You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fluidisasi adalah suatu fenomena berubahnya sifat suatu padatan (bed)
dalam suatu reaktor menjadi bersifat seperti fluida dikarenakan adanya aliran
fluida ke dalamnya, baik berupa liquid maupun gas. Jika suatu aliran udara
melewati partikel unggun yang ada dalam tabung, maka aliran tersebut akan
memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan menimbulkan pressure drop
sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika kecepatan superficial naik.
Kecepatan superfisial adalah laju alir udara pada kolom yang kosong, sedangkan
kecepatan interstitial adalah kecepatan udara di antara partikel unggun. Pada
kecepatan superfisial rendah, ungun mula-mula diam. Jika kecepatan superfisial
dinaikkan maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun
mengembang dan menyebabkan tahanan terhadap aliran udara mengecil, sampai
akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun.
Hal ini menyebabkan unggun terfluidisasi dan sistem solid-fluida menunjukkan
sifat-sifat seperti fluida. Kecepatan superfisial terendah yang dibutuhkan agar
terjadi fluidisasi disebut minimum fluidization velocity (Umf). Fluidisasi
berhubungan dengan banyak proses industri kimia, misalnya dalam proses
katalisasi maupun dalam proses pemurnian gas. Proses fluidisasi ini memiliki
beberapa hal penting yang harus diperhatikan, seperti jenis dan tipefluidisasi,
aplikasi dalam industri serta spesifikasi dan cara kerja alatnya. Aplikasi fluidisasi
dalam proses industri sangat banyak. Hal ini dimulai pada tahun 1926 untuk
Gasifier Winkler berskala besar lalu Fluidized-bed Catalytic Cracking (FCC)
crude oil menjadi bensin pada tahun 1942. Aplikasi tersebut semakin berkembang
dan pada tahun 1990 dapat diklasifikasikan menjadi proses-proses kimia katalitik
(seperti FCC dan sintesis Fischer-Tropsch), proses-proses kimia nonkatalitik
(seperti thermal cracking dan gasifikasi batubara), dan proses-proses fisik (seperti
pengeringan dan absorpsi). Selain itu, fluidisasi kontinu banyak dimanfaatkan

1

dalam pabrik pengolahan untuk memindahkan padatan dari satu tempat ke
tempat lain. Unggun terfluidisasi memiliki aplikasi yang luas karena
karakteristik perpindahan panasnya yang sangat baik. Hal ini didukung oleh
berubahnya sifat dari unggun tersebut menjadi seperti fluida sehingga
perpindahan panas yang terjadi adalah secara konveksi.

Dengan demikian, partikel dan gas yang memasuki unggun terfluidisasi
segera mencapai suhu unggun dan partikel dalam unggun bersifat isotermal pada
semua situasi. Keadaan isotermal ini disebabkan oleh pencampuran yang merata
dan area kontak yang luas antara gas dan partikel. Jadi, kita sebagai mahasiswa
Teknik Kimia perlu mempelajari fluidisasi karena pada proses yang berhubungan
dengan katalisasi ataupun hal yang erat kaitanya dengan perlakuan gas-solid dan
liquid-solid, fluidisasi sangat diperlukan.

I.2 Rumusan Masalah

1) Apakah yang dimkasud dengan Fuidisasi?
2) Apa saja Fenomena yang terdapat pada Fluidisasi beserta jenis-jenis
Fluidisasi!
3) Apa kelebihan dan kekurangan teknik Fluidisasi!
4) Aplikasi dan penggunaan proses Fluidisasi dalam industri!

I.3 Tujuan

1) Memahami definisi dari Fluidisasi
2) Dapat menjelaskan fenomena fluidisasi beserta jenis-jenis fluidisasi
3) Menjelaskan kelebihan dan kekurangan teknik fluidisasi
4) Mengetahui aplikasi dan penggunaan proses fluidisasi dalam industri

2

maka aliran tersebut akan memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan memberikan pressure drop sepanjang unggun. Sementara itu. pressure drop akan tetap walaupun kecepatan superficial terus dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun persatuan luas. Kecepatan superficial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi disebut Minimum Fluidization Velocity (Umf). Jika kecepatan superficial dinaikkan maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun mengembang dan tahanan terhadap aliran udara mengecil. Pada kecepatan superficial rendah. unggun mula-mula diam. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. sampai akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun dan unggun akan terfluidisasi. Pressure drop akan naik jika kecepatan superficial naik (kecepatan superficial adalah kecepatan aliran jika tabung kosong).1 Fenomena Fluidisasi Jika suatu aliran udara melewati suatu partikel unggun yang ada dalam tabung. Konsep dasar dari suatu partikel unggun yang terfluidisasi dapat diilustrasikan dengan fenomena yang terjadi saat adanya perubahan laju alir gas seperti pada gambar di bawah ini: 3 .

Fenomena fluidisasi dengan variasi laju alir gas Fenomena fluidisasi pada sistem gas-padat juga dapat diilustrasikan pada gambar berikut ini: P2 Bed x P1 Gas in Gambar 2. Fenomena fluidisasi pada sistem gas-padat 4 . Gambar 1.

Pada kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 4. terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Fenomena fixed bed. Gambar 4 Fenomena minimum or incipient fluidization 3. Fenomena smooth or homogenously fluidization. densitas dan distribusi partikel dalam unggun sama atau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam. Gambar 3. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 3. terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. 5 . terjadi saat kecepatan dan distribusi aliran fluida merata. Fenomena minimum or incipient fluidization. Pada kondisi ini partikel padatan tetap diam. Adapun fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara lain: 1. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 5. Fenomena fixed bed 2.

terjadi ketika gelembung-gelembung besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel padat. Fenomena bubbling fluidization 5. Fenomena smooth or homogrnously fluidization 4. Gambar 5. Pada kondisi ini terjadi penolakan sehingga partikel-partikel padat seperti terangkat. Gambar 7. Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung–gelembung pada unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 6. Gambar 6. fenomena slugging fluidization 6 . Kondisi ini dapat dilihat pada gambar 7. Fenomena slugging fluidization.

Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 9. Fenomena disperse fluidization. Ukuran partikel dan bentuk partikel c. Jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel 7 . terjadi ketika dalam unggun partikel padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal. Pada fenomena ini sebagian partikel akan terbawa aliran fluida dan berekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 8. Laju alir fluida dan jenis fluida b. terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui kecepatan maksimum aliran fluida. Fenomena chanelling fluidization 7. Fenomena disperse fluidization Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: a. Fenomena chanelling fluidization.6. Gambar 8. Gambar 9.

Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut. meningkat dan P dijaga agar konstan. Pengukuran P pada sepanjang unggun dapat dinyatakan dengan persamaan sbb: 150Vs  (1   ) 2 x  P  (Dp ) 2  3 Bila Vs meningkat. Dalam hal ini x juga akan meningkat. terlihat bahwa perbedaan tekanan sepanjang unggun secara linear berbanding lurus dengan laju alir volumetrik selama fluidisasi belum tercapai. akan tetapi pengaruh dari kenaikan x ini lebih kecil dibandingkan pengaruh yang ditimbulkan oleh perubahan Adapun hubungan x. Selain itu. P dan kecepatan aliran fluida dapat dilihat pada gambar 10. ketahanan partikel tersebut terhadap aliran fluida akan menurun dengan meningkatnya porositas partikel tersebut. Porositas unggun e. f. Jika padatan berupa partikel seperti pasir. jika kecepatan aliran 8 . Tinggi unggun.d. Distribusi bentuk ukuran fluida g. Untuk kecepatan yang kurang dari kecepatan fluidisasi minimum (Umf) maka unggun akan berperilaku sebagai packed bed. Distribusi aliran. yaitu: 150Vs  (1   )2 x F dan PgzF ( D p )2  3 Pada gambar 2. fenomena pada gambar 2 dapat dijelaskan melalui persamaan Bernoulli dengan aliran laminer sebagai berikut. Diameter kolom h. Namun.

penurunan tekanan akan tetap konstan dan tinggi unggun akan berkurang. Transition from packed bed to fluidized bed Selama fluidisasi. penurunan tekanan sepanjang unggun akan tetap walaupun kecepatan superfisial terus dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun persatuan luas: m p  ( p   f )g  p Sb dimana: m = massa partikel ρp = densitas partikel Sb = luas area unggun ρf = densitas fluida g = percepatan gravitasi Jika laju alir ke unggun terfluidisasi diturunkan bertahap. maka tidak hanya unggun yang terangkat. tinggi unggun terakhir akan lebih besar daripada tinggi mula-mula untuk fixed bed. tetapi partikel akan bergerak dan akan saling berbenturan satu sama lain dan akhirnya keseluruhan massa partikel akan menjadi fluida.fluida dinaikkan melebihi Umf. Hal ini dikarenakan solid di dalam tabung cenderung berkumpul 9 . Gambar 10.Walaupun demikian.

 Unggun memiliki tekanan statis karena gravitasi. (McCabe. ekspansi yang terjadi adalah seragam dan persamaan Ergun. 1959:643) Pada fluidisasi partikulat. Proses ini disebut fluidisasi partikulat dan bercirikan ekspansi hamparan yang cukup besar tetapi seragam pada kecepatan tinggi. Unggun yang terfluidisasi akan bersifat menyerupai liquid.  Permukaan akan tetap horizontal bahkan dalam unggun yang miring. ukuran partikel kecil. nilainya sebesar ρogh. yang berlaku untuk unggun diam. unggun akan terluidisasi merata dengan tiap partikel bergerak sendiri- sendiri melewati jalur bebas rata-rata (mean free path) yang relatif sama.2. di antaranya:  Benda yang lebih ringan akan mengapung di atas unggun (yaitu benda- benda yang densitasnya lebih kecil daripada densitas bulk unggun). 1985:151) Akan tetapi. tidak semua fluida liquid pasti menghasilkan fluidisasi partikulat.2 Jenis-jenis Fluidisasi II.  Ketinggian antara dua unggun terfluidisasi yang serupa sama dengan tekanan statik mereka. Penurunan tekanan pada laju alir rendah lebih kecil daripada nilai awal di fixed bed.  Solid dapat mengalir melalui bukaan di kolom sama seperti liquid.lebih rapat daripada jika solid diam secara bertahap dari keadaan terfluidisasi. dapat dikatakan masih berlaku untuk 10 .1 Fluidisasi Partikulat Dalam fluidisasi pasir dengan air. partikel-partikel bergerak menjauh satu sama lain dan gerakannya bertambah hebat dengan meningkatnya kecepatan. II. dan kecepatan aliran fluida rendah. (Foust. Dalam kasus dimana densitas fluida dan solid tidak terlalu berbeda. tetapi densitas unggun rata-rata pada suatu kecepatan tertentu sama di semua bagian unggun. Fase padat ini memiliki banyak karakteristik liquid dan disebut fluidisasi partikulat. hal ini dipengaruhi oleh perbedaan densitas.

Gelembung yang terbentuk berperilaku hampir sama dengan gelembung udara di dalam air atau gelembung uap di dalam zat cair yang mendidih. (McCabe. 1985:151) Penyamarataan bahwa fluida gas pasti menghasilkan fluidisasi gelembung tidak sepenuhnya benar. 1985:151) Gelembung-gelembung yang terbentuk cenderung bersatu dan menjadi besar pada waktu naik melalui hamparan fluidisasi itu. persamaan yang berlaku untuk hamparan yang mengalami ekspansi adalah (McCabe. kecepatan aliran fluida yang dibutuhkan lebih besar dan fluidisasi yang terjadi tidak merata.2. Perbedaan densitas merupakan parameter yang penting.unggun yang agak mengembang. unggun memiliki banyak karakteristik liquid 11 . (McCabe.2 Fluidisasi Agregat/ Fluidisasi Gelembung Unggun yang difluidisasikan dengan udara biasanya menunjukkan fluidisasi agregat. Gelembung-gelembung yang beriringan lalu bergerak ke puncak kolom terpisah dari zat padat yang seakan- akan tersumbat. gelembung itu mungkin berkembang hingga memenuhi seluruh penampang. kebanyakan gas akan melewati unggun sebagai gelembung atau rongga-rongga kosong yang tidak berisikan zat padat dan hanya sebagian kecil gas yang mengalir dalam saluran- saluran yang terbentuk di antara partikel. Peristiwa ini disebut penyumbatan (slugging). 1985:152): 3 150Vs   1   g  p    s 2 D p 2 II. Pada kecepatan superfisial yang jauh melebihi Umf. Pada kasus dimana densitas fluida dan solid berbeda jauh atau ukuran partikel besar. dan karena itu fluidisasi jenis ini sering disebut fluidisasi didih (boiling bed). Jika kolom yang digunakan berdiameter kecil dengan hamparan zat padat yang tebal. Sebagian besar fluida melewati unggun dalam bentuk gelembung (bubbles). Andaikan aliran di antara partikel-partikel itu adalah laminar. Di sini.

1959:643) Partikel unggun yang lebih ringan. sehingga: Vs  f b ub  (1  f b )U mf dimana: fb = fraksi unggun yang diisi gelembung ub = kecepatan rata-rata gelembung Dalam fluidisasi agregat.dengan fasa fluida terjadi pada saat gas menggelembung melewati unggun. Pengembangan volume unggun dalam fluidisasi gelembung terutama disebabkan oleh volume yang dipakai oleh gelembung uap. lebih halus. Partikel cenderung melekat satu sama lain dan gas menembus unggun dengan membentuk channel. karena fase rapat pada umumnya tidak berekspansi dengan peningkatan aliran. 1985:154). ditambah sisa aliran gas yang dibawa oleh gelembung (McCabe. perilaku gelembung akan bertambah besar. fluida akan membuat gelembung pada padatan unggun dalam tingkah laku yang khusus. yaitu rasio antara kinetik Dp g dengan energi gravitasi merupakan salah satu kriteria penentu jenis fluidisasi apa yang terjadi. (Foust. Dalam penurunan berikut ini. . (Foust. Angka Froude. aliran gas melalui fase rapat diandaikan sama dengan Umf dikalikan dengan fraksi unggun yang diisi oleh fase rapat. Fluidisasi jenis ini disebut fluidisasi agregat. dan bersifat kohesif sangat sukar terfluidisasi karena gaya tarik antarpartikel lebih besar daripada gaya seretnya. Gelembung fluida meningkat melalui unggun dan pecah pada permukaan unggun dan akan tejadi “splashing” dimana partikel unggun akan bergerak ke atas. 1959:643) 12 . Seiring dengan meningkatnya kecepatan fluida. (Brown. 1955:269) Keberadaan fluidisasi partikulat atau agregatif merupakan hasil dari pengaruh gaya gravitasi pada fasa-fasa yang ada dalam unggun terfluidisasi dan juga karena v2 mekanika fluida ruah dari sistem.

karena sifat-sifat partikel padat yang menyerupai sifat fluida cair dengan viskositas tinggi. (Foust.3 Sifat dan Karakteristik Partikel Unggun a. Metoda pengangkutan ini sering digunakan dalam industri. prosesnya bersih. Tetapi kerugiannya antara lain ada kemungkinan terjadi kerusakan partikel solid serta korosi pada pipa mungkin besar. maka semua partikel dalam hamparan itu akan terbawa ikut oleh fluida hingga memberikan suatu fluidisasi kontinu.1994:141). Untuk menghitung ukuran partikel rata-rata dengan menggunakan diameter rata-rata permukaan (Kirk Othmer. antara lain untuk mengangkut produk dari pengering semprot (spray dryers).2. II.3 Fluidisasi Kontinu Bila kecepatan fluida melalui hamparan zat padat cukup besar. Contohnya adalah dalam tranportasi lumpur dan tranportasi pneumatic. 1985:151) Ketika laju alir fasa fluida melewati kecepatan terminal partikel. (McCabe. 1959:647) Dalam fluidisasi. biasanya dengan udara sebagai fasa fluida.II. dan kemampuannya untuk memindahkan sejumlah besar solid dalam waktu singkat. metode pengontakan fluidisasi memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. 13 . Keuntungan metoda ini adalah kehilangan yang terjadi sedikit. unggun terfluidisasi akan kehilangan identitasnya karena partikel solid terbawa dalam aliran fluida. Prinsip fluidisasi ini terutama diterapkan dalam pengangkutan zat padat dari suatu titik ke titik lain dalam suatu pabrik pengolahan di samping ada beberapa reaktor gas zat padat lama yang bekerja dengan prinsip ini. Ukuran partikel Padatan dalam unggun yang terfluidisasi tak pernah sama dalam ukuran dan mengacu pada distribusi ukuran partikel tersebut.

Formulanya dirumuskan sebagai berikut : PLpggc Salah satu aspek yang akan ditinjau dalam percobaan ini adalah mengetahui besarnya penurunan tekanan (pressure drop) di dalam unggun padatan yang terfluidakan. seperti static head. Penurunan tekanan Penurunan tekanan yang terjadi pada campuran dua fasa dinyatakan dalam beragam bentuk. akselerasi dan kehilangan friksi untuk gas dan padatan. c. Hal tersebut mempunyai arti yang cukup penting 14 . Skeletel adalah densitas suatu padatan jika porositasnya nol. berat suatu partikel unggun jika dibagi dengan tinggi padatan akan menghasilkan densitas sesungguhnya dari unggun yang terfluidisasi. Untuk aplikasi fluidisasi unggun di luar kondisi ketika akselerasi penurunan tekanan dapat diterima. 1 d sv  x di pi dimana: dp = diameter partikel rata-rata yang secara umum digunakan untuk desain dsv = diameter dari suatu bidang b. Jika tidak ada nilai untuk densitas partikel. skeletel. Untuk itu. maka pendekatan untuk densitas partikel dapat diperoleh dengan membagi dua densitas bulk. Pengukuran ini menyertakan faktor kekosongan dalam pori-pori partikel. Densitas bulk merupakan pengukuran berat dari keseluruhan partikel dibagi dengan volume partikel. dan particle. Adapun densitas partikel adalah berat dari suatu partikel dibagi dengan volumenya dengan menyertakan pori-pori. penurunan tekanan akan dihasilkan dari static head padatan. Densitas padatan Padatan dapat dibedakan menjadi 3 bagian berdasarkan densitasnya yaitu bulk.

juga bisa memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi berlangsung. Untuk aliran laminer dengan kehilangan energi terutama disebabkan oleh gaya viscous. Carman. Blake memberikan hubungan : P kS 2 gc  L 3 dimana: ΔP/L = hilang tekan per satuan panjang/ tinggi unggun gc = faktor gravitasi μ = viskositas fluida ε = porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume ruang kosong didalam unggun dengan volume unggun u = kecepatan alir superfisial fluida S = luas permukaan spesifik partikel d.karena selain erat sekali hubungannya dengan besarnya energi yang diperlukan. 15 . terutama oleh Balke. yaitu dengan menggunakan bilangan-bilangan tidak berdimensi. Sphericity Sphericity merupakan faktor bentuk yang dinyatakan sebagai rasio dari area permukaan volume partikel bulat yang sama dengan partikel itu dibagi dengan area permukaan partikel. Penentuan besarnya hilang tekan di dalam unggun terfluidakan terutama dihitung berdasarkan rumus-rumus yang diturunkan untuk unggun diam. ataupun peneliti-peneliti lainnya. Kozeny. Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubuangan antara hilang tekan dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diam diperoleh pertama kali pada tahun 1922 oleh Blake melalui metode-metode yang bersifat semi empiris.

9 atau lebih.5-33. Umf dapat dicari dengan menggunakan persamaan Umf = [(1135. Suku pertama persamaan Ergun dominan untuk aliran laminer sedangkan suku kedua dominan pada aliran turbulen.71]/(gdp) Di mana bilangan Archimides (Ar) adalah : Ar = gdp3(pgg/2 Untuk memprediksi Umf. Kecepatan terminal Kecepatan terminal suatu partikel (Ut) merupakan kecepatan gas yang dibutuhkan untuk mengatur partikel tunggal yang tersuspensi dalam aliran gas. Kecepatan Fluidisasi Minimum (Umf) Kecepatan fluidisasi minimum adalah kecepatan superficial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi.0408Ar)0. e. d sv  dv Material yang melingkar seperti katalis dan pasir bulat memiliki nilai sphericity sebesar 0. f.7+0. Ergun menurunkan suatu korelasi dengan cara menyamakan pressure drop pada saat Umf dengan berat unggun persatuan luas dan diperoleh persamaan sebagai berikut. Kecepatan terminal suatu partikel dinyatakan dalam persamaan: 16 . yaitu sesuai titik potong atau antara bagian kurva yang datar seperti yang digambarkan pada gambar 10. Pengukuran Umf dapat diperoleh dari grafik P vs Umf.

1/ 2  4 gd p (  p   g )  Ut     3 g C d  Dalam aliran laminer dan mengikuti Hukum Stokes: 24 Cd  Re p d pU g Re p   Jadi. kecepatan terminal untuk partikel tunggal berbentuk bulat adalah g (  p   g )d p 2 Ut  untuk Rep < 0.1 2/(1- 17 .1(  p   g ) gd p  Ut    untuk Rep > 500  g  Persamaan ini mengindikasikan bahwa untuk partikel yang berukuran kecil viskositas merupakan faktor dominan setiap gas dan untuk partikel berukuran besar densitas merupakan faktor yang terpenting. Kedua persamaan di atas mengabaikan gaya antar partikel. f() = 0. Fungsi t dapat dinyatakan dengan pendekatan Kozeny-Charman berikut. f() Kekosongan f() dari unggun yang terfluidisasi adalah fraksi mol yang terjadi oleh gas.4 18 Dan untuk partikel besar dengan Cd = 0. Secara umum kecepatan selip (Uselip) atau kecepatan efektif terminal untuk partikel dalam suspensi (U*t) adalah: Uselip = U*t = Ut .43 1/ 2  3.

dan kapilaritas.7 (Kirk Othmer. Gaya antar partikel yang berhubungan atau berkaitan dengan unggun yang terfluidisasi. dan gaya buoyant mengalahkan berat partikel serta gaya antar partikel tersebut ( Kirk Othmer. g. 18 . Batas partikel Partikel diklasifikasikan berdasarkan bagaimana partikel tersebut terfluidisasi dalam udara pada kondisi tertentu. Gaya antar partikel Gaya antar partikel sering kali diabaikan dalam fluidisasi meskipun dalam banyak kasus gaya ini lebih kuat dibandingkan hydrodinamic yang digunakan dalam banyak korelasi. 1994:147). partikel yang sangat halus  Unggun yang bergerak h. Partikel tersebut dapat diklasifikasikan menjadi:  Partikel halus  Partikel kasar  Kohesif.4-4. Daerah batas fluidisasi (fluidization regimes) Pada kecepatan gas rendah. suatu padatan dalam tabung unggun akan berada pada kondisi konstan seiring dengan bertambahnya kecepatan gas. 1994:144). i. Pada fluidisasi minimum partikel memperlihatkan pergerakan yang minimal dan secara langsung unggun akan sedikit terangkat. elektrostatik. yaitu: U/Ut =n n merupakan fungsi dari dp/D dan bilangan Re yang divariasikan dari 2. misalnya van der waals. Pendekatan lain yang digunakan untuk sistem banyak fasa yaitu korelasi Richardson-Zaki untuk partikel tunggal dalam suspensi. gaya seret.

dapat terjadi kehilangan material yang cukup besar akibat terbawa keluar dari unggun serta ada kemungkinan terjadi kerusakan partikel karena kecepatan operasi yang terlalu besar. Karena sifat unggun terfluidisasi yang kompleks. Tenaga untuk memompa fluida sehingga terjadi fluidisasi harus besar untuk unggun yang besar dan dalam. Perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah panas yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang memiliki luas permukaan kecil. Kecepatan fluida yang digunakan terbatas pada jangkauan dimana unggun terfluidisasi. Sirkulasi butiran-butiran padat antara dua unggun fluidisasi memungkinkan pemindahan jumlah panas yang besar dalam reaktor. 4. Perpindahan panas dan kecepatan perpindahan mass antara partikel cukup tinggi. 6. 5. seringkali terjadi kesulitan dalam mengubah skala kecil menjadi skala industri. Adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin. 3. 3. Jika kecepatan jauh lebih besar dari Umf. Kekurangan dari teknik fluidisasi adalah: 1. 5.4 Kelebihan dan Kekurangan Teknik Fluidisasi Kelebihan dari teknik fluidisasi adalah: 1. 4. Gelembung yang terbentuk menjaga unggun bersifat isotermal dan laju transfer panas yang tinggi diperoleh antara unggun dan permukaan yang dicelupkan. 2. 2. 19 . Ukuran dan tipe partikel yang dapat digunakan dalam teknik ini terbatas.II. Sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat padat secara kontinu dan memudahkan pengontrolan. Butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya sejumlah tertentu padatan. Properti transfer panas yang baik dalam gas-fluidized bed.

berlaku persamaan Uhr = Uslug = 0.II.1 Perilaku Gelembung Gelembung yang lebih besar cenderung naik lebih cepat dibanding gelembung yang kecil sehingga antar gelembung akan terjadi tumbukan dan bergabung (coalescence) dan gelembung semakin bertambah besar.71(gDb)0. Gelembung terjadi dalam kebanyakan unggun yang terfluidisasi dan peranannya sangat penting karena akibat laju dari perubahan massa atau energi di antara gas dan padatan dalam unggun.35(gD)0.5 Perilaku Gelembung pada Ketinggian unggun II. Kecepatan suatu gelembung yang bertambah besar melalui fluida unggun dinyatakan dalam rumus: Uhr = 0. Pengontrolan ukuran gelembung dapat diperoleh dengan mengontrol distribusi ukuran partikel atau dengan meningkatkan kecepatan gas.5 Jadi kecepatan aktual peningkatan gelembung dalam unggun yang terfluidisasi dinyatakan dengan rumus: 20 . Gelembung meningkat melalui unggun dalam 2 kondisi yang berbeda. Gelembung yang meningkat secara padat dapat terjadi pada kecepatan gas kurang dari Umf dan hal ini memberikan kesempatan untuk gas melewati partikel unggun dan sirkuit pendek melalui gelembung menuju ke permukaan unggun. Dinding tabung juga mempengaruhi gerekan gelembung sehingga gelembung cenderung bergerak ke arah dalam unggun. Mengacu pada teori gelembung dua fasa dan fluidisasi. semua gas yang dibutuhkan untuk fluidisasi minimum melewati unggun dalam proses pembentukan gelembung. Gelembung terbentuk dalam unggun yang terfluidisasi dari ketidakstabilan sistem 2 fasa.5.5 Jika terjadi slugging.

Partikel mampu mentransfer banyak panas karena mempunyai kapasitas panas pada saat awal partikel berdekatan dengan permukaan panas. Untuk partikel unggun dengan diameter < 500 dan densitas < 4000 kg/m3 (kecuali paertikel halus yang sangat kohesif).5. Akibatnya. mekanisme utama adalah adanya sirkulasi antara bulk unggun dan partikel yang berdekatan denghan permukaan panas (Particle Convective Mechanism). Akan tetapi. semakin lama suhu unggun semakin mendekati suhu permukaan. suhu unggun sangat seragam walaupun terdapat reaksi yang sangat eksoterm. Jadi untuk selang waktu tertentu laju transfer panas semakin tinggi jika pertikel bersinggungan dengan permuikaan panas dalam recident time yang singkat yang dapat diperoleh dengan mengatur kondisi operasi.6 Sifat-sifat Perpindahan Panas Unggun Terfluidisasi Unggun yang terfluidisasi oleh gelembung-gelembung tercampur dengan sangat baik karena pertikel-partikel unggun tersirkulasi oleh gelembung udara yang naik. Ub = (U-Umf)+Ubr II. Jika luas permukaan tranfer panas antara gas dan unggun cukup tinggi. Tetapi harus diingat bahwa recident time yang ekstrim kecil untuk 21 . II. terdapat gradien suhu lokal yang besar yaitu adanya perbedaan suhu yang besar antara bulk unggun dengan permukaan sehingga laju perpindahan panas sangat besar. Tiga mekanisme yang menyumbangkan transfer panas antara unggun terfluidisasi dan permukaan adalah : a. Laju transfer panas yang tinggi dapat diperoleh antara permukaan panas yang tercelup di dalam unggun dengan unggunnya itu sendiri. Untuk kecepatan superficial tinggi permukaan berfluktuasi karena pecahnya gelembung di permukaan sehingga ketinggian unggun hanya dapat diukur dengan perkiraan.2 Ketinggian unggun Tinggi unggun dapat diplot terhadap kecepatan superficial. gas dan pertikel cepat mencapai suhu yang sama.

Perpindahan kalor ke permukaan dalam sistem padat-gas koefisien perpindahan panas ke permukaannya sangat tergantung pada kualitas fluidisasi yang terjadi (Coulson. kecepatan interstisial adalah turbulen yang berarti bahwa transfer panas konveksi melalui gas menjadi penting. 0.17  (1  e)  s C s  U d    0. Jika transfer panas mode ini menjadi dominan maka transfer panas akan naik dengan naiknya diameter partikel (karena makin besar partikel maka makin besar turbulensi kecepatan interstisial). Untuk suhu yang lebih tinggi akan terdapat perbedaan suhu yang sangat besar antara unggun dan permukaan panas sehingga transfer panas secara radiasi menjadi penting. c. Untuk unggun dalam ukuran atau densitas yang lebih besar.65 d  0. memeroleh koefisien perpindahan panas yang paling tinggi dibatasi oleh konduktivitas panas gas dan jarak jalur transfer panas terpendek di mana panas mengalir secara konduksi antara partikel unggun dan permukaan panas.55   t   t      c t  k  L d   e C p       dimana: h = koefisien perpindahan panas k = konduktivitas termal gas D = diameter partikel Dt = diameter tube L = panjang unggun = kekosongan unggun s = densitas padatan =densitas gas 22 . b.25 hd t d  0. 1968:215). Untuk menghitung koefisien perpindahan panas tersebut dapat digunakan persamaan Dow dan Jacob berikut.

sehingga akan terjadi kenaikan hilang tekan (ΔP) sesaat sebelum fluidisasi terjadi. Fenomena interlock ini dapat dilihat pada Gambar 11. Pada kenyataannya. keadaan di atas tidak selamanya bisa terjadi karena adanya kecenderungan partikel-partikel untuk saling mengunci satu dengan lainnya (interlock). terjadi pada awal fluidisasi saat terjadi perubahan kondisi dari unggun tetap menjadi unggun terfluidakan. Cs = kapasitas panas padatan Cp = kapasitas panas gas pada tekanan konstan = viskositas gas Uc = kecepatan superficial dalam tube kosong II. Umf Gambar 11. Kurva karakteristik fluidisasi tidak ideal karena terjadi interlock. 23 .7 Penyimpangan dari Keadaan Ideal (Interlock) Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan pada kurva fluidisasi ideal hanya terjadi pada kondisi yang betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah saling melepaskan pada saat terjadi kesetimbangan antara gaya seret dengan berat partikel.

HE e. Proses desulfurisasi batubara 24 .II. c. Adsorpsi: Proses adsorpsi multistages fluid chart untuk pemisahan dan pemurnian kembali komponen gas. c. II. Drying dan sizeing II. Gasifikasi : batubara b. Pelapisan bahan peledak pada permukaan logam f. 2. Transportasi: Fluidisasi dapat terfluidisasikan sama seperti cairan. Operasi Secara Kimia Contoh: Reaksi gas dengan katalis padat dan reaksi padat dengan gas.8 Penggunaan proses fluidisasi dalam industri 1. Heat Exchanger (HE): Fluidized bed dapat digunakan untuk HE operasi fisik dan kimia kareana kemampuannya untuk mempercepat perpindahan panas dan menjaga suhu menjadi konstan dengan ditunjukkan sebagian kecil dari bermacam penggunaan dalam lingkup ini. Pencampuran bubuk halus (dengan ukuran partikel berlainan) d.10 Industri yang menggunakan metoda fluidisasi Beberapa Industri yang menggunakan metoda fluidisasi adalah : 1. seperti: a. sifat ini digunakan untuk transportasi padat berupa serbuk.9 Aplikasi fluidisasi dalam industri a. Operasi Secara Fisik (Physical Operation). Transportasi: Sifat fluidisasi pada fluidized bed juga merupakan sifat yang sama dengan cairan dan sifat ini sangat efektif digunakan untuk alat transportasi dari bubuk padatan. b.

5 cm. Kolom dihubungkan dengan sebuah pompa sirkulasi yang mampu memberikan suplai larutan dengan jumlah aliran yang diatur sebesar 100 cc per menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa proses selama 2 jam dengan mempergunakan kolom tersebut mampu mengurangi 13. Pembuatan Gas Sintetis Dari Batubara Dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidisasi. 25 . Sesudah syngas dimurnikan kemudian dianalisa komposisinya dengan menggunakan gas chromatography (GC). Percobaan gasifikasi dilakukan terhadap contoh batubara Indonesia dengan menggunakan reactor gasifikasi sistem unggun terfluidisasi digunakan batubara ukuran halus (-48 + 65 mesh). Sulawesi Selatan telah dilakukan dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida yang diencerkan dalam asam sulfat berkonsentrasi 0.6 persen. Gas hasil gasifikasi yang disebut gas sintetis (syngas) dilakukan pemurnian dengan alat cyclone. condenser dan scrubber. Hasil percobaan lainnya menunjukkan bahwa perkecilan ukuran partikel batubara dari (-14+20) mesh menjadi (-20+48) mesh mampu meningkatkan angka tersebut. Suhu reaktor sistem unggun fluidisasi adalah 900 0C.9 persen. Perpanjangan waktu sirkulasi larutan hidrogen peroksida dari 2 jam menjadi 6 jam mampu meningkatkan jumlah pengurangan sulfur menjadi sebesar 42.9 persen jumlah sulfur yang terdapat di dalam batubara Tondongkurah yang berukuran (-14+20) mesh.1 N. apabila waktu sirkulasi dinaikkan menjadi 6 jam pengurangan sulfur meningkat menjadi 48. Gas pereaksi masuk melalui plat distributor untuk mengangkat batubara dan pasir silica sebagai unggun material dalam zona reaksi sehingga unggun terfluidisasi dan terjadi proses pencampuran yang sempurna antara gas pereaksi dan batubara. 2. Demikian pula. Proses desulfurisasi batubara Tondongkurah. Percobaan desulfurisasi tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan kolom fluidisasi yang mempunyai ukuran panjang 80 cm dengan diameter 3. Pada percobaan desulfurisasi dengan ukuran batubara (-20+48) mesh selama 2 jam. Pada kondisi fluidisasi suhu dalam reactor lebih merata dibanding dengan reaktor sistem unggun tetap. jumlah pengurangan sulfur adalah 19.3 persen.

baik berupa liquid maupun gas. Laju alir fluida dan jenis fluida b. yaitu :  Fenomena fixed bed  Fenomena minimum or incipient fluidization  Fenomena smooth or homogenously fluidization  Fenomena bubbling fluidization  Fenomena slugging fluidization  Fenomena chanelling fluidization  Fenomena disperse fluidization Faktor-faktor yang mempengaruhi Fluidisasi. Tinggi unggun. Terbagi menjadi tujuh fenomena. Distribusi aliran. Jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel d. Ukuran partikel dan bentuk partikel c. Porositas unggun e. BAB III KESIMPULAN Fluidisasi adalah suatu fenomena berubahnya sifat suatu padatan (bed) dalam suatu reaktor menjadi bersifat seperti fluida dikarenakan adanya aliran fluida ke dalamnya. Diameter kolom h. yaitu : a. f. Distribusi bentuk ukuran fluida g. 26 .

1951.cz/web_new/fluidization. McCabe. http://www. Fluidization. http://id. Diakses tanggal 18 Oktober 2008.54 WIB. Anonim. C.tu-harburg. 1989.L.org/wiki/fluidization. Harriot .54 WIB. New York : McGraw-Hill Inc. Fluid Mechanics Chemical Engineering. 10. W. Anonim. J. Fluidization. http://www. DAFTAR PUSTAKA De Nevers. Anonim. Smith and P. Depok : Jurusan Teknik Gas &Petrokimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia.1985. McGraw Hill:New York. 10.de. Fluidization. Unit Operations of Chemical Engineering. 10. Tim Penyusun. Diakses tanggal 18 Oktober 2008.54 WIB.ih.vt1. Buku Panduan Praktikum POT 1. Noel. Perry Chemical Engineering Handbook. 27 .cas. Diakses tanggal 18 Oktober 2008.wikipedia.