You are on page 1of 4

IV.

Dasar Teori
Pemeriksaan widal ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (didalam darah) terhadap
antigen kuman Samonella typhi / paratyphi (reagen). Uji ini merupakan test kuno yang masih
amat popular dan paling sering diminta terutama di negara dimana penyakit ini endemis seperti
di Indonesia. Sebagai uji cepat (rapit test) hasilnya dapat segera diketahui. Hasil positif
dinyatakan dengan adanya aglutinasi. Karena itu antibodi jenis ini dikenal sebagai Febrile
agglutinin.
Hasil uji ini dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau
negatif palsu. Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain pernah
mendapatkan vaksinasi, reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp), reaksi
anamnestik (pernah sakit), dan adanya faktor rheumatoid (RF). Hasil negatif palsu disebabkan
antara lain : penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika, waktu pengambilan darah kurang
dari 1 minggu sakit, keadaan umum pasien yang buruk, dan adanya penyakit imunologik lain.
Demam typhoid (Typhoid Fever) merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan
oleh Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi A,B dan C yang masih dijumpai secara luas
di negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis.

Gejala Umum Demam Typhoid
Umumnya gejala klinis timbul 8-14 hari setelah infeksi yang ditandai dengan demam yang tidak
turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam yang khas adalah kenaikan
tidak turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam yang khas adalah
kenaikan tidak langsung tinggi tetapi bertahap seperti anak tangga (stepladder), sakit kepala
hebat, nyeri otot, kehilangan selera makan (anoreksia), mual, muntah, sering sukar buang air
besar (konstipasi) dan sebaliknya dapat terjadi diare. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
peningkatan suhu tubuh, debar jantung relatif lambat (bradikardi), lidah kotor, hepatomegali
dan splenomegali, kembung (meteorismus), pneumomia dan kadang-kadang dapat timbul
gangguan jiwa. Penyulit lain yang dapat terjadi adalah pendarahan usus, perforasi, radang
selaput perut (peritonitis) serta gagal ginjal.
Petanda Serologi Demam Typhoid
Tubuh yang kemasukan Salmonella akan terangsang untuk membentuk antibodi yang bersifat
spesifik terhadap antigen yang merangsang pembentukannya. Antibodi yang dibentuk
merupakan petanda demam typhoid, yang dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Aglutinin O
Titer aglutinin O akan naik lebih dulu dan lebih cepat hilang daripada aglutinin H atau Vi, karena
pembentukannya T independent sehingga dapat merangsang limposit B untuk mengekskresikan
antibodi tanpa melalui limposit T. Titer aglutinin O ini lebih bermanfaat dalam diagnosa
dibandingkan titer aglutinin H. Bila bereaksi dengan antigen spesifik akan terbentuk endapan
seperti pasir. Titer aglutinin O 1/160 dinyatakan positif demam typhoid dengan catatan 8 bulan
terakhir tidak mendapat vaksinasi atau sembuh dari demam typhoid dan untuk yang tidak
pernah terkena 1/80 merupakan positif.
b. Aglutinin H (flageller)
Titer aglutinin ini lebih lambat naik karena dalam pembentukan memerlukan rangsangan

(Prasetyo. akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis demam tifoid. Diagnosis Tidak adanya gejala-gejala atau tanda yang spesifik untuk demam typhoid. dan biologi molekular. Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas. mikrobiologi. atau lesi anatomis yang spesifik. Adanya gejala klinik yang karakteristik demam typhoid atau deteksi respon antibodi yang spesifik hanya menunjukkan dugaan demam typhoid tetapi tidak pasti. Aglutinin Vi digunakan untuk mendeteksi adanya carrier. bisa menurun atau meningkat. mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif. c. SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai hepatitis Akut. urinalisa. Aglutinin Vi (Envelop) Antigen Vi tidak digunakan untuk menunjang diagnosis demam thypoid. bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit. D. memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya penyulit.limfosit T. jumlah leukosit normal. spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan. Selain itu antigen Vi dapat untuk menentukan atau menemukan penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi atau kuman-kuman yang identik antigennya. Kimia Klinik Enzim hati (SGOT. imunoserologi. C. Di daerah endemis. membuat diagnosis klinik demam typhoid menjadi cukup sulit. Titer aglutinin 1/80 keatas mempunyai nilai diagnostik yang baik dalam menentukan demam typhoid. kimia klinik. Diagnosis pasti demam typhoid adalah dengan isolasi/kultur Salmonella typhi dari darah. 2006) B. demam lebih dari 1 minggu yang tidak diketahui penyebabnya harus dipertimbangkan sebagai typhoid sampai terbukti apa penyebabnya. (Simalab. mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri. Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia). Bila bereaksi dengan antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti kapas atau awan. Leukosit dan eritrosit normal. Urinalisa Protein : bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam). Imunologi . 2007) Pemeriksaan laoratorium untuk menunjang diagonsis demam typhoid meliputi : A. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi. sumsum tulang. Hematologi Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia. menetapkan prognosis. Antigen ini menghalangi reaksi aglutinasi anti-O antibodi dengan antigen somatik. terutama pada fase lanjut. Kenaikan titer aglutinin empat kali dalam jangka 5-7 hari berguna untuk menentukan demam typhoid. Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis (adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis).

dan sudah mendapat vaksinasi. bila belum ada pertumbuhan koloni ditunggu sampai 7 hari). Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk Demam Tifoid/ Paratifoid. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit (sensitifitas tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. yang dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi Demam Tifoid atau Paratifoid. mudah dan sederhana. sudah mendapatkan terapi antibiotika. urin.1) Widal Slide Diagnosis Demam Tifoid / Paratifoid dinyatakan bila a/titer O = 1/160. Penatalaksanaan . darah tidak segera dimasukan ke dalam media Gall (darah dibiarkan membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan). E. Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar 89%. (Prasetyo. Pada cara ini di lakukan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diindentifikasi dengan DNA probe yang spesifik. saat pengambilan darah masih dalam minggu 1 sakit. 2) ELISA Salmonella typhi/ paratyphi lgG dan lgM Pemeriksaan ini merupakan uji imunologik yang lebih baru. cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi. Mikrobiologi Gall Culture Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam Typhoid/ paratyphoid. dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat. Diagnosis Demam Typhoid/ Paratyphoid dinyatakan : bila lgM positif menandakan infeksi akut dan jika lgG positif menandakan pernah kontak/ pernah terinfeksi/ reinfeksi/ daerah endemik. F. Tes ini sangat akurat untuk diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit. Spesimen yang digunakan dapat berupa darah. Titer O meningkat setelah akhir minggu. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang ditemukan pada Salmonella serogrup D. karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. terutama di negara berkembang. Sebalikanya jika hasil negati. Tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih baik daripada uji Widal. Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara 2-7hari. Sebagai tes cepat (Rapid Test) hasilnya juga dapat segera di ketahui. bahkan mungkin sekali nilai batas tersebut harus lebih tinggi mengingat penyakit demam tifoid ini endemis di Indonesia. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan ideal. belum tentu bukan Demam Tifoid/ Paratifoid. Pilihan bahan spesimen yang digunakan pada awal sakit adalah darah. yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit kurang dari 2mL. 3) Tes Tubex Tes TUBEX® merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. 2006). Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%. kemudian untuk stadium lanjut/ carrier digunakan urin dan tinja. Biologi molecular PCR (Polymerase Chain Reaction) Metode ini mulai banyak dipergunakan.

serta cepat dan tepatnya pengobatan. derajat kekebalan tubuh. dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.7%. peningkatan sanitasi lingkungan khususnya perbaikan cara pembuangan faeces manusia serta pemberantasan tikus dan lalat. lebih bersifat sporadis. Di Indonesia demam tipoid dapat ditemukan sepanjang tahun dan insidens tertinggi pada daerah endemik adalah terjadi pada anak – anak. C) Diet dan terapi penunjang (stomatitis dan suportif) : Pasien diberi bubur saring. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. perbaikan sumber air untuk keperluan rumah tangga. keadaan umum. kemudian bubur kasar. Penyebab yang terdekat adalah air atau makanan yang terkontaminasi oleh karier manusia. terpencar – pencar di suatu daerah. D) Prognosis Terapi demam tifoid yang cocok terutama jika pasien perlu dirawat secara medis pada stadium dini. yaitu : A) Pemberian antiboitik : bertujuan untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman. Selain itu. pengawasan penjualan bahan makanan dan tempat pemotongan he .4%. Tetapi juga tergantung dari umur. dan jarang terjadi lebih dari satu kasus pada orang serumah. Epidemiologi Karena penyebab demam tifoid secara klinis hampir selalu Salmonella yang beradaptasi pada manusia. dan pada orang dewasa 7. rata – rata 5. Angka kematian pada anak anak 2. Pencegahan Pencegahan penyakit dilakukan terutama dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman. Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup mendukung keadaan umum pasien. sangat berhasil. sistem imun akan tetap berfungsi optimal. sebagian besar kasus dapat ditelusuri pada karier manusia.Sampai sekarang masih dianut trilogi penatalaksanaan demam typhoid. Diharapkan dengan menjaga keseimbangan dan homeostasis. jumlah dan virulensi Salmonella .6%. Penyakit ini jarang di temukan secara epidemik. B) Istirahat dan perawatan profesional : bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. peningkatan hygiene pribadi.