You are on page 1of 5

Unitas Tuhan, Pluralitas Konsep Tuhan

(Mengurai Konsep Tuhan dalam Filsafat, Sains, dan Alquran)*)
By: Sabara Nuruddin al-Raniri**)

A. Mukaddimah
Ketika aku berpikir tentang diriku
Dan kutemukan “aku” yang lain
Yang bukan diriku, tapi juga itu aku!
Siapakah si “aku” itu?
Yang dekat, tapi jauh dariku?
Sungguh nyata, tapi sangat misterius!
Ketika kesadaran manusia melesat menembus belenggu fisikalnya, maka
sampailah ia pada dua pertanyaan dasar, namun meresahkan nalar. Pertanyaan
ringan, tapi membebani pikiran, pertanyaan mudah, tapi sungguh jawabannya
susah. Kita dari mana dan kita akan ke mana?, itulah pertanyaan yang akan
terbetik ketika kesadaran reflektif telah terpantik. Dalam pencariannya, manusia
akhirnya sampai pada satu sosok yang benar-benar dianggap Maha, dan mereka
menyebutnya sebagai Tuhan. Ya itulah Tuhan, satu sosok yang dipandang
menyandang segala atribut kesempurnaan. Sosok yang dianggap menjadi
sentrum edar semesta raya. Awal sekaligus titian akhir perjalanan.
Tuhan dengan segala atribut “ke-Maha-an” yang disandangnya, di satu sisi
membuat manusia menjadi sangat aktif, tapi di sisi lain bisa membuat manusia
menjadi sangat pasif, di satu sisi membuat manusia optimis, tapi di sisi lain bisa
membuat manusia menjadi sangat apatis. Tuhan dengan ke-Maha Perkasa-
anNya, dianggap dapat membuat manusia selamat, tapi dapat juga membuat
manusia terlaknat, membuat manusia menjadi sangat taat, tapi juga dapat
membuat manusia menjadi sesat. Namun, siapakah Tuhan yang dianggap sangat
nyata, tapi juga sungguh misterius itu?. Bagaimana bisa manusia
mengenalNya?.Mari “ulurkan tanganmu” kawan, dan marilah kita “bersalaman”
dengan Tuhan.
B. Konsep Tuhan: Sebuah Otokritik Filosofis
Benarkah yang namanya Tuhan itu benar-benar ada?, atau jangan-jangan
Tuhan hanya proyeksi imaji semata, ketika manusia tak sanggup memecahkan
misteri semesta?.Dalam tradisi pemikiran Barat, konsep tentang Tuhan hanyalah
sebuah proyeksi dan pelarian manusia dari ketidakmampuan mereka mengatasi
problematika hidup. Berikut tiga buah kritik filosofis dari para pemikir Barat yang
dicap sesat dan terlaknat oleh orang-orang yang bertuhan, namun pemikiran
mereka sangat layak untuk kita renungkan.
Ludwig Van Feurbach mengkritik konsep Tuhan dengan pendekatan
ontologis, Feurbach menyebutkan konsep tentang Tuhan tak lebih dari konsep
manusia tentang dirinya sendiri, ia terkenal dengan diktum; “Theology is
antropology”. Menurut Feurbach, kesadaranlah yang menggerakkan manusia

1

menurut Feurbach konsep Tuhan hadir karena kegagalan kesadaran manusia dalam memahami dirinya. Lain lagi dengan pendekatan aksiologis Immanuel Kant yang bisa digunakan untuk mengkritik konsep Tuhan. Kata Kant. Bagaimana bisa kita meyakini sesuatu yang tak mampu sedikit pun kita pahami?. Tuhan Maha Perkasa-manusia maha lemah. Intinya Tuhan adalah absurd karena premis-premis yang membuktikannya sangat paradoks. Dari sinilah kemudian kesadaran manusia mempersepsi tentang adanya sosok Tuhan yang benar-benar Maha. seorang filosof kontemporer Prancis yang mengkritik konsep Tuhan dengan pendekatan epistemologis. tak bisa ditolak oleh manusia.untuk mempersepsi dan selanjutnya menilai realitas. Akhirnya sampailah manusia pada kesimpulan bahwa segala atribut yang Maha tersebut adalah sosok lain yang bukan dirinya dan benar-benar berbeda dengan dirinya. Intinya. Bukankah keyakinan muncul dari pemahaman?. kecerdasan. kata Comte!. Tanpa adanya Tuhan.. Ketika manusia menyelami samudera kesadarannya hingga di titik terdalam. Lain lagi kritik dari Andre Comte-Sponville. Karena nalar manusia menyatakan bahwa buat apa berbuat kalau tak mendapatkan balasan?. Tuhan Maha Superior- manusia maha inferior. Tuhan maha suci-manusia maha nista. Konsep Tuhan hadir karena Ia dibutuhkan oleh manusia guna memberikan nilai bagi perbuatannya. Tuhan Maha sempurna-manusia tak akan pernah sempurna. Tentu saja tak seorang pun mampu menjawabnya. Kesimpulannya. Lalu kemudian manusia memasang jarak dan menarik garis demarkasi antara dirinya dan sosok yang diciptakannya tersebut yang ia sebut sebagai Tuhan. 2 . maka kebaikan dan kejahatan akhirnya sama saja. dan segala keluarbiasaan lainnya. Namun. lalu ia bertindak berdasarkan persepsi dan penilaian tersebut. Lalu. Karena mengharapkan balasan atas segenap perbuatannyalah manusia kemudian menghadirkan Tuhan sebagai pemberi nilai dan balasan bagi perbuatannya. dan melampaui pemahaman kita. Tuhan disebut sebagai realitas yang tak terjangkau. maka manusia sulit bahkan mustahil untuk berbuat baik. Tanpa adanya konsep Tuhan. kesadaran dan persepsi tentang adanya realitas yang superior (Maha) etrsebut. sedangkan premis awal yang kita bangun adalah Dia tak mungkin dipahami karena Dia di luar jangkauan nalar?. Namun. orang jahat dan orang baik pun menjadi tak berbeda. Apakah yang dimaksud dengan Tuhan?. manusia bertuhan atas dasar yang sangat pragmatis. kesucian. keagungan. tak terlukis. sampailah manusia pada kesadaran dan persepsi tentang kesempurnaan. kenistaan. realitas yang tak terdefenisi. Atau Tuhan hanyalah proyeksi pikiran mahusia akibat ketidakmampuan manusia memahami dirinya. bagaimana kita bisa mengatakan Dia ada. dan segala hal yang mengantarkannya pada persepsi tentang inferioritas manusia. kebodohan. realitas yang dihadapi oleh manusia berbanding terbalik dengan semua persepsi tersebut. Tuhan maha kuasa-manusia maha tak berdaya. Yang ditemui oleh manusia adalah kelemahan. Tuhan Maha cerdas-manusia maha bodoh.

tentunya jawaban dari pertanyaan tersebut. menggelitik nalar kita. Bukankah hadirnya konsep dalam persepsi karena adanya realitas eksternal yang membentuknya?. Seluruh perangkat keilmuan manusia. Namun mungkinkah. jawabannya adalah. jika realitas yang sempurna itu tiada?. filsafat MenyebutNYA Yang Maha Wujud. Secara aksiologis. Siapakah DIA dan bagaimana mengenalNya?. atau “kebahaagiaan yang sempurna”. Pendekatan sains. dari berbagai fakultas epistemologi dapat mengantarkan manusia untuk mengenalNYA. Secara epistemologis. Tuhan yang Satu dan “Tuhan” yang Banyak DIA memang Tunggal. karena tak tertbatas pastilah ia sempurna. meniscayakan bahwa Yang Maha Sempurna itu benar-benar ada. dan apakah yang ada itu terbatas atau tidak?. Apa yang ada?. tapi universal dan sangatlah mendasar. Lalu. Tapi konsep tentang DIA sebanyak kepala yang memikirkannya DIA yang Tunggal. Sains menyebutNYA Yang Maha Kreatif. dua buah pertanyaan ontologism. dan ketiadaan adalah mustahil. sosiologi. bukanlah sesuatu yang parsial dan temporal. maka jalan untuk mengenalnya pun tak terbatas. kebahagiaan yang sempurna itu dapat diberikan oleh sesuatu yang tak sempurna –dalam artian terbatas-?. “Bahagia yang tak mengenal batas”. filsafat. karena harapan asasi kita tak akan pernah terwujud. dan tak mungkin dapat dibatasi. lebih banyak dari helai rambut dan hela nafas. bahkan matematika dan seni dapat mengantarkan manusia untuk mengenal DIA dan segala KeagunganNYA. Ya. Demikian argumentasi ontologis fitrah kita menjustice akan adanya DIA Yang Tak Terbatas dan Sempurna. hokum. psikologi. ya ada. Bahagia yang seperti apa?. Dan demikianlah eksistensi Yang Maha Sempurna –yang kita sebut dengan Tuhan.pun menjadi niscaya. psikologi 3 . kita akan menjadi pengikut Albert Camus yang menyatakan bahw hidup ini absurd. bagaimana konsep tentang kesempurnaan bisa hadir dalam persepsi kita. Dan bertuhan membuat kita senantiasa optimis. Tuhan: Geliat Primordial Fitrah! Apa sesungguhnya yang kita ingin gapai dalam kehidupan ini?. maka hal itu meniscayakan akan adanya sosok yang sempurna. Adanya gagasan tentang kesempurnaan. karena kita selalu yakin harapan asasi kita akan dapat terwujud. yang ada pasti tak terbatas. “kita ingin selalu bahagia”. namun Tak Terbatas. tak bertuhan membuat kita menjadi pesimis dalam menjalani hidup. Oleh karena itu. itulah sesungguhnya yang kita cari. tentu saja yang ada. maka celakalah hidup ini. apapun namanya yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sempurna. karena selain ada itu tiada. DiIAlah Wujud qua wujud yang meniscayakan hadirnya “wujud-wujud” yang lain. Jika kita jawab “tidak”. karena ke-Tak terbatas-anNyalah. mungkinkah harapan primordial kita itu utopis?. D.C. Dengan demikian Yang Tak Terbatas dan Yang Sempurna itu sesungguhnya benar-benar ada. dan semua Ilmu pastilah akan kembali kepadaNYA. tentu saja tak mungkin!. jika kita jawab “ya”. Apa itu?. karena DIAlah al-Alim Pemilik Segala Ilmu.

2. Ketika akal para filosof memikikan tentang kesejatian wujud. seni menyebutNYA Yang Maha Indah. 4. nalar manusia hanya akan sampai pada pengakuan akan adanya DIA dengan ke-Tak Terbatas-an dan Ke-Sempurna- anNYA. ketika para saintis mencoba menyibak selubung kosmik sampailah mereka pada realitas yang tak terpecahkan. ketika nalar manusia berkelana untuk mengenalNYA. Pastilah ada kekuatan yang Maha Kreatif yang menyebabkan keteraturan ini. Sisanya 99. yang Maha Esa. DIA tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Surat al-Ikhlas merupakan jawaban atas nalar manusia yang hendak mencari tentang realitas ultim yang menjadi modus eksistensi semesta ini. DIAlah sesejati-sejatinya wujud yang paling sejati. “kehampaan” itu ternyata adalah kekuatan yang Maha Dahsyat. karena pendekatan yang eksperimentatif-empiris. karena ketakterbatasan dan kesempurnaan itu sendiri tak akan mampu tergambar dalam konsepsi nalar manusia yang terbatas. Khatimah: Al-Ikhlas Surat Pamungkas dan Jawaban Tuntas 1. sampailah mereka pada noumena (gejala yang tak tampak). merupakan jawaban pamungkas dari Allah yang 4 . sosiologi menyebutNYA yang Maha Pemberi. Selanjutnya. Ingatlah DIA yang pernah berkata. Sang Maha Kreatif dalam pandangan kaum saintis. Tuhan Yang Maha Pengasih. Ketika para filosof memikirkan apa yang di balik fenomena (gejala yang tampak)." Surat al-Ikhlas tersebut adalah jawaban pamungkas. Pastilah ia tak terbatas. “Kehampaan” tapi tentu saja bukan ketiadaan. Jika ia tak sejati pastilah ia wujud nisbi. hokum menyebutNYA Yang Maha Adil dan Pemaksa. sampailah mereka pada Wujud qua wujud atau Wujud Yang Sejati. yang menyebabkan partikel-partikel sub atomic dapat bergerak sinergis dan membuat semesta bergerak teratur. Keteraturan?!. Katakanlah: "DIA-lah Allah. tapi hanya fenomena. karena ketiadaan adalah mustahil. Dan para saintis itu menemukan. Dan itulah Tuhan.999999 –hingga “9” yang tak terhingga-% adalah “kehampaan”. 3. Sang Maha Wujud. dan matematika menyebutNYA Yang Maha Tak Terhingga. Partikel sub-atomik ternyata hanya sangat-amat-terlalu sedikit dari realitas ini. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan DIA. menurut Allamah Thabaththaba’I. Namun. karena kalau terbatas pasti ia bukan noumena.menyebutNYA Yang Maha Ego. menyampaikan surat cintaNYA kepada kita yang ingin mengenalNYA. Pendekatan sains empiris pernah menafikan eksistensiNYA. Untaian surat-surat tersebut aalah untaian proposisi aksiomatik tentang ke-Tak Terbatas-an dan Ke-Sempurna-anNYA. akal manusia hanya akan menabrak “dinding” tebal yang tak akan mampu tertembus. Dalam mengenalNYA. Dan tak mungkin yang nisbi dapat eksis tanpa yang sejati. Sesungguhnya DIA berdasarkan apa yang kita persangkakan tentangNYA E. inilah realitas kosmik yang konsisten dalam garis edarnya. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dan itulah Tuhan di kepala para filosof. Apakah noumena atau Wujud Sejati itu?. Surat al-Ikhlas.

Konsep Tuhan dalam Alquran merupakan sistem penjelas dari Allah tentang DiriNYA. maka biarkan orang tersebut memperkenalkan dirinya kepadamu. hingga DIA tak butuh penjelas lain selain DiriNYA sendiri. maka hadirkanlah Tuhan dalam dirimu agar DIA langsung memperkenalkan DiriNYA kepadamu. Jika dengan perangkat keilmuannya manusia mengenal Tuhan. Adakah beda antara aku dan “AKU”? Bukankah aku dari Yang “AKU” “di dalam” Sang “AKU” Menuju Yang Maha “AKU” Duhai Sang AKU. tanggal 29 November 2008.ditujukan kepada umat manusia. manusia dapat menyibak dengan ketajaman kalbu siapa sesungguhNYA DIA. ketika nalar manusia sampai pada titik klimaks pencaharian tentang jati diri dan pencaharian tentang misteri kesejatian wujud dari alam raya ini. SesungguhNYA DIA begitu jelas. Dan jika kau ingin lebih jauh mengenal Tuhan. terlalu jelas. Dengan penjelasan Alquran tentang TUhan. sampaikan salamku pada kekasihku/KU Muhammad saw dan kelurganya La Ilaha Illallah Allahumma Shalli ala Muhammad wa Ali Muhammad *)Disampaikan dalam materi kajian di Café Intelektual Makassar (CIMa). maka dengan Alquran Tuhan sendiri yang memperkenalkan DiriNYA kepada manusia. 5 . Jika kau ingin mengenal lebih jauh tentang seseorang. **)Penulis adalah Ketua Umum Lembaga dakwah dan Study Islam al-Muntazhar makasar 2005-2007 dan Ketua Umum Pengurus Daerah Ikatan jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) Kota Makassar 2008-2011.