You are on page 1of 12

1.

Pengertian Al-quran
Al-Qur'an berasaldari bahasa Arab ( ‫ )القرآن‬adalah kitab suci agama Islam. Al-Quran
Merupakan Firman atau kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ,
melalui Perantara malaikat Jibril , yang ditulis dengan mushaf-mushaf disampaikan dengan
jalanMutawattir, membacanya bernilai Ibadah ,Alquran terjaga kesucianya sampai akhirul
yaman seta sebagai pedoman dan dasar sumber hukum manuasia.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang
diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad
, melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi
Muhammad.

2. Nama lain Alquran
Al Qur'an, kitab suci agama Islam memiliki banyak nama. Nama-nama ini berasal dari ayat-
ayat tertentu dalam Al Qur'an itu sendiri yang memakai istilah tertentu untuk merujuk kepada
Al Qur'an itu sendiri.

Nama-nama tersebut Adalah:

 Al-Kitab (buku)

Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]:2)

 Al-Furqan (pembeda benar salah)

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya,
agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al Furqaan [25]:1)

 Adz-Dzikr (pemberi peringatan)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)

 Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)

 Asy-Syifa' (obat/penyembuh)

maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Ar Ra'd [13]:37)  Al-Hikmah (kebijaksanaan) Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Asy Syuura [42]:52)  Al-Bayan (penerang) . (QS. sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Al Jin [72]:13)  At-Tanzil (yang diturunkan) Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu. (QS. Al Israa' [17]:39)  Al-Huda (petunjuk) Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur'an). An Naml [27]:77)  Ar-Ruh (ruh) Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. (QS. kami beriman kepadanya. Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Yunus [10]:57)  Al-Hukm (peraturan/hukum) Dan demikianlah. Asy Syu’araa’ [26]:192)  Ar-Rahmat (karunia) Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya. maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. Hai manusia. (QS. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. QS. (QS. yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). Barangsiapa beriman kepada Tuhannya. (QS.

3. An Nisaa' [4]:174)  Al-Basha'ir (pedoman) Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia. Ibrahim [14]:52)  Al-Qaul (perkataan/ucapan) Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman. Pada masa Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam . (Al-Qur'an). (Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia. (QS. dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Ali Imran [3]:138)  Al-Kalam (ucapan/firman) Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu. At Taubah [9]:6)  Al-Busyra (kabar gembira) Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. Al Jaatsiyah [45]:20)  Al-Balagh (penyampaian/kabar) (Al-Qur'an) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia. dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. Pengkodifikasian Al-quran Menulisan dan kodifikasi (pengumpulan) al-Qur'an dilakukan dalam tiga tahapan: Pertama. (QS. (QS. sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. (QS. An Nahl [16]:102)  An-Nur (cahaya) Hai manusia. (QS. kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah. Al Qashash [28]:51). (QS.

juga ada al-Khulafâ` ar-Rasyidun. lembaran dari kulit. lantas Zaidpun datang menghadap sementara di situ 'Umar sudah ada 'Umar. diantaranya Salim. tahun 12 H Sebab utamanya adalah terbunuhnya sejumlah besar para Qurrâ` pada perang Yamamah. Mawla Abu Hudzaifah yang merupakan salah seorang dari kalangan mereka yang Nabi perintahkan agar al-Qur'an ditransfer darinya. dan kami tidak pernah menuduh (jelek) terhadapmu.Pada masa ini. Dialah orang yang pertama kali melakukan kodifikasi terhadap Kitabullah. Sebelumnya engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam. Ketika itu. Salim (Mawla Abu Hudzaifah)." Zaid berkata. Oleh karena itu. Ubay bin Ka'b. Di dalam Shahih al-Bukhariy dari Anas bin Malik radliyallâhu 'anhu dinyatakan bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam mengutus 70 orang yang dikenal sebagai Qurrâ`. kemudian berpindah ke tangan 'Umar semasa hidupnya. yakni lembaran asli ditulisnya teks al-Qur'an padanya) masih berada di tangan Abu Bakar hingga beliau wafat. 'Abdullah bin Mas'ud. pengkodifikasiannya tidak dimuat di dalam suatu Mushhaf akan tetapi siapa saja yang mendengar satu ayat. Mu'adz bin Jabal. Selain mereka yang telah dibunuh dalam tugas tersebut. "Lalu akupun menelusuri al-Qur'an dan mengumpulkannya dari pelepah korma. mereka sangat cepat dalma menghafal dan orang yang pandai tulis-baca langka serta terbatasnya alat-alat tulis. Kaum Muslimin telah menyetujui tindakan Abu Bakar atas hal tersebut dan menganggapnya sebagai bagian dari jasa-jasanya yang banyak sekali. 'Umar terus mendesaknya dan menuntutnya hingga akhirnya Allah melapangkan dada Abu Bakar terhadap pekerjaan besar itu. namun dia belum memberikan jawaban (abstain). Mengenai hal ini. Shuhuf (Jamak dari kata Shahîfah. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Shahih al-Bukhariy bahwasanya 'Umar bin al-Khaththab memberikan isyarat agar Abu Bakar melakukan kodifikasi terhadap al-Qur'an setelah perang Yamamah. Kedua. Bahkan 'Ali sampai-sampai berkata. "Orang yang paling besar pahalanya terhadap mushhaf-mushhaf tersebut adalah Abu Bakar. lalu membunuh mereka. Semoga Allah merahmati Abu Bakar. kemudian berpindah lagi ke tangan Hafshoh binti 'Umar. Lalu dia mengutus orang untuk menemui Zaid bin Tsabit. "Sesungguhnya engkau seorang pemuda yang intelek. Imam al-Bukhariy meriwayatkannya secara panjang lebar. batu putih yang tipis dan tulang pundak (binatang). Pada masa Abu Bakar radliyallâhu 'anhu. sedangkan para Qurrâ` (pembaca al-Qur'an dan penghafal) nya banyak sekali. Zaid bin Tsabit dan Abu ad-Dardâ` radliyallâhu 'anhum. lembaran kulit dan juga hafalan beberapa shahabat. lebih banyak bergantung kepada hafalan ketimbang tulisan karena daya ingat para shahabat sangat kuat. Lalu Abu Bakar memerintahkan pengkodifikasian al-Qur'an agar tidak lenyap (dengan banyaknya yang meninggal dari kalangan Qurrâ`). dia lalu menghafalnya atau menulisnya sebisanya pada pelepah korma. karenanya telusuri lagi al-Qur'an dan kumpulkanlah." . Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya (Zaid). Lalu mereka dihadang oleh dua perkampungan dari Bani Sulaim yaitu Ra'l dan Dzakwan di sebuah tempat bernama Bi`r Ma'ûnah.

kemudian akan dikembalikan naskah aslinya tersebut kepadanya lagi. 'Utsman memerintahkan agar dilakukan kodifikasi terhadap Shuhuf tersebut sehingga menjadi satu Mushhaf saja agar manusia tidak berbeda-beda bacaan lagi. Oleh karena itu. lalu merekapun menulis dan menyalinnya ke dalam Mushhaf-Mushhaf." Dalam versi riwayat yang lain darinya. 'Abdullah bin az-Zubair. "Demi Allah. 'Utsman radliyallâhu 'anhu yang disetujui oleh semua kaum Muslimin dan sebagai penyempurna dari pengkodifikasian yang telah dilakukan khalifah Rasulullah sebelumnya.Ketiga. sembari berkata kepadanya." Merekapun melaksanakan perintah tersebut hingga tatkala proses penyalinannya ke Mushhaf-Mushhaf rampung. 'Abdurrahman bin al-Hârits bin Hisyam. Lalu 'Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit. sehingga dikhawatirkan terjadinya fitnah. sebab ia diturunkan dengan bahasa mereka. "Saya mendapatkan orang demikian banyak ketika 'Utsman membakar Mushhaf-Mushhaf itu dan mereka terkesan dengan tindakan itu. Sa'id bin al-'Ash. maka tulislah ia dengan lisan (bahasa) Quraisy. Hal ini sebagai diriwayatkan oleh Ibn Abi Daud dari 'Aliy radliyallâhu 'anhu bahwasanya dia berkata. Pada masa Amirul Mu'minin. Abu Bakar ash-Shiddiq radliyallâhu .'" Mush'ab bin Sa'd berkata. 'Utsmanpun mengembalikan naskah asli kepada Hafshoh. Di dalam Shahih al-Bukhariy disebutkan bahwa Hudzaifah bin al-Yaman menghadap 'Utsman seusai penaklukan terhadap Armenia dan Azerbeijan. "Wahai Amirul Mukminin. Zaid bin Tsabit adalah seorang Anshar dan tiga orang lainnya berasal dari suku Quraisy. tidaklah apa yang telah dilakukannya ('Utsman) terhadap Mushhaf-Mushhaf kecuali saat berada di tengah-tengah kami. "tidak seorangpun dari mereka yang mengingkari tindakan itu dan menganggapnya sebagai bagian dari jasa-jasa Amirul Mukminin. lakukan sesuatu buat umat sebelum mereka berselisih pendapat terhadap Kitabullah ini seperti halnya yang terjadi terhadap kaum Yahudi dan Nasharani. 'Utsman bin 'Affan radliyallâhu 'anhu. 'Alangkah baiknya pendapatmu itu. 'Utsman melakukan hal ini setelah meminta pendapat dari para shahabat radliyallâhu 'anhum. Dia merasa gelisah dan kalut dengan terjadinya perselisihan manusia dalam beragam versi bacaaan (Qirâ`ah). tahun 25 H Sebab utamanya adalah timbulnya beragam versi bacaan terhadap al-Qur'an sesuai dengan Shuhuf yang berada di tangan para shahabat. yang dapat mengakibatkan mereka berselisih terhadap Kitabullah dan berpecah-belah. lalu 'Utsman mengirim ke setiap pelosok satu Mushhaf dari mushhaf-Mushhaf yang telah disalin tersebut dan memerintahkan agar al-Qur'an yang ada pada setiap orang selain Mushhaf itu. ' Menurut pendapat saya. baik berupa Shuhuf ataupun Mushhaf agar dibakar. Dia berkata kepada kami. Hafshohpun menyetujuinya. 'Utsman berkata kepada tiga orang dari Quraisy tersebut. kita perlu menyatukan manusia pada satu Mushhaf saja dari sekian banyak Mushhaf itu sehingga tidak lagi terjadi perpecahan dan perselisihan.' Kami menjawab." Lalu 'Utsman mengutus seseorang untuk menemui Hafshoh agar menyerahkan kepada beliau Shuhuf (lembaran-lembaran) yang berada di tangannya untuk disalin ke Mushhaf-Mushhaf. "Bila kalian berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai sesuatu dari al-Qur'an tersebut.

Hal. kaum Muslimin bersepakat atasnya. Hal ini. karena adanya implikasi yang sangat mengkhawatirkan dari beragam versi Qirâ`ah tersebut.21-23) 4. diriwayatkan secara mutawatir diantara mereka melalui proses tranfer dari generasi tua kepada generasi muda dengan tanpa tersentuh oleh tangan- tangan jahat dan para penghamba hawa nafsu.'anhu. Jerih payah pengkodifikasian ini ternyata membuahkan mashlahat yang besar bagi kaum Muslimin." Perbedaan Antara Proses Kodifikasi Pada Masa 'Utsman dan Abu Bakar Perbedaan antara proses kodifikasi pada masa 'Utsman dan Abu Bakar. maka kerusakan besar yang ditimbulkan oleh perpecahan umat. segala puji. Rabb lelangit dan Rabb bumi serta Rabb alam semesta. Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah. Hal seperti ini terus berlanjut hingga hari ini. tidak bersepakat dalam satu kata serta menyeruaknya kebencian dan permusuhan telah dapat dibuang jauh-jauh. bahwa tujuan pengkodifikasian al-Qur'an pada masa Abu Bakar radliyallâhu 'anhu adalah menghimpun al- Qur'an secara keseluruhan dalam satu Mushhaf sehingga tidak ada satupun yang tercecer tanpa mendorong orang-orang agar bersatu dalam satu Mushhaf saja. bersepakatnya kata serta terbitnya suasana keakraban diantara mereka. yaitu kepercayaan ke-esaann Allah SWT dan semua kepercayaan yang berhubungan dengan-Nya · Ibadah. (Diambil dari buku Ushûl Fi at-Tafsîr. Sementara tujuan kodifikasi pada masa 'Utsman adalah menghimpun al-Qur'an secara keseluruhan dalam satu Mushhaf namun mendorong orang-orang agar bersatu dalam satu Mushhaf saja. seperti para Nabi dan Rasul dalam menyiaran syariat Allah SWT maupun kisah orang-orang saleh ataupun kisah orang yang mengingkari kebenaran Alquran agar dapat dijadikan pembelajaran. Dengan terciptanya hal tersebut. Pokok-pokok Kandungan Al-quran Pokok-pokok kandungan dalam Alquran antara lain: · Tauhid. yaitu bersatu-padunya umat. karya Syaikh. dan hal ini dikarenakan belum tampak implikasi yang signifikan dari adanya perbedaan seputar Qirâ`at sehingga mengharuskan tindakan ke arah itu. Hanya bagi Allah lah. yaitu janji pahala bagi orang yang percaya dan mau mengamalkan isi Alquran dan ancaman siksa bagi orang yang mengingkari · Kisah umat terdahulu. yaitu semua bentuk perbuatan sebagai manifestasi dari kepercayaan ajaran tauhid · Janji dan ancaman. .

dan pada saat yang sama mengandung makna-makna yang dapat dipahami oleh siapa pun yang memahami bahasanya. dan dapat dibuktikan sepanjang masa. A. Hukum amaliah ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syara/syariat. Pengertian Mukjizat Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata mukjizat diartikan sebagai kejadian (peristiwa) yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Pesona Kemujizatan Al-quran Al-Qur’an yang merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW. logis. Tambahan ta marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif). Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan dan dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat mereka menyampaikan risalahnya [1]. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid. antara manusia dengan sesama manusia. Sedangkan kata ‫( أعجز‬a’jaza) itu sendiri berasal dari kata ‫‘( عجز‬ajaza) yang berarti tidak mempunyai kekuatan (lemah). dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan. Mukjizat materil yang bersifat indrawi ini maksudnya adalah keluarbiasaannya dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat nabi tersebut menyampaikan risalahnya[2]. sekaligus petunjuk untuk umat manusia kapan dan di mana pun. Keistimewaan tersebut. serta manusia dengan lingkungan sekitar. Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fikih. Hukum ini tercermin dalam konsep Ihsan. walaupun tentunya tingkat pemahaman mereka akan berbeda-beda akibat berbagai faktor. yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah SWT. · Hukum Amaliah. susunan bahasanya yang unik memesonakan. baik sebagai makhluk individual atau makhluk sosial. memiliki pelbagai macam keistemewaan. · Hukum Khuluqiah. yaitu mukjizat yang bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial. 5. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mukjiz. Hukum ini tercermin dalam Rukun Iman. yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal manusia dalam kehidupan. sebagai berikut: · Hukum I’tiqadiah. antara lain. Macam – Macam Mukjizat Secara garis besar. Ilmu Ushuluddin. yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia dengan Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Akhlaq atau Tasawuf. Mukjizat nabi-nabi terdahulu merupakan jenis pertama. Kata mukjizat terambil dari bahasa Arab ‫( أعجز‬a’jaza) yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. maka dinamai ‫( معجزة‬mu’jizat). atau Ilmu Kalam. A. mukjizat dibagi dalam dua bagian pokok. Contoh Perahu Nabi Nuh yang dibuat atas petunjuk Allah .

yakni: 1) Secara global Persoalan ibadah umumnya diterangkan secara global. Mukjizat ini sifatnya tidak dibatasi oleh suatu tempat dan masa tertentu dan dapat dipahami oleh akal. tetapi juga bagi orang-orang kafir. makanan yang halal dan yang haram. dan lain-lain. menjadi ular. dan berakhir dengan wafatnya mereka Mukjizat Immaterial/Maknawy (logis dan dapat dibuktikan sepanjang masa) Mukjizat maknawi ialah mukjizat yang tidak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan panca indra tetapi harus dicapai dengan kekuatan akal[2]. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak diantara mereka masuk Islam. bukan saja orang-orang mukmin. Susunan Kalimat Kendatipun Al-Qur-an.s. sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat. B. Didalam uslub tersebut terkandung nilai-nilai istimewa yang tidak akan pernah ada ucapan manusia. 2) Secara terperinci Hukum yang dijelaskan secara terperinci adalah yang berkaitan dengan utang piutang. dan kemasyarakatan. Bahkan. Tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a. Gaya bahasa Gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada saat itu merasa kagum dan terpesona. terapi uslub (style) atau susunan bahasanya sangat jauh berbeda. dan bahkan berusaha membunuhnya. 2. . sekaligus terbatas pada lokasi tempat mereka berada. Al-Qur-an muncul dengan uslub yang begitu indah. atas izin Allah. sedangkan perincianya diserahkan kepada ulama melalui ijtihad. dan masalah perkawinan. Segi – Segi Kemukjizatan Al – Quran[1] 1. politik. memelihara kehormatan wanita. berbudi luhur. memutuskan masuk Islam dan beriman pada kerasulan Muhammad hanya karena membaca petikan ayat-ayat Al-Qur-an. sopan-santun. undang-undang ekonomi. dan hadis nabawi sama-sama keluar dari mulut nabiu. bermata hati terang. Hukum Ilahi yang Sempurna Al-Qur-an menjelaskan pokok-pokok aqidah. Susunan Al-Qur- an tidak dapat disamakan oleh karya sebaik apa pun. penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s dalam kobaran api yang sangat besar. Uslub bahasa Al-Qur- an jauh lebih tinggi kualitasnya bila dibandingkan dengan lainya. norma-norma keutamaan.s. serta hukum-hukum ibadah. kesemuanya bersifat material indrawi. sosial. Mukjizat yang allah turukan kepada nabi Muhammad SAW berupa al – Quran ialah berupa mukjizat Immaterial karena dapat dijangkau oleh setiap orang yang berfikir sehat. hadis qudsi. 3. dan menggunakan akalnya dengan jernih serta jujur di mana pun dan kapan pun. berubah wujudnya tongkat Nabi Musa a. Al-Qur-an menggunakan dua cara tatkala menetapkan sebuah ketentuan hukum. Umar bin Khattab pun yang mulanya dikenal sebagai orang yang paling memusuhi nabi Muhammad SAW.

supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). hal ini terdapat pada surat Al- An’am [6]: 125. Salah satu contohnya pada awal abad ke-19. niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Elliot Smith mendapat ijin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut–pembalut Fir’aun tersebut. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. ‫ضغغييِّاَةء يواللقييمغغير نكغغوُةرا يوقيغغنديرهك يمنيغغاَلزيل للتيلعليكمغغوُا يعغغيديد الجسغغنليِّين‬ ‫س ل‬‫هكيوُ النغغلذيِ يجيعغغيل النشغغلم ي‬ [١٠:٥] ‫ن‬ ‫صكل الليياَ ل‬ ‫ت للقيلوُمم ييلعليكموُ ي‬ ‫ق يكفي ج‬ ‫اك ذيذلل ي‬ ‫ك إلنل لباَلليح ج‬ ‫ق ن‬‫ب يماَ يخلي ي‬ ‫يوالللحيساَ ي‬ Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu.S. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”. Berita Tentang hal Gaib Sebagaimana ulama mengatakan bahwa sebagian mukjizat Al-Qur'an itu adalah berita gaib. Seperti yang diberitakan oleh Al-Qur’an surat Yunus [10] ayat 92[3] : ]‫ن‬‫س يعلن آيياَتليناَ لييغغغاَفلكلوُ ي‬ ‫ك للتيككوُين لليملن يخللفي ي‬ ‫ك آييةة يوإلنن يكثليِّةرا لمين النناَ ل‬ ‫يفاَلليِّيلوُيم نكنيججيِّ ي‬ ‫ك بلبييدنل ي‬ [١٠:٩٢ Artinya: “Maka pada hari Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Isyarat – Isyarat Ilmiah Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dala Al-Qur-an misalnya: a) Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan. Terdapat dalam Q. b) Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakan napas. ahli purbakala Loret menemukan satu mumi di lembah raja–raja Luxor Mesir yang dari data–data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir’aun yang bernama Munifah yang pernah mengejar nabi Musa As. Selain itu pada tanggal 8 juli 1908. Apa yang ditemukan adalah salah satu jasad utuh. niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya. Yunus [10]: 5. seolah-olah ia . tepatnya pada tahun 1898.” 5. ‫صغلديرهك‬‫ضغلنهك ييلجيعغلل ي‬ ‫للسغيللم يويمغلن كيغلرلد أيلن يك ل‬ ‫اك أيلن ييلهلدييهك ييلشغيرلح ي‬ ‫صغلديرهك لل ل ل‬ ‫فييملن يكلرلد ن‬ ‫س يعيلىَ النلذيين يل يكلؤلمكنوُين‬ ‫اك الجرلج ي‬ ‫صنعكد لفيِ النسيماَلء يكذيذلل ي‬ ‫ك ييلجيعكل ن‬ ‫ضيِّجةقاَ يحيرةجاَ يكأ يننيماَ يي ن‬ ‫ي‬ [٦:١٢٥] Artinya : “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk.4.

Dalam hal Al-Qur’an. tidak jarang berbeda pendapat. para sahabat Nabi sekalipun. atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud firman-firman Allah yang mereka dengan atau mereka baca itu. 6. Terdapat dalam surat Al-Baqarah [2]: 233. . Terdapat dalam surat Al-Qiyamah [75]: 14-15. tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf . Penafsiran Al-quran Redaksi ayat-ayat Al-Qur’an. serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya.. ‫ضلعين أيلويليدهكغغنن يحغغلوُليليِّلن يكغغاَلمليليِّلن لليمغغلن أييرايد أيلن يكتلغغنم النر ي‬ َ‫ضغغاَيعةي يويعليغغى‬ ‫يوالليوُالليدا ك‬ ‫ت يكلر ل‬ [٢:٢٣٣] ‫ف‬ ‫الليملوُكلوُلد ليهك لرلزقكهكنن يولكلسيوُتكهكنن لباَلليملعكرو ل‬ “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya(15)”. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. a. sedang mendaki langit. Hal inilah yang kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran. Tafsir ibn Katsir. Tafsir ini sampai sekarang masih terpakai dan dapat di jumpai dalam kitab-kitab tafsir seumpama tafsir al-Thabari. mengetahui konteksnya. sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis. yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. [٧٥:١٤] ‫بيلل ا ل لللنيساَكن يعليذىَ نيلفلسله بي ل‬ ‫صيِّيرةة‬ ‫يوليلوُ أيللقيذىَ يميعاَلذي ي‬ [٧٥:١٥] ‫ره ك‬ Artinya: “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (14).. “. Sepanjang sejarah penafsiran Al-Qur’an. dan lain-lain. Bentuk Riwayat (Al-Ma’tsur) Penafsiran yang berbentuk riwayat atau apa yang sering disebut dengan “tafsir bi al- ma’tsur” adalah bentuk penafsiran yang paling tua dalam sejarah kehadiran tafsir dalam khazanah intelektual Islam. e) Adanya nurani (super ego) dan bawah sadar manusia. sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”. yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu. Terdapat dalam surat Al-Qiyamah [75]: 4 [٧٥:٤] ‫بيليذىَ يقاَلدلريين يعليذىَ أيلن نكيسجوُ ي‬ ‫يِ بييناَنيهك‬ Artinya: “Bukan demikian. c) Perbedaan sidik jari manusia. paling tidak ada dua bentuk penafsiran yang dipakai (diterapkan) oleh ulama’ yaitu al-ma’tsur(riwayat) dan al-ra’y (pemikiran). kecuali oleh pemilik redaksi tersebut. d) Masa penyusuan yang tepat dan kehamilan minimal.

Dan juga harus diketahui bahwa tidak setiap ayat mempunyai asbab al- nuzul. ayat dengan hadits Nabi. tentu ini secara metodologis tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai metode tafsir riwayat. seperti Al-Dzahabi. tetapi proses metodologisnya itu bukan bersumber dari penafsiran yang dilakukan Nabi. terlepas dari keragaman definisi yang selama ini diberikan para ulama ilmu tafsir tentang tafsir riwayat di atas. dan peradaban Islam semakin maju dan berkembang. Jadi. yang ditarik dari riwayat pernyataan Nabi dan atau dalam bentuk asbab al-nuzulsebagai satu- satunya sember data otoritatif”. meskipun data materialnya dari ayat dan atau hadits Nabi dalam menafsirkan Al-Qur’an. dan atau sahabat. diyakini sebagai penafsir pertama terhadap Al-Qur’an. Ketika inilah berkembangnya bentuk penafsiran al-ra’y (tafsir melalui pemikiran atau ijtihad). mereka mencari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi. Namun secara metodologis bila kita menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat lain dan atau dengan hadits. Masing-masing golongan berusaha menyakinkan pengikutnya dalam mengembangkan paham mereka. Tapi. menafsirkan Al-Qur’an memang bisa dilakukan dengan menafsirkan antarayat. misalnya. Sebab. Dalam konteks ini. Sunnah dan atau perkataan sahabat. maka tepat apa yang dikatakan Manna’ al-Qaththan bahwa tafsir bi al-ra’y mengalahkan perkembangan tafsir bi al-ma’tsur. lalu mereka tafsirkan sesuai dengan keyakinan yang mereka anut. membatasi dengan mendefinisikan sebagai tafsir yang diberikan oleh ayat Al- Qur’an. tentu semua itu sepenuhnya merupakan hasil intelektualisasi penafsir.[15] b. Para ulama sendiri tidak ada kesepahaman tentang batasan metode tafsir riwayat. Sunnah Nabi. Menurutnya tafsir riwayat adalah model tafsir yang bersumber dari Al-Qur’an. muncul istilah “metode tafsir riwayat”.[13] Definisi ini nampaknya lebih terfokus pada material tafsir dan bukan pada metodenya. riwayat merupakan sumber penting di dalam pemahaman teks Al-Qur’an. Model metode tafsir ini adalah menjelaskan suatu ayat sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dan atau para sahabat. dalam sejarah hermeneutik Al-Qur’an klasik. Untuk mencapai maksud itu. seperti Tafsir Al-Thabari. metode riwayat di sini bisa didefinisikan sebagai metode penafsiran yang data materialnya “mengacu pada hasil penafsiran Nabi Muhammad SAW. karena hanya tergantung pada data riwayat penafsiran Nabi. nyatanya kitab-kitab tafsir yang selama ini diklaim sebagai tafsir yang menggunakan metode riwayat.Dalam tradisi studi Al-Qur’an klasik. Nabi Muhammad SAW. memasukkan tafsir tabi’in dalam kerangka tafsir riwayat.[14] Dari segi material. model metode riwayat dalam pengertian yang terakhir ini tentu statis. Bentuk Pemikiran (Al-Ra’y) Setelah berakhir masa salaf sekitar abad ke-3 H. Melihat berkembang pesatnya tafsir bi al-ra’y. menurut mereka tidak dianggap sebagai hujjah. merupakan suatu proses penafsiran Al-Qur’an yang menggunakan data riwayat dari Nabi SAW. Hal-hal yang dikutib dari para sahabat dan tabi’in. Oleh karena itu. dan atau perkataan sahabat. Al-Zarqani. Ulamat Syi’ah berpandangan bahwa tafsir riwayat adalah tafsir yang dinukil dari Nabi dan para Imam Ahl-bayt. meskipun mereka tidak menerima tafsir secara langsung ari Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat. maka lahirlah berbagai mazhab dan aliran di kalangan umat.[12] Sedang Al-Shabuni memberikan pengertian lain tentang tafsir riwayat. Sebagai salah satu metode.[11] Ulama lain. sebagai variabel penting dalam proses penafsiran Al-Qur’an. memuat penafsiran mereka. . Pengertian metode riwayat.

Meskipun tafsir bi al-ra’y berkembang dengan pesat.[16] Dengan demikian jelas bahwa secara garis besar perkembangan tafsir sejak dulu sampai sekarang adalah melalui dua bentuk tersebut di atas. keduannya sepakat membolehkan penafsiran Al-Qur’an dengan sunnah Rasul serta kaedah- kaedah yang mu. Sebaliknya. Tapi setelah diteliti.tabarah(diakui sah secara bersama). yaitu bi al-ma’tsur (melalui riwayat) dan bi al-ra’y (melalui pemikiran atau ijtihad). namun dalam penerimaannya para ulama terbagi menadi dua : ada yang membolehkan ada pula yang melarangnya. . Maksudnya kedua belah pihak sama-sama mencela penafsiran berdasarkan ra’y (pemikiran) semata tanpa mengindahkan kaedah-kaedah dan kriteria yang berlaku. ternyata kedua pendapat yang bertentangan itu hanya bersifat lafzhi (redaksional).