You are on page 1of 30

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

BAHAN SOSIALISASI
PERMEN ESDM NOMOR 38 TAHUN 2016 TENTANG PERCEPATAN ELEKTRIFIKASI
DI PERDESAAN BELUM BERKEMBANG, TERPENCIL, PERBATASAN DAN PULAU
KECIL BERPENDUDUK MELALUI PELAKSANAAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA
LISTRIK UNTUK SKALA KECIL (UPTLSK)

Jakarta, 16 Januari 2017

1
Kementerian ESDM Republik Indonesia

DAFTAR ISI

1 LATAR BELAKANG

2 UPAYA PERCEPATAN MELISTRIKI DESA

3 PENGATURAN DALAM PERMEN ESDM NO.38 TAHUN 2016

4 CONTOH PENGELOLAAN WILAYAH USAHA

2
Kementerian ESDM Republik Indonesia 2

1 LATAR BELAKANG

3
Kementerian ESDM Republik Indonesia 3

Nawacita • Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. melalui politik luar negeri bebas aktif. Undang-Undang Dasar 1945 Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (pasal 27 ayat 2). kualitas yang baik. dan harga yang wajar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan (Pasal 2 ayat 2). keamanan nasional yang terpercaya dan membangun pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim (Cita pertama). 2. 3. LATAR BELAKANG 1. Undang-Undang 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan Pembangunan ketenagalistrikan bertujuan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup. • Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan (Cita ketiga). 4 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

KESDM 5 Kementerian ESDM Republik Indonesia . LATAR BELAKANG USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK SKALA KECIL (UPTLSK) 2.510 Desa Tidak Pemerintah menargetkan melistriki Berlistrik 2.006 PRIORITAS ENERGI TERBARUKAN 504 KEMAMPUAN PLN 504 DESA 2016 2017 2018 2019 2.510 Desa Nawa Cita Sudah Berlistrik UNTUK PERCEPATAN MELISTRIKI 2.510 desa sampai dengan tahun 2019 DITJEN GATRIK .006 DESA PERLU MELIBATKAN NON PLN MENGELOLA UPTLSK 2.

510 DESA YANG BELUM BERLISTRIK*) NO PROVINSI JUMLAH DESA BELUM JUMLAH DESA DALAM BERLISTRIK (PODES 2014) PROGRAM PEMBANGUNAN LISDES PLN 2017-2019 1 Papua 2.006 Desa) belum masuk ke dalam perencanaan PT PLN (Persero) 6 Kementerian ESDM Republik Indonesia . PROGRAM PEMBANGUNAN LISTRIK PERDESAAN PMN / APLN PT PLN (Persero) 2017-2019 DI 2.111 429 2 Papua Barat 262 63 3 Aceh 11 4 4 Sumatera Utara 36 1 5 Jambi 3 2 6 Sulawesi Tenggara 11 4 7 Kalimantan Barat 13 1 Total 504 *) Untuk Desa lainnya (2.

111 Jambi Kalteng Sulteng 3 1 1 Sumsel 0 Babel Kalsel Sulbar Bengkulu 0 6 1 7 Lampung 0 Banten Jakarta Jabar Jateng DIY Jatim Bali NTB NTT Sulsel Sultra Maluku 0 0 0 0 0 0 0 3 20 2 11 12 INDONESIA 2015 : 2.510 DESA (3. JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK TAHUN 2015 Aceh Sumut Riau Kepri Kalbar Kaltara Kaltim Gorontalo Sulut Malut Papua Barat 11 36 1 0 13 6 0 0 0 1 262 Sumbar 2 Papua 2.05 %) Kementerian ESDM Republik Indonesia 7 7 .

Yapen 18 Tolikara 384 Intan Jaya 69 Jayawijaya Paniai 71 19 Peg. Bintang 175 Nabire 16 Yahukimo 425 Dogiai 34 Yalimo 21 Puncak 59 Puncak Jaya 287 Boven Digoel 26 Mimika 35 TOTAL PAPUA Nduga Asmat Mappi Lanny Jaya 2. JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK PER KABUPATEN DI PROVINSI PAPUA Supiori Biak Numfor Waropen Membramo Raya Sarmi Jayapura Keerom Kota Jayapura 3 1 20 22 12 8 3 1 Kep.111 DESA 202 58 63 70 Merauke 9 8 Kementerian ESDM Republik Indonesia 8 .

Arfak Manokwari Manokwari Selatan 2 0 10 16 83 22 13 Teluk Bintuni 48 Maybrat 10 Teluk Wondama 12 Sorong Selatan 3 TOTAL PAPUA BARAT Fak-fak Kaimana 262 DESA 5 38 9 Kementerian ESDM Republik Indonesia 9 . Sorong Tambrauw Peg. JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK PER KABUPATEN DI PROVINSI PAPUA BARAT Raja Ampat Kota Sorong Kab.

JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK SUMATERA Aceh Sumut Riau TOTAL SUMATERA 11 36 1 63 DESA Sumbar Bengkulu Jambi 2 7 3 10 10 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK KALIMANTAN Kaltara TOTAL KALIMANTAN 6 29 DESA Kalbar Kalteng Kalsel 13 1 6 11 11 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK SULAWESI TOTAL SULAWESI 15 DESA Sulbar Sulsel Sultra Sulteng 1 2 11 1 12 12 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK MALUKU Malut 1 TOTAL MALUKU 13 DESA Maluku 12 13 13 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK NUSA TENGGARA JUMLAH DESA BELUM BERLISTRIK NUSA TENGGARA TOTAL NUSA TENGGARA 23 DESA NTB NTT 3 20 14 14 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

1 2 UPAYA PERCEPATAN MELISTRIKI DESA 15 Kementerian ESDM Republik Indonesia 3 .

KESDM 16 Kementerian ESDM Republik Indonesia . 38 TAHUN 2016.006 DESA MENAWARKAN WILAYAH USAHA KEPADA BADAN USAHA NON PLN (BUMD. SWASTA DAN KOPERASI) UNTUK BERPARTISIPASI DALAM MENGELOLA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK SKALA KECIL SEBAGAIMANA DIATUR DALAM PERMEN ESDM NO. UPAYA PERCEPATAN MELISTRIKI 2. DITJEN GATRIK .

1 3 PENGATURAN DALAM PERMEN ESDM 38 TAHUN 2016 17 Kementerian ESDM Republik Indonesia 3 .

PENGATURAN DALAM PERMEN ESDM 38 TAHUN 2016 • Mekanisme Penetapan Wilayah Usaha (Pasal 6 s/d Pasal 7) • Pengadaan Badan Usaha oleh Pemerintah Daerah (Pasal 8) • Penugasan Menteri Kepada Badan Usaha (Pasal 10) • Hak dan Kewajiban Badan Usaha (Pasal 14 s/d Pasal 18) • Penetapan Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi (Pasal 19 s/d Pasal 21) • Pembinaan dan Pengawasan (Pasal 22) • Sanksi Administratif (Pasal 23) DITJEN GATRIK .KESDM 18 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

Analisis potensi sumber EBT. Analisis Jumlah Rumah Tangga yang akan dilistriki.KESDM 19 Kementerian ESDM Republik Indonesia . jasa dan transportasi DITJEN GATRIK . dengan luas minimal 1 (satu) kecamatan atau yang setingkat. Analisis Kebutuhan dan rencana usaha penyediaan tenaga listrik. b. MEKANISME PENETAPAN WILAYAH USAHA GUBERNUR GUBERNUR MENETAPKAN GUBERNUR MENSELEKSI MENETAPKAN BADAN USAHA USUL KE BADAN MENTERI BKPM WILAYAH USAHA PENGELOLA USAHA UPTLSK DAN MELALUI BKPM 1 5 UNTUK 4 UPTLSK 6 MENERBITKAN IUPTL 2 3 DIRJEN MELAKUKAN VERIFIKASI USULAN GUBERNUR ATAS PERMINTAAN BKPM 7 GUBERNUR MEMINTA PENUGASAN OLEH MENTERI KEPADA BADAN USAHA DIRJEN GUBERNUR DIRJEN ATAS NAMA MENTERI MEMBERI PENUGASAN KEPADA BADAN USAHA 8 Dokumen Kelengkapan Usulan Wilayah Usaha Oleh Gubernur: a. c. Batasan Wilayah Usaha. Analisis kemampuan dan kemauan masyarakat setempat untuk membayar. d. f. Perkiraan rata-rata harga material. e.

BKPM PELAKSANAAN 1 7 8 2 PENETAPAN TARIF KONSUMEN VERIFIKASI 6 BPP Keterangan: 1. 5. Badan usaha melaporkan pelaksanaan usahanya setiap 6 Bulan kepada Menteri. Pengusulan penetapan wilayah usaha oleh Gubernur kepada Menteri ESDM.KESDM 20 Kementerian ESDM Republik Indonesia . Gubernur melelang wilayah usaha kepada Badan Usaha. Proses penetapan tarif dan subsidi 8. Penetapan wilayah usaha yang diusulkan Gubernur oleh Menteri ESDM. 2. SKEMA PROSES UPTLSK DI WILAYAH USAHA BERSUBSIDI UU 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan Pasal 4 ayat (3) dan Pasal 11 ayat (3) PP 14 Tahun 2012 Tentang Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Pasal 9 ayat (3) PERUSAHAAN YANG 4 DISELEKSI 5 BADAN USAHA 3 MENTERI ESDM EVALUASI GUBERNUR SUBSIDI Cq. 4. DITJEN GATRIK . Verifikasi usulan Gubernur kepada Menteri ESDM oleh tim teknis. 3. 6 dan 7. Gubernur mengusulkan penugasan oleh Menteri kepada Badan Usaha hasil seleksi.

SKEMA PROSES UPTLSK DI WILAYAH USAHA TANPA SUBSIDI UU 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan Pasal 4 ayat (3) dan Pasal 11 ayat (3) PP 14 Tahun 2012 Tentang Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Pasal 9 ayat (3) Tanpa Subsidi Tidak MENGACU KEPADA PERATURAN 5b PERUNDANGAN Ya MENTERI ESDM EVALUASI BADAN USAHA TARIF UPTLSK Cq. BKPM KONSUMEN PELAKSANAAN 1 SESUAI TARIF PLN 2 4 5a 6 3 VERIFIKASI DITJEN GATRIK .KESDM 21 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

KESDM 22 Kementerian ESDM Republik Indonesia . pengembangan pembangkit. Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam MENGUSULKAN menjalankan UPTL dan rencana BPP/PENYESUAIAN BPP pengeluaran ke depan. DANA SUBSIDI d. transmisi dan/atau distribusi tenaga listrik. LISTRIK BADAN USAHA b. MEKANISME PENETAPAN TARIF SESUAI TARIF PLN TIDAK MEMANFAATKAN DANA SUBSIDI 1 TARIF DITETAPKAN SESUAI PERATURAN PERUNDANGAN Penyesuaian BPP mempertimbangkan: a. c. Realisasi penggunaan bahan bakar dan rencana penggunaan ke depan (apabila TARIF TENAGA menggunakan bahan bakar). Realisasi susut jaringan transmisi dan/atau 2 distribusi tenaga listrik dan target susut ke MEMANFAATKAN depan. Realisasi BPP Tenaga Listrik dan proyeksi ke depan. DITJEN GATRIK . DIRJEN MELAKUKAN e. Rencana pengembangan wilayah usaha: EVALUASI BPP proyeksi kebutuhan dan pasokan tenaga listrik.

FORMULA SUBSIDI LISTRIK UPTLSK S = .(TTL – BPP (1 + M)) x V S = Subsidi Listrik TTL = Tarif tenaga listrik rumah tangga daya 450 VA PT PLN (Persero) (Rp/kWh) BPP = BPP (Rp/kWh) tegangan rendah M = Marjin V = Volume Penggunaan Maks. 84 kWh per bulan 23 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

Membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Sesuai Dengan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Menyediakan tenaga listrik dan jaringan distribusi tenaga listrik dengan tingkat mutu serta keandalan yang baik.KESDM 24 Kementerian ESDM Republik Indonesia . Memenuhi ketentuan keselamatan dan lingkungan ketenagalistrikan. 4. Mengupayakan pencapaian tingkat rasio elektrifikasi paling sedikit 95% (sembilan puluh lima persen) di dalam wilayah usahanya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah mendapatkan penugasan dari Menteri. DITJEN GATRIK . 7. 2. Membangun infrastruktur ketenagalistrikan dan beroperasi sesuai dengan fungsinya paling lama dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah mendapatkan penugasan dari Menteri. 3. 6. KEWAJIBAN BADAN USAHA 1. Menyediakan tenaga listrik di dalam wilayah usahanya. Melaporkan kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik di Wilayah Usahanya setiap 6 (enam) bulan kepada Direktur Jenderal. 5.

Dapat mengambil alih Wilayah Usaha lainnya setelah mendapatkan persetujuan Menteri melalui Direktur Jenderal dan telah memenuhi kewajiban di Wilayah Usahanya.KESDM 25 Kementerian ESDM Republik Indonesia . 2. DITJEN GATRIK . 3. Dapat mengalihkan Wilayah Usahanya kepada pemegang Wilayah Usaha lainnya setelah menyelesaikan kewajiban pembangunan di Wilayah Usahanya dan mendapatkan persetujuan Menteri melalui Direktur Jenderal. HAK BADAN USAHA 1. Mendapatkan lebih dari satu Wilayah Usaha penyediaan tenaga listrik untuk skala kecil dengan mengikuti proses seleksi.

1 4 CONTOH PENGELOLAAN WILAYAH USAHA 26 Kementerian ESDM Republik Indonesia 3 .

Tunas. Kabupaten Pelalawan Wilayah Kecamatan Pelalawan. Pangkalan Kerinci.442 pelanggan.KESDM 27 Kementerian ESDM Republik Indonesia . Kota Batam Berdasarkan keputusan Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN. DITJEN GATRIK .674 kVa. Teluk Meranti dan Kawasan Industri Technopark dikelola oleh PD.297 pelanggan dan daya tersambung 1. Jumlah pelanggan dari PD Tuah Sekata sampai dengan November 2016 adalah sebanyak 6. 2. Wilayah Usaha PD Tuah Sekata ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala BKPM Nomor 11/1/PWUPTL/2016 Tanggal 26 Juli 2016. Tuah Sekata yang merupakan BUMD dari Kabupaten Pelalawan. dan Panbil) . dibentuk PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (PT PLN Batam) dengan status sebagai anak perusahaan PT PLN (Persero). CONTOH PENGELOLAAN WILAYAH USAHA 1. dengan wilayah usaha Kota Batam (di luar kawasan Industri Batamindo.260. Sampai dengan akhir 2015 jumlah pelanggan PT PLN Batam sebanyak 284. pada tanggal 3 Oktober 2000. selaku Pemegang saham PT PLN (Persero) dalam surat No S-23/M-PM- PBMUN/2000 tanggal 23 Agustus 2000.

CONTOH PENGELOLAAN WILAYAH USAHA Batam DITJEN GATRIK .KESDM 28 Kementerian ESDM Republik Indonesia .

KESDM 29 Kementerian ESDM Republik Indonesia . CONTOH PENGELOLAAN WILAYAH USAHA Pelalawan DITJEN GATRIK .

TERIMA KASIH 30 Kementerian ESDM Republik Indonesia .