You are on page 1of 22

UJIAN TAKE HOME

KIMIA KLINIK DAN BIOANALISIS

DI SUSUN OLEH :
NAMA : MUH. ISRAWAAN
NIM : O1 A1 14 028

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017

SOAL TAKE HOME EXAM UAS KIMIA KLINIK DAN BIOANALISIS
FAKULTAS FARMASI UHO TAHUN 2017
Petunjuk Menjawab Soal :
a. Jawablah soal berdasarkan urutan nomor.
b. Jawablah soal selengkap-lengkapnya dengan menuliskan sumber referensi jawaban.
c. Jawaban dikirim paling lambat 4 (Empat) Hari setelah soal diterima Keting.
d. Jawaban masing2 dikirim ke Email : ilyasyusufmuhammad.apt@gmail.com.

SOAL :
1. Uraikan tes-tes Fungsi Hati serta analisis hasil pemeriksaan Lab. jika nilainya
melebihi batas normal !
2. Uraikan tes-tes Fungsi Ginjal serta prinsip kerja pemeriksaannya !
3. Uraikan tes Urinalisis, cara penyiapan sampel serta analisis hasil pemeriksaan Lab.
jika nilainya abnormal !
4. Imunoasai berdasarkan prinsip kerjanya dibagi 2 metode. Uraikan ke 2 metode
tersebut serta perbedaannya !
5. Uraikan perbedaan metode pemeriksaan Radio Imunoasai (RIA) dengan
Imunokromatografi serta aplikasi pemeriksaa ke 2 metode tersebut !
6. Uraikan tentang ELISA; prinsip kerja, tujuan pemeriksaan, alat dan bahan serta
aplikasi kliniknya !
7. Uraikan alur proses pemeriksaan laboratorium klinik yang baik dan benar pada
sampel biologi pasien !
8. Jelaskan faktor apa saja yang harus dimiliki suatu laboratorium untuk menjamin
mutu hasil pemeriksaan sampel pasien !
---------Selamat Bekaeja-------

SGPT lebih spesifik terhadap kerusakan hati dibanding SGOT. C dan D) dapat dilakukan untuk menyingkirkan infeksi virus. Ini juga bermanfaat untuk mendiagnosis sumbatan pada saluran yang mengalirkan cairan empedu dari hati ke usus.  Tes virus hepatitis (A. Tes ini mencari virus dan antibodi dalam darah. terutama akibat kecanduan alkohol). Tes fungsi hati terdiri atas :  SGPT dan SGOT Tes fungsi hati yang umum adalah AST (aspartate transaminase). yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase). (Seattle Treatment Education Project STEP Ezine.  GGT (gamma glutamyl transferase) GGT (gamma glutamyl transferase) adalah enzim yang kadarnya diukur untuk skrining penyakit hati dan untuk memantau sirosis (pengerasan atau parut/sikatrik pada hati. Selain itu.  Ultrasonografi Ultrasonografi (memotret dengan memakai getaran bunyi di atas batas pendengaran manusia) sering kali digunakan untuk mencari batu empedu dan radang hati dan kantung empedu. dan dapat menunjukkan sumbatan dalam sistem saluran pembuangan dari empedu. dan ALT (alanine transaminase) yang biasanya di Indonesia disebut sebagai SGPT (serum glutamic-pyruvic transaminase).  Alkaline phosphatase a Alkaline phosphatase adalah tes lain yang mungkin dilakukan jika ada perhatian mengenai hati. 1 November 2000) . B. Ini juga dapat endeteksi gumpalan yang mungkin ada dalam atau di sekitar hati. SGOT dan SGPT akan menunjukkan jika terjadi kerusakan atau radang pada jaringan hati. CT (computerized tomography) memberikan gambaran di dalam tubuh. Demikian pula.  LDH (lactic acid dehydrogenase) LDH (lactic acid dehydrogenase) adalah enzim non-spesifik yang dapat meningkat bila hati rusak. B. bilirubin juga dipakai untuk menilai hati. C dan D) Tes virus hepatitis (A. JAWABAN 1.

Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada ALT dan AST. Bila bilirubin langsung adalah rendah sementara bilirubin total tinggi. Peningkatan fosfatase alkali dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain. Karena dibuat oleh hati dan dikeluarkan pada darah. seumpamanya dalam diet soda. hal ini menunjukkan Kerusakan pada hati atau pada saluran cairan empedu dalam hati. dan bagian ini disebut sebagai bilirubin langsung. ALT dan AST adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit). kulit dan mata dapat menjadi kuning.  Bilirubin adalah produk utama dari penguraian sel darah merah yang tua. Dalam beberapa kasus peradangan hati. jadi peningkatan GGT kadang kala (tetapi tidak selalu) dapat menunjukkan penggunaan alkohol. Serupa dengan fosfatase alkali. dapat meningkatkan GGT. GGT dapat meningkat dalam darah pasien dengan penyakit saluran cairan empedu. tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. albumin adalah tanda yang peka dan petunjuk . Bila bagian ini meningkat. termasuk alkohol. bilirubin total akan meningkat. peningkatan pada fosfatase alkali dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker hati. yang mengakibatkan gejala ikterus. peningkatan ALT dan AST akan serupa. dan tingkat GGT dapat tinggi berhubungan dengan hampir semua penyakit hati. Sebagian dari bilirubin total termetabolisme. bahkan juga pada orang yang sehat.Hasil laboratorium dapat menunjukkan :  ALT dan AST adalah lebih spesifik untuk kerusakan hati.  Fosfatase alkali meningkat pada berbagai jenis penyakit hati.  Albumin adalah protein yang mengalir dalam darah. Sebagaimana hati menjadi semakin rusak. GGT juga dibuat sebagai reaksi pada beberapa obat dan zat.  GGT sering meningkat pada orang yang memakai alkohol atau zat lain yang beracun pada hati secara berlebihan. penyebab biasanya di luar hati. Biasanya peningkatan ALT dan AST terjadi bila ada kerusakan pada selaput sel hati. jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Bila tingkatnya sangat tinggi. Penggunaan pemanis sintetis sebagai Pengganti gula. Enzim ini dibuat dalam banyak jaringan selain hati. yang memberi warna pada kotoran. Namun tes GGT sangat peka. Bilirubin mengandung bahan pewarna..

Jika jumlah kreatinin yang dikeluarkan oleh ginjal tidak cukup. Tes fungsi ginjal dapat dilakukan untuk memantau ginjal kita. lembaran informasi halaman 135. “dibersihkan” dari darah oleh ginjal. namun albumin mudah diukur. Tingkat ini biasanya normal pada penyakit hati yang kronis. Walau GFR ini dapat diukur. sementara meningkat bila ada sirosis atau kerusakan berat pada hati. dan dapat muncul keraguan apakah semua air seni yang dikeluarkan dalam 24 jam benar-benar dikumpul oleh pasien. agar melihat apakah kerusakan dapat menjadi lebih berat atau pun pulih. Kemudian kebanyakan kreatinin disaring dari darah oleh ginjal dan dibuang dalam air seni. Kreatinin dihasilkan dari metabolisme protein ketika otot membakar energi. prosesnya rumit dan hanya dilakukan dalam sarana penelitian. Ada banyak protein lain yang dibuat oleh hati.  Kecepatan Penyaringan Glomeruli Tes ini.  Tes Keluaran Kreatinin Sebagai alternatif yang lebih mudah. ( yayasan spiritia. tingkat kreatinin dalam air seni akan menurun. Jumlah kreatinin yang ada dalam air seni tersebut diukur dan dibandingkan dengan jumlah kreatinin yang beredar dalam darah. yang baik terhadap beratnya penyakit hati. Juga ada rumusan . Kemudian. sekarang umumnya GFR diestimasikan (eGFR) berdasarkan tingkat kreatinin dalam darah. Tes keluaran kreatinin mengukur tingkat salah satu bahan ampas. eGFR dihitung dengan memakai salah satu dari beberapa rumusan. Pengukuran keluaran kreatinin dilakukan dengan mengumpulkan semua air seni yang dibuang dalam 24 jam. jenis kelamin dan (kadang) ras dan/atau berat badan. yaitu kreatinin. Oleh karena itu. 2014) 2. yang memakai variabel terkait usia. yang umumnya disebut sebagai GFR (glomerular filtration rate) atau LFG (laju filtrasi glomerulus). Tingkat albumin dalam darah menunjukkan bahwa hati tidak membuat albumin dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. GFR dapat diperkirakan berdasarkan keluaran kreatinin (creatinine clearance). mengukur jumlah darah yang disaring oleh ginjal setiap menit.  eGFR Tes keluaran kreatinin membutuhkan waktu. Akibatnya tingkat kreatinin dalam darah akan meningkat.

Tes ini mengukur jumlah partikel (bibit) yang dilarutkan dalam air seni. Ginjal yang sehat menyaring urea dari darah dan mengeluarkannya ke air seni. urea ini yang disebut sebagai BUN) akan tetap ditahan dalam darah.  Nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN). Seperti keluaran kreatinin. Namun ada keraguan mengenai rumusan terbaik untuk rangkaian dan ras yang berbeda. Darah mengangkut protein ke sel di seluruh tubuh. dan untuk Odha.  Tekanan darah: Tekanan darah tinggi dapat menjadi salah satu faktor yang menekankan penyakit ginjal. sisa produk buangan dikembalikan ke darah sebagai urea. tes ini mengukur jumlah urea yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam. glukosa. Oleh karena itu. dan dikeluarkan dalam air seni. Ditemukan protein dalam air seni adalah tanda penyakit ginjal. bau. kristal. untuk menilai kemampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagaimana konsumsi air meningkat atau menurun. Setelah protein dipakai oleh sel-sel. bakteri. diperiksa secara kimia untuk unsur termasuk protein. Tes Lain yang Penting Ada beberapa tes lain yang penting untuk memastikan fungsi hati:  Analisis air seni: Contoh air seni diperiksa secara fisik untuk ciri termasuk warna. dan pH. dan juga membutuhkan pengukuran tingkat urea dalam darah. khusus untuk anak. Tes Penunjang Ada beberapa tes lain yang dapat dilakukan  Keluaran urea. yang mengandung nitrogen. Bila ginjal tidak berfungsi dengan baik. penampilan.  Osmologi air seni. dsb. dan di bawah mikroskop untuk keberadaan unsur sel (sel darah merah dan putih. tingkat BUN yang tinggi . Hasil diungkap sebagai volume darah yang disaring dalam mL/menit.yang memakai variabel lain. dan kepadatan. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa ginjal sudah dirusakkan  Keberadaan protein dalam air seni : Ginjal yang sehat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali. dll. Urea adalah bahan ampas dari metabolisme protein. sehingga tingkat protein dalam air seni tetap rendah.).

b. dalam darah dapat membantu menilai fungsi hati. Bilas dengan air hangat dan keringkan dengan kasa steril yang lain . klorida. tidak mempengaruhi sifat zat-zat dalam spesimen. dan MRI atau CT scan. termasuk ultrasonik (USG). atau pun biopsi ginjal. 2014) 3. yang seharusnya diatur oleh ginjal. sebelumnya harus diberikan penjelasan sebagai berikut:  Penderita harus mencuci tangan memakai sabun kemudian dikeringkan dengan handuk.  Tes lain. kering. d. ( yayasan spiritia. kalium.  Untuk pemeriksaan urin 24 jam. bersih. fosforus. mungkin dokter akan mengusulkan dilakukan tes pengamatan. lembaran informasi halaman 135. tidak mengandung bahan kimia atau deterjen. Pengambilan spesimen urin pada wanita Pada pengambilan spesimen urin porsi tengah yang dilakukan oleh penderita sendiri. Zat ini termasuk zat natrium. kalsium. Namun masalah ini juga terpengaruh oleh fungsi hati (lihat LI 135). magnesium. sehingga tes BUN harus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kreatinin. lebarkan labia dengan satu tangan. protein. harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir. Pengumpulan Sampel  Sampel disimpan dalam wadah yang terbuat dari gelas atau plastik.  Tanggalkan pakaian dalam. tidak bocor atau merembes. spesimen urin harus diberi pengawet toluen 2-5 ml/urin dalam wadah gelas atau plastik. Cara penyiapan sampel : a. dalam darah dapat menandai masalah ginjal. asam urat dan glukosa. Dalam keadaan tertentu. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah tumbuhnya bakteri atau menetasnya telur viabel. Pengukuran tingkat zat lain. yang lebih khusus menandai masalah ginjal.  Bersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril dengan arah dari depan ke belakang. Stabilitas urin ini mencapai 4 – 24 jam. bermulut lebar. bikarbonat. A.

Aliran urin selanjutnya ditampung dalam wadah yang sudah disediakan. keluarkan urin. Pengambilan spesimen urin pada laki-laki  Penderita harus mencuci tangan memakai sabun  Jika tidak disunat tarik kulit preputium ke belakang. b. h.  Selama proses ini berlangsung.  Hindari urin mengenai lapisan tepi wadah.  Bayi dipasang kantung penampung urin pada alat genital. Wadah ditutup rapat dan segera dikirimkan ke laboratorium c. Pengumpulan urin selesai sebelum aliran urin habis. d. aliran yang pertama keluar dibuang. pengambilan spesimen urin pada bayi dan anak-anak a. Pengambilan urin dilakukan dengan cara:  Anak duduk di pangkuan perawat.tampung urin dalam wadah atau kantung plastik steril. aliran urin selanjutnya ditampung dalam wadah yang sudah disediakan. keluarkan urin. Bersihkan alat genital seperti yang telah diterangkan di atas c. . Hindari urin mengenai lapisan tepi wadah. aliran urin yang pertama keluar dibuang. Penderita sebelumnya diberi minum untuk memudahkan buang air kecil.  Pengumpulan urin selesai sebelum aliran urin habis.  Pengaruhi anak untuk mengeluarkan urin.  Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium.

1. Urinalisis (UA) Nilai normal : a. gangguan fungsi hati. Warna urin Deskripsi Warna urin dipengaruhi oleh konsentrasi.030 dan menunjukkan kemampuan pemekatan yang baik. pigmen empedu. Berat jenis spesifik (Specific gravity) Urinalisis dapat dilakukan sewaktu atau pada pagi hari. myoglobin. adanya obat. ibuprofen. Deskripsi UA dapat digunakan untuk evaluasi gangguan fungsi ginjal. rifampisin. doksorubisin. 2. Pemeriksaan berat jenis urin dapat digunakan untuk mengevaluasi penyakit ginjal pasien. diuretik. senyawa eksogen dan endogen. Nilai berat jenis menurun dengan meningkatnya umur (seiring dengan menurunnya kemampuan ginjal memekatkan urin) dan preginjal azotemia. dekstran.001-1. Berat jenis meningkat pada diabetes (glukosuria). Berat jenis normal adalah 1. gangguan hematologi. darah atau pewarna.B. Dapat juga karena pemakaian klorpromazin. haloperidol. radio kontras. infeksi saluran kemih dan diabetes mellitus. manitol. proteinuria > 2g/24 jam). dan pH • Warna merah coklat menunjukkan urin mengandung hemoglobin. fenitoin. hal ini dipengaruhi oleh status hidrasi pasien dan konsentrasi urin. Warna merah coklat dapat .

metildopa) • Warna kuning merah (pink) menunjukkan adanya sayuran. ketidakmampuan usus halus mengabsorpsi glukosa. urobilin. atau ketidakmampuan hati mengumpulkan dan memecahkan glikogen. • Obat-obat golongan kortikosteroid dan anestetik dapat meningkatkan kadar gula darah menjadi lebih dari 200 mg/dL. ketidakmampuan sel mempergunakan glukosa secara efi sien. Pemeriksaan glukosa darah adalah prosedur skrining yang menunjukan ketidakmampuan sel pankreas memproduksi insulin. • Urin yang berbusa mengandung protein atau asam empedu • Kuning kecoklatan menunjukkan primakuin. amitriptilin. 3.5. • Kadar gula darah menurun (hipoglikemia) dapat disebabkan oleh kadar insulin yang berlebihan atau penyakit Addison.5. Glukosa (Fasting Blood Sugar/FBS) Nilai normal : ≥ 7 tahun : 70 .33 . sulfametoksazol.100 mg/dL SI unit : 3.55 mmol/L 12 bulan . dan sepsis. penyakit hati kronik. bilirubin. ibuprofen.6 tahun: 60-100 mg/dL SI unit : 3. • Warna hitam menunjukkan adanya. fenazopiridin atau katartik fenolftalein. fenitoin. obat kontras radiografi . bakteriuria.89 . pigmen empedu. polymorphonuclear (PMNs). feokromasitoma. penyakit yang kronik. alkaptouria • Warna gelap menunjukkan porfi ria. klorokuin • Warna biru-hijau menunjukkan pasien mengkonsumsi bit.berarti urin bersifat asam (karena metronidazol) atau alkali (karena laksatif. bakteri Pseudomonas. . fosfat atau sel darah putih (pyuria). • Dengan menghubungkan konsentrasi serum glukosa dan adanya glukosa pada urin membantu menentukan masalah glukosa dalam ginjal pasien. malignant melanoma (sangat jarang) • Urin yang keruh merupakan tanda adanya urat.55 mmol/L Deskripsi: Glukosa dibentuk dari hasil penguraian karbohidrat dan perubahan glikogen dalam hati. perlu dicurigai adanya diabetes mellitus. Implikasi klinik: • Peningkatan gula darah (hiperglikemia) atau intoleransi glukosa (nilai puasa > 120 mg/dL) dapat menyertai penyakit cushing (muka bulan). stress akut. bit. defi siensi kalium. • Bila konsentrasi glukosa dalam serum berulang-ulang > 140 mg/dL.

Asam Urat Nilai normal : Pria .5mg/dL SI unit :214-506 μmol/L Wanita. Konsentrasi urat dalam serum meningkat bila terdapat kelebihan produksi atau destruksi sel (contoh: psoriasis. limfoma. salisilat (< 2 g/hari).3 – 6.Hipoglikemi oral .Insulin .6-8. ≥ 15tahun:3. Implikasi klinik: • Hiperurisemia dapat terjadi pada leukemia. metabolit asidosis dan kegagalan fungsi ginjal yang signifikan akibat penurunan ekskresi atau peningkatan produksi asam urat. leukemia) atau ketidakmampuan mengekskresi urat melalui ginjal. • Nilai asam urat di bawah nilai normal tidak bermakna secara klinik. Dua minggu setelah pulih merupakan waktu yang tepat untuk mengukur kadar glukosa • Beberapa obat menggangu kadar toleransi glukosa (tidak terbatas pada) . . etambutol.Kortikosteroid .6 mg/dL SI unit : 137 – 393 μmol/L Deskripsi: Asam urat terbentuk dari penguraian asam nukleat.> 18 tahun: 2.Diuretik tiazid .Faktor pengganggu • Merokok meningkatkan kadar glukosa • Perubahan diet (misalnya penurunan berat badan) sebelum pemeriksaan dapat menghilangkan toleransi karbohidrat dan terjadi “false diabetes” • Kadar glukosa normal cenderung meningkat dengan penambahan umur • Penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang dapat menyebabkan glukosa meningkat secara signifi kan pada jam kedua atau specimen darah berikutnya • Penyakit infeksi dan prosedur operasi mempengaruhi toleransi glukosa. syok.Estrogen dan kontrasepsi oral . • Obat yang dapat meningkatkan kadar urat darah meliputi: tiazid.Asam nikotinat 4.Salisilat dosis besar . kemoterapi. niasin dan siklosporin.

2013. Granner. sulfi npirazon dan salisilat (> 3 g/hari). Kadar asam urat seharusnya turun pada pasien yang diterapi dengan obat yang bersifat uricosuric seperti allopurinol. probenesid. Rodwell. tanda gout atau gejala leukemia. 4. Perawatan pasien Interpretasikan hasil pemeriksaan dan monitor fungsi ginjal... 2003. Biokimia Harper.. Fakultas Kedokteran.A. Uji Presipitasi .K.K. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. D. Jakarta.. • Obat yang dapat menurunkan kadar urat darah meliputi: allopurinol. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. probenesid. P. Perbandingan Kadar Glukosa Darah Kapiler Dengan Kadar Glukosa Darah Vena Menggunakan Glukometer Pada Penderita Diabetes Melitus. 2011. V. Universitas Kristen Maranatha.  Immunoassay tak berlabel : a. Macam Immunoassay Imunoasai secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis yakni imunoasai berlabel dan tidak berlabel. Edisi 25. Pedoman Interpretasi Data Klinik. Mayes. R.W. Murray. Yap Albert. dan sulfi npirazon. Pustaka Ditjen Binfar Alkes.

Jika darah memiliki Ag bergolongan A aglutinasi jika dengan keberadaan Ab thd Ag gol A . Uji presipitasi cincin terbentuk cincin presipitasi (uji +) 5. Sel darah merah yang diuji merupakan Ag pada tes agutinasi Cth : uji penentuan golongan darah. Uji Hemaglutinasi Uji hemaglutinasi Merupakan Uji Aglutinasi yang dilakukan dari sel darah merah. Uji Aglutinasi lempeng cth : 1. Beberapa macam cara/ uji presipitas yg sering dipakai : 1.Paratyphi 2. Uji presipitasi tabung 3. Uji presipitasi dapat terjadi bila suatu Ag terlarut bereaksi dengan Ab.Dipakai jika aglutinasi berlangsung lambat 3. uji Widal Lempeng  deteksi Ab thd S. Uji Hambatan Aglutinasi utk menentukan Ag larut yg tdk diketahui identitasnya cth : uji konfirmasi RPHA (Reverse Passive Hemagglutination Test) utk penentuan HBs Ag c. uji VDRL mikro 2. Uji Aglutinasi uji aglutinasi merupakan suatu uji immunoassay yang didasarkan pada Reaksi antara Ab-Ag seluler atau Ag pada permukaan sel • Macam-macam uji Aglutinasi : 1. Sel darah dapat diaglutinasikan karena antigen yang ada pada darah. Imunoelektroforesis prinsip sama dengan elektroforesis b. Uji presipitasi tabung kapiler cth : uji CRP 4. Prinsip kerja dari hemaglutinasi yaitu Mendeteksi Ab thd antigen sel darah merah. Uji Aglutinasi tabung . Uji presipitasi lempeng/ slide cth : 1.

Sebagai ganti anti-imunoglobulin yaitu komplemen lisis sel.hemolisis  Immunoassay berlabel : a. parasit Interpretasi : + jika tidak hemolisis. Immunoflourecent pada umumnya terbai atas dua yaitu : 1. Macam uji lisis imun : Uji Fiksasi Komplemen cth : deteksi Ab thd Virus. In-direct immunoflourescent . Direct immunoflourescent : Ab dilabel dg marker flourescent. bakteri. Dimana Ab secara langsung diberikan pada jaringan yg diinginkan 2. Berlabel Flouresens Immunoassay yang berlabel florosens salah satunya yaitu uji Uji immunoflourescent . fungi. d. Lisis Imun Kompleks imun tidak selalu terjadi antara Abx terhadap Ag pada permukaan sel. immunoflourescent (IFA) mempunyai prinsip kerja dengan adanya ikatan/ kompleks Ag-Ab divisualisasikan dg adanya perpendaran flouresen dibawah mikroskop. . Kompleks imun baru terbentuk jika ditambahkan antiimunoglobulin/ Ab thd Abx.

Radioimmunoassay merupakan revolusi dalam pemeriksaan medis. 14C. 57Co. (Putu Oky. Pengujian ini memerlukan sampel dg bahan yg sedikit dan sudah dpt terdeteksi Cth : Uji RIA (Radioimmunoassay) Pelabelan dengan Radioisotop yg dipakai pada uji RIA : 3H. A. Pada tahun 2009. 2015) 5. Maka sinyal floresen semakin meningkat b. Berlabel Radioisotop Immunoassay berlabel isotop merupakan uji laboratoris yg sensitif utk penentuan kadar beberapa bahan (hormon).  Aplikasi RIA Teknik RIA adalah suatu teknik penentuan zat-zat yang berada dalam tubuh berdasarkan reaksi imunologi yang menggunakan tracer radioaktif[3]. teknik ini masih revolusioner karena merupakan blueprint untuk pengembangan metode lebih lanjut dalam teknik laboratorium di bidang medis. Pemeriksaan penunjang (Imunoasssay). • Menggunakan Ab yg tdk berlabel thd Ag yg diuji dengan Ab sekunder yang berlabel (yang berikatan spesifik dg Ab pertama). Semakin banyak ikatan Ab sekunder. Radioaktivitas adalah proses peluruhan isotop tidak stabil . 75Se. Tracer radioaktif adalah isotop radioaktif yang akan meluruh pada melalui proses radioaktivitas. skripsi. 131I. dimana Keberadaan ik Ag-Ab yang berlabel diukur dengan gamma counter. RadioImmunoassay (RIA)  Pengertian RIA Radioimmunoassay(RIA) merupakan metode laboratorium (in vitro method) untuk mengukur dengan relative tepat jumlah zat yang ada pada tubuh pasien[1] dengan isotop radioaktif yang bercampur dengan antibody yang disisipkan ke dalam sampel. 125I.

Immunocromatografi Metode pemeriksaan imunokromatografi prinsipnya berdasarkan penangkapan antigen target (atau kadang antibodi) dari berbagai spesimen. Aliran kapiler digunakan untuk menggerakkan konjugat antibodi yang berlabel koloidal emas atau mikropartikel berwarna yang berikatan ke antigen target pada fase gerak yang bergerak melalui antibodi tangkap pada fase tak gerak.6]. 1 Bq sama dengan 1 disintegrasi/sekon[5. Satuan radioaktivitas dinyatakan dengan Curie (Ci). Intensitas dari sumber radioaktif dinyatakan oleh transformasi inti rata-rata per satuan waktu. 1 Ci awalnya didefinisikan sebagai radiasi yang dipancarkan oleh 1 gram 226Ra. Kemudian ditambahkan zat yang tidak diketahui jenisnya yang mengandung sedikit antigen. Antigen dan antibodi berikatan satu sama lain menjadi satu zat. Satuan lain dari radioaktivitas adalah Becquerel (Bq).7×1010 disintegrasi/sekon. Nilai absolute dari 1 Ci sama dengan 3. antibodi dan antigen/hormon yang tidak berlabel radioisotop.  Prinsip RIA Prinsip radioimmunoassay dapat diringkas sebagai persaingan reaksi dalam campuran yang terdiri dari antigen/hormon berlabel radioaktif. tetapi definisi ini diubah sebagai kemurnian dari peningkatan nuklida. Antigen radioaktif dicampur dengan sejumlah antibodi. skema proses pengujian zat dengan teknik radioimmunoassay diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Pengujian ini memanfaatkan banyak antibodi pada paper strip atau membran nitroselulosa sebagai antibodi tangkap yang tak bergerak. Zat baru ini merupakan zat yang diuji. B. Secara ringkas. .(radioaktif) menjadi isotop yang lebih stabil dengan memancarkan energy melalui materi berupa partikel-partikel (alpha atau beta) ataupun gelombang elektromagnetik (sinar gamma)[4].

Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. trikomoniasis. untuk mendeteksi adanya virus hepatitis B dan C pada donor darah . ICT menurunkan kebutuhan jumlah penguji dan peralatan yang mahal.0 ml antiserum dapat digunakan untuk menguji 10-20 ribu sampel. Keuntungan penggunaan metode imunokromatografi (ICT) adalah sederhana dan merupakan pengujian yang singkat yang dapat selesai dalam 10-15 menit. 1. E. Bandung. Uraian lengkap Elisa a. A. (2) bahan kimia yang digunakan tidak berbahaya dan memiliki daya simpan lama. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. PRPN-BATAN. (1995). Seminar Keselamatan Nuklir. ohan S. Teknik ini dapat diterima secara luas oleh penggunanya. dkk. ISSN : 1948-5964. dan untuk mendeteksi rotavirus dan norovirus pada pasien akut gastroentritis ( Adeyemi. 2013. (3) bahan yang diuji dapat langsung berupa ekstrak tanaman sakit tanpa harus mengisolasi patogennya terlebih dahulu. filariasis. “Radiation Biophysics”. in Blood Donors. 2009. “Perekayasaan Pencacah RIA IP10.P. dan pembentukan garis atau pola berwarna.Alpen. . Gordon and Breach. Z. I. Uji positif dihasilkan dari penangkapan antigen berlabel / kompleks antibodi yang bergerak dengan suatu ketidakbergerakkan kedua antibodi anti-spesies (anti-human immunoglobulin G) pada area uji.) 6. “Perkembangan Aplikasi Teknologi Nuklir Dalam Bidang Kedokteran”. Definisi dan keuntungan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) merupakan teknik serologi canggih yang menjanjikan untuk deteksi dan identifikasi patogen tumbuhan (Seal dan Elpninstone 1994.1 Untuk Diagnosis Kelenjar Gondok”.W. Aplikasi pemeriksaan menggunakan metode imunokromatografi adalah pada alat kit uji kehamilan. Masjhur. Nurcahyadi. Susila. Converse dan Martin 1990). J Antivir Antiretrovir. Imran.. ICT sesuai untuk metode diagnostik yanng paling terawat dan dapat digunakan di bawah kondisi lingkungan keras. First edition. L. untuk pemeriksaan klinik TB ekstrapulmonar . Immunochromatographic Testing Method for Hepatitis B. Hari. trypanosomiasis. New York.C. (4) mempunyai .A. diagnosis berbagai infeksi parasit seperti malaria. karena: (1) efisien menggunakan bahan kimia. dll. leishmaniasis.

AbS atau anti-AbP adalah Ab yang diproduksi dengan mengimunisasi hewan lain seperti kambing (goat) dengan AbP. penggamatan hasil reaksi pada serologi biasa berdasarkan endapan molekul Ag-Ab. Converse dan Martin 1990) b. dan (8) dapat digunakan langsung di lapang (Thomas et al. Perbedaannya. Perubahan warna terjadi akibat hidrolisa enzimatik pada reaksi antara konjugat Abenzim dengan substratnya. (Folkhart. seperti mencit dan kelinci. (6) hasilnya dapat kuantifikasi. sehingga hasil ELISA lebih. reagen penghenti reaksi (blocking reagent). antara 5-24 jam. Komponen utama Komponen utama perangkat ELISA terdiri atas Ab. Ab dibedakan menjadi Ab poliklonal (PAb) dan Ab monoklonal (MAb). seperti Agdia Inc. (Scotland). dan Neogen Inc. imunoprob. bufer. Ab juga dibedakan menjadi Ab primer (AbP) dan Ab sekunder (AbS). dan Jordan (Hampton et al. c. Berdasarkan teknik produksi dan spesifisitas reaksinya. AbP adalah Ab yang homolog atau bereaksi dengan AgP. kepekaan deteksi tinggi (1-10 ng virus/ml dan 103-104 sel bakteri/ml). 1990). Indiana). dan cawan ELISA. sedangkan menurut bentuk molekulnya dibedakan menjadi Ab dan F(ab’)2. diproduksi dengan mengimunisasi hewan. Perangkat ELISA dapat dirakit sendiri oleh peneliti atau diperoleh secara komersial dari berbagai perusahaan di luar negeri. 1989. (5) prosedurnya relatif sederhana dan cepat. (7) dapat digunakan untuk menguji sampel dalam jumlah besar sekaligus. dengan AgP. Ag. sedangkan pada ELISA berdasarkan perubahan warna yang terjadi pada substrat pereaksi sesuai dengan label atau imunoprob (immuno probe) konjugat Ab-enzim. substrat. Teknik produksi Ab dan modifikasinya diuraikan secara rinci oleh Ball et al. prinsip dasar ELISA adalah reaksi antara antigen (Ag) dengan antibodi (Ab) menjadi molekul Ag-Ab yang lebih besar dan mudah mengendap.  Antibodi. Ab adalah immunoglobulin (Ig) dari hewan yang diimunisasi Ag patogen sasaran (AgP). . Prinsip kerja Sebagai teknik serologi.

seperti bufer ekstraksi. Enzim yang digunakan untuk membuat konjugat beragam.  Imunoprob (Immunoprobe). blocking reagent. Substrat ini dihidrolisis oleh enzim menjadi p- nitrophenyl (PNP) yang berwarna kuning. dan bufer substrat dibuat dengan menambahkan senyawa kimia tertentu seperti Tween-20. Imunoprob untuk ELISA dibuat dengan mengkonjugasikan Ab dengan suatu enzim menjadi ‛konjugat Ab-enzim’. substrat ini dihidrolisis menjadi enzim menjadi produk berwarna biru (Priou 2001). Bufer lain. yang paling umum adalah Alkaline Phosphatase (AP) dan Horse-radish Peroxidase (HRP) (Converse dan Martin 1990). dan pelarut substrat. Cara pembuatan Ag virus dab Ag bakteri dibahas masing-masing secara rinci oleh Brakke serta deBoer dan Schaad (Hampton et al. bufer pencuci. susu skim. polyvinylpirrolidone (PVP). Senyawa kimia yang digunakan sebagai media (substrate) untuk reaksi enzimatik berbeda-beda. . 1990). Enzim AP memerlukan p-nitrophenyl phosphate (PNPP) yang dilarutkan dalam diethanolamine 10%. dan asam sulfat (H2SO4) (Lazarovits 1990). dapat merangsang timbulnya Ab pada hewan yang diimunisasi. atau senyawa protein dan polisakarida patogen yang antigenik. PBS) dan bufer karbonat. AgP digunakan sebagai kontrol positif pada uji ELISA. Enzim HRP menggunakan substrat tetramethyl benzidine (TMB) yang dilarutkan dalam dimethylsulsulfoxide (DMSO). sel bakteri. NaOH. Reagen lain yang diperlukan dalam ELISA adalah bufer. propagul jamur. dan 2-mercaptoethanol pada bufer dasar. Cara pembuatan imunoprob diuraikan secara rinci oleh MacKenzie (1990). Antigen. ovalbumin (OA). Bufer dasar yang paling sering digunakan dalam ELISA adalah bufer fosfat (Phosphate-Buffered Saline. bufer Ab. bergantung pada enzim yang dugunakan. Konjugat ini dapat dibuat dengan mengkonjugasikan AbP atau AbS dengan enzim tertentu.  Substrat dan bahan kimia lain. gelatin. Ag yang digunakan sebagai AgP pada teknik ELISA adalah partikel virus. Senyawa yang sering digunakan untuk blocking reagents adalah bovine serum albumin (BSA). bufer konjugat.

Cawan ELISA yang diproduksi oleh berbagai perusahaan dengan bahan dan merek berbeda memiliki kualitas pengikatan Ab (Ab binding capacity) yang bervariasi. berbagai bahan lain telah digunakan untuk tempat reaksi. formvar. atau makanan dan minuman). (Yadi Suryadi. dan M. flu burung. Seiring dengan perkembangan ELISA. Evaluasi keberadaan antigen atau antibodi dalam sampel. Tempat reaksi ELISA yang mulamula digunakan adalah cawan polystyrene berlubang 96 buah yang disebut cawan ELISA (ELISA plate) atau cawan mikrotiter (microtiter plate). Cawan lain yang terbuat dari polyvinyl dan bahan plastik lain juga telah digunakan. NCM). 1989. udara. 2) Pemeriksaan: Imunologi/Patologi. Uji Alfa feto protein untuk pemeriksaan fungsi hati. Ifa Manzila. Menelusuri penyebaran penyakit seperti HIV. Aplikasi ELISA Aplikasi ELISA dalam Dunia kesehatan antara lain : Uji Cystacin C dan mikroalbuminuria untuk pemeriksaan fungsi ginjal. dan berbagai jenis kertas juga digunakan sebagai tempat reaksi (Thomas et al. TINJAUAN Potensi Pemanfaatan Perangkat Diagnostik ELISA serta Variannya untuk Deteksi Patogen Tanaman. Mendeteksi alergen makanan potensial dalam industri makanan. Makkouk dan Kumari 2002). 2009 . Mikrobiologi. Kimia Kesehatan (Analitik). Alur kegiatan pelayanan laboratorium kesehatan secara umum meliputi : 1) Pendaftaran/pembayaran retribusi (pra analitik ). sehingga pengguna perlu melakukan uji coba untuk memperoleh hasil optimal (Converse dan Martin 1990). Determinasi konsentrasi antibodi serum dalam uji virus. dll. Jurnal AgroBiogen 5(1):39-48) 7. membran nitroselulosa (nitrocellulose membrane. 3) Pembuatan Laporan (Pasca Analitik ) Secara garis besar pelaksanaan kegiatan pelayanan Laboratorium yang baik dan benar digambarkan dengan alur sebagai berikut : 1) Pasien/pelanggan datang pertama kali ke bagian Pendaftaran/pembayaran retribusi untuk dilakukan pendaftaran dan pencatatan identitas pasien dan sampel (air.  Cawan ELISA. Machmud. seperti manik-manik plastik (plastic beads). jenis pemeriksaan yang akan dilakukan berdasarkan rujukan atau form jenis pemeriksaan. penyakit menular seksual. limbah. d. . kolera. dingin.

sehingga kesuksesan seseorang sangat dipengaruhi oleh penampilan kerja. Setiap laboratorium klinik juga sudah memiliki seorang atau sekelompok orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan pemantapan mutu dan keamanan kerja. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 411/Menkes/PER/III/2010 tentang laboratorium klinik menyatakan bahwa pada pasal 14 tentang ketenagakerjaan. Pada dasarnya kegiatan laboratorium klinik harus dilakukan oleh petugas yang memiliki kualifikasi pendidikan dan pengalaman yang memadai. cara. Tesis. Pengembangan Sistem Informasi Laboratorium Kesehatan Untuk Mendukung Evaluasi Pelayanan Laboratorium. dibaca kemudian dibuatkan laporan hasil pemeriksaan tersebut. laboratorium klinik harus memenuhi ketentuan ketenagakerjaan yaitu untuk laboratorium klinik pratama harus memiliki tenaga teknis sekurang-kurangnya 2 (dua) orang analis kesehatan. lokasi. Universitas Diponogoro) 8. 4) Bagian pendaftaran melakukan pengarsipan. Spesimen harus diambil secara benar dengan memperhatikan waktu. diberi rekomendasi dan disahkan oleh Kepala Labkeskab. Pengambilan dan pengolahan spesimen. Hal ini disebabkan karena pendidikan dapat mencerminkan kecerdasan dan keterampilan tertentu. Menurut Jantriana (2008) menyebutkan bahwa pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam bekerja. 3) Setelah pemeriksaan selesai dilakukan. Jika dilihat dari tingkat pendidikan petugas laboratorium klinik di kota Pekanbaru sebagaian besar berpendidikan diploma tiga (D3) Analis dan Analis (Ismulyati. 2016). dan penyerahan/pengiriman hasil pemeriksaan kepada pasien/pelanggan setelah melakukan pembayaran. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin cenderung sukses dalam bekerja. Hal lain yang harus dilakukan oleh suatu laboratorium untuk pemantapan mutu internal adalah :Persiapan pasien. (YENI MAHWATI . 2009. Hasil pemeriksaan dituliskan pada form hasil pemeriksaan yang telah tersedia. Sebelum spesimen diambil. 2) Setelah dilakukan pendataan kemudian dilakukan pemeriksaan di ruang pemeriksaan sesuai dengan permintaan. . serta memperoleh atau memiliki kewenangan untuk melaksanakan kegiatan di bidang yang menjadi tugas atau tanggung jawabnya. volume. pasien harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik sesuai dengan persyaratan pengambilan spesimen.

Analisis Penerapan Keselamatan Kerja pada Petugas Laboratorium Klinik di Kota Pekanbaru. pengawet/antikoagulan. untuk itu perlu dilakukan pengujian kualitas air. uji kualitas dilakukan setiap kali pembuatan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium adalah peralatan laboratorium. Uji kualitas air. 3(1) Menkes RI. Permenkes RI No 43 Tahun 2013 Tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik yang Baik. Rahman K. sesuai dengan persyaratan pengambilan spesimen. Apabila hasil pengujian tidak memenuhi ( Ismulyati.) . Dinamika Lingkungan Indonesia. peralatan. wadah spesimen. oleh karena itu alat perlu dipelihara dan dikalibrasi secara berkala. sedangkan untuk air yang dibeli. uji kualitas dilakukan setiap kemasan.. Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2016. dan Elda N. 2013. Laboratorium harus memeriksa apakah telah terjadi perubahan selama pembuatan sampai penggunaannya. Kalibrasi peralatan. Untuk air yang dibuat sendiri.