You are on page 1of 25

Martinis1960's Blog

Just another WordPress.com site
 Beranda
 About
 RUMAH KONTRAKAN (executive dan non-executive class) JAMBI
Beranda
Hello world!Model Pembelajaran Scaffolding
PEMBELAJARAN AKTIF
Juli 29, 2010
martinis1960 Uncategorized Tinggalkan komentar

MENGKONDISIKAN PEMBELAJARAN AKTIF
Pengelolaan pembelajaran baik dalam kelas maupun di luar kelas dalam upaya meningkatkan
kualitas pembelajaran meliputi pengelolaan tempat belajar/ruang kelas, pengelolaan peserta didik,
pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan sumber belajar,
dan pengelolaan strategi dan evaluasi pembelajaran. Uraian dalam bab ini selain membahas
pengelolaan pembelajaran, terlebih dahulu diawali dengan konsep dasar pembelajaran dan
komponen-komponen yang mempengaruhi peningkatan kualitas pembelajaran.
1. A. Konsep Dasar Pembelajaran

Untuk memudahkan cara pengelolaan pembelajaran, perlu mengetahui konsep dasar

pembelajaran itu sendiri, yaitu tentang pengertian dan komponen-komponen yang berkaitan

dengan pembelajaran.
1. 1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran tidak diartikan sebagai sesuatu yang statis, melainkan suatu konsep yang bisa
berkembang seirama dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan
ilmu dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia. Dengan
demikian, pengertian pembelajaran yang berkaitan dengan sekolah ialah” Kemampuan dalam
mengelola secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan
pembelajaran, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut
norma/standar yang berlaku”. Adapun komponen yang berkaitan dengan sekolah dalam rangka
peningkatan kualitas pembelajaran, antara lain adalah guru, peserta didik, Pembina sekolah,
sarana/prasarana dan proses pembelajaran.

Pembelajaran merupakan salah satu sub sistem dari sistem pendidikan, di samping kurikulum,
konseling, administrasi, dan evaluasi (Reigeluth, 1999; 6) Wikipedia mengemukakan pembelajaran
(instruction) sebagai suatu bentuk informasi yang dikomunikasikan dapat berupa komando atau
penjelasan dengan bagaimana cara bertindak, berperilaku, cara memulai tugas, cara melengkapi,
atau cara melaksanakan sesuatu (“http:/en.wikipedia.org/wiki/Instruction).
Lefrancois berpendapat bahwa pembelajaran (instruction) merupakan persiapan kejadian-kejadian
eksternal dalam suatu situasi belajar dalam rangka memudahkan pemelajar belajar, menyimpan
(kekuatan mengingat informasi), atau mentranfer pengetahuan dan keterampilan (Lefrancois, 1988;
370)

Menurut Miarso, pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar
orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain (Miarso, 2004; 545)
Usaha tersebut dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan
atau kompetensi dalam merancang dan atau mengembangkan sumber belajar yang diperlukan.
Dapat pula dikatakan bahwa pembelajaran adalah usaha yang dilakukan oleh pendidik atau orang
dewasa lainnya untuk membuat pemelajar dapat belajar dan mencapai hasil belajar yang maksimal.

Smith dan Ragan menyatakan bahwa pembelajaran adalah desain dan pengembangan penyajian
informasi dan aktivitas-aktivitas yang diarahkan pada hasil belajar tertentu (1983; 4). Dick
mendefinisikan pembelajaran sebagai intervensi pendidikan yang dilaksanakan dengan tujuan
tertentu, bahan atau prosedur yang ditargetkan pada pencapaian tujuan tersebut, dan pengukuran
yang menentukan perubahan yang diinginkan pada perilaku. (Dick, 1996; 96-97) Dengan
membandingkannya dengan istilah kurikulum, Snelbecker, seperti yang dikutip oleh Reigeluth,
menyatakan bahwa perbedaan utama antara kurikulum dan pembelajaran adalah bahwa kurikulum
berkaitan dengan apa yang diajarkan sedangkan pembelajaran berkaitan dengan bagaimana
mengajarkannya (1999; 6).

Uraian di atas, tampaklah bahwa pembelajaran bukan menitik berat pada “apa yang dipelajari”,
melainkan pada “bagaimana membuat pemelajar mengalami proses belajar, yaitu cara-cara yang
dilakukan untuk mencapai tujuan yang berkaitan dengan cara pengorganisasian materi, cara
penyampaian pelajaran, dan cara mengelola pembelajaran. Gredler memberikan contoh tentang
transfer pengetahuan adalah sebagai keterampilan memainkan tuts piano dengan mempelajari untuk
memainkan alat musik lain. Anglin menegaskan bahwa pembelajaran (instruction) terjadi di luar diri
pemelajar yaitu sebagai suatu cara mengorganisir, memberikan informasi bagi pemelajar yang dapat
melibatkan apapun unsur-unsur yang penting seperti penyajian informasi, persediaan contoh-contoh,
latihan-latihan, dan umpan balik. (Anglin, 1991; 203-204). Seterusnya Robert and Walter
mengemukan pembelajaran yang efektif yang dapat membuat pemelajar untuk mendapat
keterampilan-keterampilan, pengetahuan, atau sikap-sikap, dan pemelajar senang belajar dalam
pembelajaran tersebut (Reiser and Dick, 1969; 3). Menurut Vygosky suatu pembelajaran yang efektif
bila pembelajar itu melanjutkan pengembangan-pengembangan (Gage and Berliner, 1992; 123).
Lebih lanjut, Gredler menjelaskan bahwa mentransfer pengetahuan (transfer of learning) merupakan
tingkat kesamaan antara tugas-tugas belajar sebelumnya (Gredler, 1991; 1020).
Dalam penggunaan sehari-hari, istilah pembelajaran sering kali disamakan dengan istilah pengajaran,
padahal keduanya memiliki asal kata yang berbeda. Pembelajaran berasal dari kata dasar “belajar”
sedangkan pengajaran berasal dari kata dasar “mengajar”. Dengan demikian istilah pembelajaran
lebih berfokus pada proses belajar yang terjadi pada diri pemelajar, sedang istilah pengajaran lebih
berorientasi pada proses mengajar yang dilakukan oleh pembelajar. Menurut Miarso, pembelajaran
adalah usaha mengelola lingkungan belajar dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara
positif dalam kondisi tertentu, sedangkan pengajaran usaha membimbing dan mengarahkan
pengalaman belajar kepada peserta didik yang biasanya berlangsung dalam situasi formal/resmi.
(Miarso, 2004; 528).

2. Komponen-Komponen yang Mempengaruhi Kualitas Pembelajaran
Dalam peningkatan kualitas pembelajaran, maka kita harus memperhatikan beberapa komponen
yang mempengaruhi pemebalajaran, komponen-komponen tersebut, adalah sebagai berikut:

diagram. peningkatan tata tertib/disiplin. Namun. bentuk U atau bentuk berjajar atau secara bebaris. ruang Bimbingan Konseling. peta. b. Selain itu. model. penggunaan dana. Monitoring dan Evaluasi. dan pemanfaatan fasilitas pembelajaran. Ruangan kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan peserta didik. meliputi alat peraga/alat praktik. pengelolaan guru. motivasi kerja. psikologis. ruang keterampilan. Kurikulum. bakat dan minat. pengelolaan peserta didik. f. Hasil karya yang dipajangkan adalah hasil kerya perorangan. karangan. meliputi perencanaan anggaran (RAPBS). Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah :  Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi). dan lembaga pendidikan lainnya. Guru. dan Menyenangkan. disiplin dan kreatif. komitmen terhadap tugas. i. meliputi Kepala Sekolah sebagai supervisor di sekolahnya. Inovatif. Pengelolaan Dana. meliputi latar belakang pendidikan. Pengelolaan tempat belajar meliputi pengelolaan beberapa benda/objek yang ada dalam ruang belajar seperti meja-kursi. pengawas sekolah dan komite sekolah sebagai supervisor. psikologis. dan biologis.  Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan  Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar  Persamaan dan perbedaan dalam bakat . pengalaman kerja. kelompok. Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (udhiezx. meliputi hubungan sekolah dengan instansi pemerintah. perabot sekolah. penguasaan materi/kurikulum. Sekolah merupakan sarana yang memberikan kebebasan pada guru dan peserta didik untuk mengembangkan kreativitas yang berkaitan dengan pembelajaran. Pengelolaan Tempat Belajar Tempat belajar seperti ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam Pendekatan Creating Learning Communities for Children (CLCC) atau PAKEM/PAIKEM yaitu Pendekatan Pembelajaran yang Aktif. hubungan dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat. meliputi lingkungan/lingkungan sosial ekonomi. beban mengajar. kondisi ekonomi. Pengelolaan meja-kursi dapat disusun secara kelompok. meliputi penampilan guru. d. kepribadian. Kemitraan. benda asli. Sarana dan Prasarana Pendidikan. ruang UKS dan ruang serba guna. sudut kelas dipergunakan untuk memajangkan hasil kreativitas peserta didik. sumber dana. Susunan ini tergantung strategi yang akan digunakan dan tujuan yang akan dicapai. seperti dinding. Pengelolaan Sekolah. atau sumber belajar yang ada di kelas. pajangan sebagai hasil karya peserta didik. hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi peserta didik untuk bekerja lebih baik menimbulkan inspirasi bagi peserta didik lain. Pajangan dapat berupa gambar. Pengelolaan Proses Pembelajaran. dan kepemimpinan. sarana dan prasarana. Kreaktif. 1. e. g. dapat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. budaya dan geografis. perpustakaan. c. tembok kelas. meliputi pengelolaan kelas. Efektif. Peserta didik. disarankan untuk tidak menggunakan bentuk berjajar-berbaris. laboratorium. penggunaan metode/strategi pembelajaran. B. h.wordpress: 4) melihat peserta didik sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek (inteligences. dan sebagainya. dan biologis). dan ditata dengan baik. intelegensi.a. Kemudian peserta didik perlu mendapat bantuan lantara mereka berbeda dalam inteligences (kecerdasan). puisi. laporan dan pengawasan. jika diinginkan intensitas interaksi antar peserta didik yang tinggi.

namun sebenarnya tidak memperhatikan penjelasan dan perintah guru. dan berani menampilkan diri. dan tidak berkonsentrasi. c. Peserta didik Pendiam/pemalu Peserta didik ini tidak banyak aktivitas fisiknya. Secara umum sifat dan perilaku peserta didik dapat digolongkan sebagai berikut. Beberapa pertimbangan perlu diperhitungkan sewaktu pengelolaan peserta didik antara lain jenis kegiatan. 1. misalnya tidak mau duduk di tempatnya ketika . suka melamun. tetapi ia selalu menurut perintah guru. atau klasikal. berpasangan. tetapi guru juga harus waspada dan jeli terhadap peserta didik tersebut. Selain itu peserta didik ini juga berperilaku seperti menarik perhatian guru dan temannya yang lain dan berbuat sesuatu hal yang aneh dan berbuat sesuai dengan kemauannya sendiri. guru sulit mengidentifikasinya. tujuan kegiatan. dengan cara banyak bertanya dan memberi perintah secara khusus. Hal yang sangat penting perlu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik peserta didik dan teknis pembelajaran peserta didik (individual dan kelompok). Perintah-perintah secara klasikal terus diulang secara khusus pada peserta didik ini. Mengenal Karakteristik Peserta didik Guru harus mengenal karakteristik. pengelolaan peserta didik dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual. 1. kelompok kecil. Biasanya peserta didik ini prestasinya kurang begitu baik. karena dia cenderung diam. 1. perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap peserta didik memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. Untuk itu. Peserta didik Super Aktif (Hyper active) Peserta didik yang super aktif dan bersifat negatif adalah peserta didik yang mengganggu kondisi belajar teman-temannya di kelas dan merusak konsentrasi. Kelihatannya memandang ke depan. Keterlibatan peserta didik. Walaupun selalu mengikuti perintah guru dia cenderung pasif. C. Ada juga peserta didik yang tampak tenang kalau ada guru. tetapi kalau tidak ada guru peserta didik tersebut juga suka mengganggu teman-temannya atau melakukan kegiatan yang mengganggu ketenangan kelas. 1. waktu belajar dan ketersediaan sarana/prasarana. 1. tidak malu bertanya. Guru harus memperhatikan peserta didik yang seperti ini. Peserta didik Perenung Selain peserta didik pendiam terdapat pula peserta didik perenung. Peserta didik seperti ini juga tidak suka bertanya. Pengelolaan Peserta didik Biasanya. Guru harus memahami bahwa setiap peserta didik memiliki karakter yang berbeda-beda. sikap dan perilaku peserta didik di kelas. Persamaan dan perbedaan dalam sikap  Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan  Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman  Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah  Persamaan dan perbedaan dalam minat  Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita  Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan  Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian  Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan  Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan. agar dapat memberikan bimbingan dan penanggulangan masalah jika diperlukan. Oleh karena itu guru harus sering bertanya dan memberi kesempatan pada peserta didik ini agar dia lebih aktif.

atau oleh kebutuhan pribadi. mengabaikan kebersihan kelas dan kebersihan diri sendiri. berpikir yang kendalikan oleh dirinya sendiri. Peserta didik yang berperilaku seperti itu. karena ada juga peserta didik yang aktif yang malas.pelajaran berlangsung dengan alasan mengambil sesuatu. jika tidak juga teratasi. Gejala sifat malas ini antara lain: jarang mengerjakan tugas. Anak yang seperti ini harus mendapat pendidikan khusus bukanlah pada sekolah-sekolah umumnya. 1. Hal ini diharapkan dapat memacu Motivasi peserta didik untuk belajar lebih lanjut secara mandiri Kecepatan tahapan belajar (by pace) Memberikan peluang kepada peserta didik untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya. Anak yang berperilaku hyper aktif tidak sama dengan anak autism. harus diketahui oleh guru tentang riwayatnya sejak dari rumah tangga dan selalu bertukar pikiran dengan orang tua anak. Pada prinsipnya peserta didik diharapkan aktif dalam arti yang positif. serta kegiatan yang dilakukan peserta didik Tingkat kemampuan (by level) Memberikan peluang kepada setiap peserta didik untuk mencapai kompetensi secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. 2. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi . tegas dan dapat berkonsentrasi penuh pada saat-saat tertentu. dan penanganannya harus khusus. Peserta didik Malas Peserta didik pemalas biasanya mengikuti sifat perenung. Guru harus memberikan perhatian khusus terhadap peserta didik ini. misalnya berani bertanya dan berani mengemukakan pendapat. anak autismkecendrungannya menyendiri atau berbuat sesuai dengan dengan kecendrungannya sendiri. Selain itu kurang disiplin dan sering terlambat. berpikir dicirikan dengan autisme. Tabel 1: Faktor keberagaman karakteristik peserta didik Faktor keberagaman Pengelolaan peserta didik Isi (by content) Memberikan peluang kepada peserta didik untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama atau berbeda Minat dan motivasi Peserta didik (by Memberikan peluang kepada peserta didik interest) untuk berkreasi sesuai minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. keinginan berdasarkan impian khayal. d. 1. pekerjaan rumah. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran. Peserta didik seperti ini ada kecenderungan tidak serius melakukan tugas yang diberikan guru. Maka peserta didik tersebut harus diberikan bimbingan dan konseling. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing peserta didik. sementara autistic thinking (cara berpikir autistik). guru mengusulkan kepada orang tua anak agar dia membawa anaknya ke ahli jiwa dan ke dokter jiwa. walaupun tidak selalu demikian.

tertulis. Sejak awal guru harus sudah mulai memperhatikan dan mempelajari keadaan. guru harus memperhatikan peserta didik secara individual. sulit dipisahkan antara belajar klasikal dan individual. guru dapat mendatangi peserta didik untuk memberikan bimbingan dan arahan secara individual. dan sebagainya. Individual dan Kelompok Pada kenyataan sehari-hari dalam pelaksanaan belajar di kelas. Saat itulah guru akan mengetahui sikap dan perilaku peserta didik yang sebenarnya. Oleh karena itu guru harus pula meneliti. Waktu (by time) Memberikan perhatian kepada setiap individu peserta didik yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. Dengan demikian perhatian guru terhadap peserta didik tidak terbatas hanya pada waktu belajar berlangsung tetapi juga ketika peserta didik di luar kelas. Di luar kelas biasanya peserta didik tidak terikat dengan aturan kelas. Pada waktu guru memberikan tugas secara klasikal. Belajar Klasikal. Siklus cara berpikir (by circular Memberikan kesempatan kepada setiap sequence ) peserta didik untuk menguasai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih Struktur pengetahuan (by structure) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai. benda kreasi. Pada pelajaran eksakta misalnya. misal: dari yang mudah ke sulit. tidak ada yang ditahan atau disembunyikan. karena tidak dilihat guru. sikap dan perilaku peserta didik secara individual. Walaupun bentuk belajarnya klasikal dalam arti guru memberi penjelasan dan perintah pada seluruh peserta didik dan peserta didik duduk secara klasikal. Pendekatan pembelajaran (by teaching Memberikan perlakuan yang berbeda style) kepada setiap individu sesuai dengan keadaan peserta didik 1. pelajaran serta kegiatan yang dilakukan peserta didik Reaksi yang diberikan (by respond) Memberikan kesempatan atau peluang kepada peserta didik untuk menunjukan respon melalui presentasi/menyajikan hasil karyanya secara lisan. mereka cenderung bersikap wajar tidak dibuat-buat. namun kenyataannya peserta didik mengerjakan tugas secara individu. Pendekatan-pendekatan individual perlu dilakukan di luar kelas. dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. sehingga guru mengetahui kelemahan-kelemahan . Peserta didik pada sekolah awal seperti SD dan SMP (kelas I) banyak memerlukan penanganan dan perhatian secara individual. dari dekat ke jauh. memeriksa dan memperhatikan kerja peserta didiknya secara individual pula. Perlu dihindari agar dalam satu tahun pelajaran tidak ada satu orang peserta didik yang tidak pernah ditanya atau diberi tugas. 2.

keberanian menyampaikan pendapat. dan lain sebagainya. dan kesimpulan akhir tetap harus ditegaskan oleh guru agar setiap peserta didik memperoleh pemahaman yang sama. menghargai pendapat orang lain dan memecahkan masalah bersama-sama. dan 4) berpikir kreatif dari materi dan persoalan yang diberikan kepada peserta didik. Karena itu. Para ahli menyebutkan jenis pertanyaan ini sebagai ”pertanyaan produktif”. 1. 1) menarik kesimpulan. Kegiatan pembelajaran berkelompok ini berguna untuk melatih peserta didik bekerjasama. Belajar secara kelompok perlu dirancang dengan sebaik-baiknya oleh guru. pemberian umpan balik. dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga memungkinkan semua peserta didik terlibat baik secara mental maupun secara fisik. Berbagai strategi pembelajaran dapat dilaksanakan untuk mengaktifkan peserta didik. metakognisi. gaya berpikirdivergen. dan sukar untuk diterapkan pada pada pembelajaran paedagogi (pendidikan anak-anak). Namun demikian memungkinkan seorang guru mengaktifkan pembelajaran bagi peserta didik SD/MI seperti pembelajaran tematik pada halaman berikut. Mengaktifkan Peserta didik Dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Kelemahan itu mungkin merupakan kelemahan umum yang dapat digunakan oleh guru sebagai bahan untuk memberikan bimbingan pada seluruh peserta didik secara klasikal.setiap peserta didik. Peserta didik tidak begitu saja dikelompokkan. karena aktivitas setiap peserta didik harus dibina dan dikembangkan. (3) belajar secara kelompok. 3 berpikir kritis. Pertanyaan yang Merangsang Peserta didik Berpikir dan Berproduksi Alat membelajarkan yang paling murah tetapi ampuh adalah bertanya. contectual Teaching and Learning. sedikitnya ada empat hal strategi yang perlu dikuasai guru dalam pengelolaan kegiatan pembelanjaran yaitu. Guru harus memberikan penugasan- penugasan tentang materi pelajaran yang akan dibahas. Dengan ihi diharapkan suatu hasil bahwa peserta didik akan mampu. Apa tujuan guru bertanya kepada peserta didik? Tujuan :Mengharapk Seberapa besar kemungkinan peserta didik bertany an jawaban menjawab jika mereka a benar? tidak yakin . 1. Selama belajar kelompok berlangsung guru harus mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh setiap peserta didik. (1) penyediaan pertanyaan yang mendorong berfikir dan berproduksi. dan terus diberi tugas. Inti dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat pertanyaan yang mendorong peserta didik bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah. Peserta didik yang berperan aktif dan penerapannya dalam pembelajaran androgogi (pendidikan orang dewasa). guru perlu merencanakan tugas dan alat belajar yang menantang. Learning is an active process of constructing rather than acquiring knowledge (Constructivism) Belajar adalah merupakan proses aktif untuk membangunkan pengetahuan Dengan demikian. berdiskusi. Pertanyaan dapat membuat peserta didik berpikir. belajar kelompok dan penyediaan program penilaian yang memungkinkan semua peserta didik mampu unjuk kemampuan/mendemontrasikan kinerja (performance) sebagai hasil belajar. 2) mengambil keputusan. dan (4) penyediaan penilaian yang memberi peluang semua peserta didik mampu melakukan unjuk perbuatan. D. (2) penyediaan umpan balik yang bermakna. hal ini merupakan cara mengasah kecerdasan logico- matematiknya. seperti student centered. 1.

percobaan atau penyelidikan Tidak Pertanyaan yang Apa nama benda itu? produktif dapat dijawab hanya dengan melihat. atau penyelidikan Imajinatif Interpretatif (Diperlihatkan gambar gadis termenung di pinggir laut) pertanyaan yang kemudian diajukan pertanyaan. percobaan. Kategori Arti Contoh pertanya an Terbuka Pertanyaan yang Mengapa segitiga ini disebut segitiga sama sisi? memiliki lebih dari sisi satu jawaban benar Tertutup Pertanyaan yang Berapakah jumlah sudut dalam suatu segitiga memiliki hanya satu jawaban benar Produktif Pertanyaan yang Berapakah luas daerah segitiga sembarang ini? hanya dapat dijawab melalui pengamatan. Kategori pertanyaan yang termasuk jenis pertanyaan ini antara lain pertanyaan produktif. Merangsang berpikir dalam arti merangsang peserta didik menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabmya bukan mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru. terbuka. dan imajinatif. Pertanyaan ini dapat digunakan untuk tujuan merangsang peserta didik berfikir. tanpa melakukan pengamatan. maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada merangsang peserta didik berpikir. Apa jawabannya di luar yang benda/gambar/kejad sedang di ian yang diamati pikirkan gadis t ersebut? . jawabannya benar? :Merangsang Akibatnya peserta didik sering tak berani menjawab pertanyaan peserta didik guru sekalipun jawabannya mudah berpikir dan berbuat? Jika salah satu tujuan mengajar adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk peserta didik berpikir.

atau”betul!”. 1. .”Ini alasan yang bapak tidak banyak tahu” . dan bertanggung jawab untuk menilai mutu gagasan sendiri. Belajar Secara Kelompok Suatu satu cara mengaktifkan peserta didik adalah melalui belajar kelompok.“Baik”. Jika peserta didik belum biasa bekerja efektif dalam kelompok. Penyediaan Umpan Balik Yang Bermakna Umpan balik adalah respon/reaksi guru terhadap perilaku peserta didik.  Tugas itu dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat saja. bagaimana ananda berpikir seperti itu?” Berargumentasi . merupakan umpan balik yang memvonis. Faktual Pertanyaan yang Apa yang dipakai jawabannya dapat gadis tersebut? dilihat Pada benda/kejadian yang diamati 1. dapat berfikir. bagaimana pendapat teman ananda?” Encourage testing viability of ideas and seeking alternative views (Constructivism) Pembelajaran mendorong memunculkan gagasan dan cara pandang Umpan balik yang bersifat memvonis menjadikan peserta didik tergantung pada guru. Apa yang dilakukan guru ketika peserta didik bertanya? Ketika peserta didik berpendapat? Ketika peserta didik menunjukan hasil kerja? Ketika peserta didik membuat kesalahan? Umpan balik yang baik adalah respon guru yang bersifat tidak memvonis ”salah!”.”Bukan!”. Mereka tidak dapat atau tidak berani memutuskan/menilai sendiri apa yang dilakukannya. apakah di Mars Bertanya balik: “Menurut ananda.”Ananda telah meyakinkan bapak”“Argumentasi ananda sangat logis. Berikut adalah contoh umpan balik yang tidak memvonis.”Bapak paham. Sedangkan umpan balik yang tidak memvonis membuat peserta didik merasa dihargai. Perilaku peserta didik Umpan balik dari guru Bertanya:” Pak/Bu. ini penting bagi ananda” . Ucapan peserta didik yang berbunyi:”Pak/Bu. maka guru boleh menetapkan tugas untuk masing-masing kelompok dengan mempertimbangkan berapa hal seperti:  Kelompok kecil (dua sampai tiga peserta didik) dan guru menetapkan anggota kelompok. ini betul tidak?” “ini boleh tidak?”merupakan ungkapan yang menunjukan ketergantungan peserta didik kepada guru.”Tidak”!”. terdapat kehidupan?” bagaimana?” Memberikan pendapat:”di Mars pasti ada Bertanya:”Mengapa ananda berpendapat kehidupan?” seperti itu Mengerjakan sesuatu berbeda dari Meminta penjelasan tentang cara berpikir biasanya/yang seharusnya peserta didik:”Dapatkah ananda Jelaskan.

Dalam hal ini. Dengan cara seperti ini. para peserta didik perlu memilah-milah perincian setepatnya dari beberapa bagian pekerjaan.  Beberapa perintah/instruksi pengerjaan tugas membolehkan peserta didik untuk memberikan saran. Kegiatan ini perlu dikendalikan oleh guru. Guru menjamin bahwa semua peserta didik di dalam kelas menyumbangkan dan tidak menunjukkan melalui perkataan atau perbuatan bahwa satu jawaban lebih berharga atau tepat.  Tugas mungkin rumit.  Beberapa sumber belajar dapat dipilih oleh peserta didik. guru dapat menetapkan tugas dan kelompok.  Tugas dapat ditambahkan lebih banyak.  Guru perlu menyediakan sumber belajar. umpanya “Manakah dari gagasan-gagasan ini yang kamu setujui atau tidak setujui dan mengapa?” “Apakah beberapa gagasan ini perlu dikelompokkan bersama?” Suatu sidang curah pendapat dapat digunakan untuk: . Terdapat juga suatu fokus penting tentang topik belajar khusus dan produk kerja kelompok yang akan memperlihatkan bahwa pembelajaran sudah berlangsung. misalnya dalam pendekatan. Pada tahap-tahap permulaan.  Sumber belajar dapat meliputi beragam media dan bahan.  Penilaian dapat dibicarakan dengan peserta didik melalui diskusi informal dengan kriteria terstruktur formal. peserta didik akan mampu melakukan kegiatan secara mandiri yang dicirikan dengan beberapa hal antara lain:  Mereka memutuskan jumlah dan anggota kelompok. guru meminta kepada peserta didik untuk memberi kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang ditulis di papan tulis. Dalam sidang curah pendapat (brain storming).  Tugas dapat tersebar untuk masa yang panjang atau lama melalui peserta didik berunding dengan guru membahas jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Begitu daftar sudah selesai guru memperkenankan diskusi- diskusi. Tugas itu sederhana. Untuk peserta didik yang sudah lebih berpengalaman bekerja dengan cara ini. semua sumbangan diterima dan tidak ada diskusi mengenai hal-hal itu. memilih metode eksperimen. tetapi dengan batas waktu yang jelas dan ditetapkan oleh guru.  Perintah-perintah jelas dan diberikan selangkah demi selangkah. yang sedikit berbeda di dalam kelompok. serta penilaian individual atau kelompok dapat dilakukan.  Tugas dapat dibagi dalam bagian-bagian atau merupakan suatu pilihan dari sejumlah pilihan yang ditetapkan oleh guru.  Peran peserta didik dalam kelompok dapat beragam dan beberapa keputusan tentang peran ini dapat dibuat oleh peserta didik. Suatu bagian penting dari tugas ini adalah bekerjasama. Cara lain untuk mengetahui tahap awal pengetahuan peserta didik dari serangkaian kegiatan bisa dilakukan curah pendapat (brain storming).  Guru menerangkan dengan jelas peran setiap peserta didik. tetapi guru tidak boleh membatasi atau mengarahkan alur gagasan-gagasan peserta didik. atau memutuskan bentuk produk pekerjaan yang mereka hasilkan.  Penilaian bersifat informal dan guru perlu membahas dan mendiskusikan tugas itu dengan peserta didik. ketrampilan bekerjasama turut dikembangkan.  Peran setiap peserta didik dalam kelompok ditetapkan secara musyawarah untuk mufakat (konsensus). sehingga:  Kelompok dapat lebih besar dan kadang-kadang peserta didik boleh memilih siapa anggota kelompoknya.

tentu diselesaikan sebagai kegiatan terakhir dalam urutan pengajaran tentang suatu topik. Oleh karena itu. kemudian menghubungkannya dengan garis-garis dan sepanjang garis itu ditulis suatu kata atau ungkapan yang menjelaskan kaitan antar kata-kata atau konsep-konsep. Penilaian yang dilakukan dalam keadaan khusus diragukan ketepatan hasilnya dalam mengambarkan keadaan peserta didik yang sebenarnya. “Apa yang kamu ketahui tentang…?  Merencanakan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab sebagai suatu bagian proyek kelompok dari kegiatan kerja kelompok. 1. 1. tetapi belum tentu bagi peserta didik lain. guru akan bertanya kepada peserta didik. peserta didik akan ditempatkan didalam kelompok-kelompok dua atau tiga orang untuk membangun peta melalui mufakat (konsensus)  Memberi umpan balik tentang sejauh mana peserta didik sudah memahami topik itu. Untuk maksud ini. 1989). guru dapat memberi kepada peserta didik sejumlah kata kunci atau gagasan terkait dengan topik yang akan dipelajari. apakah tes masih diperlukan? Jika penilaian dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar peserta didik dan belajar itu unik bagi tiap peserta didik. terpisah dari kegiatan pembelajaran. seperti tes. Informasi tersebut diperlukan agar guru dapat menentukkan tugas/kegiatan atau bantuan apa yang harus diberikan berikutnya kepada peserta didik agar pengetahuan.  Menyediakan suatu titik tolak untuk diskusi antar peserta didik guna memperjelas pengertian mereka. sehingga guru dapat merencanakan urutan pembelajaran selanjutnya. The focus is on the process not product (Constructivism) Fokus pembelajaran pada proses tidak pada hasil Pemilaian jenis ini disebut penilaian berbasis kelas. Dalam hal ini. peta konsep. Satu jenis tugas dapat mengungkapkan hasil belajar seseorang peserta didik. Proposisi-proposisi merupakan dua atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Dahar. dalam waktu yang khusus. dan sikap mereka lebih berkembang. Penilaian berbasis kelas diuraikan pada bab berikutnya. tentang apa yang sudah dikuasai dan belum dikuasai peserta didik. tidak diadakan secara khusus. Peserta didik mengatur sejumlah konsep atau kunci-kunci pada satu halaman kertas. Untuk maksud ini. Kegunaan Peta Konsep Peta konsep dapat digunakan untuk:  Membantu guru mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta didik tentang suatu topik sebelum kelas mulai mengerjakannya. ‘Apa yang harus kita upayakan mencarinya tentang…? 1. Mengembangkan Pembelajaran melalui Peta Konsep Salah satu cara peserta didik membangun pemahaman adalah melalui “Peta konsep”. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Penilaian terhadap Performance Menilai adalah mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik. Mendorong guru menemukan sejauhmana pengetahuan peserta didik tentang suatu topik sebelum kelas mulai mengerjakannya. Untuk maksud ini. a. Bila dari hasil mengerjakan tugas dapat diketahui kemampuan apa saja yang sudah dikuasai peserta didik. sehingga guru dapat merencanakan urutan pembelajaran selanjutnya. kemampuan. karena keadaan khusus dapat merupakan tekanan psikologis sehingga peserta didik merasa cemas dalam menghadapinya. maka modus/medium untuk penilaian tidak cukup satu jenis. penilaian sebaiknya dilakukan secara alami dalam konteks guru membelajarkan dan peserta didik belajar. Peserta didik dapat diberi semua konsep kunci tentang suatu topik dan . Peta konsep dapat dikembangkan secara individual atau dalam kelompok kecil. Untuk maksud ini guru akan bertanya.

Lalu guru memberi tahu kepada peserta didik bahwa ini adalah contoh yang baik. Siput bukan binatang menyusui. Guru mengajak peserta didik untuk mengolah gagasan itu dengan menempatkan gambar-gambar. kalimat-kalimat atau diagram-diagram yang disajikan dalam dua tumpukan yang berbeda. b. Satu tumpukan merupakan contoh yang baik dari gagasan yang ia pikirkan dan tumpukan yang satu lagi berisi hal-hal yang tidak sesuai dengan gagasannya. Untuk maksud ini. Guru memilih gagasan yang dia ingin para peserta didik mengenalinya. Dalam matematika. Gunakanlah gambar bunga sebagai contoh yang baik dan kata ”berlari” sebagai contoh yang tidak sesuai dengan konsep. Jika peserta didik tidak mampu mengenali gagasan itu. Kata ini ditempatkan dalam tumpukan “bukan contoh baik”. Bagaimana mengajarkan pembuatan peta konsep akan dibahas di bawah ini. misalnya konsep “Fungsi”. guru mungkin masih menyajikan beberapa contoh untuk memastikan bahwa semua peserta didik sudah mengenali gagasan itu. Pada waktu hampir semua peserta didik mampu menempatkan contoh-contoh kedalam tumpukan yang benar. dan menggambarkan. Guru lanjutkan lagi menunjukkan contoh-contoh yang baik dan contoh-contoh yang tidak cocok dengan gagasan itu. kata-kata. Fungsi terdiri dari fungsi kuadrat dan fungsi linear. yaitu: Pilihlah suatu konsep yang mau dikembangkan. Langkah pertama adalah menyajikan kepada peserta didik contoh yang baik dari gagasan umpamanya gambar seekor gorilla. mengajak peserta didik untuk membantunya memutuskan ke dalam tumpukan mana contoh itu akan ditempatkan. Dalam kegiatan ini guru memberi tugas peserta didik untuk mengerjakan konsep atau gagasan yang diilustrasikan. Sesudah penjelasan yang baik dan jelas diberikan. guru akan memberi peserta didik dua buah daftar kunci. benda-benda. guru harus bertanya kepada dua atau tiga peserta didik yang tampaknya memahami gagasan itu untuk menjelaskan bagaimana mereka memutuskan di mana contoh ditempatkan. Ada beberapa langkah yang harus diikuti. meminta mereka menghubungkannya dalam suatu peta konsep. inilah contoh pertama dalam tumpukan contoh-contoh yang baik. 1989). dan memiliki kemiringan . bahwa pada peserta didik itu telah berlangsung belajar bermakna. konsep segitiga dapat dikembangkan dengan menunjukkkan gambar-gambar atau benda-benda di dalam kelas yang memang atau yang bukan segitiga. maka guru harus memberikan jawabannya. mengerti. Fungsi linear berbentuk garis lurus. mereka dapat diberi satu atau dua gagasan kunci dan meminta membangun suatu peta konsep dengan menambahkan pada gagasan-gagasan ini dan mengembangkan suatu peta yang menjelaskan semua hal yang sudah dipelajarinya. Karena itu hendaknya setiap peserta didik pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan. Menyusun Peta Konsep Peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna (Dahar. guru hendaklah mengembangkan konsep kata benda. Sama halnya dengan Bahasa Indonesia. binatang menyusui.  Mengaitkan gagasan-gagasan dan pengertian yang dikembangkan dalam suatu kegiatan dengan apa yang mereka pelajari dalam kegiatan lain. satu daftar dari setiap topik dan meminta peserta didik mengumpulkan kata-kata dari kedua daftar dalam peta konsep mereka. umpamanya binatang menyusui. Sebagai kemungkinan lain. Sekarang guru menunjukkan kepada peserta didik contoh-contoh yang jelek dari gagasan itu seperti kata “siput”. Dalam pelajaran matematika ada suatu konsep yang dikenal dengan nama “fungsi”.

Urutkan konsep itu dari yang paling inklusif kepada yang paling tidak inklusif (contoh-contoh) Susunlah konsep-konsep itu di atas kertas. sebagai hasilnya. Semua binatang menyusui mempunyai sepasang angota badan seperti tangan atau kaki. sehigga. surat kabar dan sebagainya. Bentuk parabola banyak terdapat di alam nyata. mulai dengan konsep yang paling inklusif di puncak ke konsep yang paling tidak inklusif. bahan rujukan. Misalkan ada suatu pertanyaan. dan mempunyai bulu sedikitnya pada satu tahap dalam siklus hidupnya. Tidaklah selayaknya mengajukan suatu pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dengan mudah ditemukan didalam teks atau naskah. Lalu. Tentukan konsep-konsep yang relevan. Dengan demikian.(gradient). Demikian pula konsep kemiringan banyak dipakai dalam kehidupan. peserta didik harus membandingkan dan mendiskusikan jawaban-jawaban yang sudah mereka tuliskan. mengunakan beragam kosa kata. Hal demikian sering mengkondisikan peserta didik hanya menyalin jawaban dari sumber itu. Pertanyaan yang lebih tepat adalah ‘cari uraian tentang binatang menyusui didalam teks dan gunakanlah itu untuk memutuskan binatang-binatang berikut mana yang sesuai dimasukan dalam kelompok itu. maka mereka haruslah aktif mengumpulkan informasi. dapat dapat Gambar 1: Suatu peta konsep dari “Fungsi”. . kelenjar susu. Membandingkan dan Mensintesiskan Informasi Pemahaman informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber belajar dapat ditingkatkan jika peserta didik bekerja dalam kelompok dan setiap anggota kelompok diberi sumber belajar yang berbeda untuk digunakan dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang sama. Konsep kunci dari keduanya adalah akar-akar persamaan tersebut. mengasuh anaknya. 6. 1. mereka akan mampu memberi satu jawaban yang memuaskan. Hubungkan konsep-konsep itu dengan kata penghubung. Menggali Informasi dari Media Cetak Jika peserta didik diminta untuk mengerti dan bukan sekedar mengingat informasi yang ditemukannya di dalam buku pelajaran. Peta konsep fungsi dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini. Apakah ciri-ciri binatang menyusui? Tidak tepat jika hal-hal berikut dapat ditemukan di dalam teks. Konsep yang relevan dari konsep “fungsi” adalah fungsi – kuadrat – linear – gradient – garis lurus – parabola – akar-akar – sumbu simetris – puncak – pembuat nol fungsi – rumus abc – melengkapkan kuadrat – factor. untuk peserta didik disediakan gambar-gambar dan uraian-uraian. Fungsi kuadrat grafiknya berbentuk parabola dan dapat diubah menjadi persamaan kuadrat.

isi mata pelajaran tidak berubah secara berarti/signifikan. mengatur data dan tiba pada suatu kesimpulan. Melakukan Kerja Praktik Kerja praktik selalu menjadi bagian penting dari pembelajaran sains. mereka akan mengembangkan suatu hipotesis. penjelasan dan latihan-latihan dalam buku pelajaran yang ada masih dapat digunakan.  Sebelum memulai eksperimen. mengumpulkan data dan tiba suatu kesimpulan. yakni diberi hanya rincian topic yang sedang dibicarakan dan mungkin beberapa gagasan tentang beberapa aspek topic yang mereka selidiki. Namun guru harus menggunakan buku-buku secara berbeda dalam suatu cara yang meningkatkan pengertian dan bukan hanya mengingat isi buku. Misalkan ada suatu contoh. memilih peralatan yang tepat. guru mungkin harus mengembangkan seperangkat pertanyaan baru untuk diberikan kepada peserta didik pada waktu ia mengingingkan mereka menemukan informasi dalam buku pelajaran. Namun.  Mereka dapat diberi suatu kumpulan peralatan yang tepat dan suatu pertanyaan untuk diselidiki. Umpamanya:  Suatu buku pelajaran mungkin menggambarkan peran-peran setiap orang dengan tanggung jawab dalam administrasi kabupaten/kota. Guru mungkin harus merencanakan tugas-tugas dimana peserta didik menerapkan informasi dalam buku pelajaran untuk menjamin bahwa mereka sudah mengerti apa yang dibacanya. Kelas dapat mendiskusikan jenis data yang perlu dikumpulkan. sehingga informasi. Kemudian.  Mereka dapat diberi pertanyaan penelitian eksperimen terbuka (tidak terbatas). Mereka diberitahu apa yang mereka coba temukan dan kemudian diminta untuk memisahkan perintah-perintah kedalam susunan yang dapat dikerjakan sebelum mereka memulai eksperimen. mengunpulkan data. kerja praktik tradisional jenis resep atau selangkah demi selangkah bukanlah strategi belajar yang efektif. Pada waktu hasil-hasil sudah diperoleh. Daripada meminta menyalin ini dan mempelajarinya. Jika hasil- hasil sesuai dengan harapan. mereka diminta untuk memutuskan apakah hasil-hasil sesuai atau tidak dengan ramalan-ramalan mereka. . maka mereka hendaklah menjelaskan mengapa mereka mengharapkan hasil-hasil itu. Suatu catatan tentang penggunaan buku pelajaran yang sekarang tersedia. Dalam waktu yang singkat.  Satu strategi sederhana adalah memberi para peserta didik perintah dalam suatu susunan acak. Para peserta didik mungkin mengikuti perintah-perintah sejenis resep itu dan memperoleh hasil-hasil yang diharapkan tanpa memahami konsep yang sedang diselidiki atau pengertian tentang pentingnya hasil-hasil yang diperoleh. Jika hasil-hasil sesuai dengan ramalan. merancang metode eksperimen. peserta didik hendaklah diminta untuk memikirkan-ulang metode eksperimen untuk memutuskan apakah ramalan yang salah atau terdapat kesalahan dalam cara pelaksanaan prosedur. Terdapat beberapa cara yang menjamin bahwa peserta didik secara aktif terlibat dalam kerja praktik mereka dan bahwa mereka belajar dari pengalaman itu.Ini sering merupakan strategi yang efektif untuk dipakai oleh kelompok-kelompok pakar ketika pendekatan gergaji ukir(jigsaw) terhadap proyek penelitian digunakan. mereka hendaklah diminta untuk meramalkan hasil-hasilnya. contoh- contoh. secara khusus ditulis berdasarkan kurikulum terbaru tidak tersedia dihampir semua sekolah. Dalam kegiatan seperti itu. Dalam banyak hal. 8. buku-buku pelajaran baru. mereka merancang prosedur eksperimen Sendiri. Guru harus bekerja dengan buku-buku pelajaran yang sudah ada.

peserta didik dapat diminta untuk menyamakan peran-peran ini dengan hal-hal dalam suatu daftar situasi atau peraturan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  Suatu teks mungkin berisi suatu diagram dari struktur dan lapisan-lapisan bumi. Para peserta didik dapat diminta untuk membayangkan melakukan perjalanan dalam suatu sangkar terlindungi dari permukaan ke pusat bumi. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34 – 38. dunia anak usia dini. bagi guru SD kelas rendah (kelas I dan II) yang peserta didiknya masih berperilaku dan berpikir kongkrit. pembelajaran sebaiknya dirancang secara terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran. Peserta didik dapat diminta untuk menggambar dan memberi sketsa diagram suatu atom atau suatu pemanas air matahari. dan silabusnya dikembangan berdasarkan kebutuhan yang dikehandaki. jam per tatap muka pemblj. E. Pengelolaan Isi/Materi Pembelajaran Agar guru dapat menyajikan pelajaran dengan baik. ia bukan kurikulum sentariltis. jam Efektif pemblj. tahun (menit) per per tahun per tahun (@ 60 minggu ajaran menit) I s. dan sangat kontekstual dengan dunianya. Berikut ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. lebih utuh. Pada intinya KTSP merupakan kurikulum yang harus dikembangkan sendiri oleh sekolah-sekolah pemakai sesuai dengan kebutuhan sekolah dan potensi yang dimiliki sekolah dan daerah tempat sekolah itu berada. dalam mengelola isi pembelajaranpaling tidak guru harus menyiapkan rencana oprasional proses pembelajaran dalam wujud silabus terlebih dahulu. 1. Dengan cara ini. Mereka hendaklah mengambarkan dalam suatu cerita apa yang mereka lihat dan mungkin rasakan pada perjalanan mereka. Menyiapkan Silabus Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang disiapkan secara nasional berisi kompetensi dan hasil belajar yang menjadi acuan bagi sekolah atau daerah untuk dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan masing-masing.d 35 32 34 – 38 1088 – 1216 635 – 709 VI jam pembelajaran . Demikian pula.d III 35 26 – 28 34 – 38 884 –1064 516 – 621 SD/MI/ Jam SDLB *) pembelajaran (30940 – 37240 menit) IV s. Beban Belajar Tatap Muka Keseluruhan untuk setiap Satuan Pendidikan Satuan Kelas Satu jam Jumlah Minggu Waktu Jumlah Pendidikan pemblj.  Suatu teks mungkin memberi suatu gambaran tertulis tentang unsur-unsur (particle) dalam suatu atom atau hubungan antar bagian-bagian pemanas air matahari. pembelajaran untuk peserta didik kelas I dan II menjadi lebih bermakna.

Kalender Pendidikan Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. a. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu.5 pembelajaran (58140 – 66690 menit) SMK/MAK X s. 45 38 – 39 34 – 38 1292 – 1482 969 – SMALB *) XI jam 1111. hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional.d. hari libur keagamaan. Alokasi Waktu Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester. libur akhir tahun pelajaran. 2.d.d. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. dan hari libur khusus. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. 45 36 38 1368 jam 1026 XII pembelajaran (standar (61560 menit) minimum) *) Untuk SDLB. minggu efektif belajar. Alokasi waktu minggu efektif belajar. (38080 – 42560 menit) SMP/MTs/ VII s. SMPLB. meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun ajaran. ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. 1. waktu libur dan kegiatan lainnya tertera pada Tabel di bawah ini: Alokasi Waktu pada Kalender Pendidikan No Kegiatan Alokasi Keterangan Waktu . 40 32 34 – 38 1088 – 1216 725 – 811 SMPLB *) IX jam pembelajaran (43520 – 48640 menit) SMA/MA/ X s. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. SMALB alokasi waktu jam pembelajaran tatap muka dikurangi 5 menit 1. jeda antar semester.

dan/atau organisasi penyelenggaraan pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. Penetapan Kalender Pendidikan 1. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. Untuk memperhitungkan waktu yang tersedia untuk satu mata pelajaran (atau masing-masing mata pelajaran) dalam tahun itu atau dalam setiap semester. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional.1 Minggu efektif belajar Minimum 34 Digunakan untuk kegiatan minggu dan pembelajaran efektif pada setiap maksimum satuan pendidikan 38 minggu 2 Jeda tengah semester Maksimum 2 Satu minggu setiap semester minggu 3 Jeda antar semester Maksimum 2 Antara semester I dan II minggu 4 Libur akhir tahun Maksimum 3 Digunakan untuk penyiapan pelajaran minggu kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran 5 Hari libur Keagamaan 2 – 4 minggu Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 6 Hari libur Maksimum 2 Disesuaikan dengan peraturan umum/nasional minggu pemerintah 7 Hari libur khusus Maksimum 1 Untuk satuan pendidikan sesuai minggu dengan ciri kekhususan masing- masing 8 Kegiatan khusus Maksimum 3 Digunakan untuk kegiatan yang sekolah/Madrasah minggu diprogramkan secara khusus oleh sekolah/Madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dari waktu pembelajaran efektif b. maka proses yang disarankan adalah: . Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. 1. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. 1. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. 1.

Beberapa kompetensi mungkin harus diberikan lebih banyak waktu pelajar daripada yang semula dialokasikan. Menjumlahkan kompetensi-kompetensi yang akan dilatihkan dalam setiap mata pelajaran dalam tahun itu (atau dalam semester) dan dibagi sama dengan pelajaran-pelajaran untuk setahun atau satu semester. Proses ini akan memberikan informasi umum untuk digunakan guru pada waktu melalui merencanakan pengajaran secara rinci. Mengenal bahwa ada perbedaan susunan tulang daun. beberapa pelajaran akan dikurangi. kerumitan gagasan atau keterampilan yang akan dikembangkan dan hakikat tugas-tugas yang diharapkan peserta didik akan menyelesaikan dalam setiap kompetensi. Kadang-kadang harus mundur dan mengubah beberapa alokasi waktu yang semula dibuat pada waktu mempertimbangkan program kerja secara rinci. . Mempelajari ada beberapa mata pelajaran dan berapa jam disediakan untuk masing-masing mata pelajaran setiap minggu. Membangun pemahaman dari pengamatan langsung akan lebih mudah daripada membangun pemaaman dari uraian lisan guru. d. Pada dasarnya semua anak memiliki potensi untuk mencapai kompetensi. akan tetapi lebih banyak akibat mereka tidak disediakan pengalaman belajar yang relevan dengan keunikan masing-masing karakteristik individual. apalagi bila peserta didik masih berada pada tingkat berpikir konkrit. Dengan demikian. melihat jumlah isi. akan lebih mantap bila peserta didik secara langsung mengamati daun-daun dari kedua jenis tumbuhan itu daripada mendengarkan penjelasan guru tentang hal itu. bukan lantaran mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Pengalaman Belajar Mengalami langsung apa yang sedang dipelajari akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain/guru menjelaskan. tumbuhan berakar serabut dengan tumbuhan yang berakar tunggang. Kalau sampai mereka tidak mencapai kompetensi.a. Meskipun anak itu unik karena memiliki keragaman karakteristik. b. mereka memiliki kesamaan karena sama-sama memiliki sikap ingin tahu (curiosity). 3. Mengalikan jumlah pelajaran setiap minggu dengan jumlah minggu dalam satu tahun atau dalam satu semester untuk menghitung jumlah pelajaran untuk satu mata pelajaran. Kemudian. c.

50% dari apa yang kita lihat dan dengar. mendengarkan ceramah. tetapi sebaliknya. Apa yang harus didengarkan atau dibaca peserta didik? Ketika guru berceramah. Pengalaman Sosial Beberapa bentuk pengalaman sosial yang dapat dilakukan antara lain: melakukan wawancara dengan tokoh. pameran. yang akhirnya dengan sangat terpaksa. is more important”. Hal ini sesuai dikatakan Szetela (1993) “I can do it. apakah semua peserta didik dalam kelas memperoleh pengalaman belajar? Secara umum. menjawab. guru perlu menyediakan beragam pengalaman belajar. Hal ini menunjukkan bahwa jika mengajar dengan banyak berceramah. but can’t explanation it. berdiskusi. Sewaktu merancang kegiatan pembelajaran peserta didik selalu berpikir mulai dari bawah kerucut pengalaman (lihat gambar). dan beberapa bentuk kegiatan praktis lainnya. Pada pengalaman belajar melalui pengalaman mental. Supaya semua peserta didik mengalami peristiwa belajar. . 70% dari apa yang kita katakan. dan sebagainya. dan sikap sebagai seorang pengambil keputusan (decision maker). maka tingkat pemahaman peserta didik hanya 20%. kunjungan. but understanding and communicating what they are doing. kita merencanakan. karena melalui pendengaran diperlukan kemampuan abstraksi dan konsentrasi penuh.sikap kreatif (creativity). pembuatan buku harian. mungkin hanya sebagian peserta didik yang memperoleh pengalaman belajar. biasanya peserta didik hanya memperoleh informasi melalui pandang dengar. Doing is important. pengalaman belajar melalui dengar lebih sulit daripada melalui pandang. sikap sebagai pelajar aktif (active learner). melakukan bazaar. Pengalaman belajar ini akan lebih bermanfaat kalau masing-masing peserta didik diberi peluang untuk berinteraksi satu sama lain: bertanya. percobaan. Leaners build personal interpretation of the world based on experiences and interactions (Constructivism) Peserta didik membangun interpretasi dirinya terhadap dunia nyata melalui pengalaman- pengalaman baru dan interaksi sosial Apa yang harus dilakukan peserta didik? Jika mungkin tidak bergerak ke atas. jika peserta didik diminta untuk melakukan sesuatu sambil mengkomunikasikan. a. menonton televisi atau film. sebagian peserta didik yang lain tentu tidak memperoleh pengalaman belajar. Pengalaman Mental Beberapa bentuk pengalaman mental dapat diperoleh antara lain melalui membaca buku. b. tingkat pemahaman peserta didik dapat mencapai sekitar 90%. Ditinjau dari tingkat perkembangan anak. Pengalaman Fisik Pengalaman belajar jenis ini meliputi kegiatan pengamatan. mendengarkan berita radio. Apa yang harus dijelaskan peserta didik? Demikian seterusnya. melakukan perenungan. c. dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. karya wisata/studi tour. bermain peran. atau ikut arisan. bekerja bakti. penyelesaian. 30% dari apa yang kita lihat. 20% dari apa yang kita dengar. mendemonstrasikan. mempertanyakan jawaban. berkomentar. Lazimnya peserta didik dapat memanfaatkan seluruh inderanya ketika menggalikan informasi melalui pengalaman fisik. penelitian. Kita belajar hanya 10% dari apa yang kita baca. pengumpulan dana untuk bencana alam.

seperti kegiatan mengamati. Selain itu guru perlu mendorong. dan beberapa di antaranya berperan sebagai ketua dan wakil ketua MPR. menjelaskan. Cara ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok: situasi nyata. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi peserta didik. berpikir. Dari sudut pandang kekongkritan (non-verbal) dan keabstrakan (verbal) pengalaman belajar dapat diklasifikasikan menjadi situasi nyata. Dengan demikian peserta didik yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut. grafik. yakni membuat sidang MPR. bertanya/mempertanyakan. Guru dapat mengajak peserta didiknya menonton melalui televisi sidang tahunan MPR. berkomentar.1 Situasi Nyata Kalau guru ingin meningkatkan pemahaman peserta didik tentang liku-liku sidang tahunan MPR. Seperti juga pada model situasi nyata. 1. Beberapa strategi dan metode pengajaran perlu memprioritaskan situasi nyata.3 Audio-Visual Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan langsung (live). Dengan demikian peningkatan pemahaman peserta didik tentang cara MPR membuatkan keputusan dan bermusyawarah. misalnya melalui pertanyaan menantang yang “menggelitik” sikap ingin tahu dan sikap kreativitas peserta didik. Guru hendaknya tidak memberikan bantuan secara dini dan hendaknya selalu menghargai usaha peserta didik meskipun hasilnya belum sempurna. Suasana belajar yang disediakan guru hendaknya memberikan peluang kepada peserta didik untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan. 1. Guru dapat melakukan kegiatan simulasi. dan situasi dengar dan lihat (audio-visual). maka peserta didik perlu dibawa ke gedung MPR untuk mengamati secara langsung sidang MPR. ensiklopedia. Pencapaian kompetensi tentang sikap (attitude) seperti pada pelajaran PPKN dan Pendidikan Agama akan sangat membantu kalau dikemas dalam suatu cerita tayangan langsung yang menyentuh dimensi emosi dan perasaan. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks. tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar). agar peserta didik mau berbuat/berpikir lebih baik. . situasi buatan. baru menyediakan alternatif di bawahnya seperti situasi buatan. 1. Pada model inipun dapat dibedakan menjadi situasi buatan dengan peserta didik terlibat langsung dan situasi buatan dengan peserta didik tidak terlibat langsung. mengajukan hipoteses. atau alat visual. peserta didik berperan sebagai anggota MPR.Mengingat belajar merupakan proses peserta didik membangun gagasan/pemahaman sendiri. berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru. LKS. Beberapa kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan praktis akan lebih efektif kalau dilaksanakan dengan menghadirkan atau mendatangi situasi dan peristiwa nyata. Kalau sulit menyediakan situasi nyata. Dengan cara ini guru selalu mengupayakan agar peserta didik terlatih dan terbiasa menjadi pelajar sepanjang hayat. dan sejumlah kegiatan mental lainnya. yakni peserta didik terlibat langsung.4 Visualisasi Verbal Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran. 1. khususnya tentang cara MPR membuat keputusan atau cara MPR menilai pidato pertanggung jawaban presiden. mengumpulkan data. atau alat audio-visual. table. buku sumber. chart. dan situasi nyata yang peserta didik hanya sebagai pengamat dan tidak terlibat langsung. guru tidak selalu mampu menyediakan situasi nayata. Tentu saja. maka kegiatan pembelajaran hendaknya mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk berbuat.2 Situasi Buatan Tentu saja. dan cara dengan pola audio (ceramah baru dipilih setelah keempat cara ini tidak mungkin disediakan).

9. Menggambar dan mengarang. Mengelompokkan sambil mengidentifikasikan ciri benda. Martinis Yamin. 17. 2. 19. Menyimak untuk menangkap gagasan pokok. 16. 20. 22. menyanggah). Mengomentari. 2007. 23. 11. Mengamati persamaan dan perbedaan untuk mencari cirri benda. Beberapa contoh pengalaman belajar yang mungkin dipilih guru untuk beberapa mata pelajaran meliputi antara lain: 1. 5. 4. mendengar penjelasan. bercerita dan mendengarkan cerita. suhu. 14. berkomentar. 6. 7. 15. Diskusi (bertanya. . Bermain peran.5 Audio Verbal Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. Mengajukan pertanyaan penelitian. Membuat buku harian. Pada keadaan ini. Membuat soal cerita. (lihat buku Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan.1. Mengajukan pendapat dengan alasan logis. Membuat ramalan dan ber-ekstrapolasi. Mendemonstrasikan hasil temuan. 18. 3. Merencanakan dan melakukan percobaan. 12. Membuat grafik. 21. menjawab. peserta didik senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Mengukur panjang. 13. 24. 10. Mendengarkan penjelasan sambil membuat catatan penting. Membuat rangkuman/synopsis. berat. Kegiatan ini banyak memiliki kekurangan atau kelemahan dibanding positifnya. Membaca bermakna. Mencari pemecahan soal-soal matematika. Melakukan simulasi dengan komputer. 8. Melakukan permainan. 154). Membuat kamus. Mengisi teka-teki.

Membuat diagram. aspek kurikulum. dan 6 SD. 27. tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami. dan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kejiwaan peserta didik dan peserta didik lebih aktif. 5. Pengelolaan Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik satu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan beberapa pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. 31. yakni melalui belajar yang menyenangkan tanpa tekanan dan ketakutan. 29. Pembelajaran tematik hanya diajarkan pada peserta didik sekolah dasar kelas rendah (kelas I dan II). dan emosional. perkembangan fisiknya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental. Praktik menjadi khatib atau menjadi dai. Mengungjungi dan menemukan alamat situs website. Menulis artikel ilmiah popular. Bernegosiasi.25. silinder. 37. peserta didik akan mampu memetik makna dari . Membuat chart atau grafik atau jurnal. 36. Membuat catatan hasil pengamatan. Membuatkan daftar pertanyaan untuk wawancara. 30. Mencari informasi dari ensiklopedia. 28. Strategi pembelajaran tematik lebih mengutamakan pengalaman belajar peserta didik. 35. 38. Membuat model (seperti balok. Dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan. 33. 34. peserta didik tidak harus diberi latihan hafalan berulang-ulang (drill). 1. Membaca kamus. segitiga dan lingkaran). dapat ditambah sejumlah kegiatan lain yang mengarah kepada keterampilan berpikir dan mengaplikasikan pengetahuan yang sudah ada. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu. Mengkritisi suatu artikel. Melakukan musyawarah. Bentuk pembelajaran ini dikenal dengan pembelajaran terpadu. 3. tetapi tetap bermakna bagi peserta didik. Believes that meaning is imposed by the individual rather than existing in the world independently (Constructivism) Mempercayai individu dapat memaknai kehidupan di dunia secara bebas Kebun cabe merah dapat dipergunakan sebagai sarana untuk menerapkan pembelajaran tematik pada peserta didik kelas 4. 32. dan aspek pembelajaran. sosial. karena pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistic). 26.

dan lain-lain. dan kebutuhan anak. dapat mempresentasikan tentang kebun cabe yang dilihatnya. intrapersonal. 5) Bersifat fleksibel. dan 4. inovatif. kinestetik. setelah itu peserta didik diminta menimbang cabe merah dalam satu batang. dan lain sebagainya. 4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. peserta didik yang senang menghitung diminta menghitung daun cabe satu dahan dan menjumlahkannya daun cabe yang terdapat dalam satu batang serta mencari rata-rata cabe dalam satu dahan. bahasa. logico-matematik. aktif. pembelajaran pada tahap ini haruslah mempunyai cirri-ciri sebagai berikut. Mengembangkan keterampilan berpikir anak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. . apakah mereka mengukur besar batang cabe. lebar daun cabe. toleransi. Pengalaman dan kegiatan belajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. setiap mereka diminta menulis atau mencatat dari hasil kegiatannya (portfolio). 2) Memberikan pengalaman langsung pada anak. komunikasi. peserta didik diminta untuk membawa peralatan belajar seperti pencil. dan eksistensialis (Gardner. efektif. Masing-masing peserta didik dibebaskan untuk berkreasi dan beraktivitas. 1. 1993). mistar. kembang. pewarna. mengenali pekerjaan orang. dan sebagainya. dan guru menyebutkan harga cabe satu ons.pembelajaran ini. menikmati pemandangan kebun cabe. 3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas. kemudian peserta didik diminta melakukan aktivitas menggambar bagi peserta didik yang memiliki kesenangan menggambar. interpersonal. belajar kerja keras. timbangan kecil. kegiatan pembelajaran akan mendorong beberapa hal bermanfaat antara lain:  Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topic tertentu. alat. naturalistik. Sesuai dengan perkembangan fisik dan mental peserta didik kelas I dan II. menimbulkan cinta alam. metode. jangan hanya asal jadi. panjang buah cabe. Dengan menggunakan tema. Guru mengajak peserta didik untuk memperhatikan pohon. Pembelajaran. dan menyenangkan dalam pembelajaran tematik dapat saja dilaksanakan di luar kelas dan meng-ubah suasana belajar. Berpusat pada anak. peserta didik suka sekali sesuatu yang baru dan akan lebih bermakna. daun. 6) Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat. Sebelum dirancang pembelajaran ini diminta guru mendesain secara matang tujuan. dan menghitung harga cabe yang telah dipetik sesuai dengan harga yang telah disebutkan oleh guru. buku tulis. 3. dan buah cabe. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak. dan tanggap terhadap gagasan orang lain. Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna. menimbulkan motivasi berbuat. menikmati keindahan alam. dan strategi yang efektif untuk menerapkan proses pembelajaran di luar kelas. tinggi pohon cabe. 2. buku gambar. Pembelajaran tematik memiliki kekuatan di antaranya: 1. visual-spasial. kreatif. Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerjasama. peserta didik yang senang menulis diminta mereka untuk mendeskripsi tentang pohon cabe merah dalam bentuk narasi. Pembelajaran ini akan menciptakan multi makna dan mempertajamkan kecerdasan yang dimiliki peserta didik. 1). belajar berwirausaha. Pembelajaran ini akan membangunkan cita-cita akan berkebun.

dan sebagainya untuk mengembangkan keterampilan berbahasa. F. pemantapan atau pengayaan. Terkait LINGKUNGAN BELAJAR BERKUALITASDengan 2 komentar . Pemanfaatan Sumber Daya Lingkungan Pemanfaatan sumber daya lingkungan diperlukan dalam upaya menjadikan sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat setempat. termasuk sumber daya manusia yang ada. 1. merumuskan pertanyaan. Mengapa demikian. berhipotesis. dan membuatkan gambar/diagram. sekaligus untuk mempelajari mata pelajaran yang lain.  Anak lebih bergairah belajar karena mereka bisa berkomunikasi dalam situasi yang nyata. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera). misalnya menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar lebih lanjut dapat dilakukan melalui berbagai lomba yang bervariasi. lingkungan sangat kaya dengan sumber-sumber. Sumber Daya Sekolah Sumber daya sekolah harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam upaya menciptakan iklim sekolah sebagai komunitas masyarakat belajar. Banyak hal yang dapat dilakukan di kelas dalam proses belajar mengajar. Pengelolaan Sumber Belajar Dalam mengelola sumber belajar sebaiknya memperhatikan sumber daya yang ada disekolah dan melibatkan orang-orang yang ada di dalam sistem sekolah tersebut.  Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali pertemuan. Pembahasan tentang pengelolaan sumber belajar meliputi sumber daya sekolah dan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah. Dengan cara ini fungsi sekolah sebagai pusat pembaharuan dan pembangunan sosial budaya masyarakat akan dapat diwujudkan. Lingkungan fisik. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Selain itu. sosial. namun dapat dituntaskan oleh iklim sekolah yang menunjang. Waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial.  Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan. menulis. Sekolah bukanlah tempat yang terpisah dari masyarakatnya. 1. Iklim fisik dan psikologis juga dapat menentukan hasil belajar yang dicapai peserta didik.  Anak lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan membuat anak merasa senang dalam belajar. karena pencapaian kompetensi tidak hanya dapat dilakukan melalui pembelajaran di kelas. membuatkan tulisan. tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). atau budaya merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. deskripsi. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghematkan biaya dan waktu.  Kompetensi berbahasa bisa dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dan pengalaman pribadi anak. menulis surat. misalnya bertanya. Untuk ini seluruh komponen lingkungan sekolah harus diberdayakan. media dan alat bantu pelajaran. mencatat. mengklasifikasikan. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar. bercerita. 2. Peserta didik dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama.

Praktik Pembelajaran Kontekstual Hakekat Pembelajaran Kontekstual dan Perbedaannya dengan Pembelajaran Konvensional Tinggalkan Balasan Hello world!Model Pembelajaran Scaffolding Pencarian.  Ikuti  .. Laman  About  RUMAH KONTRAKAN (executive dan non-executive class) JAMBI Kategori  Uncategorized (61) Arsip  November 2016  September 2016  Agustus 2016  Juli 2016  Mei 2014  Juni 2012  Februari 2012  Juni 2011  Februari 2011  Desember 2010  Agustus 2010  Juli 2010 Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com..