You are on page 1of 45

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi.1-2 Sampai saat ini obat
merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan.
Dengan demikian obat memiliki fungsi sosial sehingga harus terjamin kondisi-
kondisi secara berkelanjutan seperti keamanan, khasiat, mutu obat, terlaksananya
penggunaan obat secara rasional, dan ketersediaan, pemerataan dan
keterjangkauan terutama obat esensial.2
Menurut WHO, penggunaan obat rasional adalah pasien menerima
pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang sesuai
dengan kebutuhan individual, untuk jangka waktu yang tepat dan dalam biaya
terapi yang terendah bagi pasien maupun komunitas mereka. Dengan pengobatan
yang rasional, pasien akan menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan
klinisnya, dengan dosis yang tepat untuk jangka waktu pengobatan yang sesuai,
dengan kemudahan mendapatkan serta biaya yang terjangkau. Sedangkan
penggunaan obat tidak rasional adalah pengobatan dengan cara yang tidak sesuai
dengan penggunaan yang rasional sebagaimana didefinisikan diatas.3
Kebiasaan penggunaan obat tidak rasional merupakan masalah kompleks
dan meluas di seluruh dunia baik di negara maju ataupun negara berkembang.
Kebiasaan ini merupakan masalah kompleks dengan berbagai faktor penyebab dan
faktor pendorong yang saling mempengaruhi, termasuk didalamnya adalah faktor
yang berasal dari para pelaku atau pemberi pelayanan kesehatan (prescribing
writing behavior), sistem pelayanan itu sendiri, faktor pasien dan faktor
sosiokultural masyarakat. Menurut Hogerzeil, peresepan yang tidak rasional

2

adalah masalah global. Di beberapa studi baik dari negara maju maupun
berkembang, menggambarkan adanya polifarmasi, penggunaan obat yang tidak
sesuai indikasi atau pengobatan yang seharusnya tidak mahal, penggunaan
antibiotik yang tidak tepat dan pengobatan sendiri yang tidak rasional yang
biasanya underdose. Masalah ini diperburuk dengan adanya pergeseran
pengobatan dari sektor publik kesektor swasta dimana banyak di negara
berkembang regulasi dan pengawasannya belum adekuat, sehingga banyak
pembelian obat tanpa resep. 4
WHO menyimpulkan sekitar lebih dari 50% obat yang diresepkan,
dibagikan, dan dijual tidaklah tepat. Dan sekitar 50% pasien tidak mengonsumsi
obat dalam aturan yang benar. Kendala dalam penggunaan obat rasional seperti
polifarmasi, penggunaan obat non-esensial, penggunaan antimikroba yang tidak
tepat, penggunaan injeksi secara berlebihan, penulisan resep yang tidak sesuai
dengan pedoman klinis, ketidakpatuhan pasien (non-compliency) dan pengobatan
sendiri secara tidak tepat.5
Menurut Munaf, berdasarkan studi penggunaan obat secara rasional,
khususnya penggunaan antibiotika pada pasien-pasien infeksi saluran nafas akut
dan diare akut di 6 puskesmas di daerah-daerah perkotaan, pinggir kota dan
pedusunan di Propinsi Sumatra Selatan bahwa jumlah rata-rata obat per resep 2.7,
persentase kasus yang diberi suntikan adalah 47% dan persentase pasien yang
mendapat antibiotika adalah 49%; 79% dari 140 kasus diare akut diberi
antibiotika. Studi ini menunjukkan bahwa terdapat penggunaan obat yang tidak
rasional (berlebihan) yang jelas terlihat pada kasus-kasus infeksi saluran nafas atas
akut dan pada kasus-kasus diare akut.6
Pada puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang monitoring peresepan terbatas
pada penyakit ISPA non pneumonia (J.00), diare non spesifik (A.09) dan Myalgia
(M.79) dan belum diketahui pelaksanaan penggunaan obat rasionalnya. Dari
uraian diatas, maka penulis tertarik untuk membahas tentang pelaksanaan
penggunaan obat rasional dan permasalahannya di Puskesmas Inpres 5/74
Tanjung Pinang pada November 2013 sampai Januari 2014

3

1.2 Tujuan Penelitian
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi dan mencari masalah dalam pelaksanaan
penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang pada
November 2013 sampai Januari 2014
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi masalah-masalah dalam pelaksanaan penggunaan
obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang pada
November 2013 sampai Januari 2014
2. Mengidentifikasi prioritas masalah dalam pelaksaan penggunaan
obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang pada
November 2013 sampai Januari 2014
3. Mencari alternatif pemecahan masalah dalam pelaksaan penggunaan
obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang pada
November 2013 sampai Januari 2014

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Obat
Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi.1-2 Obat adalah setiap zat
kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup pada tingkat molekuler.
Farmakologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari
interaksi obat dengan konstituen (unsur pokok) tubuh untuk menghasilkan efek
terapi.7

2.2 Macam-Macam Obat
Obat dalam bahasa inggris disebut drugs yang berasal dari bahasa
perancis, droque yang berarti rempah kering. Obat ialah suatu bahan atau paduan
bahan-bahan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah,
mengurangi, menghilangkan, dan menyembuhkan penyakit, luka atau kelainan
badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan serta dapat memperelok badan
atau bagian badan manusia.7,8
Terdapat beberapa istilah yang menyangkut dengan obat antara lain :1

1. Obat jadi, adalah obat paten yang telah tersedia dipasaran , dikemas dalam
berbagai bentuk sesuai dengan kegunaannya.
2. Obat paten, dirumuskan sebagai obat jadi dengan nama dagang terdaftar
atas nama pembuat atau yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus
asli dari pabrik.
3. Obat bebas, adalah obat yang bebas dibeli dipasaran tanpa memerlukan
resep dokter.
4. Obat keras, ialah obat yang obat yang hanya dapat dibeli di apotek
dengan menggunakan resep dokter .

obat golongan psikotropika harus dibuat laporan mutasi bulanan ke DEPKES. 4. profilaksis. Obat keras dan psikotropika. terapi dan rehabilitasi. 5 5. golongan obat ini hanya didistribusikan oleh kalangan terbatas dan dilaporkan mutasi setiap bulannya kepada DEPKES. Obat bebas ditandai dengan lingkaran berwarna hijau degan garis tepi berwarna hitam . 2. hanya dapat diperolh diapotek dengan resep dokter . ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam . pengeluaran dan pemasukan ke apotek harus disertai dengan pelaporan dengan menteri kesehatan . 2. dengan harga yang murah dan mudah didapat juga dengan sifat-sifat farmakokinetik yang menguntungkan. ditandai dengan lingkaran berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam serta huruf K dengan warna hitam . Obat bebas terbatas . 3. 1 Suatu obat dikatakan sebagai obat essensial bila kemanjuran dan keamanannya telah mantap diketahui (melalui uji klinik dan penelitian epidemiologi) serta memenuhi keperluan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit yang sering dijumpai . Obat bius / narkotik.3 Konsep Obat Essensial Obat essensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelaksanaan kesehatan bagi masyarakat terbanyak yang meliputi obat untuk diagnosis. Narkotika. obat golongan ini harus dijual dalam kemasan asli yang dilengkapi dengan tanda peringatan khusus.1 . Penggolongan obat dimaksudkan untuk peningkatan keaamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusinya yang terdiri dari: 1 1. ditandai dengan lingkaran berwarna merah dengan tambahan palang berwarna putih .

Harga obat generik lebih murah dari obat paten karena kemasan lebih sederhana dan tidak dipromosikan . 2. yang seringkali menyebabkan terjadinya pembelian obat yang tidak penuh oleh masyarakat yang tidak mampu. perbedaan obat generik dengan obat dagang diantaranya adalah : 1.5 Penggunaan Obat Secara Rasional Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan. Obat generik menggunakan nama sesuai dengan zat khasiat yang dikandungnya walaupun diproduksi oleh pabrik yang berlainan . Untuk meningkatkan dan meratakan pelayanan kesehatan perlu disediakan obat-obatan yang murah dengan mutu yang baik. 2.4 Obat Generik Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang telah ditetapkan dalam farmakope indonesia dan INN ( internationalnon propietary names) dari WHO untuk zat kimia yang dikandungnya. sebaliknya obat paten menggunakan nama dagang yang beragam tergantung pabrik yang memproduksinya. Dalam proses pengobatan terkandung aspek keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko . 3. Latar belakang kebijakan pemerintah untuk menyediakan obat generik diantaranya ialah tingginya harga obat-obatan yang harus ditebus oleh penderita di apotek . Usaha pemerintah untuk membudayakan penggunaan obat generik dengan menerbitkan permenkes no 085/ MENKES/ PER/ 1989 tanggal 28 januari 1989 tentang kewajiban para dokter yang bertugas dipelayanan kesehatan pemerintah (rumah sakit/ puskesmas) untuk menggunakan atau menuliskan resep obat generic. Mutu obat generik lebih terjamin karena pengawasn mutu dilakukan oleh pemerintah dengan ketat. 6 2.

6. 5. aman. Departemen Kesehatan menjabarkan bahwa secara praktis penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria: 1. penggunaan obat dikatakan rasional bila:3 o Pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya o Untuk periode yang adekuat o Dengan harga yang paling murah untuknya dan masyarakat. Hal tesebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang rasional. lama pengobatan maupun biaya. tepat obat. 7. Tepat interval waktu pemberian. Tepat diagnosis 2. Sesuai dengan indikasi penyakit. penggunaan obat secara rasional adalah penggunaan obat yang indikasinya sesuai dengan kebutuhan pasien baik dosis. bermutu. harga terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan. tepat pasien dan waspada terhadap efek samping obat). Tepat pemilihan obat. (b) Obat-obatan tersebut digunakan secara rasional (tepat indikasi. . Tepat lama pemberian. Konferensi WHO khusus tentang obat di Nairobi 1985 mencanangkan penggunaan obat secara rasional. 3. Menurut WHO 1985. cara dan waktu pemberian. Tepat dosis.10 Penggunaan obat rasional menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) 1987 yaitu pengobatan yang sesuai indikasi. 4. tepat dosis obat.3 Salah satu perangkat tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedia suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam.9 Menurut Setiabudi. 7 sekecil mungkin bagi pasien. tersedia setiap saat dan harga terjangkau. tepat dosis. yang kemudian dirumuskan dalam dua hal yang konstruktif yaitu : (a) Tersedianya obat yang efektif. Masing-masing persyaratan mempunyai konsekuensi yang berbeda-beda. diagnosis. Tepat cara pemberian.11 Penggunaan obat dikatakan rasional jika tepat secara medik dan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.

sehingga pada pengobatan berikutnya antibiotik yang sudah digunakan tadi sudah tidak ampuh lagi dan meningkatkan gangguan kesehatan akibat dari efek samping obat tersebut. Kemudian akan dilakukan pemilihan obat secara tepat. 15. maka tujuan terapi dengan obat akan ditentukan. 14. 10.12. Tepat informasi. 12. jenis bahan obat apa (bahan baku. tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau. Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis ditegakkan dengan benar. Tepat diagnosis. Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang dibutuhkan. agar menghasilkan terapi yang rasional. bahan generik. Dengan demikian penggunaan obat yang rasional haruslah mencakup hal- hal sebagai berikut:3. Tepat indikasi. Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis yang tepat. atau bahan paten) yang dipilih dan pertimbangan biaya/harga obat. Waspada terhadap efek samping.13 a. 8 8. perjalanan penyakit dan manifestasinya). c. . Tepat tindak lanjut (follow up). 9. dokter pertama kali harus melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik pada pasiennya untuk menegakkan diagnosis. misalnya diindikasikan untuk infeksi bakteri. Tepat pemilihan obat. Hal yang sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam memilih obat adalah bagaimana rasio manfaat dengan risiko obat yang dipilih. Penggunaan antimikroba yang berlebihan dapat meningkatkan resistensi kuman terhadap obat (untuk jenis antibiotika). bagaimana keamanan (efek samping. dengan mempertimbangkan keadaan (patologi penyakit. b. Dalam melakukan prakteknya. Antibiotik. Setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifik. 13. Obat yang diberikan harus efektif dan aman dengan mutu terjamin serta 11. kontra indikasi) obat yang dipilih. Tepat penilaian kondisi pasien. Tepat penyerahan obat (dispensing). Setelah itu. formula standar. Dengan demikian obat yang dipilih haruslah yang memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.

kondisi pasien. cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap efek terapi obat. Cara pemberian yang dipilih adalah yang memberikan manfaat klinik yang optimal dan memberikan keamanan bagi pasien. e.c). kronis. Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis agar mudah ditaati oleh pasien. Dosis yang ideal adalah dosis yang diberikan per individual. variasi kinetik obat cara/rumus perhitungan dosis anak ( pilih yang paling teliti). Tepat dosis. Obat diberikan dengan berbagai macam cara (per oral. topical. fisiologi dan fungsi organ tubuh). berat badan. Demikian pula dengan antibiotika tidak boleh dicampur dengan susu karena akan membentuk ikatan sehingga menjadi tidak dapat diabsorbsi sehingga menurunkan efektifitasnya. Hal yang diperlukan dalam menentukan cara pemberian obat: Tujuan terapi. parenteral. Hal ini mengingat bahwa respon penderita terhadap obat sangat individualistis. a. dll). Perhitungan dosis pada anak secara ideal menggunakan dasar ukuran fisik (berat badan atau luas permukaan tubuh). ekonomi. Misalkan pemberian obat Gentamicyn yang diperlukan untuk tujuan sistemik. bioaviabilitas obat dan manfaat (untung-rugi pemberian obat). Clark) maka perlu diperhatikan tentang ketelitian dari rumus yang dipakai. keamanan. sifat fisika-kimia obat. kondisi penyakit (akut. obat yang mengiritasi . serta cocok bagi penderita. f. d. berat/ringan). maka sebaiknya dipilih lewat parenteral. Misal: Obat yang absorbsinya terganggu oleh makanan sebaiknya diberikan saat perut kosong 1/2 – 1 jam sebelum makan (1/2 – 1 h. Tepat interval waktu pemberian. Indeks terapi obat (lebar/sempit). yaitu dengan memakai rumus perhitungan dosis anak (antara lain Young. Tepat cara pemberian. NSAIDs yang diberikan pada penderita gastritis sebaiknya dilakukan pemberian per rectal. diharapkan preskripsi obat dokter akan tepat berdasarkan manfaat. Obat antasid seharusnya dikunyah dulu baru ditelan. Dosis. 9 Dengan mempertimbangkan hal di atas. per rectal. Penentuan dosis perlu mempertimbangkan: kondisi pasien (seperti: umur. Apabila dosis anak dihitung dengan perbandingan dengan dosis dewasa.

o Peresepan antibiotik harus disertai informasi bahwa obat tersebut harus diminum sampai habis selama satu kurun waktu pengobatan (one course of treatment). Jika hal ini tidak diinformasikan. i. untuk antibiotika hal ini sangat penting agar kadar obat dalam darah berada diatas kadar minimal yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit. terapi dengan teofilin sering memberikan gejala takhikardi. 10 lambung diberikan sesudah makan (p. Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing-masing. Demikian pula dalam penatalaksanaan syok anafilaksis. Interval waktu minum obat harus tepat. Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping yaitu efek yang tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi. Tepat dalam melakukan upaya tindak lanjut. Pada saat memutuskan pemberian terapi. k. Waspada terhadap efek samping. h. misalnya jika pasien tidak sembuh atau mengalami efek samping. bila 4 kali sehari berarti tiap 6 jam. g. j. pemberian . Tepat informasi.c) dan obat untuk memepermudah tidur diberikan sebelum tidur (h. Sebagai contoh: o Peresepan rifampicin akan mengakibatkan urine penderita berwarna merah. penderita kemungkinan besar akan menghentikan minum obat karena menduga obat tersebut menyebabkan kencing disertai darah. Respons individu terhadap efek obat sangat beragam. pemberian aminoglikosida sebaiknya dihindarkan karena resiko terjadinya nefrotoksik pada kelompok ini meningkat secara bermakna. Jika hal ini terjadi maka dosis obat perlu ditinjau ulang atau bisa saja obatnya diganti. Pada penderita dengan kelainan ginjal. Penilaian terhadap kondisi pasien.s). Sebagai contoh. dll. Informasi yang tepat dan benar dalam penggunaan obat sangat penting dalam menunjang keberhasilan terapi. Tepat lama pemberian. Hal ini lebih jelas terlihat pada beberapa jenis obat seperti teofilin dan aminoglikosida. meskipun gejala-gejala klinik sudah mereda atau hilang sama sekali. harus sudah dipertimbangkan upaya tindak lanjut yang diperlukan.

tablet hisap. Pemilihan obat dalam daftar obat esensial didahulukan dengan mempertimbangkan efektivitas. obat perlu diproduksi oleh produsen yang menerapkan CPOB (cara pembuatan obat yang baik) dibeli melalui jalur resmi. hipertensi. Obat yang efektif. Bila petugas salah menimbang obat atau salah membaca resep dapat berakibat fatal. Pada saat resep dibawa ke apotek atau tempat penyerahan obat di puskesmas. Semua produsen obat di Indonesia harus dan telah menerapkan CPOB. o Pemberian obat dalam jangka panjang (misalnya pada penderita tuberculosis. Untuk efektif. tablet. aman dan terjangkau digunakan obat-obat dalam daftar obat esensial. dan obat inhalasi). aman dan mutu terjamin dan terjangkau. o Pasien tidak mendapatkan informasi/penjelasan yang cukup mengenai cara minum/ menggunakan obat. 11 injeksi adrenalin yang kedua perlu segera dilakukan. Tepat menyerahkan obat (Dispensing). Ketidaktaatan minum obat umumnya terjadi pada keadaan berikut: o Jenis dan/ atau jumlah obat yang diberikan terlalu banyak o Frekuensi pemberian obat perhari terlalu sering. Dalam menyerahkan obat juga petugas harus memberikan informasi yang tepat pada pasien. Untuk jaminan mutu. n. m. keamanan dan harganya oleh para pakar di bidang pengobatan dan klinis. apoteker/asisten apoteker/petugas penyerah obat akan melaksanakan perintah dokter/ peresep yang ditulis pada lembar resep untuk kemudian diberikan kepada pasien. DM. o Jenis sediaan obat terlalu beragam (misal pada saat bersamaan pasien mendapat sirup. Penggunaan obat rasional melibatkan juga dispenser sebagai penyerah obat dan pasien sendiri sebagai konsumen. arthritis). . jika pada pemberian pertama respons sirkulasi kardiovaskuler belum seperti yang diharapkan. Proses penyiapan dan penyerahan harus dilakukan secara tepat agar pasien mendapatkan obat sebagaimana seharusnya. l. Pasien patuh.

diperlukan penulisan R/ lagi. Penulisan preskripsi dalam blanko resep yang benar (lege artis).f. Biasanya sudah dicetak dalam blanko.l. Ditulis dengan symbol R/ (recipe=harap diambil).f.a. Contoh:  m. lengkap (memuat 6 unsur yang harus ada di dalam resep) dan sesuai dengan aturan/pedoman baku serta menggunakan singkatan bahasa latin baku. Nama kota (sudah dicetak dalam blanko resep) dan tanggal ditulis resep 3. Inscriptio. atau efek ikutan (urin menjadi merah karena rifampicin). o Pemberian obat dalam jangka lama tanpa informasi/supervisi tentu saja akan menurunkan ketaatan penderita. berisi nama obat. d. Unsur-unsur resep:12. pada blanko standar (ukuran lebar 10-12 cm.t. 2. o.13 1. kekuatan dan jumlah obat yang diperlukan dan ditulis dengan jelas 5. nomor surat ijin praktek. Cara penulisan (dengan singkatan bahasa latin) tergantung dari macam formula resep yang digunakan.d. Identitas Dokter. Preskripsi lege artis maksudnya adalah ditulis secara jelas. 12 o Timbul efek samping (misal ruam kulit dan nyeri lambung). Superscriptio. Bila diperlukan lebih dari satu bentuk sediaan obat/formula resep. Bagian ini mencantumkan bentuk sediaan obat (BSO) dan jumlahnya. alamat praktek dan rumah dokter penulis resep serta dapat dilengkapi dengan nomor telepon dan hari serta jam praktek.a.l. sol . Nama. Subscriptio. 4. panjang 15-18 cm).no. Biasanya sudah tercetak dalam blanko resep. Kegagalan pengobatan tuberculosis secara nasional menjadi salah satu bukti bahwa terapi jangka panjang tanpa disertai informasi/supervise yang memadai tidak akan pernah memberikan hasil seperti yang diharapkan. X  m. pulv. Ini merupakan bagian inti resep.

Sebaiknya juga mencantumkan berat badan pasien supaya kontrol dosis oleh apotek dapat akurat 2. perilaku pasien yang tidak mendukung. dikatakan tidak rasional apabila kemungkinan untuk memberikan manfaat kecil atau tidak ada sama sekali.I. No XX da in caps 6.d.d. interval dosis. pelaksanaan/penggunaan obat yang tidak sesuai dengan perintah pengobatan (non compliance). pemantauan yang tidak tepat. Biaya yang dikeluarkan oleh individu dan pemerintah akibat pengobatan yang tidak rasional seharusnya tidak terjadi dan seringkali sangat tinggi.tab. Berisi informasi tentang aturan penggunaan obat bagi pasien yaitu meliputi frekuensi. penyerahan obat yang tidak tepat.u.a. penyakit yang berlangsung lebih lama dari semestinya bahkan kematian.l. terutama di negara-negara berkembang yang pasiennya mengeluarkan biaya kesehatan dari anggaran pribadi. dosis. respon aneh individu terhadap obat. Hal ini dinyatakan ahli kesehatan di WHO dapat mengakibatkan konsekuensi yang berat: reaksi yang tidak diinginkan. lama pemakaian).13 Hampir setengah dari semua obat di dunia digunakan secara tidak rasional.12 . obat tidak tersedia saat dibutuhkan. Contoh: s. rute. Nama pasien dicantumkan dalan pro.h.p. resistensi obat. pemakaian obat (lebih sempit lagi adalah peresepan obat atau prescribing).3.t. jumlah obat dan saat diminum obat.c ( tandailah tiga kali sehari satu tablet satu jam setelah makan) 7. pulv. sedangkan kemungkinan manfaatnya tidak sebanding dengan kemungkinan efek samping atau biayanya. kesalahan dipensing.6 Penggunaan Obat Tidak Rasional Secara singkat. 13  m.f. pemberian obat yang tidak diperlukan. idiosinkrasi pasien. gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak tepat. Termasuk dalam pemberian obat tidak rasional adalah pengobatan yang kurang tepat (misalnya : pemilihan obat. Identitas pasien Umumnya sudah tercantum dalam blanko resep (tulisan pro dan umur). Signatura. bentuk sediaan. dll.

penggunaan yang berlebihan obat injeksi. mencakup pemberian obat untuk indikasi yang keliru. baik dalam dosis.9.7 Kendala-kendala Penggunaan Obat Rasional Fakta yang ada menunjukkan bahwa ketidakrasional penggunaan obat sering terjadi. Kasus yang banyak ditemukan dalam kategori ini adalah pemberian antibiotik oleh petugas hanya untuk tiga hari. Peresepan kurang (under prescribing). pada kondisi yang sebenarnya kontraindikasi pemberian obat. pengobatan/penggunaan sendiri dari obat-obat yang harus melalui resep. yaitu jika pemberian obat kurang dari yang seharusnya diperlukan. penggunaan yang tidak tepat dari obat anti infeksi. penulisan resep yang tidak sesuai dengan pedoman klinis.yaitu pemakaian dua atau lebih kombinasi obat padahal sebenarnya cukup hanya diberikan dengan obat tunggal saja. ketidakpatuhan pasien (non- .14 2. pemberian informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan pada pasien. Peresepan majemuk (multiple prescribing). penggunaan obat non-esensial.12 Peresepan salah (incorrect prescribing). Tidak diresepkan obat yang diperlukan untuk penyakit yang diderita juga termasuk dalam kategori ini. yaitu jika memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan. padahal seharusnya diberikan minimal lima hari. seperti: polifarmasi. penghentian lebih awal dari terapi. misalnya memberikan vitamin sementara pasien tidak menunjukkan gejala defisiensi vitamin.9 Data dari beberapa negara menyatakan hal-hal tersebut sering terjadi dan tidak eksklusif terjadi di negara berkembang.3. termasuk juga pengobatan terhadap semua gejala yang muncul tanpa mengarah pada penyakit utamanya. pengobatan yang tidak adekuat dari penyakit yang serius. jumlah maupun lama pemberian. penggunaan injeksi secara berlebihan. 14 Menurut Departemen Kesehatan (2007) Penggunaan obat yang tidak rasional dapat dikategorikan sebagai berikut : Peresepan berlebih (over prescribing). dan sebagainya. penggunaan antimikroba yang tidak tepat. memberikan kemungkinan resiko efek samping yang lebih. Pengobatan yang tidak rasional termasuk: pengobatan yang berlebihan dari penyakit ringan.

. sehingga menghambat pelayanan kefarmasian yang baik. Inilah yang sangat memicu konflik kepentingan dalam pelayanan kesehatan baik secara individu. Dalam kenyataannya penerapan tersebut mengalami kendala-kendala. Obat masih diutamakan sebagai komoditas perdagangan. Meresepkan obat berdasarkan apa yang diresepkan oleh seniornya Informasi obat yang tidak obyektif. Manifestasi penggunaan obat secara tidak rasional yang dilakukan oleh dokter. sosial politik serta persebaran penduduk. Implementasi penggunaan obat secara rasional dapat terlaksana dengan baik jika regulasi yang telah ada dapat diterapkan dengan baik oleh pihak-pihak terkait pengobatan. seperti: . 15 compliency) dan pengobatan sendiri secara tidak tepat. Efek dari keadaan tersebut adalah keterbatasan pilihan obat yang ada. seperti: Dosis terlalu tinggi/rendah Obat toksik yang tidak diperlukan Meresepkan obat yang tidak diperlukan (atau bahan mahal) Meresepkan obat yang dapat menimbulkan interaksi yang membahayakan pasien (efek samping) Meresepkan obat yang ditunjang bukti ilmiah evidence based medicine (ebm) Polifarmasi. kelompok bahkan lembaga. dokter mendapatkan informasi obat sebagian besar dari perusahaan farmasi. Hal ini terbukti dengan harga obat yang pada umumnya dinilai masih mahal dengan struktur harga yang tidak transparan disertai mekanisme harga yang diserahkan pada pasar. terutama tidak sesuai dengan kriteria klinis. Keterjangkauan obat dipengaruhi banyak aspek seperti geografis. yaitu penggunaan bersamaan 5 macam atau lebih obat- obatan oleh pasien yang sama dalam satu resep. Keadaan tersebut memberikan peluang bagi perusahaan farmasi untuk mengganti merek dagang dengan zat aktif yang sama. ekonomi. . .

Diare nonspesifik adalah diare yang bukan disebabkan oleh kuman khusus maupun parasit. Masih rendahnya informasi dan edukasi bagi masyarakat. selama diare dan dalam masa penyembuhan. . Bersikap pasrah terhadap penanganan pengobatan. serta tidak patuh dalam proses pengobatan merupakan kenyataan yang banyak terjadi dan tidak dapat dipungkiri. Penatalaksanaan WHO telah menetapkan 4 unsur utama dalam penanggulangan diare akut yaitu: . bau amis. dll 2. 16 . terutama ASI. berupa upaya rehidrasi oral (URO) untuk mencegah maupun mengobati dehidrasi. desakan pasien terhadap dokter.09) Diare adalah keadaan buang-buang air dengan banyak cairan dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lain. masih adanya kepercayaan pada mitos-mitos seperti: Obat generic adalah obat murah dan mutunya rendah Obat originator adalah yang terbaik Vitamin.8. obat herbal diperlukan untuk menjaga kesehatan. ISPA non Pneumonia dan Myalgia adalah: 9 2. Selain itu. Diare akut adalah buang air besar lembek/cair konsistensinya encer. berbusa bahkan dapat berupa air saja yang frekwensinya lebih sering dari biasanya. tidak memberikan informasi secara baik dalam proses diagnose (komunikasi buruk antara dokter-pasien). Pemberian cairan.8 Pengobatan Dasar di Puskesmas Adapun pedoaman pengobatan dasar di puskesmas terhadap penyakit Diare non spesifik. . suplemen makanan. Melanjutkan pemberian makanan seperti biasa. Diagnosis Ditentukan dari gejala buang air besar berulang kali lebih sering dari biasanya dengan konsistensinya yang lembek dan cair.1 Diare Non Spesifik (A. lebih sering dari biasanya disertai berlendir.

sementara “influenza” dimaksudkan untuk kelainan yang disertai faringitis dengan tanda demam dan lesu yang lebih nyata. b. disentri. Rinitis Rinitis (Hay fever. atau bagian dari influenza (rinofaringitis). Penatalaksanaan . Tidak menggunakan antidiare. Disebut common cold atau selesma bila gejala di hidung lebih menonjol. Influenza Influenza tergolong infeksi saluran napas akut (ISPA) yang biasanya terjadi dalam bentuk epidemi. Faringitis Akut Faringitis adalah Inflamasi atau infeksi dari membran mukosa faring (dapat juga tonsilo palatina). sedangkan pada anak dapat diberikan paracetamol. Perawatan dan pengobatan tidak berbeda dengan influenza. . Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Obati dengan antibiotik jika diduga ada infeksi. c. Pemberian petunjuk yang efektif bagi ibu dan anak serta keluarganya tentang upaya rehidrasi oral di rumah. Antibiotik hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder. atau terbukti giardiasis atau amubiasis. tanda-tanda untuk merujuk dan cara mencegah diare di masa yang akan datang. Polinosis) adalah suatu alergi terhadap serbuk sari yang terdapat di dalam udara. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya yang .00) a.8. Faringitis akut biasanya merupakan bagian dari infeksi akut orofaring yaitu tonsilo faringitis akut. . 2. sementara antibiotik maupun antimikroba hanya untuk kasus tersangka kolera. Pengobatan simtomatis diperlukan untuk menghilangkan gejala yang terasa berat atau mengganggu. 17 .2 ISPA non Pneumonia (J. Untuk anak tidak ada anjuran obat khusus. Penatalaksanaan Anjuran istirahat dan banyak minum sangat penting pada influenza ini. . Untuk demam dan nyeri: pada dewasa dapat diberikan paracetamol atau ibuprofen.

79) Myalgia atau disebut juga Nyeri otot merupakan gejala dari banyak penyakit dan gangguan pada tubuh. Myalgia yang berlangsung dalam waktu yang lama menunjukkan myopati metabolik. 18 hanya timbul pada musim tertentu. Mengistirahatkan otot yang sakit dan banyak minum air putih . 2.Myalgia yang terjadi tanpa riwayat trauma mungkin disebabkan oleh infeksi virus. Untuk menentukan serbuk penyebabnya bisa dilakukan tes kulit. natrium diklofenak. Penatalaksanaan . Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnya pseudoefedrin atau fenilpropanolamin) untuk melegakan hidung tersumbat. Penting untuk mencari penyebab penyakit yang menyebabkan gejala myalgia untuk kemudian diobati berdasarkan penyakit yang mendasarinya . defisiensi nutrisi atau sindrom fatigue kronik. Posisikan otot secara relaksasi . Penatalaksanaan Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin. Berikan obat-obatan anti nyeri sistemik. Penyebab umum myalgia adalah penggunaan otot yang salah atau otot yang terlalu tegang. dll) . Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin. efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang. ibuprofen. Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara ketat. asam mefenamat. Jika keadaan kronis rujuk ke dokter spesialis THT. misalnya asetaminofen/paracetamol atau golongan NSAID (misalnya.8.3 Myalgia (M.

Observasi langsung dilakukan pengamatan selama satu minggu. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Pencatatan di buku register.2 Pengolahan Data Data yang telah terkumpul diolah secara manual kemudian dianalisa untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada. Data primer diperoleh dari wawancara dan observasi langsung. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Pencatatan di buku register. setelah itu ditentukan prioritas masalah menggunakan metode MCUA dan PAHO kemudian dimasukkan dalam Fish Bone. petugas kesehatan dan pegawai apotek. Observasi langsung dilakukan pengamatan selama satu minggu.2 Cara Pengambilan Data 3. 3. Wawancara dilakukan kepada petugas penanggung jawab program penggunaan obat rasional. dokter.1. petugas kesehatan. Data primer diperoleh dari wawancara dan observasi langsung. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. 19 BAB III METODA PENGUMPULAN DATA 3. setelah mendapat penyebab .1. Laporan penggunaan obat rasional puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang dan resep. Wawancara dilakukan kepada petugas penanggung jawab program penggunaan obat rasional.1 Data Yang Dikumpulkan Pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data dilaksanakan dari tanggal 24 Januari sampai 6 Februari 2014. Laporan penggunaan obat rasional puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang dan resep dari bulan november 2013 sampai januari 2014 3. dokter dan pegawai apotek.

kemudian dilakukan kemungkinan penyebab masalah dan penyelesaiannya. 20 masalah yang paling dominan. . selanjutnya ditentukan prioritas pemecahan masalah dengan MCUA. kemudian lihat faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pemecahan masalah selanjutnya membuat rencana usulan kegiatan pemecahan masalah dan selanjutnya kegiatan dimonitoring dan dievaluasi.

Dalam melaksanakan kegiatannya Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang mempunyai Visi dan Misi. Keberadaannya strategis dengan wilayah kerja yang luas dan jumlah penduduk yang banyak. Promosi kesehatan. yaitu: Visi : Menjadikan Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu di Kecamatan Jambi Timur.1. Gizi. Kesehatan lingkungan serta pelayanan kesehatan yang bermutu pada masyarakat 2. Melaksanakan 6 program pokok puskesmas: Pemberantasan Penyakit menular. masyarakat dalam upaya melaksanakan program kesehatan 3. 4. dengan nama Puskesmas Inpres 5/74. 21 BAB IV HASIL KEGIATAN PUSKESMAS DAN HASIL PENGUMPULAN DATA 4. Memelihara dan meningkatkan kerjasama lintas sektoral. Kesehatan ibu dan anak. Melaksanakan sistim pembiayaan puskesmas sesuai PERDA yang berlaku dengan sistim pelayanan satu pintu. Melaksanakan sistim informasi kesehatan yang cepat dan tepat. lintas program.1 Profil Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang 4. 5. 6. Membina SDM puskesmas menjadi terampil dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Memelihara sarana dan prasarana puskesmas yang mendukung pelayanan kesehatan. Puskesmas Tanjung Pinang berada bersama 3 puskesmas lainnya dalam Kecamatan Jambi Timur. . Misi : 1.1 Sejarah Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang Kota Jambi berdiri Tahun 1974.

. S. AAK 1 .1. . .1 Daftar jumlah ketenagaan di Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang Kota Jambi STATUS PEGAWAI NO JENIS TENAGA JUMLAH KET PNS PTT HONOR TKS 1.2 Kelembagaan Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang diklasifikasikan puskesmas rawat jalan. . AKFAR 4 . . PERAWAT 3 . BIDAN 7 . . SPPH 2 . . - 7. 7 9. 4 11. AKPER 3 .1. 3 17. 2 19. . 7 15. . 4. - 18. . . AKBID 7 . . dengan membawahi tiga buah puskesmas pembantu. 1 12. - SPESIALIS 4. .1 LAINNYA . 22 4. . - 14. . . . . - 6. D. . . SMAK 1 . . AKZI 1 . DOKTER 0 2 . 2 5 8. . 1 4 16. .3 LAINNYA . APOTEKER . APK/AKL 1 . . PERAWAT GIGI 3 . . 2 DOKTER 3. SAA/SMF . . DOKTER GIGI 2 . . . 1 . .3 Ketenagaan Untuk data ketenagaan di Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang dapat dijabarkan dalam tabel berikut: Tabel 4. . . . 2 2. . 1 13. . SKM . . . . . 1 10. . - 5. . .

laboratorium sederhana. seperti. 1 JUMLAH 39 . . Kasang 5. serta apotik dan gudang obat yang cukup. .5 Geografi. Tanjung Pinang 12. poli KIA dan KB. Wilayah kerja puskesmas mencakup 5 kelurahan. .1. Kasang Jaya 6.2 Jumlah Penduduk wilayah Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang No Kelurahan Jumlah penduduk 1.6 Demografi Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang memiliki luas wilayah 2. 4. konsultasi gizi dan kesling.349 jiwa 5. Kelurahan Rajawali dan Kelurahan Sijenjang. imunisasi. Kelurahan Kasang Jaya.1. LPCK 1 . Selain itu puskesmas juga punya satu buah mobil ambulan dan sembilan buah sepeda motor. Kelurahan Kasang. 3 42 4. poli umum. alat dan ruang UGD.438 jiwa 4. poli gigi.825 jiwa 2. Puskesmas Tanjung Pinang terletak di kecamatan Jambi Timur . Sijenjang 3.4 Fasilitas Puskesmas Tanjung Pinang Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang dengan sarana dan prasarana puskesmas rawat jalan yang cukup lengkap. Batas-batas wilayah Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang adalah : Sebelah Timur berbatasan Kelurahan Tanjung Sari Sebelah Barat berbatasan Kelurahan Pasar Jambi Sebelah Utara berbatasan Sungai Batanghari Sebelah Selatan berbatasan Kelurahan Talang Banjar 4. yaitu: Kelurahan Tanjung Pinang.165 jiwa 3.2 Tabel 4. 23 20. Jumlah penduduk dapat dilihat pada tabel 4. 1 21. Rajawali 8.1. . .027 Jiwa . SMP 1 .249 jiwa JUMLAH 36.021 km2.

3 berikut: Tabel 4. Petani sendiri 2. Sijenjang I dan Sijenjang II.9 Ekonomi Untuk data Ekonomi di wilayah Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang dapat dijabarkan dalam tabel 4. Pedagang 7. Pensiunan 10. 4.05% dan 14. Lain-lain . 24 4. Pengusaha 5.3 Data Ekonomi Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang No Pekerjaan 1. Perilaku masyarakat dalam masalah kesehatan dengan berobat jalan ke Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang dan 3 pustu Kasang Jaya.1.1.94% adalah warga keturunan. PNS/ABRI 11. Pengangkut jasa-jasa 8. Pertukangan/kerajinan 9. Buruh bangunan 6.8 Politik Otonomi daerah dengan dukungan pemerintah daerah cukup baik ditandai dengan keikutsertaan aparat pemerintah mulai dari perangkat desa sampai kecamatan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan. 4.7 Sosial Budaya Mayoritas penduduk pribumi dengan persentase 85. Buruh tani 3.1. Nelayan 4.

09) Pemberian pengobatan pada diare.4 Pemberian Pengobatan pada Diare Bulan Jumlah Jumlah Pemberian Polifarmasi Diare Antiobitik Desember 2013 46 40 (86.67%) 1 (0.38%) Januari 2014 34 20 (58.5 Pemberian Pengobatan pada ISPA non Pneumonia Bulan Jumlah Jumlah Pemberian Polifarmasi ISPA Antiobitik Desember 2013 180 3 (1.96%) November 2013 32 23 (71.2 Data Sekunder Hasil Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas 4. PCT.43%) 1 (0.70%) Dari tabel diatas diketahui bahwa hampir setiap anak yang menderita diare diberikan antibiotik.82%) 5 (14. Oralit.4 berikut: Tabel 4. dapat terlihat pada tabel 4.4%) Januari 2014 258 55 (21. .6%) November 2013 238 51 (24.5 berikut: Tabel 4.31%) 1 (0.4%) Dari tabel diatas diketahui bahwa hampir setiap anak yang menderita ISPA diberikan antibiotik. B6 4.2 Penggunaan Obat ISPA non Pneumonia (J.1 Penggunaan Obat Diare (A. jenis antibiotik yang paling banyak digunakan adalah Kotrimoksazol. dapat terlihat pada tabel 4.2.88%) 11 (34. biasanya obat tersebut terdiri dari Kotrimoksazol. CTM. jenis antibiotik yang paling banyak digunakan adalah Amoksilin. Zink. Selain itu juga banyak anak yang mendapatkan pengobatan lebih dari 5. 25 4.2. GG.00) Pemberian pengobatan pada ISPA non Pneumonia.97%) 17 (36.

3. pemberian antibiotik pada ISPA jika sudah terdapat tanda infeksi sekunder seperti ingus yang sudah hijau. serta banyak konsumsi air putih.Untuk penggunaan obat yang banyak.1 Hasil wawancara dengan petugas penanggung jawab program penggunaan obat rasional. karena pengobatan simptomatik saja” o Hasil wawancara dengan petugas kesehatan Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang diperoleh: “Pemakaian antibiotik pada penderita diare dan ISPA sangat tinggi disini (Puskesmas Tanjung Pinang) ini dikarenakan pasien diare yang berobat kesini biasanya pasien yang lebih dari tiga hari. zink.Selain itu juga pemberian obat yang cukup banyak kepada anak. 26 4. sehingga pengobatan belum dapat dikatakan rasional“ . petugas kesehatan dan pegawai apotek o Hasil wawancara dengan petugas penanggung jawab program penggunaan obat rasional Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang: “penggunaan obat disini sudah cukup rasional. Begitu juga dengan ISPA. Antibiotik diberikan jika BAB nya berlendir dan berdarah. terkadang juga terdapat pemberian obat antibiotik yang dicampur dengan obat yang lainnya. sehingga diberikan antibotik.” o Hasil wawancara dengan petugas Apotek Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang diperoleh: “Pemberian antibiotik kepada pasien cukup tinggi. kuning. dokter.3 Hasil Pengumpulan Data Primer 4. tidak terdapat masalah-masalah lagi” o Hasil wawancara dengan dokter Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang diperoleh: “Pemakaian antibiotik pada anak diare cukup dengan pemberian oralit.

. Empat belas dari tujuh puluh resep yang penulisannya belum sesuai standar .2 Hasil Observasi Dari hasil pengamatan selama satu minggu didapatkan bahwa: . Delapan dari dua puluh orang anak yang berobat dalam satu hari pasien anak yang berobat. dilakukan pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan . Informasi yang diberikan sangat sedikit kepada pasien.3. 27 4. khususnya antibiotik. Enam dari sepuluh orang pasien tidak mendapatkan informasi mengenai penjelasan cara pemberian obat.

Pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan bukan dokter (proses) 8. Masih rendahnya informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien (output) 10.1.1 Brain Storming Dari hasil brainstorming dengan beberapa teman dan pegawai puskesmas didapatkan beberapa masalah dalam penggunaan obat rasional. Petugas tidak tahu indikasi pemberian antibiotik (proses) 3. Masih banyaknya pemberian antibiotik yang tidak sesuai dengan indikasi (proses) 2. Pemberian obat yang lebih dari satu jenis dalam 1 kemasan (proses) 5. Pulveres antibiotik dicampur dengan obat lain (proses) 9. Penulisan resep belum sesuai standar (output) 7. Kurangnya penjelasan informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan kepada pasien (output) 6. Pasien belum tepat cara pemberian (proses) 11. diantaranya: 1. 28 BAB V MASALAH KESEHATAN 5. Peresepan yang berlebih atau memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan (output) 13.1 Identifikasi Masalah 5. Tidak tepat pada indikasi pemberian (output) 4. Pasien datang dengan banyak keluhan (input) 14. Pasien tidak patuh terhadap pemberian obat (proses) 12. Penggunaan banyak obat (output) .

dan setelah dilakukan pembahasan maka masalah yang diprioritaskan yaitu: 1. Penulisan resep belum sesuai standar Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa 14 dari 70 resep yang penulisannya belum sesuai standar. Pulveres antibiotik yang dicampur dengan obat lain 4. Untuk ISPA 16% pengobatan diberikan antibiotik.2 Konfirmasi Masalah dengan Data Setelah dilakukan pengumpulan data. Pemberian Antibiotik tidak tepat pada indikasi pemberian 2. 2. Hal ini juga sesuai dengan hasil wawancara kepada dokter yang memberikan pengobatan yaitu “saya akan memberikan pengobatan jika BAB anaknya berlendir dan berdarah”. Pemberian Antibiotik tidak tepat pada indikasi pemberian Berdasarkan catatan pada buku register didapatkan bahwa sekitar 73% pengobatan pada diare diberikan antibiotik. Padahal sebenarnya ISPA non pneumonia ini tidak perlu diberikan antibiotik karena akan sembuh dengan sendirinya pada lima hingga tujuh hari dan baru akan diberikan antibiotik jika cairan hidung sudah berwarna hijau dan kental. maka didapatkan: 1. Padahal sebenarnya indikasi pemberian antibiotik pada diare apabila BAB nya berlendir dan berdarah.1. 29 Dari hasil curah pendapat didapatkan 14 masalah. Kurangnya pengetahuan petugas terhadap indikasi pemberian antibiotik ini yang mengakibatkan tidak tepat pada indikasi pemberian sehingga pengobatan menjadi tidak rasional. Menurut salah satu petugas yang memberikan resep alasan diberikan antibiotik karena diare yang lebih dari tiga hari. Penggunaan banyak obat 5. Penulisan resep belum sesuai standar 3. Masih rendahnya informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien 5. menurut petugas indikasi pemberian antibiotik pada ISPA jika ISPA lebih dari tiga hari. Dari gambar diketahui bahwa masih .

Sekitar 44% anak yang mendapatkan antibiotik pada ISPA mendapatkan pengobatan yang pemberian pulveres antibiotiknya digabungkan dengan obat yang lain. dapat diketahui bahwa terdapat pemberian pulveres antibiotik yang dicampurkan dengan obat yang lain. hal ini akan berakibat fatal seperti salah terhadap pemberian pengobatan. Pulveres antibiotik yang dicampur dengan obat lain Pembuktian atau konfirmasi data pulveres antibiotik yang diberikan bersamaan dengan obat lain dapat dilihat dari resep. Selain itu. subscription yaitu bentuk sediaan obat dan jumlahnya. 3. Dari gambar diatas. hasil wawancara dengan petugas apotek didapatkan bahwa “terkadang juga terdapat pemberian obat antibiotik yang dicampur dengan obat yang lainnya” . 30 terdapat penulisan yang kurang jelas. Selain itu tidak terdapat inscription yaitu nama obat yang diberikan serta jumlahnya.

Dari permasalahan diatas. Sekitar 73% pengobatan diare dan 16% pengobatan ISPA pada anak dibawah 5 tahun di Puskesmas inpres 5/74 Tanjung Pinang pada bulan November 2013 sampai Januari 2014 diberikan antibiotik yang belum tepat pada indikasi pemberian. Sekitar 6 dari 10 pasien yang berobat di Puskesmas inpres 5/74 Tanjung Pinang tidak mendapatkan informasi mengenai penjelasan cara pemakaian obat. 2. 4. Obat tersebut terdiri dari Zink. 5. Penggunaan banyak obat Dari catatan buku register diketahui bahwa 29% anak dengan diare diberikan pengobatan lima atau lebih. 5. 5.1. 31 4. Masih rendahnya informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien Dari hasil observasi didapatkan bahwa enam dari sepuluh pasien tidak mendapatkan informasi mengenai penjelasan cara pemberian obat. yang terbukti dengan data terdapat 5 masalah. khususnya antibiotik. Paracetamol. Sekitar 29% pengobatan diare pada anak dibawah 5 tahun pada bulan November 2013 sampai januari 2014 di Puskesmas Tanjung Pinang mendapatkan pengobatan lima macam atau lebih obat . Sekitar 14 dari 70 penulisan resep belum sesuai standar di Puskesmas inpres 5/74 Tanjung Pinang pada bulan November 2013 sampai Januari 2014 3. Kotrimoksazol. Informasi yang diberikan sangat sedikit kepada pasien.3 Problem Statement 1. B6 dan Oralit. Sekitar 44% anak dibawah lima tahun yang berobat ISPA di Puskesmas inpres 5/74 Tanjung Pinang pada bulan November 2013 sampai januari 2014 mendapatkan pengobatan pulveres antibiotik yang pemberian antibiotiknya digabungkan dengan obat yang lain.

Tabel 5.2 Penentuan Prioritas Masalah Untuk menentukan prioritas masalah pada makalah ini. maka digunakan metode MCUA (Multiple Criteria Utility Assessment). 32 5.1 MCUA untuk menentukan prioritas masalah N Pengaruh Pengaruh Kriteria o terhadap terhadap Keseriusan Besarnya Masalah JUMLAH kesehatan kesehatan Masalah Masalah masyarakat pasien Bobot 4 5 3 1 Pemberian antibiotik N 8 10 7 2 1 tidak tepat indikasi BN 32 50 21 2 105 pemberian Penulisan resep belum N 7 8 6 4 2 sesuai standar BN 28 40 18 4 90 3 Pulveres antibiotik N 5 9 4 1 yang dicampur dengan BN 20 45 12 1 78 obat lain 4 Rendahnya informasi N 4 7 5 3 dan edukasi yang diberikan kepada BN 16 35 15 3 69 pasien 5 Penggunaan banyak N 2 4 8 5 obat BN 8 20 24 5 57 Keterangan: Bobot ditentukan (1-5) N = Nilai (nilai ditentukan 1-10) BN = Bobot x Nilai = Skor .

maka diperoleh masalah yang prioritas pada adalah: “Pemberian antibiotik tidak tepat indikasi pemberian di Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang” .2 Tabel Tekhnik Scoring PAHO Penentuan Prioritas Masalah No Masalah M S V C Total 1 Pemberian antibiotik tidak tepat 9 10 4 7 2520 indikasi pemberian 2 Penulisan resep belum sesuai 6 5 3 4 360 standar 3 Pulveres antibiotik yang dicampur 8 7 5 6 1680 dengan obat lain 4 Rendahnya informasi dan edukasi 7 8 6 3 1008 yang diberikan kepada pasien 5 Penggunaan banyak obat 4 6 5 2 240 Keterangan: M : Magnitude S : Severity V : Vulnerability C : Community Concern Skor ditentukan 1-10 dan skor kolom MxSxVxC=Total Dari hasil tabel MCUA dan PAHO diatas. 33 Tabel 5.

2 Identifikasi Penyebab Masalah Dengan Diagram Tulang Ikan (Fish Bone) Identifikasi penyebab masalah dengan metode Diagramm tulang ikan (fish bone) atau diagram sebab akibat sering juga disebut sebagai diagram ishikawa berdasarkan kerangka pendekatan sistem.3.3.1 Diagram alur (Flow Chart) 5.1 Diagram Alur (Flow Chart) Pasien datang ke Anamnesis dan Poli Anak Pemeriksaan Fisik Diagnosis Pembuatan Resep Pemilih Indikasi Cara an Obat Pemberi an Pasien Pulang Ke Apotik / Catat Bagian Konseling Farmasi di Puskesmas Gambar 5. 34 5. seperti gambar di bawah ini: .3 Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab dan Penyebab Masalah Dominan 5.

35 Material/Dana Manusia Pasien diare dan ISPA Meresepkan obat sering mendapatkan berdasarkan apa yang Tidak ada tim diresepkan oleh seniornya Antibiotik pengawas kefarmasian Tidak dilakukan kultur bakteri Kurangnya pengetahuan Pemeriksaan dan mengenai indikasi Biaya kultur pengobatan oleh pemberian antibiotik Pasien diare dan ISPA bakteri yang petugas sering diberikan mahal kesehatan.2 Diagram Fish Bone . bukan dokter antibiotik Pemberian antibiotik tidak tepat indikasi pemberian Pasien diare dan ISPA sering mendapatkan Anamnesis kepada Antibiotik pasien tidak lengkap Pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas Pasien datang dengan Kurangnya kesehatan. banyak keluhan pengetahuan bukan dokter mengenai indikasi pemberian antibiotik Lingkungan Proses Gambar 5.

Hal ini juga sesuai dengan hasil wawancara kepada dokter yang memberikan pengobatan yaitu “saya akan memberikan pengobatan jika BAB anaknya berlendir dan berdarah”. 4.3. 2. Kurangnya pengetahuan petugas kesehatan mengenai indikasi pemberian antibiotik Dari hasil wawancara kepada petugas kesehatan yang memberikan resep alasan diberikan antibiotik karena diare yang lebih dari tiga hari. bahwa penggunaan antibiotik termasuk kedalam 10 besar penggunaan obat. Padahal sebenarnya indikasi pemberian antibiotik pada diare apabila BAB nya berlendir dan berdarah. Pasien datang dengan banyak keluhan Dari hasil pengamatan diketahui bahwa ada beberapa pasien yang datang dengan banyak keluhan misalnya ISPA dan diare terjadi bersamaan pada satu anak . dilakukan pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan. Pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan Dari hasil pengamatan selama satu minggu di poli anak diketahui bahwa 8 dari 20 anak yang berobat. menurut petugas indikasi pemberian antibiotik pada ISPA jika ISPA lebih dari tiga hari. penyebab yang paling mungkin yang telah dibuktikan dengan data dan menjadi akar penyebab masalah adalah: 1. hal ini juga terlihat pada laporan bulanan obat. Dari wawancara kepada petugas apotek bahwa pemberian antibiotik kepada pasien cukup tinggi. Padahal sebenarnya ISPA non pneumonia ini tidak perlu diberikan antibiotik karena akan sembuh dengan sendirinya pada lima hingga tujuh hari dan baru akan diberikan antibiotik jika cairan hidung sudah berwarna hijau dan kental. 36 5.3 Mencari Dukungan Data Sesuai dengan diagram tulang ikan diatas. 3. Untuk ISPA 16% pengobatan diberikan antibiotik. Hal ini dikarenakan jumlah pasien yang cukup ramai atau dokter yang sedang sibuk. Hampir semua pasien diare dan ISPA diberikan antibiotik.

4 Menentukan Penyebab yang Paling Dominan Dari beberapa akar penyebab. 37 5.3. dicari penyebab yang paling dominan dengan adu argumentasi sehingga diperoleh penyebab yang paling dominan yaitu Kurangnya pengetahuan petugas mengenai indikasi pemberian antibiotik .

1 Alternatif-alternatif Pemecahan Masalah Dari masalah yang paling dominan yaitu kurangnya pengetahuan petugas mengenai indikasi pemberian antibiotik.2 Alternatif Pemecahan Masalah Terpilih Untuk menentukan prioritas pemecahan masalah. maka alternatif pemecahan masalahnya adalah: a. 38 BAB VI PEMECAHAN MASALAH PRIORITAS DAN USULAN KEGIATAN UNTUK PEMECAHAN MASALAH 6. Tabel 6. Mempelajari buku pedoman pemberian obat c. Pelatihan mengenai indikasi pemberian antibiotik b.1 MCUA untuk Menentukan Prioritas Pemecahan Masalah N Dapat o memecahkan Mudah Waktunya Kriteria masalah dilaksanak Murah biaya JUMLAH singkat dengan an sempurna Bobot 5 4 3 1 Pelatihan mengenai N 8 10 7 2 indikasi pemberian 1 BN 40 40 21 2 103 antibiotik Mempelajari buku N 7 8 6 5 pedoman pemberian BN 35 32 18 5 90 2 obat . maka digunakan tabel MCUA dibawah ini. Pembuatan panitia farmasi terapi yang fungsinya mengawasi dan menyempurnakan tata kefarmasian di Puskesmas 6.

Adanya pelatih yang mampu memberikan pelatihan tentang cara pemberian dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik . Faktor Pendukung . maka urutan pilihan prioritas pemecahan masalah adalah: 1. Adanya buku pedoman mengenai cara pemberian dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik . Adanya dana operasional untuk kegiatan pelatihan . Melatih petugas kesehatan mengenai cara pemberian dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik dengan skor 103 2. Pembuatan panitia farmasi terapi yang fungsinya mengawasi dan menyempurnakan tata kefarmasian di Puskesmas dengan skor 76 6.3 Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Pemecahan Masalah 1. Petugas mempelajari buku pedoman cara pemberian dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik dengan skor 90 3. 39 N Dapat o memecahkan Mudah Waktunya Kriteria masalah dilaksanak Murah biaya JUMLAH singkat dengan an sempurna Bobot 5 4 3 1 3 Pembuatan panitia N 6 7 5 3 farmasi terapi yang fungsinya mengawasi BN 30 28 15 3 76 dan menyempurnakan tata kefarmasian di Puskesmas Berdasarkan MCUA.

4 Rencana Usulan Kegiatan Pemecahan Masalah yang Terpilih Tabel rencana penerapan pemecahan penyebab masalah terpilih dapat dilihat pada tabel 6. Faktor Penghambat . 40 2. Kurangnya waktu untuk memberikan pengarahan dan bimbingan kepada petugas kesehatan karena banyaknya tugas dan kegiatan mereka dipuskesmas . Kurangnya minat petugas untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri.2 Rencana Usulan Kegiatan Pemecahan Penyebab Masalah Terpilih No Kegiatan Tujuan Sasaran Lokasi dan Pelaksana Dana Tolak Ukur Waktu 1 Membuat jadwal Kepastian waktu Petugas Sebelum Petugas Tanpa Biaya Jadwal kegiatan pelatihan pelaksanaan kesehatan kegiatan Kesehatan tepat waktu poli umum pelatihan anak dan pustu 2 Mempersiapkan Presentan lebih Petugas Sebelum Kepala Tanpa Biaya Materi presentan yang siap untuk kesehatan kegiatan Puskesmas presentasi dan akan memberikan memberikan pelatihan presentan telah pelatihan pelatihan siap 3 Melakukan Meningkatkan Petugas Lokasi: Dinkes Kota Dana Meningkatnya kegiatan pelatihan pengetahuan kesehatan Puskesmas seksi Operasional pengetahuan kepada petugas kepada petugas poli umum mengirimkan Farmakmin Puskesmas petugas kesehatan kesehatan anak dan petugas untuk kesehatan mengenai indikasi mengenai pustu melakukan mengenai pemberian obat indikasi pelatihan di indikasi khususnya pemberian obat Dinkes Kota pemberian obat antibiotik khususnya khususnya antibiotik Waktu: antibiotik sehingga 6 bulan sekali pengobatan ataupun 1 menjadi rasional tahun sekali .2 Tabel 6. 6.

3 Tabel 6. Terlaksana presentan yang mempresentasikan menguasai 100% akan memberikan materi pelatihan materi pelatihan dengan baik pelatihan dengan baik 3 Melakukan Meningkatnya Mengetahui Penggunaan . Adapun hasil monitoring didapatkan sebagai berikut: Untuk monitoring kegiatan dapat dilihat pada tabel 6. 41 6. Target lokakarya mini pengetahuan petugas indikasi obat di tercapai bulanan petugas kesehatan mengenai pemberian puskesmas program indikasi pemberian obat menjadi penggunaan obat obat khususnya rasional rasional tentang antibiotik kendala-kendala dalam pelaksanaan program penggunaan obat rasional seperti indikasi pemberian obat khususnya antibiotik .5 Monitoring dan Evaluasi 6.5. Monitoring dilakukan oleh tim pemecah masalah sesuai dengan waktu pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan.1 Monitoring kegiatan Kegiatan ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan yang telah dilaksanakan. Terlaksana pelatihan dan disusun pelatihan 100% sudah dibuat 2 Mempersiapkan Presentan mampu Terlaksana Presentan .3 Monitoring Kegiatan No Kegiatan Indikator Standar Hasil Selisih Ket 1 Membuat jadwal Jadwal sudah dibuat Terlaksana Jadwal .

4 Evaluasi kegiatan No Kegiatan Indikator Awal Akhir Efektivitas Ket 1 Melakukan Meningkatnya Penggunaan Penggunaan .4 Tabel 6. Format evaluasi dapat dilihat pada Tabel 6.5. 42 6.2 Evaluasi kegiatan Evaluasi kegiatan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan yang dilakukan dapat mecahkan masalah. Ada pelatihan pengetahuan obat di obat di Peningkatan petugas petugas puskesmas puskesmas kesehatan kesehatan belum rasional mengenai mengenai rasional indikasi indikasi pemberian pemberian obat obat khususnya khususnya antibiotik antibiotik .

4. Rencana usulan kegiatan pemecahan masalah yang terpilih dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang adalah diadakannya pelatihan petugas tentang indikasi pemberian obat. hampir setiap pasien ISPA. khususnya antibiotik . dan pembuatan panitia farmasi terapi yang fungsinya mengawasi dan menyempurnakan tentang kefarmasian di puskesmas. tidak tepat cara pemberian. Masalah yang diprioritaskan dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang berdasarkan tabel MCUA adalah pemberian antibiotik yang tidak tepat indikasi pemberian. Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang adalah tidak tepat indikasi pemberian. 3. Penyebab yang paling dominan adalah kurangnya pengetahuan petugas mengenai indikasi pemberian antibiotik. Faktor-faktor penyebab masalah dan penyebab masalah yang dominan dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang adalah beberapa pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan bukan dokter.1 Kesimpulan Dari hasil analisis penulis menyimpulkan : 1. kurangnya pengetahuan petugas mengenai indikasi pemberian antibiotik. membuat daftar formularium pengobatan. diare mendapatkan pengobatan antibiotik dan pasien yang datang dengan banyak keluhan. Alternatif pemecahan masalah dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang adalah Pelatihan mengenai indikasi dan cara pemberian obat antibiotik. 5. 43 BAB VII PENUTUP 5. mempelajari buku pedoman pemberian antibiotik. polifarmasi dan informasi yang diberikan kepada pasien mengenai cara pemberian obat masih kurang 2.

Melalui monitoring dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan petugas kesehatan mengenai cara pemberian dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik 7. Sebaiknya di puskesmas ada petugas apoteker yang mampu mengawasi dan menyempurnakan tentang kefarmasian di puskesmas. 4. 44 6. . maka : 1. 7. 3. Perlu dibuat panitia farmasi terapi yang fungsinya mengawasi dan menyempurnakan tentang kefarmasian di puskesmas. Sebaiknya pemeriksaan dan penulisan resep dilakukan oleh dokter 2.2 Saran Guna kelancaran dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional serta untuk mengatasi permasalahan yang ada. Dari evaluasi diharapkan penggunaan obat di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang menjadi rasional. Perlu dilakukan pelatihan petugas mengenai cara dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik agar tidak terjadi resistensi obat.

Roden. DR. Catatan register anak <5 tahun. Peresepan Rasional dan Penulisan resep dalam Betram G Katzung. Jakarta:EGC. Jakarta. 14. (2005). Medicines: rational use of medicines. S (2004).596-612 2. 10. Suyatna. (2002). Puskesmas Inpres 5/74 tanjung pinang.VII/71 tentang peraturan wajib daftar obat 9. 44-9.who. 2007.2012. 7. Gan. Setiabudi. Jakarta:EGC. Informasi obat spesialit Indonesia Volume 47. …. 12.. Farmakologi dasar dan klinis. Lauralea Edwards dan M. WHO. Setiawati. Jakarta. Geneva 4. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Br J Clin Pharmac 1995. Direktorat jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional. Dasar Farmakologi Terapi Volume 2 Edisi 10. 45 DAFTAR PUSTAKA 1.int/mediacentre/factsheets/fs338/en/ diunduh februari 2014 6. Promoting rational prescribing. Promoting rational use of medicines saves lives and money. World Health Organization. R.. Prof. …………. 2007. Paul W lotholm dan Betram G Katzung. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no 125/kab/B. 2010.39. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap FKUI. Hal.html) diunduh Februari 2014 15. Nomor 189/Menkes/SK/III/2006 tentang kebijakan obat nasional 3.. Hal 1010-18 13.who. Prinsio-prinsip penulisan order resep dan kepetuhan pasien dalam Goodman dan Gilman. Journal of Medicine Indonesia. Pengantar Farmakologi dalam Farmakologi dan Terap Edisi 5.int/mediacentre/news/notes/2004/np9/en/index. Munaf. Hogerzeil HV (1995). …………. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Antibiotic prescription Practices in Six Health Centers in South Sumatra. Direktorat jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional. Penggunaan Obat Rasional. Dalam http://www.A. 11.2008. Jakarta: Departemen farmakologi dan teraupetik fakultas kedokteran universitas Indonesia. Hal 1-29 8. (http://www. Promoting Rational Use of Medicine: Core Components. Jakarta: PT ISFI Penerbitan. SpFK.1998. Rianto Setiabudi.1-6 5. Hal 1869-81 14. an international perspective. puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang pada bulan November 2013-Januari 2014 .S. 2006.