You are on page 1of 2

Sebagai seksi acara saya bertugas untuk menyusun jadwal, tema , dan pembicara

dalam acara persekutuan tiap Jumat. Selain itu saya juga harus menemani gitaris,
pemain jimbe, dan MC untuk latihan sebanyak 3 kali sebelum hari H. Ketika petugas
adalah mahasiswa baru, ada kesulitan untuk melatih mereka bisa berbicara dengan
baik di depan umum. Sehingga saya harus menuntun dalam membuat teks diawal.
Jadwal perssekutuan diadakan 4 kali dalam sebulan. Rutinitas ini kadang membuat tim
bingung mencari pembicara yang baru untuk mengisi dalam acara kami. Namun
aktivitas saya di persekutuan di luar kampus menjadi nilai lebih karena saya jadi
memiliki banyak kenalan pembicara yang bisa diundang ke acara di kampus kami.

Bidang iklan bertugas untuk menjalin kerjasama dengan pihak luar yang bertujuan
untuk menghasilkan dana bagi lembaga kami. Saat itu organisasi ini belum lama
terbentuk, sehingga masih banyak membutuhkan dana untuk biaya penerbitan Koran
tiap bulannya. Karena sulitnya menjalin kerjasama dengan bidang usaha besar saat itu,
akhirnya saya mencoba membuka peluang dengan melakukan kerjasama kepada
usaha kecil. Jadi targetnya bukan jumlah dana besar, namun walaupun tiap usaha
hanya memasang iklan kecil tapi jumlahnya banyak. Dengan demikian Koran kampus
kami tetap beroperasi sampai sekarang, dan lambat laun sudah semakin maju.

Seksi acara bertugas untuk menentukan tema serta pembicara dalam acara. Saat itu
acara yang bertemakan HIV/AIDS masih jarang dibicarakan kepada anak muda yang
tidak bergelut di bidang kesehatan. Kebanyakan anak muda masih berpikir HIV/AIDS
dan ODHA adalah seperti dosa besar, masih muncul stigma. Sehingga menjadi sebuah
tantangan untuk menemukan pembicara yang cocok, yaitu beliau yang bisa
menyampaikan materi yang berat namun bisa diterima oleh kalangan anak muda pada
umumnya. Akhirnya saya bisa menghubungi dr. Lula Kamal dan Nova Riyanti Yusuf
(anggota DPR).

Di era maju seperti saat ini, tuntutan zaman menjadi sangat banyak. Setiap orang
berjuang memenuhui kebutuhan hidup yang turut beradu di zaman ini. Kebutuhan
primer manusia bukan lagi hanya sandang, pangan , papan. Namun gaya hidup modern
telah membuatnya menjadi semakin banyak daftar tuntutan kebutuhan primer. Sebagai
anak muda yang beruntung, yang bisa mengicip pendidikan hingga sarjana di kota
besar, saya menjadi terbeban untuk bisa memberikan pelayananbagi sesame manusia.

Menjadi Pengajar Muda adalah salah satu cara menjawab visi hidup saya. Karena saya
yakin kehadiran saya di semesta bukan semata hanya untuk makan dan tidur. Namun

Bakat dan talenta yang saya miliki telah diasah bersamaan dengan pengalaman hidup sampai saat ini bisa bermanfaat bila dibagikan kepada orang lain. .saya harus bisa menjadi manfaat bagi sesama.