You are on page 1of 3

PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI

No. No. Revisi Halaman
Dokumen

STANDAR PROSEDUR Tanggal Ditetapkan
OPERASIONAL Terbit Direktur,

Pengertian: Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan sebagai
teknik pencegahan mikroorganisme patogen dari seseorang ke
orang lain yang disebut “carrier”. Barier yang umum
digunakan masker, kecamata pelindung, gaun, apron, sarung
tangan, penutup kepala, pelindung kaki.
Tujuan: Mencegah kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja
karena pengelolaan bahan berbahaya dan beracun dan limbah
bahan berbahaya dan beracun bagi pasien, keluarga pasien,
pengunjung dan petugas.
Kebijakan 1. Peraturan Pemerintan No. 18 tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
2. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 03 tahun
2008 tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan Label
Bahan Berbahaya dan Beracun.
3. Keputusan Direktur Rumah Sakit Islam Garam Kalianget
Nomor
Tentang Penetapan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit
Islam Garam Kalianget.

kejadian.Prosedur 1. hari dan tanggal tanpa perlu menyebutkan nama yang bersangkutan untuk menghindari kejadian . Penyerahan laporan pada atasan langsung pelapor atau ke Komite K3 apabila kejadian terjadi pada area-area netral (koridor. dampak apda korban. Informasi insiden harus menyebutkan lokasi insiden. dan area-area lain yang memiliki potensi bahaya yang sama. Pelaporan insiden dibuat sesegera mungkin adalah kejadian dengan mengisi formulir pelaporan insiden (pelaporan paling lambat 1x24 jam). Pelaporan investigasi harus disimpan di area Komite K3. taman. atau melibatkan satker terkait bila insiden termasuk kategori accident/emergency. 7. Pencegahan atau penanganan segera dalam 24 jam apabila terjadi insiden di rumah sakit untuk mengurangi dampak atau akibat yang tidak diharapkan. Penyampaian informasi insiden harus dilakukan langsung ke area. Laporan insiden menggunakan formulir RCA. 2. 4. tim investigasi dapat terdiri dari Komite K3 saja. 3. area parker). laporan investigasi harus dilengkapi dengan FTPP sesuai prosedur FTPP. Pemberitahuan tim investigasi sesuai dengan kebutuhan. 5. 6. Pelaksana investigasi insiden dilakukan segera setelah laporan diterima dan dilakukan oleh tim investigasi insiden (pelaksanaan investigasi paling lambat 2x24 jam). Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi potensial terjadi ataupun nyaris terjadi yang dibuat oleh semua petugas rumah sakit yang pertama menemukan kejadian atau terlibat dalam kejadian atau petugas yang mendapat laporan dari pihak lain seperti tamu atau pengunjung. Laporan harus diserahkan pada Komite K3. 8.

Instalasi Pemeliharaan Sarana RS 3. Unit Terkait 1. “Perbaikan dan Pembelajaran” sebagai rekomendasi untuk umpan balik kepada satuan kerja terkait. 10. 12. Pembuatan analisa dan tren kejadian di amsing-masing satuan kerja. Pelaporan hasil RCA. Rekomendasi dan Pembelajaran kepada Direksi. 11. Instalasi Pemeliharaan Sanitasi Lingkungan RS . 9. Instalasi Farmasi 2. serupa. Peninjauan terhadap identifikasi bahaya resiko setelah melakukan RCA.