You are on page 1of 8

LAPORAN PENDAHULUAN

WAHAM

I. Pengertian
Seseorang yang mengalami waham berfikir dan meyakini bahwa dirinya memiliki
banyak kekuatan dan bakat serta tidak merasa terganggu jiwanya atau ia merasa sangat
kuat dan terkenal. Hal ini sesuai dengan penjelasan varcarolis dalam Keliat (2006)
II. Rentang Respon
RENTANG RESPON NEUROBIOLOGI KLIEN DENGAN WAHAM
Adapun rentang respon manusia terhadap stress yang menguraikan tentang respon
gangguan adaptif dan maladaptif (Stuart dan Sundeen (1998) dalam Keliat (2006))

Rentang respon
neurobiologis
Respon adaptif Respon maladaptif
maladaptif
Gangguan proses
Pikiran logis Distorsi pikiran
pikir/delusi/waham
Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dengan Reaksi emosi Sulit brespon emosi
pengalaman berlebihan atau kurang
Prilaku sesuai Prilaku disorganisasi
Prilaku aneh
Berhubungan social Isolasi sosial
Menarik diri

Dari rentang respon neurobiologis diatas dapat dijelaskan bila individu merespon secara
adaptif maka individu akan berfikir secara logis. Apabila individu berada pada keadaan
diantara adaptif dan maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi
pikir terganggu. Bila individu tidak mampu berfikir secara logis dan pikiran individu
mulai menyimpang maka ia makan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami
gangguan isi pikir : waham curiga.
III. Faktor Predisposisi
Menurut Townsend (1998) factor predisposisi dari perubahan isi pikir : waham kebesaran
dapat dibagi menjadi dua teori yang diuraikan sebagai berikut:
3.1 Teori Biologis
3.1.1 Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu
kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan
yang sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
3.1.2 Secara relative ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan
skizoprenia mungkin pada kenyataanya merupakan suaru kecacatan sejak lahir
terjadi pada bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan suatu
kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang
menderoita skizoprenia.
3.1.3 Teori biokimia menyatakan adanya peningkata dupamin neorotransmiter yang
dipertukarkan mengahasilkan gejala-gejala peningkatan aktifitas yang
berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada
psikosis.
3.2 Teori Psikososial
3.2.1 Teori sistem keluarga Bawen dalam Townsend (1998) menggambarkan
perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga.
Komflik diantara suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam
anak akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas dan suatu
kondisi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu hubungan yang
saling mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anak-anak. Anak
harus meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan masuk kepada
masa dewasa, dimana di masa ini anak tidak akan mampu memenuhi tugas
perkembangan dewasanya.
3.2.2 Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan
menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak
menerima pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik dan orang tua
tidak mampu membentuk rasa percaya tehadap orang lain.
3.2.3 Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego
yang lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling
mempengaruhi orang tua dan anak .karena ego menjadi lebih lemah
penggunaan mekanisme pertahanan itu pada waktu kecemasan yang ekstrem
mennjadi suatu yang maladaptive dan perilakunya sering kali merupakan
penampilan dan sekmen diri dalam kepribadian.
IV. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) factor presipitasi dari perubahan isi pikir : waham
kebesaran yaitu :
4.1 Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan nerobiologis yang maladaptive termasuk
gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi
dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.
4.2 Stress lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi
dengan stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
4.3 Pemicu gejala
Pemicu yang biasanta terdapat pada respon neurobiologist yang maladaptive
berhubungan denagn kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti : gizi
buruk, kurang tidur,infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkunag yang penuh
kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap penampilan, stress agngguan dalam
berhubungan interpersonal, kesepian, tekanan, pekerjaa, kemiskinan, keputusasaan
dan sebagainya.
V. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya
sebagai seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien
menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien
menyatakan perasaan mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan
isolasi, sulit menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang
berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit tidur, tampak apatis, suara memelan,
ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri, rasa tidak percaya kepada
orang lain, gelisah.
5.1 Kognitif :
5.1.1 Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
5.1.2 Individu sangat percaya pada keyakinannya
5.1.3 Sulit berfikir realita
5.1.4 Tidak mampu mengambil keputusan
5.2 Afektif
5.2.1 Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
5.2.2 Afek tumpul
5.3 Perilaku dan Hubungan Sosial
5.3.1 Hipersensitif
5.3.2 Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
5.3.3 Depresi
5.3.4 Ragu-ragu
5.3.5 Mengancam secara verbal
5.3.6 Aktifitas tidak tepat
5.3.7 Streotif
5.3.8 Impulsive
5.3.9 Curiga
5.4 Fisik
5.4.1 Higiene kurang
5.4.2 Muka pucat
5.4.3 Sering menguap
5.4.4 BB menurun
5.5 Sumber Koping
Ada beberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh
terhadap gangguan otak dan prilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi
seperti : modal intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif
mendidik anak-anaknya, dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka
biasanya tidak hanya belajar dan pengamatan.Sumber keluarga dapat berupa
pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup ketersediaan waktu dan tenaga
dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.
VI. Proses Keperawatan
6.1 Pengkajian
Dalam Taylor dan Ralph (2015) pengkajian yang dilakukan meliputi:
6.1.1 Usia dan jenis kelamin
6.1.2 Alasan hospitalisasi (psikologis dan psikiatrik)
6.1.3 Pola interaksi sosial yang biasa dilakukan (perilaku verbal dan perilaku non
verbal)
6.1.4 Fungsi neurologic, meliputi tingkat kesadaran, orientasi, kemampuan sensori
atau motorik
6.1.5 Status mental, meliputi kemampuan abstrak, afek, kemampuan
berkonsentrasi, daya tilik diri dan penilaian, memori, alam perasaan, isi piker
6.1.6 Riwayat penyalahgunaan zat
6.1.7 Tingkat pendidikan dan intelegensi
6.1.8 Latar belakang sosio kultural, meliputi kepercayaan, norma, agama, nilai
6.1.9 Sistem pendukung yang tersedia, seperti rohaniawan, anggota keluarga,
pasangan atau teman
6.2 Diagnosa Keperawatan (Taylor dan Ralph, 2015)
Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan proses pikir (waham)
6.3 Rencana Tindakan Keperawatan (Taylor dan Ralph, 2015)
6.3.1 Ikuti regimen medis yang diprogramkan untuk menangani kondisi yang
mendasari.
6.3.2 Lakukan tindakan kewaspadaan untuk menjamin lingkungan yang aman dan
terlindungi: pasang penghalang sisi tempat tidur, bantuan aktivitas di luar
tempat tidur, ruangan tidak berantakan, restrain fisik sesuai kebutuhan
6.3.3 Kaji fungsi neurologis dan status mental klien setiap pertukaran jaga
6.3.4 Bila klien mengalami delusi dan halusinasi, jangan berfokus padanya,
berikan informasi yang berdasarkan realita kepada klien dan yakinkan klien
tentang keamanannya
6.3.5 Sediakan waktu khusus diluar waktu perawatan untuk bersama klien setiap
pergantian tugas jaga untuk mendorong interaksi sosial
6.3.6 Berikan penguatan positif bila klien menunjukkan perilaku interaksi yang
tepat dan efektif (verbal dan non verbal)
6.3.7 Bantu klien dan anggota keluarga atau pasangan yang berpartisipasi
6.3.8 Prakarsai atau ikut berpartisipasi dalam konferensi multidisipliner berpusat
pada klien untuk mengevaluasi kemajuan klien dan merencanakan
pemulangan
VII Strategi Pelaksanaan
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Identitas Klien : Tanggal :

Ruangan : Masalah Keperawatan : Waham

Pertemuan ke : Strategi Pelaksanaan :


I. Proses Keperawatan
1. Kondisi Pasien
Pasien mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan, kalimat yang
diucapkan berulang-ulang, pasien terus berbicara tanpa memperdulikan hal yang
ada di sekitarnya, dan menjalankan suatu kegiatan secara berlebihan.
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan proses pikir ; waham
3. Tujuan Khusus
- Membina hubungan saling percaya
- Membantu orientasi realita
- Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
- Membantu pasien memenuhi kebutuhannya
- Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
4. Tindakan Keperawatan
- Bina hubungan saling percaya dengan pasien dengan prinsip komunikasi
terapeutik
- Bantu pasien berorientasi pada realita
- Diskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
- Bantu pasien memenuhi kebutuhannya
- Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
II. Strategi Komunikasi
1. Orientasi
Salam terapeutik
Selamat pagi Bapak, boleh saya berkenalan dengan ibu? Perkenalkan
Bapak, nama saya Emy Priwati saya biasa dipanggil Emy. Saya mahasiswi
keperawatan Pak, mulai hari ini saya akan membantu merawat Bapak dari
pukul 08.00-1400WIB. Kalau boleh saya tahu nama Bapak siapa, senangnya
dipanggil apa Pak?
Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana tidurnya tadi malam? Ada
keluhan Bapak?
Kontrak (waktu, lokasi dan topik)
- Topik:
Apakah Bapak tidak keberatan berbincang-bincang dengan saya?
Bapak, bagaimana bila kita berbincang-bincang tentang suara yang
selama ini Bapak dengar tetapi tidak ada wujudnya?
- Waktu: berapa lama kira-kira kita bisa berbincang-bincang Pak? Bapak
maunya berapa menit? Bagaimana kalau 10 menit, bisa Pak?
- Tempat: dimana kita mau duduk Bapak? Di bangku dekat meja makan?
Tujuan interaksi
Saling mengenal antara perawat dengan pasien.
2. Fase Kerja
Hal apa yang biasa Bapak lakukan di tempat ini?
Bapak megatakan memiliki hal tersebut dan Bapak yang mempunyainya, Bapak
sudah berapa lama mempunyainya?
Bapak tahu kita sekarang lagi dimana?
Bapak, kenal orang-orang yang ada di sini?
Bapak sudah makan, mandi dan minum obat?
Bapak mau saya bantu untuk melakukannya?
Bapak, sekarang kita menuliskan kegiatan yang ibu biasa lakukan ke dalam
jadwal ya.
3. Terminasi
Evaluasi subjektif
Bagaimana perasan bapak setelah kita berbincang-bincang tadi?
Evaluasi objektif
Bapak coba sebutkan kembali sekarang kita ada dimana dan kegiatan apa
saja yang akan Bapak lakukan.
Tindakan lanjutan
Kalau Bapak sudah tahu kegiatan apa yang akan dilakukan bagaimana kalau
kita buat jadwal latihannya?
Kontrak
- Topik : Bapak bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang
kegiatan apa saja yang akan Bapak akan lakukan hari ini dan besok?
- Waktu : kira-kira Bapak maunya kapan? Bagaimana kalau besok
pada jam yang sama seperti sekarang, Bapak bisa?
- Tempat: kira-kira besok kita mau berbincang-bincang dimana pak?
Mau di sini juga atau kita cari tempat yang lebih nyaman lagi? Sampai
jumpa besok ya Pak! Selamat istirahat Pak

VIII Daftar Pustaka

1. Keliat, Budi Anna dll.2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC: Jakarta.

2. Taylor, Cynthia M. dan Ralph, Sheila Sparks (2015). Diagnosis Keperawatan dengan
Rencana Asuhan Edisi 10. Jakarta: EGC

3. Townsend, M.C. 1998. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri; pedoman


untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC

4. https://www.scribd.com/document/87656528/Sp-waham

Banjarmasin, Juni 2017

Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,


() (.)