasalahan maka pihak Taman Balita Klub Merby ikut membantu mencari solusi untuk permasalahan yang dialami tersebut. Misalnya waktu awal Viera dititipkan di Taman Balita Klub Merby, dia cenderung egois dan sulit bergaul dengan teman-temannya. Tetapi saat ini dia sudah enjoy di Taman Balita Klub Merby karena pihak Taman Balita Klub Merby melakukan pendekatanpendekatan kepada Viera. c. Pelayanan-pelayanan yang Diberikan oleh Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh Taman Balita Klub Merby yaitu Viera mendapatkan pelayanan pendidikan, perawatan, asuhan, pemeriksaan kesehatan, dan lain-lain. Selain itu beliau juga mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi kepada dokter dan psikolog tentang pertumbuhan dan perkembangan Viera. Menurut pendapatnya mengenai hasil evaluasi yaitu hal-hal yang dievaluasi meliputi keterampilan, kemandirian, dan sosialisasi. Hal-hal tersebut dilaporkan kepada beliau oleh pihak Taman Balita Klub Merby setiap hari dan setiap bulan dengan cara langsung dan menggunakan media perantara yaitu buku evaluasi bulanan anak balita.

cxxxv

Selain itu lokasi Taman Balita Klub Merby dekat dengan kantor beliau. Beliau menyarankan kepada Taman Balita Klub Merby untuk lebih meningkatkan pelayanan yang diberikan baik kepada anak balita maupun orang tuanya agar para orang tua anak balita lebih yakin untuk menitipkan anaknya selama orang tua bekerja.d. Beliau merasakan manfaat selama Ade dititipkan di Taman Balita Klub Merby yaitu Ade cxxxvi . Adapun tujuan beliau menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby yaitu agar Ade lebih mandiri dan dapat bersosialisasi dengan baik. Beliau juga tidak tega bila meninggalkan Ade dengan pembantu saja di rumah selama beliau bekerja. Alasan Orang Tua Menitipkan Anak Balitanya di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai alasan Ibu Lili menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby adalah karena beliau bekerja dari pagi sampai sore. a. Informan 7 Beliau adalah orang tua dari Adnan Harimurti K (3 tahun) atau Ade. Semarang. Alamat Ibu Lili adalah Beringin Putih D2/ 14 Ngalian. Ibu Lili bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan besar di Semarang. Namanya adalah Lili Umiati. Keberadaan Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai keberadaan Taman Balita Klub Merby yaitu sangat bermanfaat sekali terutama untuk beliau yang bekerja di luar rumah.

Sebelum dititipkan di Taman Balita Klub Merby. 2) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian sebagai berikut: a) Biaya administrasi per bulan : Rp. c) Biaya pendaftaran : Rp. lem. 500.000 (untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu) Rp. Persyaratan Menitipkan Anak Balita di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai persyaratan yang harus dipenuhi untuk menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby yaitu: 1) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara lain: menulis identitas diri anak. 135. Ade belum cxxxvii . buku. 150.mengalami banyak perubahan seperti cara berbicaranya dan bersosialisasinya menjadi lebih baik.000 d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp.000 b) Biaya SPP per bulan : Rp. 300. b. tas. foto copy kartu keluarga. 200. dan foto copy KTP kedua orang tua. dan lain-lain).000 e) Biaya perlengkapan : Rp. foto copy akte kelahiran anak. Ade dititipkan di Taman Balita Klub Merby sejak usianya 17 bulan. gunting. 100. kaos Merby.000 (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu) Pembayaran SPP dilakukan setiap bulan antara tanggal 1-10.000 (mendapatkan seragam. crayon. media belajar: drawing board.

Dengan demikian perkembangan Ade saat ini menjadi lebih baik karena Taman Balita Klub Merby dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Hal-hal tersebut dilaporkan kepada beliau oleh pihak Taman Balita Klub Merby setiap hari dan setiap bulan dengan cara langsung dan menggunakan media perantara yaitu buku evaluasi bulanan anak balita. c. lebih pintar berbicara. misalnya rewel di rumah maka pihak Taman Balita Klub Merby ikut membantu mencari solusi terhadap permasalahan Ade tersebut melalui sharing dengan pendidik dan pengasuh. Selain itu beliau juga mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi kepada dokter dan psikolog tentang pertumbuhan dan perkembangan Ade. Pelayanan-pelayanan yang Diberikan oleh Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh Taman Balita Klub Merby yaitu Ade mendapatkan pelayanan pendidikan. perawatan. cxxxviii . dan sosialisasi. dan lebih sopan kepada orang lain.dapat berjalan dengan baik dan sudah dapat berbicara tetapi belum lancer. asuhan. Saat ini Ade mengalami banyak perubahan seperti dapat berjalan dengan baik. pemeriksaan kesehatan. dan lain-lain. Jika Ade sedang mengalami permasalahan. kemandirian. Menurut pendapatnya mengenai hasil evaluasi yaitu hal-hal yang dievaluasi meliputi keterampilan.

b. Pembahasan Pada bagian ini akan dibahas hasil penelitian seperti telah dipaparkan dimuka yang meliputi: pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita. Memahami potensi anak. serta faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby.d. alat/ media belajar. metode. bahan pembelajaran. c. cxxxix . Memotivasi anak belajar bicara. sumber belajar. Tujuan Tujuan institusional dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub Merby adalah membantu para ibu dalam: a. Membiasakan sopan santun dan budi pekerti. kegiatan belajar mengajar. Beliau menyarankan kepada Taman Balita Klub Merby untuk lebih meningkatkan sarana dan prasarana termasuk fasilitas-fasilitas yang ada. Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak. dan evaluasi. 1. d. e. Keberadaan Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai keberadaan Taman Balita Klub Merby yaitu sangat bermanfaat sekali terutama untuk beliau yang bekerja di luar rumah.

b. cxl . Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh. lingkungan social. Tujuan kurikuler adalah penjabaran tujuan ininstitusional yang berisi program-program pendidikan. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48). serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera). sikap positif terhadap belajar. Tujuan institusional ini dirumuskan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby. c. tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. dan rasa memiliki. kontrol diri. Menemani belajar sambil bermain. memberi alasan. mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama. d. Program Little Class dan Happy Class di Taman Balita Klub Merby memiliki tujuan kurikuler. dan menghargai keragaman sosial dan budaya. antara lain: a. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar. Anak mampu berpikir logis. Anak mampu mengenal lingkungan alam. g. Anak mampu melakukan ibadah. Tujuan institusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh lembaga atau jenis tingkatan sekolah. Serta mampu mengembangkan konsep diri. gerakan halus. dan gerakan kasar.f. e. Membimbing balita agar mandiri. memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat. peranan masyarakat. kritis.

aman dan tidak membahayakan. Rahman (2002:77). Segala sesuatu yang diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Anak memiliki kepekaan terhadap irama. Taman Balita Klub Merby memiliki beberapa kriteria dalam menentukan bahan pembelajaran yaitu: relevan dengan kondisi anak. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby. 3. eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu. Menurut Hibana S. sederhana dan konkrit. Tujuan instruksional menyangkut tujuan yang hendak kita capai dalam kegiatan pendidikan kita sehari-hari. Tujuan instruksional (tujuan proses belajar mengajar) pada Little Class dan Happy Class adalah disesuaikan dengan tema. dalam menentukan bahan pembelajaran untuk anak balita ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. bahan pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. cxli . serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan. tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat sekolah. 2. birama. Kegiatan Belajar Mengajar Kegiatan belajar mengajar di Taman Balita Klub Merby adalah inti kegiatan dalam pendidikan. berwarna dan atraktif. nada. serta menghargai hasil karya yang kretif. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:50). Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby. Misalnya tema sekolah. berbagai bunyi. bertepuk tangan. Bahan Pembelajaran Taman Balita Klub Merby memiliki bahan pembelajaran yang ingin disampaikan dalam proses belajar mengajar. berkaitan dengan aktivitas keseharian anak.f.

untuk anak balita berusia 1-2 tahun. a. Rabu: Day of Health cxlii . c. kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. untuk anak balita berusia 2-3 tahun. Balita datang dalam keadaan sudah mandi dan makan pagi. c.00 WIB: Pelatihan balita mandiri Pelaksanaan pembelajaran hanya ada satu kelas yaitu Smart Class untuk anak balita berusia 4-5 tahun sebagai persiapan anak balita memasuki TK. Tiny Class. b.00-10. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara bermain edukatif dengan tema yang berbeda-beda setiap harinya. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.30-08.30 WIB: Balita datang Para orang tua mengantarkan anak balitanya ke Taman Balita Klub Merby. Kegiatan belajar mengajar Taman Balita Klub Merby dilakukan sesuai dengan jadwal yaitu: 07. 09. b.00-11. 09. Happy Class. Proses pembelajaran tersebut menggunakan bahasa pengantar yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Senin: Day of Knowledge Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang pengetahuan.Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:51).30 WIB: Pelatihan balita mandiri Pelaksanaan pembelajaran dibagi menjadi tiga kelas yaitu: a. Little Class. Selasa: Day of Skill Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang keterampilan. untuk anak balita berusia 3-4 tahun.

dengan menggunakan alat peraga. cxliii . dan belajar. e. bernyanyi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slamet Suyanto (2003:162) yaitu metode pembelajaran untuk anak usia dini hendaknya menantang. bercakap/ berdialog. Metode bernyanyi dilakukan dengan bernyanyi aktif yaitu anak balita melakukan secara langsung kegiatan bernyanyi. bernyanyi. melibatkan unsur bermain. bergerak. bernyanyi. 4. Kamis: Day of Arts Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang seni. Metode Metode pembelajaran di Taman Balita Klub Merby bersifat menantang.Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang kesehatan. menyenangkan. Kegiatan bermain dilakukan di dalam dan di luar ruangan dengan bimbingan dan arahan. tetapi ada pula bermain bebas. dan belajar. Metode bercerita dilakukan dengan berbagai bentuk seperti bercerita tanpa alat peraga. dan bermain peran. mengikuti atau bersama-sama dengan menggerak-gerakan tubuh mereka atau bertepuk tangan. Jumat: Day of Sports Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang olah raga. dan dengan menggunakan buku cerita (story reading). bercerita. d. menyenangkan. Metode pembelajaran yang digunakan di Taman Balita Klub Merby antara lain: bermain. melibatkan unsur bermain. bergerak. baik dilakukan sendiri.

gelang susun. bola. Alat permainan dari lingkungan misalnya dari lingkungan alam (air. pasir). alat permainan modern. dan lain-lain. media cetak dan elektronik. Menurut Slamet Suyanto (2003:161). Alat/ Media Belajar Alat permainan yang digunakan di Taman Balita Klub Merby yaitu alat permainan dari lingkungan dan Alat Permainan Edukatif (APE). cxliv . walaupun tidak menutup kemungkinan mereka akan meggunakannya untuk bermain. media belajar anak usia dini pada umumnya adalah alat permainan. Menurut Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata (1991:165) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:55). alat peraga. 5. balok. bercerita. lingkungan sekitar. perpustakaan. Metode bermain peran akan memberikan kesempatan seluasluasnya kepada anak balita untuk bermain peran dalam kehidupan seharihari maupun dalam dongeng/ cerita guna mengembangkan imajinasinya. sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Anak akan aktif mengadakan eksplorasi dengan menggunakan alat permainan. Sumber Belajar Sumber belajar yang digunakan di Taman Balita Klub Merby yaitu sumber belajar alamiah. Alat permainan ada dua jenis yaitu dari lingkungan dan Alat Permainan Edukatif (APE).Metode bercakap/ berdialog dilakukan bersamaan dengan metode bermain. papan pasak. 6. dan bernyanyi. kubus. dan nara sumber (bila ada). Metode ini bermanfaat untuk menambah kosakata yang dimiliki anak balita agar dapat berkomunikasi dengan baik. Sedangkan APE misalnya puzzle.

Sedangkan evaluasi yang dilakukan setiap akhir bulan dilakukan dengan cara pendidik memberikan buku evaluasi kepada orang tua anak balita. Selain itu pendidik menuliskan pesan di dalam buku tersebut untuk orang tua anak balita. apapun kondisinya. Secara harian dilakukan dengan cara pendidik menyampaikan perkembangan anak hari itu kepada orang tua anak balita. Evaluasi Evaluasi pembelajaran yang dilakukan di Taman Balita Klub Merby melibatkan koordinator pelaksana. Selain itu pendidik juga memberitahu kepada orang tua anak balita tentang kegiatankegiatan yang dilakukan pada hari itu. pengasuh dan orang tua anak balita. pendidik. keterampilan. Pendidik harus mau menganggap bahwa semua anak. dan perilaku anak balita.7. Hal-hal yang dievaluasi meliputi pengetahuan. Karena itu bentuk penilaian di mana anak dibandingkan dengan anak yang lain menjadi kurang bermakna. adalah siswanya yang harus dikembangkan secara optimal sesuai dengan kapasitas masingmasing. Tujuan evaluasi ini adalah untuk memantau perkembangan anak balita. Menurut Slamet Suyanto (2003:224). penilaian pada anak usia dini hendaknya lebih didasarkan atas kemajuan belajar atau pengembangan individual. cxlv . Evaluasi pembelajaran ini dilakukan secara harian dan setiap akhir bulan. Kemudian orang tua anak balita memberikan respon yaitu menuliskan catatan-catatan untuk pihak Taman Balita Klub Merby sehingga terjadi komunikasi antara pihak Taman Balita Klub Merby dengan orang tua anak balita.

dan kemandirian (ke arah yang lebih baik). Untuk sementara. Dilihat dari pertumbuhan anak balita yaitu motorik kasar dan motorik halus anak balita menjadi lebih baik. Dilihat dari perkembangan anak balita yaitu anak balita menjadi lebih percaya diri. KMS. orang tua menyiapkan makanan/ minuman anak balita sendiri. gelas. sendok. lebih mandiri. Kebutuhan Pokok Anak Pelayanan untuk makanan pokok anak di Taman Balita Klub Merby yaitu pemberian makanan/ minuman yang membutuhkan sarana seperti: piring. dan perbendaharaan kata semakin bertambah. dan register. Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Anak Usia Dini pada Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby a. Selain itu ada pula pelayanan untuk istirahat yaitu tidur yang membutuhkan sarana perlengkapan tidur. dacin. Setiap hari Jumat Taman Balita Klub Merby memberikan makanan/ minuman tambahan kepada anak balita.Dari hasil evaluasi ini dapat dilihat kemampuan anak balita sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran yaitu terdapat perubahan terutama pada perilaku. cxlvi . sosialisasi. Dilihat dari hasil pekerjaan anak balita terhadap tugas-tugas yang diberikan yaitu hasil tidak diutamakan. yang diutamakan adalah proses pembelajarannya. 8.

Poster. memelihara kebersihan diri. Home Economi Sets. b. mencegah infeksi. lembar balik. Kapsul Yodium. Perlengkapan tidur. Komponen Makanan Pokok Standar Pelayanan e. Blended Food. 2. 3. Sarana Piring. Sirup Fe. 1. sendok. dan f. Paket PMT. leaflet. mengenali tanda bahaya pada anak balita. Modul Simulasi Posyandu. Penyuluhan Gizi Seimbang. dacin. 7) Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Standar pelayanannya antara lain: mengenali secara dini penyimpangan perkembangan serta mengenali cara stimulasi dan intervensi. Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak Pelayanan perawatan kesehatan anak Taman Balita Klub Merby dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 6) Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar pelayanannya antara lain: menjaga anak balita tetap hangat. cxlvii . e. PMT Pemulihan. Istirahat Tidur. standar pelayanan kebutuhan pokok anak sebagai berikut: No. dan f. register. Gizi d. Buku Pedoman Pembuatan Makanan Lokal. Buku Pedoman Kader Posyandu. dan memelihara kebersihan lingkungan anak balita. KMS. PMT Penyuluhan. Vitamin A. Pemberian Paket Pertolongan Gizi. ASI Eksklusif. h. gelas. g.Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:17). Penyuluhan Gizi. Pemberian makanan/ minuman.

10) Kuratif Standar pelayanannya antara lain: Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dan Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). Modul TN BBLR (Pegangan bagi Tenaga Kesehatan). 9) Preventif Standar pelayanannya antara lain: imunisasi pada anak. Buku pegangan Kader Kesehatan. Buku Pedoman Pemantauan Perkembangan Anak di tingkat keluarga. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:18-19). Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Penanggulang an Kecelakaan 3. Mengenali tanda bahaya pada bayi. Buku Pedoman Penanggulangan Kecelakaan 2. 1. dan pemeriksaan tubuh. Memelihara kebersihan diri. dan Materi penyuluhan tentang pencegahan dan penenganan hipotermi bayi. j. cara pemberian makanan pada bayi. k. Memberikan ASI dini dan Eksklusif. dan Lembar balik poster dan leaflet Tahapan Perkembangan Anak. ASI Eksklusif. Pencegahan serta penanggulangan cxlviii . Komponen Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar Pelayanan g.8) Penanggulangan Kecelakaan Standar pelayanannya antara lain: pencegahan serta penanggulangan kecelakaan dan cidera. c. standar pelayanan perawatan kesehatan anak sebagai berikut: No. d. Mengenali cara stimulasi dan intervensi. Menjaga bayi tetap hangat. Mencegah infeksi. pemeriksaan gigi dan mulut. h. Mengenali secara dini penyimpangan perkembangan. Memelihara kebersihan lingkungan anak. l. Sarana Buku KIA (Kesejahteraan Ibu dan Anak). i.

Preventif g. Obat batuk putih. Obat cacing 6 bulan sekali dengan petunjuk dokter. Pemberian vitamin A. B Komplek. dan mata merah. meliputi: panas/ demam. 1 minggu s. 1 minggu sekali secara bergantian. 3 s. Salep hitam (Iontiol). Kotak Obat. Jadwal: Lihat tabel 2. batuk pilek. Kapas. Imunisasi TT pada ibu hamil.kecelakaan dan cidera. Providon Iqdine. standar pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu: Standar Pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sarana Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS d. Obat-obat P3K. Gentian Violet. j. bisul. Tensoplast. Pemeriksaan tubuh.d 1 bulan sekali. h. diare. Gunting. Imunisasi lengkap pada bayi dan anak. Pemeriksaan gigi dan mulut. infeksi kulit (koreng. Salep 2-4/ salep 88. Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). dan Cidera pada Usia Balita di rumah tangga. i. Verban. l. Tetes mata 5. Obat merah. C c. k. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:20).d 6 bulan sekali. Oralit. Kuratif c. 4. sariawan.2a. kudis). Obat-obatan P3P seperti: Obat turun panas. Pendidikan Anak Usia Dini Pelayanan pendidikan anak usia dini di Taman Balita Klub Merby antara lain: cxlix . Pemberian obat cacing. d. kadas. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan meliputi: luka lecet dan luka bakar. Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Taman Balita Klub Merby memberikan pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada orang tua anak balita.

alat untuk menganyam. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:20). Pengembangan Kemampuan Dasar: Berbahasa. perasaan/ emosi. alat olah raga. puzzle. kubus. daya pikir. boneka. keterampilan. binatang mainan. displin. agama. gelas minum. dan jasmani. alat masakan. daya cipta. kendaraan mainan. TV. alat-alat menggambar. dan kemampuan bermasyarakat. Sarana Buku cerita. dan kemampuan bermasyarakat. Pembentukan Perilaku: Moral. plastisin. alat geometri. alat pertukangan. sikat gigi. e. keterampilan. gambar seri. batu-batuan. radio. alat meronce. balok bangunan. alat musik. tape. Pelayanan ini akan membantu orang tua cl . biji-bijian. agama. daya pikir. perasaan/ emosi.3) Pembentukan perilaku: moral. d. Layanan Bimbingan Sosial Pelayanan bimbingan sosial di Taman Balita Klub Merby diberikan kepada orang tua. 4) Pengembangan kemampuan dasar: berbahasa. daya cipta. dan jasmani. standar pelayanan pendidikan anak usia dini sebagai berikut: Komponen Pendidikan Anak Usia Dini Standar Pelayanan c. displin.

Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. bahan pembelajaran. bercerita. sumber belajar. l. menyanyi. alat/ media belajar. poster. menyanyi. h. 9) Media interaksi (bermain.6 tahun). Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak. menari). 8) Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. dan evaluasi di atas maka pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman cli . 11) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. 12) Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak. menari). booklet. 10) Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:21). Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sarana Model penyuluhan. Media interaksi (bermain. dan APE.dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. kartu tumbuh kembang anak. metode. buku pedoman. j. standar layanan bimbingan sosial sebagai berikut: Komponen Pelayanan bimbingan sosial membantu pertumbuhan dan perkembangan Standar Pelayanan Penyuluhan: g. i. kegiatan belajar mengajar. k. Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan . leaflet. Berdasarkan pembahasan tentang tujuan. Pelayanan yang diberikan dapat berupa penyuluhan tentang: 7) Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan .6 tahun). buku cara penggunaan APE. bercerita.

clii . 6. perpustakaan. bahan pembelajaran. berwarna dan atraktif. sumber belajar yang digunakan adalah sumber belajar alamiah. waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan dua sistem yaitu 3 kali pertemuan dalam satu minggu dan 5 kali pertemuan dalam satu minggu. alat/ media belajar. dan evaluasi yang telah disesuaikan dengan pedoman penyelenggaraan pendidikan pada taman penitipan anak. Dilihat dari bahan pembelajaran. kegiatan belajar mengajar. bahan pembelajaran ditentukan dengan beberapa kriteria yaitu relevan dengan kondisi anak. alat permainan yang digunakan ada dua jenis yaitu dari lingkungan dan APE. tujuan pembelajaran dirancang sesuai dengan tema dan kondisi anak balita. 4. sederhana dan konkrit. dan bermain peran.Balita Klub Merby sudah sesuai dengan pembelajaran anak usia dini. metode pembelajaran digunakan secara bergantian yaitu metode bermain. Alasannya adalah Taman Balita Klub Merby memiliki komponen pembelajaran yang meliputi aspek-aspek: tujuan. berkaitan dengan aktivitas keseharian anak. Berdasarkan data empirik di lapangan maka terdapat beberapa faktor pendukung. bercerita. Tujuannya yaitu agar anak tidak cepat bosan. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar. Satu kali pertemuan adalah 120 menit setiap harinya. Dilihat dari sumber belajar. 2. bercakap/ berdialog. 3. serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan. aman dan tidak membahayakan. eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu. dan alat peraga. Dilihat dari alat/ media belajar. Dilihat dari tujuan. sumber belajar. 5. Dilihat dari metode. bernyanyi. metode. media cetak dan elektronik. antara lain: 1.

cliii . Dilihat dari alat/ media belajar. antara lain: 1. 2.7. tujuan pembelajaran tidak seluruhnya tercapai sesuai dengan perencanaan. ada beberapa orang tua yang tidak kooperatif bila anak balitanya jarang masuk sehingga menghambat proses evaluasi. 7. Berdasarkan data empirik di lapangan maka terdapat beberapa faktor penghambat. evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan. serta tidak dapat mengendalikan emosi secara wajar. malu-malu. 3. Dilihat dari evaluasi. sumber belajar seperti alat peraga kurang lengkap. dalam kegiatan belajar mengajar terkadang anak balita tidak mandiri. Dilihat dari tujuan. jumlah APE tidak sebanding dengan jumlah anak balita. anak balita cepat bosan terhadap pembelajaran sehingga metode pembelajaran harus bervariasi. Jumlah anak balita terlalu banyak dan sebagian besar belum dapat berkomunikasi dengan baik sehingga kegiatan belajar menagajar kurang lancar. 5. Dilihat dari metode. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar. Selain itu komponen pembelajaran di Taman Balita Klub Merby juga memiliki kekurangan-kekurangan yang akan menjadi faktor penghambat. 6. bahan pembelajaran kurang memadai. Dilihat dari bahan pembelajaran. Dilihat dari sumber belajar. Dilihat dari evaluasi. 4.

sumber belajar. Bahan Pembelajaran Dalam menentukan bahan pembelajaran harus disesuaikan dengan Menu Pembelajaran dari Pendidikan Anak Usia Dini dan disesuaikan pula dengan tingkat kemampuan anak. Dalam hal ini tujuan harus disesuaikan dengan pendidikan anak usia dini dan kondisi anak balita termasuk tugas-tugas perkembangan anak balita. kegiatan belajar mengajar. metode. Rasa keingintahuan anak balita cukup besar sehingga para pendidik dan orang tua harus memberikan bimbingan kepada mereka. dan evaluasi yang diterapkan di Taman Balita Klub Merby adalah: a. 143 c. maka peneliti menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1.BAB V PENUTUP A. b. Pola pembelajaran taman penitipan anak yang meliputi aspek-aspek tujuan. bahan pembelajaran. alat/ media belajar. Suatu pola pembelajaran tidak dapat dipaksakan kepada anak balita karena mereka memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kegiatan Belajar Mengajar cliv . Tujuan Tujuan pembelajaran ditentukan oleh Pimpinan dan Pendidik. Kesimpulan Berdasarkan analisis data seperti terurai di atas.

b. Sumber Belajar Sumber belajar yang digunakan adalah sumber belajar alamiah. f. 2. Dilihat dari bahan pembelajaran. berwarna dan atraktif. Metode Metode yang digunakan adalah metode bermain. media cetak dan elektronik. berdialog/ bercakap. sederhana dan konkrit. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar. e. dan bermain peran. serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan. eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu. Evaluasi Evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan. c. Faktor pendukung Taman Balita Klub Merby antara lain: a. tujuan pembelajaran dirancang sesuai dengan tema dan kondisi anak balita. bernyanyi. bahan pembelajaran ditentukan dengan beberapa kriteria yaitu relevan dengan kondisi anak. perpustakaan. d. alat peraga. berkaitan dengan aktivitas keseharian anak. Dilihat dari tujuan.Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sesuai jadwal yang telah dibuat dengan persetujuan Pimpinan. Pendidik dapat menyampaikan hasil evaluasi secara langsung dan melalui buku hasil evaluasi bulanan. bercerita. g. aman dan tidak membahayakan. waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan dua sistem yaitu 3 kali pertemuan clv . dan nara sumber (bila ada). Alat/ Media Belajar Alat/ media belajar yang digunakan adalah alat permainan dari lingkungan dan APE.

Tujuannya yaitu agar anak tidak cepat bosan. perpustakaan.dalam satu minggu dan 5 kali pertemuan dalam satu minggu. dalam kegiatan belajar mengajar terkadang anak balita tidak mandiri. g. Dilihat dari evaluasi. media cetak dan elektronik. Dilihat dari alat/ media belajar. tujuan pembelajaran tidak seluruhnya tercapai sesuai dengan perencanaan. Dilihat dari sumber belajar. Dilihat dari tujuan. c. serta tidak dapat mengendalikan emosi secara wajar. f. clvi . Satu kali pertemuan adalah 120 menit setiap harinya. Dilihat dari metode. dan bermain peran. bernyanyi. Faktor penghambat Taman Balita Klub Merby antara lain: a. evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan. malu-malu. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar. d. Jumlah anak balita terlalu banyak dan sebagian besar belum dapat berkomunikasi dengan baik sehingga kegiatan belajar menagajar kurang lancar. sumber belajar yang digunakan adalah sumber belajar alamiah. alat permainan yang digunakan ada dua jenis yaitu dari lingkungan dan APE. metode pembelajaran digunakan secara bergantian yaitu metode bermain. bercakap/ berdialog. Dilihat dari bahan pembelajaran. bahan pembelajaran kurang memadai. bercerita. e. anak balita cepat bosan terhadap pembelajaran sehingga metode pembelajaran harus bervariasi. b. d. dan alat peraga. 3. Dilihat dari metode.

e. Dilihat dari alat/ media belajar. alangkah baiknya untuk selalu dipertahankan yaitu dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Taman Balita Klub Merby. Dilihat dari evaluasi. kegiatan belajar mengajar. bahan pembelajaran. maka saran yang diajukan adalah: 1. Berkaitan dengan faktor-faktor penghambat yang terdapat di Taman Balita Klub Merby. g. f. B. alat/ media belajar. 3. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas. dan evaluasi maka diharapkan semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby untuk selalu menjalin kerjasama dengan pihak luar seperti orang tua anak balita dan instansi-instansi yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini. sumber belajar seperti alat peraga kurang lengkap. sumber belajar. Berkaitan dengan pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek tujuan. metode. jumlah APE tidak sebanding dengan jumlah anak balita. 2. Berkaitan dengan faktor-faktor pendukung yang terdapat di Taman Balita Klub Merby. ada beberapa orang tua yang tidak kooperatif bila anak balitanya jarang masuk sehingga menghambat proses evaluasi. Dilihat dari sumber belajar. ada baiknya untuk diminimalkan yaitu dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana seperti pengadaan alat permainan clvii . Dengan demikian pelaksanaan pola pembelajaran di Taman Balita Klub Merby akan berjalan dengan baik.

2003. 02 Agustus 2003 halaman 34 clviii . Sumber Belajar dan Alat Permainan (untuk Pendidikan Anak Usia Dini). suaramerdeka. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Htm. (http: // www. diakses 20 Maret 2003) Anggani Sudono. 2000. Anak-anak Malah Rajin Membuat PR. Jakarta: PT. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya Agus Toto W. Tempat Bermain itu Bernama Penitipan Anak (1).terutama APE dan pengadaan alat peraga serta meningkatkan fasilitasfasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby. 2001.com/ harian/ 0303/ 13/ nas 8. Grasindo Buletin PADU Vol 2 No. DAFTAR PUSTAKA Agus Salim. (Online).

2003. Remaja Rosdakarya Max Darsono dkk. Jakarta: Delapratasa Publishing Hibana S. Bandung: PT. 2002. Sinar Baru Algensindo Robert K. Bermain dan Kreativitas. 2000. Studi Kasus di Panti Sosial “Kasih Mesra” Demak. Bandung: Falah Production Elizabeth G. 2002. Jakarta: PT. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Yin. Moleong. Semarang: CV. Tedjasaputra. Jakarta: Papas Sinar Sinanti Slamet Suyanto. Bandung: Alfabeta Suharsimi Arikunto. Skripsi tidak diterbitkan. Pelayanan Sosial Taman Penitipan Anak.Catur Sri Sapanta. Studi Kasus Desain dan Metode. Grasindo Nana Sudjana. Bermain. Yogyakarta: PGTKI Press Lexy J. 2003. Raja Grafindo Persada Seto. 2000. Strategi Pembelajaran. Rahman. 2004. IKIP Semarang Press Mayke S. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Departemen Pendididkan Nasional Djudju Sudjana. 2003. Jakarta: PT. 2000. 2001. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT. 2003. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT. 2002. 2005. Semarang: FIS UNNES Departemen Pendididkan Nasional. Memahami Penelitian Kualitatif. dan Permainan. 2003. Hainstock. 1998. Mainan. 2002. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Upaya Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui program Bermain. Tidak diterbitkan Soemiarti Patmonodewo. Terjemahan oleh Hermes. Jakarta: PT. Rineka Cipta Sugiyono. Montessori untuk Pra-sekolah. Metodologi Penelitian Kualitatif. Universitas Negeri Yogyakarta. Rineka Cipta clix .

Gulo. 2002. Profil Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini. 2002. Semarang: FIP UNNES Syaiful Djamarah dan Aswan Zain. Jakarta: Balai Pustaka Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Studi Kasus Kelompok Bermain di BP-PLSP JawaTengah. Strategi Belajar Mengajar. 2004. Strategi Belajar Mengajar. 1990. Jakarta: PT. Skripsi tidak diterbitkan. Grasindo clx . Rineka Cipta Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jakarta: PT. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional W. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (PAUD).Sutrisno. 2003.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful