You are on page 1of 14

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Nyeri merupakan keadaan ketika individu mengalami sensassi
ketidaknyamanan dalam merespon suatu rangsangan yang tidak
menyenangkan(Lynda Juall,2012). Nyeri merupakan kondisi berupa tidak
menyenangkan berupa sifat sangat subjektif karena perasaan nyeri
berbeda-beda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya dan
hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi rasa
nyeri yang dialaminyan(Aziz 2014). Nyeri diartikan berbeda-beda antar
individu, bergantung pada persepsinya. Walaupun demikian ada satu
kesamaan dalam persepsi nyeri secara sederhana nyeri dapat diartikan
sebagi suatu sensasi yang tidak menyenangkan.baik secara sensori maupun
emosional yang berhubngan dengan adanya suatu jaringan atau factor
lain,sehingga individu merasa tersiksa menderita yang akhirnya akan
mengganggu aktifitas sehari-hari psikis dll.(Asmadi2008)

Dari pemgertian diatas dapat disimpulkan bahwa nyeri adalah
keadaan individu mengalami sensasi ketidak nyamanan baik secara
sensorik maupun emosional yang berhubungan dengan adanya suatu
jaringan atau factor lain sehingga dapat mengganggu aktifitas sehari-hari
psikis dan lain-lain.

B. Fisiologi nyeri
1. Mekanisme neuro fisiologi nyeri
Struktur spesifik dalam sistem syaraf terlihat dalam mengubah
stimulus menjadi sensasi nyeri.
2. Transmisi nyeri
Reseptor nyeri (nosiseptor) adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang
direspon hanya pada stimulus yang kuat,yang secara potensial
merusak.

1

Nyeri akut Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual dan fungsional. proses berpilur j. Focus menyipit(penurunan persepsi waktu tempat dan orang. Tingkah laku ekspresif gelisah merintih nafas panjang mengeluh m. Posisi untuk mengurangi nyeri d. Bentuk nyeri a.dengan onsep mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3bulan b.suhu tubuh. Respon otonom(perubahan tekanan darah. Perubahan nafsu makan 2 . Muka dengan ekspresi nyeri g. ETIOLOGI Factor resiko 1.dengan onsep mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan. Nyeri kronik Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual dan fungsional. Menunjukkan kerusakan c. Nyeri akut a. Gangguan tidur (mata sayu. Focus pada diri sendiri i. Gerakan untuk melindungi e.dilatasi pupil) l. Tingkah laku berhati-hati f. Melaporkan nyeri secara verbal dan non verbal b. 3.nada.yang berlangsung lebih dari 3 bulan C.tampak lingkaran hitam) h. Tingkah laku distraksi k.

gesekan. dingin. Peradangan 4. focus pada diri sendiri d. Menun jukan gerakan melindungi. Trauma fisikologis Factor presipitasi a. depresi. b. Perubahan pola tidur e. Trauma a. Thermos sama dengan nyeri timbul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat panas. Melaporkan secara verbal dan nonverbal c. c. Khermis samadengan nyeri timbul karena kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau basa kuat. Nyeri kronis a. misalnya akibat benturan. luka. Kelelahan f. 2.2. d. Atrofi yang melibatkan beberapa otot g. Suhu ekstrim 3 . Kelainan pembuluh darah dan gangguan sirkulasi darah 5. Elektrik : nyeri timbul karena pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri yang menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar. Interaksi dengan orang lain menurun Factor predisposisi 1. Neoplasma bersifat jinak maupun panas 3. gelisah. Takut cidera h. Mekanik sama dengan rasa nyeri timbul akibat ujung sarat bebas mengalami kerusakan. Lingkunagan b. Perubahan berat badan b. Misalnya api atau air panas.

hipoksia.tetapi sebagian besar berjalan ke thalamus. ion kalium. Emosi D. Kegiatan d. bradikinin. defomarsi. Patofisiologi Reseptor nyeri disebut nosiseptor. reseptor-reseptor lain misalnya badan pacini dan meissner juga mengirim informasi yang dipersepsikan sebagai nyeri. atau kematian sel. nyeri lambat (slow pain) disalurkan ke korda spinalis oleh serat C lambat. Nosiseptor mencakup ujung- ujung saraf bebas yang berespon terhadap berbagai rangsangan termasuk tekanan mekanis. Setelah dikorda sprinalis.sebagian dari serat tersebut berakhir di reticular activatining sitem dan menyiagakan individu terhadap adanya nyeri. sinyal-sinyal dikirim ke korteks sensorik somatic tempat lokasi nyeri ditentukan dengan pasti(Corwin. Zat- zat kimia yang memperparah nyeri antara lain adalah histamine. Serat-serat C tampak mengeluarkan neurotransmitter substansi P sewaktu bersinabs dikorda spinalis. informasi mengenai rangsangan nyeri dikirim oleh 1 dari 2 jarak ke otak traktur neospinotalamikus atau fraktus paleospinotalamikus(Corwin. suhu ekstrim. Masing-masing xat tersebut tertimbun di tempat cidera. Namun.setlah mengaktifkan sel-sel dikorda spinalis.2000:225) Informasi yang dibawa ke korda spinalis dalam serat-serat A delta disalurkan ke otak melalui serat-serat fraktus neospinotalamukus. dan berbagai bahan kimia. c. sebagian besar serat nyeri bersinaps di neuron-neuron tanduk dorsal dari segmen.2000:225) Informasi yang dibawa ke korda spinalis oleh serat-serat C dab sebagian oleh serat-serat A delta disalurkan melalui serat-serat faktus paleospinotalamicus.sebagian serat berjalan ke atas atau kebawah beberapa segmen dikorda spinalis sebelum bersinaps. Pada rangsangan yang intensif. Serat-serat ini berjalan kedaerah reticular dibatang 4 . dan ion hydrogen. Nyeri cepat (fast pain) disalurkan ke korda spinalis oleh serat A delta. serotonin. beberapa prostaglandin. Dari thalamus.

Pradikinin. dan ke daerah dimesefensefalon yang disebut daerah Griseaperiakuaduktus serat-serat paleospinotalamicus yang berjalan melalui daerah reticular berlanjut untuk mengaktufkan hipotalamus dan sistem limbic. otak.2000:225) E.ion kalsium. Nyeri yang dibawadalam fraktus paleospinotalamik memiliki lokalisasi yang difus dan berperan menyebabkan distress emosi yang berkaitan dengan nyeri(Corwin. dll) Tekanan mekanisme dan detormasi suhu ekstrim Merangsang nosiseptor (Reseptor nyeri) Dihantarkan Serabut tipe A.C Medulla spinalis System Aktivasi System Aktivitas Retikuler Area Periakueduktus Retikular Grisea Thalamus Hypothalamus dan system limbic Thalamus Otak (korteks somatosensorik) Gangguan Pola Tidur Persepsi Nyeri Nyeri Akut Nyeri Kronik 5 . Pathway Agen Pencetus (Agen Cedera Fisik dan Agen Cedera Biologis) Kematian Sel Pelepasan Mediator Nyeri (Histamin.serotonin.Prostaglandin.

Penurunan rentang perhatian G. Meringis 2. Mendengkur b. Mengeletuk gigi 3. Peningkatan gerakan jari dan tangan 5. Apakah nyeri ringam. sedang atau berat ? 2. Gelisah 2. Faktor yang mempengaruhi nyeri 1. Ekspresi 1. Menghindari percakapan 2. Manifestasi Klinis a. Ketegangan otot 4. Gerakan ritmik atau menggosok 6.F. Mengernyit dahi 4. S =squerty = intensitas nyeri 1. Pada orang dewasa kadang 6 . Gerakan Tubuh 1. Interaksi Sosial 1. Vakolasi 1. Usia Anak belum bisa mengungkapkan nyeri. Menggigit bibir c. mulut dengan rapat 5. Menghindari kontak social 4. sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Mengaduh 2. Menangis 3. Imobilisasi 3. Menutup mata. Gerakan melindungi bagian tubuh d. Focus hanya pada aktivitas untuk menghilangkan nyeri 3. Sesak nafas 4. Seberapa berat nyeri yang dirasakan e.

Farmakologi a. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan 1. 4. Keluarga dan Support Sosial Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan. 2.2006) 3. Budaya Perbedaan budaya akan mempunyai pemahaman yang lebih besar tentang nyeri pasien dan akan lebih akurat dalam mengkaji nyeri dan respon-respon prilaku terhadap nyeri juga efektif dalam menghilangkan nyeri pasien (Smeltzere & Bare. 6. karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami. Ansietas Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas. 2003). H.mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan. Secara terus- menerus klien kehilangan kontrol dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan dan merasa nyeri. 5. Analgesik Narkotik 7 . Jenis kelamin Masih diragukan bahwa jenis kelamin merupakan factor yang berdiri sendiri dalam ekspresi nyeri (Potter & Perry. Pola Koping Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sakit adalah hal yang sangat tak tertahankan. melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi.

8 . 2006). stress fisik. penggunaan obat ini menimbulkan efek menekan pusat pernafadsan di medulla batang otak sehingga perlu pengkajian secara teratur terhadap perubahan terhadap status pernafasan jika menggunakan analgesic jenis ini (Smeltezer & Bare. Analgesik Non Narkotik Analgesic non narkotik seperti aspirin. Placebo umumnya terdiri dari larutan gula. 2001). Relaksasi Progresif Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan stress. Non Farmakologi a. Narkotik dapat memberikan efek penurunan nyeri dan kegembiraan karena obat ini mengadakan ikatan dengan reseptor opiate dan mengatifkan penekan nyeri endogen pada susunan saraf pusat (samsuri. 2007). b. atau air biasa (Tamsuri. dan ibuprofen selain memiliki efek anti nyeri juga memiliki efek anti inflamasi dan anti piretik.2007). cairan injeksi. Teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri. b. 2001). Efek samping yang paling umum terjadi adalah gangguan pencernaan seperti ulkus gaster dan peradangan gaster. dan emosi pada nyeri (Potter & Perry. c. Analgesik narkotik terdiri dari berbagai derivate opium seperti morfin dan kodein. Stimulasi Kutaneus Plasebo Placebo merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai obat seperti kapsul. dan sebagainya. larutan salin normal. Namun. asetaminofen. Obat golongan ini menyebabkan penurunan nyeri dengan menghambat produksi prostalglandin dari jaringhan yang mengalami trauma atau inflamasi (Smeltezer & Bre.

) Nyeri dirasakan seperti apa? 2.) Apakah nyeri dirasakan tajam. R=Region : Lokasi nyeri 1.) Apakah nyeri ringan sedang atau berat? 2. Q=Quality : Kualitas nyeri 1.) Apa yang mengurangi nyeri? b. Pemeriksaan LAB sebagai data penunjang pemeriksaan lainnya d.S.) Berapa lama nyeri dirasakan? 2. ditekan dengan berat. P=Problem : Pencetus nyeri Faktor-faktor yang merangsang nyeri 1. tumpul. Pengkajian status nyeri dilakukan dengan pendekatan P.) Apakah nyeri terus menerus atau kadang-kadang? Macam Skala Nyeri Skala Numerik 9 . I. Pemeriksaan USG untuk data penunjang apabila ada nyeri tekan di abdomen b. Pemeriksaan Penunjang a. atau dicekik? c.) Seberapa berat nyeri yang dirasakan? d. CT Scan (cidera kepala) un tuk mengetahui adanya pembuluh darah yang pecah di otak J.R.) Apa yang membuat nyeri bertambah buruk? 2. 996). Teknik Distraksi Distraksi merupakan metode menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan perhatian pasien pada hal-hal lain sehingga pasien akan lupa terhadap nyeri yang dialami (Priharjo. Rontgen untuk mengetahui tulang atau organ dalam abnormal c.Q. c. T=Time : Waktu 1.T yaitu: a. berdenyut seperti diiris.

tidak dapat diatasi dengan alih posisi napas panjang dan distraksi. Skala Numeris Keterangan : 0 : Tidak nyeri 1-6 : Nyeri sedang 7-10 : Nyeri hebat 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skala Deskriptif Keterangan: 0 : Tidak Nyeri 1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik. 10 .Macam Skala Nyeri 1. dapat menunjukan lokasi nyeri. dapat mendeskripsikannya. dapat menunjukan lokasi nyeri. dapat mengikuti perintah dengan baik. 4-6 :Nyeri sedang : secara obyektif klien mendesis. 7-9 :Nyeri berat: secara obyektif klien terkadang tidak bias mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan. menyeringai. tidak dapat mendeskripsikannya.

10 :Nyeri sangat berat : pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi. memukul (Potter & Perry.2005) 11 .

Nyeri akut berhubungan dengan pencedera fisiologis 2. perasaan kontrol nyeri misalnya nafas dan meningkatkan 2. Intervensi No. Mengetahui tindakan keperawatan reaksi nonverbal indicator nyeri selama 3x24 jam ketidaknyamanan (respon pasien) diharapkan nyeri 2. N = lakukan 2. Setelah dilakukan 1. Mampu mengontrol teknik relaksasi. O = observasi 1. Diagnosa Keperawatan Diagnose Keperawatan Menurut SDKI. meliputi: 1.K. Mengatakan rasa dalam kemampuan nyaman setelah 4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri L. K = kolaborasi koping nyeri berkurang dengan tim medis 4. Nyeri kronis berhubungan dengan kontrol nyeri yang tidak ade kuat 3. Mengetahui daerah pasien dapat pengkajian secara nyeri. E = anjurkan 3. Mmembantu dalam pemberian mempercepat obat proses penyembuhan pasien 12 . Meningkatkan 1. Tujuan Rencana Rasional Dx Keperawatan 1. kualitas. berkurang dengan komperhensif factor pencetus kriteria hasil : 3.

N = catat vital rentang berkurang dengan karakteristik normal criteria hasil : nyeri 5. Mampu dengan tim medis jam tidur mengidentifikas dalam pemberian Untuk ikan hal-hal obat mempercepat yang proses meningkatkan penyembuhan tidur 13 . Klien sudah 8. E = ajarkan mempermuda menahan nyeri tehnik relaksasi h dalam 2. Untuk tidak menahan nyeri memberikan memberikan terapi terapi yang sesuai dalam mengatasi nyeri 7. Untuk dalam batas pentingnya memeberik normal 6-8 tidur yang an jam/hari adekuat informasi 2. Untuk tindakan keperawatan tanda-tanda vital mengetahui selama 3x24 jam pasien tanda-tanda diharapkan nyeri dapat 6. Raut muka tidak 7.2. Jumlaj jam tidur 2. E : tentang kualitas dalam Instruksikan pentingnya batas normal untuk tidur 3. Setelah dilakukan 5. O = observasi 4. O : Monitor 1. Perasaan segar memonitor 3. Setelah dilakukan 1. K = kolaborasi tindakan tidak menahan nyeri dengan dokter pengobatan 3. Untuk sesudah tidur tidur pasien mengetahu atau istirahat K : Kolaborasi i berapa 4. Untuk 1. Untuk tindakan keperawatan makan dan mengetahu diharapkan pola tidur minum i dapat teratasi dengan dengan kebutuhan kriteria hasil : waktu tidur nutrisi 1. Klien sudah untuk 6. Agar istirahat tidurnya terpenuhi 3. N : Jelaskan 2. Pola tidur 3.

S : Nyeri berkurang O: Pasien dapat mengontrol nyeri Ekspresi wajah tenang Skala nyaeri 5-3 A : Diisi sesuai dengan tercapainya dalam mengatasi masalah P : Diisi dengan renmcana tindakan selanjtnya 14 . Evaluasi Evaluasi terhadap masalah nyeri bila teratasi dengan melakukann manajemen nyeri.M. serta pasien dapat beraktifitas tanpa mengganggu dengan adanya nyeri lagi yang diharapkan nyeri hiang.