You are on page 1of 14

PENDAHULUAN

Medulloblastoma merupakan tumor yang berasal dari serebellum yaitu dekat dengan vermis

serebellum yang terletak pada fossa posterior basis kranii. Medulloblastoma merupakan

tumor yang jarang terjadi yaitu sekitar 2 % dari semua kasus tumor otak pada anak. Tumor

ini ditemukan paling banyak pada anak usia 5 - 14 tahun. Sakit kepala dengan tumor di fossa

posterior terdapat pada 91 % kasus sedangkan muntah pada tumor fossa posterior terjadi pada

84% kasus.

Gejala peningkatan intrakranial lebih cepat timbul pada tumor infratentorial

dibandingkan tumor supratentorial karena ruang yang lebih terbatas pada fossa posterior.

Manifestasi neurologis fokal lebih cepat terjadi pada tumor fossa posterior, karena peninggian

tekanan intrkranial maupun karena kerusakan struktur dalam fossa posterior (cerebellum,

batang otak, inti saraf kranial). Terapi utama pada medulloblastoma adalah operasi, selain itu

dapat dilakukan pemberian radioterapi dan kemoterapi sesuai indikasi.

1

dan diikuti hentakan pada kedua kaki. Pernah mengalami kejang sudah 3 kali sejak 1 bulan yang lalu. A M Usia : 6 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bulili. LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN Nama : An. Kecamatan Lore (Poso – Tentena) Tanggal masuk : 4 . Riwayat Penyakit Dahulu : Belum pernah mengalami penyakit yang sama dan riwayat pernah mengalami jatuh dengan kepala terbentur tidak ada Riwayat Penyakit Keluarga : Dikeluarga tidak ada yang pernah mengalami penyakit yang sama 2 . sakit kepala bertambah berat terutama saat menggerakan kepala secara tiba – tiba. siku melipat. Setelah kejang langsung sadar dan tiba – tiba terlihat seperti kebingungan kemudian langsung tertidur kembali. dan frekuensinya 3-4 kali dalam seminggu. Sebelum kejang tidak ada teraba panas pada badan. sakit dirasa berat sampai menangis. muntah menyemprot. sakit hilang timbul terutama didaerah belakang kepala.2014 HETEROANAMNESIS Keluhan Utama : Sakit kepala dan muntah Riwayat Penyakit Sekarang : Sakit kepala dan leher dirasakan sejak 1 bulan yang lalu dimana sakit dirasakan terutama pada pagi hari.4 . muntah tanpa disertai rasa mual. badan menjadi kaku. Saat kejang tidak sadar dan banyak mengeluarkan air ludah dari mulut. dimana setiap mengalami kejang lamanya < 5 menit. muntah berisi makanan dan cairan tanpa disertai darah. Muntah dialami sejak timbul keluhan sakit kepala.

8 oC Kulit : kelembaban cukup. dan berat badan lahir 2.Riwayat Kehamilan dan Persalinan : Selama hamil ibu dari pasien ini rutin memeriksakan kehamilannya dipuskesmas. lahir melalui persalinan normal. turgor normal. Kehamilan cukup bulan. memanggil mama dan papa 7-8 bulan Makanan : ASI sampai usia 6 bulan dan usia 6 – 8 bulan mendapatkan MP-ASI berupa bubur saring Imunisasi : Imunisasi dasar lengkap PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : Sakit berat Berat badan : 20 kg Status gizi : gizi baik Kesadaran : Somnolen Tinggi badan : 114 cm Tanda vital : Tekanan darah : 100 / 70 mmHg Pernapasan : 22 x / menit Denyut nadi : 80 x / menit Suhu : 36. duduk 7 bulan. tidak pernah sakit selama hamil. edema tidak ada Kepala : bentuk normal. atrofi / hipertrofi tidak ada.700 gram Riwayat Kemampuan dan Kepandaian : Membalik 4 bulan. sutura sudah menutup. tengkurap 5 bulan. merangkak 8 bulan. tidak ada mengkonsumsi obat – obatan tertentu selama hamil. berdiri 10 bulan. efloresensi (ruam) tidak ada. warna sawo matang. dan hanya mengkonsumsi obat penambah darah serta mendapatkan imunisasi tetanus toksoid sebanyak 2 kali. rambut hitam lurus dan tidak mudah dicabut serta distribusinya merata 3 .

sinus paranasal tidak ada kelainan Mulut : bibir tidak sianosis. pola pernapasan normal Palpasi : vokal fremitus normal Perkusi : sonor Auskultasi : bunyi pernapasan vesikular. tidak ada kelainan bentuk dada. deviasi septum nasi tidak ada. mukosa mulut tidak ada kelainan. sekresi air mata dalam batas normal. diplopia ada. palatum tidak ada kelainan. jenis Pernapasan torakoabdominal. pernapasan cuping hidung tidak ada. trakea terletak ditengah Thoraks dan paru – paru Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris. palpebra tidak ada kelainan. konjungtiva tidak anemia dan tidak meradang. gigi tidak karies. lensa tidak ada kelainan Telinga : cairan yang keluar tidak ada (otorrhea) dan pendengaran dalam batas normal Hidung : cairan yang keluar tidak ada (rhinorrhea). abses tidak ada Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan tiroid. sklera tidak ikterus dan tidak meradang. wheezing dan ronki tidak ada Jantung Inspeksi : ictus kordis tidak tampak Palpasi : ictus cordis terletak pada 2 jari medial dari linea midklavikula sinsitra thrill tidak ada Perkusi : semua batas jantung dalam batas normal 4 . pupil isokor. nistagmus tidak ada. lidah tidak ada kelainan.Mata : eksoftalmus / enoftalmus tidak ada. kornea tidak ada kelainan. faring tidak hiperemi. strabismus ada (konvergen). bau pernapasan tidak khas Tenggorokan : ukuran tonsil T1-T1 dan tidak hiperemi.

lordosis tidak ada. edema tidak ada Punggung Skoliosis tidak ada. Brudzinski I dan II (-). murmur dan gallop tidak ada Abdomen Inspeksi : dinding perut terlihat simetris. organomegali tidak ada Perkusi : timpani Genitalia : tidak ada kelainan Anggota gerak Ektremitas atas : deformitas tidak ada. kifosis tidak Otot – otot Tonus otot baik Refleks Kernig sign (-). Auskultasi : bunyi jantung I dan II tidak ada kelainan. Kaku kuduk (-) Reflex fisiologi normal 5 . edema tidak ada Ejstremitas bawah : deformitas tidak ada. tidak terlihat membesar Auskultasi : suara peristaltik usus dalam batas normal Palpasi : nyeri tekan tidak ada.

MRI .5-10 103/mm RBC 4. CT scan kepala .PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hasil Rujukan Satuan HEMATOLOGI HGB 12.8-33. MCHC MCV 68.8 35-52 % PLT 570 150-450 Ribu/ul MCV. Sitologi CSF 6 .42 3.8 Pg MCHC 33 32-36 g/dL HITUNG JENIS .83 80-100 um3 MCH 21.15 20-30 % .5 g/dl WBC 9 3.Granulosit 55.45 1-15 % DIAGNOSIS : Suspek Tumor Fossa Posterior TERAPI : IVFD Dekstrosa 5 % 16 tetes / menit Injeksi deksametason 3 mg IV Injeksi ketorolak ½ ampul Injeksi ceftriakson 2 x 500 mg IV PEMERIKSAAN ANJURAN : . MCH.5-16.7 11.04 27.5 109/mm HCT 35.60 40-70 % .Limfosit 29.8-8.Monosit 8.

S : 36. S : 36. muntah (-). R : 26 x/menit. muntah (-). muntah (-) mulai berkurang. kejang (-) TD : 100 / 70 mmHg. N : 86 x/menit. R : 26 x/menit. R : 28 x/menit. N : 84 x/menit. kejang (-) TD : 100 / 70 mmHg. N : 84 x/menit. 7 oC Pemeriksaan fisik : strabismus (+) Diagnosis : suspek tumor fossa posterior Terapi : IVFD Dekstrosa 5 % 16 tetes / menit Injeksi deksametason 3 mg IV Injeksi ceftriakson 2 x 500 mg IV (dilakukan pemeriksaan CT scan kepala) 7 – 4 – 2014 Keluhan : sakit kepala (+) mulai berkurang. 7 oC Pemeriksaan fisik : strabismus (+) Diagnosis : suspek tumor fossa posterior Terapi : IVFD Dekstrosa 5 % 16 tetes / menit Injeksi deksametason 3 mg IV Injeksi ketorolak ½ ampul Injeksi ceftriakson 2 x 500 mg IV 6 – 4 – 2014 Keluhan : sakit kepala (+). 5 oC 7 . kejang (-) TD : 100 / 70 mmHg. FOLLOW UP 5 – 4 – 2014 Keluhan : sakit kepala (+). S : 36.

Pemeriksaan fisik : strabismus (+). ataksia (+) Pemeriksaan neurologi Percobaan tunjuk hidung (+). percobaab tumit – lutut (+) percobaa supinasi – pronasi (+). Romberg test (+) Diagnosis : suspek tumor fossa posterior dengan diagnosis banding Medulloblastoma Terapi : IVFD Dekstrosa 5 % 16 tetes / menit Injeksi deksametason 3 mg IV Injeksi ceftriakson 2 x 500 mg IV (pasien dirujuk untuk berobat lanjut) 8 .

14 tahun. Resiko rendah dengan sakit kepala tanpa migrain berlangsung > 6 bulan (kemungkinan tumor otak 0. Sakit kepala merupakan gejala yang biasa pada anak dengan tumor otak. Muntah merupakan gejala sekunder peninggian tekanan intrakranial atau akibat iritasi langsung terhadap nukleus nervus vagus atau pusat muntah didasar ventrikel IV.01 %) b. 9 . Ada tiga kategori pada anak dengan sakit kepala : a. berkurang pada siang hari dan menjadi hebat bila pasien melakukan kegiatan yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial meninggi misalnya perubahan posisi kepala. Resiko sedang dengan sakit kepala disertai migrain tanpa kelainan neurologi (kemungkinan tumor otak 0. tetapi pada anak yang lebih kecil yang tampak hanyalah iritabilitas atau anoreksia saja. Resiko tinggi dengan sakit kepala berlangsung < 6 bulan yang disertai kelainan neurologi (kemungkinan tumor otak 4 %) Sakit kepala merupakan keluhan sebagian besar anak dengan manifestasi peningkatan tekanan intrakranial yang meninggi.4 %) c. Muntah pada tumor fossa posterior terjadi pada 84% kasus. Sakit kepala denga tumor di fossa posterior terdapat pada 91 % kasus. Sakit kepala sering bertambah pada waktu bangung pagi. sehingga menyebabkan rasa sakit dibagian belakang kepala dan leher. Medulloblastoma merupakan tumor yang jarang terjadi yaitu sekitar 2 % dari semua kasus tumor otak pada anak. Tumor ini ditemukan paling banyak pada anak usia 5 . DISKUSI Medulloblastoma merupakan tumor yang berasal dari serebellum yaitu dekat dengan vermis cerebellum yang terletak pada fossa posterior basis kranii. Tumor fossa posterior menyebabkan iritasi serabut posterior medulla spinalis bagian servikal atas.

Metastasis ke rongga subaraknoid melalui cairan LCS memberikan gambaran bercak – bercak opak atau nodul seperti kancing. Romberg test. Koordinasi gerak terutama diatur oleh serebelum. Pungsi lumbal jarang diperlukan untuk diagnosis tumor. Gejala peningkatan intrakranial lebih cepat timbul pada tumor infratentorial dibandingkan tumor supratentorial karena ruang yang lebih terbatas pada foss posterior serta mudah terjadi penyumbatan aliran cairan serebrospinal sehingga terjadi dilatasi ventrikel. batang otak. dismetria. Gejala klinis pada gangguan serebelum ialah gangguan koordinasi gerakan (ataksia). gangguan lapangan penglihatan. atrofi optik berupa penglihatan kabur. Tindakan ini dilakukan sebelum radioterapi sebagai salah satu pegangan untuk menentukan prognosis. ektramedular dan ekstradural. CT scan merupakan pilihan utama untuk membantu menegakan diagnosis medulloblastoma yang menunjukan daerah berdensitas tinggi atau idodens di fossa posterior. Penyebaran tumor melalui CSF dan dapat diketahui dengan pemeriksaan MRI dan pemeriksaan sitologi CSF yang biasanya dikakukan sebelum operasi atau pada saat operasi. Gangguan serebelum dapat diperiksa dengan cara yaitu percobaan tunjuk hidung. intradural. 10 . karena peninggian tekanan intrkranial maupun karena kerusakan struktur dalam fossa posterior (serebellum. disgrafia. sebaiknya tidak dilakukan jika tumor besar dengan pemeriksaan CT scan karena dapat menyebabkan herniasi otak. walaupun tidak didapatkan kelumpuhan. Manifestasi neurologis fokal lebih cepat terjadi pada tumor fossa posterior. percobaan tumit lutut. disdiadokinesia. Berbagai kelainan fungsi okular yang berhubungan dengan peninggian tekanan intrakranial adalah papiledema. inti saraf kranial). Pada kira – kira 20 – 30 % anak dengan medulloblastoma telah terjadi penyebaran pada saat diagnose. strabismus atau diplopia dan eksoftalmus. tremor. Pemeriksaan mielografi dapat dilakukan untuk mengetahui proses yang terletak intramedular. gangguan utama dari lesi di serebelum ialah adanya disinergia yaitu kurangnya koordinasi. penyebaran biasanya terjadi pada daerah spinal.

Gambar 1. Change Stage System Untuk Medulloblastoma Stage Definisi Tumor T1 Diameter tumor < 3 cm T2 Diameter tumor > 3 cm T3a Tumor telah mengisi ventrikel IV dan menimbulakn hidrosefalus T3b Tumor telah mengisi ventrikel IV dan batang otak T4 Tumor telah menuju hemisfer serebri Metastasis M0 Tidak ada penyebaran keruang subaraknoid atau hematogen M1 Sel tumor dalam CSF M2 Penyebran ke serebelum. Gambaran MRI Medulloblastoma Tabel 1. pada pemberian kontras tampak penyagatan yang homogen. subaraknoid atau ventrikel III atau lateral M3 Penyebaran pada ruang subaraknoid spinal M4 Penyebaran ke ekstraneuroaksial 11 . Gambaran CT scan Medulloblastoma Gambar 2.bentuk nodular dan berbatas tegas. serebri.

disamping itu dapat diberikan asetozolamid yang berefek mengurangi pembentukan cairan serebrospinal dengan dosis 30 mg/kgBB/hari. serta untuk mengurangi dosis radioterapi. memperluas daerah radiasi atau kemoterapi. mengurangi edema serebri. Untuk menurunkan tekanan intrakranial dianjurkan pemberian kortikosteroid dengan tujuan mengurangi edema serebri. Junlah radiasi tergantung dari kecenderungan tumor bermetastasis ke ruang subaraknoid dan tumor yang mempunayi resiko tinggi untuk menyebar ke ruang subaraknoid. Operasi merupakan definitif untuk semua tumor otak di fossa posterior pada anak. Radioterapi pada medulloblastoma diberikan baik pada golongan resiko tinggi maupun resiko rendah. memperbaiki tekanan intrakranial dan struktur otak yang bergeser.5 – 1 mg/kgBB dan dilanjutkan 1.3 – 1. Post operasi dalam 48 – 72 jam perlu dilakukan pemeriksaan CT scan untuk mengetahui sisa jaringan tumor. dengan dosis awal 0. menghilangkan kompresi lokal oleh tumor. Komplikasi radioterapi adalah leukoensefalopati dan mikroangiopati. Pemberian manitol intravena diberikan jika terjadi perburukan yang cepat untuk menurunkan tekanan intrakranial. Resiko 12 . Kemoterapi diindikasikan hanya untuk resiko tinggi pada tumor yang berulang. dapat merupakan tambahan dari reseksi subtotal atau sebagai pengobatan definitif. dan mengambil jaringan untuk pemeriksaan patologi serta menjaga sirkulasi LCS bila terdapat obstruksi.5 mg/kgBB/hari. Kraniospinal radiasi diperlukan pada semua penderita tetapi jika pada pemeriksaan sitologi CSF tidak ditemukan penyebaran maka dosis radiasi spinal dapat direndahkan. Tujuan dilakukan operasi adalah untuk mengangkat tumor secara total. Setelah operasi dapat terjadi sindrom fossa posterior (trunkal ataksia) biasanya bersifat sementara dan dapat sembuh dalam beberapa bulan. Radioterapi adalah untuk mematikan sel secara selektif. Medulloblastoma merupakan tumor yang radiosensitif. Dosis 3600 cGy/fraksi/hari pada otak dan untuk spinal yaitu 150 – 180 cGy/fraksi/hari yang dimulai pemberiannya beberapa hari setelah kraniotomi.

mengenai batang otak serta mengenai kelenjar pineal atau korteks. dibandingkan 50 % pada yang dapat radiasi keduanya. T2. 5 cm2 sesudah operasi.5 cm Ukuran tumor primer T1. T4.5 cm >1. M0 T3. tumor mengenai dua macam jaringan atau mengisi penuh ventrikel IV atau yang meluas ke ventrikel III dan medulla spinalis daerah servikal. Pada penelitian terkahir pada pengurangan dosis radiasi kraniosponal 2400 cGy dikombinasikan dengan kemoterapi didapatkan angka hidup 80 % dalam 3 – 5 tahun. Kemoterapi dapat diberikan pada anak usia < 3 tahun tanpa pemberian radiasi. Pasien dengan mendapat pengurangan dosis radiasi spinal dibandingkan dengan dosis yang optimal didapatkan tingginya relaps tumor timbul diluar tumor primer. Pasien yang hanya dilakukan operasi minimal. dengan angka harapan hidup lebih baik. jarang hidup walaupun dengan radiasi yang kuat disertai kemoterapi. Golongan resiko tinggi mempunyai prognosis yang buruk. angka harapan hidup 5 tahun hanya 10 %. Faktor Prognosis Pada Anak Dengan Medulloblastoma Faktor Resiko Rendah Resiko Tinggi Penyebaran tumor Tidak ada penyebaran Ada penyebaran CSF sitologi (+) CSF sitologi (-) Sisa tumor setelah operasi < 1.tinggi termasuk adanya penyebaran. sisa tumor melebihi 1. Tabel 2. M1-4 Histologi Tidak terdiferensial Neuronal dan Glial umur ≥ 3 tahun ≤ 3 tahun Angka harapan hidup 5 tahun pada resiko tinggi dibandingkan dengan resiko rendah dengan tambahan pemberian radiasi sebesar 30 % dan 80 %. dan pada anak umur < 3 tahun. 13 . Jika pasien hanya mendapat radiasi lokal tanpa radiasi spinal.

pp. American Brain Tumor Association. vol. pp. `Management and Prognosis With Medulloblastoma`. 1419 – 1424 14 . Arch Neurology. 291 – 303 Robinson GW 2012. 2 (3). `Medulloblastoma – an overview`. vol. Radiologia. Chicago USA Vezina G & Packer R J 2008. 1 – 12 Palade C & Ciurea A V 2010. vol. pp. vol. Romanian Surgery. Medulloblastoma. Journal American Osteopathy Radilogy. 53 (2). 134 – 145 O`Brien W T 2013. `Imaging of Primary Posterior Fossa Brain Tumors in Children`. DAFTAR PUSTAKA Leon M I M 2011. 65 (11). pp. `Review and update about medulloblastoma in children`. 3. November.