You are on page 1of 20

Dr. Dwi P. Sasongko, M.Si.

(2)
Ir. Indro Sumantri, M.Eng.(3)

(2) SekretarisPusat Penelitian Lingkungan Hidup
Universitas Diponegoro.
(3) Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia

Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
PENDAHULUAN
 Laboratorium merupakan suatu unit penunjang yang
mutlak dan penting.
 Peran utama laboratorium adalah untuk pengujian.

 Di bidang industri, melakukan pengujian mulai dari uji
kualitas bahan baku hingga ke uji produk.
 Dalam kegiatan klinis sangat berperan dalam
menentukan akurasi analisis diagnosis untuk
menentukan langkah-langkah apa yang akan diambil.
 Proses pengujian di laboratorium menggunakan
bahan-bahan sesuai dengan prosedur standar,
termasuk di antaranya adalah penggunaan bahan
kimia. Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk
pengujian laboratorium ini bisa masuk kategori bahan
berbahaya dan beracun (B3) dan/atau non-B3. Limbah
laboratorium dalam bentuk pereaksi-pereaksi yang
kedaluarsa dan/atau jaringan harus dilakukan
pengelolaan agar tidak menimbulkan dampak
lingkungan. Limbah ini bisa berupa limbah padat,
cair, dan gas. Pengelolaan limbah yang dilakukan
tergantung pada kandungan limbah yang ada.
 Seiring dengan semakin menurunnya daya dukung
dan daya tampung lingkungan sebagai akibat
pertambahan jumlah penduduk yang meningkat maka
upaya untuk mengurangi peningkatan beban terhadap
cemaran yang masuk ke dalam lingkungan harus
dapat diminimalisasi. Laboratorium sebagai unit yang
potensial menghasilkan limbah harus melakukan
upaya-upaya pengelolaan (dan pemantauan)
lingkungan agar daya dukung dan daya tampung
lingkungan tidak semakin turun.
REGULASI LINGKUNGAN
 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan
 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012
tentang Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib
Dilengkapi dengan AMDAL.
 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2011 tentang
Klinik : semua laboratorium yang menyelenggarakan kegiatan
klinis wajib melakukan studi UKL-UPL (bukan SPPL) tanpa
melihat skala laboratorium yang ada (pratama dan utama)
 Format UKL-UPL dapat dilihat pada Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Pedoman
Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup (Lampiran IV)
BAHAN BUANGAN LABORATORIUM
1. Fine chemicals.
 Fine chemicals hanya dapat dibuang ke saluran
pembuangan atau tempat sampah jika :
a. Tidak bereaksi dengan air.
b. Tidak eksplosif (mudah meledak).
c. Tidak bersifat radioaktif.
d. Tidak beracun.
e. Komposisinya diketahui jelas
2. Larutan basa.
 Hanya larutan basa dari alkali hidroksida yang
bebas sianida, ammoniak, senyawa organik,
minyak dan lemak dapat dibuang kesaluran
pembuangan. Sebelum dibuang larutan basa itu
harus dinetralkan terlebih dahulu. Proses
penetralan dilakukan pada tempat yang
disediakan dan dilakukan menurut prosedur mutu
laboratorium.
3. Larutan asam.
 Seperti juga larutan basa, larutan asam tidak boleh
mengandung senyawa-senyawa beracun dan
berbahaya dan selain itu sebelum dibuang juga
harus dinetralkan pada tempat dan prosedur
sesuai ketentuan laboratorium
4. Pelarut.
 Pelarut yang tidak dapat digunakan lagi dapat dibuang ke
saluran pembuangan jika tidak mengandung halogen
(bebas Fluor, Chlorida, Bromida, dan Iodida). Jika
diperlukan dapat dinetralkan terlebih dahulu sebelum
dibuang ke saluran air keluar. Untuk pelarut yang
mengandung halogen seperti kloroform (CHCl3) sebelum
dibuang harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu
dengan pengurus atau pengelola laboratorium tempat
dimana bahan tersebut akan dibuang.

5. Bahan mengandung merkuri.
 Untuk bahan yang mengandung merkuri (seperti pecahan
termometer merkuri, manometer, pompa merkuri, dan
sebagainya) pembuangan harus ekstra hati-hati. Perlu
dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus
atau pengelola laboratorium sebelum bahan tersebut
dibuang.
6. Bahan radioaktif.
 Sampah radioaktif memerlukan penanganan yang khusus.
Otoritas yang berwenang dalam pengelolaan sampah
radioaktif di Indonesia adalah Badan Tenaga Atom
Nasional (BATAN).

7. Air pembilas.
 Air pembilas harus bebas merkuri, sianida, ammoniak,
minyak, lemak, dan bahan beracun serta bahan berbahaya
lainnya sebelum dibuang ke saluran pembuangan keluar.

8. Bahan-bahan Berbahaya serta Karsinogenik.
 Tabel di bawah memuat daftar beberapa bahan-bahan
kimia berbahaya dan karsinogenik yang sering dijumpai di
laboratorium-laboratorium kimia baik di Indonesia
maupun di luar negeri.
Tabel 1. Cemaran bahan organik
Bahan organik yang bersifat karsinogen
No Senyawa Lokasi Keterangan
1 4-aminodiphenil Kandung kencing Kontaminan pada diphenilamin

2 Benzidine Kandung kencing Penyusun pewarna anilin, plastik dan karet

3 Beta-napthylamine Kandung kencing Penyusun warna dan pestisida

4 Bis(chloromethyl eter) Paru-paru Digunakan untuk membuat resin

5 Vynil chlorida Hati Angiosarcoma diantara pekerja pabrik PVC

Bahan organik karsinogen menurut USDA-OSHA
No Senyawa Lokasi Keterangan

Bahan baku pewarna, herbisida, pewarna
1 Alpha-napthylamine Kandung kencing
makanan, film berwarna, antioksidan

Dipakai pada prosesing tekstil dan kertas,
2 Ethyleneimine Tidak diketahui
bahan herbisida
3 3,3-diclorobenzidine Tidak diketahui -

4 Methyl chloromethyl Tidak diketahui Digunakan dalam pembuatan tekstil dan resin

4,4-methylene bis (2-
5 Tidak diketahui Curing agent untuk polimer isocyanat
chloroamine)
Tabel 1. Cemaran bahan organik (lanjutan)

Bahan organik yang diduga karsinogen

Benzene Dimethyl sulfat
Benz(a)pyrine Epichlorhydrine
Berylium Hexamethyl phosphoramide
Cadmium Oksida Hydrazine
Chloroform 4,4-Methylene dianilin
Pb kromat Monomethyl hydrazine
Zn kromat Nitrosamine
3,3-dichlorobenzidine Propane sulfone
Dimethylcarbamyl chlorida Beta-propioaceton
1,1-dimethyul hydrazine Vynil cyclohexene dioxide
PENGELOLAAN LIMBAH B3
LABORATORIUM
Penggunaan/pemakaian B3 harus diminimalkan sekecil
mungkin dengan cara:
1. Memiliki catatan penggunaan B3
2. Memiliki tempat penyimpanan B3 yg layak (lokasi dan
konstruksi)
3. Setiap kemasan diberi simbol dan label
4. Memiliki sistem tanggap darurat dan prosedur
penanganan B3
5. Melaksanakan uji kesehatan secara berkala
6. Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur
7. Mengganti kerugian akibat kecelakaan
8. Memulihkan kondisi lingkungan hidup yang rusak dan
tercemar.
Alur Penanganan Limbah B3
 Prosedur tersebut adalah:
 Contoh limbah dari penghasil dibawa oleh pengangkut
limbah ke pengolah / pemanfaat limbah untuk dianalisis.
 Contoh limbah disertakan dengan hasil uji laboratorium.
 Pengolah / pemanfaat mengkalkulasi biaya pengolahan /
pemanfaatan.
 Penawaran harga penanganan limbah dari pengangkut ke
penghasil limbah.
 Sesudah ada kesepakatan penanganan segera dilaksanakan.
 Pengolah/pemanfaat menandatangani manifes, berita acara
serah terima limbah, dan menerbitkan sertifikat
pengolahan/pemanfaatan limbah kepada pengangkut
diteruskan kepada penghasil limbah.
Penanganan limbah B3 sebelum diolah
 Setiap limbah B3 harus diidentifikasi dan dilakukan uji
analisis kandungan guna menetapkan prosedur yang
tepat dalam pengolahan limbah. Setelah uji analisis
kandungan dilaksanakan, barulah dapat ditentukan
metode yang tepat guna.
 Tidak keseluruhan proses harus dilakukan terhadap
satu jenis limbah B3, tetapi proses dipilih berdasarkan
cara terbaik melakukan pengolahan sesuai dengan
jenis dan materi limbah.
Hasil pengolahan limbah B3
 Memiliki tempat khusus pembuangan akhir limbah B3
yang telah diolah dan dilakukan pemantauan di area
tempat pembuangan akhir tersebut dengan jangka
waktu 30 tahun setelah tempat pembuangan akhir
habis masa pakainya atau ditutup.
 Perlu diketahui bahwa keseluruhan proses
pengelolaan, termasuk penghasil limbah B3, harus
melaporkan aktivitasnya ke KLH dengan periode
triwulan (setiap 3 bulan sekali).
Pengangkutan limbah B3
 Merujuk peraturan pengangkutan:
 Pemberian label, analisis karakter limbah, pengemasan
khusus, dsb.
 Kemasan: apabila terjadi kecelakaan dalam kondisi
pengangkutan normal, tidak terjadi kebocoran limbah ke
lingkungan dalam jumlah yang berarti.
 Kemasan harus memiliki kualitas yang cukup agar efektivitas
kemasan tidak berkurang selama pengangkutan.
 Limbah gas yang mudah terbakar harus dilengkapi
dengan head shields pada kemasannya sebagai
pelindung dan tambahan pelindung panas untuk
mencegah kenaikan suhu yang cepat.
 Kelengkapan Material Safety Data Sheets (MSDS)
yang ada di setiap truk dan di dinas pemadam
kebakaran.
PENGOLAHAN LIMBAH B3 LABORATORIUM
1. Chemical Conditioning
 menstabilkan senyawa-senyawa organik yang
terkandung di dalam lumpur
 mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air
dalam lumpur
 mendestruksi organisme patogen
 memanfaatkan hasil samping proses chemical
conditioning yang masih memiliki nilai ekonomi seperti
gas methane yang dihasilkan pada proses digestion.
 mengkondisikan agar bahan yang dilepas ke lingkungan
dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan
2. Solidification/Stabilization
 Stabilisasi adalah proses pencampuran limbah dengan
bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju
migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk
mengurangi toksisitas limbah tersebut.
 Solidifikasi adalah proses pemadatan suatu bahan
berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses
tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap
mempunyai arti yang sama.
 Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya
dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:
 Macroencapsulation,
 Microencapsulation,
 Precipitation
 Adsorpsi,
 Absorbsi,
 Detoxification,
3. Incineration
 Teknologi pembakaran merupakan alternatif dalam
teknologi pengolahan limbah, mengurangi volume
dan massa limbah hingga 90% (volume) dan 75%
(berat).
 Menghasilkan energi dalam bentuk panas.
 Sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat
dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat.
 Lahan yang relatif kecil.
 Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk
membakar limbah padat B3 ialah rotary kiln, multiple
hearth, fluidized bed, open pit, single chamber,
multiple chamber, aqueous waste injection, dan starved
air unit.
Terima kasih