You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar belakang masalah
Ilmu Ushul Fiqih merupakan salah satu intsrumen penting yang harus
dipenuhi oleh siapapun yang ingin melakukan mekanisme ijtihad
dan istinbath hukum dalam Islam. Itulah sebabnya dalam pembahasan kriteria
seorang mujtahid, penguasaan akan ilmu ini dimasukkan sebagai salah satu syarat
mutlaknya untuk menjaga agar proses ijtihad dan istinbath tetap berada pada
koridor yang semestinya. Meskipun demikian, ada satu fakta yang tidak dapat
dipungkiri bahwa penguasaan Ushul Fiqih tidaklah serta merta menjamin
kesatuan hasil ijtihad dan istinbath para mujtahid. Disamping faktor eksternal
Ushul Fiqih itu sendiri, seperti penentuan keshahihan suatu hadits misalnya,
internal Ushul Fiqih sendiri pada sebagian masalahnya mengalami perdebatan
(ikhtilaf) di kalangan para Ushuliyyin. Inilah yang kemudian dikenal dengan
istilah al-Adillah (sebagian ahli Ushul menyebutnya: al-Ushul al-Mukhtalaf
fiha,atau “Dalil-dalil yang diperselisihkan penggunaannya” dalam penggalian dan
penyimpulan hukum.
Mashadirul Ahkam (sumber-sumber hukum) ada yang disepakati ada yang
tidak. Jelasnya, ada Mashadir Ashliyah (sumber pokok) yaitu: Al-Qur’an dan
Sunnah Rasul-Nya dan ada Mashadir Thabi’iyah (sumber yang dipautkan kepada
sumber-sumber pokok) yang disepakati oleh jumhur fuqaha yaitu: ijma dan qiyas.
Adapula yang di ikhtilafi oleh tokoh-tokoh ahli ijtihad sendiri yaitu: Istihsan,
istishab, Maslahah mursalah, Urf, Saddudzari’ah, dan madzhab sahabi.
Makalah ini akan menguraikan tentang hakikat Istihsan, yang mencakup
pengertian, macam-macamnya, kehujjahannya, kaidah-kaidahnya, dan contoh-
contoh produk hukumnya.

B .Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penulisan dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana deskripsi istihsan ?
2. Apa macam istihasan?
3. Apa dasar hukum istihsan?
4. Bagaimana pendapat ulama yang berhujjah dengan istihsan dan
bagaimana pendapat ulama yang tidak berhujjah dengan istihsan?

b) Secara teoritis penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap khazanah ilmu Pendidikan Islam dalam bidang mata kuliah ilmu ushul fiqh.C. c) Secara praktis penulisan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam penulisan karya tulis selanjutnya. . Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan Penulisan a) Mengetahui deskripsi alistihsan dalam Pendidikan Agama Islam.

Istihsan secara bahasa adalah kata bentukan (musytaq) dari al-hasan(apapun yang baik dari sesuatu). 1. sebagaimana disebutkan oleh Abdul Wahab Khalaf [5]. . Adapun pengertian istihsan menurut istilah. Namun ada hal yang mendorongnya untuk meninggalkan satu di antaranya dan menetapkan untuk mengambil yang satunya lagi. meskipun hal itu dianggap tidak baik oleh orang lain[3] Dari lughawi di atas tergambar adanya seseorang yang menghadapi dua hal yang keduanya baik. atau “”mencari yang lebih baik untuk di ikuti. atau “mengikuti sesuatu yang lebih baik”. karena itulah yang di anggapnya lebih baik untuk diamalkan. “Memperhitungkan sesuatu lebih baik”. karena memang di suruh untuk itu”[2]. atau “adanya sesuatu itu lebih baik”. Definisi istihsan Menurut imam Abu Al Hasan al Karkhi ialah penetapan hukum dari seorang mujtahid terhadap suatu masalah yang menyimpang dari ketetapan hukum yang diterapkan pada masalah-masalah yang serupa. karena ada alasan yang lebih kuat yang menghendaki dilakukannya penyimpanagan itu. karena menurut pandangan mujtahid itu adalah dalil (alasan) yang lebih kuat yang menghendaki perpindahan tersebut”. atau ketentuan yang kulli (umum) kepada ketentuan yang sifatnya istisna’i (pengecualian). Definisi Al Istihsan 1.1 Makna Etimologi Istihsan menurut Etimologis (lughowi/bahasa) adalah menganggap baik sesuatu[1]. dan ini bisa bersifat lahiriah (hissiy) ataupun maknawiah. BAB II PEMBAHASAN A. ‫هو عدول المجتهد عن قياس جلى الى مقتصنى قياس خفى او عن حكم كلى الى حكم استسنائي انقدع فى اقله‬ ‫رجع لديه هذ العدول‬ “Istihsan adalah berpindahnya seorang mujtahid dari ketentuan qiyas jali (yang jelas) kepada ketentuan qiyas Khafi (yang samar). Istihsan sendiri kemudian berarti “kecenderungan seseorang pada sesuatu karena menganggapnya lebih baik.2 Makna Terminologi Istihsan menurut terminologi/istilah ulama’ ushul adalah beralihnya pemikiran seorang mujtahid dari tuntutan kias yang nyata kepada kias yang samar atau dari hukum umum kepada perkecualian karena ada kesalahan pemikiran yang kemudian memenangkan perpindahan itu[4].

lalu pindah ke sudut pandang lahiriyah. Seorang mujtahid menemukan dalil yang memenangkan pandangan secara tersembunyi. hal-hal itu tidak termasuk kecuali dengan nash.Istihsan merupakan sumber hukum yang banyak dalam terminology dan istinbath hukum oleh dua imam madhab. Definisi istihsan menurut Ibnul Araby ialah memilih meninggalkan dalil. Tapi pada dasarnya imam Abu Hanifah masih tetap menggunakan dalil qiyas selama masih dipandang tepat[7]. Sedangkan pemanfaatan tanah sawah itu harus memberi minum. minum dan jalan. adalah termasuk tanpa harus menerangkan secara istihsan. Sedangkan menurut kias. karena dalil itu berlawanan dengan dalil yang lain pada sebagian kasus tertentu. Mengunggulkan kias yang tersembunyi atas kias yang nyata dengan suatu dalil. Mengecualikan sebagian hukum umum dengan suatu dalil. Apabila terjadi sesuatu peristiwa yang tidak dapat nash hukumnya. lalu ia menghukumi perkecualian itu dengan hukum yang lain.Macam-macam al istihsan Dari pengertian al ihtisan secara syara’ dapat di tarik kesimpulan bahwa alistihsan ada dua macam[8]: 1. seperti halnya jual beli. ahli fiqih dari madhab Maliky memberi definisi istihsan bahwa istihsan adalah memilih menggunakan maslahat juziyyah yang berlawanan dengan qiyas kully[6]. Sementara itu. Ulama fiqh kelompok hanafi menyebutkan bahwa seorang yang mewakafkan tanah sawahnya maka hak pengairan. Maka ini juga di sebut al ihtisan. . Inilah yang menurut syara’ yang disebut alistihsan. Dan sudut pandang secara tersembunyi yang menuntut hukum yang lain. B. sedangkan dalam diri mujtahid ada dalil yang menuntut pengecualian atas sebagian hukum umum ini. yaitu imam Malik dan imam Abu Hanifah. mengairi. Contoh-contoh istihsan bentuk pertama : 1. 2. dan jalan. maka dalam pembahasannya ada dua pendapat yang berbeda: sudut pandang lahiriyah yang menghendaki suatu hukum. ibnu anbary. mengambil ruksah dengan hukum sebaliknya. sehingga hal-hal itu termasuk wakaf tanpa menyebutkannya.Demikian juga jika hukum itu bersifat umum. Adapun bentuk istihsannya. Tujuan wakaf adalah orang yang di beri hak wakaf dapat memanfaatkan barang yang di wakafkan.

karena sama-sama demi pemanfaatan. Seperti masuknya pengairan. Sedangkan kias menetapkan bahwa penjual tidak bersumpah. maka keduanya harus bersumpah. yaitu sepuluh. kesaksian itu wajib bagi orang yang mendakwa. maka keduanya harus bersumpah. Kias yang nyata: Menyamakan kejadian ini dengan semua yang terjadi antara pendakwa dan orang yang ingkar. Alasan istihsannya bahwa penjual jelas orang yang mendakwa bila dihubungkan dengan tambahan. seperti halnya sewa menyewa. maka hal-hal itu masuk juga dalam bagian wakaf tanah lumpur tanpa menyebutkannya. karena penjual yang mendakwa lebih banyak. Pembeli adalah jelas orang yang mengingkari adanya tambahan yang di dakwakan oleh penjual yaitu sepuluh. karena sama-sama mengeluarkan hak milik dari pemiliknya. Pengingkaran adalah hak pembeli dalam penerimaan barang setelah menyerahkan 90 pound. dan ia adalah pendakwa tentang hak penerimaan barang setelah menyerahkan 90 pound. Kias yang nyata adalah menyamakan wakaf contoh diatas dengan jual beli. Sedangkan kias yang tersembunyi adalah menyamakan wakaf tersebut dengan sewa menyewa. menurut istihsan. Ahli fiqh ulama hanafi menetapkan bahwa jika terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli tentang harga barang sebelum barang itu diterima. sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang mengingkari. Masing-masing dalam waktu bersamaan dikatakan sebagai pendakwa dan sekaligus orang yang ingkar. Contoh-contoh istihsan bentuk kedua : . Kias yang tersembunyi: Menyamakan kejadian di atas dengan setiap kejadian antara dua orang yang saling mendakwa. Jadi keduanya adalah pendakwa dari satu sisi dan orang yang di ingkar di sisi lain.Karena tujuan tidak dapat terwujud kecuali dengan hal-hal itu. lalu penjual mendakwa bahwa harganya seratus pound sedangkan pembeli juga mendakwa bahwa harganya sembilan puluh pound maka keduanya harus bersumpah. maka penjual tidak wajib bersumpah. sedangkan pembeli mengingkari. minum dan jalasedn dalam bagian sewa menyewa tanah lumpur tanpa menyebutkannya.

maka disisi Allah adalah buruk pula”.‫ئ‬ ‫اا محمسنن مومما مرأمنوا مسيينئا فمههمو اعننمد ا‬ ‫اا مسيي ن‬ ‫فممما مرمأى انلهمنسلاهمومن محمسننا فمههمو اعننمد ا‬ Artinya : “Apa yang dipandang kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik. sedang kamu tidak menyadarinya. Az-Zumar: 18) Ayat ini menurut mereka menegaskan bahwa pujian Allah bagi hambaNya yang memilih dan mengikuti perkataan yang terbaik. dan perintah menunjukkan bahwa ia adalah wajib. Dan di sini tidak ada hal lain yang memalingkan perintah ini dari hukum wajib. maka ia di sisi Allah adalah baik dan apa-apa yang dipandang sesuatu yang buruk. (QS. diperbolehkan pesan memesan. Tetapi secara istihsan. dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengikuti yang terbaik. C. Syar’i melarang jual beli atau akd pada barang yang tidak ada di tempat akad. (QS. Maka ini menunjukkan bahwa Istihsan adalah hujjah Hadits Nabi saw: . . mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal”. dan pujian tentu tidak ditujukan kecuali untuk sesuatu yang disyariatkan oleh Allah. Artinya : Dan ikutilah Sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba. Dasar Hukum Istihsan Para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif (lafal yang seakar dengan istihsan) seperti Firman Allah Swt dalam surah Al-Zumar: 18 Artinya : “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Az-Zumar: 18) Menurut mereka.

maka tujuan waqaf tidak akan tercapai. hak membuat saluran air di atas tanah itu dan sebagainya. Kedua peristiwa ini ada persamaan ‘illatnya yaitu mengutamakan manfaat barang atau harta. Bila waqaf diqiyaskan kepada jual beli. maka termasuk yang diwaqafkannya itu hak pengairan. seperti sisa burung elang burung gagak dan sebagainya adalah suci dan halal diminum. seperti anjing dan burung-burung buas adalah haram diminum karena sisa minuman yang telah bercampur dengan air liur binatang itu diqiyaskan kepada dagingnya. Jika waqaf itu diqiyaskan kepada jual beli (qiyas jali). Sebidang sawah hanya dapat dimanfaatkan jika memperoleh pengairan yang baik. Sedang menurut istihsan hak tersebut diperoleh dengan mengqiyaskan waqaf itu kepada sewa-menyewa. Menurut qiyas khafi bahwa burung buas itu berbeda mulutnya dengan mulut binatang huas. yaitu tercapainya tujuan waqaf. Menuryt qiyas jali hak-hak tersebut tidak mungkin diperoleh. Ini menunjukkan kehujjahan Istihsan. Karena itu perlu dicari ashalnya yang lain. karena pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak milik. Pada jual beli yang penting ialah pemindahan hak milik dari penjual kepada pembeli. sehingga air liurnya masuk ke tempat minumnya. yaitu sewa- menyewa. maka dilakukanlah perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi. karena mengqiyaskan waqaf itu dengan jual beli. Hal ini ditetapkan dengan istihsan. Karena ada suatu kepentingan. Contoh lain adalah mengenai sisa minuman burung buas. yang disebut istihsan. maka ia pun demikian di sisi Allah. Menurut qiyas jali sisa minuman binatang buas. Pada sewa-menyewa yang penting ialah pemindahan hak memperoleh manfaat dari pemilik barang kepada penyewa barang. Hal ini ditetapkan berdasar istihsan. Hadits ini menunjukkan bahwa apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin dengan akal-sehat mereka. Mulut binatang buas terdiri dari daging yang haram dimakan. Yang penting pada waqaf ialah agar barang yang diwaqafkan itu dapat dimanfaatkan. sedang mulut burung buas merupakan paruh yang terdiri atas tulang atau zat tanduk dan tulang atau zat tanduk bukan merupakan . Demikian pula halnya dengan waqaf. tetapi qiyasnya adalah qiyas khafi. Contoh istihsan macam pertama: Menurut Madzhab Hanafi: bila seorang mewaqafkan sebidang tanah pertanian. Binatang buas itu langsung minum dengan mulutnya. berarti yang penting ialah hak milik itu.

hanya namanya saja yang berlainan. Keringanan yang demikian diperlukan untuk memudahkan lalu-lintas perdagangan dan perjanjian.najis. Pemberian rukhshah kepada salam itu merupakan pengecualian (istitana) dari hukum kulli dengan menggunakan hukum juz-i.” Dalam buku Risalah Ushuliyah karangan beliau. Disamping Madzhab Hanafi. Karena itu sisa minum burung buas itu tidak bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan. pada saat jual beli dilakukan. sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan. Dalam hal ini keadaan yang tertentu yang ada pada burung buas yang membedakannya dengan binatang buas. sebab diantara oleh paruhnya. Yang berpegang dengan dalil istihsan ialah Madzhab Hanafi. Istihsan menurut mereka adalah menetapkan hukum syara’ berdasarkan keinginan hawa nafsu. dinyatakan: “Perumpamaan orang yang melakukan istihsan adalah seperti orang yang melakukan shalat yang menghadap ke suatu arah yang menurut istihsan . karena keadaan memerlukan dan telah merupakan adat kebiasaan dalam masyarakat. Menurut mereka jika dibolehkan menetapkan hukum berdasarkan qiyas jali atau maslahat mursalah. yaitu memenangkan qiyas khafi atas qiyas jali atau mengubah hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar ketentuan umum kepada ketentuan khusus karena ada suatu kepentingan yang membolehkannya. Imam Syafi’i berkata: “Siapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia telah menetapkan sendiri hukum syara’ berdasarkan keinginan hawa nafsunya. Contoh istihsan macam kedua : Syara’ melarang seseorang memperjualbelikan atau mengadakan perjanjian tentang sesuatu barang yang belum ada wujudnya. tentulah melakukan istihsan karena kedua hal itu pada hakekatnya adalah sama. golongan lain yang menggunakan istihsan ialah sebagian Madzhab Maliki dan sebagian Madzhab Hambali. Berdasar keadaan inilah ditetapkan perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi. demikian pula air liurnya. atau dengan pembelian secara pesanan (salam). Hal ini berlaku untuk seluruh macam jual beli dan perjanjian yang disebut hukum kuIIi. Tetapi syara’ memberikan rukhshah (keringanan) kepada pembelian barang dengan kontan tetapi barangnya itu akan dikirim kemudian. menurut mereka istihsan sebenarnya semacam qiyas. sedang yang berhak menetapkan hukum syara’ hanyalah Allah SWT. yang disebut istihsan. Yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah ialah Madzhab Syafi’i.

istihsan itu timbul karena rasa kurang enak. yang menuntut adanya perkecualian bagian tertentu dari hukum umum.bahwa arah itu adalah arah Ka’bah. Dan semua itu pengambilan dalil yang benar. E. tentulah perbedaan pendapat itu dapat dikurangi. dan itu adalah alasan istihsan. Alasan ulama yang tidak berhujah dengan istihsan Sebagian kelompok mujtahid menginkari kebenaran istihsan. akan jelas bahwa istihsan menurut pendapat Madzhab Hanafi berbeda dari istihsan menurut pendapat Madzhab Syafi’i. tanpa ada dalil yang diciptakan pembuat syara’ untuk menentukan arah Ka’bah itu. Sedangkan dalil hukum dari bentuk istihsan yang kedua adalah kemaslahatan. kemudian pindah kepada rasa yang lebih enak. Seandainya istihsan itu diperbincangkan dengan baik. Mereka beralasan: Pengambilan dalil dengan istihsan adalah mengambilan dalil dengan kias yang samar yang mengalahkan kias yang nyata. sedang menurut Madzhab Syafi’i.” Jika diperhatikan alasan-alasan yang dikemukakan kedua pendapat itu serta pengertian istihsan menurut mereka masing-masing. Menurut Madzhab Hanafi istihsan itu semacam qiyas. dan hal itu juga di anggap alasan istihsan. Karena itu asy-Syathibi dalam kitabnya Al- Muwâfaqât menyatakan: “orang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkan rasa dan keinginannyya semata. mereka menganggapnya sebagai pembentukan hukum berdasarkan hawa nafsu dan . D. sebab hal-hal tertentu oleh mujtahid di anggap lebih unggul. bukan berdasarkan hawa nafsu. Diantara orang-orang yang berhujjah dengan istihsan adalah mayoritas kelompok hanafi. jelaslah bahwa pada hakikatnya istihsan bukanlah sumber hukum yang berdiri sendiri. Kekuatan istihsan sebagai hujjah Dari definisi dan penjelasan kedua macam istihsan. kemudian ditetapkan pengertian yang disepakati. akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang diketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara’ dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara’ yang umum”. karena dalil hukum yang berbentuk istihsan pertama adalah kias yang tersembunyi yang di unggulkan dari pada kias yang nyata. atau memenagkan kias atas kias lain yang menentangnya karena kepentingan umum dengan cara mengecualikan sebagian dari hukum umum. dilakukan karena ada suatu kepentingan.

seenaknya sendiri. al-istihsan selalu melihat dampak sesuatu ketentuan hukum. Dari pengertian al ihtisan secara syara’ dapat di tarik kesimpulan bahwa alistihsan ada dua macam : 1. Mengecualikan sebagian hukum umum dengan suatu dalil. Kesimpulan Istihsan adalah mengambil maslahah yang merupakan bagian dalam dalil yang bersifat kully(menyeluruh) dengan mengutamakan al-istidlal al-mursal daripada qiyas. tanpa menggunakan dalil-dalil yang di tetapkan oleh syar’i dalam menetukan arah ka’bah. Dalam kitab itu disebutkan bahwa istihsan adalah berenak enak. jelas bahwa al-istihsan lebih mementingkan maslahah juz’iyyah atau maslahah tertentu dibandingkan dengan dalil kully atau dalil yang umum atau dalam kata lain sering dikatakan bahwa al-istihsan adalah beralih dari satu qiyas ke qiyas yang lain yang dianggap lebih kuat dilihat dari tujuan syari’at diturunkan. Para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif (lafal yang seakar dengan istihsan) seperti Firman Allah Swt dalam surah Al-Zumar: 18 . melainkan berpindah dari satu dalil ke dalil yang lebih kuat yang kandungannya berbeda. 2. Ditetapkan dalamRisalah Ushuliyahnya: perumpamaan orang yang menetapkan hukum dengan istihsan adalah seperti orang sholat menghadap ke arah yang di anggap baik itu ka’bah. Tegasnya. Artinya orang itu membuat syariat sendiri. seandainya melakukan istihsan dalam agama itu diperbolehkan. Siapa yang menggunakan istihsan berarti ia membuat syariat. namun bukan berarti istihsan adalah menetapkan hukum atas dasar ra’yu semata. Dari Ta’rif di atas. Dan niscaya boleh menciptakan Syariat dalam agama di setiappermasalahan. Mengunggulkan kias yang tersembunyi atas kias yang nyata dengan suatu dalil. seperti telah di nukil darinya. niscaya bolehjuga dilkukan orang-orang yang punya akal meskipun bukan ahli ilmu. serta setiap orang boleh membuat syariat untuk dirinya sendiri. jangan sampai membawa dampak merugikan tapi harus mendatangkan maslahah atau menghindari madarat. Diantara tokohnya adalah Imam Syafii. BAB III PENUTUP A.

Sedangkan dalil hukum dari bentuk istihsan yang kedua adalah kemaslahatan. Kami menyadari dalam makalah kami ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. dan itu adalah alasan istihsan. . adanya perkecualian bagian tertentu dari hukum umum. karena dalil hukum yang berbentuk istihsan pertama adalah kias yang tersembunyi yang di unggulkan dari pada kias yang nyata. kembali mencermati pandangan dan argumentasi ulama yang menolak istihsān. Mengenai perbedaan ini sudah kami bahas dan kami jelaskan di makalah ini. Sedangkan dalil hukum dari bentuk istihsan yang kedua adalah kemaslahatan. para pendukung pendapat kedua ini sebenarnya hanya menolak istihsān yang hanya dilandasi oleh logika semata.Saran Banyak perbedaan di kalangan para ulama mengenai istihsan . sebab hal-hal tertentu oleh mujtahid di anggap lebih unggul. sebab hal-hal tertentu oleh mujtahid di anggap lebih unggul. dan hal itu juga di anggap alasan istihsan. Dengan kata lain. Dari definisi dan penjelasan kedua macam istihsan. karena dalil hukum yang berbentuk istihsan pertama adalah kias yang tersembunyi yang di unggulkan dari pada kias yang nyata. Dan kekhawatiran ini telah terjawab dengan penjelasan sebelumnya. B. yang menuntut Dari definisi dan penjelasan kedua macam istihsan. tanpa dikuatkan oleh dalil yang lebih kuat. jelaslah bahwa pada hakikatnya istihsan bukanlah sumber hukum yang berdiri sendiri. dan kami berharap bahwa makalah ini untuk ada yang melanjutkan dan membahasnya kembali. jelaslah bahwa pada hakikatnya istihsan bukanlah sumber hukum yang berdiri sendiri. ki ta dapat melihat bahwa yang mendorong mereka menolaknya adalah karena kehati-hatian dan kekhawatiran mereka jika seorang mujtahid terjebak dalam penolakan terhadap nash dan lebih memilih hasil olahan logikanya sendiri. yaitu bahwa istihsān sendiri mempunyai batasan yang harus diikuti. dan itu adalah alasan istihsan.

1999) hlm. 2003) Syarifuddin Amir. Ilmu ushul fikih. DAFTAR PUSTAKA Abu Zahrah Muhammad. Ushul fiqh jilid II. 13/117  [1] Abdul Wahhab Khallaf. Ilmu Ushul al-fikih (Maktabah Al-Dakwah al- Islamiyah.1991). 104 Diposkan oleh Mari Ziaul Haq Khan di 17. hal. (Jakarta : Pustaka Amani. hal. hal.402 [7] Ibid hal.324 [3] Lih. (Jakarta: Kencana. 13/117 [4] Opcit hal. Ushul Fiqih. hal. (Jakarta: Kencana. (Jakarta : Pustaka Amani.79 [6] Muhammad Abu Zahrah. Ilmu ushul fikih.31 . (Pustak Firdaus :Jakarta. Ushul fiqh jilid II. (Pustaka Firdaus :Jakarta. 2011). 2003). Ushul Fiqih. 2003). Lisan al-‘Arab. 1999) Khallaf Abdul Wahhab. (Jakarta : Pustaka Amani. 104 [2] Amir Syarifuddin. 104 [5] Abdul Wahab Khalaf. Ilmu ushul fikih. 2011) Lih. Lisan al-‘Arab.401 [8] Abdul Wahhab Khallaf.