You are on page 1of 24

LITERATURE REVIEW & SISTEMATIC REVIEW

“KECEMASAN PADA PASIEN HEMODIALISA”

OLEH :

CONVENTIE ARI RESPATI
13.06.2.149.0577

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NAHDLATUL ULAMA TUBAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang

Tiap manusia pasti mempunyai rasa cemas. Rasa cemas ini biasanya

terjadi pada saat adanya kejadian atau peristiwa tertentu, maupun dalam

menghadapi suatu hal. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang

memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk

mengahadapi ancamannya

Tahun 2015 diperkirakan ada 36 juta penduduk dunia yang meninggal

akibat penyakit ginjal. Ancaman kematian penderita gagal ginjal kronis akan

berhadapan dengan konsekuensi untuk menjalani cuci darah atau Hemodialisa 3-5

kali seminggu seumur hidup. Berdasarkan data World Health Organization

(WHO) tahun 2012 penderita gagal ginjal baik akut maupun kronik mencapai

50% sedangkan yang diketahui dan mendapatkan pengobatan hanya 25% dan

12,5% yang terobati dengan baik. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) tahun 2013 prevalensi gagal ginjal kronik di Indonesia sekitar 0,2%.

Sedangkan di Jawa Timur sendiri angka kejadian gagal ginjal kronik sebesar 0.3%

(Riskesdas, 2013).

Hemodialisis (HD) merupakan salah satu terapi untuk mengalirkan darah

ke dalam suatu alat yang terdiri dari dua kompartemen yaitu darah dan dialisat.

Pasien hemodialisis mengalami kecemasan karena takut dilakukan tindakan terapi

hemodialisis. Menurut Soewandi (2002) gangguan psikiatrik yang sering

ditemukan pada pasien dengan terapi hemodialisis adalah depresi, kecemasan,

lemah otot dan edema merupakan sebagian dari manifestasi klinik dari pasien yang menjalani hemodialisis (Muttaqin & Sari. khawatir terhadap perkawinan dan ketakutan terhadap kematian (Smeltzer & Bare. Pasien yang menjalani hemodialisis mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Seseorang yang menjalani Hemodialisa berkepanjangan akan dihadapkan berbagai persoalan seperti masalah keuangan. spiritual (biopsikososial). kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan pasien hemodialisa. 2012). psikologi. Terjadinya stress karena stressor yang dirasakan dan dipersepsikan individu. Dalam penelurusan jurnal yang dilakukan penulis. mempertahankan pekerjaan. 2002). pengaruh konseling pembatasan cairan oral terhadap kecemasan pasien hemodialisa. dorongan seksual yang menghilang serta impotensi. . penelitian tersebut difokuskan pada berbagai aspek yaitu diantaranya cara mengatasi kecemasan pada pasien hemodialisa. Hal ini menjadi stressor fisik yang berpengaruh pada berbagai dimensi kehidupan pasien yang meliputi biologi. sosial. Kelemahan fisik yang dirasakan seperti mual. serta ketidakpatuhan dalam diet dan obat-obatan. muntah.hubungan dalam perkawinan dan fungsi seksual. Banyak penelitian yang dilakukan terkait dengan kecemasan pada pasien hemodialisa. nyeri. tingkat pengetahuan dengan kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa. merupakan suatu ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan.

Sehingga dilakukan literatur review pada 4 artikel tersebut dengan judul sebagai berikut : 1. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kecemasan Pasien Hemodialisa di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta.2 Tujuan Tujuan dari dari penulisan artikel ini adalah untuk menganalisa kecemasan pada pasien hemodialisa dari berbagai literatur jurnal. 2. 32 artikel pada pencarian pasien hemodialisa. Kata kunci yang dimasukkan ke dalam search antara lain ”kecemasan”. M M DUNDA Kabupaten Gorontalo. . Sebanyak 702 artikel pada pencarian kecemasan.org. 1.portalgaruda. Dengan adanya literatur dari berbagai jurnal mengenai kecemasan pasien hemodialisa diharapkan dapat memberikan informasi bagi pembaca sehingga dapat dijadikan panduan untuk tindakan keperawatan. Hubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa. 1. ”pasien hemodialisa”. Tingkat Kecemasan Pasien dengan Tindakan Hemodialisa di BLUD RSU Dr.3 Metode Pencarian literatur dilakukan pada website id. dan 4 artikel pada pencarian kecemasan pasien hemodialisa. 3. dan ”kecemasan pada pasien hemodialisa”.

Pengaruh Konseling Pembatasan Cairan Oral terhadap Kecemasan Pasien yang Menjalani Hemodialisa di Rawat Inap SMC Rumah Sakit Telogorejo Semarang.4. .

1 Konsep Kecemasan 2. Apabila tidak bisa mengendalikan kecemasan melalui cara-cara rasional dan cara-cara langsung. maka ego akan mengandalkan cara-cara yang tidak realistik.1. terancam. yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Struat. Fungsinya adalah untuk memperingatkan adanya ancaman bahaya. yakni sinyal dari ego yang akan terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak untuk mengatasi ancaman tidak diambil. yakni tingkah laku yang berorientasi pada pertahanan ego atau defence mechanism (Corey. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk mengahadapi ancamannya (Heather. Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah perasaan takut. 2005). BAB II TINJAUAN TEORI 2. perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.1 Definisi Kecemasan Kecemasan adalah suatu keadaan yang memotivasi individu untuk berbuat sesuatu. . 2007) Kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon autonom (sumber seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu). dan gugup yang dialami seseorang ketika dihadapkan pada pengalaman yang sulit dalam kehidupan. 2010).

Penolakan terhadap eksistensi diri orang lain ataupun masyarakat akan menyebabkan individu yang bersangkutan menjadi cemas. dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya. Namun bila keberadaannya diterima oleh orang lain. ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive seseorang. seperti kehilangan dan perpisahan dengan orang yang dicintai. Teori Interpersonal Dalam pandangan interpersonal. Teori tersebut antara lain: 1. 3. Teori Psikoanalisis Dalam pandangan psikoanalisis. Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai asal ansietas.1. 2. maka ia akan merasa tenang dan tidak cemas. Teori Perilaku Menurut pandangan perilaku.2.2 Teori Kecemasan Menurut Asmadi (2009) kecemasan merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu diluar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi permasalahan. ansietas timbul dari perasaan takut terhadap penolakan saat berhubungan dengan orang lain. ansietas merupakan hasil frustasi. Ego berfungsi menengahi tuntunan dari dua elemen tersebut. Ketidakmampuan atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan yang . sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang.

. Keputusasaan inilah yang menyebabkan seseorang menjadi ansietas.1. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari- hari. Manifestasi ansietas yang terjadi bergantung pada kematangan pribadi. diinginkan akan menimbulkan frustasi atau keputusasaan. Tingkat kecemasan menurut Stuart (2007) adalah sebagai berikut: 1. harga diri. Respon individu terhadap kecemasan beragam dari ansietas ringan sampai panik (Asmadi. pemahaman dalam menghadapi ketegangan. 2. Perbedaan kemampuan ini berimplikasi terhadap perbedaan tingkat kecemasan yang dialaminya. 2009) RENTANG RESPON ANSIETAS Respon adaktif Respon maladaptif Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik Tiap tingkatan ansietas mempunyai karakteristik atau manifestasi yang berbeda satu sama lain. 2009). Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. dan mekanisme koping yang digunakannya (Asmadi. ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya.3 Tingkat Kecemasan dan Karakteristik Kemampuan individu untuk merespons terhadap suatu ancaman berbeda satu sama lain.

Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis yang akan terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Ansietas berat sangat mengurangi lapang persepsi individu. Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan identitas. dan teror. Ansietas sedang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. 2. menurunnya kemampuan untuk berhubungan denga orang lain. faktor pencetus dapat dikelompokan dalam dua kategori: 1. ketakutan. 2.4 Faktor Pencetus Menurut Stuart (2007). persepsi yang menyimpang. . Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan terperangah. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain. 2. harga diri. Individu berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik.1. 4. dan kehilangan pemikiran yang rasional. dan fungsi sosial yang terintegrasi pada individu. 3. Ansietas ini mempersempit lapang persepsi individu.

bicara cepat. denyut nadi menurun. kecendrungan untuk celaka. 2011). berkeringat banyak pada telapak tangan. pembengkakan pada tenggorokan. menarik diri. wajah tegang. rasa terbakar pada dada nausea dan diare. insomnia. tremor. gelisah. . (5) Saluran Kemih : tidak dapat menahan kencing atau sering kencing (6) Sistem Kulit : rasa terbakar pada muka. rasa mau pingsan (2) Saluran Pernafasan : nafas cepat dan dangkal. ketakutan. rasa tertekan pada dada.. gugup. muka pucat dan berkeringat seluruh tubuh (Hawari.5 Respon Kecemasan Kecemasan dapat menyebabkan berbagai respon pada orang lain : 1) Respon Fisiologis Terhadap Kecemasan (1) Kardiovaskuler : palpitasi. kelemahan secara umum. menolak makan. menghindar dan terhambat melakukan aktifitas. gerakan lambat. rasa tercekik dan terengah . gatal – gatal.1. 2) Respon Psikologis Terhadap Kecemasan (1) Perilaku Gelisah. tekanan darah meningkat. dan gerakan yang ganjal.engah.2. jantung berdebar. perasaan panas dingin pada kulit. (3) Neuromuskuler : peningkatan reflek. reaksi kejutan. tidak ada kordinasi. perasaan dangkal dan tidak nyaman pada abdominal. (4) Gastro Intestinal : kehilangan nafsu makan.

Pasien dengan harga diri rendah sengat mudah mengalami perkembangan kecemasan yang berat. tremor. tegang. (3) Pandangan Perilaku Kecemasan merupakan produk frustasi segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang mencapai tujuan hidup. khawatir yang berlebihan. Kecemasan berhubungan dengan trauma seperti perpisahan. gugup luar biasa. kreatif. produktifitas menurun. menurunya lahan persepsi. dam super ego mencerminkan hati nurani seseorang yang dikendalikan norma budaya. bingung. Individu . (3) Afektif Tidak sabar. takut akankehilangan kendali dan takut yang berlebihan. hlang menilai objektifitas. kehilangan yang menimbulkan kelemahan spesifik. adanya bloking pada fikiran. (2) Kognitif Respon kognitif seperti hilang konsentrasi. 3) Faktor Predisposisi Terhadap Kecemasan (1) Pandangan Psikoanalitik Kecemasan merupakan konflik emosional yang terjadi antara dua elemen id dan super ego id mewakili insting dan impuls primitif seseorang. sangat gelisah dan sulit melakukan sesuatu. salah tafsir. pelupa. (2) Pandangan Interpersonal Kecemasan timbul dari perasan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.

yang terbiasa dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukan kecemasan pada kehidupan selanjutnya. (4) Kajian Biologis Menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk obat - obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gama aminobutirat (GABA) yang berperan dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan kecemasan (Nursalam. 2. 2008). Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian. Tujuan dari hemodialisis adalah untuk memindahkan produk-produk limbah yang terakumulasi dalam sirkulasi dan dikeluarkan ke dalam mesin dialisis (Muttaqin & Sari. dan dialisis=pemisahan atau filtrasi. Hemodialisis adalah suatu metode terapi dialysis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. tetapi tindakan hemodialisis tidak menyembuhkan atau mengembalikan fungsi .2 Konsep Hemodialisa 2. 2012). Terapi ini dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi dengan membrane penyaring semipermeabel (ginjal buatan).1 Definisi Hemodialisa Hemodialisis berasal dari kata hemo=darah.2. Tindakan hemodialisis dapat menurunkan risiko kerusakan organ-organ vital lainnya akibat akumulasi zat toksik dalam sirkulasi. Pada klien GGK.

2009) : 1. pericarditis. . 5.2 Tujuan Hemodialisa Tujuan hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan (Smeltzer & Bare. 2. 2002). Mempertahankan atau mengembalikan system buffer tubuh. kreatinin dan asamurat. 4. kegiatan hemodialisa mempunyai tujuan (Nurdin. 3. 2. Klien GGK biasanya harus menjalani terapi dialysis sepanjang hidupnya (biasanya tiga kali seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam per kali terapi) atau sampai mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal. Indikasi dilakukan hemodialisis.ginjal secara permanen. Membuang produk metabolisme protein seperti urea. Sebagai terapi pengganti. gagal jantung dan hiperkalemia. Membuang kelebihan air. Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh.2. seperti ensefalopati uremik. asidosis yang tidak memberikan respons terhadap pengobatan lainnya. Hemodialisis dilakukan jika ginjal menyebabkan beberapa kondisi. Memperbaiki status kesehatan penderita.

dan utrafiltrasi.2. perembesan darah. 2012).4 Penatalaksanaan Hemodialisa 1.3 Prinsip Hemodialisa Seperti pada ginjal. Proses osmosis adalah proses berpindahnya air karena tenaga kimiawi yaitu perbedaan osmolalitas dan dialisat. muntah]. ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis. 1. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengekskresikan produk akhir metabolisme. dialiser. 2. pasien. Proses difusi adalah proses berpindahnya zat karena adanya perbedaan kadar di dalam darah. dan komplikasi terbentuknya pirau atau fistula) (Muttaqin & Sari. Proses ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya zat dan air karena perbedaan hidrostatik di dalam darah dan dialisat. Luas permukaan membran dan daya saring membran mempengaruhi jumlah zat dan air yang berpindah. substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun atau toksin.2. dan rendaman dialisat memerlukan pemantauan yang konstan untuk mendeteksi berbagai komplikasi yang dapat terjadi (misalnya: emboli udara. osmosis. yaitu: difusi. Pada saat dialysis.2. Diet dan Masalah cairan. kontaminasi. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara kolektif . kram. 3. Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisa mengingat adanya efek uremia. ultrafiltrasi yang tidak adekuat atau berlebihan [hipotensi. makin banyak yang berpindah ke dialisat. 2.

2. antihipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik. tetapi tindakan hemodialisa tidak menyembuhkan atau mengembalikan fungsi ginjal secara permanen. penyesuaian dosis oleh dokter mungkin diperlukan. Pertimbangan medikasi. Lebih banyak toksin yang menumpuk. Pasien yang memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung. antibiotik. lebih berat gejala yang timbul. Pada Pasien GGK. Pasien GGK biasanya harus menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya atau sampai mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal (Muttaqin & Sari. . 2002). Banyak obat yang dieksresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal. Apabila seorang pasien menjalani dialisis. oleh karena itu. Beberapa obat akan dikeluarkan dari darah pada saat dialisis. Obat-obat yang terkait dengan protein tidak akan dikeluarkan selama dialisis. antiaritmia. dikenal sebagai gejala uremik dan akan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Pasien harus tahu kapan minum obat dan kapan menundanya (Smeltzer & Bare. 2012). Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan gejala. semua jenis obat dan dosis harus dievaluasi dengan cermat. tindakan hemodialisa dapat menurunkan risiko kerusakan organ-organ vital lainnya akibat akumulasi zat toksik dalam sirkulasi.

Kejang . Gatal-gatal 7. Hipotensi 2. Demam dan menggigil 8.5 Komplikasi Hemodialisa Menurut Rendy dan Margareth (2012).2.2. Sakit dada 6. Mual atau muntah 4. Komplikasi dalam pelaksanaan hemodialisa yang sering terjadi pada saat terapi adalah: 1. Kram otot 3. Sakit kepala 5.

1 Pembahasan Jurnal 3. sedang. M M Dunda Kabupaten Gorontalo dapat disimpulkan tingkat kecemasan meliputi tingkat kecemasan ringan (40%). Dalam jurnal yang ditulis oleh Ratnawati menjelaskan tingkat kecemasan yang dialami pasien dengan tindakan hemodialisa yaitu kecemasan ringan. berat (20%). BAB III PEMBAHASAN 3.7%). sedang (26. Dalam melakukan pengumpulan data peneliti menggunakan alat pengumpulan data berupa kuesioner dan lembar observasi.3%). Oleh karena itu untuk menindaklanjuti kecemasan yang dialami pasien hemodialisa adalah memberikan kepercayaan diri kepada pasien. dan panik (13. Populasi dalam penelitian tersebut semua pasien yang terdaftar sebagai pasien hemodialisa yaitu berjumlah 15 orang. memberikan . memberikan dukungan ataupun semangat kepada pasien. M M DUNDA Kabupaten Gorontalo. berat. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel mandiri yaitu tingkat kecemasan pasien hemodialisa. panik.1. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang tingkat kecemasan pasien dengan hemodialisa di BLUD RSU Dr. Pada penelitian ini penelitian menggunakan metode pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat kecemasan pasien hemodialisa.1 Tingkat Kecemasan Pasien dengan Tindakan Hemodialisa di BLUD RSU Dr.

Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan instrumen baku yang disebut HRS- A (Hamilton Rating Scale for Anxiety). Perawat dapat melakukan tindakan keperawatan dengan menstimulasi kesadaran. Jadi dapat disimpulkan . Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sejumlah 20 responden.1. Karena pada dasarnya lama waktu yang diperlukan untuk dialisis berkisar antara 4-5 jam akan menimbulkan gangguan psikologis diantaranya kecemasan. Pada dasarnya penderita yang menjalani hemodialisa harus mengetahui apa itu hemodialisa serta tujuan hemodialisa dalam menangani gagal ginjal kronik. sikap atau emosi yang sehat dalam menghadapi masalah tersebut (Ratnawati.2 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kecemasan Pasien Hemodialisa di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta. 2011) . Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa korelasi dengan pendekatan cross sectional. memberikan suport mental.594 dan p = 0. penjelasan tentang dampak jika tidak menjalani cuci darah bagi kesehatannya. Hasil dari penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara tingkat pengetahuan dengan kecemasan pada pasien hemodialisa dengan nilai (π) sebesar -0. 3. Dalam jurnal yang ditulis oleh Andaru Setiyowati dan Weni Hastuti menjelaskan tentang apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kecemasan pasien hemodialisa. Meningkatnya pengetahuan seseorang tentang hemodialisa dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.013 pada signifikan 5%.

Semakin tinggi kecerdasan spiritual seseorang maka semakin adaptif pula mekanisme koping yang digunakan untuk mengatasi kecemasan sehingga kecemasan saat menjalani hemodialisa berkurang. Dalam jurnal yang ditulis oleh Fajri Alfinnur. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner kecerdasan spiritual dan modifikasi kuesioner kecemasan Zung Anxiety Self-Assessment Scale yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Fathra Annis Nauli.1. dan Ari Pristiana Dewi menjelaskan tentang apakah ada hubungan antara kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan pasien hemodialisa. Kecerdasan spiritual yang tinggi dapat membentuk mekanisme koping adaptif terhadap suatu peristiwa yang dianggap mengancam bagi kelangsungan hidup klien begitu juga dengan kecemasan yang dialami pasien yang menjalani hemodialisa. yang artinya semakin baik tingkat pengetahuan maka akan semakin tidak ada kecemasan pada pasien hemodialisa (Setiyowati & Hastuti. ada hubungan negatif antara tingkat pengetahuan dengan kecemasan pada pasien hemodialisa.3 Hubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa. Dengan sampel sebanyak 30 responden yang diambil berdasarkan kriteria inklusi dan eklusi menggunakan teknik sampling purposive sampling. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat untuk . Dalam penelitian ini peneliti menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. 2014) 3.

1. 3. sedangkan tingkat kecemasan didapatkan sebagian besar pada tingkat kecemasan ringan-sedang (40%). Hal ini karena dalam kondisi normal manusia tidak akan . . sehingga menyebabkan rasa haus dan klien berusaha minum.4 Pengaruh Konseling Pembatasan Cairan Oral terhadap Kecemasan Pasien yang Menjalani Hemodialisa di Rawat Inap SMC Rumah Sakit Telogorejo Semarang. 2015). mengetahui distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Kolmogorif Smirnov. Kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa ini diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku. Kecemasan yang timbul ini dapat dikurangi dengan menceritakan permasalahan secara pribadi dalam kegiatan konseling. Setelah dilakukan uji statistik Kolmogorof Smirnov didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa (p value=0. Dalam jurnal yang ditulis oleh Citra Permani Putri. dan Purnomo menjelaskan tentang pengaruh konseling pembatasan cairan oral terhadap kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa. Nauli. terutama jika mereka mengkonsumsi obat-obatan yang membuat membran mukosa kering seperti diuretik.036) (Alfiannur. Dwi Heppy Rochmawati. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan frekuensi tingkat kecerdasan spiritual tinggi (60%). & Dewi. Pembatasan cairan seringkali sulit dilakukan oleh klien.

7%).001). 2008). 2015). tingkat pendidikan SMA 28 orang (66.6%).3%). Cairan yang diminum pada pasien gagal ginjal lanjut dan pasien hemodialisa harus diawasi dengan seksama karena rasa haus bukan lagi petunjuk yang dapat dipakai untuk mengetahui hidrasi tubuh. Rochmawati. . Pembatasan cairan pada pasien pasien gagal ginjal kronik dengan menjalani hemodialisa ini sangat mendasari untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hasil penelitian ini menyarankan kepada pihak RS terutama pelayanan keperawatan untuk lebih memperhatikan kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa dan menerapkan konseling : pembatasan cairan oral (Putri. & Purnomo. yang tidak bekerja 28 orang (66.7%).dapat bertahan lebih lama tanpa asupan cairan dibanding dengan makanan (Potter & Perry. Hasil analisa univariat didapatkan data laki- laki 27 orang (64. Metode dalam penelitian ini adalah quasy experiment dengan responden sebanyak 42 orang. dan dengan status menikah adalah 41 orang (97. Analisa lebih lanjut didapatkan kesimpulan ada pengaruh konseling : pembatasan cairan oral terhadap kecemasan pasien hemodialisa (p=0. Adanya pembatasan cairan ini menyebabkan pasien gagal ginjal menjadi stress dan cemas dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa ini.

Karena seseorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan kemampuan intelektual akan dapat meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri. Untuk mengatasi tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa juga dapat dilihat dari kecerdasan spiritual pasien tersebut.2 Kesimpulan Setelah dilakukan analisis jurnal keperawatan tentang kecemasan pasien hemodialisa maka dapat disimpulkan bahwa : Tingkat kecemasan dapat di kategorikan ringan. hingga panik. Pada dasarnya penderita yang menjalani hemodialisa harus mengetahui apa itu hemodialisa serta tujuan hemodialisa dalam menangani gagal ginjal kronik. berat. memberikan penjelasan tentang dampak jika tidak menjalani cuci darah bagi kesehatannya. Semakin tinggi kecerdasan spiritual seseorang maka semakin adaptif pula mekanisme koping yang digunakan untuk mengatasi kecemasan sehingga kecemasan saat menjalani hemodialisa berkurang. sedang. Kecemasan yang dialami pasien hemodialisa adalah memberikan kepercayaan diri kepada pasien. Kecerdasan spiritual yang tinggi dapat membentuk mekanisme koping adaptif terhadap suatu peristiwa yang dianggap mengancam bagi kelangsungan hidup klien begitu juga dengan kecemasan yang dialami pasien yang menjalani hemodialisa.3. Perawat dapat melakukan tindakan keperawatan dengan menstimulasi kesadaran. . memberikan dukungan ataupun semangat kepada pasien. memberikan suport mental. sikap atau emosi yang sehat dalam menghadapi masalah tersebut. Sehingga tingkat pengetahuan dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.

. Tentunya dengan adanya penjelasan yang baik dari perawat kepada pasien sehingga pasien dapat mengerti dan tingkat kecemasan dapat berkurang. Pembatasan cairan pada pasien pasien gagal ginjal kronik dengan menjalani hemodialisa ini sangat mendasari untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena pembatasan cairan oral pada pasien yang menjalani hemodialisa ini sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Adanya pembatasan cairan ini menyebabkan pasien gagal ginjal menjadi stress dan cemas dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa ini. Selain itu pengaruh konseling pembatasan cairan oral juga berpengaruh dalam mengurangi tingkat kecemasan pasien.

. (2009). A. W. H.. . F. Salemba Medika: Jakarta. (2007).. (2015). M M DUNDA Kabupaten Gorontalo. G. Jakarta: Salemba Medika. Diakses 20 Februari. Cemas dan Depresi. 285-362. ERESCO: Jakarta. Manajemen Stres. A. (2002). K. Pengaruh Konseling : Pembatasan Cairan Oral terhadap Kecemasan Pasien yang menjalani hemodialisa di Rawat Inap SMC RS Telogorejo Semarang. (online). JOM Vol 2 No. Putri. & Hastuti. (2010). Tingkat Kecemasan Pasien dengan Tindakan Hemodialisa di BLUD RSU Dr. http://annurhospital. Hemodialisa. Setiyowati.php?option=com_content&view=arti cel&id-55&itemid=84. C. A. Heather. Nauli. Hawari. W. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. & Dewi.. DAFTAR PUSTAKA Alfiannur. (2014). S. Struat. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kecemasan Pasien Hemodialisa di RS PKU Muhamadiyah Surakarta. F. A. PROFESI Volume 11. EGC: Jakarta. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 5.. T.com/web/index. Rochmawati. Nurdin.. (2015). Jakarta. & Purnomo. Smeltzer. G. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jurnal Health & Sport. D. (2005). Jakarta : EGC. Ratnawati. P. P. & Sari.. Muttaqin. 2. Asmadi. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Tehnik Procedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. C. (2011). (2009). Hubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa.. Corey. Jakarta: EGC. (2012). & Bare.