You are on page 1of 32

CHAPTER I

INTRODUCTION

1.1 Background
Low oil price phenomenon has forced researchers and engineeres in the exploration
and exploitation field of study to deliver new technology that can minimize time and
uncertainty in finding new production spots and also eveloping the exsisitng production
spots. One of the important steps in hydrocarbon Exploration and Production (E&P)
business is rock sample analysis which enables observer to extract physical information
to determine the quality of reservoir. The convential method is Laboratory
Petrophysical Analysis; it is mostly about experimenting the rock sample using real
fluid injected into the rock pores using fluid substance (water, mercury, helium, and
air) in order to quantify the porosity and permeability of the rck sample. This method
is seen as the most representative method because of the usage of fluid in laboratory
can simulate the real occurrence of fluid flow in subsurface by adding some
experimental subsurface pressure and temperature. However, this method does not
rarely deform the rock sample caused by the injection fluid forced to flow through the
rock pores. This has been problems for many companies since they want to keep
collecting the rock samples in a good condition after analysis.

In order to do so, reearhers came up with a new concept, which is Digital Rock Physics
Analysis. The main idea is analyzing rock sample digitally without interfering the rock
structure destructively. Digital image will be acquired using Computed Tomography
(CT) Scan technology. Analysis is executed by determining pore and grain structure of
a rock sample thru a process called thresholding, which later rock physical properties,
such as porosity and permeability, can be calculated.

Digitial Rock Physics experiment has been conducted using various type of CT Scan,
which are Medical CT Scan, Micro CT Scan and Nano CT Scan. The main differences
are the resolution that each type produces. Researches on this matter are still being
advanced in order to eliminate the uncertainty factors that affect physical properties

1

calculation of a rock sample which can occurr during image acquisition and
segmentation (Heiko et.al., 2013)

This research is aimed to present method and benchmark data in roder to eliminate
the uncertainty factor in digital rock sample analysis. Berea Sandstone core plug are
used as the experiment sample along with Micro CT Scan as the acquisition instrument.
The sample, which size used are 38.1 mm (1.5 inch), 25.4 mm (1inch), 10 mm and 5
mm, will be processed thru

Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk dapat memberikan data pembanding
(benchmarking) dalam menjawab permasalah tersebut. Dalam penelitian ini, akan
digunakan sampel Batupasir Berea melalui variasi metode pemindaian Micro CT Scan
dengan variasi ukuran yaitu 38.1 mm (1.5 inchi), 25.4 mm (1 inchi), 10 mm dan 5 mm
untuk dihitung parameter fisisnya. Sebelum perhitungan parameter fisis tersebut,
proses konversi informasi citra skala keabuan (greyscale) menjadi citra biner melalui
tahap thresholding juga akan dilakukan dengan beberapa variasi, yaitu Otsu, Adaptive
Median, Adaptive Mean dan Adaptive mean of Minimum and Maximum. Hasil
perhitungan fisis yang didapatkan kemudian dibandingkan dengan perhitungan metode
analisis petrofisika sehingga bisa didapatkan suatu alur kerja yang tepat untuk dapat
menghasilkan data yang representatif menggunakan metode Digital Rock Physics.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah menentukan suatu alur kerja (ukuran
sampel  skenario pemindaian  metode thresholding) yang tepat dalam karakterisasi
sampel Batupasir Berea.

1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah bahwa hasil peneilitan yang dilakukan
berlaku untuk sampel Batupasir Berea dan mungkin tidak cocok untuk jenis sampel
batuan lainnya. Pengukuran juga tidak dilakukan dengan mereplika keadaan reservoir
di bawah permukaan (ex-situ experiment).

2

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Menentukan perhitungan parameter fisis di antaranya porositas dan permeabilitas
suatu batuan berdasarkan konsep Digital Rock Physics dengan beragam konfigurasi
ukuran sampel serta metode pemrosesan
b. Membandingkan hasil yang didapat dari poin a. dengan hasil dari referensi (metode
petrofisika laboratorium)

1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode sebagai berikut:
a. Pemindaian dilakukan terhadap beberapa ukuran sampel (1.5 inchi. 1 inchi, 10 mm
dan 5 mm) dengan variasi skenario pemindaian (Single Full, Spiral, Multi dan No
Free Air). Citra skala keabuan yang dihasilkan dari pemindian kemudian akan
diproses menggunakan variasi metode thresholding (Otsu, Adaptive Mean,
Adaptive Median, dan Adaptive mean of Minimum and Maximum) sehingga
menjadi citra biner. Hasil tersebut kemudian akan diproses lebih lanjut menjadi
informasi parameter fisis batuan (porositas dan permeabilitias)
b. Instrumen yang digunakan adalah Micro CT Scan 1173 serta perangkat lunak
pemrosesan citra NRecon dan CTan yang merupakan kesatuan produk usungan
Bruker.

1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini, dijabarkan latar beakang, rumusan masalah, batasan masalah
tujuan penelitian, metode penelitian serta sistematika penulisan
BAB II TEORI DASAR
Bab ini membahas konsep dasar akuisisi citra, rekonstruksi citra, konsep
citra digital, serta parameter fisis batuan seperti porositas dan permeabilitas
BAB III METODE PENELITIAN

3

parameter rekonstruksi (Misalignment Compensation. Bab ini membahas sampel batuan yang akan dianalisis. variasi skema serta parameter pemindaian. BAB IV HASIL AWAL DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas hasil penelitian sementara yang telah dilakukan serta kesimpulan sementara berdasarkan hasil yang telah didapat BAB II TEORI DASAR 4 . variasi metode thresholding (Otsu dan Adaptive) serta konsep perhitungan porositas citra digital. Beam Hardening Corecction. Ring Artifact Reduction).

merupakan jenis CT Scan yang banyak digunakan di rumah sakit. 1997).al. merupakan jenis CT scan yang berukuran lebih kecil dari Medical. CT Scan bekerja dengan memanfaatkan sumber sinar-X yang sebelumnya dihasilkan oleh bagian X-Ray Tube menembus sampel dengan bentuk pancaran berupa cone beam. Micro CT Scan melakukan pemindaian dengan memutar posisi sampel dan melakukan penembakan sinar-X tiap besaran derajat tertentu.3 mm (Juichiro. 2. mengalami peluruhan intensitas selama melewati sampel batuan lalu ditangkap oleh detektor.2. Medical CT Scan. 3. yaitu: 1. metode Digital Rock Physics memanfaatkan teknologi Computed Tomography (CT) melalui pemindaian (scanning) terhadap batuan tersebut. ukuran sampel yang diperbolehkan adalah 50-300 μm. merupakan jenis CT Scan terbaru yang dapat menghasilkan resolusi citra sampai dengan 50 nanometer. Kamera detektor akan meregistrasi berkas sinar-X yang tidak terabsorbsi oleh sampel menjadi informasi digital yang tersimpan pada media penyimpanan komputer. Tiap penembakan sinar-X akan menghasilkan suatu data tersendiri yang nantinya akan diproses untuk digabungkan dalam tahap rekonstruksi. Instrumen ini cocouk untuk pemindaian objek berukuran kecil dan mampu menghasilkan resolusi sampai dengan 1 μm (Xiang-Jun et.. Terdapat beberapa jenis CT Scan yang terbedakan berdasarkan resolusi citra yang dihasilkan. Micro CT-Scan. Berbeda dengan tipe Medical. Nano CT Scan. Untuk mencapai resolusi tersebut. 2012). instrumen melakukan gerakan merotasi terhadap sampel dan melakukan penembakan sinar-X tiap suatu derajat tertentu sampai meliputi seluruh bagian sampel tersebut (dari 0 o sampai 180o).5 m dengan resolusi maksimal yang dihasilkan 0. Medical CT Scan memungkinkan pemindaian terhadapa objek sampai sepanjang 1. 2014). Untuk mendapatkan citra komplit suatu sampel.1 Akuisisi citra Dalam mendapatkan citra mikrostruktur batuan. 5 . Instrumen ini memiliki sumber sinar-X dan detektor yang berputar mengelilingi objek sampel yang diam. Hal ini bertujuan untuk memperluas area pemindaian yang dapat dicakup terhadap sampel (Kalam.

dengan pergerakan pemindaian dilakukan melalui perputaran posisi sampel sementara posisi sumber tetap.5-7cm dan diameter 0. Gambar 2.1 Ilustrasi akuisisi citra 2. Detektor kemudian menangkap setiap projeksi yang dihasilkan dari tiap penembakkan sumber terhadap perputaran posisi sampel. Untuk melakukan analisis sampel berupa whole core (sampel dengan panjang 0.1. penulis menggunakan instrumen Micro CT Scan 1173 produksi Bruker. maka perlu dilakukan tahap rekonstruksi citra.5-5 cm) sementara Nano CT Scan digunakan khusus untuk menganalisis sampel core plug yang memiliki tingkat kompaksi porositas yang tinggi seperti formasi shale.6-1 meter dan diameter 10-15cm). yaitu projeksi dua dimensi tiap suatu sudut pemutaran tertentu yang merupakan hasil perekaman intensitas sinar-X yang diterima pada detektor setelah melalui sampel. Pemindaian diilustrasikan seperti pada Gambar 2. Ketiga jenis CT Scan di atas digunakan dalam metode Digital Rock Physics untuk keperluan yang berbeda-beda. Pada penelitian ini. Adapun rekonstruksi pada dasarnya bertujuan untuk menyatukan tiap sinogram menjadi 6 .2 Rekonstruksi Citra Hasil dari pemindaian menyeluruh terhadap sampel berupa sinogram. Sampel diletakkan di tengah antara sumber (sinar-X) dan detektor. Untuk mendapatkan citra digital dari kumpulan sonogram tersebut. Micro CT Scan umumnya digunakan untuk menganalisis sampel berupa core plug (sampel dengan panjang 0.

dapat digunakan persamaan rekonstruksi Feldkamp sebagai berikut a) Perhitungan bobot data projeksi. b. maka proyeksi yang didapatkan tiap sudut 45o akan disimulasikan untuk dikembalikan kepada posisi asalnya sehingga akan terjadi penjumlahan antar proyeksi yang menghasilkan perkiraan citra utuh yang sebenarnya (Gambar 2. Faktor jumlah proyeksi tersebut dapat mempengaruhi citra hasil dalam bentuk noise/blur.2 a) Ilustrasi Back Projection b) Hasil backprojection dari tiga projeksi c) Hasil backprojection dari banyak projeksi (Smith. 𝑣) 7 . Efek tersebut dapat diatasi dengan mengaplikasikan suatu bandpass atau ramp filter. keseluruhan konsep rekonStruksi ini disebut juga dengan Filtered Back Projection. Untuk Cone Beam Projection. c.2b). Filtered Back projection dikombinasikan dengan metode rekonstruksi lainnya yang dapat menginterpolasi citra dua dimensi dari citra tiga dimensi secara keseluruhan. Untuk mendapatkan hasil yang dapat merepresentasikan sampel aslinya.2c). Dengan demikian. Dalam implementasinya. Gambar 2. Dengan ilustrasi pada Gambar 2. a. 𝑃Ѳ′ (𝑢. maka diperlukan jumlah proyeksi yang banyak atau pengambilan proyeksi ditiap sudut yang semakin kecil (Gambar 2. Dalam rekonstuksi citra umumnya digunakan konsep back projection. 1997) Tujuan utama dari metode ini adalah simulasi pengembalian proyeksi detektor kembali melalui sampel.suatu gambar utuh dan melakukan interpolasi terhadap data-data intensitas tiap sinogram sehingga didapatkan perkiraan citra 2-Dimensi (2-D) dari bentuk 3-Dimensi (3-D) sampel.2a.

al. y. 𝑃Ѳ∗ (𝑢. 𝑣) = √𝑑2 +𝑣 2 +𝑢2 𝑃Ѳ (𝑢. y. 𝑣) (1) b) Konvolusi bobot projeksi data. 8 .. Jarak antara pancaran sinar-X terhadap sumbu z merupakan 𝑑 (Reiman et. Citra dengan jumlah piksel yang semakin banyak (yang tentunya diikuti dengan ukuran piksel yang semakin kecil) akan menghasilkan representasi citra yang baik. Citra tersebut terdiri dari sekumpulan matriks piksel dengan nilai intensitas pada skala keabuan yaitu 0-255. 2. 𝑣) = 𝑃Ѳ′ (𝑢. proses akuisisi dan rekonstruksi akan mengasilkan keluaran berupa citra skala keabuan (greyscale). Variasi nilai intensitas tersebut mengindikasikan variasi absorbsi sinar-X oleh sampel yang juga berasosiasi dengan variasi kandungan material/densitas sampel. 𝑑 𝑃Ѳ′ (𝑢. z) 2𝜋 𝑑2 𝑑𝑥 μ(x. Parameter demikian disebut dengan resolusi atau ukuran fisis sebuah piksel. 1996). Ukuran matriks piksel suatu citra mengindikasikan kualitas representatif citra tersebut. ditandai dengan koordinat detektor 𝑢 dan 𝑣 dengan pusat rotasi pada sumbu z. 𝑣) 𝑃Ѳ∗ (𝑢. μ(x.3 Konsep Citra Digital Citra digital merupakan suatu kumpulan data matriks yang disebut dengan piksel. Tiap piksel berisikan nilai intensitas dengan skala tertentu yang mengindikasikan warna dalam citra asli. z) = ∫0 𝑃Ѳ∗ (𝑑−𝑦) 𝑑Ѳ (3) (𝑑−𝑦)2 Projeksi objek pada sudut Ѳ. 𝑣) ∗ ℎ(𝑢) (2) c) Hasil backrpojection. dengan nilai 0 menandakan warna hitam sementar nilai 255 menandakan warna putih. Pada metode Digital Rock Physics. 𝑃Ѳ ().

informasi mengenai persentase kandungan pori terhadap material total (pori + solid/butiran) akan diekstrak.3 a) citra greyscale b) histogram citra greyscale Pengamatan variasi kandungan piksel dalam suatu citra greyscale dapat dilakukan melalui histogram. Namun.4. citra greyscale perlu dikonversi melalui tahap thresholding. b. Adapun nilai 1 (piksel bewarna putih) pada citra biner menandakan solid/butiran. Hasil proses thresholding terhadap suatu citra greyscale dapat diamati pada Gambar 2. Gambar 2. interpretasi tersebut tidak dapat dilakukan dengan baik. sementara nilai 0 (piksel bewarna hitam) menandakan pori (ruang kosong/void). 9 . yaitu pemberlakukan suatu nilai batas (threshold value) terhadap suatu matriks greyscale sehingga piksel greyscale yang bernilai lebih kecil dari threshold value akan diubah menjadi nilai 1 dan piksel greyscale yang bernilai lebih kecil dari threshold value akan diubah menjadi nilai 0 Dengan demikian. sumbu X menyatakan intensitas piksel yang terkandung dalam citra greyscale dan sumbu Y menyatakan jumlah tiap piksel dengan intensitas tertentu. Untuk itu.3b). dapat dihasilkan citra output yang memiliki matriks piksel 0 dan 1. Dari citra greyscale. dengan variasi piksel yang beragam seperti terlihat pada histogram. Adapun dalam histogram (Gambar 2. a. Citra ini disebut dengan citra biner (binary image).

4 a) citra greyscale b) citra biner hasil thresholding pada bagian kotak merah 2. kompaksi akibat overburden pressure dan variasi susunan butir (grain packing) Porositas terbagi menjadi dua klasifikasi utama: 1. a. Porositas merupakan besaran yang sangat penting dalam analisis batuan karena besaran ini dapat memberikan gambaran mengenai jumlah fluida yang terperangkap dalam pori-pori batuan reservoir. yaitu pori-pori antar grain pada batun b. yaitu pori-pori yang sangat kecil berasal dari kisi-kisi kristal pada batuan 2. merupakan porositas yang terbentuk setelah proses sedimentasi. yaitu terciptanya channel pada batuan yang disebabkan oleh sirkulasi udara panas dan dingin pada lingungan sekitarnya. Dolomitisasi.4 Parameter Fisis Batuan: Porositas Porositas pada suatu batuan merupakan perbandingan antara volume pori dengan volume total (volume butiran + pori). merupakan porositas yang terbentuk selama proses sedimentasi. Gambar 2. b. Terdapat beberapa jenis porositas primer. Porositas sekunder. Microporosity. yaitu keseragaman (uniformity) dari ukuran butiran batuan (grain size). yaitu : a. Pertukaran kedua ion tersebut dapat mempengaruhi volume pori-pori pada batuan melalu 10 . Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi porositas. Solution porosity. tingkat sementasi batuan. b. Intergranular Porosity. Terdapat beberapa jenis porositas sekunder. yaitu proses perubahan limestone menjadi dolomit yang melibatkan pertukaran ion magnesium dan kalsium. yaitu : a. Porositas primer.

berdasarkan keterhubungan pori-pori. c. Permeabilitas suatu media berpori dijabarkan oleh Darcy sebagai berikut Δ𝑃 𝑄 = −𝑘𝐴 µ𝐿 (4) dengan Q = laju alir fluida (cm/s) 11 . didefinisikan menjadi dua jenis utama yaitu porositas terbuka (open porosity) dan porositas tertutup (closed porosity). Dari jenis-jenis porositas di atas. Fracture Porosity. Pada model cube packing secara matematis didapat perhitungan fraksi porositas (dengan asumsi butiran berbentuk bulat sempurna) adalah 47. porositas intergranular merupakan jenis porositas dominan penyusun batuan tersebut. yang merupakan suatu bentuk susuan butiran-butiran sebagai penyusun batuan.9%. ketidaksetimbangan reaksi kimia karena volume ion magnesium lebih kecil dari volume ion kalsium sehingga dapat menyebabkan pertambahan porositas. 1973).6%.5 Parameter Fisis Batuan: Permeabilitas Kemampuan suatu material berpori dalam mengalirkan fluida didefinisikan sebagai permeabilitas. hanya porositas terbuka yang diperhitungkan. Porositas intergranular bersifat dependen terhadap grain packing pada suatu batuan. Pada unconsolidated sandstone dengan poor grain sorting. yaitu rekahan pada batuan yang dapat disebabkan oleh overburden pressure dan juga aktivitas tektonik Pada batuan sedimen. Efek grain packing ini dapat ditemukan pada unconsolidated sedimentary rock. Dalam perhitungan permeabilitas. Porositas terbuka menyatakan jumlah pori yang terhubung satu dengan yang lainnya. ditemukan porositas maksimum sebesar 27 % sementara pada batuan dengan pengaturan butiran yang baik (extremely well sorting) dapat ditemukan porositas paling besar adalah 42 % (Berd. 2. sementara model rhombohedral packing memiliki fraksi porositas sebesar 25. sementara porositas tertutup menyatakan jumlah pori yang terisolasi dari pori lainnya. yang juga berkaitan dengan porositas. yaitu batuan sedimen yang memiliki tingkat sementasi yang rendah sehingga ikatan antar butirannya tidak merekat dengan baik.

permebailitas sampel batuan reservoir umumnya ditemukan dalam unit miliDarcy (mD). yaitu bentuk dan ukuran butiran.A = Luas Permukaan sampel yang dilalui oleh fluida (cm2) k = permeabilitas (Darcy) µ = viskositas fluida (centipoise) 𝑑𝑃 = Gradien tekanan terhadap jarak tempuh fluida (atm/cm) 𝑑𝑙 Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi permeabilitas. kandungan mineral/shale dalam suatu batuan. Kualitas reservoir jika dinilai dari permeabilitas (k. 2004). 12 . Pada praktiknya.al. tingkat sementasi. dalam satuan mD) dapat dinilai kurang baik (poor) jika k<1. sedang (moderate) jika 10<k<50 .. dan kompaksi akibat overburden pressure (Amyx. cukup (fair) jika 1<k<10. 1960). baik (good) jika 50<k<250 dan sangat baik (very good) jika k>250 (Tiab et.

1 Sampel Core Plug Batupasir Berea Sampel kemudian akan dipotong berdasarkan ukuran-ukuran pemindaian tertentu (Gambar 3. mD % butir (gr/cc) Bulk 54.1 Sampel Penelitian Dalam penelitian ini. 10 mm dan 5 mm. Densitas Densitas Absolut . 1 inchi . Batupasir Berea memliki ukuran butir 1/8-1/2 mm (sand-sized) berupa kuarsa yang saling terikat oleh silika.5 inchi  1 inchi  10mm 5mm). Terdapat beberapa ukuran (diameter) sampel yaitu: 1.3698 2.1). Amerika Serikat.1418 Gambar 3. sampel Batupasir Berea telah dianalisis di laboratorium petrofisika dengan data tertera pada Tabel 3.1.5 inchi (ukuran awal).2531 17. 13 .2). Batupasir Berea merupakan jenis sampel batuan yang telah lama digunakan sebagai benchmark/tolak ukur pembanding oleh berbagai universitas dan perusahaan dalam uji coba analisis petrofisika labratorium dikarenakan grain sorting yang baik dan cenderung homogen.5921 2. Rentang porositas (13-35%) dan permeabilitas (16-355 mD) yang cukup baik menjadikan Batupasir Berea sebagai salah satu reservoir hidorkarbon dan air terbesar di Daratan Ohio. Tabel 3. BAB III METODE PENELITIAN 3. dugunakan sampel Batupasir Berea berupa core plug dengan diameter 1.1 Hasil perhitungan Petrofisika Laboratorium sebagai referensi Permeabilitas Porositas. Sampel tersebut dipotong berdasakan pengecilan dari sampel paling besar sampai menjadi sampel paling kecil (1. Sebelum penelitian ini dilakukan.5 cm (Gambar 3.5 inchi dan tinggi 7.

Sampel kemudian dipindai dan dilakukan perputaran sampel dengan dudukan yang semakin naik sehingga seakan-akan membentuk Pemindaian Spiral gerakan spiral. Pemindaian Single Full 2 Sampel diletakkan lebih dekat SP ke kamera dengan menyisakan ruang udara kosong di sektar sampel. Terdapat beberapa skema pemindaian seperti tertera pada Tabel 3. 10 mm d).2 Ilustrasi pemotongan sampel batuan ukuran a).5 inchi b). digunakan instrumen Micro CT Scan produksi Bruker Tipe 1173. 14 .2.2 Ilustrasi berbagai skenario pemindaian No Ilustrasi Deskripsi Kode 1 Sampel diletakkan cukup jauh SF dari kamera sehingga keseluruhan sampel dapat terlihat oleh kamera pemindai. Sumber radiasi berupa sinar-X polikromatik dengan tegangan 40-130 kV. Gambar 3. 5 mm 3. Tabel 3. 1 inchi c).2 Tahap Pemindaian Dalam penelitian ini. a b c d . 1.

. - 15 . Skema ini memungkinkan resolusi yang dihasilkan lebih tinggi dari Skema Spiral Pemindaian Multi 4 Sampel diletakkan sangat NF dekat dengan kamera sehingga tidak terlihat lagi ada udara kosong di sekitar sampel.3 Durasi skema pemindaian terhadap berbagai ukuran sampel uji (jam:menit:detik) Skema Pemindaian SF Spiral MT NF Ukuran Sampel 1.5 inchi 4:23:51 12:02:06 26:11:02 4:22:01 1 inchi 4:10:22 10:47:18 . 4:21:13 1 cm 2:49:14 .3 Sampel di pindai menjadi MT beberapa sub bagian dan kemudian akan digabungkan kembali menjadi satu bagian utuh. - 5 mm 2:48:51 . Skema ini menghasilkan resolusi paling besar dibandingkan ketiga skema lainnya Pemindaian No Free Air Tabel 3. .

5 inchi 35. Bruker Micro CT Scan 1173 b). perlu dilakukan pengecekan terhadap profile line yang menandakan profil transmisi energy sinar-X selama melewati sampel (Gambar 3.4). Persiapan pemindaian sampel Sebagai persiapan pemindaian.5 6. 2064 . .67 19. Adapun standar yang umumnya digunakan adalah nilai minimum pada kisaran 10-30 % 16 .4 Resolusi piksel dari skema pemindaian terhadap berbagai ukuran sampe ujil (𝜇m) Skema Pemindaian SF Spiral MT NF Ukuran Sampel 1. . 6.95 8.06 1 cm 5. - 5 mm 5.5 Dimensi piksel hasil dari skema pemindaian terhadap berbagai ukuran sampel uji (panjang × lebar × tinggi dalam unit piksel) Skema Pemindaian SF Spiral MT NF Ukuran Sampel 1824 × 2240 × 4224 × 1824 × 2240 × 4224 × 1.04 . b.41 1 inchi 16. - Tabel 3.06 . .5 inchi 1934 1512 3874 - 2240 × 2240 × 2016 × 2240 × 2240 × 2240 1 inchi 1935. Tabel 3.03 11. Gambar 3.3 a). - 2240 × 2240 × 5 mm 1142 .34 . - a. . × 1901 2240 × 2240 × 1 cm 1348 .

Nilai kV sangat bergantung dengan densitas sampel 2.3 Tahap Rekonstruksi: Misalignment Compensation Proses pemindaian dilakukan dengan memutar sampel dengan sudut putaran tertentu dan dilakukan pemindaian tiap pemutaran tersebut. Durasi pemaparan (exposure time)  merupakan besaran waktu yang menyatakan durasi penerimaan sinar-X oleh detektor selama pemindaian. Pemindaian dilakukan sampai tercapai 17 . Berikut merupakan beberapa parameter tersebut: 1. 4.4. Proses validasi parameter-parameter akuisisi berdasarkan profile line yang dihasilkan 3. Untuk mendapatkan konfigurasi profile line tersebut. Tersedia dua jenis filter dari Bruker MicroCT Scan 1173. terdapat beberapa parameter pemindaian yang perlu diubah-ubah pada melalui software pemindaian (metode trial-and- error). Gambar 3. Filter  berperan dalam mengontrol spektrum sinar-X polikromatik yang dipancarkan selama pemindaian. Profile Line seperti demikian akan menghasilkan citra mentah yang cukup baik untuk dilakukan pengolahan dan analisis pada tahap berikutnya. Nilai μA  merupakan besaran arus yang digunakan selama pemancaran sinar-X 3. Nilai kV  merupakan besaran tegangan yang bekaitan erat dengan energi output sinar-X selama pemindaian. Parameter-paraeter tersebut dinilai sudah cukup baik jika profile line yang dihasilkan sudah memenuhi standar seperti yang telah dijelaskan. dan maksimum pada nilai 90%. yaitu Brass 0.25 mm dan Aluminium 1 mm .

Efek dari permasalahan ini disebut dengan misalignment. energi rendah akan mengalami atenuasi yang lebih cepat sehingga ketika mencapai bagian tengah dari sampel. terbagi menjadi dua jenis yaitu energi tinggi (compton effect) dan energi rendah (photoelectric effect). b. Citra greyscale akibat efek misalignment dan b). Selama melalu sampel.5 a). sinar-X mengalam efek pengerasan (hardening) karena hanya menyisakan energi tinggi. setelah melalui misalignment compensation 3. Proses tersebut dapat menyebabkan terjadinya pergeseran posisi sampel selama pemindaian sehingga menghasilkan noise pada citra. maka seharusnya projeksi yang didapatkan pada sudut pemutaran 0o akan sama (identik) degan projeksi yang didapatkan pada sudut 180o jika dibalikkan sebesar 180o secara horizontal (horizontal flipping).4 Tahap Rekonstruksi: Beam Hardening Correction Beam Hardening terjadi karena terserapnya sebagian energi dari sinar-X setelah menembus sampel. Jika tidak terjadi pergeseran posisi sampel. misalignment correction/compensation dilakukan dengan membanding citra pada sudut 0o dan 180o. Jika terjadi ketidakcocokan. Jumlah pergeseran tersebut merupakan input dari pengguna dan perlu dilakukan simulasi pada tiap nilai pergeseran piksel sehingga dapat ditentukan besar pergeseran piksel yang tepat untuk mengatasi permasalahan misaligment. 18 . Gambar 3. sudut pemutaran sebanyak 180o. maka projeksi pada sudut pemutaran 180o tersebut akan dilakukan pergeseran sebesar beberapa piksel. Sumber sinar-X yang digunakan dalam Micro CT bersifat polikromatik sehingga mengandung rentang spektrum energi. Dalam tahap rekonstruksi. a.

Untuk itu. Penentuan nilai persentase didapatkan melalui percobaan trial-and-error tiap nilai dengan citra yang dihasilkan melalui opsi preview. 1987) 𝐸 𝐼(𝑥) = ∫𝐸 1 𝑆(𝐸)𝑒 −µ𝐿(𝐸)𝑥 𝑑𝐸 (5) 𝑜 .. Sementara x merupakan jarak yang ditempuh patikel sinar-X selama menembus sampel. plot anatara koefisien atenuasi terhadap densitas bersifat tidak beraturan. Pada kasus polikromatik.Selama menembus sampel. Untuk menghilangkan beam hardening effect.dengan S(E) merupakan spektrum energi dari sumber polikromatik dan μL(E) merupakan total koefisien atenuasi (mencakup koefisien energi dari photoelectric dan compton effect) yang merupakan fungsi dari energi. maka hasil perhitungan akibat variasi koefisien atenuasi perlu dikonversi menjadi koefisien atuenuasi yang seharusnya diperoleh ketika menggunakan sumber sinar-X monokromatik (fungsi linear ideal antara koefisien atenuasi terhadap ketebalan sampel).al. a) b) 19 . Sinar-X mengalami atenuasi yang dumuskan sebagai Beer’s Law (Segal et. pengguna dapat memasukkan jumlah persentasi ketebalan (0-100%) yang diinginkan untuk dilakukan beam hardening correction. Adapun fungsi linear idelal tersebut diperoleh oleh sistem Micro CT saat pertama kali melakukan kalibrasi terhadap sampel. dilakukan pendekatan linear curve fitting untuk mendapatkan hubungan antara koefisien atenuasi terhadap ketebalan sampel. Pada perangkat lunak. Koreksi dilakukan dengan mengembalikan nilai-nilai ada garis polinomial tersebut ke garis linear ideal.

Proses ini disebut dengan thresholding. diperlukan suatu proses pengubahan citra greyscale menjadi citra biner yang hanya memiliki dua jenis piksel yaitu 0 (hitam) dan 1 (putih). sebelum dan b). Gambar 3. Threhsolding bekerja dengan mengaplikasikan suatu nilai batas tertentu (threshold value) terhadap semua nilai piksel pada suatu citra untuk dibandingkan Jika nilai intensitas suatu piksel pada citra tersebut lebih kecil dari nilai batas. Noise tersebut umunya dihasilkan karena gerakan perputaran selama pemindaian. Untuk dapat melakukan pengukuran parameter fisis batuan (porositas dan permeabilitas). citra greyscale yang 20 .6 Tahap Pemrosesan: Thresholding Tahap rekonstruksi menghasilkan citra greyscale. yaitu noise berupa lingkaran-lingkaran (ring artefact) yang terdapat pada citra hasil rekonstruksi.al. 2011).. Warna hitam mengindikasikan pori.6 Citra greyscale a). sehingga perlu dilakukan koreksi ring artefact di setiap kali pemindaian. sementara warna putih mengindikasikan butiran.5 Tahap Rekonstruksi: Ring Artifact Reduction Salah satu bentuk noise lainnya adalah ring artifact. informasi terkait pori-pori dan butiran dari sampel batuan perlu diekstrak. sebelum dan b). sesudah melalui ring artifact reduction 3. sesudah melalui beam hardening correction 3. Koreksi ini dilakukan dengan mengaplikasikan filter pada sinogram (citra projeksi yang belum direkonstruksi) sehingga citra greyscale yang dihasilkan menjadi lebih halus (Prasad et. maka nilai piksel tersebut diubah menjadi sama dengan 0. a) b) Gambar 3. Dengan demikian. sementara jika piksel tersebut lebih besar dari nilai batas maka nilai piksel akan diubah menjadi sama dengan 1. Dengan demikian.7 Citra greyscale a). Hal ini sulit didapatkan dari citra greyscale karena pori dan butiran tidak dapat terbedakan dengan baik.

1 dan 2 dan diregistrasikan menjadi variabel 𝐵𝐺1 . 𝑓_𝐵𝐺2 . 3. dan 5 dikelompokan menjadi foreground. yaitu manual dan otomatis. Tiap variabel tersebut juga memiliki nilai frekuensi atau jumlah tiap intesitas piksel (𝑓_𝐵𝐺1 . Namun metode ini sangat tidak dianjurkan karena pemilihan nilai batas tersebut tidak berdasarkan suatu parameter yang jelas serta mengandung unsur subjektifitas.4. Untuk itu. 𝐹𝐺2 . Dalam metode manual. 𝑓_𝐹𝐺2 . 𝐵𝐺2 . yaitu 𝑓_𝐵𝐺1 +𝑓_𝐵𝐺2 +𝑓_𝐵𝐺3 𝑊𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡 (𝑊𝐵𝐺 ) = (6) 𝑛𝑥𝑛 21 . Metode ini akan melakukan pengelompokan piksel-piksel yang akan menjadi foreground (piksel bernilai 1/berarna putih) dan background (piksel bernilai 0/berwarna hitam) pada citra biner dan simulasi tiap piksel untuk menjadi foreground dan background tersebut juga akan dilakukan. Terdapat dua metode thresholding otomatis yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Dengan demikian. Thresholding dapat dilakukan dengan dua cara. pemilihan nilai batas dialakukan dengan menganalisis pemisahan puncak frekuensi suatu piksel pada histogram citra greyscale. dan 𝐹𝐺3 . 4 dan 5. 𝑓_𝐵𝐺3 . 𝑓_𝐹𝐺1 . Berikut merupakan contoh perhitungan nilai batas threshold Metode Otsu. Sementara piksel bernilai 3. dan 𝐵𝐺3 . Asumsikan terdapat suatu citra dengan dimensi piksel 6×6 yang berisikan piksel bernilai 0. penggunaan metode otomatis lebih menjadi pilihan dalam berbagai penelitian terhadap citra greyscale. yaitu: a. diregistrasikan menjadi variabel 𝐹𝐺1 . dilakukan perhitungan beberapa nilai. Metode Otsu (Global Thresholding) Dalam metode Otsu. 2.semula memiliki sebaran intensitas piksel 0-255 akan diubah menjadi citra biner yang hanya memiliki intensitas piksel 0 dan 1. penentuan nilai batas threshold dilakukan dengan pemilihan secara subjektif oleh pengguna berdasarkan perbandingan dengan citra greyscale-nya. Untuk kelompok background. 𝑓_𝐹𝐺3 ). 1. dikelompokkon piksel background yang beranggotakan piksel bernilai 0. Pertama dilakukan komputasi nilai batas pixel bernilai 3.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa penggunaaan nilai batas pada piksel tersebut dapat menghasilkan foreground dan background yang terpisahkan atau tersegmentasi dengan baik (Otsu. dan σ2𝐹𝐺 . 1. Dengan demikian. Kemudian dihitung nilai Between Cass Variance yang menyatakan besarnya pemisahan kedua kelompok tersebut (dalam histogram) jika nilai piksel sama dengan 3 digunakan sebagai nilai batas. maka pemilihan nilai batas tidak akan memberikan hasil yang representatif. σ2𝐵𝐺 . Keadaan tersebut dapat terjadi ketika citra yang akan dianalisis memiliki iluminasi yang tidak merata. maka dilakukan juga perhitungan untuk kelompok piksel foreground.2 4. dan 5. 1976). Keenam nilai Between Class Variance tersebut kemudian dibandingkan untuk mencari nilai yang paling besar. Nilai Between Class Variance dengan nilai batas tersebut kemudian disimpan untuk dibandingkan dengan nilai Between Class Variance dengan percobaan nilai batas lainnya yaitu piksel bernilai 0. μ𝐵𝐺 . Metode Otsu bersifat global yang berarti nilai batas tersebut akan diaplikasikan ntuk semua piksel pada citra yang dianalisis. Perumusan yang digunakan untuk foreground (FG) sama dengan yang dilakukan terhadap kelompok background (BG). μ𝐹𝐺 . Between Class Variance (σ2𝐵 ) dirumuskan sebagai berikut σ2𝐵 = 𝑊𝐵𝐺 × 𝑊𝐹𝐺 × (μ𝐵𝐺 − μ𝐹𝐺 )2 (9) Perhitungan di atas baru dilakuan untuk satu piksel sebagai nilai batas yaitu piksel bernilai 3. 𝑊𝐹𝐺 . 22 . didapatkan nilai 𝑊𝐵𝐺 . Metode Otsu juga disebut sebagai metode berbasis histogram. Hal ini dikarenakan jika histogram tidak menunjukkan sebuah puncak foregorund dan sebuah puncak background yang kontras (histogram bimodal). (𝐵𝐺1 ×𝑓_𝐵𝐺1 )+(𝐵𝐺2 × 𝑓_𝐵𝐺2 ) +(𝐵𝐺3 × 𝑓_𝐵𝐺3 ) 𝑀𝑒𝑎𝑛 (μ𝐵𝐺 ) = (7) 𝑓_𝐵𝐺1 + 𝑓_𝐵𝐺1 + 𝑓_𝐵𝐺1 ((𝐵𝐺1 −µ𝐵𝐺 )2 × 𝑓𝐵𝐺 1 )+((𝐵𝐺2 −µ𝐵𝐺 )2 × 𝑓𝐵𝐺 2 )+((𝐵𝐺3 −µ𝐵𝐺 )2 × 𝑓𝐵𝐺 3 ) 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑐𝑒 (σ2𝐵𝐺 ) = (8) 𝑓_𝐵𝐺1 + 𝑓_𝐵𝐺1 + 𝑓_𝐵𝐺1 Setelah mendapatkan ketiga nilai di atas.

yaitu mean. Dalam implementasinya. yaitu piksel yang bernilai lebih kecil dari nilai batas akan diubah menjadi bernilai sama dengan 0 dan yang bernilai lebih besar atau sama dengan nilai batas akan diubah menjadi bernilai sama dengan 1 (Solomon et.al. dalam satu citra akan terdapat banyak nilai batas yang diaplikasian terhadap daerah-daerah lokal tertentu. nilai tengah (median). Dalam menentukan nilai batas untuk tiap bagian lokal. Nilai batas tersebut kemudian diaplikasikan terhadap piksel-piksel dalam threshold window dengan aturan yang sama.. Histogram bimodal dari citra greyscale c). Metode Adaptive (Local Thresholding) Berbeda dengan Metode Otsu. Dengan demikian.8 a). piksel- piksel yang terdapat pada suatu daerah lokal tertentu (threshold window) akan diurutkan dan dihitung nilai rata-rata (mean). dan rata-rata dari nilai minimum dan maksimum (mean of minimum and maximum) sehingga didapatkan suatu nilai batas berdasarkan penggunanan statistik tersebut. Metode Adaptive menerapkan nilai batas terhadap suatu daerah lokal yang merupakan bagian dari suau citra yang akan dianalisis. a) b) c) Gambar 3. citra biner hasil thresholding dengan metode Otsu b. Hal ini dapat mengeliminasi varasi iluminasi yang mungkin terdapat pada citra tersebut. 2011). median dan mean of minimum and maximum. Citra greyscale dengan iluminasi yang merata b). Metode Adapative memiliki tiga pendekatan secara statistik. 23 .

2009). Terlihat terdapat bagian yang hilang pada hasil Metode Otsu jika citra input memiliki iluminasi yang tidak merata 3.. a) b) c) Gambar 3. Metode Otsu b) Metode Adaptive. Porositas (ɸ) dihitung menggunakan persamaan berikut (Mavko et. Hal ini disebabkan pada struktur butiran. dengan 𝑉𝑝𝑜𝑟𝑖 menyatakan jumlah (kuantitas/frekuensi) piksel bernilai sama dengan 0 dan 𝑉𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟𝑎𝑛 menyatakan jumlah piksel bernilai sama dengan 1 pada suatu citra yang akan 24 . koefisien atenuasi lebih tinggi sehingga dianggap memliki densitas yang lebih besar dari struktur pori yang memiliki koefisien atenuasi yang rendah. Histogram non bimodal dari citra greyscale c). 𝑉𝑝𝑜𝑟𝑖 ɸ=𝑉 (10) 𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟𝑎𝑛 +𝑉𝑝𝑜𝑟𝑖 .al.al. Citra biner hasil thresholding dengan Metode Adaptive a) b) Gambar 3.. Citra greyscale dengan iluminasi yang tidak merata (Solomon et. 2013) b).9 a). perhtiungan porositas dapat dilakukan dalam citra biner dengan piksel bernilai sama dengan 0 (warna hitam) diinterpretasikan sebagai pori dan piksel bernilai sama dengan 1 (warna putih) diinterpretasikan sebagai butiran.7 Tahap Pemrosesan: Perhitungan Porositas Setelah mendapatkan citra biner dari proses thresholding.10 Citra biner hasil thresholding dari Gambar 3.9 menggunakan a).

Ilustrasi pada Gambar 3.11. maka perhitungan akan menghasilkan tiga jenis porositas. maka didapatkan contoh perhitungan nilai porositas sebagai berikut 𝑉𝑝𝑜𝑟𝑖 4 ɸ=𝑉 = 12+4 = 25% (11) 𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟𝑎𝑛 +𝑉𝑝𝑜𝑟𝑖 Gambar 3. Ilustrasi citra biner untuk perhitungan porositas BAB IV HASIL AWAL DAN PEMBAHASAN 4.11 menunjukkan contoh komponen intensitas beberapa piksel pada citra biner. Dengan menggunakan Persamaan 10. dianalisis. porositas terbuka (open porosity) dan porositas total.1 Hasil Perhitungan Porositas 25 . Dengan mempertimbakan konektifitas sebuah piksel pori dengan piksel lainnya. Porositas juga dapat dihitung secara 2-D (perhitungan dilakukan hanya terhadap satu irisan citra) dan 3- D(perhitungan dilakukan dengan mempertimbakan keterhubungan suatu irisan citra dengan keseluruhan irisan lainnya). yaitu porositas tertutup (closed porosity).

1 Citra greyscale hasil pemindaian a).2 Hasil thresholding dan kalkulasi porositas 3-D Metode Adaptive dengan skema pemindaian SP Adaptive Mean Adaptive Median Adaptive Mean of Minimum- Maximum 26 .5 inchi dengan metode thresholding: Adaptive Mean. SF b).952 𝜇m. dan Otsu.99% Porositas Total = 60.26% Porositas Tertutup = 0. Skema pemindaian yang telah dilakukan serta diproses sampai menghasilkan data porositas adalah SF dan SP untuk sampel ukuran 1. Perhitungan dilakukan meggunaka software usungan Bruker yaitu CTAn.5 inchi.81% Porositas Tertutup = 0. Adaptive Mean of Minimum and Maximum. a) b) Gambar 4.1 Hasil thresholding dan kalkulasi porositas 3-D Metode Otsu Metode Otsu SF SP Porositas Terbuka = 50. Adapun perhitungan yang telah dilakukan sementara adalah untuk sampel 1.625 𝜇m dan 19. Adaptive Median.10% Porositas Total = 50. SP Tabel 4.18% Porositas Terbuka = 60. dengan resolui secara berurutan 35.36% Tabel 4.

16% Porositas Terbuka = 15.80% Porositas Tertutup = 10.41% Tabel 4.72% Porositas Terbuka = 15.89% Porositas Tertutup = 4.72% Porositas Terbuka = 24.62% Porositas Total = 20.31% Porositas Tertutup = 1.03% Porositas Total = 26.25% Porositas Tertutup = 9.3 Hasil thresholding dan kalkulasi porositas 3-D Metode Adaptive dengan skema pemindaian SF Adaptive Mean Adaptive Median Adaptive Mean of Minimum- Maximum Porositas Terbuka = 3.40% Porositas Total = 27.33% 27 .51% Porositas Terbuka = 23.53% Porositas Total = 14.90% Porositas Tertutup = 4.38% Porositas Tertutup = 15.41% Porositas Total = 25. Porositas Terbuka = 2.03% Porositas Total = 17.

Gambar 4.2 Plot porositas 2-Dimensi tiap irisan citra dari pemindaian SF.3 Plot porositas 2-Dimensi tiap irisan citra dari pemindaian SP 28 . Gambar 4.

Sebaran statistik median dapat menghasilkan pori-pori dengan konektifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebaran statistik lainnya seperti mean.2 dan 4. Nilai yang dihasilkan melibatkan perhitungan keterhubungan pori-pori dalam ruang 3-D citra (irisan 2-D antar citra) batuan.4.4 Perbedaan persebaran konektifitas pori. Skema pemutaran tersebut dapat menyebabkan perbedaan iluminasi yang berbeda-beda untuk tiap irisan 2-D yang dihasilkan. citra diambil setiap pemutaran sampel sebesar 0.2 dan Gambar 4. yaitu sebesar 15%. 4. Citra pembesaran yang menunjukkan fenomena tersebut terlihat pada Gambar 4. khususunya pada daerah yang dilingkari berwarna merah. Untuk lebih spesifiknya.4.3 menampilkan hasil variasi metode thresholding dan metode scan serta hasil perhitungan porositas 3-D.2 Analisis Sementara Tabel 4.1. a) b) Gambar 4. Hal ini ditunjukkan dari hasil porosity 2-D tiap irisan dari metode Otsu menghasilkan data yang sangat fluktuatif. Hasil Plot pada Gambar 4. sebagai hasil dari thresholding dengan metode a) Adaptive Mean b) Adaptive Median \ 29 . Dalam pelaksanaan pemindaian.3 semakin memperjelas bahawa metode Adaptive merupakan metode yang sangat sesuai untuk menganalisis sampel berupa batuan khususnya Batupasir Berea. dari percobaan ini didapat bahwa metode Adaptive dengan parameter sebaran statistik median menghasilkan nilai porositas yang paling mendekati nilai referensi.2°. Hasil thresholding serta perhitungan porositas 3-D menunjukkan bahwa metode thresholding yang cukup baik untuk dapat menghasilkan nilai porositas terbuka yang mendekati referensi adalah metode Adaptive.

Februari – April 2017 . Juni 2017 .Mei 2017 . Perolehan data analisis petrografi sampel Batupasir Berea dari Labooratorium Geologi ITB 2. Pelengkapan data porositas serta permeabilitas untuk semua konfigurasi skema pemindaian terhadap ukuran sampel . April . RENCANA KELANJUTAN TUGAS AKHIR Berikut merupakan rencana kelanjutan penelitian tugas akhir oleh penulis: 1. Laporan hasil penelitian (Sidang Tugas Akhir) 30 . Analisis serta penarikan kesimpulan dari seluruh data yang diperoleh (analisi digital rock physics dan petrografi) 3.

M. Chaudhary. N. Springer: Review of Progress in Quantitative Nondestructive Evaluation Prasad.(1973). & Breckon. and Cybernetics Vol 9(1) pp 62-66 Solomon. J.(1997). Digital Rock Physics for Fast and Acurate Special Rock Physics in Carbonate. E.G.. Chinese Journal of Geophysics – Chinese Edition 57(4) Kalam. V. (2012). J.. Parallel Implementation of Cone Beam Tomography. Rao.(2011). M. W. D.A. W. E. Donaldsen. 156 Xiang-Jun. T. International Conference on Parallel Processing..C. Wiley-Blackwell Publisher 31 . L. Flyn. I (1996). Mc Graw Hill College Smith. International Journal of Computer Science & Communication Networks... D. P. Weyl.(2011). S. Sreenivasu. Petroleum Reservoir Engineering: physical properties (Vol 1). Vol 1(2). Elsevier Segal. T. pp 186-195 Otsu. C.. Juichiro (1997). pp.C. Proceedings of the Ocean Drilling Program. IEEE Transactions on Systems. AAPG Buletin Volume 57 Issue 2 pp. M. D. & Sethi.C. A Threshold Selection Method from Gray-Level Histograms. DAFTAR PUSTAKA Ashi. The Scientist and Engineers’s Guide to Digital Signal Processing: Second Edition. Li-Xi. 349-369 Tiab. Computed Tomography Scan Image Analysis of Sediments. Vol . 170- 173 Amyx. Man.(1979). & Ellingson. INTECH Open Access Publisher Reiman. Digital Rock Physics of Sandstone Based on Micro –CT Technology. Polar Wavelet-Gaussian Filter for Ring Artifact Suppresion in CT Imaging Systems. Influence of Texture on Porosity and Permeability of Unconsolidated Sand. Scientific Results.K.L. Fundamentals of Digital Image Processing: A Practical Approach with Examples in MATLAB. (1960). A Linearization Beam-Hardening Correction for X-Ray Computed Tomography.. R.L. Petrophysics: Theory and Practice of Measuring Reservoir Rock and Fluid Transport Properties. California Technical Publishing Beard. Z (2014).(1987)...V.(2004).W & Whiting.. II. Hong-Lin.

32 .