You are on page 1of 45

FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE

KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO

LAPORAN PENDAHULUAN

3.1. TAHAPAN PENYUSUNAN MASTERPLAN DARIANSE

3.1.1. Konsep Penyusunan Masterplan Drainase

Konsep yang digunakan dalam penyusunan Masterplan Drainase Kota Ba’a
adalah konsep integrasi dari pembangunan berkelanjutan, atau sering disebut
sebagai Eco-drainage. Berdasarkan prinsip ini, pengembangan drainase tidak
hanya berfungsi untuk mengalirkan air hujan, tetapi dapat juga memberikan
kontribusi terhadap aspek sosial, ekonomi, dan fisik lingkungan. Manfaat
pengembangan Eco-drainage disamping penanggulangan banjir adalah:

a. Meningkatkan kualitas air baku
b. Menambah imbuhan air tanah
III-1

FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE
KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO

LAPORAN PENDAHULUAN

c. Mengembangkan tempat rekreasi
d. Menunjang kegiatan perekonomian, dan
e. Memberikan evaluasi terhadap penerapan Rencana Tata Ruang.

Manajemen drainase yang sifatnya konvensional pada umumnya berbentuk
conveance (saluran), sedangkan bentuk-bentuk manajemen drainase yang
menganut prinsip Eco-drainage adalah:

1. Detention (penghambat Aliran)

Detention bertujuan untuk memperlambat aliran permukaan. Fasilitas dasar
untuk suatu detention adalah reservoir penyimpanan dengan outlet yang
terbatas. Infrastruktur ini bertujuan mengendalikan banjir di hilir dan
mengurangi erosi dengan cara memperlambat laju aliran. Detention dapat
menekan terjadinya banjir apabila infrastruktur ini diterapkan dengan benar
pada DAS. Detention pada dasarnya tidak dapat mengatasi persoalan
lingkungan, seperti kualitas air ataupun penambahan imbuhan air tanah.

2. Extended Detention (Penghambat Aliran Berberntuk Memanjang)

Extended Detention berperan dalam memperbaiki kualitas air. Selama air
masih di dalam kolam-kolam penampungan, partikel-partikel terlarut akan
mengendap dan bahan-bahan kimia akan terserap oleh sedimen-sedimen
di bawah permukaan kolam. Struktur yang diperlukan akan lebih besar
dibandingkan dengan struktur yang hanya digunakan untuk pengendalian
banjir. Struktur ini hanya dapat mengendalikan banjir dan memperbaiki
kualitas aliran permukaan, namun demikian tidak dapat mengatasi
persoalan konservasi air.

3. Infiltration (Peresapan)

Infiltration adalah mengalirkan air ke dalam tanah, sehingga air tidak lagi
mengalir secara horisontal di atas permukaan tanah, tetapi secara vertikal
ke dalam tanah. Infiltration pada dasarnya berbeda dengan
conveyance,detention, dan extended detention, karena infiltration mengalir
ke lingkungan yang berbeda. Infiltration akan mengatasi persoalan banjir,
erosi, kualitas air, meningkatkan imbuhan air tanah, dan penyediaan air

III-2

FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE
KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO

LAPORAN PENDAHULUAN

bersih. Infiltration pada dasarnya dapat terjadi pada semua permukaan yang
porous dan ditumbuhi oleh tumbuhan.

4. Water Harvesting (Pemanfaatan Air)

Water harvesting adalah menangkap dan menggunakan air hujan secara
langsung. Dalam aplikasinya, air hujan ditampung dalam kolam-kolam
penampungan. Pada musim hujan, bila air hujan yang harus ditampung
melebihi kapasitas kolam, air ini akan dialirkan melalui outlet.

Pemilihan bentuk manajemen drainase yang tepat akan sangat tergantung
pada karakteristik persoalan di wilayah kajian. Oleh karenanya pemilihan
bentuk manajemen drainase yang tepat seharusnya didasarkan kepada
kriteria-kriteria sosial, ekonomi, dan fisik lingkungan, serta visi dan misi wilayah
kajian.

3.1.2. Tahapan Pengembangan Sistem Drainase Secara Terpadu Berwawasan
Lingkungan (Eco-drainage)

Proses pengembangan sistem pengelolaan drainase secara terpadu
berwawasan lingkungan (Eco-drainage) meliputi beberapa tahapan kegiatan
yaitu:

1. Perencanaan sistem Eco-drainage
2. Pelaksanaan sistem Eco-drainage
3. Operasional dan pemeliharaan (O&P) sistem Eco-drainage
4. Sosialisasi dan penguatan peran serta masyarakat dan swasta
5. Pengendalian pelaksanaan kegiatan Eco-drainage
6. Monitoring dan evaluasi

3.1.2.1. Perencanaan Sistem Eco-drainage

Perencanaan pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan
(Eco-drainage) merupakan tahapan awal pengelolaan sebagai upaya untuk
menyusun rencana detail dan usulan program investasi yang komprehensif,

III-3

FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE
KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO

LAPORAN PENDAHULUAN

berdasarkan kajian dari berbagai aspek sebagai acuan dalam penyelenggaraan
pengelolaan sistem.

Perencanaan sistem Eco-drainage dimaksudkan untuk memaksimalkan segala
upaya dan potensi di kawasan/lokasi sehingga rencana pengelolaan drainase
secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage) dapat terlaksana
secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

Kegiatan perencanaan sistem Eco-drainage meliputi:

a) Identifikasi Masalah dan Penetapan Kawasan/Lokasi Prioritas ditangani.
b) Penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) dan Penyusunan
Program Investasi.
c) Penyusunan Studi Pemberdayaan dan Pengelolaan Sampah Terpadu
(3R).
d) Penyusunan Studi Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS).
e) Penyusunan Perencanaan Teknis (Detail Engineering Design) untuk:
1. Saringan Sampah dan bangunan pelengkapnya
2. Unit perangkap dan pengolahan sedimen
3. Unit pengolahan air limbah dan bangunan pelengkapnya.
f) Penyusunan Dokumen Usaha Pengelolaan Lingkungan (UKL/UPL).

3.1.2.2. Pelaksanaan Sistem Eco-drainage

Pelaksanaan sistem Eco-drainage meliputi beberapa tahapan yaitu:

(a) Pengorganisasian,
(b) Tahap Pelaksanaan,
(c) Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa, dan
(d) Pelaksanaan Kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle)

3.1.2.3. Pengorganisasian

Penyelenggaraan pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan
lingkungan (Eco-drainage) melibatkan instansi terkait di pusat dan daerah serta
masyarakat di kawasan / lokasi dalam suatu daerah aliran sungai yang akan

III-4

III-5 . pemeliharaan dan perawatan. Pengadaan jasa adalah adalah jasa konsultansi dalam pekerjaan pengawasan dan sosialisasi. Pengadaaan barang dalam hal ini seperti pengadaan pompa banjir. pengelolaan air limbah domestik dan pengelolaan hujan integratif yang dapat mengembangkan pengelolaan drainase. Pengadaan barang terkait dengan kebutuhan barang mekanikal dan elektrikal dan perangkat dalam sistem informasi seperti perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). sarana komposting. 3. 3.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN ditangani. Tahap Pelaksanaan Secara garis besar kegiatan pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage) terbagi dalam dua kegiatan pokok yaitu: 1) Kegiatan yang bersifat fisik. 2) Kegiatan yang bersifat non fisik.2. Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa merupakan rencana pengadaan barang dan jasa yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Eco- drainage). Diharapkan sejak tahap awal perlu segera dilaksanakan pengorganisasian agar jalannya kegiatan dapat berlangsung secara efisien dan efektif mencapai hasil yang optimal. Kegiatan fisik yang berupa pembangunan prasarana dan sarana.2.1.2.4.5.6. Kegiatan non fisik dapat berupa kegiatan sosialisasi 3R.1. 3. Pelaksanaan dan Pengembangan Kegiatan 3R dan Sanitasi berbasis Masyarakat (SANIMAS). sistem pengolahan data dan informasi. pengadaan barang (M&E). daur ulang dan pengangkut sampah.1.

dikontrol dan dievaluasi bersama masyarakat. misalnya penanganan sampah dengan reduksi sampah dari sumbernya merupakan langkah yang paling efektif dalam mengurangi timbulan sampah yang akan dibuang ke TPA (tertangani) maupun sampah yang potensial dibuang ke sungai / saluran / waduk dan atau prasarana dan sarana lainnya.2. III-6 .FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Pelaksanaan konstruksi fisik merupakan perwujudan fisik dari rencana yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Eco-drainage).1.8. maka pengelolaan pasca pembangunan pada dasarnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota/Kabupaten. kekuatan) utama dalam pengelolaan sampah adalah masyarakat. 3.Operasinal dan Pemeliharaan (O&P) Sistem Eco-drainage Fasilitas kegiatan fisik dan bantek pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage) dari Pemerintah Pusat hanya merupakan stimulan dari Pemerintah Pusat (Direktorat PLP – Ditjen Cipta Karya) yang selanjutnya setelah diserah terimakan kepada Pemerintah Kota/Kabupaten. Sosialisasi dan Penguatan Peran Serta Masyarakat dan Swasta Dalam penerapan konsep pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan.7. Pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat adalah suatu pendekatan pengelolaan sampah yang didasarkan pada kebutuhan dan permintaan masyarakat. direncanakan. dilaksanakan.2. Dalam pengertian ini pemeran (penguasa. Reuse & Reduce) yang didasari oleh pendekatan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. Konsep yang dapat dikembangkan adalah dengan pengelolaan sampah berdasarkan pendekatan 3R (Recycle. 3.1. Pemerintah dan lembaga lainnya hanyalah sebagai motivator dan fasilitator.

Pengendalian Pelaksanaan Kegiatan Eco-drainage Pengendalian adalah segala tindakan yang dilakukan dalam pengorganisasian pengelolaan drainase untuk meningkatkan kemungkinan tercapainya maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Meyakinkan terlaksananya tujuan yang telah ditetapkan.2. pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan ecodrain. dan 3. dan semuanya sejalan dengan peraturan dan perundang-undangan yang mengikat kegiatan. prosedur. kebijakan. detektif (untuk menemukan dan memperbaiki sesuatu hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi). 2. Pengendalian pelaksanaan dilakukan oleh Satuan Kerja Pengembangan PLP tingkat provinsi dan atau dinas teknis setempat atau unit pengelola teknis/UPT/badan tertentu sesuai kewenangan yang ditetapkan oleh kelembagaan pemrakarsa kegiatan ecodrain atau dapat ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan para pemangku kepentingan. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kegiatan.1. Tiga tujuan umum pengendalian kegiatan Eco-drainage adalah untuk: 1. yakni memulihkan/meningkatkan kualitas aliran saluran drainase/sungai perkotaan dari pencemaran yang diakibatkan oleh sampah dan air limbah rumah tangga dan memandu pengelolaan drainase secara terpadu agar berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Studi kelayakan dan Bantuan Teknis (Bantek) merupakan alat kendali pelaksanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage). atau direktif (untuk menimbulkan atau mendorong terjadinya sesuatu yang diinginkan). Kegiatan pengendalian dilaksanakan pada setiap tahapan pelaksanaan sejak tahap perencanaan.9.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 3.2.1. termasuk apa yang digariskan dalam rencana. 3.10. pengorganisasian. Menjamin pelaksanaan kegiatan berdasarkan dokumen perencanaan dan studi. Monitoring dan Evaluasi III-7 . Tindakan pengendalian dapat bersifat preventif (untuk menghindarkan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan).

Strategi pengembangan konsep Eco-drainage meliputi: III-8 . Tujuan dari sistem monitoring dan evaluasi adalah sebagai berikut: 1. 3. 4. Mengendalikan kinerja pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco- drainage). 5. Memantau/memonitor perkembangan pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage). Strategi Pengembangan Sistem Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Eco-drainage) Dalam pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage) diperlukan strategi dalam implementasi dan pengembangannya. Memberikan bahan masukan untuk persiapan pelaksanaan kegiatan dan pengembangan program pada tahun berikutnya. Memberikan informasi yang lengkap yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan program pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage). 2. 3.3. pelaksanaan sampai dengan pemanfaatnannya di lapangan.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Sistem monitoring dan evaluasi kegiatan Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Eco-drainage) perlu dilakukan untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan mulai dari tahap persiapan dan perencanaan. Sistem di atas perlu dilengkapi dengan sistem informasi yang terencana sebagai bahan masukan bagi upaya Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Eco-drainage) pada lokasi/kawasan lainnya. Memberikan bahan untuk kelengkapan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco-drainage).1.

kegiatan pengelolaan di skala kawasan merupakan bagian dari pendekatan preventif. penanganan masalah drainase yang paling efektif adalah pada skala kawasan yang merupakan bagian dari suatu DAS. Strategi dengan lokasi pengumpulan kecil (tentunya dengan treatment sederhana). yang akhirnya akan lebih ekonomis. secara gravitasi dan fisika tanah akan menyerap ke dalam tanah. akan menjaga kualitas air dengan biaya III-9 . Aplikasi strategi ini secara konsisten pada skala kawasan merupakan pendekatan manajemen hujan yang meminimalkan daerah kedap air (permukaan yang terbangun). Jika limpasan ini dikumpulkan pada pipa pembawa dan saluran yang panjang sebelum diolah. Strategi “end of pipe”. Jika lahan ditutupi oleh lapisan material kedap air seperti atap. b) Dimulai dari sumber. yang dilokasikan pada tempat pertemuan berbagai limpasan di bawah. mereduksi hubungan langsung antara daerah kedap air dengan sistem pengaliran drainase dan perencanaan diupayakan agar dapat menyerupai seperti kondisi alamiah. Ketika hujan turun ke suatu lahan. beton. berulang secara konsisten pada seluruh proyek. Strategi dimulai dari sumber Konsep strategi dimulai dari sumber yang menimbulkan masalah drainase merupakan strategi pengembangan yang bersifat preventif. Terkait dengan penyelenggaraan Eco-drainage. sepanjang jalan akan banyak kemungkinan dimana kualitas air akan menurun. lebih estetika dan secara teknis lebih baik.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 1. aspal. aliran hujan ini akan mencari permukaan yang lebih rendah berkumpul dengan aliran hujan lainnya menciptakan limpasan. seperti pembuatan retention ponds yang besar akan lebih kompleks dan membutuhkan biaya yang sangat besar dibandingkan strategi yang dimulai dari sumber. Konsep ini didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Bahwasanya setiap kawasan merupakan bagian dari suatu Daerah Aliran Sungai.

pengelolaan hujan lebih fokus secara eksklusif pada pengendalian banjir (pengendalian hujan lebat). Dengan pengelolaan hujan ringan (yang ternyata frekuensinya tinggi) akan memberi kontribusi yang lebih besar dalam pemulihan pencemaran air.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN yang lebih rendah. menjadi sangat banyak dalam total limpasan (debit) sepanjang waktu. karena frekuensinya dan kumulatif dampaknya. perencana akan mempertimbangkan hujan ringan. Volume hujan dengan intensitas ringan teruslah meningkat. III-10 . kawasan) maka: 1) Akan lebih murah dan minimal dalam pemeliharaan. d) Sederhana tapi efektif. 4) Tingkat ekonomis akan lebih tinggi. bila pengelolaan kualitas air hujan dilakukan pada sumber dari limpasan. hujan ringan dapat mencapai 80% dari curah hujan total tahunan. Dengan kewaspadaan betapa pentingnya penanganan hujan ringan bagi kegiatan perlindungan kualitas air. jika limpasan kemudian dialirkan sampai pada suatu lokasi kemudian dilakukan pengolahan 2) Biaya dan pemeliharaan akan meningkat. Dimasa lalu. hujan ringan. Dalam perancangan hanya ditujukan untuk perlindungan terhadap banjir dan melalaikan aliran hujan ringan dengan segala dampaknya. Dengan mentargetkan pada pengelolaan hujan ringan. sama seperti hujan lebat yang tidak sering terjadi. berarti ukuran hujan berulang-ulang sekali setiap dua tahun lebih meningkat frekuensinya. curah hujan dapat dikelola untuk kualitas air melalui suatu sistem pengolahan air yang yang relatif lebih kecil. Di daerah hilir seperti kawasan pesisir dan teluk. jika limpasan dialirkan langsung sampai ke lokasi pembuangan untuk kemudian diolah 3) Biaya untuk pengolahan akan sangat tinggi dan lebih membutuhkan pemeliharaan yang intensif. jika limpasan dialirkan langsung sampai ke lokasi pembuangan untuk kemudian diolah. Jika limpasan diserapkan atau ditahan pada sumber (lahan. Karena frekuensinya. c) Hujan Ringan perlu menjadi Perhatian.

Jalan kecil dapat diletakan disamping parit alamiah. suatu lansekap kawasan. jika terdapat parit alamiah dapat juga digunakan sebagai kolam detensi sementara.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Karena dalam banyak pengelolaan hujan (saluran drainase) secara umum lebih fokus kepada masalah yang lebih kompleks. Parit alamiah (tumbuhan) dapat ditanami dengan berbagai vegetasi pinggir sungai. 2. yang mana disitu rawan terjadi pencemaran air. e) Pendekatan secara terpadu. tetapi menjadi suatu kolam resapan dangkal diwaktu musim hujan. menciptakan sabuk hijau yang menarik yang mencerminkan bentuk lahan yang alami. Hingga kini solusi sederhana hanya bisa menjadi efektif bilamana harus melalui analisis rekayasa (hidraulik) yang lebih teliti dari pendekatan yang kompleks. Sistem pengelolaan hujan (saluran drainase) dapat menjadi salah satu elemen organisasi dalam perencanaan (tata ruang) dan desain. lebih baik dari proses mekanis atau buatan manusia lainnya dalam pengelolaan hujan. solusi sederhana kelihatan sekilas kurang efektif. kecil. Bertindak berdasarkan prioritas Prioritas penanganan agar difokuskan dalam menangani suatu kawasan/ruas/ segmen sungai. saluran drainase dan atau badan air lainnya. Suatu area yang berpasir dapat bertindak sebagai suatu tempat bermain anak-anak di musim kemarau. dan daerah-daerah retensi dapat diintegrasikan kedalam suatu lokasi perencanaan yang dapat mengembangkan estetika kawasan dan disiapkan sebagai sumberdaya bagi kegiatan rekreasi. Selain kawasan/ruas/segmen tersebut terjadi tekanan terhadap perubahan tata guna lahan dengan cepat (kepadatan penduduk dan III-11 . banjir dan genangan. Sebagai contoh. sistem yang lebih besar. Daerah resapan. sampah perairan. Perbedaannya adalah bahwa sistem yang sederhana secara umum menggunakan teknologi material yang sederhana dan menggunakan material alamiah yang menyatu dengan lanskap kawasan. drainage swales.

dari pencegahan sebelum terjadi pencemaran air dan penumpukan sampah perairan (prevention). 3. dan memiliki nilai sumber daya ekologi yang tinggi. Tahapan tersebut berada dalam suatu siklus kegiatan penanggulangan bencana Bilamana telah terjadi kondisi darurat bencana pencemaran air. sedimen dan sampah sungai maka strategi penanganan (intervensi dan responsif) adalah dimulai dari (segmen) hilir yang secara bertahap bersamaan dengan adanya pemulihan kualitas air menuju ke (segmen) lebih hulu. Denpasar dan Badung merupakan bagian dari proses ujicoba solusi penanganan saluran drainase III-12 .FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN bangunan yang tinggi). terdapat permasalahan pencemaran air. sampah sungai dan banjir yang tidak tertangani. Pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (Eco- drainage) dilakukan secara bertahap. 7 Tentang Sumber Daya Air Tahun 2004. Ujicoba solusi dan menghemat biaya dengan manajemen pengelolaan adaptif dan berkelanjutan Pelaksanaan kegiatan proyek percontohan kegiatan Eco-drainage yang diujicobakan di Kota Bandung. dan pemulihan setelah terjadi pencemaran air dan penumpukan sampah perairan (recovery). Sehingga strategi pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan Drainase adalah strategi pendekatan manajemen bencana (Disaster Management) yang bersifat menyeluruh dan terpadu. Penetapan prioritas penanganan adalah berdasarkan hasil penilaian dengan menggunakan perangkat penilaian (scoring tools). Pendekatan manajemen bencana Kondisi banjir dan pencemaran air akibat sampah dan limbah cair perkotaan yang masuk ke saluran drainase dapat digolongkan sebagai kondisi bencana sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. penanganan saat pencemaran air dan penumpukan sampah perairan (response/intervention). Surabaya. 4.

3. Sebaliknya genangan air didataran. Diharapkan dari berbagai permasalahan. Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi: a. B.1. Topografi miring mempercepat terjadinya proses erosi air. pengendalian pelaksanaan dan monitoring evaluasi kegiatan Eco-drainage di kota-kota tersebut dapat menjadi suatu pembelajaran (lesson learned) bagi pelaksanaan kegiatan serupa dikota lain. Konsep Penyusunan Masterplan Drainase Kota Ba’a Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Eco-drainage) 1.4. Aplikasi berbagai teknologi dan solusi permasalahan kegiatan ecodrain selanjutnya agar tidak hanya efektif tetapi juga efisien secara waktu dan pembiayaan dalam suatu konsep pengelolaan yang fleksibel dan adaptif dengan kondisi dan karakteristik permasalahan yang ditemui. pengaruh iklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah. panjang lereng bentuk lereng.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN secara terpadu berwawasan lingkungan. sehingga membatasi kedalaman solum tanah. Tebal atau tipisnya lapisan tanah III-13 . pelaksanaan. kendala dan keberhasilan sejak proses perencanaan. dalam waktu lama atau sepanjang tahun. Pengertian Topografi Topografi (relief) adalah bentuk permukaan suatu satuan lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitudo) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Topografi A. Pengaruh Topografi terhadap Pembentukan Tanah Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. arah lerang. Sedang Topografi secara kualitatif adalah bentuk bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat). Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil dari pada tanah yang berombak.

b. Topografi mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 Cara :  Jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan oleh massa tanah  kedalaman air tanah  besarnya erosi yang dapat terjadi  arah pergerakan air yg membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah Relief atau topografi adalah merupakan faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah yang pengaruhnya dapat dibedakan sebagai berikut : Pengaruh relief atau topografi secara langsung terhadap pelapukan adalah :  Posisi singkapan batuan (out crops) terhadap matahari  Posisi permukaan tanah terhadap penyinaran dan curah hujan Sehingga dengan demikian komponen relief dan topografi yang menimbulkan efek terhadap pembentukan tanah adalah :  Beda tinggi permukaan lahan (amplitude)  Bentuk permukaan lahan  Derajat kelerengan  Panjang lereng  Arah lereng  Bentuk punggung lereng Semua komponen relief atau topografi tersebut bersama elemen iklim secara tak langsung berkorelasi terhadap:  Pelapukan fisik dan kimiawi batuan III-14 . Sistem drainase/pengaliran Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi. sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.

derajat kelerengan. Sungai dan saluran merupakan alur tempat mengalirnya air dibidang permukaan tanah atau dibawah permukaan tanah. Drainase Makro / Sungai Sistem drainase makro adalah alur di permukaan tanah tempat mengalirnya aliran permukaan yang mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS). Drainase makro mengalirkan sebagian air sebagai aliran dasar (base flow) dari kumpulan mata air di dalam DAS-nya mulai dari daerah pegunungan sampai ke pantai (laut).  Satuan tanah. sangat dipengaruhi oleh relief atau topografi  Tingkat erodibilitas tanah. Aliran sungai terjadi karena peristiwa alam dimana aliran air mengalir sesuai denga morfologinya dan secara umum alirannya adalah aliran unsteady flow (aliran yang tidak tetap) Sedangkan saluran adalah alur tempat aliran air III-15 . dan panjang lereng maka semakin besar tingkat erodilitas tanah .FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN  Transportasi (erosi) bahan terlapuk di permukaan tanah  Translokasi (pemindahaan secara gravitasi) atau eluviasi dan podsolisasi  Deposisi dan sedimentasi atau illuviasi (penimbunan) Dengan demikian efek langsung relief dan topografi terhadap tanah adalah pada :  Tebal daging ( solum) tanah. jenis tanah yang perbedaannya ditentukan oleh regim kelembaban dan kelas drainase serta penciri oksida reduksi. Semakin besar selisih tinggi.  Drainase tanah. 2. tanah di daerah lembah atau cekungan akan lebih jelek atau lambat dan sebaliknya untuk daerah-daerah berlereng lebih cepat atau baik. hamparan permukaan bumi yang dialiri oleh sungai yang ditetapkan dengan peraturan disebut sebagai Satuan Wilayah Sungai. yang mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke muara laut. solum tanah pada daerah lembah dan dataran akan lebih tebal dibandingkan solum tanah yang terdapat di puncak bukit atau lereng terjal.

Batas DAS adalah punggung perbukitan yang membagi satu DAS dengan DAS lainnya (Gambar 3. tetapi dapat digambarkan pada peta. Daerah Aliran Sungai (DAS) Suatu “daerah aliran sungai” atau DAS adalah sebidang lahan yang menampung air hujan dan mengalirkannya menuju parit. Istilah yang juga umum digunakan untuk DAS adalah daerah tangkapan air (DTA) atau catchment atau watershed. Gambar 3. 3. sungai dan akhirnya bermuara ke danau atau laut.1). Karena air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah sepanjang lereng maka garis batas sebuah DAS adalah punggung bukit sekeliling sebuah sungai.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN yang sengaja dibuat oleh manusia.1 Skema Daerah Aliran Sungai (DAS). secara umum alirannya adalah aliran steady flow (aliran tetap). Garis batas DAS tersebut merupakan garis khayal yang tidak bisa dilihat. III-16 .

selanjutnya akan membentuk pola . Ekosistem tengah sebagai daerah distributor dan pengatur air.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Batas DAS kebanyakan tidak sama dengan batas wilayah administrasi. Sebidang lahan dapat dianggap sebagai DAS jika ada suatu titik penyalur aliran air keluar dari DAS tersebut. Pola Aliran Kegiatan erosi dan tektonik yang menghasilkan bentuk . sedangkan ekosistem hilir merupakan pemakai air. tengah dan hilir. Ekosistem bagian hulu merupakan daerah tangkapan air utama dan pengatur aliran. Di dalam DAS terintegrasi berbagai faktor yang dapat mengarah kepada kelestarian atau degradasi tergantung bagaimana suatu DAS dikelola. Ukurannya mungkin bervariasi dari beberapa hektar sampai ribuan hektar. DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen yaitu: bagian hulu. Akibatnya sebuah DAS bisa berada pada lebih dari satu wilayah administrasi.pola tertentu yang III-17 .bentuk lembah sebagai tempat pengaliran air. merupakan daerah tangkapan air dari anak sungai. Parit tersebut kemungkinan mempunyai aliran selama dan sesaat sesudah hujan turun (intermitten flow) atau ada pula yang aliran airnya sepanjang tahun (perennial flow). Sebuah DAS yang menjadi bagian dari DAS yang lebih besar dinamakan sub DAS. 4. Tidak ada ukuran baku (definitif) suatu DAS. DAS Mikro atau tampungan mikro (micro catchment) adalah suatu cekungan pada bentang lahan yang airnya mengalir pada suatu parit. Hubungan antara ekosistem-ekosistem ini menjadikan DAS sebagai satu kesatuan hidrologis.

Sistem pengaliran yang berkembang pada permukaan bumi secara regional dikontrol oleh kemiringan lereng. arah dan bentuk perlipatan. Perubahan (modifikasi) pola dasar adalah salah satu perbedaan yang dibuat dari pola dasar setempat. Howard (1967) membedakan pola pengaliran menjadi pola pengaliran dasar dan pola pengaliran modifikasi. jenis dan kerapatan vegetasi serta kondisi iklim. 3. struktur geologi kondisi erosi dan sejarah bentuk bumi. struktur geologi. Pola pengaliran pada batuan yang berlapis sangat tergantung pada jenis. struktur geologi dan erosi. kekerasan batuan. Hubungan pola dasar dan pola perubahan (modifikasi) dengan jenis batuan dan struktur geologi sangat erat. alur pengaliran tetap pengali. tetapi tidak menutup kemungkinan dapat ditambah atau dikurangi. Percabangan . Pola pengaliran sangat mudah dikenal dari peta topografi atau foto udara. terutama pada skala yang besar. kekar. sedangkan pada skala menengah akan menunjukkan pola yang menyeluruh sebagai cerminan jenis batuan. geomorfologi dan III-18 . Pola aliran sungai merupakan pola dari organisasi atau hubungan keruangan dari lembah-lembah. 2. struktur.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN disebut sebagai pola aliran.percabangan dan erosi yang kecil pada permukaan bumi akan tampak dengan jelas. Pola aliran sangat dipengaruhi dengan adanya lereng. sebaran. Pola dasar adalah salah satu sifat yang terbaca dan dapat dipisahkan dari pola dasar lainnya. Pola aliran ini sangat berhubungan dengan jenis batuan. sejarah diastrofisme. jenis dan ketebalan lapisan batuan. Pola pengaliran adalah kumpulan dari suatu jaringan pengaliran di suatu daerah yang dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh curah hujan. Biasanya pola pengaliran yang demikian disebut sebagai pola pengaliran permanen (tetap). ketebalan dan bidang perlapisan batuan serta geologi struktur seperti sesar. Definisi pola pengaliran yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. baik lembah yang kering atau tidak dialiri sungai maupun yang dialiri sungai.

Pola aliran dendritik yaitu pola alirannya seperti percabangan pohon.Pola aliran radial dapat dibedakan menjadi dua. geomorfologis dan struktur geologi. c. Pola aliran sentripetal merupakan ola aliran yang berlawanan dengan pola radial. yaitu :  Aliran sungai radial sentrifugal adalah pola aliran sungai dalam bentuk menjari yang arah alirannya meninggalkan titik pusat. Pola aliran sungai ini umumnya terdapat di daerah vulkanik atau puncak yang berbentuk kerucut. e. Macam – macam Pola aliaran sungai adalah : a. Pola aliran pararel yaitu pola aliran sungai dengan anak sungai utama saling sejajar atau hampir sejajar. Geometri dari pola aliran trellis adalah pola aliran yang menyerupai bentuk pagar yang umum dijumpai di perkebunan anggur. sehingga percabangannya tidak teratur dengan arah dan sudut yang beragam. Pola aliran sentripetal merupakan pola aliran yang umum dijumpai di bagian barat dan barat laut Amerika. di mana aliran sungaiPnya mengalir ke satu tempat yang berupa cekungan (depresi). d. Pola Aliran Radial Sentrifugal: merupakan arah aliran yang menjauhi/meninggalkan titik pusat. Sehingga pola aliran sangat berguna dalam interpretasi kenampakan batuan. namun dikontrol oleh kekar yang mempunyai dua arah dengan sudut saling tegak lurus.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN sejarah geologi dari daerah alairan sungai. mengingat sungai-sungai yang III-19 . Sungai utama dengan cabang-cabangnya membentuk sudut tegak lurus sehingga menyerupai bentuk pagar. f. Pola Aliran Rectangular adalah Pola Aliran yang pada umumnya berkembang pada batuan yang resistensi terhadap erosinya mendekati seragam.  Aliran sungai radial sentripetal adalah pola aliran sungai dalam bentuk menjari yang arah alirannya menuju ke titik pusat. Pola Aliran Radial adalah bentuk aliran sungainya mengalir ke segala arah dari satu titik. Pola aliran trellis dicirikan oleh sungai yang mengalir lurus di sepanjang lembah dengan cabang- cabangnya berasal dari lereng yang curam dari kedua sisinya. bermuara di sungai-sungai utama dengan sudut lancip atau terus bermuara ke laut. b. Pola aliran sungai ini umumnya terdapat di daerah ledokan/basin atau aliran sungai yang masuk ke danau.

TAHAPAN PENYUSUNAN MASTERPLAN DARIANSE KOTA BA’A BERWAWASAM RAMAH LINGKUGAN (EC0-DRAINAGE) 3. Dataran garam terbentuk ketika air danau mengering. Konsep pembagian Zonase merupakan penerapan one river (catchment area) one management yang dibagi berdasarkan kemiringan topografi. Skema Aliran Skema Aliran merupakan rancangan penyusunan sistem drainase dengan menentuan arah aliran. 6. 3. kawasan persawahan dan kawsan hilir/pantai. Pola aliran annular biasanya dijumpai pada morfologi kubah atau intrusi loccolith. Data spasial antara lain :  Studi-studi terkait. 5. elevasi.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN ada mengalir ke suatu cekungan. beda tinggi. beda tinggi dan kemiringan ditenkukan oleh kondisi topografi serta arah buangan ditentukan berdasarkan DAS menuju ke badan penerima. dimensi saluran ditentukan berdasarkan debit.2. Pola aliran annular adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu dan ke arah hilir aliran kembali bersatu. kawasan dataran permukiman. elevasi. g. Zonase Pembagian Zonase mengikuti pola aliran dari daerah aliran sungai yang mengaliri dari kawasan hulu perbukitan.1. III-20 . dimensi saluran. di mana pada musim basah cekungan menjadi danau dan mengering ketika musin kering. Arah aliran ditentukan berdasarkan pola aliran. kemiringan serta penentuan arah buangan yang ditentukan berdasarkan hasil analisis hidrolis.2. Mengumpulkan Data Data yang dikumpulkan antara lain adalah sebagai berikut : 1.

 Peta jaringan infrastruktur bawah tanah (air bersih.  Foto udara.  Lokasi genangan.  Data sedimentasi.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN  Data rencana pengembangan kota.  Peta jaringan drainase eksisting dan bangunan-bangunannya. saringan sampah).  Data genangan (tinggi genangan. 2. Data hidrologi antara lain :  Daerah pengaliran sungai atau saluran. Data hidrolika dan bangunan pelengkap antara lain :  Data dimensi saluran saluran (panjang. III-21 . stasiun pompa (jenis bangunan.  Data fasilitas pemanenan air hujan : kolam. dll. waduk. kapasitas). gorong-gorong. dll). lama genangan. biopori. listrik.  Peta topografi. kedalaman. dimensi. tahun dibangun.  Peta tata guna lahan. bioretensi. tahun dibangun.  Peta geologi.  Data stasiun klimatologi dan/atau stasiun penakar hujan.  Peta jenis tanah.  Data bangunan : pintu air. bahan. frekuensi kejadian).  Data debit sungai dan saluran. kabel telekomunikasi. 3. lebar.  Data pasang surut. box culvert. letak.  Peta arah aliran. kapasitas fungsi. kedalaman.  Penduduk dan kepadatan penduduk.  Peta air tanah (hidrogeologi). embung.  Data sumber air. atau citra satelit. sumur resapan.

2. Inventarisasi kondisi sistem drainase eksisting dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut : 1. Catat permasalahan utama yang terjadi pada masing-masing saluran. jika data tidak tersedia.  Data kerugian akibat genangan. menjadi sub-sub sistem daerah pengaliran. segmen saluran dan bangunan lainnya beserta foto kondisinya. 2. antara lain :  Gambar jaringan utilitas yang ada. 6. ukur dimensi saluran dan/atau segmen saluran. Hitung panjang saluran (dalam “m”) dan nama badan air penerimanya dari setiap saluran yang ada. 4. Inventarisir semua komponen sistem drainase. jaringan air PDAM. Lakukan cek lapangan untuk memastikan kondisi yang ada sesuai dengan data. 3. Data lain :  Harga bahan dan upah. 5. Analisis kondisi eksisting yaitu : III-22 . Buat peta pembagian sistem.2.3.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN  Kondisi badan air penerima (elevasi permukaan air tertingi. sungai. penyempitan) 4. sedimentasi. Data sarana dan prasarana kota lainnya. sub-sistem drainase berdasarkan peta topografi dan kondisi aktual di lapangan. jaringan telepon. jaringan pipa gas (kalau ada). serta bangunan lainnya.  Analisis harga satuan setempat.  Gambar rencana pengembangan jaringan utilitas tersebut di atas. jaringan listrik. baik saluran maupun bangunan pendukungnya. 5. 3. 3.2. Inventarisasi Kondisi Sistem Drainase Eksisting. Analisis Analisis yang dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut : 1. Susun besaran daerah pengaliran (catchment area dalam Ha) saluran.

Analisa solusi Dari peta genangan. dan bangunan pendukungnya. Apabila saluran existing lebih kecil dari rencana. point a). 2. dengan mengimplementasikan fasilitas pemanenan air hujan. d. sistem pompa hanya dipakai kalau tidak ada alternatif lain.3. Hitung debit rencana masing-masing saluran dan/atau segmen saluran dengan metode yang sesuai. Dalam penataan jaringan saluran drainase diusahakan sebanyak mungkin mengikuti pola eksisting dan alur alam. Bandingkan analisis pada point a) dengan kapasitas rencana (awal). kemudian dibuat beberapa alternatif pemecahan atau solusi dan akan dipilih satu alternatif yang paling efisien dan efektif. Tentukan rencana saluran sesuai topografi dan rencana tata guna lahan dan/atau tata ruang. Alternatif III-23 .FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN a. maka komponen sistem drainase yang bersangkutan masih aman. Tindakan yang dilakukan diarahkan untuk penurunan debit. c. segmen saluran. Kembangkan sistem gravitasi. Tentukan kala ulang pada masing-masing saluran dan/atau segmen saluran sesuai dengan klasifikasi kota dan orde saluran. Analisis kapasitas sistem drainase eksisting : kapasitas saluran. Apabila kapasitas saluran eksisting lebih besar atau sama dengan debit rencana. bagian 1. maka saluran yang ada dapat digunakan. b. baru dilakukan peningkatan kapasitas. Analisis hujan kawasan dan intensitas hujan sesuai dengan kala ulang yang diperlukan. untuk sistem pompa dan/atau sistem polder perlu dihitung hidrograf banjir. Jika dengan tindakan ini kapasitas saluran masih lebih kecil dari debit yang akan terjadi. jika kapasitas eksisting lebih besar atau sama dengan kapasitas awal. sebaliknya perlu dilakukan tindakan. b. maka saluran tersebut perlu ada tindakan. f. Analisis perbedaan antara kebutuhan (point d) dan kondisi yang ada (sub bab 3. 3. e. Analisis kebutuhan : a.

Buat urutan prioritas sub sistem drainase.2. Dari pola aliran sistem drainase seperti butir 1 di atas. lebar yang dibebaskan dikurangi lebar atas saluran yang ada. Debit masing-masing saluran dihitung pada saat menganalisis kebutuhan. Alternatif sistem yang dimaksud adalah beberapa alternatif yang diambil untuk memecahkan masalah genangan dalam satu lokasi. tergantung kebutuhan dan luas lahan yang dibebaskan. Tentukan luas lahan yang akan dibebaskan. Sebaiknya dalam perencanaan baru atau normalisasi digunakan penampang ekonomis. Menyusun Usulan Sistem Drainase Perkotaan Menyusun usulan sistem drainase perkotaan dilaksanakan dengan langkah- langkah sebagai berikut : 1. Dipilih alternatif yang paling efisien dan efektif untuk mengatasi genangan dalam lokasi tersebut demikian pula untuk lokasi genangan lainnya. sedangkan untuk pekerjaan rehabilitasi digunakan bentuk profil lama dengan dimensi yang berbeda. 3. 5. Tentukan debit rencana (m3/detik) dari masing-masing saluran. Rencanakan bentuk-bentuk penampang dan bangunan pelengkapnya pada masing-masing saluran. 4.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN itu yang dijadikan dasar untuk perencanaan detail dan penyusunan program tahunan. maka harga satuan besarnya ganti rugi dapat diperkirakan. Apabila lahan yang akan dibebaskan telah diketahui. 3. sehingga tak ada genangan untuk kala ulang tertentu disebut pola aliran sistem drainase kota. Jaringan drainase hasil alternatif dan jaringan drainase lainnya yang baik yang dapat mengatasi genangan dalam kota. Perkirakan besar biaya ganti rugi lahan. lebar lahan yang dibebaskan kali panjang saluran.4. lebar lahan yang dibebaskan tergantung dari lebar atas saluran. III-24 . kemudian di susun prioritas sub-sistemnya berdasarkan kebutuhan daerah masing-masing. 6. Untuk pekerjaan normalisasi. ditambah lebar tanggul apabila ada tanggul dan ditambah lebar jalan inspeksi di kiri kanan saluran. Untuk pekerjaan baru. 2. Susun pola aliran dan sistem drainase kota dengan alternatif sistem.

2. Urutkan jumlah nilai pada masing-masing sub sistem drainase atau komponen drainase dari nilai tertinggi ke nilai terendah.2. Dalam item pekerjaan pembangunan atau perbaikan harus dicantumkan sumber dana yang akan diinvestasikan.5. 3. 2. Harga satuan yang digunakan untuk biaya pembangunan atau perbaikan sistem drainase harus sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat pada tahun yang berjalan. Biasanya biaya operasi dan pemeliharaan diambil 10 % dari biaya pembangunannya. 2. Jumlahkan nilai semua parameter untuk masing-masing sub sistem drainase atau komponen drainase yang dinilai. kemudian disusun jangka waktu pelaksanaannya : jadwal tahunan. Menyusun Usulan Biaya Menyusun usulan biaya meliputi hal sebagai berikut : 1. Susun rencana sumber-sumber pembiayaan yang diharapkan. Nilai tertinggi menempati prioritas pertama dan nilai terendah menempati prioritas terakhir. jangka pendek 5 tahun. Pembiayaan Luar Negeri. Menyusun Usulan Prioritas Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun usulan prioritas sebagai berikut : 1. Pinjaman Luar Negeri/Loan dan Hibah. Hitung besaran biaya pembangunan yang dibutuhkan untuk seluruh pembangunan atau perbaikan sistem drainase yang diusulkan sesuai tahapan. APBD. menengah 10 tahun dan jangka panjang 25 tahun. III-25 . Susun kegiatan berdasarkan hasil penilaian pada point 2) menjadi tahapan mendesak (5 tahun). menengah (10 tahun). 3. 3. misalnya sumber dana dari : APBN.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN biasanya oleh tim yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah setempat berdasarkan peraturan yang berlaku. dan panjang (25 tahun).6. 3. Hitung besaran biaya operasi dan pemeliharaan seluruh sistem drainase pertahun.

FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 4. Pada setiap daerah penentuan prioritas zona berbeda-beda. 5. Identifikasi besaran biaya yang dapat ditanggung oleh masyarakat.7. Ada daerah yang memberikan bobot yang lebih besar pada parameter ekonomi dan daerah lain parameter transportasi dan seterusnya. Tentukan jadwal prioritas zona yang akan ditangani. Untuk mengidentifikasi biaya yang akan ditanggung oleh masyarakat perlu ada diskusi dan koordinasi dengan pemakai fasilitas yang dibangun oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah. 3. swasta atau instansi lain. Tentukan zona sistem drainase yang akan dikerjakan. Fasilitas mana yang akan ditanggung pemeliharaannya oleh masyarakat. Tentukan waktu pembuatan studi kelayakan. selanjutnya masyarakat menerima O&M fasilitas tersebut.2. Untuk meningkatkan sumber pembiayaan fasilitas drainase sebaiknya melibatkan pengembang atau real estate atau instasi lain baik swasta maupun pemerintah yang mempunyai masalah dengan fasilitas drainase. 2. Membuat Jadwal Kegiatan Pembangunan Sistem Drainase Perkotaan Membuat jadwal kegiatan pembangunan sistem drainase dilakukan sebagai berikut : 1. Pembuatan studi kelayakan biasanya dilaksanakan bersamaan dengan pembuatan master plan drainase dan terutama pada daerah atau zona yang memiliki prioritas pertama. tergantung dari kondisi daerahnya memberikan bobot pada parameter genangan. swasta berkenan turut membiayai pembangunan fasilitas drainase hanya pada daerah-daerah khusus misalnya real estate atau pengembang. III-26 . Koordinasi ini sebaiknya dilaksanakan pada tahap perencanaan dan dilanjutkan pada tahap pelaksanaan. Mereka membangun fasilitas drainase pada daerahnya sendiri atas ijin Pemerintah Daerah dan mengalirkannya ke fasilitas milik Pemerintah Daerah di luar lokasi mereka. Usulkan kegiatan untuk meningkatkan sumber pembiayaan. Sumber pembiayaan untuk pembangunan fasilitas drainase umumnya disediakan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Pelaksanaan fisik zona sistem drainase sebaiknya dari hilir menuju ke hulu. 3.

setelah selesai pembangunan fisiknya dan dan masih menjadi tanggung jawab pelaksana/kontraktor yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Waktu kegiatan operasional dan pemeliharaan sesuai dengan kontrak. memilih dinas atau instansi mana yang akan bertanggung jawab atas O&M drainase dan biasanya Pemerintah Daerah merujuk kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia mengenai Pemerintahan Daerah. sebaiknya konsultan mengadakan survei lebih dahulu kepada instansi atau dinas yang terkait yang mengelola drainase dan dinas lain yang ada III-27 . Setelah selesai masa operasional dan pemeliharaan. Jadwal pelaksanaan pekerjaan fisik sebaiknya menggunakan microsoft project. Institusi Pengelola Untuk mendukung pengembangan sistem drainase perkotaan perlu diusulkan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Usulkan instansi yang berwenang menangani sistem drainase. Tentukan waktu pelaksanaan pembangunan fisik. b. 6. operasional pemeliharaan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah. Tergantung dari jenis kota dan Pemerintah Daerahnya. Rencana teknik atau rencana detail biasanya dilaksanakan bersamaan dengan studi kelayakan dan pada zona atau daerah yang memiliki prioritas pertama. agar waktu dan kegiatannya dapat dikendalikan dengan seksama sehingga jadwal pelaksanaan selesai tepat waktu. Tentukan waktu pembuatan rencana teknik. Usulkan bentuk kelembagaan : a.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 4.2.8. Tentukan waktu kegiatan operasional dan pemeliharaan dimulai. 3. Sebelum mengusulkan peningkatan fungsi organisasi pengelola drainase. 5. Pada saat menyusun master plan drainase atau out line plan drainase biasanya diusulkan instansi yang akan menangani operasional dan pemeliharaan drainase. Usulkan peningkatan fungsi organisasi pengelola. Pelaksanaan pembangunan fisik biasanya dilaksanakan setahun setelah rencana detail selesai.

Koordinasi dipimpin oleh Tim yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah atau Bappeda setempat. c. sehingga personil dapat melakukan tugas dengan mantap dan tidak terjadi dualisme. misalnya dengan dinas yang menangani persampahan. d.  Kota sedang dan kecil tidak perlu membentuk dinas membentuk dinas baru cukup memperkuat dinas yang ada dengan menambah sub-dinas drainase pada dinas terkait yang ada hubungannya dengan drainase. e. dengan dinas yang menangani pertamanan dan keindahan kota dan dinas lainnya yang ada dalam Pemerintah Daerah. III-28 . Perlu ada koordinasi antara dinas yang menangani drainase dengan dinas lainnya. Usulkan koordinasi kegiatan pembangunan prasarana dan sarana kota lainnya.  Kota besar apakah perlu membentuk dinas membentuk dinas baru atau memperkuat dinas yang ada dengan menambah sub-dinas drainase. Usulkan jumlah personil dan uraian tugas dari masing-masing satuan organisasi. yang fungsinya khusus menangani drainase. Konsultan harus mempelajari dengan seksama untuk :  Kota metropolitan apakah perlu membentuk dinas baru atau memperkuat dinas yang ada dengan menambah sub-dinas drainase. Perlu ada koordinasi antara dinas atau balai yang menangani operasi dan pemeliharaan sungai dengan dinas yang menangani drainase kota (misalnya Balai Besar Wilayah Sungai Brantas dengan dinas Pematusan Kota Surabaya). Usulkan koordinasi dengan dinas atau balai yang menangani sungai- sungai melalui kota.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN hubungannya dengan drainase dan berkoordinasi dengan Bapedda setempat dan juga mengadakan perbandingan dengan Pemerintah Daerah lainnya mengenai pengelolaan drainase. yang fungsinya khusus menangani drainase. Pengusulan jumlah personil sebanding dengan peningkatan organisasi demikian pula dengan uraian tugas masing-masing personil harus jelas.

Peraturan Daerah yang mewajibkan warga membangun rumah berhadapan dengan saluran drainase serta sanksinya. taman kota dan lainnya. Peraturan Bupati atau Walikota mengenai penyediaan bak sampah pada jalan-jalan tertentu. sehingga pelaksanaan fisiknya tidak mengalami kesulitan dalam pembebasan tanahnya. agar masyarakat tahu sejak awal rencana pembangunan sistem drainase. Pada diskusi Laporan Akhir diikutsertakan dinas yang terkait masalah drainase dan tokoh masyarakat setempat serta Badan Pertanahan Nasional setempat. d. Usulkan kebutuhan aspek hukum dan peraturan. c. III-29 . Konsultan dalam menyusun master plan drainase atau outlineplan drainase perlu menggunakan kebutuhan aspek hukum dan peraturan antara lain : a.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 2. Usulkan mekanisme dan peningkatan partisipasi masyarakat dan swasta. e. b. Bappeda dan Dinas Tata Kota mengenai lahan yang terkena pembebasan untuk jalur drainase dan masalah lainnya sebagai masukan untuk suksesnya perencanaan drainase. Pada penyusunan Laporan Pendahuluan tokoh masyarakat diikutsertakan dalam diskusi dan survei. d. c. Pada diskusi Laporan Pendahuluan diikutsertakan dinas yang terkait masalah drainase dan tokoh masyarakat setempat untuk memperoleh masukan untuk seuksesnya perencanaan drainase. Peraturan Bupati atau Walikota mengenai garis sempadan saluran drainase. Peraturan daerah yang melarang warga membuang sampah ke saluran drainase (apabila belum ada) beserta sanksinya. 3. Peraturan Bupati atau Walikota mengenai sumur resapan pada pembangunan saluran primer. Pada pelaksanaan fisik di lapangan masyarakat telah mengetahui rencana jaringan drainase ini. b. Konsultan dalam menyusun master plan drainase perlu menyiapkan mekanisme dan peningkatan partisipasi masyarakat dan swasta yang dalam hal ini harus tertuang dalam KAK (Kerangka Acuan Kerja) antara lain : a. fasilitas umum.

2.1. Latar Belakang 1. Kerangka Penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan Kerangka Penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan.2.2. Tujuanj Studi 1. dilakukan sesuai dengan sistematika sebagai berikut : 1.2. Usul tim dalam pembebasan tanah dapat dibentuk setahun sebelum pelaksanaan fisik dimulai.3. Kondisi Fisik Daerah Studi 2.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 4. 3. Ruang Lingkup Spasial 1.1. Luas Daerah Studi 2.3.2. Ruang Lingkup Studi 1. Lokasi 2.1. Kesepakatan tim mengenai harga ganti rugi tanah dan bangunan sebagai dasar untuk pelaksanaan fisik yang bertujuan untuk membebasan lahan di lapangan guna kelancaran dalam proses pelaksanaan fisik karena dimana masalah sosial (masalah pembebasan lahan) merupakan salah satu masalah yang cukup kompleks dan bisa menjadi penyebab terhambatnya proses pelaksanaan fisik di lapangan sehingga perlu adanya ganti rugi lahan dan bangunan yang membutuhkan peran serta pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.1.2.2.9. Topografi dan Geologi III-30 .3. Pendahuluan 1. Ruang Lingkup Material 2. Deskripsi Daerah Studi 2. Tim dibentuk oleh Pemerintah Daerah setempat berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan mengikutsertakan tokoh masyarakat setempat mengenai penetapan harga ganti rugi tanah dan bangunan berdasarkan hak kepemilikan tanah dan bangunan.

Perkiraan Pengembangan Yang Akan Datang 2. Simpulan Hasil Evaluasi III-31 . Proyeksi penduduk 2. Pengumpulan Data 4.5. operasi dan pemeliharaan.1.3.2.4.2. Kondisi Sosekbudkesmas 2. Analisis dan Perencaaan 4.3.2. Hidrologi dan Hidrogeologi 2.1. Permasalahan drainase (genangan. Kegiatan Ekonomi 2.1.3.3.4. Kondisi Tanah dan Tata Guna Lahan 2.2. Rencana Tata Ruang Wilayah 2. Kondisi Sistem Drainase Yang Ada 2.2.4. Kriteria Sosial Ekonomi 4.3. Demografi 2. sedimentasi.5.4.4. Analisis Hidrolika 4.1.4. Kriteria Lingkungan 3.1. Standar yang digunakan 3.3.6.3.5. Rencana Pengembangan Infrastruktur Kota 3. Identifikasi Penyebab Banjir 2.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 2.3. Inventarisasi Sistem Drainase dan Bangunan Pendukungnya 4. Kondisi dan Permasalahan Drainase yang Ada 2. Analisis Hidrologi 4.1. Kesehatan Masyarakat 2. sampah. Evaluasi Sistem Drainase Eksisting 4.3. Kriteria Hidrologi 3. penegakan hukum.2.3.3.3.3. dll) 2. Standar dan Kriteria Perencanaan 3. Kriteria Hidrolika 3.5. Kriteria Kesehatan 3. Budaya dan adat istiadat 2.2.5.3.3.4.2.

4.4.4. Penyusunan SOP 4.10.2. Pembagian sistem.6. Analisis Biaya (Investasi dan OP) 4.1.5. Bagan Alir Penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan Bagan alir ini dapat dilihat dalam gambar 3.4.2. Penyiapan Institusi dan Kelembagaan 3.2 III-32 . Analisis Debit Banjir Kondisi Mendatang dengan fasilitas Pemanenan Air Hujan (PAH) 4.4.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 4. Sub Sistem Drainase 4. Penyusunan Rencana Implementasi 4.5.3. Penyusunan Skala Prioritas Untuk Studi Selanjutnya. Analisis Debit Banjir Kondisi Mendatang tanpa fasilitas Pemanenan Air Hujan (PAH) 4.4.4. Perencanaan Sistem Drainase 4. Rencana Rinci dan Pelaksanaan 4.8. Penyusunan Sistem Drainase dengan Optimalisasi Sistem Drainase Yang Ada 4.7.

FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Start / Mulai Identifikasi Masalah dan Studi Literatur Koleksi data dan Tinjauan Lapangan Data Hidrologi Data Spasial Data Hidrolika Data Teknik Lainnya .Data Kondisi Daerah dan Kependudukan drainase lainnya .Peta Topografi dan Perkembangan Kota dimensi saluran dan serta permasalahannya Debit Sungai. Ekonomi- .Data Tinggi Muka Air.RTRW/RUTRK geometri dan . yang ada dan yang direncanakan (minimal 10 tahun) .Peta Sistem Drainase dan Sistem Pengaruh Air Balik. Data . jenis. Pasang Surut .Peta Jaringan Drainase dan Bangunan . Jaringan bangunan pelengkap serta sarana Data Non Teknik Lainnya Peil Banjir. .Data kuantitatif banjir/genangan . . Sosial.Data Curah Hujan . Institusi.DEM/Peta topografi/Peta Situasi/Peta Data Keadaan. .Data Pembiayaan.Peta Genangan Analisa Frekuensi Curah Analisa Tata Guna Hujan Berdasarkan Periode Pola Aliran Lahan dan Rencana Ulang Yang Disesuaikan Pengembangan Kota Klasifikasi Saluran Pembagian Daerah Aliran dan catchment Area A B C D E III-32 .Peta Jenis Tanah dan peta Geologi Budaya dan peran serta .Peta Demografi .Peta Jaringan Infrastruktur bawah tanah setempat .Harga satuan biaya dan Upah pelengkap serta analisa harga satuan .Tata guna lahan Kelembagaan.Data Prasarana dan sarana Harian Maksimum Dasar/Foto udara fungsi.Peta Air Tanah (Hidrogeologi) masyarakat .

Sosial Ekonomi Budaya 2n .2 Bagan Alir Penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan III-33 .FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN A B C D E HITUNG TC  Kirpich  Tc = T0 .Td INTENSITAS CURAH HUJAN Analisa Non Teknis .Keuangan dan Pembiayaan Mononobe .Analisa Kapasitas Perhitungan Dimensi Rencana Konsep dan Rancangan Penyelesaian Rencana Tindak dan Indikasi Program (Jangka Panjang.Analisa Banjir/Genangan Prioritas . Menengah dan Pendek) Gambar 3.Institusi dan Pengaturan R24 24 l= 24 tc Atau yang sesuai Perhitungan Debit Aliran Kawasan .

Kawasn yang akan di DED yaitu kawasan yang menjadi prioritas Utama atau menempati ranking pertama dalam anlisa penentuan kawasan skala prioritas penanganan. TAHAPAN PENYUSUNAN DED DRAINASE DED disusun berdasarkan kawasan prioritas penanganan yang telah dianalisa dalam penyusunan masrterplan. Kawasan yang akan di DED akan menjadi tahapan pelaksanaan jangka pendek (5 tahun pertama) dan kawasan berikutnya yang menempati rangking setelahnya akan di DED pada tahapan jangka menengah (5 tahun kedua). Hasil dari pengukuran ini akan digunakan sebagai masukan untuk detail desain bangunan drainase. akan melakukan analisis dan menentukan jenis. Pengukuran terdiri dari pengukuran situasi detail. Investigasi Mekanika Tanah. dari hasil analisis struktur akan dituangkan dalam bentuk gambar desain detail.  Gambar Desain. dilakukan untuk mendapatkan parameter-parameter mekanika tanah yang akan digunakan sebagai input untuk analisis stabilitas struktur. tipe struktur dan mengkaji dimensi serta stabilitasnya. yang akan dihitung volumenya dan siap untuk dilaksanakan (lampiran dokumen tender).FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 3.3. potongan melintang dan memanjang saluran. sehingga dalam periode berikutnya dapat ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah setempat maupun oleh pemerintah provinsi dan pusat. III-34 . Oleh karena itu dalam penyusunan DED ada beberapa hal teknis yang perlu diperhatikan diantaranya :  Survai Topografi dan Mekanika Tanah hanya akan dilakukan pada lokasi yang diprioritaskan untuk dilaksanakan.  Analisis Struktur. kemudian setelah itu akan dilanjutkuan dengan tahapan pelaksanaan jangka panjang (5 tahun ketiga) Penyusunan DED pada kawasan prioritas pertama akan menjadi contoh kepada kawasan – kawasan lainnya.

III-35 . Hal ini mengakibatkan air limpasan permukaan semakin tinggi dan saluran-saluran drainase semakin tidak mencukupi jika pertumbuhan permukiman tidak diikuti dengan peningkatan infrastruktur penunjang.4. yang prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya lebih meresap ke dalam tanah dan tidak banyak terbuang sebagai aliran permukaan. REKOMENDASI UMUM Perencanaan drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase sebagai prasarana yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Sehingga ditinjau dari tingginya permukaan air tanah memungkinkan dibangun resapan air hujan di Kota Borong. Selain itu bangunan resapan air hujan juga dapat meninggikan permukaan air tanah. dokumen tender akan disusun berdasar pada peraturan perundangan yang berlaku. Dengan adanya bangunan resapan air hujan dapat mengurangi limpasan permukaan yang ada dan mengakibatkan berkurangnya debit yang akan ditampung saluran drainase. Pembuatan Bangunan Resapan Air Hujan Kondisi daerah Kota Borong saat ini yang mempunyai daerah yang memungkinkan lahan yang ada semakin banyak yang digunakan sebagai perumahan.  Dokumen O&P.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN  Volume Pekerjaan & RAB.  Dokumen Tender. 3. penataan lansekap dan pelestarian hutan kota. Konsep ini antara lain berkaitan dengan usaha konservasi sumber daya air. antara lain dengan membuat bangunan resapan buatan. disusun agar system yang dikembangkan dapat tahan lama dan berfungsi sesuai dengan yang direncanakan. kolam tandon. Alternatif yang dapat dilakukan antara lain : 1. Volume pekerjaan akan dihitung berdasarkan gambar detail desain dan RAB akan dihitung berdasar harga satuan yang berlaku di lokasi tersebut.

III-36 . maka metode ini kurang sesuai dengan Kota Borong secara umum. Kolam Buatan Terbuka. Hal ini disebabkan selain memerlukan lahan yang luas juga resiko pencemaran akibat sampah.3. Gambar 3.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Macam peresapan air hujan yang biasa digunakan adalah :  Genangan Terbuka Metode ini dilakukan dengan mengalirkan air hujan ke suatu kolam buatan pada kawasan permukiman. Karena metode ini menggunakan suatu kolam terbuka.

Hulu>Debit Sal. Hillir Saluran Hilir = Debit Saluran Hilir Hillir Tanpa Kolam Debit Pelimpah Detensi Panjang Daerah Samping = Qhulu. Hillir Debit Sal. Flowchart Perencanaan Kolam Detensi III-37 . Hilir Outlet = Pintu Sesuai Dengan Air Kondisi Sal. Ya Hulu>Debit Sal. Volume Air Dalam Selisih Debit Hulu dan Akumulasi Selisih Pelimpah (L) Genangan Qhilir Kolam Detensi Debit Hilir=Debit Debit Hulu dan Debit Pada Badan Tersimpan Dalam Badan Hilir=Volume Saluran Saluran Volume Air Dalam Tersimpan Dalam Kolam Detensi Pada Ruas Saluran Kolam Detensi Badan Saluran Pintu Inlet Samping Pintu Outlet Dibuka Sesuai Dengan Pintu Outlet Dibuka Kondisi Sal.4. Debit Melalui Tidak Ya Debit Sal.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN PERENCANAAN KOLAM DETENSI KOLAM DETENSI DI KOLAM DETENSI KOLAM DETENSI PADA SAMPING BADAN PADA BADAN SEPANJANG SALURAN / SUNGAI SALURAN / SUNGAI SALURAN / SUNGAI ATAU CHANNEL STORAGE Daerah Bangunan Pelimpah Daerah Bangunan Pengantar Genangan Pada Ruas Saluran Genangan Pada Ruas Saluran Tidak Kapasitas Sal. Hilir Saluran Hilir Saluran Hilir Saluran Hilir Gambar 3. Pelimpah = Debit Debit Melalui Pelimpah Hulu>Debit Sal.

Sumur resapan berfungsi memperbaiki kondisi air tanah atau mendangkalkan permukaan air sumur. Dengan adanya penurunan aliran permukaan maka tanah-tanah yang tergerus dan terhanyut akan berkurang. III-38 . hanya bedanya pada bentuk penampang melintangnya. b. Persyaratan umum sumur resapan adalah sebagai berikut: 1. Konservasi tanah. sedangkan selokan tertutup berbentuk segiempat atau trapesium. c. Menekan laju erosi. Sumur resapan difungsikan untuk menampung dan meresapkan air hujan yang jatuh diatas permukaan tanah baik melalui atap bangunan. Sebagai upaya untuk pengendali banjir. Beberapa hal tentang kegunaan sumur resapan antara lain : a. Sumur resapan air hujan dibuat pada lahan yang lolos air dan tahan longsor. Pipa porus berbentuk bulat. Penggunaan sumur resapan mampu memperkecil aliran permukaan sehingga terhindar dari penggenangan secara berlebihan yang menyebabkan banjir. Dampaknya.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN  Resapan Tertutup Prinsip dari metode ini adalah dengan menampung air hujan ke suatu reservoir tertutup. Terdapat dua macam resapan tertutup yaitu pipa porus dan selokan tertutup. aliran permukaan air hujan menjadi kecil dan dapat menekan laju erosi.  Sumur Resapan Secara sederhana sumur resapan diartikan sebagai sumur yang digali yang berbentuk segiempat atau lingkaran dengan kedalaman tertentu. jalan ataupun halaman agar dapat meresap kedalam tanah. Selokan tertutup prinsipnya sama dengan pipa porus. Pipa porus pada prinsipnya mengalirkan air hujan kesuatu pipa porus yang ditanam secara horisontal. Disini diharapkan air hujan lebih banyak yang diresapkan kedalam tanah menjadi air cadangan dalam tanah.

Untuk menghitung dimensi sumur resapan dapat digunakan rumus (Sunjoto 1988 dalam Suripin. Air yang masuk sumur resapan adalah air hujan. R   2  H  1 e F . Sumur resapan air hujan harus bebas kontaminasi/pencemaran limbah. sumur resapan air hujan hanya menampung dari atap dan disalurkan melalui talang.K     dengan: H = tinggi muka air dalam sumur (m) F = faktor geometrik (m) Q = debit air masuk (m3/detik) T = waktu pengaliran (detik) K = koefisien permeabilitas tanah (m/detik) R = jari-jari sumur (m) III-39 .T    Q    . 3. 2003:301) :   F . 4. K .FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 2. Untuk daerah sanitasi lingkungan buruk. Mempertimbangkan aspek hidrogeologi. 5. geologi dan hidrologi.

Dasar sumur dan sela-sela antara galian tanah dan dinding tempat air meresap dapat diisi dengan ijuk atau kerikil.5. buis beton. Alternatif penempatan sumur resapan di tiap rumah Pada dasarnya sumur resapan dapat dibuat dari berbagai macam bahan yang tersedia di lokasi.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Gambar 3. taugki fierglass. Dinding sumur dapat menggunakan anyaman bambu. sumur resapan perlu dilengkapi dengan dinding. Sumur Buis Beton Saluran penampungan air hujan diberi saringan (dari batu-batuan dan ijuk) supaya kotoran tidak ikut masuk kedalam Dinding bisa dibuat kedap air atau diberi lubang-lubang kecil Dibagian bawah dibuat ceruk (lubang) sedalam 0. atau buis beton. Sumur Buis Beton III-40 . Bahan-bahan yang diperlukan untuk sumur resapan meliputi : a. pipa tanah liat. atau dari pasangan batu. pasangan batu bata. c. drum bekas. b.6. pipa pralon.7 m yang diisi dengan ijuk dan batu/puing yang disusun berongga Sumber : Tataca Penyusunan Masterplan Drainase Kota Gambar 3. Yang perlu diperhatikan bahwa unhik keamanan. Saluran pemasukan/pengeluaran dapat menggunakan pipa besi. Beberapa macam sumur resapan: a.

(m) (m3) batuan.5 m. Dinding dibuat dari pasangan batu bata biasa (tebal 15 cm). dan Tinggi Sumur Volume Tampungan lubang yang ada diberi ijuk dan batu. 2 1.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Sumur resapan tipe ini cocok dibuat di lahan yang lembek dan daerah yang kualitas airnya kurang baik.72 b. biasanya dibuat dalam bentuk lingkaran. Sumur Batu Bata Pipa ke arah saluran pembuangan dibuat agar saat sumur resapan telah penuh.14 Tinggi ceruk = 70 cm 5 3.7m III-41 . air bisa dialirkan kesana.5 m maka untuk mendapatkan kedalaman yang diinginkan. Buis beton yang tersedia di toko bahan bangunan memiliki diameter 1 m dan tinggi sekitar 0. Karena tinggi buis beton yang tersedia hanya sekitar 0. atau diberi lubang-lubang kecil Bagian dasar (alas) sumur jangan ditutup dengan bata ataupun semen. pada tipe ini kita tidak perlu membuat ceruk dibagian dasar sumur. setinggi 0. Bisa dibuat kedap air.93 Tinggi batu dan ijuk = 70 cm 6 4. buis beton mesti disambung.57 Kedalaman sumur = 2 – 5 m 3 2. ½ lingkaran atau segi delapan.36 Diameter sumur = 1 m 4 3. Buis beton adalah beton pracetak. Untuk pipanya. Cukup dengan meletakkan ijuk dan batu-batuan di dasar sumur resapan. Bagian sambungan ini diganjal batu kurang lebih 10 cm. Berbeda dengan sumur resapan tipe buis beton. bisa menggunakan pipa PVC 4 inci.

Sumur Batu Kali Pipa kesaluran drainase menggunakan pipa ukuran 6 inci III-42 .5 3. di bagian atas sumur resapan dibuatkan tutup dari teralis atau plat beton dengan tebal 10 cm.5 Lebar =1m 3 3 Panjang =1m 3.5 Tinggi batu dan ijuk = 70 4 4 cm c.Sumur (m)Volume Tampungan (m3) Tinggi 4m 2.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Sumber : Tata Cara Penyusunan Masterplan Drainase Gambar 3. yang bisa dibuka – tutup.7. Sumur Batu Bata Dibanding sumur resapan buis beton.5 . Supaya sampah dan kotoran tidak masuk. karena mesti memasang batu bata di sekeliling dinding sumur resapan. pengerjaan sumur resapan tipe ini memakan waktu lebih lama.5 1. Kedalaman sumur = 2.

Yang pertama berbentuk lingkaran dengan diameter 1 m.38 III-43 .85 3 2. tipe sumur resapan yang seperti ini bisa diterapkan. ada 2 macam sumur resapan batu kali. Kedalaman sumur =2-3m Diameter (untuk sumur berbentuk lingkaran) =1m Lebar (untuk sumur berbentuk persegi) =1–2m Panjang (untuk sumur berbetuk persegi) =1m Tinggi batu dan ijuk =2–3m Tinggi Sumur (m) Volume Tampungan (m3) 2 1. tanpa diberi perkerasan atau lapisan apa-apa. cocok untuk bangunan yang memiliki lahan terbuka yang luas. Yang kedua bentuknya memanjang. Sebagai pengganti batu kali bisa digunakan puing yang sudah dibersihkan dari bahan organik Sumber : Tata Cara Penyusunan Masterplan Drainase Gambar 3. Sumur Batu Kali Jika kondisi tanah bagus. Dilihat dari bentuknya. tipe ini memakai ijuk dan batu di seluruh bagian dalam sumur.8.FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN Kalau kedua tipe lainnya menggunakan batu kali dan ijuk hanya dibagian bawah. seperti tanah didaerah Jakarta Timur. Seluruh dindingnya berupa tanah.

FASILITASI PENYUSUNAN MASTERPLAN DRAINASE KOTA BA’A – KABUPATEN ROTE NDAO LAPORAN PENDAHULUAN 4 3. Ada beberapa model tampungan sementara yang dapat digunakan. Dari ketiga model diatas.7 5 4. Pada prinsipnya tampungan sementara digunakan untuk menampung debit air dari suatu saluran atau limpasan dari sekelilingnya selama hujan berlangsung dan saluran yang akan dilewati kapasitasnya tidak mencukupi dan dialirkan kembali pada saat saluran yang akan dilewati sudah mulai surut. batu kosong ataupun tanpa diberi pelindung supaya sebagian air dapat meresap kedalam tanah. yang menampung semua air limpasan yang tidak dapat dialirkan oleh suatu saluran dan kemudian sebagian dialirkan melalui saluran tertutup melewati beberapa lubang kecil didalam tampungan sementara. dapat dibuat suatu tampungan sementara. antara lain :  Tampungan sementara dengan pintu pengatur. III-44 . prinsipnya adalah menampung semua air yang dialirkan kedalamnya dan otomatis akan dialirkan lagi jika kapasitas tampungan tersebut sudah tidak memenuhi. Pembuatan Tampungan Sementara Untuk mengurangi beban suatu saluran induk karena ketidakmampuan suatu saluran untuk menampung debit banjir atau sebab-sebab lainnya. dimana prinsipnya adalah pada saat kapasitas tampungan sudah maksimum. sebaiknya konstruksi yang digunakan pada keliling tebing tampungan dapat berupa pasangan batu bata. pintu dibuka sehingga air dalam tampungan dapat mengalir kembali dalam saluran.  Tampungan sementara tanpa pintu. pintu ditutup dan pada saat saluran induk sudah mulai surut.23 d.  Tampungan yang dihubungkan dengan saluran tertutup.