You are on page 1of 18

TUGAS INDIVIDU

Mata Kuliah : Toksikologi Industri

Dosen : Dr. Lalu Muhammad Saleh, SKM.,M.Kes

PAPER

“BAHAYA TIMBAL (PB) DI INDUSTRI PENGECATAN”

OLEH:

DEWI MULFIYANTI

(P1800216006)

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017
KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, bimbingan, dan pertolongan-Nya sehingga tugas ini dapat terselesaikan
dengan baik.

Shalawat dan salam kepada panutan kebenaran, Nabi Muhammad SAW yang
membimbing hambanya dengan segenap ilmu pengetahuan.

Dalam pembuatan tugas ini, tidak sedikit hambatan dan rintangan yang dihadapi. namun
dengan kegigihan dan usaha maksimal akhirnya semua hambatan tersebut dapat teratasi dengan
baik.

Akhirnya, saya menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saya
mengharapkan kritikan dan saran untuk penyempurnaan tugas ini.

Makassar, April 2017

Dewi Mulfiyanti
I. Pendahuluan
Cat merupakan salah satu sumber pemaparan timbal (Hammond, et. al., 2005
dalam). Timbal digunakan sebagai bahan pigmen dalam cat (Palar, 2008). Penggunaan cat
semprot banyak ditemui di berbagai industri, misalnya industri pengecatan mobil.
(Dwilestari & Oginawati, 2010)
Saat ini, pigmen yang mengandung Pb yang paling umum digunakan dalam
cat meliputi Pb kromat (PbCrO4), Pb kromat molibdat (Pb2Cr2Ho2O11), dan Pb sulfat

(PbSo4). Pb kromat dibuat dalam beragam struktur kristal untuk menghasilkan warna

yang berbeda - beda, di antaranya “chrome yellow” (kuning tua), “middle chrome”
(kuning kemerahan) dan “orange chrome” (oranye). Pb kromat molibdat menghasilkan
pigmen merah cerah. Campuran Pb kromat dengan Pb sulfat dan senyawa lain
menghasilkan banyak warna misalnya “primrose chrome” (kuning pucat kehijauan),
“lemon chrome” (kuning kehijauan agak kemerahan), dan “chrome green” (campuran Pb
kromat dan besi biru). Senyawa Pb juga dapat digunakan sebagai agen pengering dan
katalis pada cat berdasar minyak, agar cat lebih cepat kering dan tersebar merata.
Agen anti - korosi berdasar Pb kadang digunakan dalam cat yang berfungsi menghambat
perkaratan pada permukaan logam, dengan umumnya berupa Pb tetroksida yang kadang
disebut Pb merah atau minium. Senyawa penghambat korosi bebas Pb pun bisa didapatkan
(Clark, 2009 dalam (Muliyadi, Mukono, & Notopuro, 2015)
Dari hasil survei pendahuluan diketahui bahwa pekerja pengecatan mobil di lokasi
penelitian seluruhnya tidak menggunakan APD yang terstandar SNI sehingga
sehingga hal ini berpotensi besar untuk keteraparan Pb yang dapat menimbulkan efek
kronis hal ini di karenakan Pb yang masuk melalui saluran pernapasan dan saluran
pencernaan dapat masuk ke dalam darah dan berikatan dengan eritrosit dan di
metabolisme oleh tubuh ke dalam tubulus proksimal sehingga hal ini dapat
menganggu fungsi ginjal itu sendiri, selain itu Pb yang masuk ke dalam darah akan
menghambat sintesa heme sehingga akan mengurangi produksi Hb darah yang dapat
berakibat pada munculnya gangguan kesehatan lainnya.(Muliyadi et al., 2015)

II. Tinjauan Teori
A. Pengertian Timbal
Timbal (plumbum /Pb ) atau timah hitam adalah satu unsur logam berat yang
lebih tersebar luas dibanding kebanyakan logam toksik lainnya. Kadarnya
dalam lingkungan meningkat karena penambangan, peleburan dan berbagai
penggunaannya dalam industri.
Timbal adalah logam beracun yang banyak digunakan dan telah
menyebabkan berbagai masalah pencemaran lingkungan dan kesehatan. Timbal
adalah logam beracun yang dapat terkandung dalam cat. Costumer Product Safety
Commission (CPSC) menetapkan bahwa kadar timbal dalam cat sebesar 600 ppm.
Ditempat kerja, biasanya timbal masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi, ingesti atau
dermal contact bahan bahan kimia yang mengandung partikel timbal.(Mutasir, Setiani,
& Sulistiyani, 2016)
Timbal merupakan material yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia yang
berlangsung seumur hidup karena timbal berakumulasi dalam tubuh manusia.(Hasan,
2012)

B. Sumber Timbal (Pb )

Timbal secara alamiah terdapat dalam jumlah kecil pada batu-batuan, penguapan
lava, tanah dan tumbuhan. Timbal komersial dihasilkan melalui penambangan,
peleburan, pengilangan dan pengolahan ulang sekunder (Joko S,1995 dalam artikel
kesker, 2014).

Manusia menyerap timbal melalui udara, debu, air dan makanan. Salah satu
penyebab kehadiran timbal adalah pencemaran udara. Yaitu akibat kegiatan transportasi
darat yang menghasilkan bahan pencemar seperti gas CO2, NOx, hidrokarbon,
SO2,dan tetraethyl lead, yang merupakan bahan logam timah hitam (timbal) yang
ditambahkan ke dalam bahan bakar berkualitas rendah untuk menurunkan nilai oktan.

Timbal berupa serbuk berwarna abu-abu gelap digunakan antara lain sebagai
bahan produksi baterai dan amunisi, komponen pembuatan cat, pabrik tetraethyl lead,
pelindung radiasi, lapisan pipa, pembungkus kabel, gelas keramik, barang-barang
elektronik, tube atau container, juga dalam proses mematri. Keracunan dapat
berasal dari timbal dalam mainan, debu ditempat latihan menembak, pipa ledeng,
pigmen pada cat, abu dan asap dari pembakaran kayu yang dicat, limbah tukang
emas, industri rumah, baterai dan percetakan. Makanan dan minuman yang bersifat
asam seperti air tomat, air buah apel dan asinan dapat melarutkan timbal yang
terdapat pada lapisan mangkuk dan panci. Sehingga makanan atau minuman yang
terkontaminasi ini dapat menimbulkan keracunan. Bagi kebanyakan orang, sumber
utama asupan Pb adalah makanan yang biasanya menyumbang 100 – 300 ug per
hari.

Sumber-sumber lain yang menyebabkan timbal terdapat dalam udara ada
bermacam-macam. Di antara sumber alternatif ini yang tergolong besar adalah
pembakaran batu bara, asap dari pabrik-pabrik yang mengolah senyawa timbal alkil,
timbal oksida, peleburan biji timbal dan transfer bahan bakar kendaraan bermotor,
karena senyawa timbal alkil yang terdapat dalam bahan bakar tersebut dengan sangat
mudah menguap. Kadar timbal dari sumber alamiah sangat rendah dibandingkan dengan
timbal yang berasal dari pembuangan gas kendaraan bermotor.

Timbal tidak pernah ditemukan dalam bentuk murninya, selalu bergabung dengan
logam lain.Timbal terdapat dalam 2 bentuk yaitu bentuk inorganik dan organik. Dalam
bentuk inorganik timbal dipakai dalam industri baterai (digunakan persenyawaan Pb-Bi)
untuk kabel telepon digunakan persenyawaan timbal yang mengandung 1% stibium (Sb)
untuk kabel listrik digunakan persenyawan timbal dengan As, Sn dan Bi: percetakan,
gelas, polivinil, plastik dan mainan anak-anak. Disamping itu bentuk-bentuk lain dari
persenyawaan timbal juga banyak digunakan dalam konstruksi pabrik-pabrik
kimia, kontainer dan alat-alat lainnya. Persenyawaan timbal dengan atom N (nitrogen)
digunakan sebagai detonator (bahan peledak). Selain itu timbal juga digunakan
untuk industri cat (PbCrO4), pengkilap keramik (Pb-Silikat), insektisida (Pb arsenat),
pembangkit tenaga listrik ( Pb-telurium). Penggunaan persenya-waan timbal ini karena
kemampuannya yang sangat tinggi untuk tidak mengalami korosi.
C. Port d’entrée (cara masuk dalam tubuh)

Dalam menentukan jenis zat toksik yang menyebabkan keracunan, seringkali
menjadi rumit karena adanya proses yang secara alamiah terjadi dalam tubuh manusia.
Jarang sekali suatu bahan kimia bertahan dalam bentuk asalnya didalam tubuh. Bahan
kimia, ketika memasuki tubuh akan mengalami proses ADME, yaitu absorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi. Misalnya, setelah memasuki tubuh, heroin dengan segera
termetabolisme menjadi senyawa lain dan akhirnya menjadi morfin, menjadikan
investigasi yang lebih detil perlu dilakukan seperti jenis biomarker (petanda biologik) zat
racun tersebut, jalur paparan zat, letak jejak injeksi zat pada kulit dan kemurnian zat
tersebut untuk mengkonfirmasi hasil diagnosa. Zat toksik juga kemungkinan dapat
mengalami pengenceran dengan adanya proses penyebaran ke seluruh tubuh sehingga
sulit untuk terdeteksi. Pada dasarnya disposisi senyawa toksik meliputi beberapa fase di
antaranya absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi.

Jalur masuknya timbal (Pb) ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan
(respirasi), juga melalui saluran pencernaan (gastrointestinal), kemudian di distribusikan
ke dalam darah, dan terikat pada sel darah. Sebagian Pb disimpan dalam jaringan lunak
dan tulang, sebagian diekskresikan lewat kulit, ginjal dan usus besar. Timbal (Pb)
bersirkulasi dalam darah setelah diabsorbsi dari usus, terutama berhubungan dengan sel
darah merah (eritrosit). Pertama didistribusikan kedalam jaringan lunak dan
berinkorporasi dalam tulang, gigi, rambut untuk dideposit (storage).17,20 Timbal (Pb) 90
% dideposit dalam tulang dan sebagian kecil tersimpan dalam otak, pada tulang timbal
(Pb) dalam bentuk Pb fosfat / Pb3(PO4)2. Secara teori selama timbal (Pb) terikat dalam
tulang tidak akan menyebabkan gejala sakit pada penderita. Tetapi yang berbahaya ialah
toksisitas Pb yang diakibatkan gangguan absorbsi Ca karena terjadi desorpsi Ca dari
tulang yang menyebabkan penarikan deposit timbal (Pb) dari tulang tersebut.

D. Dampak Timbal Terhadap Kesehatan
1. Keracunan akut
Keracunan timbal akut jarang terjadi. Keracunan timbal akut secara tidak sengaja
yang pernah terjadi adalah karena timbal asetat. Gejala keracunan akut mulai
timbul 30 menit setelah meminum racun. Berat ringannya gejala yang timbul
tergantung pada dosisnya. Keracunan biasanya terjadi karena masuknya senyawa
timbal yang larut dalam asam atau inhalasi uap timbal. Efek adstringen
menimbulkan rasa haus dan rasa logam disertai rasa terbakar pada mulut.
Gejala lain yang sering muncul ialah mual, muntah dengan muntahan yang
berwarna putih seperti susu karena Pb Chlorida dan rasa sakit perut yang hebat.
2. Keracunan Subakut
Keracunan sub akut terjadi bila seseorang berulang kali terpapar racun dalam
dosis kecil, misalnya timbal asetat yang menyebabkan gejala-gejala pada sistem
syaraf yang lebih menonjol, seperti rasa kebas, kaku otot, vertigo dan paralisis
flaksid pada tungkai. Keadaan ini kemudian akan diikuti dengan kejang-kejang dan
koma. Gejala umum meliputi penampilan yag gelisah, lemas dan depresi.
Penderita sering mengalami gangguan sistem pencernaan, pengeluaran urin
sangat sedikit, berwarna merah. Dosis fatal:
20-30 gram. Periode fatal:1-3 hari.
3. Keracunan kronis
Keracunan timbal dalam bentuk kronis lebih sering terjadi dibandingkan keracunan
akut. Keracunan timbal kronis lebih sering dialami para pekerja yang terpapar
timbal dalam bentuk garam pada berbagai industri, karena itu keracunan ini
dianggap sebagai penyakit industri. seperti penyusun huruf pada percetakan,
pengatur komposisi media cetak, pembuat huruf mesin cetak, pabrik cat yang
menggunakan timbal, petugas pemasang pipa gas.

E. Risiko Timbal Pada Organ (Pb) Tubuh
Timbal (Pb) adalah logam toksik yang bersifat komulatif sehingga mekanisme
toksisitasnya dibedakan menurut organ yang dipengaruhi yaitu:
1. Risiko timbal (Pb) pada sistem hemopoietik
Timbal (Pb) mempengaruhi sistem darah dengan cara:
a. Memperlambat pematangan normal sel darah merah (eritrosit) dalam sumsum
tulang yang menyebabkan terjadinya anemi.
b. Mempengaruhi kelangsungan hidup sel darah merah. Eritrosit yang diberi
perlakuan dengan timbal (Pb), memperlihatkan peningkatan tekanan osmosis dan
kelemahan pergerakan. Selain itu juga memperlihatkan penghambatan Na-K-ATP
ase yang meningkatkan kehilangan kalium intraseluler. Hal ini membuktikan
bahwa kejadian anemi karena keracunan timbal (Pb) disertai dengan penyusutan
waktu hidup eritrosit.
c. Menghambat biosintesis hemoglobin dengan cara menghambat aktivitas enzim
delta-ALAD dan enzim ferroketalase 15
2. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Saraf.
Sistem saraf merupakan sistem yang paling sensitif terhadap daya racun . Risiko
dari keracunan keracunan timbal (Pb) dapat menimbulkan keruskan pada otak.
Penyakit-penyaakit yang berhubungan dengan otak sebagai akibat dari keracunan
timbal (Pb) adalah epilepsi, halusinasi, kerusakan pada otak besar dan delirium, yaitu
sejenis penyakit gula.
Sistem saraf yang kena pengaruh timbal (Pb) dengan konsentrasi timbal dalam
darah diatas 80 μg / 100 ml, dapat terjadi ensefalopati. Hal ini dapat dilihat melalui
gejala seperti gangguan mental yang parah, kebutaan dan epilepsi dengan atrofi
kortikal, atau dapat secara tidak langsung berkurangnya persepsi sensorik sehingga
menyebabkan kurangnya kemampuan belajar, penurunan intelegensia (IQ), atau
mengalami gangguan perilaku seperti sifat agresif, destruktif, atau jahat. Kerusakan
saraf motorik menyebabkan kelumpuhan saraf lanjutan dikenal dengan lead
palsy. Keracunan kandungan timbal (Pb) dapat merusak saraf mata pada anak-anak
dan berakhir pada kebutaan. Centers for disease Control (CDC) menyatakan bahwa
kandungan timbal (Pb) dalam darah 70 μg / 100 ml merupakan batas darurat medis
akut pada pasien anak.
3. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem ginjal.
Senyawa timbal (Pb) yang terlarut dalam darah dibawa ke seluruh system
tubuh.Sirkulasi darah masuk ke glomerolus merupakan bagian dari ginjal.
Glomerolus merupakan tempat proses pemisahan akhir dari semua bahan yang
dibawa darah. Timbal (Pb) yang terlarut dalam darah akan berpindah ke sistem
urinaria (ginjal) sehingga dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada ginjal.
Kerusakan terjadi karena terbentuknya intranuclear inclusion bodies disertai dengan
gejala aminociduria, yaitu terjadinya kelebihan asam amino dalam urine. Nefropatis
(kerusakan nefron pada ginjal) dapat di deteksi dari ketidak seimbangnya fungsi renal
dan sering diikuti hipertensi
4. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Gastrointestinal
Gejala awal muncul pada konsentrasi timbal (Pb) dalam darah sekitar 80 μg/ 100 ml,
gejala-gejala tersebut meliputi kurangnya nafsu makan, gangguan pencernaaan,
gangguan epigastrik setelah makan, sembelit dan diare. Jika kadar timbal (Pb) dalam
darah melebihi 100 μg / 100 ml, maka kecenderungan untuk munculnya gejala lebih
parah lagi, yaitu bagian perut kolik terus menerus dan sembelit yang lebih parah. Jika
gejala ini tidak segera ditangani, maka akan muncul kolik yang lebih spesifik.
Konsentrasi timbal (Pb) dalam darah diatas 150 μg / 100 ml penderita menderita nyeri
dan melakukan reaksi kaki ditarik-tarik kearah perut secara terus menerus dan
menggeretakkan gigi, diikuti keluarnya keringat pada kening. Jika tidak dilakukan
penanganan lebih lanjut, maka kolik dapat terjadi selama beberapa hari, bahkan
hingga satu minggu.
5. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Kardiovaskuler.
Tahap akut keracuan timbal (Pb) khususnya pada pasien yang menderita kolik,
tekanan darah akan naik. Jika terjadi hal demikian, maka pasien tersebut akan
mengalami hipotonia. Kemungkinan kerusakan miokardial harus diperhatikan. Dalam
penelitian ditemukan jenis kelainan perubahan elektrokardiografis pada 70 % dari
total pasien yang ditangani. Temuan utama dari penelitian adalah takhikardia,
atrial disritmia, gelombang T dan atau sudut QRS-T yang melebar secara tidak
normal.
6. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Reproduksi dan Endokrin.
Efek reproduktif meliputi berkurangnya tingkat kesuburan bagi wanita maupun pria
yang terkontaminasi Timbal (Pb), logam tersebut juga dapat melewati placenta
sehingga dapat menyebabkan kelainan pada janin. Dapat menimbulkan berat badan
lahir rendah dan prematur. Timbal (Pb) juga dapat menyebabkan kelainan pada fungsi
tiroid dengan mencegah masuknya iodine.
7. Risiko Karsinogenik.
International Agency for Research on Center (IARC) menyatakan bahwa timbal (Pb)
inorganic dan senyawanya termasuk dalam grup 2B, kemungkinan menyebabkan
kanker pada manusia. Tahap awal proses terjadinya kanker adanya kerusakan DNA
yang menyebabkan peningkatan lesi genetik herediter yang menetap atau disebut
mutasi. Timbal (Pb) diperkirakan mempunyai sifat toksik pada gen sehingga dapat
mempengaruhi terjadinya kerusakan DNA / mutasi gen dalam kultur sel mamalia.
Patogenesis kanker otak akibat terpapar timbal (Pb) adalah sebagai berikut : timbal
(Pb) masuk kedalam darah melalui makanan dan akan tersimpan dalam organ tubuh
yang mengakibatkan gangguan sintesis DNA, proliferensi sel yang membentuk nodul
selanjutnya berkembang menjadi tumor ganas.

F. Faktor Yang Mempengaruhi Toksisitas Timbal (Pb)
1. Faktor lingkungan
a. Dosis dan lama pemaparan
Dosis (konsentrasi) yang besar dan pemaparan yang lama dapat menimbulkan
efek yang berat dan bisa berbahaya.
b. Kelangsungan pemaparan
Berat ringan efek timbal tergantung pada proses pemaparan timbal yaitu
pemaparan secara terus menerus (kontinyu) atau terputus-putus (intermitten).
Pemaparan terus menerus akan memberikan efek yang lebih berat dibandingkan
pemaparan secara terputus-putus.
c. Jalur pemaparan (cara kontak)
Timbal akan memberikan efek yang berbahaya terhadap kesehatan bila masuk
melalui jalur yang tepat. Orang-orang dengan sumbatan hidung mungkin juga
berisiko lebih tinggi, karena pernapasan lewat mulut mempermudah inhalasi
partikel debu yang lebih besar (Joko S, 1995).

2. Faktor manusia

a. Umur
Usia muda pada umumnya lebih peka terhadap aktivitas timbal, hal ini
berhubungan dengan perkembangan organ dan fungsinya yang belum sempurna.
Sedangkan pada usia tua kepekaannya lebih tinggi dari rata-rata orang dewasa,
biasanya karena aktivitas enzim biotransformase berkurang dengan
bertambahnya umur dan daya tahan organ tertentu berkurang terhadap efek
timbal. Semakin tua umur seseorang, akan semakin tinggi pula konsentrasi timbal
yang terakumulasi pada jaringan tubuh.

- Tabel.1 Status kesehatan, status gizi dan tingkat kekebalan (imunologi) Keadaan
sakit atau disfungsi dapat mempertinggi tingkat toksisitas timbal atau dapat
mempermudah terjadinya kerusakan organ.

Malnutrisi, hemoglobinopati dan enzimopati seperti anemia dan defisiensi
glukosa-6-fosfat dehidrogenase juga meningkatkan kerentanan terhadap
paparan timbal. Kurang gizi akan meningkatkan kadar timbal yang bebas
dalam darah. Diet rendah kalsium menyebabkan peningkatan kadar timbal
dalam jaringan lunak dan efek racun pada sistim hematopoeitik. Diet rendah
kalsium dan fosfor juga akan meningkatkan absorpsi timbal di usus.
Defisiensi besi, diet rendah protein dan diet tinggi lemak akan meningkatkan
absorpsi timbal, sedangkan pemberian zinc dan vitamin C secara terus
menerus akan menurunkan kadar timbal dalam darah, walaupun pajanan
timbal terus berlangsung.

b. Jenis kelamin

Efek toksik pada laki-laki dan perempuan mempunyai pengaruh yang berbeda.
Wanita lebih rentan daripada pria. Hal ini disebabkan oleh perbedaan faktor
ukuran tubuh (fisiologi), keseimbangan hormonal dan perbedaan metabolisme
Jenis kelamin

Efek toksik pada laki-laki dan perempuan mempunyai pengaruh yang berbeda.
Wanita lebih rentan daripada pria. Hal ini disebabkan oleh perbedaan faktor
ukuran tubuh (fisiologi), keseimbangan hormonal dan perbedaan metabolisme
(Joko S, 1995).

c. Jenis jaringan

Kadar timbal dalam jaringan otak tidak sama dengan kadar timbal dalam jaringan
paru ataupun dalam jaringan lain.

- Tabel 2. Kadar Timbal dalam Jaringan Tubuh Orang-orang yang Tidak Terpapar
oleh Timbal

Jaringan Mg Pb/100 gr Jaringan Basah

Tulang 0,67 – 3,59

Hati 0,04 – 0,28

Paru – paru 0,03 – 0,09

Ginjal 0,05 – 0,16

Limpa 0,01 – 0,07

Jantung 0,04

Otak 0,01 – 0,09

Gigi 0,28 – 3,14

Rambut 0,007 – 1,17
d. Batas Paparan Kerja Timbal.

Konsentrasi normal timbal dalam darah 10 – 25 µg/dL ( WHO, 1995). Menurut
Palar (2004) pada orang dewasa terdapat perbedaan kandungan timbal dalam
darah, hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan geografis dimana orang-
orang itu berada. Kadar timbal dalam darah merupakan indikator yang paling baik
untuk menunjukkan current exposure (pemaparan sekarang). Hal ini hanya
berlaku pada steady state conditions yaitu bila seseorang terpapar timbal secara
terus menerus. Untuk mencapai kondisi steady state tersebut diperlukan waktu
pemaparan selama 2 bulan secara terus menerus. Setelah pemaparan berhenti,
kadar timbal akan turun secara perlahan-lahan.

- Tabel 3. Empat Kategori Timbal dalam Darah Orang Dewasa

µg Pb/ 100 ml Darah Deskripsi
Tidak terkena paparan atau

Tingkat paparan normal.

Pertambahan penyerapan

Dari keadaan terpapar tetapi

masih bisa ditoleransi.
A (normal) < 40
Kenaikan penyerapan dari
B (dapat ditoleransi) 40 – 80
keterpaparan yang banyak
C (berlebih) 80 – 120
dan mulai memeperlihatkan
D (tingkat bahaya) > 120
tanda-tanda keracunan.

Penyerapan mencapai

tingkat bahaya dengan

tanda-tanda keracunan

ringan sampai berat.

G. Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian resiko merupakan suatu hierarki (dilakukan berurutan sampai
tingkat resiko/bahaya berkurang menuju titik yang aman). Hierarki pengendalian
tersebut antara lain ialah eliminasi, subtitusi, perancanan, administrasi dan alat
pelindung diri (APD).
Prinsip pertama untuk mencegah terkena timbal di tempat kerja
adalah dengan menerapkan Hierarchy of Control (NSW WorkCover (2008)
yang mana:
1. Eliminasi
Gantikan material yang berasal dari timbal dengan material yang tidak
mengandung timbal adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk
mencegah terkena timbal di lingkungan kerja. Akan tetapi, penggantian
material memerlukan keamanan dan tidak mengandung material yang
berbaya.
2. Subtitusi
Pindahkan timbal yang berbahaya, contohnya: uap yang berada dalam
lemari makan, dimana pekerja bisa membawa keluar pekerjaannya tanpa
harus tekena kontak langsung dengan uap.
3. Perancangan
Kontrol bagian keteknikan dalam rangka mengurangi terkena timbal termasuk
di dalamnya meningkatkan tempat ventilasi di lingkungan kerja, dan
memodifikasi proses pekerjaan untuk mngurangi terkena timbal.
4. Administrasi
Secara administrasi berarti mengurangi terkena timbal: meningkatkan
kesadaran pekerja tentang bahayanya timbal di tempat kerja. Termasuk
didalamnya memberikan pendidikan dan training tentang kemanan dalam
prosedur kerja, memperbaiki peralatan, memisahkan daerah makan dengan
tempat kerja, menyediakan fasisilitas yang bagus untuk mandi dan mencuci
tangan, dan berilah nasehat tentang pentingnya kebersihan, seperti tidak
menggigit kuku atau mengunyah permen selama bekerja, mencuci tangan
sebelum makan atau minum, memindahkan pakaian kerja dan mandilah
sebelum pulang ke rumah.
5. Alat Pelindung Diri (APD)
Peralatan haruslah digunakan di lingkungna kerja untuk mengurangi terkena
timbal. Peralatan ini termasuk didalamnya baju safety dan masker yang
dicuci dangan teratur dan masih berada dalam kondisi yang bagus.

III. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Timbal merupakan suatu logam berat yang lunak berwarna kelabu
kebiruan dengan titik leleh 327 ºC dan titik didih 1.620 ºC. Bersifat lentur, timbal
sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas
dan air asam.
Senyawa-senyawa timbal organik relatif lebih mudah untuk diserap tubuh
melalui selaput lendir atau melalui lapisan kulit bila dibandingkan dengan senyawa-
senyawa timbal anorganik. Namun hal itu bukan berarti semua senyawa timbal dapat
diserap oleh tubuh, melainkan hanya sekitar 5 – 10% dari jumlah timbal yang masuk
melalui makanan dan atau sebesar 30% dari jumlah timbal yang terhirup yang akan
diserap oleh tubuh. Dari jumlah yang terserap itu hanya 15% yang akan mengendap
pada jaringan tubuh, dan sisanya akan turut terbuang besama bahan sisa metabolisme
seperti urin dan feses.
Paparan timbal yang berlangsung lama dapat mengakibatkan gangguan terhadap
berbagai sistim organ. Efek pertama pada keracunan timbal kronis sebelum mencapai
target organ adalah adanya gangguan pada biosintesis hem, apabila hal ini tidak
segera diatasi akan terus berlanjut mengenai target organ lainnya.
Konsentrasi normal timbal dalam darah 10 – 25 µg/ pada orang dewasa
terdapat perbedaan kandungan timbal dalam darah, hal ini disebabkan oleh faktor
lingkungan dan geografis dimana orang-orang itu berada.Untuk mengendalikan
pencemaran Pb tersebut dapat dilakukan melalui Hierarki of control yaitu dengan
eliminasi, subtitusi, perancanan, administrasi dan alat pelindung diri (APD).

B. Saran
- Diharapkan seluruh tenaga kerja di Industri Pengecatan diharapkan agar dapat
melakukan usaha-usaha mengurangi paparan terhadap timbal, melakukan
pemeriksaan kesehatan secara berkala khususnya pemeriksaan kadar timbal
dalam darah dan pemeriksaan tekanan darah serta melakukan terapi keracunan
timbal dengan menggunakan chelating agent..
- Diharapkan kepada stakeholder perusahaan dan instansi pemerintah bidang
kesehatan agar dapat melakukan pengambilan kebijakan yang tepat guna
mengurangi paparan timbal terhadap tenaga kerja.

REFERENSI

Dwilestari, H., & Oginawati, K. (2010). Analisis Hematologi Dampak Paparan Timbal
Pada Pekerja Pengecatan (Studi Kasus: Industri Pengecatan Mobil Informal Di
Karasak, Bandung), 17–18. Retrieved from http://www.ftsl.itb.ac.id/wp-
content/uploads/sites/8/2012/07/25310022-Hermiranti-Dwilestari.pdf
Hasan, W. (2012). Pencegahan Keracunan Timbal Kronis Pada Pekerja Dewasa Dengan
Suplemen Kalsium. Makara, Kesehatan, 16(1), 1–8. Retrieved from
http://journal.ui.ac.id/index.php/health/article/viewFile/1295/1184
Muliyadi, Mukono, H. ., & Notopuro, H. (2015). Paparan Timbal Udara Terhadap Timbal
darah, Hemoglobin, Cystatin C Serum Pekerja Pengecatan Mobil. Jurnal Kesehatan
Lingkungan Indonesia, 11(1), 87–95.
https://doi.org/http:dx.doi.org/10.15294/kemas.v11i1.3519
Mutasir, Setiani, O., & Sulistiyani. (2016). Hubungan Kadar Timbal Dalam Darah Dengan
Tekanan Darah Pada Tenaga Kerja Di Karoseri Semarang. Jurnal Kesehatan
Lingkungan Indonesia, 15(1), 14–21. Retrieved from
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/view/12310
http://www2.pom.go.id/public/siker/desc/produk/Timbal.pdf/diakses tanggal 16 April 2017 jam
17.30

http://www.lead.org.au/fs/Mencegah_kontak_dengan_timbal_di_tempat_kerja_di_Indonesia.pdf/
diakses tanggal 16 April 2017 jam 18.46

https://artikelkesker.wordpress.com/2014/12/07/makalah-timbal/ diakses tanggal 16 April 2017
jam 20.30