You are on page 1of 2

Suasana siang sangatlah bahagia.

Burung berkicau merdu, kendaraan bersatu padu di
jalan raya, semua makhluk hidup menjalankan aktivitasnya dengan lancar. Matahari
bersinar terang, awan menghiasi langit yang biru, kupu-kupu terbang mengitari bunga
beraroma harum dan berwarna indah. Hari ini, cuaca cerah begitu pula suasana hati
semua makhluk hidup.

Padang rumput yang luas, sangatlah asri berwarna hijau muda. Tidak ada rumput yang
layu, semuanya menampakkan kebahagiaan yang berseri-seri. Beralaskan tanah berwarna
kecolekatan, gadis manis melangkah lunglai menuju arah yang tidak pasti.

Aku memperhatikan sekilas, sehingga aku tertarik untuk mengikutinya. Gadis itu
berambut panjang berwarna kecokelatan yang berkilau. Jika dipandang, dia adalah
gadis yang cantik. Kulitnya berwarna putih dan bersih, jika disentuh pasti lembut.
Namun, aku memandangnya kejauhan di sisi samping.

Wajahnya redup, matanya memerah. Rambutnya acak-acakan, tidak ada sunggingan senyum
yang menghiasi wajah mungilnya. Mengapa gadis cantik itu tampak berbeda? Tampak
berbeda dari makhluk hidup lainnya yang dengan riang bahagia menjalankan aktivitas
biasa. Aku terus mengikutinya, sehingga ia berhenti di sebuah pohon beringin yang
besar.

Aku menghentikan langkah kakiku tepat di sebelah gadis itu, masih seperti tadi
wajahnya mendung. Berbeda 360 derajat dari cuaca hari ini.
�Ada apa dengan dirimu, gadis cantik?� tanyaku membelai rambutnya, berusaha menjadi
ayah dari gadis itu. Aku ingin gadis itu menceritakan kisah dari hidupnya yang
menjadikan alasan sehingga wajahnya dapat redup seperti itu.
�Aku menanti datangnya hujan� ujarnya berusaha sedatar mungkin. Walau aku tahu,
gadis kecil itu akan segera mengalirkan air mata dari pelupuk matanya.

Sejenak, ia terdiam memandang langit yang cerah. Ia tidak mengeluarkan sepatah
kata, wajahnya datar. Namun, matanya menunjukkan makna yang dalam. Aku kembali
membelai rambutnya. Aku tersenyum memandang gadis mungil yang tergolong cantik itu.

�Mengapa? Ceritakan padaku apa yang terjadi. Mungkin, aku bisa memberi solusinya.
Jangan malu-malu, sayang,� tuturku lemah lembut. Gadis itu tidak banyak bicara,
namun aku menganggapnya sebagai anak sendiri.
�Karena aku akan malu jika aku meneteskan air mata ditengah cuaca yang cerah ini.
Mereka akan memandangku, jika hujan turun maka aku bisa menumpahkan semua isi
hatiku tanpa ada yang melihat,� aku menghela napas dan kembali melontarkan senyum.
Dia juga tergolong gadis yang pandai dan tahu artinya malu.

Walau dia tidak ingin mencurahkan isi hatinya padaku, aku tahu dia sedang mengalami
masalah yang berat. Namun, bebannya tidak dia tumpahkan dari hati kecilnya saat
semua riang bahagia. Jika dia anakku, aku akan bangga padanya.

Selang berapa waktu kemudian, doanya terkabul. Aku menatap langit yang kini
mendung, matahari tidak berani menampakkan dirinya. Dia bersembunyi di dalam awan
hitam yang bertumpuk-tumpuk. Angin mulai berhembus kencang, aku memandang gadis
itu. Matanya berkaca-kaca. Aku menepuk pundak mungilnya.

�Kau bisa menangis sepuasnya,� bisikku memberi bantal kecil padanya. Ia terdiam
tanpa menampakkan senyum. Perlahan, wajahnya tidak terlihat lagi setelah ia
menutupi wajahnya dengan bantal kecil pemberianku. Mereka menganggap gadis kecil
ini sedang tidur, namun sebenarnya ia sedang asyik menumpahkan isi hatinya.

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Facebook: Tita Larasati

.Seorang gadis kelahiran tahun 2005.