You are on page 1of 16

FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN

BAB 1 KONSEP MENIS
a. Definsi
Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari
kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 2009;
626)
Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu
mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan
kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan
individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang
menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C
Long, 2008; 368)
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD)
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible
dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
(Brunner & Suddarth, 2011; 1448)
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal
yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun.
(Price, 2010; 812)
b. Etiologi
Penyebab GGK termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis,
penyakit vaskuler (nefrosklerosis), proses obstruksi (kalkuli),
penyakit kolagen (luris sutemik), agen nefrotik (amino glikosida),
penyakit endokrin (diabetes). (Doenges, 2009; 626)
Penyebab GGK menurut Price, 2010; 817, dibagi menjadi delapan
kelas, antara lain:
 Infeksi misalnya pielonefritis kronik
 Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis

Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. c. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus.nefropati timbal  Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma. Patofisiologi Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh).sklerosis sistemik progresif  Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa.gout. nefrosklerosis maligna. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% .90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu.hiperparatiroidisme. 2008. 368) . striktur uretra. fibrosis netroperitoneal. Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. poliarteritis nodosa. stenosis arteria renalis  Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik. anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.asidosis tubulus ginjal  Penyakit metabolik misalnya DM.amiloidosis  Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik. ( Barbara C Long.  Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna.

mual disertai muntah. timbul nokturia dan poliuri. Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi tiga stadium yaitu:  Stadium 1 (penurunan cadangan ginjal) Ditandai dengan kreatinin serum dan kadar Blood Ureum Nitrogen (BUN) normal dan penderita asimtomatik. (Price. kreatinin klirens 5-10 ml permenit atau kurang. Gejala dini : lethargi. azotemia ringan. Pada tahap ini kreatinin serum dan kadar blood ureum nitrgen meningkat sangat mencolok dan timbul oliguri. depresi b. 2008 : 369): a. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. sakit kepala. nilai glomerulo filtration rate 10% dari normal. Manifestasi klinik antara lain (Long. 2011 : 1448). 2010: 813-814) d. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia. Pada tahap ini Blood Ureum Nitrogen mulai meningkat diatas normal. nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau . produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. berat badan berkurang. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis.  Stadium 3 (Gagal ginjal stadium akhir / uremia) Timbul apabila 90% massa nefron telah hancur. mudah tersinggung. kelelahan fisik dan mental. MANIFESTASI KLINIS 1. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. (Brunner & Suddarth.  Stadium 2 (insufisiensi ginjal) Lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (Glomerulo filtration Rate besarnya 25% dari normal). kadar kreatinin serum mulai meningklat melabihi kadar normal. Fungsi renal menurun.

angiotensin – aldosteron). Sistem kardiovaskuler  Hipertensi  Pitting edema  Edema periorbital  Pembesaran vena leher  Friction sub pericardial b. pruritis. 3. muntah. dan cegukan. Sistem muskuloskeletal  Kram otot . tidak mampu berkonsentrasi). 2012 : 1449) antara lain : hipertensi. mual. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer. kedutan otot. gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik. Sistem Pulmoner  Krekel  Nafas dangkal  Kusmaull  Sputum kental dan liat c. anoreksia. pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah. Sistem gastrointestinal  Anoreksia. udem yang disertai lekukan. perubahan tingkat kesadaran. mual dan muntah  Perdarahan saluran GI  Ulserasi dan pardarahan mulut  Nafas berbau amonia d. (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin . kejang. tidak. Manifestasi klinik menurut Suyono (2009) adalah sebagai berikut: a. 2.

untuk menentukan diagnosa pada CKD dapat dilakukan cara sebagai berikut: 1. suplemen besi. Penatalaksanaan 1. aritmia dan gangguan elektrolit f. Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat . Pemeriksaan penunjang Menurut Suyono (2009). 2. atau massa tumor. Obat-obatan: antihipertensi. Pemeriksaan USG Untuk mencari apakah ada batuan. furosemid (membantu berkemih) 3. Sistem Reproduksi  Amenore  Atrofi testis e. juga untuk mengetahui beberapa pembesaran ginjal. Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri. Pemeriksaan laboratorium Menentukan derajat kegawatan CKD. 3. agen pengikat fosfat. tanda- tanda perikarditis. menentukan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi.  Kehilangan kekuatan otot  Fraktur tulang e. Dialisis (cuci darah) 2. suplemen kalsium. Sistem Integumen  Warna kulit abu-abu mengkilat  Pruritis  Kulit kering bersisik  Ekimosis  Kuku tipis dan rapuh  Rambut tipis dan kasar f.

umur. Identitas Meliputi identitas klien yaitu : nama lengkap. RM. . dan alamat. Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal. No. agama. Pencegahan Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat lumrah dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan kegagalan ginjal. Transplantasi ginjal g. Identitas penanggung jawab : nama. suku/bangsa. apakah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur. jenis kelamin. 4. apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan. jenis kelamin. hubungan dengan klien. Penurunan kejadian yang sangat mencolok adalah berkat peningkatan perhatian terhadap peningkatan kesehatan. (Barbara C Long. dan alamat. pekerjaan. Transfusi darah 5. tanggal masuk RS. status perkawinan. Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi. 2. agama. diagnose medis. Pemeriksaan tahunan termasuk tekanan darah dan pemeriksaan urinalisis. kehamilan). pekerjaan. obat apa yang digunakan. Keluhan utama Kapan keluhan mulai berkembang. tempat tanggal lahir. tanggal pengkajian. golongan darah. pendidikan. pendidikan. Pengkajian keperawatan 1. bagaimana terjadinya. 2008) BAB 2 KONSEP KEPERAWATAN a.

adanya nafas berbau ammonia. Riwayat Penyakit Dahulu Kaji adanya penyakit gagal ginjal akut. Riwayat Kesehatan Sekarang ( PQRST ) Mengkaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa meliputi palliative. Kaji adanya riwayat penyakit batu saluran kemih. Keluhan utama yang didapat biasanya bervariasi. quality. dan gatal pada kulit. adanya perubahan kulit. infeksi saluran kemih. gelisah sampai penurunan kesadaran. Penting untuk dikaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan. Untuk kasus gagal ginjal kronis. payah jantung. quantity. Riwayat Kesehatan Keluarga Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang sama. severity scala dan time. Kaji pula sudah kemana saja klien meminta pertolongan untuk mengatasi masalahnya dan mendapat pengobatn apa. 3. penyakit diabetes mellitus. napas berbau ( ureum ). rasa lelah. mulut terasa kering. dan prostektomi. mual. dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya yang menjadi predisposisi penyebab. kaji onet penurunan urine output. . 4. muntah. infeksi system prkemihan yang berulang. Benign prostatic hyperplasia. provocative. region. 5. penurunan kesadaran. perubahan pola nafas. radiaton. Bagaimana pola hidup yang biasa di terapkan dalam keluarga. kelemahan fisik. penggunaan obat-obat nefrotoksik. mulai dari urine output sedikit sampai tidak dapat BAK. ada atau tidaknya riwayat infeksi system perkemihan yang berulang dan riwayat alergi. penyakit hereditas dan penyakit menular pada keluarga. tidak selera makan (anoreksia). dan perubahan pemenuhan nutrisi.

Riwayat Psikososial Adanya perubahan fungsi struktur tubuh dan adanya tindakan dialysis akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Didapatkan tanda dan gejala gagal jantung kongestif. CRT > 3 detik. mengenai kebersihan lingkungan tempat tinggal. Pemeriksaan Fisik 1. Lamanya perawatan. nyeri dada dan sesak nafas.6. Sistem Pernafasan Klien bernafas dengan bau urine (fetor uremik). area lingkungan rumah. edema penurunan perfusiperifer sekunder dari penurunan curah . respon uremia didapatkan adanya pernafasan kussmaul. banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan. Keadaan umum dan TTV  Keadaan umum : Klien lemah dan terlihat sakit berat  Tingkat Kesadaran : Menurun sesuai dengan tingkat uremia dimana dapat mempengaruhi system saraf pusat  TTV : Sering didapatkan adanya perubahan RR meningkat. TD meningkat. akral dingin. palpitasi. gangguan konsep diri ( gambaran diri ) dan gangguan peran pada keluarga. Lingkungan dan tempat tinggal Mengkaji lingkungan tempat tinggal klien. tekanan darah terjadi perubahan dari hipertensi ringan sampai berat 2. dll. gangguan irama jantung. 7. Pola nafas cepat dan dalam merupakan upaya untuk melakukan pembuangan karbon dioksida yang menumpuk di sirkulasi 3. Sistem Hematologi Pada kondisi uremia berat tindakan auskultasi akan menemukan adanya friction rub yang merupakan tanda khas efusi pericardial.

seperti perubahan proses berfikir dan disorientasi. Klien sering didapatkan adanya kejang. dan gangguan kondisi elektrikal otot ventikel. fertilisasi dan ereksi menurun pada laki-laki akibat produksi testosterone dan spermatogenesis yang menurun. dan gagal jantung akibat penimbunan cairan dan hipertensi. lesi gastrointestinal uremik. disfungsi serebral. Anemia sebagai akibat dari penurunan produksi eritropoetin. System Neuromuskular Didapatkan penurunan tingkat kesadaran. kecenderungan mengalami perdarahan sekunder dari trombositopenia. efusi pericardial.angiostensin. resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada system hematologi sering didapatkan adanya anemia. 6.aldosteron. penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini. Sistem Endokrin Gangguan seksual : libido. dan nyeri otot. Pada wanita timbul gangguan menstruasi. biasanya dari saluran GI. 5. Sistem Kardiovaskuler Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktivitas system rennin. 4. Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis. Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens . Sebab lain juga dihubungkan dengan metabolic tertentu. penurunan usia sel darah merah. restless leg syndrome. burning feet syndrome. gangguan ovulasi sampaiamenorea. Angguan metabolism glukosa. jantungakibat hiperkalemi. kram otot. adanya neuropati perifer. dan kehilangan darah.

pruritus. b. peradangan mukosa mulut. nyeri kaki (memburuk saat malam hari). dehidrasi ). keterbatasan gerak sendi. Sistem pencernaan Didapatkan adanya mual dan muntah. petekie. Diagnosa Keperawatan 1. mual. . demam ( sepsis. kreatinin < 15 ml/menit) terjadi penuruna klirens metabolic insulin menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang. anoreksia. pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa mulut. Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum sekunder dari anemia dan penurunan perfusi perifer dari hipertensi. Sistem Muskuloskeletal Di dapatkan adanya nyeri panggul. dan gangguan metabolism vitamin D. dan diare sekunder dari bau mulut ammonia. kulit gatal. terjadi penurunan libido berat 8. dan ulkus saluran cerna sehingga sering di dapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan. Gangguan metabolic lemak. Sistem Perkemihan Penurunan urine output < 400 ml/ hari sampai anuri. muntah. ada/ berulangnya infeksi. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. fraktur tulang. sakit kepala. 9. diet berlebih dan retensi cairan dan natrium 2. 7. kram otot. deposit fosfat kalsium pada kulit jaringan lunak dan sendi. area ekimosis pada kulit. Keadaan ini dapat menyebabkan kebutuhan obat penurunan glukosa darah akan berkurang.

retensi produk sampah dan prosedur 5. 4. Auskultasi bunyi jantung dan paru R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur b. Gangguan konsep diri ( gambaran diri ) berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic. Intervensi 1. penurunan aktivitas. akumulasi ureum dalam kulit. anemia. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan. sirkulasi. respon terhadap aktivitas R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia . rediasi. nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler Intervensi: a. c. 3. beratnya (skala 0-10) R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri d. perhatikanlokasi. penurunan turgor kulit. tindakan dialysis. prognosis.sensasi. Kaji tingkat aktivitas. Selidiki keluhan nyeri dada. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. koping maladaptif Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. Kaji adanya hipertensi R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal) c. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat Tujuan: Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil : mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal.

keseimbangan masukan dan haluaran. dan respon terhadap terapi c.2. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan d. turgor kulit tanda-tanda vital b. Perhatikan adanya mual dan muntah R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi c. Beikan makanan sedikit tapi sering . Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan haluaran R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output 3. muntah Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil Intervensi: a. keseimbangan antara input dan output Intervensi: a. Batasi masukan cairan R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O) Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil: tidak ada edema. Awasi konsumsi makanan / cairan R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi b. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari. mual. haluaran urin.

catat adanya crakles R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret b. Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 c. vaskuler. Atur posisi senyaman mungkin R: Mencegah terjadinya sesak nafas d. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa . R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan d. Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial e. Auskultasi bunyi nafas. b. Batasi untuk beraktivitas R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia 5. turgor. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil : . Berikan perawatan mulut sering R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan 4. perhatikan kadanya kemerahan R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. Mempertahankan kulit utuh . Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil Intervensi: a. Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit Intervensi: a.

Inspeksi area tergantung terhadap udem R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek d. Pantau pasien untuk melakukan aktivitas b. Anjurkan memakai pakaian katun longgar R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit 6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat. Kaji fektor yang menyebabkan keletihan c. R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan c. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritis R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera h. keletihan Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi Intervensi: a. Ubah posisi sesering mungkin R: Menurunkan tekanan pada udem . robekan kulit f. Pertahankan linen kering R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit g. jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia e. Berikan perawatan kulit R: Mengurangi pengeringan . Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat d. Pertahankan status nutrisi yang adekuat .

DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC Long. Marilynn. Jakarta. Edisi 4. (2009). (2010). B C. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 8. Slamet. Sylvia A dan Lorraine M Wilson. Jakarta :EGC Suyono. Jakarta : EGC Doenges E. Edisi 8. (2008). Jakarta : EGC Smeltzer. Suzanne C dan Brenda G Bare. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I II.: Balai Penerbit FKUI . Lynda Juall. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 3. Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. dkk. (2009). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. (2012). (2009). Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Price.

.fatigue intoleransi aktivitas cairan . kapiler naik oksihemoglobin turun keseimbangan perubahan warna pruritis gangguan intoleransi asam . PATHWAYS infeksi vaskuler zat toksik Obstruksi saluran kemih reaksi antigen arteriosklerosis tertimbun ginjal Retensi urin batu besar dan iritasi / cidera antibodi kasar jaringan suplai darah ginjal turun menekan saraf hematuria perifer anemia nyeri pinggang GFR turun GGK sekresi protein terganggu retensi Na sekresi eritropoitis turun sindrom uremia urokrom total CES naik resiko suplai nutrisi dalam produksi Hb turun tertimbun di kulit gangguan nutrisi darah turun perpospatemia gang. prod. tek. as.basa kulit vol. laktat anemia kesadaran) naik naik gang. lambung naik (kelebihan volume cairan) naik nausea. d. pertukaran gas kelebihan vol. vomitus iritasi lambung preload naik COP turun tek. (kehilangan muntah retensi Na & H2O timb.nyeri sendi . anaerob syncope edema paru mual. interstisial naik suplai O2 kasar turun perfusi jaringan aktivitas gang. vena pulmonalis resiko gangguan infeksi perdarahan beban jantung naik aliran darah ginjal suplai O2 suplai O2 ke nutrisi turun jaringan turun otak turun kapiler paru naik gastritis .hematemesis hipertrofi ventrikel kiri . asam naik edema payah jantung kiri bendungan atrium kiri integritas kulit as.melena RAA turun metab.