You are on page 1of 4

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penggunaan pestisida di lingkungan kehutanan khususnya untuk

mengendalikan hama yang menyerang tanaman di persemaian dan tanaman muda

saat ini masih menimbulkan dilema. Penggunaan pestisida khususnya pestisida

sintetis/ kimia memberikan keuntungan secara ekonomis, namun dapat

mendatangkan kerugian diantaranya adalah residu yang tertinggal tidak hanya

pada tanaman, tapi juga air, tanah dan udara dan penggunaan terus-menerus akan

mengakibatkan efek resistensi dari berbagai jenis hama (Djafaruddin, 2001).

Penggunaan pestisida kimia di Indonesia telah memusnahkan 55% jenis

hama dan 72 % agens pengendali hayati. Oleh karena itu diperlukan pengganti,

yaitu pestisida yang ramah lingkungan. Satu alternatif pilihan adalah penggunaan

pestisida hayati yang berasal dari tumbuhan. Pestisida nabati adalah salah satu

pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Tumbuhan mempunyai

bahan aktif yang berfungsi sebagai alat pertahanan alami terhadap

pengganggunya. Bahan pestisida yang berasal dari tumbuhan dijamin aman bagi

lingkungan karena cepat terurai di tanah dan tidak membahayakan hewan,

manusia atau serangga yang bukan sasaran (Sastrodihardjo, 1999).

Menurud Sastrodihardjo (1999), beberapa jenis tumbuhan penghasil

pestisida yang telah diteliti dan terbukti efektif dalam pengendalian hama, salah

satunya adalah mahoni (Swietenia spp). Selain kayunya buah mahoni juga

mengandung senyawa yang mirip dengan Butane Hexane Chlor (BHC) dengan

konsentrasi 0,005 ppm. Senyawa BHC atau yang dikenal sekarang Hexa

Chlorosiclo Hexana (HCH) merupakan insektisida organoklorida yang bersifat

Universitas Sumatera Utara


racun perut dan racun pernapasan. Pembuatan insektisida dari buah mahoni

dengan cara merendam 150 gram biji mahoni dalam 1 liter air selama 24 jam.

Insektisida nabati ini dapat digunakan untuk mengendalikan hama kupu kuning

dan ulat kantong yang banyak menyerang persemaian dan tanaman sengon muda.

Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari kayu, kulit, daun, bunga,

buah atau biji, diperkirakan berpotensi mencegah pertumbuhan jamur ataupun

menolak kehadiran serangga perusak. Beberapa contoh misalnya nikotin dari daun

tembakau, rotenoid dengan bahan aktif rotenon dari banyak spesies dari genus

Tephrosia, Derris, Lonchocarpus, Miletia dan Mundilea, dan ekstrak dari biji

Schoenocaulon officinale. Veratrine dari biji S. drummondii dan S. texanum

adalah bahan-bahan beracun dari grup alkaloid. Ryania dari akar dan batang

Ryania speciosa familia Flacourtiaceae, dengan bahan aktif alkaloid ryanodine,

merupakan racun perut dan kontak bagi serangga, sifatnya lebih stabil daripada

rotenon dan veratrine. Syafii (2000) melaporkan dari beberapa pustaka bahwa

ekstrak air panas kayu mahoni, ekstrak metanol kayu ekaliptus, ekstrak metanol

dan eter kayu jati mengandung bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan

organisme perusak.

Penelitian ini menggunakan bahan dasar kulit, daun dan buah pohon

mahoni karena mahoni mudah tumbuh di Indonesia, mudah didapat serta

pemanfaatan kulit, daun dan buah pohon mahoni yang belum maksimal.

Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian yang diharapkan dapat

menambah nilai komersial mahoni. Buah mahoni telah lama dimanfaatkan sebagai

bahan obat tradisional dan juga sebagai pestisida nabati. Kulit dan daun mahoni

diperkirakan memiliki atau mengandung senyawa kimia atau kandungan bahan

Universitas Sumatera Utara


ekstraktif yang diperkirakan sama kandungannya seperti yang terdapat pada

buahnya.

Tanaman Ekaliptus memiliki prospek yang cerah dimasa yang akan

datang. Hal ini disebabkan oleh banyaknya nilai komersial yang didapat dari

pohon ekaliptus. Kayu ekaliptus dapat digunakan untuk bahan bangunan, kusen,

pintu, jendela, dan kayu pertukangan, termasuk di dalamnya kayu lapis dan kayu

gergajian, korek api, bahan baku pulp dan kayu bakar. Daun dan cabang ekaliptus

dapat digunakan sebagai bahan dasar produk farmasi seperti obat gosok, obat

batuk, sabun, parfum, deterjen, disinfektan dan pestisida. Bunga yang terdiri atas

serbuk sari dan nektar dapat menghasilkan madu dan juga berfungsi sebagai

tanaman hias (Damanik, 2003).

Pembangunan kehutanan yang saat ini di arahkan kepada hutan tanaman

dengan sistem monokultur. Satu diantara beberapa dampak negatif dari sistem

monokultur adalah kerentanan tanaman terhadap hama dan penyakit, hal ini

terjadi karena sumber pakan tersedia melimpah dan dalam wilayah yang luas.

Serangan hama dan penyakit jika tidak dikelola dengan tepat maka akan

mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Selain dari itu, serangan hama dan

penyakit berdampak pada prokduktivitas dan kualitas standing stock yang ada.

Serangan hama dan penyakit juga dapat menurunkan pertumbuhan rata-rata,

kualitas kayu, dan menurunkan daya kecambah biji (Djafarudin, 2001).

Berdasarkan pemikiran di atas penulis telah melakukan penelitian dalam

rangka memanfaatkan zat ekstraktif dari kulit, daun dan buah mahoni (Swietenia

mahagoni Jack) untuk mengendalikan fungi yang menyerang kayu ekaliptus

mengingat tanaman ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan kegiatan

Universitas Sumatera Utara


pengendalian penyakitnya sampai saat ini masih menggunakan fungisida yang

bukan berasal dari bahan alami.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui kandungan zat ekstraktif yang terdapat pada kulit kayu, daun dan

buah mahoni (Swietenia mahagoni Jack)

2. Menguji zat ekstraktif kulit, buah, dan daun kayu mahoni sebagai fungisida

nabati terhadap fungi Botryosphaeria dothidea yang menyerang kayu

Eucalyptus grandis

3. Mengukur besarnya nilai retensi zat ekstraktif kulit, buah, dan daun kayu

mahoni pada kayu E. grandis.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai suatu alternatif

pemanfaatan zat ekstraktif mahoni sebagai bahan fungisida nabati untuk

mengendalikan fungi B. dothidea yang menyerang kayu E. grandis.

Hipotesis penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah:

1. Zat ekstraktif kulit, buah dan daun kayu mahoni berpengaruh dalam menekan

pertumbuhan fungi B. dothidea yang menyerang kayu E. grandis.

2. Perlakuan zat ekstraktif kulit, buah dan daun kayu mahoni berpengaruh

terhadap besarnya nilai Retensi.

Universitas Sumatera Utara