You are on page 1of 15

UNIVERSITAS INDONESIA

DISTRIBUSI TEMPERATUR PADA ROTARY AIR PREHEATER DI BAGIAN
PEMANASAN UDARA SEGAR DENGAN APLIKASI CFD

TUGAS BESAR MATA KULIAH APLIKASI CFD

Dosen:
Dr. Ir. Ahmad Indra Siswantara

Disusun Oleh :
Kautsar Segaramada
1206238791

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
DEPOK
2015

............................................................................. i BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................................................................................................................................................................................... 10 BAB 5 KESIMPULAN ........................................ 2 BAB 3 SIMULASI ................................ DAFTAR ISI DAFTAR ISI ..................................................................................................................................................... 1 BAB 2 DASAR TEORI ... 6 BAB 4 ANALISA....................... 12 DAFTAR PUSTAKA ................................................... ii i ...............................

manusia mnembutuhkan energi yang efisien untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Sehingga kenaikan temperature pada udara dipengaruhi oleh seberapa besar panas yang dari flue gas dapat diserap oleh rotary air preheater dan ditrasnferkan kepada udara. 1 . Karena itu. Dalam kenyataannya. Media pemanas yang digunakan untuk memanaskan rotary air preheater adalah panas yang berasal dari flue gas hasil proses pembakaran. Oleh karena itu. Hal ini digunakan untuk pada saat proses pembakaran selanjutnya. untuk mendapatkan energi yang cukup. sehingga metode yang sering digunakan untuk menganalisa peforma dari suatu rotary air preheater pada berbagai kondisi menggunakan metode simulasi Computational Fluid Dynamics (simulasi CFD). Salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan efisiensi adalah degan menggunakan Rotary Air-Preheater pada pembangkit listrik tenaga uap. yang berguna untuk memanaskan udara yang berasal dari atmosfir bebas sebelum masuk dan digunakan untuk digunakan dalam pembakaran mesin pembangkit energi. diperlukan proses yang efisien sehingga energi yang dihasilkan semakin besar. kecepatan putar dari rotary air preheater. dan lain lain mempengaruhi perfoma dari rotary air preheater yang digunakan. material. Hal tersebut merupakan salah satu masalah yang harus dipecahkan. panas yang dihasilkan diharapkan lebih tinggi dikarenakan udara yang masuk memiliki temperature yang cukup panas. untuk mengatasinya diperlukan proses yang efisien dalam menghasilkan energi. BAB 1 PENDAHULUAN Pada saat ini. sehingga efiseiensi dari mesin pembangkit tersebut dapat meningkat. Rotary Air Preheater adalah sebuah alat yang termasuk ke dalam kategori heat recovery.

1 Cara Kerja Rotary Air Preheater Skema cara kerja dari RAPH secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini. BAB 2 DASAR TEORI 2.Skema Cara Kerja Rotary Air Pre-Heater Pada sebuah RAPH. Prinsip kerja dari sebuah RAPH adalah pada saat flue gas melewati RAPH temperatur yang dimiliki oleh flue gas akan diserap oleh filamen-filamen atau komponen-komponen yang berbentuk seperti poros yang berada pada basket RAPH. Gambar 1. sedangkan udara segar yang berasal dari luar melewati RAPH pada ruas kanan. dikarenakan Air Preheater berjenis rotary atau berputar. kedua ruas tersebut dipisahkan dengan sebuah komponen yang dinamakan separator. sehingga udara segar yang keluar dari RAPH akan memiliki temperatur yang lebih tinggi dari pada masuknya. dan panasnya akan disimpan oleh filamen tersebut. maka bagian RAPH yang ada pada daerah flue gas akan berputar dan menuju daerah udara segar. gas buang atau flue gas yang berasal dari pros es pembakaran akan melewati RAPH pada ruas kiri basket RAPH. Pada saat bagian tersebut mencapai daerah udara segar. maka panas yang telah disimpan oleh filamen tersebut akan keluar dan memanaskan udara segara yang lewat pada RAPH tersebut. 2 . Konsep yang dimiliki oleh RAPH ini mempergunakan flue gas yang notaben nya memiliki temperature yang sangat tinggi untuk memanasakan udara baru yang digunakan sehingga temperatur nya sedikit meningkat yang mana akan dapat menaikan efisiensi dari sistem tersebut.

. hal pertama yang harus di cari adalah bilangan nusselt terlebih dahulu. jenis aliran yang dimiliki nya dan juga geometri dari tempat fluida tersebut mengalir. Rumus dari bilangan Nusselt adalah sebagai berikut 3 . Perpindahan panas yang terjadi pada alat ini menggunakan perpindahan panas secara konveksi. Perpindahan panas atau kalor secara konveksi adalah sebuah fenomena transport kalor yang mana pada saat proses perpindahan di-ikuti oleh perpindahan dari materi atau molekul molekulnya. Fenomena pertama yang paling utama yang ada pada alat RAPH adalah fenomena perpindahan panas. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari persamaan empirik yang berhubungan dengan fenomena yang terjadi pada RAPH dan menghitungnya secara manual untuk menjadi modal pertama.. (1) dimana. nilai yang diberikan tidaklah memiliki satu nilai yang absolut atau tetap. Sehingga konveksi umumnya dialami oleh fluida karena sifat nya yang selalu mengalir dan oleh sebab itulah konveksi sangat cocok dan erat dengan RAPH.2 Persamaan yang digunakan Pada kasus Rotary Air Pre-Heater ? (RAPH) hal tersebut juga berlaku dengan pensimulasian alat tersebut. Hal ini dikarenakan alat ini menggunakan prinsip perpindahan panas sebagai media utama untuk memindahkan panas yang berasall dari flue gas ke udara segar. Bilangan Nusselt sangat erat kaitannya dengan perpindahan panas secara konveksi karena untuk mendapatkan nilai h.  h = Koefesien Perpindahan Kalor (W/mK)    A = Luas Permukaan (m^2)    dT = Perbedaan Temperatur (K)  Pada nilai dari h yang ada pada persamaan satu. Sehingga nilai dari h bergantung kepada sifat dari fluida. Rumus dari Perpindahan Kalor secara Konveksi adalah Q = h * A * dT .2. dan semua hal tersebut sudah dihubungkan dengan satu bilangan tak berdimensi yang dinamakan Bilangan Nusselt (Nu). Hal ini dikarenakan pada konveksi benda amat adalah berupa benda cair yang mana bentuk dan properties yang dimiliki nya akan selalu berubah ubah tegrantung dengan keadaan dimana dia berada.

Untuk bilangan prandtl biasanya sudah disediakan dalam bentuk table atau katalog karena nilainya tetap dan hanya bisa didapatkan melalui percobaan dan eksperimen di laboratorium.. yang mana berfunsgi sebagai mengetahui pengaruh dari bentuk aliran seberapa besar. Turbulen -> Re > 3 * 10^6 4 . Pada kasus RAPH ini bisa di ambil pendekatan untuk aliran di sebuah plat datar. Untuk masing-masing bentuk geometri yang di lewati oleh fluida memiliki batasan sendiri-sendiri untuk akankah aliran tersebut adalah laminar atau turbulen.(2) dimana..  Rho = Densitas Fluida (kg/m^3)    v = Kecepatan Fluida (m^2)    L = Panjang Permukaan terbasahi (m)    Myu = Viskositas Dinamik (kg/ms)  Jenis aliran ditentukan oleh nilai dari bilangan reynolds yang didapatkan.  h = Koefesien Perpindahan Kalor {W/mK)    L = Panjang permukaan yang terbasahi (m)    k = Konduktivitas Thermal (W/K)  Selain persamaan diatas. (4) dimana. Untuk dapat mencari Bilangan Reynolds (Re) menggunakan rumus sebagai berikut. . sehingga nilai atau batasan untuk menentukan jenis alirannya adalah 1.. reynolds dan prandtl.. . bilangan yang bisa dicari dengan menggunakan rumus empirik adalah bilangan reynolds. Laminer -> Re < 3 * 10^5 2.(3) Pada kedua Bilangan Tak berdimensi tersebut. Sehingga Bilangan Nusselt bisa dituliskan sebagai .. Bilangan Nusselt juga memiliki hubungan dengan Bilangan Reynolds dan juga Bilangan Prandtl..

3. 5 .. (5) dan (6) Setelah mengetahui nilai dari Bilangan Nusselt. Transisi -> 3 *10^5 < Re < 3 * 10^6 Setelah mengetahui bilangan reynolds dan jenis aliran-nya. maka dapat digunakan persamaan 2 untuk mencari nilai koefesien perpindahan panas h dan akhirnya akan dapat menghitung nilai perpindahan panas secara konveksi pada aliran tersebut berapa. maka bisa di dapatkan nilai dari bilangan nusselt berdasarkan jenis aliran laminar atau turbulen. Rumus tersebut dapat dilihat sebagai berikut ..

Bentuk Grid pada Simulasi 6 . Namun. dengan tingginya berasal dari tinggi rotary air preheater aslinya. Skema Bagian yang disimulasikan didapatkan dari ukuran setengah diameter rotary air preheater. tempat simulasi yang akan dilakukan dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini. akan mensimulasikan bagian pada jalur udara masuk ke bagian rotary air preheater. Gambar 3. BAB 3 SIMULASI 3.1 Pengaturan Simulasi Pada simulasi yang akan dilakukan pada kali ini. simulasi yang dilakukan pada saat ini adalah simulasi 2D. Bentuk grid yang digunakan pada simulasi ini dapat dilihat pada gambar 3.9 m Panjang 5 m Gambar 2. dimensi nya berubah menjadi Panjang dan Tinggi. Dimensi yang digunakan Jalur Jalur Flue Gas Udara Tinggi 1.

Pada bentuk grid yag digunakan.9950 kg/m3  Kalor Jenis : 1009 J/kg K 7 . Wall-wall yang ada ditengah ini merepresentasikan dari alat rotary air preheater yang sedang disimulasikan dan juga menggambarkan matriks yang ada pada rotary air preheater.8 m/s  Temperatur Masuk : 350 K  Densitas : 0. bentuk grid tersebut digunakan inisialisasi segmen untuk mengatur pembagian segmenn yang ada berdasarkan ukuran grid yang digunakan. yaitu Boundary Condition di Wall dalam dan Boundary Condition pada Inlet. maka wall-wall yang ada ditengah juga merepresentasikan sumber panas yang digunakan untuk memanaskan udara. Bentuk grid setelah inisialisasi segmen diperlihatkan pada Gambar 4. Boundary Condition di Wall dalam  Material Stainless Steel    Temperatur : 483 K   2. Gambar 4. diperlihatkan sebagai berikut 1. Boundary Condition pada Inlet (Properti Udara)  Kecepatan Masuk : 7. terdapat wall yang berada ditengah. Lalu. Lalu. inlet dan outlet yang ada pada simulasi berada pada bawah dan atas secara berturut- turut. Dikarenakan simulasi ini yang dilakukan adalah simulasi distribusi temperature pada daerah jalur udara seger. Grid setelah Inisialisasi Segmen Boundary condition yang digunakan pada simulasi ini dapat dibagi di dua daerah.

7 Setelah boundary condition dimasukan. 3.92*106 m2/s  Konduktivitas Thermal : 30*103 W/mK  Difusivitas Thermal : 29.2 Hasil Simulasi Gambar 5. Kontur Kecepatan Gambar 6.9*106 m2/s  Prandtl Number : 0.  Viskositas Kinematik : 208. iterasi dapat dilakukan dan hasil simulasi pun akan tampak. Kontur Tekanan 8 .2*107 kg/m s  Viskositas Dinamik : 20.

Kontur Temperatur 9 .Gambar 7.

Seperti yang diketahui bahwa tujuan utama dari rotary air preheater adalah meningkatkan suhu udara segar yang berasal dari atmosfir sebelum masuk ke dalam mesin pembakaran. Hal pertama adalah mengenai kecepetan yang terjadi pada simulasi tersebut. Peningkatan temperature tersebut disebabkan pada saat fluida udara melewati rotary air preheater pasti akan melewati luas permukaan yang lebih sempit dikarenakan penyempitan wall-wall dalam yang mereprenstasikan dari rotary air preheater. Hal ini dikarenakan pada keadaan tersebut. dikarenakan hal tersebut. di bagian atas. Selain itu hal berikutnya adalah distribusi temperature yang terjadi pada simulasi tersebut. Pada simulasi ini dapat dilihat bahwa temperature dari udara yang masuk pada saat keluar dari rotary air preheater dibuktikan mengalami peningkatan temperature. terdapat komponen kecepatan yang mana sangat secara langsung maka proses perpindahan secara konveksi akan lebih dominan dibandingkan dengan proses 10 . namun setelah beberapa saat luas permukaan yang dilewati menjadi sempit sehingga kecepatan menjadi meningkat sampai pada ujung daerah penyempitan. Sehingga dapat dikatakan terjadi peningkatan temperature. di bawah. BAB 4 ANALISA Pada hasil simulasi yang didapatkan bisa dilakukan beberapa analisa. temperature udara memiliki kontur kebiru-biruan dan pada outlet. Pada hasil simulasi dapat dilihat bahwa kontur kecepatan yang pada daerah penyempitan diantara wall dalam mengalami kenaikan kecepatan. yang mana terjadi penurunan tekanan antara inlet atau outlet. Pemanasan yang terjadi pada rotary air preheater lebih disebabkan oleh perpindahan panas secara konveksi. Pada wall-wall dalam yang ada memiliki temperature lebih tinggi dibandingkan dengan temperature fluida udara pada saat fluida masuk ke rotary air preheater. temperature udara memiliki kontur kemerah-merahan. Dikarenakan kenaikan kecepatan tersebut maka secara langsung akan mempengaruhi tekanan yang terjadi. Hal ini dikarenakan pada saat udara masuk ke dalam rotary air preheater luas permukaan pertama masih besar sehingga kecepatannya masih sama dengan kecepatan awal. Hal ini dibuktikan dengan pada daerah inlet. maka fluida udara terpanasi oleh temperature disepanjang jalur wall-wall dalam yang hasilnya akan terjadi peningkatan di dalam fluida udara.

perpindahan secara konduksi. Proses konveksi lebih dominan dibuktikan dengan kontur temperature yang berada pada dekat wall-wall dalam memiliki temperature yang lebih rendah dibandingkan pada temperature yang lebih jauh dari permukaan wall-wall dalam.. 11 .

Hal ini terjadi karena udara segar dari luar dipanaskan oleh matriks pemanas yang sebelumnya dipanaskan oleh flue gas hasil pembakaran. Proses perpindahan yang terjadi pada pemanasan udara segar ketika melewati RAPH sebagian besar merupakan proses konveksi 12 . BAB 5 KESIMPULAN Tempertatur udara segar dari luar RAPH akan meningkat pada sisi masuk boiler (sisi outlet udara segar).

United States of America: John Wiley & Sons. ii . Frank. Lidia. DAFTAR PUSTAKA Kaydan. et all. Aerodynamic Study of Air to Gas Leakage Reduction in a Typical Rotary Regenerative Air Preheater of Coal-Fired Steam Generators. Three-Dimensional Simulation of Rotary Air Preheater in Steam Power Plant. Armin Heidari & Ebrahim Hajidavalloo. 399-470. et all. (2010). 73. (2014). (2007). P. Fundamental of Heat and Mass Transfer. Inc. Incropera. COMSOL Conference 2010. Paris. Journal of Applied Thermal Engineering. Ferravante.