You are on page 1of 7

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1) ARTIKEL PENELITIAN

HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN STATUS GIZI
ANAK BATITA DI KECAMATAN
KURANJI KELURAHAN PASAR
AMBACANG
KOTA PADANG TAHUN 2004
Fivi Melva Diana*

ABSTRACT

From the epidemiological study of nutritional problems (SMG) in west Sumatra by the year of 2002 that 28,5%
under five years babies were suffered under nutrition (based on BB/U , -2 SD) and 5,4% of them were malnutrition.
Meanwhile in the city of Padang, based on BPS susenas reports in 2002,that 8,54% less than three years babies were
malnutrition.From the reports of Padang health Officials in 2002, the highest malnutrition prevalence was in Kuranji
district, which were 5,63%. This study were conducted at Pasar Ambacang sub-district,in the district of Kuranji,city of
Padang.The research Variables were motherhood patterns, nutritional status and mother’s characteristics
(education,age, knowledge and job status). The used design was cross sectional study design. Data processed and
analyzed using SPSS software with chi square statistical test. The result showed that there is no significant relationship
between motherhood patterns with nutritional status based on mothers characteristics ( p > 0.05), and based on
previous explanation we could summarize that motherhood patterns and nutritional status does not have significant
relationship with mother’s characteristics. From this study we could conclude that there were a significant correlation
between mothers job status with motherhood eating patterns of under three years babies, and we suggested to the
mothers, eventhough they worked, the still have to maintain the quality of the motherhood times in order to enhance the
nutritional status and growth.

Keywords : under three years babies, malnutrition, motherhood pattern

PENDAHULUAN
* Staf Pengajar PSIKM FK Unand
Paradigma pembangunan nasional yang
berorientasi global dan berwawasan ilmu
pengetahuan dan teknologi, tidak akan terlaksana
tanpa peningkatan sumber daya manusia (SDM).
Salah satu indikator pengukur tinggi rendahnya
kualitas SDM adalah indeks kualitas hidup (Human
Development Index (HDI). Peringkat Human
Development Index (HDI) tahun 2000 Indonesia
sangat rendah yaitu urutan ke-109 dari 174 negara.
Salah satu masalah utama kesehatan di
negara berkembang adalah masalah gizi yaitu
kurang energi protein (KEP). Berdasarkan analisis
data Susenas laporan Biro Pusat Statistik (BPS)
tahun 2002 di Sumatera Barat ditemukan anak
balita yang berstatus gizi kurang dan buruk (<
-2SD) sebesar 28,05%. Sedangkan anak batita di
Sumatera Barat berstatus
19 19

91%.4 % gizi buruk. 20 20 . di Kota Padang berdasarkan laporan Susenas Biro Berdasarkan hasil penelitian Harsiki.54 % 2002 bahwa pola pengasuhan anak balita pada anak balita berstatus gizi buruk dan 23. I (1) ARTIKEL PENELITIAN gizi kurang dan buruk (< .Jurnal Kesehatan Masyarakat. September 2006.Salah satu BB/U < . Studi-studi yang dilakukan UNICEF (1998). Sedangkan anak yang kurang dalam keluarga.45 % berstatus gizi kurang. masalah gizi pada balita terjadi karena pola asuh 2SD) dan diantaranya 5.5 % anak balita di Sumatera Barat menderita gizi kurang dan 6. tahun Pusat Statistik ( BPS) tahun 2002 bahwa 8.6% Sumatera Barat menderita kurang gizi berdasarkan ( diantaranya menderita gizi buruk . Hal yang sama ditunjukkan pula oleh hasil Studi UNAND (1998) dan HKI (2000) memperlihatkan Epidemiologi Masalah Gizi (SMG) di Sumatera angka yang hampir sama yaitu 31% anak balita di Barat tahun 2002 bahwa 28.2SD) adalah 28.

umur dan tingkat pengetahuan tangga adalah memberikan perawatan kepada ibu. Kuranji. Kota Padang merupakan daerah pemberian makan berpengaruh terhadap dengan prevalensi gizi buruk tertinggi dibandingkan pertumbuhan dan perkembangan batita. Pada tahun Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang 2002 berdasarkan data SMG (Studi Epidemiologi dilakukan Karyadi. Selanjutnya Engle tahun 1997 mengatakan yang mempengaruhi pola asuh adalah pendidikan bahwa praktek pengasuhan ditingkat rumah ibu. terutama pada anak – anak. T. dibandingkan dengan anak dengan pola asuh yang Anak balita yang mendapatkan kualitas baik. Sehingga dapat dilihat anak yang dibesarkan sedangkan faktor penyebab tidak langsung adalah dengan pola pengasuhan yang tidak baik ditambah tidak cukup persediaan pangan. kandungan dan harus berlanjut minimal sampai ia Waktu yang dipergunakan ibu rumah tangga untuk berusia 3 tahun. Daerah asuh yang dilakukan ibu kepada anaknya akan perkotaan sedikit lebih tinggi pola asuh anaknya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan daripada daerah pedesaan. perkembangan otak yang maksimal maka dibutuhan Pemberian makanan bergizi mutlak dianjurkan berbagai macam nutrisi sejak bayi tersebut dalam untuk anak melalui peran ibu atau pengasuhnya. Yang termasuk pola asuh 2002 ibu rumah tangga adalah penentu utama dalam adalah pemberian ASI. Adapun faktor-faktor anak.sumber yang ada untuk tahun1995:masa pertumbuhan bayi merupakan masa kelangsungan hidup anak. anak-anak. pertumbuhan dan yang sangat peka atas pengaruh gangguan kurang perkembangan. Untuk mencapai tingkat ketidak-tahuan mengenai soal. makanan yang tidak seimbang dan penyakit infeksi. tahun gangguan status gizi. dengan daereah lain di Sumatera Barat dimana Selanjutnya menurut Widayani.7 % anak hubungan yang sangat kuat antara pola asuh batita kurus sedangkan 10 % anak batita kurus dengan status gizi batita. dkk tahun 2001. Sedangkan pada tentang faktor – faktor yang menyebabkan masyarakat Minangkabau. Perawatan anak sampai tiga tahun gizi yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan merupakan periode yang paling penting bagi otak dan gangguan pertumbuhan intelegensia. ibu-ibu telah lama timbulnya kurang gizi secara langsung adalah menjadi aktor penting menghidupi anak-anaknya. keluarganya. Menurut Popkin dalam Harsiki. penyediaan dan pemberian pengembangan sumber daya manusia dalam makanan pada anak.keluarga miskin pedesaan dan perkotaan di propinsi dan memberikan makanan kepada anggota Sumatera Barat adalah 57.1% pada kategori kurang. pola asuh terhadap anak sehari – hari termasuk hal pengaturan makanan merupakan salah satu faktor penting terjadinya keluarga. Pola asuh anak yang kurang akan mempunyai Memberikan makanan dan perawatan anak yang resiko anak batita KEP 1. pola asuh anak tidak lagi dengan lingkungan yang kurang baik pula memadai. pekerjaan Ibu. ialah perilaku yang kurang benar dikalangan masyarakat dalam memilih . T. Hal ini batita maka peneliti merasa perlu melakukan menunjukkan bahwa pengasuhan merupakan faktor penelitian di Kota Padang khususnya daerah penting dalam status gizi dan kesehatan anak balita. dan memberikan rasa aman keluarga dan pengembangan diri anak sebelum kepada anak.soal gizi.63%. anak dengan pemberian makanan dan kesehatan Sebagaimana yang dikatakan Winarno melalui sumber. ada berdasarkan (BB / TB < . pengasuhan yang lebih baik besar kemungkinan Untuk mengetahui bagaimana pola asuh akan memiliki angka kesakitan yang rendah dan anak batita dan kaitannya dengan keadaan gizi anak status gizi yang relatif lebih baik. Menurut peranan dalam mengatur tata laksana rumah tangga Enggle tahun 1997. tahun tahun 2002 faktor yang cukup dominan yang 2002 prevalensi gizi buruk tertinggi di daerah menyebabkan meluasnya keadaan gizi kurang terdapat pada wilayah Kuranji yaitu 5. sekali. mengasuh anak merupakan salah satu faktor yang Secara kultural di Indonesia ibu memegang dapat mempengaruhi status gizi batita..L. Seorang anak perlu mendapatkan Kekurangan gizi merupakan akibat dari kebiasaan perawatan dan pengasuhan yang tepat dalam masa hidup yang kurang memikirkan nilai-nilai gizi tiga tahun pertama karena masa tersebut merupakan disamping kebiasaan hidup di lingkungan masa yang kritis bagi pertumbuhan dan sederhana karena daya beli yang kurang atau perkembangan anak. Berdasarkan bagan UNICEF (1998) memasuki usia sekolah. sanitasi dan air bersih maka status gizinya akan lebih buruk / pelayanan kesehatan dasar tidak memadai.D tahun 1985 bahwa situasi Masalah Gizi).5 kali dibandingkan benar mencapai status gizi yang baik melalui pola dengan anak batita dengan pola asuh cukup.2 SD) yaitu 22. Dari laporan Dinas Kesehatan Kota Padang Menurut Satoto dalam Harsiki.

pola asuh makan dan Kuranji merupakan daerah dengan prevalensi gizi pola asuh kesehatan dikumpulkan melalui buruk tertinggi di Padang berdasarkan laporan dari wawancara langsung dengan responden (ibu dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padang tahun 2002. Microtoise untuk mengukur tinggi badan anak adalah anak batita yang terkecil. Diketahuinya pola asuh kesehatan anak batita diperkirakan terjadi pada populasi (0. Berdasarkan rumus diatas maka jumlah 5. pemberian ASI Disain penelitian ini adalah cross sectional.0 – p 4. Untuk mengukur berat badan penelitian ini adalah anak umur dibawah tiga tahun digunakan dacin sedangkan untuk mengukur atau (batita) (12 – 35 bulan) beserta ibunya yang tinggi badan anak batita digunakan microtoise tinggal di daerah Kuranji Kota Padang yang terpilih dan alat ukur panjang badan. Formulir pengukuran tinggi badan dan berat n = Z2 1 . (sering tidaknya sakit. Pengumpul data adalah 5 orang lulusan bulan) beserta ibunya yang tinggal di daerah Akademi Gizi Depkes Padang. Dacin untuk mengukur berat badan anak batita 4. Diketahuinya hubungan pola asuh kesehatan Cara Pengumpulan Data dengan status gizi anak batita didaerah Kuranji Pengumpulan data dibagi atas data primer dan Kota Padang. Diketahuinya hubungan pola asuh pemberian lokasi penelitian di Kecamatan Kuranji Kota makanan dengan status gizi anak batita Padang. September 2006. 7. p = Proporsi untuk sifat tertentu yang 3. dimana Data karakteristik ibu. dan status gizi anak batita. Kuranji Kota Padang. Populasi studi dalam menurut umurnya. Diketahuinya pola asuh pemberian makanan anak batita di daerah Kuranji Kota Padang. didaerah Kuranji Kota Padang. Diketahuinya hubungan pola asuh dengan n = Besar sampel status gizi anak batita di daerah Kuranji Kota Z = Standar deviasi normal biasanya ditentukan Padang. anak batita) menggunakan kuesioner. pengetahuan. pada bulan Desember 2003 – Mei 2004. tingkat pendidikan ibu. eksklusif. batita di atas 2 tahun. pemberian makanan). Data primer meliputi data tentang karakteristik ibu ( umur ibu. umur penyapihan. sampel sebesar 124 orang. Waktu dan Tempat pemeliharaan kesehatan. pola asuh Disain Penelitian makan. umur pemberian MP- dimana data yang menyangkut variabel bebas dan ASI.96 2. d2 . berdasarkan kriteria sampel yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil random Kota Padang. pengobatan. September 2006. pengetahuan gizi ibu). (pemberian kolostrum. sedangkan Populasi dan Sampel status gizi anak batita ditentukan secara Populasi target dalam penelitian ini adalah antropometri dengan mengukur berat badan seluruh anak balita (12-35 bulan) beserta ibunya di menurut umurnya dan tinggi / panjang badan daerah Kuranji Kota Padang. pola asuh kesehatan terikat dikumpulkan pada waktu yang bersamaan. sekunder. keadaan geografi. q = 1. lamanya sakit. tempat pencarian pelayanan Penelitian dilakukan di Kecamatan Kuranji kesehatan).23) di daerah Kuranji Kota Padang. Apabila terdapat 2 anak Instrumen Penelitian batita dalam satu keluarga maka yang akan diambil 1. METODOLOGI pekerjaan ibu. Diketahuinya karakteristik ibu (pendidikan. Jumlah Sampel 2. I (1) Tujuan Keterangan : 1.08 Kuranji Kota Padang. dan gambaran lokasi anak umur dibawah tiga tahun atau (batita) (12 – 35 penelitian. status pekerjaan ibu) dan Teknik Pengambilan Sampel hubungannya dengan pola asuh makan dan pola Teknik pengambilan sampel dilakukan secara asuh kesehatan anak batita di daerah Kuranji simple random sampling. Diketahuinya status gizi anak batita di daerah d = Presisi / ketepatan yang diinginkan 0. Data sekunder meliputi data tentang jumlah Adapun kriteria dari sampel penelitian ini adalah batita. Jurnal Kesehatan Masyarakat. maka didapat kelurahan Pasar Ambacang sebagai 6. pada 1. Alat ukur panjang badan untuk mengukur Besar sampel dalam penelitian ini tinggi badan anak batita di bawah 2 tahun ditentukan dengan rumus : 3./2 P ( 1 – P ) badan anak batita untuk menentukan status gizi anak batita. umur. I (1) Jurnal Kesehatan Masyarakat.

anak yang pendek diperkotaan hanya 6. pekerjaan ibu dan pengetahuan menggambarkan keadaan gizi pada masa kini atau gizi ibu.BB/TB) di Kelurahan Pasar Ambacang Tahun 2004 Tabel 2. dan pengetahuan gizi ibu terdiri dari (1973) menyatakan bahwa TB/U disamping beberapa pertanyaan dan diberi skor yang berbeda memberikan gambaran status gizi masa lalu pada setiap jawaban pertanyaan. Jellife (1996) independen (pola asuh anak. Indeks BB/TB pendidikan ibu.2%). telah memperkenalkan indeks ini dalam Karakteristik ibu menyangkut: umur ibu. tinggi badan analisis data bivariat. pengetahuan gizi ibu) dengan sedangkan dipinggiran jauh lebih tinggi. status jangka waktu yang pendek. terlebih Status gizi anak batita berdasarkan indeks dahulu data disunting (editing) untuk meneliti BB/U dengan kategori baik didapatkan (95. diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan gizi anak batita di kelurahan Pasar Ambacang adalah gizi Pengolahan dan Analisa Data baik. lebih variabel pola asuh anak dilakukan uji chi- kurang 6 kali dibandingkan dengan diperkotaan square. persentase dari tiap variabel. Beaton dan Bengoa kesehatan. Daftar pertanyaan ( kuesioner).TB/U. Sebelum dilakukan pengolahan data. kembali kelengkapan data yang dikumpulkan. Bila nilai p < 0. tingkat pendidikan ibu. Tinggi badan bertambah seiring dengan adanya kesalahan pada saat memasukkan data.1%).5. Hal ini hampir sama dengan penelitian Untuk melihat hubungan antara variabel: yang dilakukan oleh Aryunita dimana prevalensi karakteristik ibu (umur ibu. bertambahnya umur. Hubungan Karakteristik Ibu dengan Pola Asuh Makan Anak Batita di Daerah Kuranji Kelurahan Pasar Ambacang Kota Padang Tahun 2004 Pola Asuhan Status pekerjaan Ibu Status Gizi Makan Bekerja Tidak 4 Total Kategori bekerja . Status Gizi Anak Batita Hubungan Status Pekerjaan Ibu dengan Pola Tabel 1. Status gizi variabel dari hasil penelitian yaitu variabel dengan menggunakan indeks BB/TB dengan dependen (status gizi anak batita) dan variabel kategori baik didapatkan ( 91. karakteristik ibu). tingkat mengidentifikasi status gizi. Seluruh juga lebih erat kaitannya degan status sosial pengolahan data menggunakan program SPSS. ekonomi yang dapat digunakan sebagai indikator Analisa univariat dilakukan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. 95 % (40%). terhadap perbedaan pertumbuhan anak dari pada HASIL DAN PEMBAHASAN faktor genetik dan etnik. convidence interval. Status gizi dengan menggunakan dimasukkan ke komputer (entry) dan dilakukan indeks TB/U dengan kategori normal didapatkan kembali cleaning data untuk melihat kemungkinan (87. kurang sensitif terhadap masalah kurang gizi dalam Data tentang pola asuh anak. Analisis ini menghasilkan distribusi dan sebenarnya. Selanjutnya data ataupun masa lalu.05 dan nilai 95 Habicht (1974) menunjukkan bahwa faktor % CI tidak melewati angka 1 ( satu) berarti ekonomi dan lingkungan lebih berpengaruh bermakna. Berat badan adalah salah satu parameter yang kemudian diberi kode (coding) dengan tujuan untuk memberikan gambaran masa tubuh masa sekarang mengelompokkan jawaban.Nilai yang digunakan adalah p-value.6% pekerjaan ibu. Pertumbuhan tinggi badan Setelah data benar-benar bersih dilanjutkan dengan tidak sama dengan berat badan . Status Gizi Anak Batita Berdasarkan Indek (BB/ Asuh Makan Anak Batita U.9%).

B f a. Dari terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh tabel makan dengan status .Hasil uji statistik berdasarkan BB/TB adalah baik ( 91.1%). pada ibu yang bekerja (38.2%). berdasarkan TB/U adalah normal (87.0%) dari (95.8 Pendek b.9%). Baik/ 118 95.2 Normal Total 124 100 Pada tabel 2 diatas terlihat pola asuh makan Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa status gizi yang baik lebih tinggi persentasenya pada anak batita berdasarkan indeks BB/U adalah baik responden yang ibunya tidak bekerja (65. Kurang/ 6 4.1%).

2002. SARAN Palembang – Desember 1984. dalam Prosiding study epidemiologi masalah gizi Sumatera Barat. Buku Kedokteran. 2001. Metodologi Penelitian Kesehatan. 1994. Infant Food and Dietetic Product Department PT. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tumbuh Kembang. Hasil penelitian didapatkan pola asuh kesehatan 18. Hasil Survei Konsumsi Garam Yodium satu dampak negatif yang ditimbulkan sebagai 2002. Kumpulan kelurahan Pasar Ambacang Kecamatan Kuranji. Formulir Pelaporan Pemantauan KESIMPULAN DAN SARAN Status Gizi (156) Balita. 16. memperhatikan kualitas waktu pengasuhan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Makalah Hubungan Pola Asuh Balita (6-59 bulan) Etnis (p> 0. Sebaiknya Ibu meskipun bekerja tetap Cipta. Tidak ada hubungan pola asuh kesehatan dengan Sumatera Barat.Jakarta. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga 1. I. Dalam Prosiding Study Epidemiologi Masalah Gizi Sumatera Barat. dkk. 8. 20. Cara Melepas Ketakutan Anak. Gizi dan dengan status gizi. 1997. Dewa. cendrung memiliki waktu yang lebih terbatas 5.berdasarkan TB/U sebagian besar 9. Tidak ada hubungan antara pola asuh pemberian Gizi Terhadap Perkrmbangan Otak dan Peranannya makan dengan status gizi anak batita di Terhadap Kecerdasan Anak. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan 22.1998. Persagi. Engle. 1. Penilaian Status Gizi. Mentawai di Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi 4. Buku 1 Tahun 2002.IX. Trisnabasilih Harsiki. S. Hubungan Pola Asuh Anak dan untuk melaksanakan tugas rumah tangga Faktor Lain dengan Keadaan Gizi Batita Keluarga Miskin dibandingkan ibu yang tidak bekerja. kategori baik. Media Gizi dan Keluarga. ibu). MM. Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia.2002 Harahap (1992). Hubungan Pola Asuh Sewaktu Bayi dengan (1995). Demikian juga yang dikemukakan Luciasari 4. Jakarta. Jakarta. Penuntun Diit anak. dibawah 13. Buku Kedokteran. Gramedia Pustaka Utama. tidak bekerja dan umur ibu umumnya berusia 12. Jakarta. Hasil penelitian juga menunjukkan karakteristik Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. 10.05).05) 15. besar baik. Ariawan. sebab anak balita bergantung Sumatera Barat dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya pada pengasuhnya ( anggota keluarga lain). 2001. Dinas Kesehatan dan Kessos akibat dari bekerjanya ibu diluar rumah adalah Provinsi Sumatera Barat. Nestle Indonesia.05) Cipta. Jurusan Poltekes Gizi Padang. Media Gizi dan 3 tahun) berdasarkan indeks BB/U sebagian Keluarga. S. mempengaruhi status gizi dan hubungannya 23. Pl.pekerjaan. 2004. Tumbuh Kembang Anak. yang mengemukakan bahwa salah 2. Nestle penelitian pada faktor-faktor lain yang Indonesia.com. Ada hubungan antara pola asuh Buku 3 tahun 2002. Pengaruh Gizi Terhadap Perkembangan Otak dan Peranannya terhadap Kesehatan Anak. normal dan menurut BB/TB sebagian besar baik. The Initiative Assesment Analysis and Action 30 tahun. INS. Rineka 2.pengetahuan. Hasil penelitian didapatkan pola asuh makan Jakarta. bahwa ibu yang bekerja diluar rumah Tinggi Badan dan Status Gizi Anak Baru Masuk SD di Daerah Perkotaan dan Pinggiran Kota Padang. Jakarta. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga 2. kurang 19. status pekerjaan ibu umumnya Padang. Dinas Kesehatan dan Kessos Provinsi Sumatera Barat. Tesis Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Kesehatan itu pola pengasuhan anak akan berpengauh dan Masyarakat Universitas Indonesia. 5. 1997. Rencana AKSI Pangan dan Gizi Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Nasional 2001-2005. Notoadmojo. Dinas Kesehatan Kota. Unicef. 1994. 1994. 1999.// anak juga akan terganggu. Padang. PT. Pengaruh 3. dengan status gizi berdasarkan karakteristik ibu 14. oleh karena di Pedesaan dan Perkotaan Provinsi Sumatera Barat. Pemerintah RI. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. pada akhirnya pertumbuhan dan perkembangan 6. 3. Jakarta. Jalal. Gizi dan Kualitas Tumbuh Kembang Anak. WHO.05 DAFTAR PUSTAKA 1. PT. 2002. R. Maret 2003. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Nestle. ibu anak batita (pendidikan ibu berada dalam 11. Jurusan Gizi Poltekes Padang. 2002. hal 1-2 diakses dari http. F. 2002. 2001. Jakarta.Balita Anda. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Maret 2003 makan dengan status pekerjaan ibu (p < 0. Biro pusat statistik. (p > 0. Prevalensi Status Gizi Balita (pendidikan. anak batita sebagian dalam kategori baik 21. Besar dan Metoda Sampel pada Penelitian Kesehatan. Tantangan Pembangunan Kesehatan dan Gizi. Jurusan Bio Statistik dan Kependudukan FKM anak batita sebagian besar berada dalam kategori UI. 6. www. 1995. nilai p < 0. 1998. 24. Aryunita. 1985. 2003. 17. Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Berkala.Tidak ada hubungan antara pola asuh Improve Care to Nutrition. Prevalensi Status Gizi Batita ketelantaran anak. Soetjaningsih.05). pekerjaan dan umur Sumatera Barat dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Infant Food and Dietetic Products Department. Hasil penelitian didapatkan Status gizi batita (1. Notoatmodjo. . Rineka status gizi anak batita (p > 0. 7.