You are on page 1of 22

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

PASIEN DENGAN WAHAM

MAKALAH

Oleh
Kelompok 2A

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015
LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN
PASIEN DENGAN WAHAM

MAKALAH

disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik VIII
dengan dosen mata kuliah: Ns. Emy Wuri W, M.Kep.,Sp.Kep.J.

oleh
Sofiatul Mafuah NIM 122310101042
Umamul Faqih Nuruh Y NIM 122310101044
Firta Maafiyah D R NIM 122310101046
Lidatu Nara Shiela NIM 122310101048
Sandi Budi Darmawan NIM 122310101050
Riski Dafianto NIM 122310101052
Myta Kirana Dewi NIM 122310101056
Famela Dinar Rosadi NIM 122310101058
Sandhi Indrayana NIM 122310101060
Ditta Anggraini NIM 122310101062
Fakhrun Nisa Fiddaroini NIM 122310101064
Robby Prihadi Aulia E NIM 122310101066
Cholil Albarizi NIM 122310101068
Nilla Sahuleka NIM 122310101070
Siti Marina Wiastuti NIM 122310101072
Alisa Miradia Puspitasari NIM 122310101074
Ambar Larasati NIM 122310101076
Fina Fitriani NIM 122310101078

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Perubahan proses pikir : waham
II. TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat
terus-menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. (Budi Anna Keliat,
2006). Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien (Aziz R, 2003). Ramdi (2000)
menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang
tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar
belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh
dan tidak dapat diubah-ubah. Waham adalah keyakinan seseorang yang
berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak
konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham
dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya
penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan
aniaya. (Keliat, 1999).Waham adalah keyakinan yang salah yang secara
kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan realita normal (Stuart dan Sundeen, 1998). Waham
adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan keyataan tetapi
dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain, keyakinan
ini berasal dari pemikiran klien dimana sudah kehilangan control (Depkes RI,
1994).

B. Tanda dan Gejala


Menurut Ann Issac, 2004 tanda dan gejala yang muncul pada pasien
dengan waham yaitu:
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi
tidak sesuai kenyataan
Klien tampak tidak mempunyai orang lain
Curiga
Bermusuhan
Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
Takut, sangat waspada
Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
Ekspresi wajah tegang
Mudah tersinggung
C. Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi
Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya waham yang
dijelaskan oleh Towsend 1998 adalah :
1. Teori Biologis
Teori biologi terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh
terhadap waham:
a. Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam
perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang
memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama
(orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
b. Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan
bahwa kelainan skizofrenia mungkin pada kenyataannya
merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada
bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan
suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari
orang-orang yang menderita skizofrenia.
c. Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari
dopamin neurotransmiter yang dipertukarkan
menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang
berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang
umumnya diobservasi pada psikosis.
2. Teori Psikososial
a. Teori sistem keluarga Bawen dalam Towsend (1998 :
147) menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai
suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara
suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini
dalam anak akan menghasilkan keluarga yang selalu
berfokus pada ansielas dan suatu kondsi yang lebih stabil
mengakibatkan timbulnya suatu hubungan yang saling
mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan
anak-anak. Anak harus meninggalakan ketergantungan
diri kepada orang tua dan anak masuk kedalam masa
dewasa , dalam perkembangan ini anak tidak mampu
melakukan tugas dewasanya.
b. Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang
mengalami psikosis akan menghasilkan hubungan orang
tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak menerima
pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik
dari orang tua dan tidak mampu membentuk rasa percaya
terhadap orang lain.
c. Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah
hasil dari suatu ego yang lemah. Perkembangan yang
dihambat dan suatu hubungan saling mempengaruhi
antara orang tua, anak. Karena ego menjadi lebih lemah
penggunaan mekanisme pertahanan ego pada waktu
kecemasan yang ekstrim menjadi suatu yang maladaptif
dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dan
segmen id dalam kepribadian
Faktor Presispitasi
1. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis
yang
maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik
otak yang mengatur perubahan isi informasi dan
abnormalitas pada mekanisme pintu
masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan
untuk secara
selektif menanggapi rangsangan. Pada pasien dengan
waham, pemeriksa MRI menunjukkan bahwa derajat lobus
temporal tidak simetris. Akan tetapi perbedaan ini sangat
kecil, sehingga terjadinya waham kemungkinan melibatkan
komponen degeneratif dari neuron. Waham somatic terjadi
kemungkinan karena disebabkan adanya gangguan sensori
pada sistem saraf atau kesalahan penafsiran dari input
sensori karena terjadi sedikit perubahan pada saraf kortikal
akibat penuaan (Boyd, 2005 dalam Purba dkk, 2008).
2. Stres Lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap
stres yang berinterasksi dengan sterssor lingkungan untuk
menentukan terjadinya
gangguan prilaku.
3. Pemicu Gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis
yang maladaptif berhubungan dengan kesehatan
lingkungan, sikap dan prilaku
individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi,
keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh
kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap penampilan,
stres gangguan dalam berhubungan interpersonal, kesepain,
tekanan, pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan
sebagainya.
D. Rentang Respon

Pohon masalah
E. Penentu Diagnosa
Faktor Resiko waham : ( Budi Anna Keliat, 1999)
Memperlihatkan permusuhan
Mendekati orang lain dengan ancaman
Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
Mempunyai rencana untuk melukai
Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan
terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri
sendiri)
Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan
yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.
Tanda Mayor ( CARPENITO)
Tidak akuratnya interpretasi tentang stimulus, internal dan / atau
eksternal.
Tanda Minor ( CARPENITO)
o Kurang kognitif, termasuk abstraksi, pemecahan masalah,
deficit memory
o Kecurigaan
o Delusi
o Halusinasi
o Fobia
o Obesitas
o Konfusi/ disorientasi
o Perilaku ritualistic
o Impulsivitas
o Perilaku social yang tidak tepat
o Pengalihan
o Kurangnya validasi persetujuan

III. Perumusan Diagnosis Keperawatan


1. Batasan Karakteristik (NANDA 2012-2014, NIC NOC 2007)
a) Data subjektif
1) Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya
(tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan
dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak
sesuai kenyataan.
2) Mengungkapkan perasaan yang penuh dengan
kekhawatiran
3) Mengungkapkan rasa trauma yang mendalam
4) Menungkapkan perasaan yang penuh dengan
kewaspadaan
5) Mengungkapkan kehilangan control emosi
b) Data Objektif
1) Klien tampak tidak mempunyai orang lain
2) bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan)
3) kadang panik, sangat waspada,
4) tidak tepat menilai lingkungan/ realitas,
5) ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung
IV. Perumusan Diagnosis Keperawatan
Menurut NANDA 2012-2014, diagnosa tunggal yang dapat
dirumuskan yaitu Resiko Perubahan isi pikir : waham yang ditandai
dengan:
Ds : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
Do : Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,
merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat
waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien
tegang, mudah tersinggung
V. Rencana Tindakan Keperawatan
Tujuan Umum : klien tidak terjadi gangguan konsep diri
Tujuan Khusus: 1. klien dapat membina hubungan saling percaya
2. klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki
3. klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki
4.Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai
dengan kemampuan
5. klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan
kemampuan yang dimiliki (Stuart dan Sundeen, 2002).

Tindakan Keperawatan (NANDA 2012-2014):


1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas
(waktu, tempat dan topik pembicaraan)
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
3. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
4. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
5. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan
memberi pujian yang realistis
6. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito-Moyet, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta:


EGC
Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Nuha Medika
Stuart GW, Sunden,(1995). Principles and Practice of psikiatric Nursing ( 5 thed).
St. Louis Mosby Year Book
Kliat Budi Ana. (1999). Proses Keperawatan Ksehatan Jiwa, Edisi 1, Jakarta :
EGC
NANDA.2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Kalsifikasi 2012-2014.
Jakarta: EGC

STRATEGI PELAKSANAAN KLIEN KE-1

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien: Tn. D (67 tahun ) sering marah2 sendiri tanpa alasan yang
jelas, jarang tidur dan sering berkeliaran sekitar rumah sambil mengomel,
klien juga tidak mau mandi dan makan. Tn.D merasa dirinya selalu dikejar
oleh orang di sekitarnya dan merasa tetangganya selalu membicarakan
keburukan dirinya. saat ini, Tn.D dirawat di ruang mawar karena kondisi
yang dialaminya.
2. Diagnosis keperawatan: waham curiga
3. Tujuan Khusus (TUK):
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
4. Tindakan keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar klien
merasa aman dan nyaman saat berinteraksi
Tindakan yang harus dilakukan dalam membina hubungan saling percaya
antara lain:
a. Beri salam
b. Perkenalkan diri, panggil nama serta panggilan yang disukai
c. Jelaskan tujuan intervensi
d. Yakinkan klien dalam keadaan aman dan perawat siap menolong dan
mendampinginya
e. Yakinkan klien bahwa kerahasiaan klien akan terjaga
f. Tunjukkan sikap terbuka dan jujur
g. Perhatikan kebutuhan dasar dan beri bantuan untuk memenuhinya

B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN


KEPERAWATAN (SP)
ORIENTASI
1. Salam Terapeutik
Selamat pagi Bapak? (mengajak klien untuk berjabat tangan)
Perkenalkan nama saya Dafi, saya mahasiswa keperawatan universitas
jember yang merawat bapak pagi ini
Kalau boleh tahu nama bapak siapa?
Bapak suka dipanggil apa?
Pagi ini saya yang bertanggung jawab untuk merawat bapak selama jam
8 sampai jam 2 siang. Kalau ada sesuatu yang diperlukan silakan
menyampaikan pada saya ya pak
Saya disini akan membantu untuk menyelesaikan masalah yang bapak
alami sehingga nantinya saya harapkan bapak dapat menyelesaikan
masalah yang bapak alami meskipun sudah tidak dirawat di rumah sakit
ini
Saya harap bapak bersedia mengatakan apa yang bapak rasakan karena
hal ini akan sangat membantu kami selaku petugas kesehatan untuk
membantu mengatasi masalah bapak.
Kalau bapak bersedia untuk bercerita mengenai masalah bapak, saya
akan mencoba untuk mencari solusi dari masalah bapak, kalau bapak tidak
mau menceritakan apa yang dirasakan dan mengetahui apa yang menjadi
yang menjadi kebutuhan bapak

2. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan bapak pagi ini?
3. Kontrak
Topik : Baiklah bapak, bagaimana kalau sekarang kita berbincang-
bincang tentang perasaan yang bapak rasakan?
Kemudian kita akan berbincang-bincang tentang perasaan yang
muncul secara berulang dalam pikiran bapak
Tujuan dari kegiatan ini adalah agar bapak dapat mengontrol
pikiran bapak.
Waktu : Bagaimana kalau kita berbincang-bincang selama 30 menit?
O... jadi bapak ingin berbincang-bincang selama 20 menit
dengan saya.
Tempat : Kita berbincang-bincang dimana bapak? Baiklah kita akan
berbincang-bincang di tempat ini

KERJA (langkah-langkah tindakan keperawatan):


Baik bapak, mari kita lanjutkan perbincangan kita?
Kenapa tidak mau pak? Jadi bapak tidak suka menceritakan masalah bapak
ke orang lain? Kenapa bapak?
o...seperti itu, bapak tenang saja... saya di sini untuk melihat masalah yang
bapak alami dan mencari solusinya agar masalah bapak bisa diatasi,
bagaimana? Oke kalau seperti.
Coba bapak ceritakan bagaimana perasaan bapak saat ini? O... seperti itu,
jadi bapak merasa keburukan bapak dibicarakan sama tetangga bapak.
Kemudian apa yang bapak lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Jadi bapak
marah-marah dan ngomel sendiri ya pak? Kemudian apa lagi yang bapak
lakukan?
o... bapak juga tidak mau makan dan mandi, apa dengan semua itu bapak
merasa baikan? Ya tentu tidak, bapak pasti merasa lelah, lapar, dan juga tidak
rapi seperti sebelumnya.
Kalau seperti itu seharusnya bapak harus sadar bahwa apa yang bapak
lakukan selama ini belum bisa mengatasi masalah bapak, ya pak? Ok.
Sebenarnya jika bapak mengalami masalah seperti ini lagi, bapak bisa
menceritakannya kepada keluarga bapak atau orang yang bapak percayai, ya
pak? Supaya tidak bapak pendam sendiri masalah itu dan ada orang lain yang
bisa membantu mengatasi masalah bapak
Jadi, mulai saat ini dan setelah ini bapak harus menceritakan masalah bapak
kepada keluarga atau orang yang bapak percayai, ya pak? Ok.

TERMINASI
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi Subjektif : Bagaimana perasaan bapak setelah kita ngobrol
tentang masalah yang bapak rasakan?
Evaluasi Objektif : Sekarang coba bapak ulangi apa yang bapak
rasakan dan bapak lakukan untuk mengatasinya?
2. Tindak lanjut
Kapan akan menceritakan masalah bapak ke keluarga atau orang
yang bapak percayai?
Mari kita masukan dalam jadwal harian ya bapak. Jadi, setiap bapak
merasa ada yang membicarakan keburukan bapak, bapak bisa
langsung menceritakannya kepada keluarga bapak
3. Kontrak yang akan datang
Topik: Setelah kita berbincang-bincang tadi, bagaimana kalau kita
berbincang-bincang lagi tentang perasaan dan apa yang bapak pikirkan,
ya pak?
Waktu: Bagaimana kalau nanti saja bapak? Ok. Jam berapa bapak? Jam
1 siang ya, baiklah bapak
Tempat: Dimana nanti bapak akan berbincang-bincang dengan saya?
Ok, di sini saja ya pak.
STRATEGI PELAKSANAAN 2 TINDAKAN KOMUNIKASI
KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN WAHAM

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Klien sering marah-marah sendiri tanpa alasan yang jelas, jarang tidur dan
sering berkeliaran disekitar rumah sambil ngomel-ngomel, tidak mau
manfdi dan makan. Klien merasa dirinya dikejar-kejar oleh orang yang ada
disekitarnya dan tetangganya selalu membicarakan keburukannya.
2. Diagnosa Keperawatan
Peerubahan proses Pikir : Waham Curiga
3. Tujuan Khusus
a. Klien dapat berorientasi kepada realitas secara betahap
b. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
c. Klien mampu membina hubungan saling percaya
d. Klien mampu menggunakan obat dengan benar
4. Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya (salam terapeutik, komunikasi terbuka,
jujur dan empati, sediakan waktu untuk mendengarkan klien, beri
kesempatan untuk mengungkapkan perasaan klien)
b. Mengungkapkan perasaan dan fikiran
c. Identifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
d. Identifikasi keyakinan yang salah tentang situasi yang nyata.
B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SP 1)
ORIENTASI
1. Salam terapeutik
Selamat pagi bapak, perkenalkan nama sayaRahma, Ibu bisa memanggil
saya suster Rahma. Saya perawat yang hari ini bertugas merawat Ibu dari
pukul 08.00 sampai pukul 12.00 nanti. Kalau boleh tahu nama Ibu siapa?
Senangnya dipanggil apa Bu?

2. Evaluasi/ validasi
Bagaimana perasaan bapak pagi ini? Sebelumnya apakah bapak masih
ingat dengan saya pak? Coba bapak sebutkan nama saya? bagus bapak
kalau masih mengingat saya, apakah ibu masih ingat apa yang kita
bicarakan kemarin bapak?
3. Kontrak
Topik : Baiklah bapak, kalau begitu bagaimana jika pagi ini kita
bercakap-cakap tentang apa yang ibu gemari?
Waktu : Berapa lama kita akan bercakap-cakap? Apakah 15 menit cukup?
Baiklah Bpak, selama 15 menit ke depan kita akan bercakap-cakap ya bu.
Tempat : Apakah bapak merasa nyaman jika kita mengobrol di tempat
ini? Baiklah kalau begitu tempatnya di ruangan ini saja ya Bpak.

KERJA: (langkah-langkah tindakan keperawatan)


Baiklah bapak, tadi bapak bercerita katanya bapak sering marah-marah
sendiri ya, bapak juga bercerita bahwa jarang tidur dan sering berkeliaran
disekitar rumah sambil ngomel-ngomel, tidak mau mandi dan makan.
Bapak juga bercerita bahwa katanya dikejar-kejar oleh tetangga bapak ya?
Oh, iya apa bapak biasanya bapak merasa bahwa tetangganya bapak
membicarakan keburukannya bapak yang bagaimana? Bagaomana bapak
menyikapinya? Oh, makanya bapak suka ngomel-ngomel dan marah-
marah ya bapak? Bagaimana jika tetangga bapak membicarakan
keburukan bapak? Apakah bapak menegurnya atau bagaimana bapak?
Selain tetangga bapak apakah ada yang membuat perasaan bapak sedih,
atau fikiran bapak kacau? Oh, hanya tetangg asaja ya bapak? Bapak kalau
dirumah sakit biasanya bapak ngapain? Oh, bapak diam dikamar saja?
Apakah bapak suka jalan-jalan dan emnghirup udara segar? Baik bapak
kalau suka saya akan memasukan jadwal untuk kegiatan yang akan bapak
lakukan sehari-hari dirumah sakit? Apakah bapak bersedia? Baik bapak,
jika bersedia saya akan memulai membuat jadwal untuk bapak. Sekarang
saya akan mengajak bapak untuk keliling taman dan emnghirup udara
diluar? Tujuannya agar bapak tidak berfikiran yang tidak-tidak terhadap
sesuat hal yang buryuk kepada orang yang ada disekitar bapak?

TERMINASI
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap ?
Evaluasi objektif
Jadi apa saja yang sudah kita lakukan tadi bapak? Bisakah bapak
mengulaingnnya kembali apa yang sudah kita bicarakan dan kegiatan yang
sudah kita lakukan tadi
Baiklah Bpak, mulai sekarang jika bapak merasa gelisah atau kesal
bapak bisa melakukan legiatan ayng sudah saya ajarkan ini ya bapak?.
2. Kontrak yang akan datang
Topik: Tidak terasa sudah 15 menit ya kita bercakap-cakap. Besok kita
bertemu lagi ya Bpak untuk mendiskusikan cara lain untuk mengurangi
kesedihan bapak dan kecurigaan bapak.
Waktu: Kira-kira besok saya akan mengunjungi bapak pukul 09.00 pagi,
bagaimana Bpak?
Tempat: Tempatnya bagaimana kalau disini saja? Baiklah kalau begitu
saya permisi dulu. Selamat Pagi.
STRATEGI PELAKSANAAN KE 3

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG TIDAK TERPENUHI

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien:
Data subjektif
Klien mengatakan tetangganya selalu membicarakan keburukan
klien
Data objektif
Klien tampak tidak rapi
Klien tampak kesal dan mengomel
2. Diagnosis keperawatan
Waham curiga
3. Tujuan khusus
TUK 1. Pasien dapat berorientasi terhadap realitas secara bertahap

TUK 2. Pasien yakin dalam keadaan aman

4. Tindakan keperawatan
Mendiskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah
Membantu pasien memenuhi kebutuhannya
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN


KEPERAWATAN (SP)
ORIENTASI
1. Salam terapeutik
Selamat pagi Bapak, masih ingat dengan saya pak? saya adalah Perawat
Robby, hari ini saya yang akan bertugas mulai pukul 07.00 sampai 14.00
2. Evaluasi/validasi
Bagaimana keadaan Bapak hari ini? Bapak masih terlihat marah, apa
benar pak? Apa yang sedang Bapak pikirkan?
3. Kontrak
Bisa kita berbincang-bincang tentang yang Bapak rasakan? Berapa lama
Bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit? Dimana
pak enaknya kita berbincang-bincang? Baiklah pak.

KERJA (langkah-langkah tindakan keperawatan):


Saya mengerti Bapak merasa bahwa tetangga Bapak sering mengejar dan
membicarakan keburukan Bapak, tetapi apakah Bapak pernah mendengarnya
secara langsung? Kelihatannya Bapak sangat marah dan mengomel sendiri
tentang hal itu, bisa Bapak ceritakan bagaimana perasaan Bapak? Jadi Bapak
berpikir bahwa tetanggap Bapak bercerita tentang kegagalan Bapak dalam
mengasuh anak? Jadi anak bapak sekarang tidak pernah menjenguk Bapak
lagi? Kalau Bapak inginnya berarti anaknya untuk menjenguk gitu ya pak?
Lalu bagaimana Bapak dapat memperbaiki hubungan dengan anak Bapak?
Bagus pak, Bapak sudah bisa menyusun rencana untuk menjalin hubungan
yang baik lagi dengan anaknya. Bagaimana kalau hal itu dimasukkan ke
jadwal kegiatan mingguan atau bulanan pak? Wah bagus sekali Bapak sudah
mempunyai kegiatan sendiri kalau bosan dirumah.

TERMINASI
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan Bapak setelah kita berbincang-bincang? Apa saja
yang telah kita bicarakan?
Evaluasi objektif
Bagaimana kalau jadwalnya dilakukan saat Bapak telah pulang dari
rumah sakit? Setuju pak?
2. Tindak lanjut klien (apa yang perlu dilatihkan kepada klien sesuai dengan
hasil tindakan yang telah dilakukan)
Bapak, bisa bercerita kepada perawat yang ada jika perasaan bapak
mulai merasa tidak nyaman, ingin bercerita atau bertanya sesuatu. Bapak
bisa mengatakan kepada diri Bapak bahwa orang-orang berkata hal yang
baik tentang Bapak. Katakan demikian setiap Bapak merasa curiga
3. Kontrak yang akan datang
Topik : Tidak terasa sudah 15 menit ya pak kita berbincang-
bincang. Besok kita akan bertemu lagi ya pak untuk
orientasi keadaan realitas? Mau pak?
Waktu : Kira-kira besok saya akan mengunjungi Bapak pukul
10.00 pagi, bagaimana pak?
Tempat : Bagaimana kalau tempatnya disini saja? Baiklah kalau
begitu saya permisi dulu ya pak. Selamat pagi.

STRATEGI PELAKSANAAN KLIEN KE-4

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien :
Tn. D (67 tahun ) sering marah2 sendiri tanpa alasan yang jelas, jarang tidur
dan sering berkeliaran sekitar rumah sambil mengomel, klien juga tidak mau
mandi dan makan. Tn.D merasa dirinya selalu dikejar oleh orang di
sekitarnya dan merasa tetangganya selalu membicarakan keburukan dirinya.
saat ini, Tn.D dirawat di ruang mawar karena kondisi yang dialaminya
2. Diagnosis keperawatan: Ganggua proses pikir: waham
3. Tujuan Khusus:
a. Pasien mampu membina hubungan saling percaya
b. Pasien mampu mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
c. Pasien mampu mengidentifikasi cara memenuhi kebutuhan
a. Pasien mampu identifikasi keyakinan yang salah tentang situasi yg nyata
4. Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar
pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi.Tindakan yang harus
dilakukan dalam membina hubungan saling percaya adalah :
1) Mengucapkan salam terapeutik
2) Berjabat tangan
3) Memperkenalkan identitas diri (nama lengkap, nama panggilan, asal
institusi)
4) Menjelaskan tujuan interaksi
5) Menyepakati kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
b. Ajarkan pasien mampu mengidentifikasi cara memenuhi kebutuhan
pasien
c. Ajarkan pasien mengidentifikasi keyakinan yang salah tentang situasi yg
nyata
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN (SP)
ORIENTASI
1. Salam terapeutik
Selamat pagi bapak. Masih ingat dengan saya bukan? sesuai dengan janji
saya kemarin sekarang saya datang lagi
2. Evaluasi/ validasi
Bagaimana perasaan bapak pagi ini? Bagaimana tidur bapak tadi malam
nyenyak? Apa yang dirasakan setelah dapat mengambil keputusan dengan
baik? Bagus sekali, bagaimana perasaann Bapak sekarang?
3. Kontrak
Topik : Nah bapak, melanjutkan pertemuan yang kemarin dan sesuai
kesepakatan kita, hari ini kita akan berbincang-bincang. Tujuannya, agar
bapak dapat mengidentifikasi keyakinan yang salah tentang kondisi bapak.
Bagaimana bapak, apakah bapak bersedia?
Waktu : Tidak lama kok bapak, kurang lebih 30 menit.
Tempat : Baiklah, tempatnya di ruangan ini saja ya bapak.
KERJA: (langkah-langkah tindakan keperawatan)
1. Bagaimana bapak sudah dapat mengambil keputusan dengan baik?
Apakah hal tersebut dapat membuat Bapak nyaman dan rileks?
2. Nah, sekarang kita akan belajar bersama tentang bagaimana cara agar
Bapak tidak mudah curiga. Kita sekarang sekedar cerita saja ya Bapak.
Nah Bapak kan merasa bahwa selalu dikejar-kejar oleh sesorang.
Kalau boleh tahu siapa dan bagaimana wujudnya Pak?Sekarang bapak
di rumah kan ya Pak, di rumah semestinya kan kita akan merasakan
kenyamanan dan keamanan apa iya kita masih dikejar-kejar seseorang?
Lalu Pak, kata Bapak tetangga Bapak sering mengejek Bapak ya? Itu
bagaimana ceritanya Pak? Siapa yang menceritakan kepada Bapak?
Bapak sudah mendengar langsung tidak? Nah, benar Pak, alangkah
lebih baiknya memang kita akan percaya jika hal tersebut terdengar
langsung oleh kita jika kita hanya merasakan bisa jadi yang kita yakini
dan rasakan itu tidak benar. Maka dari itu kita tidak boleh berburuk
sangka terlebih dahulu Pak
3. Baiklah kalau begitu sudah merasa baikan sekarang kan
mbak?.Dengan meyakinkan diri bahwa pikiran negative itu salah
bapak dapat menggunakan cara tersebut ketiga pikiran jelek itu
kembali datang.
TERMINASI
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
a. Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap Pak?
b. Evaluasi objektif
Coba bapak sebutkan cara apalagi yang dapat bapak lakukan untuk
mengatasi jika muncul perasaan negatif lagi?
2. Tindak lanjut klien (apa yang perlu dilatih klien sesuai dengan hasil
tindakan yang telah dilakukan)
Baiklah bapak, mulai sekarang jika bapak jika memiliki perasaan negatif
lagi maka dapat meyakinkan diri bapak jika itu salah bapak.
3. Kontrak yang akan datang
a. Topik: Baik, Besok saya akan kembali lagi untuk melihat
perkembangan kondisi kesehatan bapak.
b. Waktu: Kira-kira saya akan mengunjungi mbak sekitar jam 10 pagi ya
bapak
c. Tempat: Tempatnya disini saja ya, bapak. Kalau begitu saya permisi
dulu. Selamat pagi.