You are on page 1of 13

Dari Pluralitas Eksoterik Menuju Kesatuan Esoterik

(Diskursus Pluralisme dalam Tinjauan Filsafat Perennial)
Oleh : Sabara Nuruddin al-Raniri, S. HI *)

"Lampu-lampu adalah berbeda, namun cahaya tetaplah sama” (Maulana
Jalal al-Din Rumi)

A. Mukaddimah

Sejarah agama-agama di dunia penuh dengan sejarah kelam yang
dihiasi dengan berbagai tragika historis atas nama Tuhan. Sakralitas ajaran
transenden “dipelintir” dan dipolitisir demi sebuah ambisi kelompok yang
diwujudkan dalam bentuk pemberangusan dan pembasmian mereka yang
dianggap menyimpang. Inkuisisi, mihnah, dan berbagai tragika sejarah telah
menelan korban sekian banyak nyawa manusia hanya karena “satu dosa”
menyimpang dari tradisi agama yang dimapankan.
Pola keberagamaan yang ekstrinsik melahirkan sikap keberagamaan
eksklusif dan memandang “yang lain” sebagai entitas yang berbeda dan
bahkan menyimpang. Karena kejumudan berpikir, agama hanya dipandang
dari sisi lahir (eksoterik), dan bahkan sampai pada titik ekstrim agama
diidentikkan dengan prilaku-prilaku dan simbolitas eksoteris semata. Dan
menafikan sisi esoteris (batin) dari agama yang pada dasarnya merupakan
jantung (inti sari) dari agama.
Pluralisme yang diwujudkan dengan sikap toleran, menghargai,
membuka ruang dialog dan kerjasama dalam rangka membangun tatanan
kemanusiaan yang harmonis akan menjadi mustahil jika agama hanya
dipandang dari perspektif eksoteris belaka. Oleh karena itu, filsafat perennial
memberikan sebuah pendekatan baru dalam mewujudkan pluralisme di
kalangan umat beragama. Yaitu dengan menwarakan pendekatan
transhistoris-metafisis untuk memahami kesatuan agama-agama pada ranah
esoterik.

B. Selayang Pandang Filsafat Perennial

Istilah perennial berasal dari bahasa Latin, yang kemudian diadopsi ke
dalam bahasa Inggris yang berarti kekal, abadi. Berbeda dengan filsafat
rasionalis murni, filsafat perennial mendasarkan pengetahuan, keyakinan,
dan kecintaan terhadap Tuhan sebagai fondasi bagi pengembangan
filsafatnya. Diduga pertama kali istilah filsafat perennial pertama kali
diperkenalkan oleh Agustino Steuco (1490-1548), lalu kemudian disebutkan
juga oleh Leibniz. Jauh sebelum Steuco, di dunia Timur telah dikenal istilah
yang serupa dengan istilah filsafat perennial, yaitu istilah “sanatana dharma”
di dunia Hindu, serta dalam sejarah pemikiran Islam “al-Hikmah al-Khalidah”

1

Dengan kata lain. di mana modernisme sampai pada klimaks dan manusia tiba pada “titik jenuh” dari kehidupan yang serba materi dan fana. khususnya oleh Sayyed Husein Nasr dan Fritjouf Schoun (Muhammad Isa Nuruddin). filsafat perennial membahas makna. Dan filsafat perennial adalah salah satu jawabannya. Sedangkan di dunia pemikiran Islam kontemporer wacana filsafat perennial dikembangkan. Schmitt. filsafat materialis sama sekali tidak memberikan tempat bagi realitas transenden yang justru menurut pandangan filsafat perennial menjadi “inti” dari realitas. Filsafat materialis yang menjadi dasar filosofis modernisme telah merubah secara radikal paradigma hidup dan pemikiran masyarakat. ontologis. filsafat perennial berusaha mengungkapkan apa yang disebut sebagai “wahyu batiniah”. Selanjutnya di abad ke 20 filsafat perennial “dihidupkan” kembali oleh beberapa pemikir kontemporer. dan sumber kebenaran agama serta bagaimana kebenaran itu berproses “mengalir” dari Tuhan Yang Absolut dan kemudian tampil dalam kesadaran akal budi manusia serta mengambil bentuk dalam tradisi keagamaan yang menyejarah. ada yang meramalkan hari ini merupakan zaman kebangkitan kembali dari filsafat perennial yang telah “terkubur” selama berabad-abad. Oleh karena itu. yang diresapi oleh suatu realitas transenden. Kerinduan manusia akan sisi primordialnya akan “memanggil” manusia untuk “menggapai” alam transenden yang abadi. setidaknya dapat didekati dengan tiga sudut pandang. Salah satu alasan yang paling dominan dari runtuhnya filsafat perennial adalah perkembangan yang pesat dari filsafat materialis.(kebijaksanaan abadi) yang merupakan judul buku dari Ibnu Maskawaih (932- 1030). Filsafat perennial. maupun cerminan dari Dia (theophany). seperti Aldoux Huxley. Filsafat materialis memandang bahwa alam semesta didasarkan pada prinsip dan pola yang mekanistik. secara psikologis filsafat perennial 2 . seiring dengan perkembangan zaman. Sedangkan melalui pendekatan psikologis. dan Huston Smith. Itulah sebabnya Emanuel Wora menyebut filsafat perenial sebagai filsafat “yang terlupakan”. Berbeda dengan filsafat perenial yang memandang alams semesta sebagai satu kesluruhan yang tunggal. yaitu epistemologis. Charles B. bahwa segala wujud ini hanyalah nisbi. Namun. filsafat perennial berusaha menjelaskan adanya sumber dari segala yang ada (wujud qua wujud). dan yang menemukan penjelasannya dalam realitas transenden tersebut. Secara epistemologis. kreasi. “kebenaran abadi”. Oleh karena itu. atau “sophia perennis” yang terukir di dalam lembaran hati seseorang yang paling dalam yang senantiasa rindu pada Tuhan dan senantiasa mendorong seseorang untuk berpikir dan berprilaku benar. secara berangsur-angsur runtuh menjelang akhir abad ke 16 atau awal masuknya zaman renaisance. realitas alam tak lebih dari sekedar jejak. dan psikologis. substansi. Sedang dari pendekatan ontologis. Filsafat perennial atau yang disebut dengan kebijaksanaan universal karena beberapa alasan yang kompleks.

sehingga dengan mengakui yang satu meniscyakan penafian terhadap yang lainnya. seperti ibadah-ibadah ritual atau syari'at maupun penafsiran literer dari teks suci. Mistisisme merupakan dimensi misteri yang mesti disingkap dan jalan yang mesti ditempuh untuk mencapai proses kesempurnaan diri. Sedangkan dimensi esoteris agama berkenaan dengan realitas batin dari agama yang "keberadaannnya" "berada" di balik dimensi eksoteris dari agama. Menganggap keduanya saling berkaitan dan tak terpisahkan merupakan cara pandang yang memandang agama dalam perspektif yang universal dan holistik. yaitu dimensi esoteris. Banyak diantara para rohaniawan agama yang telah menghabiskan waktu hidupnya untuk berproses menyingkap misteri mistik dan menjalani kehidupan alam mistikal dengan berbasis kekuatan jiwa (akal dan intuisi) dengan berpedoman pada ajaran agama. yaitu dimensi eksoteris dan dimensi esoteris. Kalangan zahiri menyebut kalangan batini dengan sebutan syirik dan ghulaw (berlebihan) sedangkan kalangan batini menganggap kalangan zahiri mengalami "kekeringan" spiritual. Antara dimensi eksoterisme dan esoterisme dalam agama memiliki hubungan simbiotik yang saling "melekat". Gnosticisme sebagai dimensi tersembunyi dari alam semesta dan diri manusia dan esoterisme sebagai inti terdalam dari agama merupakan dua hal yang sama. termasuk diantaranya Islam. dan penempuhan jalan eksoterisme akan menjadi sia-sia jika tak mampu mengantarkan kita pada dimensi esoteris. Dengan menyingkap misteri mistik 3 . C. Keduanya adalah dimensi yang tak terpisahkan dari agama. Dimensi eksoteris agama berkenaan dengan hal-hal yang bersifat lahiriyah. Namun. Agama : Antara Dimensi Eksoterik dan Esoterik Dalam pandangan filsafat perennial. agama terbagi menjadi dua. Mencapai dimensi esoterisme hanya bisa dilakukan melalui jalan eksoteris. muncul pula kalangan asketik atau batini yang hanya mengejar dimensi esoteris dan melalaikan dimensi eksoteris dari agama. Di kalangan penganut agama. dua dimensi agama tersebut sering dipertentangkan dan diletakkan secara dikotomistik. di mana pada ranah tersebut tidak ada lagi partikularitas dan pluralitas dan yang ada hanya universalitas dan ketunggalan. Hasilnya adalah munculnya kaum skriptualis atau zahiri sebagai kelompok yang lebih menekankan sisi eksosterisme dan cenderung menafikan sisi esoterisme. Eksoterisme adalah "kulit terluar" yang mesti "ditembus" oleh manusia untuk mencapai dimensi esoteris yang merupakan "inti' dari agama. perbedaan pada ranah eksoterik semuanya menuju pada tujuan yang sama.meyakini pandangan bahwa dalam setiap diri manusia terdapat “atman” yang merupakan pancaran dari “Brahman”. Sebaliknya. Pada dasarnya kedua hal tersebut bukanlah dua hal yang mesti dipertentangkan atau diposisikan secara binerian.

bahwa semua agama pada dasarnya mengalami keberangkatan yang berbeda (plural) pada ranah eksoterik menuju kesatuan dalam keabadian universal esoterik. Bagi kaum esoterik (mistikus atau sufi). Dari kesepuluh prinsip esoterik tersebut dapat diambil kesimpulan. Hubungan yang terjalin antara manusia dengan Tuhan adalah lebih nyata jika dibandingkan hubungan– hubungan manusia yang lain dengan segala sesuatu yang ada di dunia. setiap sesuatu "tidak berarti apa pun".Kesepuluh prinsip dasar tersebut menggambarkan secara universal dan prinsipil dari dimensi esoteris alam dan manusia. sehingga bukan semata-mata imajinasi. kedalaman aktivitas yang kepadaNya seluruh dan setiap aktivitas dihubungkan. bahwa Tuhan yang ia yakini adalah Tuhan dari setiap keyakinan. Siapa pun yang melewati jembatan ini akan selamat melewati kehidupan yang terbatas menuju kehidupan yang tidak terbatas. Sesungguhnya pandangan dan gagasan tentang Tuhan adalah sebuah jembatan yang menghubungkan kehidupan yang terbatas dengan realitas yang tak terbatas. Hanya ada satu Tuhan. Tuhan adalah sumber dan tujuan dari segalanya. Meskipun pada waktu yang bersamaan. abadi. Prinsip-prinsip Dasar Pluralisme Agama dalam Tinjauan Esoterisme Agama (Dari Pluralitas Menuju Kesatuan) Dalam membangun konsep pluralisme agama. Kaum esoterik berpandangan. Yang dapat dilakukan adalah membentuk konsepsi tentang Tuhan bagi dirinya sendiri agar dapat membuat sesuatu yang dapat dipahami dari hal yang tidak terbatas. Tuhan adalah Realitas Sejati (yang nyata). dan Tuhan dari 4 . 1. Gagasan tentang Tuhan atau pikiran ketuhanan adalah kedalaman kehidupan. dan "segalanya adalah Tuhan". Berbeda dengan kaum eksoterik yang “membatasi Tuhan” hanya dalam doktrin teologinya semata. kendati berbeda pada ranah eksoteris.(esoteris) dari agama maka kita akan tiba pada satu kesimpulan akan kesatuan agama-agama (wahdah al-adyan) pada wilayah esoteris. tak ada yang eksis kecuali Dia. Kesatuan universal esoterik tersebut menurut Hazrat Inayat Khan. "Tuhan adalah setiap hal dari segala" (Tuhan sebagai modes existence). dari sudut pandang yang lain. Karena keterbatasan akalnya. satu-satunya Wujud. filsafat perennial mendasarkan pandangannya pada kesatuan dan universalitas esoterik dari semua agama dan ajaran spiritual. Tugas kehidupan spiritual adalah menjadikan Tuhan sebagai realitas sejati. D. didasarkan pada sepuluh prinsip fundamen dari seluruh ajaran esoterik agama. manusia tak dapat memahami Tuhan sepenuhnya.

Hanya ada satu guru. Brahma. Perbedaan dikalangan “guru-guru esoterik” tersebut hanyalah pada perbedaan momen dan bahasa yang digunakan. “anak Tuhan”. Musa. sebagaimana Adam diajar oleh Tuhan perihal nama-nama segala sesuatu yang tidak diketahui oleh seluruh penghuni langit. 2. Zoroaster. pembimbing semua jiwa yang senantiasa membawa pengikutnya menuju cahaya. Namun. dan masih banyak lagi yang tidak diketahui oleh sejarah. kaum esoterik memandang Tuhan adalah "setiap hal dari segala". inspirasi dan biumbingan. Dia memberikan kepada seorang manusia yang memiliki kesadaran tentang Tuhan. insan kamil. Orang ini berjiwa matang yang mendapatkan berkah dari surga.. dan Muhammad di sisi lain. Sebenarnya guru sejati bagi kaum esoteris hanya satu. Gott. tanpa dibatasi oleh sekat-sekat pemahaman teologis. Namun. Rama. Allah. api. untuk mengembalikan kesadaran manusia di zamannya yang mulai hilang. yang disembah sekte-sekte yang berbeda-beda. Baghwan. dalam sejarah panjang manusia namanya berbeda-beda dan dia selalu datang untuk membangunkan kemanusiaan dari kesuraman ilusi dan membimbing manusia menuju kesempurnaan. tapi ia disebut dengan banyak nama. pada intinya risalah mereka berasal dari Yang Satu. manusia adalah sarana yang dipilih oleh Tuhan untuk menanamkan pengetahuan. tetapi juga cita-cita tertinggi yang dapat dibayangkan dan dijangkau oleh manusia. Isa. sesungguhnya dia berada di luar batasan nama. Budha. dan mereka mengenalNya dalam segala bentuk semesta. God. dengan kata lain manusia-manusia pilihannya tersebut adalah khalifah Allah di muka bumi yang mewakili setiap zaman dan tempat. Kaum esoterik melihat Tuhan di matahari. Tuhan adalah yang lahir dan yang batin. serta nama mereka yang tampil berbeda-beda. Mereka berbahasa dengan bahasa kaumnya dengan risalah dan bimbingan yang dibutuhkan oleh kaumnya. Kong Hu Cu. Khuda. yang disebut dengan gelar kalki autar. Kaum esoteris memahami. satu-satunya Wujud. Tuhan. Kaum esoterik 5 . Namun. atau nabi yang muncul dalam berbagai bentuk yanng berbeda-beda. Setiap mereka "bangkit" dari manusia di zaman dan di tempatnya. patung. bahwa kendati Tuhan adalah sumber segala pengetahuan. semua nama ini adalah namaNya. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya. dan Kreshna (atau mungkin juga Sawerigading) di satu sisi dan Ibrahim. Dalam sejarah panjang manusia. Tuhan telah mengutus manusia-manusia pilihan untuk ditugaskan menjadi pembimbing hidup bagi sekalian manusia Dengan kata lain para pembimbing manusia ini adalah manusia pilihan. Tuhannya kaum esoterik bukan semata-mata keyakinan religius.semua makhluk. Namun. Meskipun realitasNya hanya satu. Lao Tze. atau berbagai gelar lainnya.

Ketika mata jiwa terbuka dan pandangan dipertajam. setiap helai daun adalah sebuah halaman dari sebuah kitab suci yang memuat wahyu Ilahi. Mengakui kitab sucinya dan menolak kitab suci lainnya dan terpecah dalam berbagai agama dan sekte yang saling mengklaim kebenaran tunggal. Mereka mengekspresikan sesuatu yang terekspresikan 6 . Masing-masing mereka mengklaim guru yang satu lebih superior ketimbang yang lain dan merendahkan guru-guru yang lain yang dihormati oleh orang-orang yang dari bukan golongannya. para guru sufi (kaum esoterik) telah menghormati semua kitab suci. guru-guru spiritual. satu-satunya teks suci yang dapat mencerahkan pembacanya. klaim superioritas guru kita dengan menafikan guru-guru spiritual yang lain bertentangan dengan ajaran esoterik yang memandang bahwa risalah kebenaran itu satu tanpa mesti membeda- bedakannya. Manusia telah sering berperang dan bertikai hanya karena memperselisihkan kitab-kitab ini. bahwa kitab suci hanyalah buku atau gulungan tulisan tertentu yang ditulis oleh manusia. 3. dan baginya kehidupan menjadi penyingkapan sempurna lahir dan batin.menyaksikan sisi Ilahi atau Ketuhanan dalam imanensiNya yang maujud di alam semesta. Semua kitab suci di hadapan manusrip alam semesta seperti kolam kecil di hadapan lautan. Roh bimbingan itu akan selalu ada dan dengan cara inilah pesan Tuhan akan disampaikan dari masa ke masa. Dan oleh karena itu. Dalam pandangan Inayat Khan. Bagi mata para penyaksi kebenaran. maka kita akan menemukannnya dalam wujud Bodhi satva. diwariskan kepada anak cucu sebagai wahyu Ilahi. dan menemukan kebenaran yang sama. dan dijaga secara hati-hati sebagai benda suci. Kebanyakan orang menganggap. Seringkali yang menyebabkan pertengkaran serta peperangan di antara manusia adalah kebergantungan pada guru-guru tertentu (mengakui sebagian dan menolak sebagian yang lain). dan setiap saat dalam hidupnya dia terilhami oleh pemahaman dari kitab suci semesta ini. para rasul atau para imam. manuskrip alam yang sakral. Dan mereka mendapatkan apa-apa yang diajarkan oleh guru-guru kemanusiaan dari sumber yang sama. Hanya ada satu kitab suci. Pada dasarnya guru atau mursyid kita hanyalah media atau guide yang mengantarkan kita pada JalanNya. Pada saat kita berusaha untuk membangkitkan potensialitas roh bimbingan dalam diri kita. maka kaum esoterik dapat membaca hukum Ilahi di dalam manuskrip alam. Pembeda-bedaan seperti ini tentu saja sama dengan membeda-bedakan manifestasi-manifestasi Ilahi dalam wujud bimbinganNya. sedangkan guru atau mursyid yang lain juga sama pembimbing bagi orang lain di tempat dan waktu yang berbeda dengan kita.

kekuasaan. Hanya ada satu agama. harta. Namun. jalan kebenaran yang kokoh menuju cita-cita yang memenuhi tujuan hidup setiap jiwa. dan Hadis Nabi saw. Mereka tidak membandingkan prinsip orang lain dengan prinsipnya sendiri. ibadah bagaimana pun yang dilakukan di tempat mana pun akan dapat menjadi sarana.oleh kata-kata. Mesjid. sinagog. dan di tempat ibadah mana dilakukan. kebaktian. Kaum esoterik tidak lagi mempersoalkan apa agama yang dijadikan media. di Selatan atau di Utara. atau bahkan mungkin di mana saja. bebas dari indoktrinasi atau mabuk kekuatan. atau sembahyang hanyalah media yang mengantarkan manusia "lepas" dan kemudian "menyelam" menembus dasar hatinya untuk bertemu dengan Tuhan. 4. Hingga akhirnya agama apa pun dapat menjadi tuntunan. misa. rasa keadilan dibangkitkan dalam pikiran yang tenang. Karena itu kaum esoterik tidak memperhatikan nama agama dan tempat ia beribadah. Kaum esoterik memiliki toleransi yang besar dan membolehkan setiap orang untuk menempuh jalannya sendiri-sendiri. Intinya bagaimana hukum yang mengantarkan manusia pada harmonisasi kehidupan. "aku melihat Engkau di Ka'bah suci dan di kuil berhala kulihat Engkau juga”. Dan agama yang satu itu adalah agama alamiah. 5. atau status sosial. dan rasa keadilan yang terbangkitkan Hukum resiprositas atau timbal-balik adalah hukum yang menyelematkan manusia dari ancaman kekuatan yang sangat besar. bagi pencapaian Tuhan dalam hati manusia. Agama dalam konsepsi kaum esoterik adalah jalan yang mengantarkan manusia menuju kepada pencapaian cita-citanya di dunia dan akherat. "Tuhan bersemayam di hati-hati kaum mukminin". ibadah seperti apa yang dilakukan. karena ia adalah seorang pemikir bebas. Hanya ada satu hukum. Esoterisme adalah agama hati. semakin kita berpikir bahwa semua itu berasal dari Yang Satu. hal utamanya adalah "mencari Tuhan di dalam hati". menjadi bukti bahwa semua itu adalah ungkapan-ungkapan atas satu agama. Kendati 7 . hukum timbal balik yang dapat dilihat oleh kesadaran yang tidak egois. ataupun kuil hanyalah tempat. dan karena itu mereka menjaga kebanaran batin ketika mereka sendiri tak lagi mengungkapkannya. Karena sebagaimana kata Sang Yesus. Agama mungkin dimulai di Timur atau di Barat. Shalat. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana "ketulusan seseorang dalam melakukannya". agama yang padanya. gereja. Dan semua agama menyampaikan agama jiwanya yangn universal. yaitu ruh yang menyeluruh dari semua agama. "Kerajaan Bapa ada dalam hatimu". tetapi ia membiarkan orang berpikir bebas.

agama-agama berbeda dalam ajaran tentang bagaimana manusia mesti berbuat secara harmonis dan damai dengan sesamanya. Kaum esoterik memahami bahwa hidup yang memancar dari wujud batin dimanifestasikan ke permukaan dalam bentuk beragam. keyakinan. "bagaikan seekor lalat dalam botol. bukan berarti esoterisme tidak mengindahkan sudut pandang individu. Membiarkan diri kita terkungkung dalam sudut pandang sempit kita sendiri tidak akan membawa kita kemana-mana kecuali berputar-putar dalam lingkaran. atau agama. bahkan dalam keragaman eksistensi eksternalnya sekalipun. sebagai "bagian utama" dari "diri Tuhan". Menurut Inayat Khan. persaudaraan manusia yang menyatukan anak-anak bumi "dalam diri" Tuhan Alam semesta. Ia menekankan pentingnya kesadaran. sebagaimana engkau ingin orang lain berbuat terhadap dirimu sendiri". untuk itu diperlukan kesamaan pandangan dan kesadaran dalam wilayah fondasional hukum yang tidak memihak pada salah satu sudut pandang saja. yang tak dapat keluar". termasuk diantaranya manusia. mereka membebaskan diri dari batas-batas kebangsaan. bangsa. Tetapi ia mencapai tujuan ini yang merupakan satu-satunya tujuan kedatangannya di dunia melalui penyatuan dirinya dengan orang lain. kaum esoterik menyadari kesatuan universal manusia. ras. dan agama. Resiprositas hukum dan kesadaran dalam ajaran esoterisme. Spiritualitas menggali perspektif yang lebih semakin luas. dan menyatukan manusia dalam persaudaraan universal. persaudaraan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dan diajarkan (secara konsepsional). "berbuatlah kepada orang lain. Esoterisme mengarahkan kita pada kedewasaan untuk terbiasa pada berbagai sudut pandang individu. Namun. bahwa pandangan kita hanyalah satu sudut pandang belaka dan bahwa kita mesti belajar memandang segala sesuatu dari semua sudut. karena dalam evolusinya. yang ditala dengan tangga nada yang tepat. 6. Persaudaraan universal tersebut di dasari oleh kesamaan primordial seluruh manusia. rasial. dan dalam dunia ini manusia adalah manifestasi yang terbaik. namun sesungguhnya semuanya bertemu dalam satu kebenaran. Intinya dalam ajaran esoteriklah manusia dapat membangun harmonisasi kehidupan. dia dapat merealisasikan kesatuan wujud ini. kelas. menyatukan diri dalam persaudaraan manusia yang bebas dari perbedaan status. 8 . Persaudaraan adalah suatu kecendrungan yang muncul dari hati. Berbeda-beda dalam penetapan hukum. Hanya ada satu persaudaraan. berasal dari ledakan besar yaitu ledakan primordial yang luar biasa dari cahaya yang akhirnya terkristal dalam wujud materi. Oleh karena itu.

dan membalas kebaikan untuk kejahatan. Keindahan yang sejati terletak pada dimensi noumenal yang 9 . dan melahirkan semua prinsip moral. seperti tetesan-tetesan air yang jatuh dari satu sumber. Dan itu adalah cinta yang memberikan harapan. memiliki keindahan dalam dirinya dan mencintai keindahan. Dalam sebuah hadis bahwa. Manusia menanamkan rasa keindahan ini saat dia tumbuh. Tingkatan moral yang kedua adalah moral keuntungan. Agar bisa memiliki gema kebaikan bagi dirinya. keteguhan. Dalam the Heart of Sufism. 8. Hanya ada satu objek pujian. Tingkatan pertama adalah moral pertukaran. ia melihat tali penghubung yang menghubungkan antara dirinya dengan semua yang lain. dan menyukai aspek keindahan yang lebih tinggi ketimbang yang rendah. kemurahan hati. Di mana sebagaimana moral pertukaran. Tetap ketika ia menyaksikan visi tertinggi dari keindahan. kaum esoterik memuja keindahan dalam segala aspeknya. Hadis ini mengekspresikan kebenaran bahwa manusia. Orang yang telah mencapai tingkat moral penyerahan secara ontologis tidak lagi melihat keterpisahan antara dirinya dengan yang lain. kendati keindahan bagi seseorang belum tentu indah bagi orang lain.7. Meskipun demikian. yang menerima ruh Tuhan. tetapi hanya ada satu aliran yang berada pada sumber dari segalanya. dari yang terlihat menuju yang tak terlihat Dikatakan. yakni yang Maha Gaib melalui evolusi bertahap dari keindahan di dunia yanng tampak. melahirkan kesabaran. yakni cinta yang memancar dari penolakan diri dan merekah dalam prilaku kebajikan Ada prinsip-prinsip moral yang diajarkan kepada manusia dari bermacam-macam guru dan tradisi yang bermacam-macam dan berbeda satu dengan yang lain. ia memberikan kebaikan untuk kebaikan. Inayat Khan menyebukan ada tiga tingkatan moral yang ada pada manusia. maka seluruh eksistensi menjadi satu visi keindahan tunggal bagi dirinya. melainkan melihat kesatuan kemanusian dalam Wujud TunggalNya. manusia mengenal dirinya sebagai entitas yang terpisah dari orang lain dan mengenal orang lain sebagai entitas yang lain. Dengan menyadari hal tersebut. Ada banyak prinsip moral. Yaitu yang dialami oleh seseorang yang menganggap dan melihat perbedaan antara dirinya dan orang lain. keindahan yang mengangkat hati hamba melalui semua aspek. inilah tingkat moral kaum esoterik. toleransi. Tingkat ketiga dari hukum moral ada tingkat moral penyerahan. Semua perbuatan baik berasal dari tanah cinta hati dan memancar dari cahaya cinta. Hanya ada satu moral. "Allah itu Indah dan menyukai keindahan". Yaitu ketika perbedaan antara 'milikku" dan "milikmu" dan keterpisahan antara "saya" dan "kamu" menghilang dalam satu realisasi kehidupan.

Pengetahuan yang mendasar tentang diri kita awal dari seluruh kebijaksanaan dalam tindakan hidup kita. maka kita akan mengenal hakekat tujuan hidup kita dan cara-cara pencapaiannya. Yang dari ketiga hal ini melahirkan keharmonisan alam semesta. di dalam dan di luar. ia menemukannya dalam setiap agama. Pengetahuan tentang diri menjawab permasalahan-permasalahan seperti."berada" di balik sisi fenomenal yang kita cerap oleh indera. Kresna. mulai dari Lao Tze. dia melihat kebenaran yang sama dalam setiap agama dan karena itu menganggapnya satu. dan meliputi. yang bersifat Ilahiyah. yang merupakan esensi dari segala kebijaksanaan Rasulullah saw menyatakan. "Aku dan Bapaku adalah satu". Pengenalan tentang diri merupakan pengetahuan yang berkembang "di dalam" pengetahuan Allah. maka kamu akan mengenal Tuhanmu". Karena dengan mengenal diri kita yang sebenarnya. Fenomena estetis yang empirik hanyalah sarana bagi jiwa kita untuk mampu "menangkap" gejala keindahan yang luar biasa di balik penampakan empirikal tersebut. Perbuatan dan gerakan yang dibuat di dunia yang fenomenal maupun noumenal bersifat musikal. meski secara hakekat tidak inilah yang dimaksud dengan “persatuan dengan Tuhan”. Walau begitu perbedaan antara makhluk dan pencipta tetap ada. dan Muhammad saw 10 . Gerakan alam semesta dari sudut pandang esoteris menjadikan musik sebagai awal dan akhir dari seluruh ritme alam semesta. pengetahuan sejati tentang wujud kita. Mereka terdiri dari berbagai vibrasi yang menyinggung bidang eksistensi tertentu. Dalam sejarah perjalanan intelektual manusia. 9. Hanya ada satu kebenaran. yang paling sering ditekankan oleh para tokoh baik dari Timur maupun Barat. Karenanya para sufi menyadari perkataan Yesus. Demikian pula dalam ritme gerakan dan alunan pujian yang dilakukan oleh kaum esoterik untuk memuja Sang Kekasih merupakan alunan musikal yang membentuk ritme syahdu yang mengantarkan jiwa sang sufi untuk lebur dalam alunan ritme kesemestaan yang berporos (berawal dan berakhir) pada Sang Realitas Pemilik Keindahan. hingga Socrates. Isa. kebaikan. darimana saya? Apakah saya menjadi eksis sebelum saya menjadi sadar tentang eksistensi saya sekarang? jika saya eksis seperti apakah saya?. Persatuan ini adalah dalam realitas "kelenyapan' (fana') diri palsu dalam pengetahuan tentang diri yang sejati. Bagi para sufi kebenaran. "Kenalilah dirimu. Pengetahuan tentang diri juga mengajarkan tentang persoalan seputar tujuan apa yang harus kita penuhi? Dan bagaimana mencapai tujuan tersebut?. kekal. Kaum esoterik mengakui pengetahuan diri sebagai esensi agama. dan keindahan adalah karakter dasar dari diri kosmik universal.

keharmoniasan. dan ketakbermaknaan hidup yang telah menghinggapi hampir seluruh manusia yang larut dalam gemuruh ego hawa nafsunya. ketakberdayaan. membuat kaum esoterik yang mengetahui akan dirinya mengambil jalan lain. dan teralienasi. Quo Vadis Pluralisme dalam Perspketif Filsafat (Membangun Konsepsi Pluralisme yang Perennial menuju Tatanan Kemanusiaan Yang Ideal) Menurut Jalaluddin Rakhmat. imortal. atau dalam istilah John Hick disebut sebagai pluralisme soteriologis. Hanya ada satu jalan.adalah pengenalan diri sebagai fondasi dalam pencapaian kebermaknaan. pluralisme adalah suatu bentuk kelembagaan di mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. defenisi generik dari pluralisme meyakini bahwa umat agama lain juga berhak untuk mendapatkan keselamtan eskatologis. Angan-angan akan membuat manusia tak berdaya. Ini adalah tragedi kehidupan yang membuat manusia dari berbagai kalangan akan terus menerus dilanda kekecewaaan dan terus menerus mencari sesuatu yang tidak ia ketahui. Makna pluralisme lebih dari sekedar toleransi moral atau koeksistensi pasif. Pertama. Keberadaan jiwa dari aspek pertama menjadi tertipu. baik sebagai pribadi maupun kelompok. yang mengangkat ego yang fana' menuju keabadian. Fenomena keterasingan. pada suatu kesempatan diskusi tentang pluralisme di Makassar. pluralisme mensyaratkan ukuran-ukuran kelembagaan dan legal yang melindungi dan mensyahkan kesetaraan dan mengembangkan rasa persaudaraan di antara manusia. Sedangkan Muhammad Fathi Osman mengatakan. aktif dan maujud dalam keragaman. dan kebahagiaan hidup. tempat segala kesempurnaan Semua orang yang menyadari rahasia hidup akan memahami bahwa hidup itu adalah satu. Di satu sisi. Para sufi karena menyadari hal ini kemudian mengambil jalan fana' dan dengan bimbingan guru (mursyid) menemukan akhir dari perjalanannya yang sesungguhnya adalah tujuan finalnya. 10. meliputi. dan hening dan yang kedua adalah mortal. namun memuat dua aspek. pelenyapan ego palsu ke dalam ego sejati. akulah pengembara dan akulah tujuan". Seperti dikatakan oleh Iqbal. terperangkap. tak berdaya dan terperangkap dalam pengalaman hidup yang bersentuhan dengan pikiran dan tubuh. E. 11 . Pluralisme menuntut suatu pendekatan yang amat serius terhadap upaya untuk memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua. "Aku mengembara mencari diriku sendiri.

Dengan memahami kesatuan agama secara substansial. pesan kebenaran yang Absolut itu bersimbiose dan berpartisipasi dalam dialektika sejarah. Filsafat perennial membangun konsep pluralisme agama dengan menggunakan metode kritis-kontemplatif. meskipun hakekat dari agama itu satu sebagaimana yang diuraikan dalam kesepuluh prinsip universalitas esoteris. Artinya. Dalam konsep eskatologis. Secara sosiologis hal ini akan membuat kita senantiasa bersikap arif dan menghargai terhadap berbagai perbedaan yang tampak dengan orang lain. Tetapi karena agama muncul dalam ruang dan waktu tidak secara simultan. Hakikat cahaya adalah satu dan tanpa warna tetapi spektrum cahayanya ditangkap oleh mata manusia dalam kesan yang beraneka warna. 12 . Filsafat perennial memberikan suatu pendekatan lain untuk menuju konsepsi pluralisme. Apalagi sampai “menelanjangi” identitas dan simbol-simbol lahiriyah agama. Dengan kata lain.secara intrinsik dan tidak beragama menurut pola ekstrinsik. kerjasama. dari berbagai latar belakang agama maupun keyakinan. Maka akan terbangun sikap pluralis karena memandang keselamatan eskatologis terbuka untuk seluruh manusia. namun pada ranah esoterik-transhistoris agama pada dasarnya satu karena berasal dari realitas trans-historis yang tak mengenal partikularitas dan pluralitas. Itulah sebabnya secara eksoterik-historis agama tampil dalam berbagai wajah. Kearifan sosial yang terbangun dalam bentuk-bentuk sebagaimana yang dipaparkan oleh Muhammad Fathi Osman merupakan implikasi dari pendekatan pemahaman agama yang trans-historis dan metafisis. Pola keberagamaan intrinsik kan mengantarkan kita untuk selalu memaknai dan menghayati agama secara obyektif dalam ranah kehidupan kita. maka pluralitas dan partikularitas bentuk dari bahasa agama tidak bisa dielakkan dalam realitas sejarah. tetapi dari Yang Satu itu memancar berbagai “kebenaran” sebagaimana matahari yang secara niscaya memancarkan cahayanya. maka filsafat perennial akan mengantarkan kita untuk memahami agama -meminjam istilah Alport. saling memahami. karena hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai perennial itu sendiri. Filsafat perennial berpandangan bahwa Kebenaran Mutlak hanyalah satu. Filsafat perennial mendasarkan konsep pluralismenya pada pendekatan trans-historis dan metafisis serta tidak terpaku pada pendekatan akademik historis atau sosiologis belaka. dan persaudaraan sebagai perwujudan konsep pluralisme akan lebih mudah untuk terbangun dalam ranah kehidupan sosial umat beragama yang berbeda. karena filsafat perennial memandang semua agama menuju pada tujuan yang sama dan berdasar pada kearifan dan kebanaran yang sama pula. Filsafat perennial tidak meyakini bahwa semua agama sama atau tidak menghargai religuisitas yang partikular serta mereduksi praktek-praktek keberagamaan yang eksoterik menjadi tidak bernilai. Ruang dialog.

Perjuangan dan dan jerih payah penuh keimanan ini ditujukan pada keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Selain itu pluralisme yang terbangun juga akan mengantarkan manusia untuk menghargai persamaan nilai-nilai universal dari semua agama. pada suatu pertemuan agama-agama di Teheran. dan kapasitas umatnya. Setiap agama pada dasarnya menampilkan “program” Tuhan kepada umat manusia sesuai dengan tuntutan zaman. melainkan sampai pada terbukanya kerjasama dan dialog yang aktif. Pluralisme perennial berpandangan bahwa agama pada dasarnya menganggap keselamatan dan kesejahteraan umat manusia sebagai tujuan utamanya. Aktif dalam artian. *) Penulis adalah Ketua Umum PD Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Kota Makassar (2008-2011) serta Ketua Umum Lembaga Dakwah dan Study Islam Al-Muntazhar (2005-2007) 13 . arif dan konstruktif. ruang. pluralisme yang terbangun tidak hanya sebatas pada koeksistensi pasif saja. Dalam konteks membangun tatanan kemanusiaan yang ideal. Sebagaimana dikatakan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamene’I (pemimpin spiritual Iran). pluralisme yang terbangun tidak hanya berhenti pada toleransi semata. Arif dalam artian. tapi pluralisme yang terbangun menghasilkan persaudaraan universal yang humanis tanpa dibatasi oleh sekat-sekat keyakinan. Konstruktif dalam artian pluralisme yang terbangun akan membentuk sistem-sistem sosial yang akan mengarahkan manusia pada sebuah kemajuan peradaban manusia yang humanis dan damai. filsafat perennial akan mengantarkan manusia pada konsep pluralisme yang aktif. Dengan demikian dengan memahami merealisasikan konsepsi pluralisme perennial maka diharapkan akan terwujud tatanan sosial kemanusiaan yang ideal yang mengantarkan manusia pada pintu gerbang kejayaan peradaban yang humanis dan damai. Pembawa misi agama (para nabi dan pelanjut setianya) sebagian besar menanggung perjuangan berat dan panjang untuk menyampaikan dan merealisasikan misinya.