You are on page 1of 6

BAB 7

PAKU KELING

Paku keling merupakan salah satu model penyambungan. Penyambungan yang
menggunakan paku keling merupakan klasifikasi penyambungan tetap. Artinya
penyambungan yang dimaksud tidak untuk dibongkar kembali, kalau terpaksa dibongkar
harus merusak penyambung tersebut. Pada konstruksi plat gesek dan naaf digunakan paku
keling pada tiga sambungan, yaitu:
1. Sambungan lempengan gesek (yang terbuat dari asbes) dengan lingkar pembawa.
2. Sambungan lingkar pembawa pada plat gesek dengan plat pembawa
3. Sambungan plat pembawa dengan naaf.

Gambar 7.1 Sambungan Paku keeling

Keterangan:
1. Lempengan gesek
2. Paku keling untuk sambungan lempengan gesek dengan lingkar pembawa
3. Lingkar pembawa
4. Paku keling untuk sambungan lingkar pembawa dengan plat pembawa
5. Paku keling untuk sambungan plat pembawa dengan naaf.
6. Plat pembawa
7. naaf.

a. sehingga lempengan akan terikat dengan baik. Jumlah yang digunakan adalah 8 buah. 890.512 F 1= =9. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah Sys = 0.1 Paku keling untuk sambungan Lempengan gesek dengan lingkar pembawa.83 kg/mm 2.mm n1 = jumlah paku keling yaitu 16 buah D+ d r1= r1 = jarak paku keling ke sumbu poros. Pemilihan bahan Bahan paku keling untuk perancangan ini dipilih jenis bahan baja tipe SAE/AISI 1010 yang dirol panas (hot roller) dengan kekuatan tarik Sy = 1. Jumlah paku keling yang digunakan adalah disesuaikan dengan lebar permukaan lempengan. Paku keling ini berfungsi untuk mencegah terjadinya slip antara lempengan gesek dengan lingkaran pembawa yang mana akan mengurangi momen puntir yang diteruskan dari flywheel yang akan menimbulkan kerugian. r 1 Dimana: F1 = gaya yang bekerja pada tiap paku keling Mp = momen puntir yang ditransmisikan yaitu sebesar 14.890.7. yaitu 4 dimana: D = diameter luar plat gesek =126 mm d = diameter dalam plat gesek = 76 mm Maka dengan memasukkan harga-harga yang diketahui diperoleh: 126+76 r 1= =101 mm 2 14 .512 N. 214 N 16 x 101 b.577. Analisa gaya Gaya yang bekerja pada setiap paku keling adalah: Mp F1 = n1 .Sy .

maka diameter paku keling diambil d1 = 2.2 Paku keling untuk sambungan lingkaran pembawa dengan plat pembawa.577*1. 214 5.8 τt r =4.83 = 1. Paku keling pada posisi ini berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari plat gesek ke plat pembawa dan selanjutnya ke naaf dan poros yang digerakkan.9230 ijin Dengan mempertimbangkan keamanan konstruksi. 06 d2 1 d 1 ≥2.869 τ g= = π d2 2. . A1 π 2 d 2 4 1 Dimana: τ1 = tegangan geser yang timbul (kg/mm2) F1 = gaya yangbekerja pada paku keling (kg) A1 = luas penampang paku keling (mm2) d1 = diameter paku keling (mm) 9. Hal ini disebabkan paku ini dipasang diantaranya dan jumlah yang cocok diambil 8 buah.06 kg/mm2 c. 869 ≤1.353 mm Tegangan geser izin di peroleh dari τ g ijin di peroleh dari τ g =0. tegangan geser kerja τ1 harus lebih kecil atau sama dengan kekuatan geser mulurnya Sys dimana tegangan gesernya adalah: τizin ≤ Sys 5. = 0. Jumlah paku keling disesuaikan dengan diameter dalam plat gesek dan diameterluar plat pembawa. 7. d 2 1 4 1 Untuk menjaga keamanan konstruksi. Penentuan Ukuran tegangan geser yang timbul akibat gaya F1 adalah F1 F1 τ g= = 2 .353 mm.

bn 4 Dimana: r2 = jarak paku keling ke sumbu poros Dn = Diameter luar naaf.0003 N Sehingga: 1.a.83 kg/mm 2. yaitu sebesar 5.7765 mm Maka: 41 . Pemilihan Bahan Bahan paku keling untuk perancangan ini dipilih jenis bahan baja tipe SAE/AISI 1010 yang dirol panas (hot roller) dengan kekuatan tarik Sy = 1.06 kg/ mm2. gaya yang bekerja pada tiap paku keling adalah: Mp F2 = n2 . r 2 Dengan jumlah paku keling n2 = 12 buah. 2068+76 r 2= +2 . Penentuan Ukuran Tegangan geser yang timbul akibat gaya F2 adalah: F2 F2 12 .7765 )=48 . c. Analisa Gaya Sesuai dengan prosedur pada bagian 7. 69 mm 4 14 . Jarak r2 yang merupakan jarak paku keling ke sumbu poros diperoleh dari: Dn+dg r2= +2 . dari perhitungan pada bab 5 sebesar 41. A2 π π .240 .(5. d2 d 2 2 d 2 2 4 2 2 . 512 F2 = =12 . 0003 7.8682 b .1.2608 mm dg = diameter dalam plat gesek. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah 1. 890 . dari perhitungan pada bab 6 sebesar 76 mm b = tebal naaf. 644 τ g= = = = 2 .

r 3 Dengan jumlah paku keling n 3= 6 buah dan jarak r3 yang merupakan jarak paku keling ke sumbu poros direncanakan sejauh 30 mm.1. a. τ g≤τt r 7.029 N/mm2 D.557 . τ tr =0.3 Paku keling untuk sambungan plat pembawa dengan naaf.1. Pemilihan Bahan Bahan paka keeling ini dipilih dari baja ST 24 dengan kekuatan tarik mulur (tesile yield strength) SY=5. 30 C. 06 d2 2 d 2 ≥3. Analisa Gaya Sesuai dengan prosedur pada bagian 7. 002mm Dengan mempertimbangkan keamanan.0876 N 4 . gaya yang bekerja pada tiap paku keling adalah: Mp F3 = n3 .644 ≤0.25 kg mm. maka diperoleh: 14890 . 7. Penentuan Ukuran Tegangan geser yang timbul akibat gaya F3 adalah: . maka diameter paku keling (d2) diambil 5 mm.577. SY = 0. 512 F3 = =124 .25 =3.8 .5. Jumlah paku keling disesuaikan dengan diameter plat pembawa dan naaf serta diameter poros dan jumlah yang sesuai adalah 6 buah. maka kekuatan geser mulurnya adalah. Paku keling pada posisi ini berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari plat pembawa ke naaf dan poros yang digerakkan.

0366 τ 3= = = 2. 0366 ≤1. 6349 mm Dengan mempertimbangkan keamanan. 06 d2 3 d 3 ≥8. A3 π d2 2 d 3 4 32 τ 3 ≤t tr 79 . F3 F3 79 . . maka diameter paku keling (d3) diambil 9 mm.