You are on page 1of 34

JURNAL

PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA ANTARA PT. FIF GROUP


KUPANG DENGAN PEKERJA KONTRAK YANG DIBERHENTIKAN
DALAM MASA KONTRAK

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk


Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum
Universitas Nusa Cendana

OLEH
GUNTUR C.H. MANIMAU
1002012210

UNIVERSITAS NUSA CENDANA


FAKULTAS HUKUM
KUPANG
2017
PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA ANTARA PT. FIF GROUP KUPANG
DENGAN PEKERJA KONTRAK YANG DIBERHENTIKAN DALAM MASA
KONTRAK

Guntur C.H. Manimau

Mahasiswa Fakultas Hukum UNDANA

ABSTRAK
Guntur C.H. Manimau, Hukum Perdata, Fakultas Hukum, Universitas
Nusa Cendana Kupang, 2017, dengan Judul PELAKSANAAN
PERJANJIAN KERJA ANTARA PT. FIF GROUP KUPANG DENGAN
PEKERJA KONTRAK YANG DIBERHENTIKAN DALAM MASA
KONTRAK. yang menjadi pembimbing I : Sukardan Aloysisus, SH. M.Hum
dan pembimbing II : Petornius Damat, SH.LLM.
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini yaitu:
1) Bagaimana pelaksanaan perjanjian kerja antara PT. FIF Group Kupang
dengan pekerja kontrak yang diberhentikan dalam masa kontrak. 2)
Bagaimana upaya penyelesaian bagi pekerja kontrak yang diberhentikan
dalam masa kontrak.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
berupa penelitian empiris karena mengkaji peraturan perundang-undangan
yang dikaitkan dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Teknik
pengumpulan data melalui wawancara yaitu pengumpulan data secara
langsung dari responden dalam bentuk tanya jawab di lengkapi dengan
pedoman wawancara dan studi kepustakaan yakni meneliti literatur-literatur
yang berkaitan dengan masalah penelitian.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Pelaksanaan perjanjian
kerja waktu tertentu yang dibuat antara pekerja kontrak dengan pihak
perusahaan dalam hal ini PT. FIF Group Kupang sudah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang mana sudah memenuhi syarat-
syarat perjanjian kerja waktu tertentu (pekerja kontrak). Sedangkan upaya
penyelesaian bagi pekerja kontrak yang diberhentikan dalam masa kontrak
menempuh dua cara yaitu Bipartit dan Tripartit. Bipartit dilakukan secara
musyawarah dan tripartit dilakukan dengan adanya pihak ke 3 yaitu Dinas
ketenagakerjaan.
A. PENDAHULUAN
Tersedianya lapangan kerja baru untuk mengatasi meningkatnya

permintaan kerja merupakan salah satu target yang harus dicapai oleh

pemerintah untuk mengatasi melonjaknya angka pengangguran dalam

pembangunan ekonomi baik di Pusat maupun di Daerah. Untuk mewujudkan

penawaran kerja tersebut pemerintah melalui peningkatan pertumbuhan

ekonomi di segala sektor, khususnya investasi langsung (direct investment)

terutama pada sektorsektor yang bersifat padat karya dan jangka pendek,

seperti konstruksi, infrastruktur maupun industri pengolahan. Sementara pada

sektor jasa, misalnya melalui perdagangan maupun pariwisata. Tenaga kerja

adalah seseorang yang telah siap masuk dalam pasar kerja sesuai dengan upah

yang ditawarkan oleh penyedia pekerjaan, (http://bimakab.go.id/index).

Jumlah tenaga kerja dihitung dari penduduk usia produktif (umur 15 thn 65

thn) yang masuk kategori angkatan kerja ( labour force).

Pembangunan nasional adalah semua kegiatan untuk tercapainya

pembaharuan ke arah yang lebih baik, dan untuk menciptakan masyarakat

yang adil dan makmur. Pada hakekatnya pembangunan nasional merupakan

pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat

Indonesia seluruhnya. Dalam Pelaksanaan pembangunan nasional tersebut,

tenaga kerja merupakan salah satu ujung tombak sebagai unsur penunjang

yang mempunyai peran yang sangat penting bagi keberhasilan pembangunan,

sehingga kebijakan dibidang ketenagakerjaan dalam program pembangunan


nasional selalu diusahakan pada terciptanya kesempatan kerja sebanyak

mungkin diberbagai bidang usaha yang diimbangi dengan peningkatan mutu

dan peningkatan perlindungan terhadap tenaga kerja. Hal ini berlaku pada

semua bidang kerja dan bersifat menyeluruh pada semua sektor.

Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi mengakibatkan

jumlah angkatan kerja setiap tahunnya semakin meningkat sedangkan

kesempatan kerja yang tersedia belum dapat memenuhi kebutuhan kerja yang

tersedia sesuai dengan jumlah pencari kerja yang ada. Hal ini mengakibatkan

ketidak seimbangan antara besarnya jumlah penduduk yang membutuhkan

pekerjaan dengan kesempatan kerja yang tersedia. Apalagi saat ini ditambah

dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan

kerja dari perusahaan tempatnya bekerja. Adanya masalah kekurangan

kesempatan kerja ini membuat banyak terjadi pengangguran di Indonesia,

(Skripsi. Nur Ramadani. 2011:13).

Di lain pihak ditinjau dari segi mutu tenaga kerjanya, tenaga kerja

Indonesia belum mempunyai keunggulan kompetitif jika dibandingkan dengan

negara-negara maju di dunia. Keunggulan kompetitif yang disini adalah

keunggulan dalam hal penguasaan teknologi, (Skripsi. Nur Ramadani.

2013:13). Padahal di tengah kemajuan dunia yang sangat pesat sekarang ini

tenaga kerja dituntut lebih menguasai dibidang teknologi. Dengan adanya

masalah seperti ini membuat bangsa Indonesia kadang-kadang masih belum

dapat memenuhi sendiri kebutuhan tenaga kerja yang menguasai teknologi,


padahal ditinjau dari kuantitas, Indonesia mempunyai banyak sekali tenaga

kerja yang akan memasuki dunia kerja.

Kondisi di Negara berkembang pada umumnya memiliki tingkat

pengangguran yang jauh lebih tinggi dari angka resmi yang dikeluarkan oleh

pemerintah. Hal ini terjadi karena ukuran sektor informal masih cukup besar

sebagai lapangan nafkah bagi tenaga kerja tidak terdidik. Sektor informal

tersebut dianggap sebagai katup pengaman bagi pengangguran. Angka resmi

tingkat penganguran umumnya menggunakan indikator pengangguran

terbuka, yaitu jumlah angkatan kerja yang secara sungguh sungguh tidak

bekerja sama sekali dan sedang mencari kerja pada saat survei dilakukan,

(Firda Oktariyana, hlm. 23).

Sementara yang setengah pengangguran dan pengangguran

terselubung tidak dihitung dalam angka pengangguran terbuka, karena mereka

masih menggunakan waktu produktifnya selama seminggu untuk bekerja

meskipun tidak sampai 35 jam penuh. Dalam memasuki dunia kerja para

pekerja kadang sering mendapatkan masalah salah satunya tentang karyawan

yang diberhentikan dalam masa kontrak, yang kadang kala para pekerja awam

tidak mengerti tentang hal tersebut. Kadang kala para pengusaha sewenang

wenang dalam memberhentikan karyawan, menjadi suatu permainan para

pengusaha, salah satunya adalah mencari-cari kesalahan pekerja yang ingin

diberhentikan agar mendapatkan suatu alasan mengapa pekerja tersebut


diberhentikan yang seharusnya masalah tersebut cenderung mengada ada,

sehingga tenaga kerja yang tidak berdaya yang menjadi korban

B. RUMUSAN MASALAH

1) Bagaimana pelaksanaan perjanjian kerja antara PT. FIF Group Kupang

dengan pekerja kontrak yang diberhentikan dalam masa kontrak?

2) Bagaimana upaya penyelesaian bagi pekerja kontrak yang diberhentikan?

C. PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat FIF

PT Federal International Finance (FIF) didirikan dengan nama PT

Mitra pusaka Artha Finance pada bulan Mei 1989. Berdasarkan ijin usaha

yang diperolehnya, maka Perseroan bergerak dalam bidang Sewa Guna

Usaha, Anjak Piutang dan Pembiayaan Konsumen.

Pada tahun 1991, Perseroan merubah nama menjadi PT Federal

International Finance Namun seiring dengan perkembangan waktu dan guna

memenuhi permintaan pasar, Perseroan mulai memfokuskan diri pada bidang

pembiayaan konsumen secara retail pada tahun 1996. Ketika badai krisis

moneter mulai menerpa pada tahun 1997, saat itu pula merupakan titik balik

bagi Perseroan untuk melakukan konsolidasi internal dalam rangka persiapan

menuju ke suatu sistem komputerisasi yang tersentralisasi dan terintegrasi.

Walaupun krisis moneter tersebut di luar dugaan berkembang menjadi krisis


multidimensi, namun berkat kerja keras jajaran Direksi beserta seluruh

karyawan Perseroan tetap dapat berjalan.

Perseroan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT Astra

International, Tbk ini, tahun demi tahun lebih memantapkan dirinya sebagai

perusahaan pembiayaan terbaik dan terpercaya di industrinya, sehingga pada

saat penerbitan obligasi pertama tahun 2002 hingga obligasi kelima tahun

2004 mendapatkan tanggapan yang positif dari para investor.

1. Pelaksanaan Perjanjian Kerja Antara PT. FIF Group Kupang Dengan

pekerja Kontrak Yang Diberhentikan Dalam Masa Kontrak

a) Syarat-syarat dari perjanjian pekerja kontrak yang diberhentikan

dalam masa kontrak

Perjanjian kerja merupakan bagian dari perjanjian pada umumnya

dikenal dengan istilah perikatan yang di atur di dalam buku III Kitab Undang-

Undang hukum perdata (KUH Perdata), dari perjanjian kerja di kenal istilah

kontrak kerja yang pada dasarnya antara perjanjian kerja dengan kontrak kerja

memiliki makna dan tujuan yang sama yaitu: Sebagai suatu kesepakatan kerja

yang di buat oleh pihak perusahaan dengan pekerjanya, yang memiliki tujuan

untuk mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak secara timbal balik

yang membawa akibat hukum di dalamnya.

Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian kerja waktu tertentu telah

diatur dalam Kepmen Nomor: Kep.100/MEN/VI/2004 tentang pelaksanaan

perjanjian kerja waktu tertentu, dan pasal 59 ayat (3) undang-undang No 13


Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam membuat suatu kesepakatan

kerja tertentu batasnya 2 ( dua) tahun dan dapat diperpanjang dan diperbaruhi

untuk satu kali saja karena suatu hal yang tertentu. Perpanjangan tersebut

hanya dapat dilakukan 1 (satu) tahun kesepakatan kerja waktu tertentu tidak

boleh lebih dari 3 (tiga) tahun.

Perjanjian kerja waktu tertentu yang dibuat antara PT. FIF Group

kupang dengan tenaga kerja sifatnya tertulis artinya perjanjian kerja waktu

tertentu itu ada sejak adanya ikatan sepakat dalam artinya perjanjian kerja

waktu tertentu dibuat bersama antara perusahaan dengan tenaga kerja dengan

demikian dengan adanya kata sepakat merupakan sahnya suatu kontrak.

Berdasarkan data dan informasi dari hasil penelitian data sekunder

yang berupa blanko perjanjian Kerja, yang ditanda tangani oleh calon pekerja

diterima sebagai pekerja pada PT. FIF Group Kupang. Hubungan kerja PT

FIF Group Kupang dengan tenaga kerja terjadi setelah adanya perjanjian

kerja.

Adapun isi perjanjian kerja untuk waktu tertentu di PT. FIF Group

Kupang memuat:

1) Identitas para pihak (Nama, yang diwakili oleh, jabatan, Nomor

pengenal KTP, tempat dan tanggal lahir ,alamat)

2) Status dalam hubungan kerjanya (perjanjian kerja untuk waktu

tertentu)

3) Jabatan atau jenis pekerjaan


4) Jangka waktu berlakunya perjanjian kerja untuk waktu tertentu

5) Besarnya upah dan cara pembayaran

6) Sanksi maupun kesanggupan dalam perjanjian kerja untuk waktu

tertentu

Perjanjian kerja untuk waktu tertentu di PT FIF Group Kupang telah

dibuat secara tertulis dan menggunakan bahasa Indonesia dan huruf latin, serta

telah memenuhi syarat-syarat, antara lain:

a. Harus mempunyai jangka waktu tertentu; atau

b. Adanya suatu pekerjaan yang selesai dalam waktu tertentu;

c. Tidak mempunyai syarat masa percobaan.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Frans Budi Sulistyo tanggal 4

april 2017 selaku Kepala Cabang PT. FIF Group Kupang, bahwa sifat

pekerjaan karyawan di PT. FIF Group Kupang, adalah pekerjaan yang sekali

selesai atau sementara sifatnya yaitu pada bagian kolektor, kredit, keamanan

dan cleaning servis.

Hubungan kerja antara perusahaan dengan tenga kerja adalah terikat

dengan suatu ikatan perjanjian, yaitu seseorang yang tidak boleh diperbudak,

maupun diperhambatkan, kesepakatan kerja waktu tertentu merupakan salah

satu sarana dalam rangka pelaksanaan hubungan industrial yang serasi, aman

dinamis berdasarkan pancasila. Tata cara pembuatan kesepakatan kerja waktu


tertentu yang ada perlu dilengkapi dengan berpedoman kepada isi dan jiwa

hubungan industrial pancasila.

Hubungan kerja yang ada di PT. FIF Group Kupang juga berpedoman

pada perjanjian kerja Waktu Tertentu antara PT. FIF Group Kupang dengan

tenaga kerja. Hubungan kerja tersebut berupa hubungan industrial pancasila,

yang bertujuan untuk melancarkan perusahaan baik berstatus tetap maupun

kontrak adalah sama yaitu saling menghormati kedudukan masing-masing dan

saling bekerja sama dalam upaya meningkatkan kesejahtraan pekerja dan

perusahaan.

Perjanjian yang sah adalah perjanjian yang memenuhi syarat-syarat

yang ditentukan undang-undang, demikian halnya perjanjian kerja waktu

tertentu (Pekerja kontrak) yang ada di PT FIF Group. Dalam hal perjanjian

kerja dilakukan oleh calon pekerja sebagai pihak pekerja dan perusahaan

dalam hal ini adalah PT FIF Group merupakan perjanjian baku karena

perjanjian tersebut dibuat secara sepihak oleh perusahaan sedangkan pihak

pekerja tidak di ikut serta kan dalam pembuatan kesepakatan kerja waktu

tertentu tapi pekerja wajib mempelajari isi kesepakatan kerja waktu tertentu

sebelum mendatangani kontrak kerja waktu tertentu.

Dalam tatanan hubungan ketenagakerjaan antara pekerja dengan

pengusaha di PT. FIF Group Kupang belum ada pengaturan dalam bentuk

Kontrak Kerja Baku, jadi hubungan ketenagakerjaan di PT. FIF. Group

Kupang diatur dalam bentuk Peraturan Perusahaan.


Adapun maksud dan tujuan diadakannya Peraturan Perusahaan di PT.

FIF Group Kupang adalah untuk menciptakan hubungan kerja yang baik dan

harmonis, mengatur hak dan kewajiban pekerja terhadap Perusahaan ataupun

sebaliknya dengan seimbang dan adil sehingga terwujud ketenangan kerja dan

produktivitas kerja maksimal yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.


Tabel I

JUMLAH PEKERJA BERDASARKAN JENIS KELAMIN

JENIS KELAMIN 2014 2015

LAKI-LAKI 55 orang 63 orang

PEREMPUAN 5 orang 7 orang

JUMLAH 60 orang 70 orang

Sumber: Data primer

Berdasarkan data pada tabel di atas, menunjukan bahwa jumlah

karyawan pada tahun 2014 adalah 60 orang dengan rincian laki-laki 55

orang dan pemerempun 5 orang. Jumlah ini berbeda dengan tahun 2015

yang mana jumlah keseluruhan karyawan sebanyak 70 orang dengan

dengan rincian laki-laki 63 orang dan perempuan 7 orang.

Tabel 2

JUMLAH PEKERJA BERDASARKAN STATUS

STATUS 2014 2015

KARYAWAN KONTRAK 18 orang 28 orang

KARYAWAN TETAP 42 orang 42 orang

JUMLAH 60 orang 70 orang

Sumber: Data primer

14
Berdasarkan data pada tabel di atas, menunjukan bahwa jumlah

pekerja kontrak pada tahun 2014 sebanyak 18 orang dan pekerja tetap

sebanyak 42 orang sedangkan jumlah pekerja kontrak pada tahun 2015

sebanyak 28 orang dan pekerja tetap sebanyak 42 orang. Hal ini

menunjukan bahwa jumlah pekerja tiap tahunnya semakin meningkat

untuk mengimbangi perkembangan perusahaan.

Sebagai suatu bentuk perjanjian maka perjanjian kerja pada PT.

FIF Group Kupang didasarkan pada ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang

Undang Hukum Perdata sebagai syarat bahwa perjanjian tersebut adalah

sah di muka hukum. Syarat syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai

berikut :

a. Adanya kesepakatan diantara para pihak untuk mengikatkan

dirinya.

Dalam perjanjian pada PT. FIF Group Kupang, terjadinya

kesepakatan dapat dilihat pada saat ditanda tanganinya perjanjian antara

pihak tenaga kerja dengan pihak PT. FIF Group, dimana perjanjian

tersebut telah diatur dengan ketentuan perjanjian baku maupun peraturan

perusahan. Perjanjian baku (standar) adalah perjanjian yang hampir

seluruh klausul-klausulnya sudah dibakukan oleh pemakainya dan pihak

yang lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan

atau meminta perubahan, yang belum dibakukan hanyalah beberapa hal

saja.

15
b. Adanya kecakapan diantara para pihak untuk membuat suatu

perjanjian.

Pada perjanjian antara calon karyawan dengan pihak PT. FIF

Group Kupang, mengenai ketentuan kecakapan para pihak untuk

mengadakan perjanjian dapat diketahui bahwa kedua belah pihak adalah

cakap secara hukum. Dimana PT. FIF Group Kupang, merupakan suatu

perusahaan yang berbadan hukum dan memiliki Akta Pendirian

Perusahaan yang sah menurut hukum, sedangkan pihak tenaga kerja

memiliki identitas yang jelas serta telah berumur 18 tahun atau telah

menikah sehingga dianggap mampu dan cakap berbuat secara hukum.

c. Suatu hal tertentu.

Suatu hal tertentu dalam suatu perjanjian adalah barang yang

menjadi obyek dari perjanjian. Menurut Pasal 1333 KUH Perdata, barang

yang menjadi obyek perjanjian harus tertentu, setidaknya harus ditentukan

jenisnya sedangkan jumlahnya tidak perlu ditentukan asalkan saja

kemudian dapat ditentukan atau diperhitungkan. Yang menjadi obyek

perjanjian antara karyawan dengan PT. FIF Group Kupang adalah

perjanjian kerja.

d. Suatu sebab yang halal

Dalam perjanjian kerja antara tenaga kerja dengan PT. FIF Group

Kupang, syarat ini telah terpenuhi dalam Akta Perjanjian yang isinya tidak

16
dilarang oleh undang-undang, serta tidak bertentangan dengan kepentingan

umum dan kesusilaan.

Perjanjian kerja antara tenaga kerja dengan PT. FIF. Group

Kupang, merupakan perjanjian diantara kedua belah pihak berdasarkan

azas kebebasan berkontrak, yaitu perjanjian antara pihak PT. FIF, Group

Kupang sebagai perusahaan pemberi kerja dan pihak tenaga kerja sebagai

penerima kerja.

Azas kebebasan berkontrak yang menjadi dasar dalam perjanjian

kerja pada PT. FIF. Group Kupang sesuai dengan ketentuan yang diatur

dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan bahwa suatu

perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi

yang membuatnya, artinya bahwa setelah perjanjian kerja dengan pihak

PT. FIF. Group Kupang tersebut disepakati maka para pihak yang terlibat

dalam perjanjian tersebut harus mentaati seluruh isi dari perjanjian itu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat perjanjian kerja waktu

tertentu (pekerja kontrak) pada PT FIF Group Kupang sudah dibuat secara

sah demi hukum atau sudah sesuai dengan pasal 1320 KUHperdata.

b) Hak dan kewajiban pekerja kontrak yang diberhentikan

dalam masa kontrak

Hak dan kewajiban perusahaan dengan tenaga kerja sudah

disepakati dan telah diatur dalam kontrak kerja antara PT FIF Group

dengan tenaga kerja. PT FIF Group berkewajiban untuk memberikan

pekerjaan dan upah kepada tenaga kerja dan tenaga kerja berkewajiban

17
melaksankan pekerjaan yang telah disepakati dan bagian yang telah

ditentukan oleh PT FIF Group. Disamping itu isi perjanjian kerja waktu

tertentu juga mengatur hak dan kewajiban lainya yang telah disepakati

oleh masing-masing pihak yang telah tertuang dalam clausula perjanjian

kerja waktu tertentu yang mengacu pada ketentuan undang-undang No 13

Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Setiap pekerja kontrak berhak atas upah sebagai imbalan dari

mereka yang telah bekerja pada PT. FIF Group Kupang. Sebagaimana

definisi upah berdasarkan Pasal 1 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi No : KEP. 49/ MEN/ 2004, adalah hak pekerja/buruh yang

diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari

pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan

dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan

perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan

keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan

dilakukan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nani selaku HRD PT.

FIF Group Kupang menyatakan bahwa, hak-hak yang diterima pekerja

kontrak berkaitan dengan perjanjian kerja antara pekerja kontrak dengan

perusahaan penyedia jasa pekerja itu terdiri dari beberapa hal sebagai

berikut:

1) Hak pekerja kontrak untuk tidak adanya masa percobaan dan

perjanjian kerja yang tertulis.

18
Dari hasil wawancara dengan beberapa pekerja kontrak PT. FIF

Group penulis memberikan beberapa pertanyaan kepada para pekerja

kontrak melalui kuisioner. Dari hasil kuisioner tersebut dihasilkan sebagai

berikut :

Tabel 3

MASA PERCOBAAN

No Masa Percobaan Pekerja Kontrak Persentase (%)

1 Ada 4 36.36%

2 Tidak ada 7 63.64%

Jumlah 11 100%

Sumber: Data primer

Dari data primer yang berasal dari hasil kuisioner yang dibagikan

pada para pekerja kontrak PT. FIF Group Kupang ternyata terdapat

36.36% yang menyatakan bahwa ada masa percobaan yang dialami oleh

pekerja kontrak dan 63.64% menyatakan bahwa tidak terdapat masa

percobaan sebelumnya.

Setelah diklarifikasi kepada salah satu pekerja kontrak PT. FIF

Group Kupang melalui wawancara dengan Bapak Christian Purnomo

menyatakan bahwa pekerja kontrak yang mengatakan bahwa terdapat

masa percobaan itu dikarenakan salah penafsiran dengan pengertian

training awal yang mereka tempuh sebelumnya. Jadi tidak ada masa

19
percobaan bagi para pekerja kontrak tersebut, melainkan adalah training

awal sebagai suatu bentuk pengenalan mengenai PT. FIF Group.

2) Hak pekerja kontrak atas uang ganti rugi

Dari hasil wawancara dengan Bapak Arjun Sali Saban selaku HRD

bagian penerima tenaga karja kontrak pada PT. FIF Group Kupang, yang

mengatakan bahwa ganti rugi diberikan apabila pekerja kontrak

diberhentikan sebelum masa kontraknya berakhir. Hal ini sejalan dengan

ketentuan dalam peraturan perusahaan beserta peraturan pelaksananya

dengan memperhatikan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.

Tabel 4

Daftar Pekerja Kontrak Yang Diberhentikan Dalam Masa Kontrak Tahun


2014 - 2015

TANGGAL
NO NAMA MASA KONTRAK KET
DIBERHENTIKAN

23 Februari - 23
1 Dewy 12 Oktober 2014
November 2014

19 Januari - 19 Oktober
2 Naldy 3 Agustus 2015
2015

Jumlah: 2 Orang

Sumber: Data Primer

Berdasarkan data pada tabel di atas menunjukan bahwa karyawan

yang diberhentikan dalam masa kontrak pada tahun 2014 1 (satu) orang

sedangkan pada tahun 2015 1 (satu) orang. Karyawan yang diberhentikan

20
ini karena pertimbangan dari pihak FIF terkait dengan kinerja karyawan

yang kurang meberikan kontribusi yang nyata bagi pihak perusahaan.

Bapak Arjun Sali Saban juga menjelaskan, bahwa pihak FIF Group

Kupang pernah memberhentikan karyawan dalam masa kontrak

berdasarkan penilaian dalam monitoring kerja karyawan yang mana

menunjukan bahwa kinerja karyawan yang diberhentikan dinilai kurang

memberikan kontribusi yang nyata bagi perusahaan. Hal ini menjadi dasar

bagi pihak FIF Group Kupang mengambil keputusan untuk

memberhentikan karyawan meskipun masa kontrak kerjanya belum

berakir. Selanjutnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hak dan

kewajiban karyawan yang diberhentikan dalam masa kontrak, mekanisme

penyelesaiannya paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal surat

pemberhentian dikeluarkan.

Perjanjian mengenai pemberian ganti kerugian ini untuk masing-

masing pekerja kontrak tidak sama. karena memang ada pekerja yang

diberhentikan walaupun masih berstatus sebagai karyawan kontrak akibat

kelalaiannya sendiri itu tidak mendapatkan uang ganti rugi karena

memang karyawan yang diberhentikan tidak mau untuk mengurusnya.

Sedangkan ada pekerja kontrak yang diberhentikan bersedia untuk

mengurus segala keperluan untuk mendapatkan haknya sesuai dengan

prosedur yang telah ditetapkan dalam perjanjian kerja..

3) Hak pekerja kontrak atas upah

21
Setiap pekerja kontrak berhak atas upah sebagai imbalan dari

mereka yang telah bekerja pada PT. FIF Group Kupang. Sebagaimana

definisi upah berdasarkan Pasal 1 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi No : KEP. 49/ MEN/ 2004, adalah hak pekerja/buruh yang

diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari

pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan

dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan

perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan

keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan

dilakukan.

Dari hasil penelitian menunjukan, bahwa pekerja kontrak pada PT.

FIF Group Kupang mendapatkan upah yang jumlahnya berbeda dengan

pekerja tetap. Dalam hal ini perusahaan penyedia jasa pekerja yang

bertanggungjawab penuh akan pembagian upah yang diterima oleh pekerja

kontrak. Dari informasi yang diberikan oleh Ibu Nani selaku HRD PT. FIF

Group Kupang, menyatakan bahwa upah pekerja kontrak tersebut sudah

diberikan sesuai dengan daftar rincian gaji yang telah di tetapkan oleh

pihak PT. FIF Group.

Upah yang diberikan kepada pekerja kontrak dalam jumlah yang

telah disepakati sebagaimana yang telah ada di dalam perjanjian kerja

waktu tertentu. Upah yang diterima oleh pekerja kontrak tersebut telah

dipotong untuk beberapa keperluan bagi pekerja kontrak itu juga, seperti

untuk jaminan sosial tenaga kerja, asuransi dan koperasi. Mengenai upah

22
yang diterima pekerja kontrak, selain pekerja kontrak mendapatkan upah

pokok tetapi juga mendapat tunjangan tidak tetap seperti uang makan dan

uang transportasi. Hak pekerja kontrak atas upah ini diatur dalam Pasal 88

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: KEP.49/ MEN/

2004 Tentang Ketentuan Struktur dan Skala Upah.

Selain itu pekerja kontrak juga berhak atas upah lembur,

berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nani selaku HRD, yang

menyatakan bahwa pekerja kontrak baru mendapatkan upah lembur pada

saat pekerja kontrak tersebut dikatakan telah melaksanakan kerja lembur

oleh pimpinan PT. FIF. Jadi pada saat Pimpinan PT. FIF memerintahkan

pekerja kontrak tersebut untuk bekerja hingga waktu yang ditentukan

olehnya dan jam kerja tersebut melebihi jam kerja pekerja kontrak pada

umumnya maka disaat itulah pekerja kontrak dikatakan lembur dan

mendapatkan upah lembur.

4) Hak pekerja kontrak atas Tunjangan Hari Raya (THR)

Hak pekerja kontrak yang lainnya adalah menerima Tunjangan

Hari Raya (THR), dari hasil penelitian penulis mendapatkan data bahwa

semua pekerja kontrak di PT. FIF Group berhak mendapatkan tunjangan

hari raya. Namun, besar tunjangan hari raya yang diterima oleh pekerja

kontrak tersebut tidak sama dengan yang diterima oleh pekerja tetap.

5) Hak pekerja kontrak atas Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)

dan asuransi

23
Setiap pekerja kontrak di PT. FIF Group Kupang berhak atas

jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) sebagai bentuk perlindungan

terhadap pekerja selama pekerja tersebut bekerja di perusahaan. Pemberian

jaminan sosial tenaga kerja ini wajib diberikan kepada semua pekerja, baik

pekerja tetap maupun pekerja kontrak.

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan Ibu Nani selaku

HRD PT. FIF Group yang menyatakan bahwa sesuai dengan isi perjanjian

antara pekerja kontrak dan pihak PT. FIF Group, telah mengikut sertakan

pihak kedua (pekerja kontrak) pada Program jaminan sosial tenaga kerja

(Jamsostek) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku, yang mencakup; jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua,

jaminan kematian, dan jaminan pemeliharaan kesehatan, dilakukan sendiri

oleh pihak pertama, yang diatur dalam SK Direksi Perusahaan dengan

tetap berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

6) Hak pekerja kontrak atas cuti

Pada hakikatnya pemberian waktu istirahat dan cuti kepada pekerja

bertujuan untuk mengembalikan kesegaran dan kesehatan baik fisik,

mental dan sosial pekerja. Salah satu peraturan perundang-undangan yang

mengatur mengenai waktu istirahat dan cuti ini yaitu Undang- Undang No.

13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 79 sampai dengan Pasal

84. Setiap pekerja kontrak di FIF Group Kupang ini mendapatkan hak cuti

sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Dari

24
hasil penelitian diperoleh bahwa para pekerja mendapatkan hak atas cuti

akan tetapi dengan ketentuan setelah 6 bulan masa kerja.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Frans Budi Sulistyo

selaku Kepala cabang PT. FIF Group menyatakan bahwa, terkait dengan

kewajiban pekerja sudah dijabarkan dalam peraturan perusahaan sebagai

berikut:

a) Kewajiban pekerja

1. Pekerja wajib melakukan pekerjaan; melakukan pekerjaan adalah

tugas utama dari seorang pekerja yang harus dilakukan sendiri,

meskipun demikian dengan sisin pengusaha dapat diwakilkan.

2. Pekerja wajib menaati peraturan dan petunjuk perusahan; dalam

melakukan pekerjaan, pekerja wajib menaati petunjuk yang

diberikan oleh perusahaan. Peraturan yang ditaati oleh pekerja

sebaik-baiknya dituangkan dalam peraturan perusahaan sehingga

menjadi jelas ruang lingkup dari petunjuk tersebut.

3. Kewajiban membayar ganti rugi dan denda; jika pekerja

melakukan perbuatan yang merugikan pihak perusahaan baik

karena kesengajaan atau kelalaian, maka sesuai dengan prinsp

hukum, pekerja wajib membayar ganti rugi dan denda.

4. Pekerja baik sendiri atau bersama-sama wajib menjaga keamanan

dan keselamatan barang milik PT FIF Group.

5. Pekerja wajib menjaga keamanan dan keselamatan sesama

pekerja.

25
6. Perkerja harus menjaga rahasia Perusahaan

Berdasarkan uraian terkait kewajiban pekerja yang dipaparkan di

atas dapat disimpulkan bahwa kewajiban pekerja merupakan hak

perusahaan atau pemberi kerja, sebaliknya kewajiban perusahaan

merupakan hak pekerja. Selanjutnya terkait dengan hak dan kewajiban

pekerja sudah sesuai dengan apa yang diperjajikan, hanya pelaksanaannya

saja yang masih belum optimal.

c) Upaya Penyelesaian bagi pekerja kontrak yang diberhentikan

dalam masa kontrak

Pemutusan hubungan kerja tidak biasa diputuskan atau dilakukan

secara sepihak, sebab sangat mempengaruhi kelangsungan hidup dari

seseorang. Masalah yang paling penting dengan adanya pemutusan

hubungan kerja sebelum berarkirnya masa kontrak, mendapatkan

perlindungan atas hak-hak normatifnya. Khusus untuk melindungi pekerja

waktu tertentu atau tenaga kerja kontrak maka ketentuan dalam Pasal 6

Undang-undang nomor 13 tahun 2003 adalah ketentuan yang sangat

penting untuk mempersamakan perlakuan dengan pekerja tetap. Menurut

Pasal ini, setiap pekerja memperoleh perlakuan yang sama tanpa

diskriminalisasi dari pengusaha.

Pekerja kontrak termasuk dalam kategori perjanjian kerja untuk

jangka waktu tertentu dan dimaksud untuk menutup kesulitan menentukan

jenis pekerjaan tertentu yang dapat diselesaikan dalam waktu tertentu. Bagi

pekerja kontrak sebenarnya pembedaan ini dapat dibuat tidak berarti

26
apabila mereka mengetahui tentang hak-hak dasar pekerja seperti

disebutkan dalam Pasal 6 diatas yakni hak non diskriminasi. Hak-hak dasar

ini dipertegas lagi dalam berbagai Pasal sebagai berikut:

Pasal 35 ayat (3) undang-undang nomor 13 Tahun 2003 ini

menyebutkan pemberi kerja dalam mempekerjakan pekerja wajib

memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan, keselamatan, dan

kesehatan, baik mental maupun fisik pekerja.

Bilamana hak-hak pekerja ini tidak terpenuhi maka tuntutan

pekerja ini dapat diajukan kepada pegawai Perantara Dinas Tenaga Kerja

da mobilasi penduduk setempat denga permohonan agar dapat diberikan

perantara ini dapat berupa anjuran agar pemberi kerja menjalin kembali

hubungan kerja yang non diskriminatif dengan pihak pekerja atau dalam

hal pekerja diberhentikan maka diberikan hak-hak normatif seperti yang

diberikan kepada pekerja tetap.

Perselisihan yang umumnya terjadi adalah hal yang berkaitan

dengan karyawan yang diberhentikan dalam masa kontrak. Dalam

praktiknya pemberhentian karyawan dalam masa kontrak dapat dilakukan

oleh pihak perusahaan.

Dalam suatu perjanjian dalam bentuk apapun kedua belah pihak

saling mengikatkan dirinya untuk melaksanakan sesuatu yang telah

diperjanjikan, namun pada kenyataannya tidak menutup kemungkinan

dapat terjadi dimana salah satu pihak tidak melaksanakan apa yang telah

diperjanjikan.

27
Apabila dalam suatu perjanjian salah satu pihak tidak

melaksanakan apa yang telah diperjanjikan karena salahnya maka dapat

dikatakan ia telah melanggar ketentuan yang diperjanjiakan. Kesalahan itu

dapat berupa, sengaja dan tidak berprestasi ia telah lalai atau alpa atau

ingkar janji atau bahkan melanggar perjanjian dengan melakukan sesuatu

hal yang dilarang tidak boleh dilakukan. Hal ini berakibat hukum yakni

pihak/para pihak yang dirugikan dapat menuntut pelaksanaan dari prestasi

atau konsekwensi lain yang diatur dalam perjanjian (ganti kerugian).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Frans Budi Sulistyo

selaku Kepala cabang PT. FIF Group menyatakan bahwa ketika tenaga

kerja yang masa kontraknya sudah habis dan ingin diperpanjang lagi dan

pekerja tersebut ingin di pekerjakan langsung di PT FIF Group namun

karena Undang-Undang berkehendak lain maka solusi yang di berikan

kepada pekerja yaitu dia akan di berhentikan satu bulan dan nanti satu

bulan kemudian akan di panggil lagi di PT FIF Group dan bisa

diperkerjakan lagi.

Solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut diatas sesuai hasil

wawancara dengan Ibu Nani selaku HRD PT. FIF Group Kupang pada

tanggal 4 April 2017 upaya peneyelesaian bagi pekerja kontrak yang

diberhentikan dalam masa kontrak menempuh dua cara yaitu Bipartit dan

Tripartit. Bipartit dilakukan secara musyawarah dan tripartit dilakukan

dengan adanya pihak ke 3 yaitu Dinas ketenagakerjaan. Namun Ibu Nani

menjelaskan bahwa selama ini belum pernah penyelesaian di Nakertrans.

28
Penyelesaianya dilakukan secara bipartit antara perusahaan dengan tenaga

kerja dilakukan dengan musyawarah, perusahaan memanggil atau perkerja

yang mewakili perkerja yang keseluruhan mewakili tiga orang untuk

musyawarah masalah yang terjadi.

Solusi dari PT FIF Group, pekerja yang sudah habis masa kontrak

diberhentikan satu bulan. PT FIF Group memperkerjakan pekerja untuk

waktu tertentu hanya 5 (lima) tahun. Berdasarkan Undang-Undang No 13

Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 59 ayat 6 yang berbunyi;

Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah

melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian

kerja waktu tertentu yang lama, pembaharuan perjanjian kerja waktu

tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua)

tahun.

Jadi upaya penyelesaian masalah di PT. FIF Group Kupang juga

sudah sesuai dengan Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan pasal 136 ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa

Penyelesaian perselisihan hubungan industrial wajib dilaksanakan oleh

pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh secara

musyawarah untuk mufakat.

Dalam hal penyelesaian secara musyawarah untuk mufakat

sebagaimana dimaksud diatas tidak tercapai, maka pengusaha dan pekerja/

buruh atau serikat pekerja/serikat buruh menyelesaikan perselisihan

hubungan industrial melalui prosedur penyelesaian perselisihan hubungan

29
industrial yang diatur dengan undang-undang. Solusi yang diberikan PT

FIF Group Kupang untuk masa perpanjangan untuk waktu tertentu sudah

sesuai dengan pasal 59 Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan.

30
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab

sebelumnya yang membahas keseluruhan tentang bagaimana Pelaksanaan

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu di PT FIF Group Kupang maka

sampailah suatu kesimpulan yang merupakan bagian akhir dari penulisan

ilmiah ini;

a) Syarat-syarat dari perjanjian pekerja kontrak yang diberhentikan dalam

masa kontrak.

Berdasarkan hasil penelitian penulis terhadap perjanjian kerja waktu

tertentu yang dibuat antara pekerja kontrak dengan pihak perusahaan

dalam hal ini PT. FIF Group Kupang sudah sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan dimana dalam perjanjian kerja waktu

tertentu tersebut sudah memenuhi syarat-syarat perjanjian kerja waktu

tertentu (pekerja kontrak) yang sekurang-kurangnya memuat identitas

kedua belah pihak, jabatan atau jenis pekerjaan, tempat pekerjaan,

besarnya upah dan cara pembayarannya, dan syarat-syarat perjanjian

dalam Pasal 1320 KUHPerdata.

b) Hak dan kewajiban pekerja kontrak yang diberhentikan dalam masa

kontrak

31
Mengenai hak-hak pekerja kontrak yang berkaitan dengan perjanjian kerja,

setelah dilakukan penelitian di PT. FIF Group Kupang, hak-hak

pekerja kontrak tersebut sudah terpenuhi cukup baik walaupun ada

beberapa hak pekerja kontrak yang dirasa oleh pekerja kontrak kurang

memuaskan. Sedangkan kewajiban pekerja kontrak secara keseluruhan

sudah sesuai dengan isi dari perjanjian kontrak antara pekerja kontrak

denga PT. FIF Group Kupang yaitu memuat hal-hal berikut: Pekerja

wajib melakukan pekerjaan, Pekerja wajib menaati peraturan dan

petunjuk perusahan, Kewajiban membayar ganti rugi dan denda, wajib

menjaga keamanan, Perkerja harus menjaga rahasia Perusahaan.

c) Upaya Penyelesaian bagi pekerja kontrak yang diberhentikan dalam

masa kontrak

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Nani selaku HRD PT. FIF Group

Kupang pada tanggal 4 April 2017 upaya penyelesaian bagi pekerja

kontrak yang diberhentikan dalam masa kontrak menempuh dua cara

yaitu Bipartit dan Tripartit. Bipartit dilakukan secara musyawarah dan

tripartit dilakukan dengan adanya pihak ke 3 yaitu Dinas

ketenagakerjaan. Namun Ibu Nani menjelaskan bahwa selama ini

belum pernah penyelesaian di Nakertrans. Penyelesaianya dilakukan

secara bipartit antara perusahaan dengan tenaga kerja dilakukan dengan

musyawarah, perusahaan memanggil atau perkerja yang mewakili

perkerja yang keseluruhan mewakili tiga orang untuk musyawarah

masalah yang terjadi.

32
B. SARAN

1. Dalam hal perjanjian kerja yang dibuat antara pekerja kontrak dengan

perusahaan penyedia jasa pekerja hendaknya perlu diadakan perbaikan

khususnya pada hubungan kerja antara pekerja kontrak dengan

perusahaan pemberi kerja, karena dalam perjanjian kerja yang dibuat

hubungan kerja yang timbul adalah antara pekerja kontrak dengan

perusahaan penyedia jasa pekerja akan tetapi pekerja kontrak juga

harus tunduk pada peraturan perusahaan.

2. Terkait dengan hak dan kewajiban pekerja kontrak, hendaknya pihak

perusahaan dalam hal ini PT. FIF Group Kupang memberikan

penjelasan secara detail kepada pekerja kontrak terkait hak dan

kewajiban pekerja kontrak sehingga tidak terjadi salah penafsiran

dalam hubungan antara hak dan kewajiban pekerja kontrak seperti

halnya hak pekerja kontrak untuk tidak adanya masa kontrak yang

disalah artikan.

3. Dalam hal upaya penyelesaian bagi pekerja kontrak yang

diberhentikan dalam masa kontrak sebaiknya dilakukan secara

musyawarah sehingga antara hubungan antara pekerja dan perusahaan

tetap terjaga dan terjalin dengan baik.

33
DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

Anonymous, Pedoman Penulisan Skripsi Karya Ilmiah, 2015 Fakultas

Hukum Undana Kupang.

Asri wijayanti, 2009. Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Sinar

Grafika, Surabaya.

Djumadi, 1995. Perjanjian Kerja, Radjawali Pers, Jakarta.

Imam Soepomo, 1983. Pengantar Hukum Perburuhan, Djambatan, Jakarta.

Koko Kosidin, 1999. Perjanjian Kerja Perjanjian Perburuhan Perjanjian

Perusahaan, Mandar Maju, Bandung.

Lalu Husni, 2000. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia , PT Raja

Grafindo Persada, Jakarta.

Much Nurachmad, 2009. Tanya Jawab Seputar Hak-Hak Tenaga Kerja

Kontrak (Outsourcing), Visi Media, jakarta.

R. Indiarsoro dan Mj. Saptemo, 1996. Hukum Perburuhan ( Perlindungan

Hukum Bagi Tenaga Kerja dalam Program Jaminan Sosial Tenaga

Kerja), Karunia, Surabaya.

Nur Ramadani, 2011, Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Kontrak

Rocky Marbun, 2010, Jangan Mau di PHK Begitu Saja, Visi Media, Jakarta.

R. Subekti, R. Tjitrosudibio, 2001, Kitab Undang-undang Hukum Perdata,

Cet. Ke-31, (Jakarta :PT. Pradnya Paramita).

34
Sri Subiandini Gultom, 2008. Aspek hukum hubungan industrial, Inti Prima

Promo Sindo, Jakarta.

Whimbo Pitoyo, 2010. Panduan Praktis Hukum Ketenagakerjaan, Visi

media, Jakarta.

B. PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN

Kitab Undang Undang Hukum Perdata

Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 jenis perselisihan hubungan industrial

C. WEBSITE

(http://bimakab.go.id/index)

(http://pustakanet.wordpress.com/category/skripsi-hukum/page/2/).

Sanusi Fatah, Angkatan Kerja dan Tenaga Kerja Sebagai Sumber Daya

dalam Kegiatan Ekonomi,(http://www.crayonpedia.org/mw/).

35