You are on page 1of 33

TUGAS PENYAKIT GLOBAL

“DIABETES MELITUS”

MAKALAH

Oleh :
Kelompok 3

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
TUGAS PENYAKIT GLOBAL
“DIABETES MELITUS”

MAKALAH

diajukan guna melengkapi tugas Penyakit Global
dengan dosen pembimbing Ns. Kushariyadi, S.Kep., M.Kep
Oleh :
Kelompok 3
Dian Indah Lestari 152310101099
Husnita Faradiba 152310101106
Prepty Dwi Ariyanti 152310101110
Bella Desiana P 152310101112
Ifka Wardaniyah 152310101114
Larasati Setyo Pawestri 152310101218
Nunung Ratna Sari 152310101219
Aisyah Imaniar 152310101225
Anggi Sulistiyani 152310101248
Nabilah Zahro 152310101249
Firmanditya Ayu F. 152310101250
Mukhlish Nur Rahman 152310101263
Rodiyatul Fitriyah 152310101309
Asmaul Hasanah 152310101315
Devi Paramita L. 152310101318
Wirawan Ardi R. 152310101319

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017

PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Diabetes

2
Melitus”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyakit
Global pada Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ns. Kushariyadi, S.Kep., M.Kep selaku pembimbing Mata Penyakit Global
yang telah membimbing dalam penulisan makalah ini;
2. Bapak dan Ibu kami yang telah memberikan dorongan dan doanya demi
terselesaikannya makalah ini;
3. teman- teman kelas D angkatan 2015 yang telah memberi dorongan dan
semangat;
4. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat
bermanfaat.

Jember, April 2017

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

HALAMAN JUDUL

PRAKATA.............................................................................................................iii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iv

BAB 1. KONSEP DASAR PENYAKIT................................................................1

1.1 Definisi Diabetes Mellitus.......................................................................1

1.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus..................................................................2

1.3 Etiologi Diabetes Mellitus.......................................................................3

1.4 Patofisiologi Diabetes Mellitus...............................................................4

1.5 Gejala Diabetes Mellitus.........................................................................5

1.6 Penatalaksanaan......................................................................................6

BAB 2. ANALISIS JURNAL.................................................................................9

2.1 Jurnal A.........................................................................................................9

2.2 Jurnal B.......................................................................................................13

2.3 Jurnal C.......................................................................................................17

2.4 Jurnal D.......................................................................................................21

BAB 3. PENUTUP................................................................................................26

3.1 Kesimpulan..............................................................................................26

3.2 Saran.........................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................27

4
5
BAB 1. KONSEP DASAR PENYAKIT

1.1 Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan
terjadinya hiperglikemi yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin dan atau
kerja insulin, sehingga terjadi abormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein. Secara klinik diabetes mellitus adalah sindroma yang merupakan
gabungan kumpulan gejala-gejala klinik yang meliputi aspek metabolik dan
vaskuler yaitu hiperglikemi puasa dan post prandial, aterosklerotik dan penyakit
vaskuler mikroangiopati, serta hampir semua organ tubuh akan terkena
dampaknya. Diagnosis DM menurut PERKENI atau yang dianjurkan ADA
(American Diabetes Association) jika hasil pemeriksaan gula darah: 1) Kadar gula
darah sewaktu lebih atau sama denga 200mg/dl; 2) Kadar gula darah puasa lebih
atau sama dengan 126 mg/dl; 3) Kadar gula darah lebih atau sama dengan
200mg/dl pada 2 jam setelah beban glukosa 75 gram pada tes toleransi glukosa.
Diabetes mellitus didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan
metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan
gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi
fungsi insulin. Insufisiensi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defenisi
produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas atau disebabkan
kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (Ditjen Bina Farmasi &
ALKES, 2005).
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana metabolisme glukosa tidak
normal, suatu resiko komplikasi spesifik perkembangan mikrovaskular dan
ditandai dengan adanya peningkatan komplikasi perkembangan makrovaskuler.
Secara umum, ketiga elemen diatas telah digunakan untuk mencoba menemukan
diagnosis atau penyembuhan diabetes (Mogensen, 2007).
Diabetes mellitus adalalah gangguan metabolisme yang secara genetik dan
klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi
karbohidrat, jika telah berkembang penuh secara klinis maka diabetes mellitus

1
ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, aterosklerosis dan penyakit
vaskular mikroangiopati (Sylvia & Lorrain, 2006).
Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
akibat kadar glukosa darah yang tinggi yang disebabkan jumlah hormone insulin
kurang atau jumlah insulin cukup bahkan kadang-kadang lebih, tetapi kurang
efektif (Sarwono, 2006).

1.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus
American Diabetes Assosiation (2005) dalam Aru Sudoyo (2006)
mengklasifikasikan diabetes mellitus menjadi :
1) Diabetes mellitus tipe 1
Dibagi dalam 2 subtipe yaitu autoimun, akibat disfungsi autoimun dengan
kerusakan sel-sel beta dan idiopatik tanpa bukti autoimun dan tidak diketahui
sumbernya.
2) Diabetes mellitus tipe 2

Bervariasi mulai yang predominan resisten insulin disertai defisinsi insulin
relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resisten
insulin.
3) Diabetes mellitus Gestasional
Faktor resiko terjadinya diabetes mellitus gestasional yaitu usia tua, etnik,
obesitas, multiparitas, riwayat keluarga, dan riwayat gestasional terdahulu.
Karena terjadi peningkatan sekresi beberapa hormone yang mempunyai efek
metabolik terhadap toleransi glukosa, maka kehamilan adalah suatu keadaan
diabetogenik.
4) Diabetes mellitus tipe lain :
a) Defek genetik fungsi sel beta
b) Defek genetik kerja insulin : resisten insulin tipe A,leprechaunism,
sindrom rabson mandenhall, diabetes loproatrofik, dan lainnya.
c) Penyakit eksokrin pankreas : pankreastitis, trauma / pankreatektomi,
neoplasma, fibrosis kistik, hemokromatosis, pankreatopati fibrokalkulus,
dan lainnya.

2
d) Endokrinopati : akromegali, sindron cushing, feokromositoma,
hipertiroidisme somatostatinoma, aldosteronoma, dan lainnya.
e) Karena obat atau zat kimia : vacor, pentamidin, asam nikotinat,
glukokortikoid, hormon tiroid, diazoxic,agonis β adrenergic, tiazid,
dilantin, interferon alfa, dan lainnya.
f) Infeksi : rubella konginetal, dan lainnya.
g) Immuno logi (jarang) : sindrom “stiff-man” , antibody antireseptor
insulin, dan lainnya.
h) Sindroma genetik lain : sindrom down, sindrom klinefilter, sindrom
turner, sindrom wolfram’s, ataksia friedriech’s, chorea Huntington,
sindrom Laurence/moon/biedl, distrofi miotonik,porfiria, sindrom
pradelwilli, dan lainnya (ADA, 2005).

1.3 Etiologi Diabetes Mellitus
Penyebab diabetes mellitus sampai sekarang belum diketahui dengan pasti
tetapi umumnya diketahui karena kekurangan insulin adalah penyebab utama dan
faktor herediter memegang peranan penting.
a) Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Sering terjadi pada usia sebelum 30 tahun. Biasanya juga disebut Juvenille
Diabetes, yang gangguan ini ditandai dengan adanya hiperglikemia
(Bare&Suzanne,2002). Faktor genetik dan lingkungan merupakan faktor
pencetus IDDM. Oleh karena itu insiden lebih tinggi atau adanya infeksi virus
(dari lingkungan) misalnya coxsackievirus B dan streptococcus sehingga
pengaruh lingkungan dipercaya mempunyai peranan dalam terjadinya DM (Bare
& Suzanne, 2002). Virus atau mikroorganisme akan menyerang pulau – pulau
langerhans pankreas, yang membuat kehilangan produksi insulin. Dapat pula
akibat respon autoimmune, dimana antibody sendiri akan menyerang sel bata
pankreas. Faktor herediter, juga dipercaya memainkan peran munculnya penyakit
ini( Bare & Suzanne, 2002)
b) Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
Virus dan kuman leukosit antigen tidak nampak memainkan peran
terjadinya NIDDM. Faktor herediter memainkan peran yang sangat besar. Riset

3
melaporkan bahwa obesitas salah satu faktor determinan terjadinya NIDDM
sekitar 80% klien NIDDM adalah kegemukan. Overweight membutuhkan banyak
insulin untuk metabolisme. Terjadinya hiperglikemia disaat pankreas tidak cukup
menghasilkan insulin sesuai kebutuhan tubuh atau saat jumlah reseptor insulin
menurun atau mengalami gangguan. Faktor resiko dapat dijumpai pada klien
dengan riwayat keluarga menderita DM adalah resiko yang besar. Pencegahan
utama NIDDM adalah mempertahankan berat badan ideal. Pencegahan sekunder
berupa program penurunan berat badan, olah raga dan diet. Oleh karena DM
tidak selalu dapat dicegah maka sebaiknya sudah dideteksi pada tahap awal
tanda-tanda atau gejala yang ditemukan adalah kegemukan, perasaan haus yang
berlebihan, lapar, diuresis dan kehilangan berat badan, bayi lahir lebih dari berat
badan normal, memiliki riwayat keluarga DM, usia diatas 40 tahun, bila
ditemukan peningkatan gula darah (Bare & Suzanne, 2002)

1.4 Patofisiologi Diabetes Mellitus
Menurut Brunner & Sudddart (2002) patofisiologi terjadinya penyakit
diabetes mellitus tergantung kepada tipe diabetes yaitu :
1) Diabetes Tipe I
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel
pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari
makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan
menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan). Jika konsentrasi
glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua
glukosa yang tersaring keluar kibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin
(glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit
yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi).
2) Diabetes Tipe II
Resistensi insulin menyebabkan kemampuan insulin menurunkan kadar
gula darah menjadi tumpul. Akibatnya pankreas harus mensekresi insulin lebih
banyak untuk mengatasi kadar gula darah. Pada tahap awal ini, kemungkinan
individu tersebut akan mengalami gangguan toleransi glukosa, tetapi belum

4
memenuhi kriteria sebagai penyandang diabetes mellitus. Kondisi resistensi
insulin akan berlanjut dan semakin bertambah berat, sementara pankreas tidak
mampu lagi terus menerus meningkatkan kemampuan sekresi insulin yang cukup
untuk mengontrol gula darah. Peningkatan produksi glukosa hati, penurunan
pemakaian glukosa oleh otot dan lemak berperan atas terjadinya hiperglikemia
kronik saat puasa dan setelah makan. Akhirnya sekresi insulin oleh beta sel
pankreas akan menurun dan kenaikan kadar gula darah semakin bertambah berat.
3) Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya.
Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormonhormon plasenta.
Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang menderita
diabetes gestasional akan kembali normal. (Brunner & Suddarth, 2002).

1.5 Gejala Diabetes Mellitus
Gejala diabetes mellitus adalah adanya rasa haus yang berlebihan, sering
kencing terutama malam hari dan berat badan turun dengan cepat. Di samping itu
kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat
lapar, gatal-gatal, penglihatan kabur, gairah seks menurun, dan luka sukar
sembuh. Kadang-kadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya
keluhan. Mereka mengetahui adanya diabetes hanya karena pada saat check-up
ditemukan kadar glukosa darahnya tinggi. Oleh karena itu dalam rangka
penyuluhan kepada pasien seperti ini, kita sering mendapat hambatan karena sulit
memotivasi. Memang saat ini tidak ada keluhan tetapi mereka harus menyadari
bahwa kadar glukosa darah yang selalu tinggi dalam jangka panjang akan
menimbulkan apa yang disebut komplikasi jangka panjang akibat keracunan
glukosa. Pasien dapat terkena komplikasi pada mata hingga buta atau komplikasi
lain seperti kaki busuk (gangren), komplikasi pada ginjal, jantung, dll (Waspadji,
dkk, 2002). Beberapa faktor yang dapat menunjang timbulnya diabetes mellitus
yaitu obesitas dan keturunan, sedangkan gejala yang dapat diamati adalah
polidipsia, poliuria, dan polipfagia. Gejala-gejala ini perlu mendapat tanggapan di
dalam penyusunan diet penderita Diabetes mellitus (Tjokroprawiro, dkk, 1986).

5
1.6 Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan
berbagai penyakit dan diperlukan kerjasama semua pihak untuk meningkatan
pelayanan kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai usaha,
antaranya:
a) Perencanaan Makanan.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai dengan
kecukupan gizi baik yaitu :
1) Karbohidrat sebanyak 60 – 70 %
2) Protein sebanyak 10 – 15 %
3) Lemak sebanyak 20 – 25 %
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress
akut dan kegiatan jasmani. Untuk kepentingan klinik praktis, penentuan jumlah
kalori dipakai rumus Broca yaitu Barat Badan Ideal = (TB-100)-10%, sehingga
didapatkan =
1) Berat badan kurang = < 90% dari BB Ideal
2) Berat badan normal = 90-110% dari BB Ideal
3) Berat badan lebih = 110-120% dari BB Ideal
4) Gemuk = > 120% dari BB Ideal.
Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari BB Ideal dikali kelebihan
kalori basal yaitu untuk laki-laki 30 kkal/kg BB, dan wanita 25 kkal/kg BB,
kemudian ditambah untuk kebutuhan kalori aktivitas (10-30% untuk pekerja
berat). Koreksi status gizi (gemuk dikurangi, kurus ditambah) dan kalori untuk
menghadapi stress akut sesuai dengan kebutuhan. Makanan sejumlah kalori
terhitung dengan komposisi tersebut diatas dibagi dalam beberapa po rsi yaitu :
1) Makanan pagi sebanyak 20%
2) Makanan siang sebanyak 30%
3) Makanan sore sebanyak 25%
4) 2-3 porsi makanan ringan sebanyak 10-15 % diantaranya. (Iwan S, 2010).
b) Latihan Jasmani

6
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama
kurang lebih 30 menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit
penyerta (Iwan S, 2010). Sebagai contoh olah raga ringan adalah berjalan kaki
biasa selama 30 menit, olahraga sedang berjalan cepat selama 20 menit dan olah
raga berat jogging (Iwan S, 2010)

c) Obat Hipoglikemik
1) Sulfonilurea
Obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :
a) Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan.
b) Menurunkan ambang sekresi insulin.
c) Meningkatkan sekresi insulinsebagai akibat rangsangan glukosa.
Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien dengan BB normal dan
masih bisa dipakai pada pasien yang beratnya sedikit lebih.Klorpropamid kurang
dianjurkan pada keadaan insufisiensi renal dan orangtua karena resiko
hipoglikema yang berkepanjangan, demikian juga gibenklamid. Glukuidon juga
dipakai untuk pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal. (Iwan S, 2010)
2) Biguanid
Preparat yang ada dan aman dipakai yaitu metformin. Sebagai obat
tunggal dianjurkan pada pasien gemuk (imt 30) untuk pasien yang berat lebih
(IMT 27-30) dapat juga dikombinasikan dengan golongan sulfonylurea (Iwan S,
2010)3)
3) Insulin
Indikasi pengobatan dengan insulin adalah :
a) Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM maupun NIDDM) dalam
keadaan ketoasidosis atau pernah masuk kedalam ketoasidosis (Bare &
Suzanne, 2002).
b) DM dengan kehamilan/ DM gestasional yang tidak terkendali dengan diet
(Bare & Suzanne, 2002).
c) DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik oral dosis
maksimal. Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan dosis rendah dan
dinaikkan perlahan – lahan sesuai dengan hasil glukosa darah pasien. Bila
sulfonylurea atau metformin telah diterima sampai dosis maksimal tetapi

7
tidak tercapai sasaran glukosa darah maka dianjurkan penggunaan kombinasi
sulfonylurea dan insulin (Bare & Suzanne, 2002).
d) Penyuluhan untuk merancanakan pengelolaan sangat penting untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Edukator bagi pasien diabetes yaitu
pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang
bertujuan menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan pemahaman
pasien akan penyakitnya, yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat
yang optimal. Penyesuaian keadaan psikologik kualifas hidup yang lebih
baik. Edukasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan diabetes
(Bare & Suzanne, 2002).

8
BAB 2. ANALISIS JURNAL

2.1 Jurnal A
Judul Jurnal : Incidence and time trends of type 2 diabetes mellitus in
youth aged 5–19 years: a population-based registry in
Zhejiang, China, 2007 to 2013.
Penulis :
1. Haibin Wu
2. Jieming Zhong
3. Min Yu
4. Hao Wang
5. Weiwei Gong
6. Jin Pan
7. Fangrong Fei
8. Meng Wang1
9. Li Yang
10. Ruying Hu

Tahun : 2017
Sumber: http://download.springer.com/static/pdf/973/art
%253A10.1186%252Fs12887-017-0834-8.pdf?
originUrl=http%3A%2F
%2Fbmcpediatr.biomedcentral.com%2Farticle
%2F10.1186%2Fs12887-017-0834-
8&token2=exp=1492746031~acl=%2Fstatic%2Fpdf
%2F973%2Fart%25253A10.1186%25252Fs12887-017-
0834-
8.pdf*~hmac=e6c696984a16054c93562c2eeb7819a6dfc3f
1207e429c8f7464826ea230d628

Analisis PICO dan Critical Thinking :
Analisis PICO Critical Thinking
Problem Diabetes Mellitus termasuk dalam penyakit

9
kronis yang dapat menyerang semua umur,
kebangsaan, dan tingkat sosial ekonomi.
Kejadian diabetes melitus tipe 2 (T2DM)
telah meningkat secara global selama dua
tahun terakhir pada anak-anak dan remaja
di kalangan pemuda Tionghoa. Laporan
sebelumnya tentang T2DM terutama
berfokus pada etnis kelompok minoritas,
populasi klinis khusus, dan populasi risiko
tinggi dalam lokasi geografis tertentu.
Pemuda dengan T2DM memiliki durasi
penyakit yang lebih lama dan risiko
komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan orang dewasa. Meskipun T2DM
masih relatif jarang terjadi pada kaum
muda, Survei Kesehatan dan Gizi China
(CHNS) mencatat bahwa prevalensi
diabetes sudah diperkirakan lebih tinggi
pada Remaja Cina
Intervensi Pengendalian Penyakit Provinsi Zhejiang
Dan Pencegahan (CDC) telah ditetapkan
untuk diabetes menggunakan sistem
registri melalui layanan web dan laporan
jaringan langsung. Sistem registry
menyediakan data untuk sumber utama,
dan survei di bawah pelaporan
menyediakan data untuk sumber
sekunder kelengkapan
pemastian.Selanjutnya pemeriksaan
serologi seperti autoantibodi beta-sel, C-
peptida. Selain itu, banyak tindakan telah
diadopsi pada Pengawasan penyakit
diabetes oleh Zhejiang CDC, seperti

10
menilai, mengawasi dan memeriksa proses
diagnosis, melaporkan dan mengikuti
perjalanan penyakit untuk memastikan
kuantitas dan kualitas. Selain itu, metode
statistik yang diperlukan yaitu meliputi
data, model regresi Poisson yang
diterapkan untuk menilai dampak diagnosis
tahun, kelompok umur, jenis kelamin dan
tempat tinggal pada kejadian dan untuk
memeriksa rata-rata perubahan persentase
tahunan dalam kejadian.

Compare Pada jurnal Incidence and time trends of
type 2 diabetes mellitus in youth aged 5 –
19 years: a population-based registry in
Zhejiang, China, 2007 to 2013pada tahun
2017, menggunakan sistem registri
diabetes untuk melihat kasus diabetes yang
terdiagnosis oleh dokteryang terjadi pada
anak-anak berusia 5-19 tahun. Dengan
metode ini, peningkatan kasus diabetes
dapat diketahui dengan mudah karena
dapat mendeteksi dengan cepat
berdasarkan nama, usia, jenis kelamin, dan
tempat tinggal. Model regresi poisson
digunakan untuk mengetahui jumlah
prevalensi yang dipengaruhi oleh usia,
jenis kelamin, dan tempat tinggal pada
pasien diabetes melitus tipe 2 sehingga
dapat diketahui rata-rata perubahan
persentase kasus setiap tahunnya. Hasil
yang didapatkan sebanyak 210 anak laki-

11
laki dan 182 perempuan yang berusia
antara 5-19 tahun terdiagnosis dengan
T2DM. Metode dengan sistem registri ini
dapat menguji tingkat kejadian dan tren
waktu T2DM selama periode 7 tahun.
Sedangkan menurut jurnal Trends
of diabetes mellitus and hypertension at
Nigist Eleni Mohammed General Hospital,
Hossana, Ethiopia (December 2010-
January 2014): a five year longitudinal
studypada tahun 2017, peneliti melakukan
penelitian dengan metode longitudinal
yang dilakukan dengan cara meninjau
ulang catatan medis pasien pada kasus
diabetes melitus selama 5 tahun. Metode
ini digunakan untuk mengetahui
peningkatan prevalensi diabetes . peneliti
melakukan pengumpulan data
menggunakan SPSS versi 20.0.0. dengan
tingkat kepercayaan sebanyak 95% untuk
mengetahui peningkatan penyakit selama
satu tahun. hasil yang didapatkan yaitu
prevalensi diabetes melitus relatif lebih
tinggi pada laki-laki daripada perempuan.
didapatkan bahwa usia mempengaruhi
meningkatnya angka prevalensi pada
penyakit diabetes melitus.

Outcome Untuk mengatasi kejadian diabetes melitus
tipe 2 pada anak dapat dilakukan pendataan
terhadap orang tua yang mengidap
penyakit diabetes. Hal ini bertujuan supaya
dapat dilakukan strategi pencegahan yang

12
memungkinkan terjadinya T2DM terhadap
keturunannya.
Bagi orang tua yang terdiagnosis
mempunyai diabetes, diharapkan dapat
memeriksakan anaknya sesegera mungkin
ke dokter supaya dapat didiagnosis secara
pasti apakah anak tersebut juga mengalami
diabetes yang disebabkan karena faktor
keturunan.
Selain itu, sebagai tenaga kesehatan dapat
melakukan edukasi tentang pola nutrisi
yang baik untuk dikonsumsi baik bagi anak
yang beresiko terkena diabetes maupun
orang tua dan anak yang telah terdiagnosis
diabetes melitus tipe 2 serta pengobatan
rutin yang harus dilakukan untuk
meningkatkan derajat kesembuhan pada
penyakit diabetes melitus tipe 2.

2.2 Jurnal B
Judul Jurnal : An Epidemiological sstudy to assess the prevalence of
diabetic peripheral neuropathic pain among adults with
diabetes attending private and institutional outpatient
clinics in South Africa.
Penulis : Andrew Jacovides, MampediBogoshi, Larry A Distiller,
Ehab Y Mahgoub, Mahomed KA Omar, Ismail A Tarek,
and Dalia B Wajsbrot
Tahun : 2014
Sumber : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24891556
Analisis PICO & Critical Thinking :
Analisis PICO Critical Thinking
Problem Diabetes neuropati perifer (DPN) adalah
komplikasi yang paling umum dari diabetes
Populasi

13
Pasien dewasa dengan diabetes mellitus, dimana mempengaruhi hingga
melitus yang mengalami nyeri 50% dari pasien DM. DPN dikaitkan
diabetes neuropatik perifer dengan morbiditas dan mortalitas yang
(DPNP) di Afrika Selatan signifikan, dan merupakan penyebab yang
sangat umum dari amputasi non-traumatik,
mengingkatnya jumlah penerimaan pasien
rumah sakit dan peningkatan biaya
kesehatan. DPN ditandai dengan nyeri on
set berbahaya, yang digambarkan sebagai
terbakar, menembak atau sakit. Ini bisa
disertai dengan alodinia, hiperalgesia dan
mati rasa, dengan gejala yang semakin
memburuk pada malam hari. DPN lemah
dalam merespon analgesic konvesional
seperti obat anti inflmasi (NSAID)
Intervensi Sebagian pasien dengan DM yang
mengalami DPN cenderung menggunakan
1. Melakukan deteksi dini
NSAID untuk mengontrol rasa sakit, tetapi
dan meberikan
obat ini tidak memiliki khasiat dalam
pengobatan yang
mengurangi DPN. Tetapi ada juga sebagian
sepatutnya dengan
yang mengambil obat dengan khasiat
khasiat obat terbukti
terbukti untuk mengurangi nyeri neuropatik
penting dalam
(seperti anti konvulsan, opioid, SNRIs atau
meningkatkan HRQOL
TCA), dan Opioid terbukti mengurangi
pasien dengan DPN.
DPN. Penggunaan NSAID jangka panjang
2. Merekomendasikan ini dapat menyebabkan efek samping seperti
skrining pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan perdarahan
diabetes untuk gastrointestinal.
diagnosis DPNdan Selain itu pasien dengan DPN memiliki
setidaknya dilakukan tingkat nyeri dengan skor tinggi dan
setiap tahun dengan memiliki HRQOL yang lebih buruk
menggunakan klinistes dibandingkan mereka yang tanpa nyeri.
sederhana yaitu DN4 Oleh karena itu dibutuhkan suatu skrining

14
3. Memvalidasi kuesioner seperti DN4. DN4 adalah alat skrining yang
yang dapat digunakan mudah digunakan dan dapat diandalkan
secara luas sebagai alat untuk mendeteksi DPN pada diabetes.
skrining DPN dalam Diharapkan penggunaan DN4 secara rutin
praktek klinis. untuk skrining pada pasien dapat

4. Melakukan evaluasi meningkatkan kualitas hidup pasien

setelah melakukan tersebut.
pengobatan dan
skrining
Compare Dari kedua jurnal ini dapat diperoleh
kesimpulan bahwa :
Menurut jurnal ‘An
1. DPN merupakan komplikasi yang
Epidemiological sstudy to
paling sering terjadi pada orang
assess the prevalence of
dengan Diabetes Melitus.
diabetic peripheral
2. DPN memengaruhi mortalitas dan
neuropathic pain among adults
morbiditas seseorang, berpengaruh
with diabetes attending private
dalam menurunkan kualitas hidup
and institutional outpatient
memperbanyak jumlah pengeluaran
clinics in South Africa’.
seseorang untuk berobat di Rumah
Diabetes Neuropatik Perifer
sakit, mengganggu aktivitas sehari-
(DPN) sering terjadi dan
hari, dan juga mengganggu tidur
menjadi komplikasi pada orang
orang yang mengalami DPN.
yang menderita Diabetes
3. Memberikan kontribusi untuk risiko
Mellitus di Afrika Selatan.
yang lebih tinggi dari ulkus kaki
DPN ini dapat mengganggu
diabetik dan amputasi ekstremitas
mortalitas dan morbiditas
bawah.
seseorang, dan menurunkan
4. Rata-rata pasien DM yang
kualitas hidup.
merasakan nyeri atau tidak, jarang
untuk melaporkan hal tersebut
Menurut jurnal ‘Diabetic
kepada dokter mereka, sehingga
Peripheral Neuropathy in Type
DPN tidak dapat terdektesi dini
2 Diabetes Mellitus in Korea’.
bahkan tidak mendapatkan
Diabetik neuropati perifer

15
(DPN) merupakan komplikasi pengobatan.
umum dan menyusahkan pada 5. Terdapat dua cara untuk menskrining
pasien dengan diabetes mellitus DPN pada pasien yaitu yang
tipe 2 (T2DM ), memberikan pertama dengan menggunakan DN4
kontribusi untuk risiko yang dan yang kedua adalah dengan
lebih tinggi dari ulkus kaki menggunakan SWMF.
diabetik dan amputasi 6. Untuk pengobatan farmakologis,
ekstremitas bawah. Situasi ini terapi lini pertama terdiri dari anti
dapat berdampak negatif depresantri siklik (TCA), duloxetine,
terhadap kualitas hidup pregabalin atau oxycodon, opioid,
individu yang terkena. danlidokain.

Outcome DPNP merespon buruk pada Analgesik
Prevalensi yang tinggi DPNP
ional seperti nonsteroidal obat anti-
di Afrika Selatan dengan
inflammatory drugs (NSAID) yang dapat
diabetes memilikiHRQoL yang
menyebabkan gangguan tidur dan depresi,
lebih rendah
mengganggu aktivitas sehari-hari.
Akibatnya, DPNP dikaitkan dengan
penurunan yang signifikan pada kualitas
hidup kesehatan pasien yang terkait
(HRQoL). DPNP dalam penelitian saat ini
menghitung nilai HRQoL mereka yang lebih
rendah.Penyebab lainnya Neuropati yang
menyakitkan pada populasi penelitian
Seperti kekurangan vitamin B12, HIV
Seropositif dan alkoholisme yang tidak
diselidiki prevalensi yang tinggi pada DPNP
di Afrika Selatan.
Penderita nyeri neuropatik memiliki
HRQoL yang lebih rendah. Dijelaskan
bahwa DN4 mudah digunakan dan Alat
skrining yang andal untuk DPNP pada

16
diabetes. Diharapkan temuan ini akan
mendorong praktisi untuk secara rutin
menggunakan DN4 untuk Skrining DPNP
pada pasien mereka dengan diabetes yang
dapat memperbaiki HRQoL. Deteksi dini
dan Perlakuan DPNP dengan terbukti
keberhasilan dalam meningkatkan HRQoL
pasien. Diabetes Amerika Asosiasi, dengan
demikian merekomendasikan penyaringan
pasien diabetes DPN di diagnosis dan
setidaknya setiap tahun setelahnya
menggunakan Tes klinis sederhana
yaitu DN4 kuesioner yang mudah
digunakan dan dapat divalidasi secara luas
sebagai alat skrining DPNP

2.3 Jurnal C
Judul Jurnal : Ethnobotanical Study Of Herbal Medicines For
Management Of Diabetes Mellitus In Dangme West
District Of Southern Ghana (Studi etnobotani obat-obatan
herbal untuk pengelolaan diabetes mellitus di Distrik
Barat Dangme di Ghana selatan).
Penulis : Alex Asase Daniel T. Yohonu
Tahun : 2016
Analisis PICO dan Critical Thinking :
Analisis PICO Critical Thinking
Problem Diabetes mellitus merupakan kelainan
metabolik kronis yang ditandai dengan
kadar glukosa yang tinggi sebagai
akibat dari produksi insulin endogen
yang tidak mencukupi oleh sel beta
pankreas (atau dikenal sebagai diabetes
tipe 1) atau gangguan sekresi insulin

17
atau (diabetes tipe-2). Sebagian besar
(90 - 95%) kasus diabetes termasuk
tipe 2. Diabetes melitus sekarang
dianggap sebagai salah satu ancaman
utama kesehatan manusia di abad ke-
21 karena diabetes mellitus penyebab
utama morbiditas dan mortalitas.
Diabetes melitus yang tidak terkontrol
dapat menyebabkan komplikasi seperti
kebutaan, risiko perkembangan ulkus
kaki, amputasi anggota badan,
disfungsi seksual, gagal jantung, stroke
serebral dan kematian. Jumlah orang
yang terkena diabetes mellitus di
negara berkembang terus berlanjut
peningkatan. Memperkirakan
peningkatan 69% jumlah orang dewasa
yang terkena diabetes mellitus di
negara berkembang dibandingkan
dengan kenaikan 20% untuk negara
maju. Tingkat pertumbuhan diabetes
melitus di Afrika Sub-Sahara adalah
yang tercepat di dunia dan jumlah
pasien diproyeksikan meningkat dua
kali lipat dari 12 menjadi 24 juta dalam
20 tahun ke depan. Nasib pasien
diabetes diperparah oleh adanya fakta
walaupun masih ada obat-obatan yang
tersedia, masih sulit untuk
mendapatkan kontrol glikemik yang
optimal di karenakan terlalu banyak
pasien yang menderita diabetes..

18
Intervention Kebiasaan pola makan yang tepat
sebagai cara pencegahan diabetes
mellitus, Menyarankan pasien diabetes
mellitus untuk mengurangi asupan
gula, asupan garam dan mengurangi
konsumsi alkohol yang tinggi.
Memberikan pengetahuan mengenai
penyakit diabetes.

Comparation Diabetes mellitus merupakan penyakit
kompleks yang terjadi akibat cacat
pada sekresi insulin atau karena
penggunaan insulin yang tidak efektif
yang dikeluarkan oleh pankreas.
Sekitar 52% penyembuh menyebutkan
penyembuhan luka yang lambat
sebagai gejala utama diabetes melitus.
Penyembuh lainnya menyebutkan
penurunan berat badan (16,3%) dan
adanya semut di sekitar urine pasien
(35,5%). Penyembuh mengatakan
bahwa perubahan pada kulit (10%),
sulit kering pada luka (60%), nyeri
pada alat kelamin (10%), impotensi
pada pria (10%) dan pengerasan kulit
(10%) adalah komplikasi pada diabetes
mellitus. Sekitar 60% penyembuh
menyarankan agar mengurangi asupan
gula sementara 40% menyarankan
kebiasaan makan yang tepat sebagai
cara pencegahan diabetes mellitus.
Outcome Diabetes mellitus merupakan penyakit
kompleks yang terjadi akibat cacat

19
pada sekresi insulin atau karena
penggunaan insulin yang tidak efektif
yang dikeluarkan oleh pankreas.
Sekitar 52% penyembuh menyebutkan
penyembuhan luka yang lambat
sebagai gejala utama diabetes melitus.
Penyembuh lainnya menyebutkan
penurunan berat badan (16,3%) dan
adanya semut di sekitar urine pasien
(35,5%). Penyembuh mengatakan
bahwa perubahan pada kulit (10%),
sulit kering pada luka (60%), nyeri
pada alat kelamin (10%), impotensi
pada pria (10%) dan pengerasan kulit
(10%) adalah komplikasi pada diabetes
mellitus. Sekitar 60% penyembuh
menyarankan agar mengurangi asupan
gula sementara 40% menyarankan
kebiasaan makan yang tepat sebagai
cara pencegahan diabetes mellitus.

2.4 Jurnal D
Judul Jurnal : Risk Factors for Type II Diabetes Mellitus: an
Integrative Review
Penulis :
1. Carla Lidiane Jácome de Lima
2. Patrícia Simplício de Oliveira
3. Thalys Maynnard Costa Ferreira
4. Eliane Cristina da Silva
5. Josefa Danielma Lopes Ferreira
6. Rossana Santos de Andrade
7. Yanny Dantas de Macedo

20
8. Williane Leôncio Gomes
9. Eduardo Gomes de Melo
10. Adriana Lira Rufino de Lucena
11. Ana Izabel Lopes Cunha
12. Marta Miriam Lopes Costa

Nama Jurnal : International Archives of Medicine Section: Global
Heakth and Health Policy
Analisis PICO dan Critical Thinking :
Analisis PICO Critical Thinking
Problem Diabetes mellitus (DM) adalah
salah satu penyakit kronis yang serius
yang ada di seluruh dunia. The Brazilian
Society of Diabetes menggambarkan
DM sebagai sindrom beberapa etiologi
dari gangguan metabolik yang
disebabkan oleh kekurangan insulin,
yang menyebabkan kondisi kronis dan
orang yang terkena DM harus merubah
gaya hidupnya yang dapat memicu
penyakit tersebut.
Menurut International
Diabetes Federation, pada tahun 2015,
ada sekitar 415 juta orang dewasa
penduduk dunia yang terkena DM, dan
diperkirakan pada tahun 2040 akan
menjati 642 juta yang menderita
diabetes. Penyakit ini memiliki beban
ekonomi sebesar $ 673 milyar US dolar
dalam investasi di bidang kesehatan
dunia. DM juga merupakan penyebab
kematian yang tinggi dengan setiap
enam detik seseorang meninggal karena

21
diabetes. Sedangkan di Indonesia
sendiri, WHO memperkirakan pada
tahun 2030 Indonesia menempati
peringkat ke 4 dari jumlah penderita
diabetes sedunia setelah Amerika
Serikat, China, dan India.

Berdasarkan ADA dan WHO, diabetes
mellitus di klarifikasikan menjadi dua
jenis, yaitu diabetes mellitus tipe 1,
dimana pemusnahan sel beta
memproduksi insulin karena adanya
kesalahan pada sistem kekebalan tubuh,
dan diabetes mellitus tipe 2, dimana
adanya cacat atau kerusakan dalam
sekresi insulin yang berhubungan
dengan resistensi terhadap zat. Dari
kedua jenis DM, 90% penderita DM
termasuk dalam jenis diabetes mellitus
tipe 2.
Intervention Unit Kesehatan Dasar terdiri
dari multidisipliner, terdiri dari: dokter,
perawat, dokter gigi, Agen Kesehatan
Masyarakat dan profesi lainnya. Mereka
menggunakan metodologi dan alat untuk
mengatur proses kerja, seperti
keterbukaan, permintaan yang buruk,
dan konsultasi kelompok yang berisiko
untuk Penyakit kronis, perawatan
menyeluruh dan kunjungan rumah untuk
memenuhi kebutuhan kesehatan
masyarakat. Perawat, sebagai anggota
tim tersebut, sebagai strategi utama,

22
melakukan konsultasi keperawatan,
yang menjadi bagian penting dalam
pendidikan kesehatan.
Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa dilihat melalui
pendekatan non farmakologis termasuk
teknik relaksasi adalah intervensi yang
bisa dilakukan pada pasien dengan
diabetes mellitus. Menurut Dunnning
terapi komplementer dapat memberi
manfaat pada penderita DM untuk
memperbaiki kondisi penerimaan saat
ini, mengurangi stres, kecemasan,
depresi, mengembangkan strategi
strategi yang dapat mencegah
stres. Beliau juga menjelaskan bahwa
keuntungan relaksasi otot progresif
untuk memperbaik Kontrol metabolik,
menurunkan gula darah, menurunkan
katekolamin dan aktivitas saraf
otonom. Setelah itu pasien akan merasa
rileks, serta relaksasi progresif dapat
membuat tubuh dan pikiran menjadi
tenang.

Comparation Jurnal utama menjelaskan tentang
faktor-faktor resiko yang dapat
mengarah pada terjadinya diabetes
melitus tipe 2. Jurnal ini menggunakan
teknik penelitian review integratif,
dimana peneliti mengumpulkan
beberapa artikel dan publikasi lainnya

23
untuk mengintegrasikan dan
mempromosikan pengetahuan tentang
diabetes melitus tipe 2. Sumber-sumber
yang diteliti mengemukakan bahwa
beberapa faktor resiko tersebut antara
lain stres, gaya hidup, obesitas, dan
hipertensi. Dalam jurnal disebutkan
bahwa salah satu penyebab diabetes
melitus tipe 2 pada mahasiswa adalah
stres.
Sebagai pembanding, sebuah
jurnal kedua yang berisi tentang salah
satu metode atau penatalaksanaan bagi
penderita diabetes melitus tipe 2 untuk
menurunkan kadar gula darah. Stres
dapat memicu disekresinya hormon stres
seperti epinephrine, glukagon, dan
kortisol. Metode ini disebut Progressive
Muscle Relaxation yang bertujuan untuk
menurunkan kadar gula darah pada
responden dengan cara menurunkan
tingkat stres mereka baik fisik maupun
psikologis.

Outcome Penelitian ini memungkinkan
pengidentifikasian dan pendiskusian
diabetes melitus menjadi lebih lebar
jangkauannya dengan menunjukkan
dengan jelas hal apa yang dapat memicu
berkembangnya diabetes melitus dan
upaya preventif dan promotif apa yang
bisa dilakukan pada kelompok yang
beresiko menderita diabetes melitus.

24
Analisis yang dilakukan merefleksikan
aspek-aspek yang relevan yang dapat
memandu tenaga kesehatan profesional
yang memiliki kontak langsung dengan
pasien yang beresiko mengalami
diabetes melitus. Harus ada penelitian
lebih lanjut untuk memeriksa faktor
resiko pada populasi yang berbeda
untuk mengidentifikasi lebih banyak
hubungan antara faktor-faktor yang
dianalisis, khususnya yang memiliki
alamiah yang dapat modifikasi.

25
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah
akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Kejadian DM diawali
dengan kekurangan insulin sebagai penyebab utama. Di sisi lain timbulnya DM
bisa berasal dari kekurangan insulin yang bersifat relatif yang disebabkan oleh
adanya retensi urin (insuline recistance). Keadaan ini ditandai dengan
ketidakrentanan/ketidakmampuan organ menggunakan insulin, sehingga insulin
tidak bisa berfungsi optimal dalam mengatur metabolisme glukosa. Akibatnya,
kadar glukosa darah meningkat (hiperglikemi).
Secara epidemiologi DM seringkali tidak terdeteksi. Berbagai faktor
genetik, lingkungan dan cara hidup berperan dalam pajanan penyakit diabetes.
Ada kecenderungan penyakit ini timbul dalam keluarga. Disamping itu juga
ditemukan perbedaan kekerapan dan komplikasi diantara ras, negara dan
kebudayaan. DM type 2 akan meningkat menjadi 5-10 kali lipat karena terjadi
perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban. Faktor risiko yang berubah
secara epidemiologi adalah bertambahnya usia, jumlah dan lamanya obesitas,
distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani dan hiperinsulinemia. Semua
faktor ini berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan dengan
terjadinya DM tipe 2.

3.2 Saran
Berbagai faktor genetik, lingkungan dan cara hidup berperan dalam
pajanan penyakit diabetes mellitus. Untuk itu perlu pencegahan sejak dini dalam
menghindari penyakit Diabetes Mellitus dengan cara menjaga lingkungan sekitar
kita dan mulai bisa mengontrol makanan yang dapat membuat kadar gula kita naik
serta dianjurkan agar kita mengecek kadar gula kita untuk mewaspadainya dan
jangan lupa untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan melakukan pola hidup
sehat.

26
DAFTAR PUSTAKA

.
Gejala Diabetes.com. Gejala Awal Penyakit Diabetes Melitus, Tanda-tanda
Gejala Penyakit Diabetes Melitus dan Pengobatan Diabetes Melitus .
Diakses melalui http://gejaladiabetes.com/ pada tanggal 20 April 2017.

Alodkter.com. 2016. Pengertian Diabetes Tipe 2. Diakses melalui
http://www.alodokter.com/diabetes-tipe-2 pada tanggal 20 April 2017.

Alodokter.com. 2016. Pengertian Diabetes. Diakses melalui
http://www.alodokter.com/diabetes pada tanggal 20 April 2017

Pratama, Dieto, R., P. 2017. Makalah Diabetes Melitus. Di akses melalui
https://www.scribd.com/doc/134628560/Makalah-Diabetes-Melitus pada
tanggal 18 April 2017

Soebagijo S, Adi, dkk. 2015. Konsensus pengelolaan Dan Pencegahan diabetes
Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015.pbperkeni.or.id/doc/konsensus.pdf

https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0ahU
KEwiX57-0krPTAhXEqI8KHYwDDRkQFgg0MAM&url=http%3A%2F
%2Fpbperkeni.or.id%2Fdoc
%2Fkonsensus.pdf&usg=AFQjCNGOxSGR2qydzYcnfaAlBl07-
IWWgg&sig2=LAhLZBtHCfB6cJJ1PHbYsQ pada tanggal 20 April 2017

Jacovides Andrew, MampediBogoshi et al. 2014. An Epidemiological sstudy to
assess the prevalence of diabetic peripheral neuropathic pain among adults
with diabetes attending private and institutional outpatient clinics in South
Africa. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24891556 (diaksespada 20
April 2017)

Hyun koSeung, Yun Cha Bong. 2012. Diabetic Peripheral Neuropathy in Type 2
Diabetes Mellitus in Korea.

27
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3283828/ (diaksespada 20
April 2017)

de Lima et al.. 2016. Risk Factors for Type II Diabetes Mellitus: an Integrative
Review. Paraiba; International Medical Society.

Avianti, Desmaniarti, Rumahorbo. 2016. Progressive Muscle Relaxation
Effectiveness of the Blood Sugar Patients with Type 2 Diabetes. Bandung;
Scientific Research Publishing Inc.

28