You are on page 1of 17

Latar Belakang dan Permasalahan

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk kepentingan
hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber
daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh
manusia serta makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai
kepentingan harus dilakukan secara sederhana dan bijaksana, dengan
memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Aspek penghematan dan pelestarian sumberdaya air harus ditanam pada segenap
pengguna air (Effendie, 2003).
Parameter fisika kualitas air menggambarkan kondisi yang dapat dilihat
secara visual/kasat mata yang meliputi kekeruhan, suhu, kandungan padatan
terlarut, rasa, bau, warna dan sebagainya. Parameter kimia meliputi derajat
keasaman (pH), oksigen terlarut DO, BOD, COD, kandungan logam, kesadahan
11 dan sebagainya. Parameter biologi meliputi kandungan mikroorganisme dalam
air. Parameter-parameter kualitas air sungai dapat berubah berdasarkan kondisi
alami maupun adanya aktivitas antropogenik. Aktivitas antropogenik yang
mempengaruhi kualitas air sungai berasal dari perubahan pola pemanfaatan lahan,
kegiatan pertanian, permukiman serta industri. Kegiatan pertanian dan
permukiman pada dasarnya merubah bentang alam melalui pengolahan tanah,
sehingga akan mempengaruhi kualitas air sungai (Asdak, 2010).
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan analisis kualitas air
sungai, dan pada penelitian dilakukan di Parit Bugis khususnya di sekitar lahan
pertanian yang diuji berdasarkan parameter Biological Oxygen Demand (BOD),
Chemical oxygen Demand (COD) dan Fosfat.
BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global
proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. BOD merupakan
parameter yang umum dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran bahan
organik pada air limbah. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban
pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara
biologis (G. Alerts dan SS Santika, 1987).

parameter fisik kekeruhan menunjukkan adanya pengaruh semakin keruh akibat semakin bervariasinya penggunaan lahan. Penetapan COD gunanya untuk mengukur banyaknya oksigen setara dengan bahan organik dalam sampel air. Penetapan ini sangat penting untuk dapat diuraikan secara kimiawi. Begitu juga dengan parameter BOD dan COD. Menurut Priyambada et al. Penggunaan lahan berupa tegalan. semakin beragamnya penggunaan lahan maka kandungan BOD dan COD dalam air semakin tinggi (Supangat. 2008). Struktur Rancangan Penelitian . Semakin ke arah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS). Kerangka pemantauan kualitas air di Parit Bugis dapat dilihat pada Gambar 1 : Penentuan Identifikasi Aktivitas Sampling Lokasi Masyarakat dan Air Parit Penelitian penggunaan Lahan Lokasi di Observasi lapangan Sampling dan Uji Parit Bugis dan wawancara Laboratorium Analisis dan Kesimpulan Pembahasan Gambar 1. pertanian dan industri akan mempengaruhi dan memberikan dampak terhadap kondisi kualitas air sungai yang memberikan masukan konsentrasi BOD maupun COD badan sungai. sawah dan permukiman paling memberikan pengaruh terhadap kekeruhan sungai. yang mudah dioksidasi oleh senyawa kimia oksidator kuat. Maka dapat dikatakan COD adalah banyaknya oksidator kuat yang diperlukan untuk mengoksidasi zat organik dalam air sedangkan penggunaan pupuk dan pestisida pada lahan tersebut menjadi pegangan penetapan Fosfat sebagai parameter pengujian kualitas air di limbah pertanian di Parit Bugis. (2008) bahwa perubahan tata guna lahan yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas domestik.

2 Kondisi Jalan Parit Bugis . Saluran kanan parit kembali mengalir di pertengahan jalan Parit Bugis.1 Denah Lokasi Parit Bugis Gambar 1. sedangkan parit disisi kanan mengering dan bercampur lumpur akibat adanya lahan pertanian padi yang besar dan tidak sebanding dengan parit yang ada. Provinsi kalimantan Barat. saluran yang berfungsi hanya disisi kiri. Namun. Kabupaten Kubu Raya. Tepatnya berada di jalan Ahmad Yani II. Tekstur jalan di Parit Bugis belum sepenuhnya diaspal dan sebagian aspal sudah rusak sehingga membuat jalan tergenang air apabila terjadi hujan. Terdapat dua saluran irigsi di Parit Bugis.Bagian I : Deskripsi Parit Bugis Parit Bugis berada di Kabupaten Kubu Raya. Gambar 1.

1 tempat pencucian motor. lapak buah. masih terdapat banyak lahan kosong dan perkebunan. . 2 masjid. Namun. 11 rumah makan yang menjual berbagai macam makanan diantaranya bakso. hanya ada 5 lampu jalan di sepanjang Parit Bugis. Penerang lainnya hanya berasal dari rumah makan dan warung yang masih buka. SD-SMA Adi Sucipto. 11 bengkel kendaraan motor dan mobil. Perumahan yang terdapat di Parit Bugis antara satu rumah ke rumah yang lain tidak begitu jauh jaraknya hanya sekitar 1-3 m dan letaknya dominan dekat dengan jalan sehingga mengurai daerah resapan air. 4 sekolah yaitu Panca Bhakti. masakan padang. nasi goreng dll. pecel lele. 16 warung. 8 toko bangunan.. ayam penyet. Alat penerang jalan Parit Bugis masih sangat minim. 2 tempat pangkas rambut. 2 tempat laundry. Gambar 1.3 Bengkel di Parit Bugis Berdasarkan hasil pemantauan langsung di lokasi. 5 toko sembako. terdapat 9 lahan pertanian yang ditanam padi. toko penjait. tempat penyewaan lapangan futsal dan kuburan. Markas Satuan Brimob.

kotor. Kekeruhan air ini disebabkan oleh partikel-partikel yang tersuspensi di dalam air yang menyebabkan air terlihat keruh. ada beberapa sampah plastik maupun dedaunan yang mati terbawa arus dari hulu ke hilir yang membuat sampah menumpuk di saluran air parit . Sedangkan fosfatnya tidak melewati baku mutu air bersih. bahkan berlumpur. Secara kimia. Kualitas Air Kondisi air yang ada di parit bugis khusunya di sekitar lahan pertaniannya secara fisik berwarna cokelat gelap dan keruh. Pada pengambilan uji sampel menggunakan ember dan gayung bertangkai panjang dan dilakukan pada tiga titik dari hulu ke hilir lalu tiga gayung dari masing-masing titik dihomogenkan menjadi satu dalam ember untuk ambil sampelnya. untuk BOD dan COD parameter yang diambil. Air parit bugis di depan pertanian terjadi sedikit eutrofikasi. Eutrofikasi ini membuat tanaman yang ada di parit tumbuh dengan sangat cepat. Selain itu.1 Penumbuhan tanaman Parit Bugis Air Parit Bugis yang ada disekitar lahan pertanian juga digunakan oleh petani di pertanian tersebut sebagai campuran untuk pupuk dan pestisida. Bahan-bahan yang menyebabkan air keruh antara lain tanah liat. turun ke parit untuk mengambil air. menurut standar bakunya telah melewati baku mutu air bersih sehingga dapat dikatakan parit bugis airnya telah tercemar. pasir dan lumpur. Penggunaan lahan dan Aktivitas Manusia a. Tanaman yang tumbuh itu menyebabkan aliran air menjadi terhambat. Gambar 2.Bagian II : Kualitas Air. Dekat dari kawasan pertanian terdapat tempat warga untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) yang membuat .

Terdapat rumah makan dan bengkel di sekitar pada lahan pertanian tersebut. Disepanjang Parit Bugis tidak ada satupun bak tempat sampah sehingga warga Parit Bugis hanya membuangnya begitu saja ditepi jalan lalu dibakar dan sebagian sampah masuk kedalam saluran irigasi. tempat pembuangan sekaligus pembakaran sampah plastik maupun kering yang merusak pemandangan dan masuk ke saluran irigasi. Lahan pertanian hanya ditanam dengan tanaman padi. Gambar 2. rumput liar.3 Rumah Makan Sekitar Lahan Pertanian . Gambar 2. Besarnya lahan pertanian seluas 2 hektar.2 Pembakaran Sampah Parit Bugis b. Di tepi persawahan terdapat beberapa tanaman seperti pohon pisang dan tebu. Penggunaan lahan Penggunaan lahan disekitar parit bugis sebagian besar digunakan untuk lahan pertanian padi.air sabun tercampur dalam parit.

Jembatan yang menghubungkan antara kerumah dengan jalan dominan menggunakan cor semen namun masih ada juga yang menggunakan kayu. tempat pencucian motor. Dipagi hari di markas Brimob sudah melakukan kegiatan pelatihan. Sekitar pukul 11 siang rumah makan rata-rata sudah membuka dagangannya begitu pula dengan bengkel. tempat penyewaan futsal. Gambar 2. lapak buah dan warung. . c. Kegiatan yang dominan banyak dilakukan ialah montir-montir memperbaiki kendaraan pelanggannya. Pada tepian parit terdapat banyak tanaman dan rumput liat yang dibiarkan tumbuh begitu saja oleh warga sekitar.4 Perumahan Sekitar Pertanian Parit Bugis Beberapa perumahan terdapat di sekitar lahan pertanian Parit Bugis. Rata-rata permukaan tanah di perumahan tersebut sudah ditutup dengan semen dan hanya sebagian permukaan saja yang masih tumbuhi rumput maupun ditanami pohon. toko bangunan. Begitu juga dengan keadaan parit yang banyak diisi dengan sampah plastik dan daun daun kering sehingga menghambat irigasi air parit. Aktivitas Manusia Kegiatan yang dilakukan warga Parit Bugis bermacam-macam. banyak warga yang berlalu lalang untuk berangkat kerja ataupun menyapu teras rumah sedangkan siswa- siswi dari SD-SMA Adi Sucipto maupun SMK Panca Bhakti pergi kesekolahnya masing-masing yang ada di Parit Bugis dan pulang diwaktu siang untuk SD dan sore untuk SMA atau SMK. laundry.

rumah makan. ataupun mandi di Parit Bugis. melakukan ibadah. berkumpul dengan tetangganya. diantaranya bersantai.5 Lapak Buah Parit Bugis Gambar 2. bermain layang-layang.6 Salah Satu Warga Mandi di Parit Bugis Memasuki pukul 3 sore daerah Parit Bugis di jalan maupun halaman rumah banyak diisi anak-anak bersepeda. bermain dengan teman-teman sebayanya. Pengendara yang melewati Parit Bugis tidak semuanya masyarakat Parit Bugis. terdapat juga pengendara yang hanya melewatinya sebagai jalan menuju jalan lain seperti jalan Arteri Supadio atau Adi Sucipto. laundry dll. Tak sedikit juga orang dewasa yang melakukan kegiatan di sore hari selain yang berkerja di bengkel.. Pada pukul 5 sore jalan Parit Bugis ramai akan lalu lalang kendaraan roda dua maupun empat. . Gambar 2.

Aktivitas warga Parit Bugis diluar rumah dan lalu lalang sudah mulai berkurang. warung dan laundry tetap buka pada waktu petang. sedangkan tempat pangkas rambut. Pada bengkel dan toko bangunan sudah menutup tokonya.7 Kendaraan Berlalu Lalang di Parit Bugis Gambar 2. Jalan Parit Bugis semakin sepi saat memasuki pukul 8 malam keatas.8 Rumah Makan Parit Bugis Saat Petang Pemantauan lokasi berlanjut hingga memasuki pukul 6 petang.Gambar 2. Aktivitas yang terlihat yaitu warga sekitar pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib dan beberapa lainnya pergi kerumah makan. .

yaitu bagian hulu.Bagian 4 : Analisis dan Pembahasan Parameter yang Diuji a.Kemudian pada pengambilan sampel menggunakan wadah berupa . c. Penentuan Lokasi dan Titik Sampling Penentuan lokasi sampling didasarkan pada sumber pencemar yaitu kegiatan pertanian yang terletak di sekitar aliran Parit Bugis Jalan Arteri Supadio Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. artinya tidak dipilih secara acak. Untuk mengamati kualitas air di Parit Bugis. Titik sampling bagian hulu ditentukan dengan asumsi bahwa kualitas air pada titik tersebut belum tercemar.59:2008 yaitu metode Non Random Sampling karena pada proses pengambilan sampel ditentukan bagian bagian yang akan diambil sampelnya. b. maka dilakukan sampling dengan mengambil sampel air di 3 titik.tengah dan hilir Parit Bugis. Penentuan lokasi dan titik sampling bertujuan untuk memperoleh sampel air yang mewakili sehingga memenuhi tujuan pengamatan. titik sampling bagian tengah ditentukan pada titik terdekat lahan pertanian Parit Bugis yang diamati dan titik sampling bagian hilir ditentukan dengan asumsi bahwa kualitas air pada titik tersebut telah tercemar. Penentuan Parameter Penentuan parameter didasarkan pada sumber pencemar di Parit Bugis dimana parameter tersebut akan dianalisis kadar kandungannya sesuai atau melebihi baku mutu kualitas air. penentuan parameter COD didasarkan akan banyaknya oksidator kuat yang diperlukan untuk mengoksidasi zat organik dalam air dan penentuan parameter fosfat karena penggunaan pupuk yang mengandung fosfat yang akan mencemari air apabila melebihi standar baku mutu air bersih. Metode Pengambilan Sampel Metode pengambilan contoh air limbah berdasarkan SNI 6989. Parameter BOD ditentukan berdasarkan pada kebutuhan oksigen dalam air.COD dan Fosfat. Parameter yang digunakan dalam menganalisis kualitas air di Parit Bugis yaitu BOD.

Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis (G. nilai ambang BOD adalah 150 dan COD adalah 300. Adanya bahan organik yang cukup tinggi (ditunjukkan dengan nilai BOD dan COD) menyebabkan mikroba menjadi aktif dan menguraikan bahan organik tersebut secara biologis menjadi senyawa asam-asam organik. Botol yang di gunakan adalah botol plastik bekas. d. Diambil air dari masing- masing titik yaitu bagian hilir. Untuk golongan C.botol plastik.tengah dan hulu Parit Bugis menggunakan gayung dari masing-masing titik diisi penuh kemudian air dari masing-masing titik dimasukkan ke dalam wadah berupa ember agar homogen. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara penggabungan atau komposit 3 sampel dari 3 titik berbeda yaitu bagian hilir. Alerts dan SS Santika. nilai ambang BOD adalah 20 dan COD adalah 40. bagian tengah dan bagian hulu Parit Bugis. . Untuk golongan B. 1987). nilai ambang BOD adalah 50 dan COD adalah 100. 1992). BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. Sebelum digunakan botol tersebut dicuci terlebih dahulu dan dikocok dengan air sampel agar tidak terkontaminasi dengan kontaminan lain. Analisis Parameter Salah satu variabel penentu yang menentukan kualitas air sehingga kita dapat menggolongkannya ke dalam empat golongan di atas adalah berdasarkan kandungan bahan organiknya yang dapat dinyatakan sebagai nilai BOD dan COD. BOD merupakan parameter yang umum dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran bahan organik pada air limbah. nilai ambang BOD adalah 300 dan COD adalah 600 (Perdana. Lalu masukkan air dari ember yang sudah komposit menggunakan botol dan diusahakan dalam memasukkan air dari ember ke botol tidak terkena udara karena akan dilakukan pengujian kualitas air dengan parameter BOD dan COD dimana dalam analisis ini sampel tidak boleh terkandung udara sedikitpun. Sedangkan untuk golongan D. Untuk golongan A.

Peruraian ini terjadi disepanjang saluran secara aerob dan anaerob. Pemeriksaan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organis dengan oksigen di dalam air. 5 hari supaya 75 % dan 20 hari supaya 100% tercapai maka pemeriksaan BOD dapat dipergunakan untuk menaksir beban pencemaran zat organis. tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah konsumsi oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi bahan organik tersebut. maka semakin banyak pula kandungan bahan-bahan organik di dalamnya. Uji BOD ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jumlah bahan-bahan organik yang sebenarnya terdapat di dalam air. dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerob. kalau sesuatu badan air dicemari oleh zat organik. dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Metode Pemeriksaan BOD adalah dengan metode Winkler (titrasi di laboratorium). air dan Reaksi oksidasi dapat dituliskan sebagai berikut: C nHaObNc + ( n + a/4 – b/2 – 3c/4 ) O 2 ——–à nCO2 + ( a/2 – 3c/2 ) + H2O + cNH3 Atas dasar reaksi tersebut. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri. dan untuk mendisain sistem-sisitem pengolahan biologis bagi air yang tercermar tersebut. Sampel yang . NH3 dan H2S yang berbau busuk (Djarwanti dkk. Penguraian zat organis adalah peristiwa alamiah. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut. Semakin banyak oksigen yang dikonsumsi. Sebagai hasil oksidasi akan terbentuk karbon dioksida. 2000). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat – zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mokrobiologis. Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat – zat organis yang ada dalam 1 L sampel air. yang memerlukan kira-kira 2 hari dimana 50% reaksi telah tercapai. Timbul gas CH4. dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada air.

dalam penetapan kadar oksigen terlarut digunakan pereaksi MnSO 4. H2SO4. Prinsip analisa BOD sama dengan penganalisaan Oksigen Terlarut salah satunya adalah metode winkler.akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den NaOH-KI. dalam metode Winkler digunakan larutan pengencer MgSO4. dan alkali iodida azida. Sampel dititrasi dengan natrium thiosulfat memakai indikator amilum (Alaerts dan Santika. 5 hari untuk 75% reaksi tercapai dan 20 hari untuk 100% reaksi tercapai. FeCl3. sehingga akan terjadi endapan MnO2. sehingga akan terjadi endapan MnO2. Untuk menguraikan zat organik memerlukan waktu ± 2 hari untuk 50% reaksi. 1984). Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 dan NaOH-KI. Prinsip pemeriksaan parameter BOD didasarkan pada reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen di dalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik. adalah penetapan BOD yang dilakukan dengan cara mengukur berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam sampel yang disimpan dalam botol tertutup rapat. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akanmembebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Pengujian BOD menggunakan metode Winkler-Alkali iodida azida. mula-mula diukur DO nol dan setelah mengalami inkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C atau 3 hari pada suhu 25°C–27°C diukur lagi DO air tersebut. Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan : . Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. CaCl2 dan buffer fosfat. Dengan kata lain tes BOD berlaku sebagai simulasi proses biologi secara alamiah. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Kemudian dilanjutkan dengan metode Alkali iodida azida yaitu dengan cara titrasi. Dengan menambahkan H2SO4 atau HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. diinkubasi selama 5 hari pada temperatur kamar. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnyadititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S2O3) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji).

Air dan air limbah – Bagian 2: Cara uji kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) dengan refluks tertutup secara spektrofotometri.D. A. Untuk nilai COD 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L kenaikan Cr3+ ditentukan pada panjang gelombang 600 nm.E.dalam refluks tertutup menghasilkan Cr3+. Kualitas Air dari Panitia Teknis 13-03.Metode ini digunakan untuk contoh uji dengan kadar klorida kurang dari 2000 mg/L. SNI ini menggunakan referensi dari metode standar internasional yaitu Standard Methods for the Examinatioan of Water and Wastewater.kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 420 nm dan Cr 3+ kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 600 nm. Pada contoh uji . Greenberg. Cr2O7 2. SNI ini telah melalui uji coba di laboratorium pengujian dalam rangka validasi dan verifikasi metode serta dikonsensuskan oleh Subpanitia Teknis 13-03- S1. editor L. Washington DC. A. Metode ini digunakan untuk pengujian kebutuhan oksigen kimiawi (COD) dalam air dan air limbah dengan reduksi Cr2O72.secara spektrofotometri pada kisaran nilai COD 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 600 nm dan nilai COD lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 420 nm. Colorimetric Methods). terutama organik dalam contoh uji dioksidasi oleh Cr2O72. Methods 5220 D (Closed Reflux. 21st Edition. AWWA and WEF. MnCI2 + NaOH à Mn(OH)2 + 2 NaCI 2 Mn(OH)2 + O2 à 2 MnO2 + 2 H2O MnO2 + 2 KI + 2 H2O à Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH I2 + 2 Na2S2O3 à Na2S4O6 + 2 NaI Analisis parameter COD berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) ini merupakan revisi dari SNI 06-6989. APHA. 2005. Kualitas Lingkungan dan Manajemen Lingkungan dengan para pihak terkait. Prinsip analisis COD Senyawa organik dan anorganik. Eaton.S Clesceri.2-2004. Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O2 mg/L) diukur secara spektrofotometri sinar tampak.

COD dan Fosfat bahwa kandungan BOD dan COD di air Parit Bugis melebihi standar baku mutu air dimana pada standar baku mutu air kandungan BOD dan COD sebesar 3 .dengan nilai COD yang lebih tinggi.2 (Tabel Batas Baku Mutu Air Bersih berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001) Bersadarkan Hasil kedua tabel tersebut dapat diketahui bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 bahwa air kelas II yang terdapat di Parit Bugis digunakan untuk keperluan mandi. COD mg/l 84.cuci dan kakus (MCK).71 3. e.54 2.13 (Tabel hasil Analisis Air Parit Bugis) Kelas No Paramater Satuan II 1 BOD mg/l 3 2 COD mg/l 25 3 Fosfat mg/l 0. Untuk nilai COD lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L penurunan konsentrasi Cr2O72. Berikut ini adalah perbandingan hasil analisis dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001. BOD mg/l 22. Berdasarkan hasil sampel yang telah dianalisis dengan parameter BOD. NO Parameter Satuan Hasil Analisis 1.ditentukan pada panjang gelombang 420 nm. Fosfat mg/l 0. Perbandingan Baku Mutu dengan Hasil Analisis Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh hasil analisis air dari Parit Bugis yang di Uji di Fakultas Pertanian Laboratorium Kualitas Dan Kesehatan Lahan Universitas Tanjungpura pada tanggal 22 Mei 2015. dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum pengujian. Dari hasil tersebut dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 sebagai acuan tercemar atau tidaknya air di Parit Bugis.

sedangkan pada hasil analisis kandungan BOD dan COD sebesar 22. cuci dan kakus Bagian 5 : Kesimpulan Dari penelitian yang dilakukan. sedangkan kandungan fosfat pada hasil analisis sebesar 0.71.2.54 dan 84.13. Parameter Fosfat pada hasil analisis tidak melebihi baku mutu dimana baku mutu fosfat 0.dan 25. terdapat beberapa kesimpulan yaitu : . Dari perbandingan tersebut menunjukan bahwa pada daerah atau titik tertentu Parit Bugis sudah tercemar dan airnya tidak layak digunakan oleh masyarakat untuk keperluan mandi.

Tapi berdasarkan PP No. Peruntukkan penggunaan air Parit Bugis masuk ke dalam kualitas air kelas II. hasil uji BOD dan COD tidak memenuhi baku mutu untuk kualitas air kelas II 3. 5.1. Parameter Fosfat masih dalam standar baku mutu untuk kualitas air kelas II dengan konsentrasi 0. cuci motor dan mandi 6. Konsentrasi BOD hasil uji laboratorium sebesar 22. 82 Tahun 2001.13 mg/l 4. BOD yang berlebihan membuat semakin banyak bahan organik di dalam air sehingga membuat Oksigen di dalam air berkurang. . COD yang berlebih disebabkan pembuangan limbah akibat aktivitas warga yang ada di Parit Bugis seperti cuci piring. Air Parit Bugis tidak layak untuk digunakan oleh masyarakat karena bahan organik yang tinggi dan limbah yang dibuang secara langsung ke air tanpa diolah terlebih dahulu dapat mengganggu kesehatan dan menyebabkan penyakit.71 mg/l 2. Air Parit Bugis telah tercemar berdasarkan konsentrasi BOD dan COD hasil uji laboratorium.54 mg/l dan COD sebesar 84.