You are on page 1of 24

BAB I

PUTUSAN PENGADILAN

1. PENGERTIAN PUTUSAN PENGADILAN

Setelah pemeriksaan perkara yang meliputi proses mengajukan
gugatan penggugat, jawaban tergugat, replik penggugat, duplik tergugat,
pembuktian dan kesimpulan yang diajukan baik oleh penggugat maupu
oleh tergugat selesai dan pihak-pihak yang berperkara sudah tidak ada
lagi yang ingin dikemukakan, maka hakim akan menjatuhkan putusan
terhadap perkara tersebut.

Putusan pengadilan merupakan suatu yang sangat diinginkan atau
dinanti-nanti oleh pihak-pihak yang berperkara untuk menyelesaikan
sengketa mereka dengan sebaik-baiknya. Sebab dengan putusan
pengadilan tersebut pihak-pihak yang bersengketa mengharapkan adanya
kepastian hukum-hukum keadilan dalam perkara yang mereka hadapi.

Putusan Pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan pada
sidang pengadilan yang terbuka untuk umum untuk menyelesaikan atau
mengakhiri perkara perdata. Setiap putusan pengadilan tertuang dalam
bentuk tertulis, yang harus ditandatangani oleh hakim ketua sidang dan
hakim-hakim anggota yang ikut serta memeriksa dan memutuskan
perkara serta panitera pengganti yang ikut bersidang (Pasal 25 ayat (2)
UU No.4/2004). Putusan hakim pada dasarnya adalah suatu karya
menemukan hukum, yaitu menetapkan bagaimanakah seharusnya
menurut hukum dalam setiap peristiwa yang menyangkut kehidupan
dalam suatu negara hukum.

Pengertian lain mengenai putusan hakim adalah hasil musyawarah
yang bertitik tolak dari surat dakwaan dengan segala sesuatu yang
terbukti dalam pemeriksaan di sidang pengadilan.

Dalam Pasal 1 butir 11 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
disebutkan bahwa Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang
diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa
pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal
serta menurut cara yang diatur dalam Undang-undang ini.

1

Isi putusan pengadilan diatur dalam Pasal 25 Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan
bahwa:

1) Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan-alasan dan
dasar-dasar putusan itu, juga harus menuat pula pasal-pasal tertentu
dari peraturan-peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tak
tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.

2) Tiap putusan pengadilan ditandatangani oleh ketua serta hakim-
hakim yang memutuskan dan panitera yang ikut serta bersidang.

3) Penetapan-penetapan, ikhtiar-ikhtiar rapat permusyawaratan dan
berita-berita acara tentang pemeriksaan sidang ditandatangani oleh
ketua dan panitera.1

Setiap keputusan hakim merupakan salah satu dari tiga
kemungkinan:

1) Pemidanaan atau penjatuhan pidana dan atau tata tertib.

2) Putusan Bebas.

3) Putusan lepas dari segala tuntutan hukum.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 178 HIR, Pasal 189 RBG, apabila
pemeriksaan perkara selesai, Majelis hakim karena jabatannya melakukan
musyawarah untuk mengambil putusan yang akan diajukan. Proses
pemeriksaan dianggap selesai apabila telah menempu tahap jawaban dari
tergugat sesuai dari pasal 121 HIR, Pasal 113 Rv, yang dibarengi dengan
replik dari penggugat berdasarkan Pasal 115 Rv, maupun duplik dari
tergugat, dan dilanjutkan dengan proses tahap pembuktian dan konklusi.

Jika semua tahapan ini telah tuntas diselesaikan, Majelis
menyatakan pemeriksaan ditutup dan proses selanjutnya adalah
menjatuhkan atau pengucapan putusan. Mendahului pengucapan putusan
itulah tahap musyawarah bagi Majelis untuk menentukan putusan apa
yang hendak dijatuhkan kepda pihak yang berperkara. Perlu dijelaskan
bahwa yang dimaksud dengan putusan pada uraian ini adalah putusan
peradilan tingkat pertama.

Untuk dapat membuat putusan pengadilan yang benar-benar
menciptakan kepastian dan mencerminkan keadilan bagi para pihak yang
1
Pembuktian dan Putusan Pengadilan, http://gunawanalgifari92.blogspot.co.id/2015/08/makalah-pembuktian-
dan-putusan.html.

2

Hakim wajib mengadili semua bagian gugatan. permintaan banding dapat dicabut sewaktu-waktu dan dalam hal sudah dicabut. dalam hal ia menerima putusan (Pasal 169 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana jo. Pasal 233 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). 2) Hak mempelajari putusan sebelum menyatakan menerima atau menolak putusan.undangan maupun peraturan hukum tidak tertulis atau hukum adat. dalam tenggang waktu yang ditentukan yaitu tujuh hari sesudah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir (Pasal 196 ayat (3) jo. Sesudah putusan diucapkan. permintaan banding dalam perkara itu 3 .Pengadilan menjatuhkan putusan atas ha-hal yang tidak diminta atau mengabulkan lebih dari yang digugat. hakim harus mengetahui duduk perkara yang sebenarnya dan peraturan hukum yang akan ditetapkan baik peraturan hukum tertulis dalam perundang . 3) Hak minta penangguhan pelaksanaan putusan dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang untuk dapat mengajukan grasi. 4) Hak minta banding dalam tenggang waktu tujuh hari setelah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 196 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Pasal 196 ayat (3) jo. 5) Hak segera mencabut pernyataan sebagaimana dimaksud pada butir a (menolak putusan) dalam waktu seperti ditentukan dalam Pasal 235 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang menyatakan bahwa selama perkara banding belum diputus oleh pengadilan tinggi. Undang-Undang Grasi). Pasal 233 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana).berperkara. Bukan hanya yang diucapkan saja tetapi juga pernyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan diucapkan oleh hakim di muka sidang karena jabatan ketika bermusyawarah hakim wajib mencukupkan semua alasan-alasan hukum yang tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak. yaitu: 1) Hak segera menerima atau segera menolak putusan. hakim ketua sidang wajib memberitahu kepada terdakwa tentang apa yang menjadi haknya.

2) Putusan Akhir 2 Pembuktian dan Putusan Pengadilan. Oleh karena itu di dalam H.2 2.blogspot. yaitu putusan yang menjawab tuntutan provisi yaitu permintaan pihak yang berperkara agar diadakan tindakan pendahulu guna kepentingan salah satu pihak sebelum putusan akhir dijatuhkan. yang mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit. 4 .co.I. yaitu putusan yang berhubungan dengan insiden yaitu peristiwa yang menghentikan prosedur peradilan biasa. yaitu putusan yang isinya memerintahkan pembuktian karena putusan ini menyangkut pembuktian maka putusan ini akan mempengaruhi putusan akhir c) Putusan Incidental.R tidak dikenal macam-macam putusan seperti apa yang dikenal dalam hukum acara perdata barat. d) Putusan provisional. http://gunawanalgifari92. suatu putusan pengadilan dikenal dua macam pengolongan putusan yakni : 1) Putusan Sela (Putusan interlokutoir) Putusan sela adalah putusan yang dijatuhkan sebelum putusan akhir yang diadakan dengan tujuan untuk memungkinkan atau mempermudah kelanjutan pemeriksaan perkara. Menurut golongannya. tidak boleh diajukan lagi (Pasal 196 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana).html.R telah tersusun relemen hukum acara perdata yang sederhana. yaitu putusan persiapan mengenai jalannya pemeriksaan untuk melancarkan segala sesuatu guna mengadakan putusan akhir b) Putusan Interlocutoir. MACAM-MACAM PUTUSAN PENGADILAN DAN FUNGSINYA Di dalam H.id/2015/08/makalah-pembuktian- dan-putusan. Dalam hukum acara dikenal macam putusan sela yaitu : a) Putusan Preparatuir.I.

Misalnya dalam hal atap rumah yang disewa oleh penggugat dirusak oleh tergugat sedangkan 3 Putusan Pengadilan dalan Hukum Acara Perdata. dan sementara itu diadakan tindakan-tindakan pendahuluan untuk kefaedahan salah satu pihak atau kedua belah pihak. atau bahwa A. Misalnya. http://coret-anku. yaitu putusan yang berisi penghukuman. 3 Pada umumnya dalam suatu putusan Hakim memuat beberapa macam putusan. ketiga-tiganya dalam hukum acara perdata disebut putusan sela sehingga tidak ada perbedaannya. b) Putusan Constitutif. Putusan akhir adalah putusan yang mengakhiri perkara pada tingkat pemeriksaan pengadilan. Macam-macam putusan akhir adalah sebagai berikut : a) Putusan Declaratoir. Putusan preparatoir dipergunakan untuk mempersiapkan perkara. b dan C adalah ahli waris dari almarhum Z.html. bahwa baik putusan preparatoir. Kemudian sudah pernah disebutkan di muka. yaitu putusan yang bersifat hanya menerangkan. meliputi pengadilan tingkat pertama. c) Putusan Condemnatoir. sedangkan putusan provisionil adalah putusan yang dijatuhkan sehubungan dengan tuntutan dalam pokok perkara. putusan yang menyatakan seseorang jatuh pailit.co. 5 . atau dengan lain perkataan merupakan penggabungan dari putusan declaratoir dan putusan constitutif atau penggabungan antara putusan declaratoir dengan putusan condemnatoir dan sebagainya. Putusan semacam itu banyak dipergunakan dalam acara singkat dan dijatuhkan oleh karena segera harus diambil tindakan. demikian pula putusan insidentil.blogspot.id/2012/02/putusan- pengadilan-dalam-hukum-acara. bahwa A adalah anak angkat yang sah dari X dan Y. menegaskan suatu keadaan hukum semata- mata. pengadilan tinggi dan MA. Di dalam hukum acara perdata dikenall adanya putusan contradictoir sebagai lawan dari putusan verstek. putusan insidentil maupun putusan provisionil. yaitu putusan yang meniadakan suatu keadaan hukum atau menimbulkan suatu keadaan hukum yang baru. Contohnya adalah putusan perceraian. misalnya dimana pihak tergugat dihukum untuk menyerahkan sebidang tanah berikut bangunan yang ada diatasnya untuk membayar hutangnya.

.. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. gugatan selebihnya harus ditolak atau dalam hal-hal tertentu dinyatakan tidak dapat diterima.. 4 Putusan hakim tidak selalu mengabulkan gugatan seluruhnya. hal 110.pada waktu itu musim huan sehingga tergugat harus segera dihuku untuk memperbaiki atap tersebut. Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek. juga dalam perkara perceraian dimana istri mohon agar diperkenankan untuk meninggalkan tempat tinggal bersama selama proses berlangsung.I...Bg dan beberapa pasal dalam Undang-Undang No. Bahkan menurut pasal 178 ayat (1) hakim wajb mencukupkan segala alasan hukm yang tidak dikemukakan para pihak yang berperkara. 6 . Lalu diktu berbunyi: “Menolak gugatan yang menyangkut . Dapat pula terjadi bahwa seluruh gugatan ditolak. dapat pula gugatan dikabulkan untuk sebagian. baik berupa yurisprudensi. Mandar Maju. 2) Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan 4 Retnowulan Sutantio & Iskandar Oeripkartawinata.. maka wajib bagi hakim sebagai aparatur Negara yang diberi tugas untuk itu.R. 3. serta berdasarkan sumber hukum lainnya. Pasal 189 R. Tidak benar apabila gugatan ditolak untuk sebagian dan untuk selebihnya dikabulkan.. hukum kebiasaan atau hukum adapt baik tertulis maupun tidak tertulis. mengabulkan gugatan untuk selebihnya”. ASAS-ASAS DALAM PUTUSAN PENGADILAN Sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 178 H. yakni : 1) Memuat Dasar Alasan yang Jelas dan Rinci Menurut asas ini setiap putusan yang jatuhkan oleh hakim harus berdasarkan pertimbangan yang jelas dan cukup.. memuat dasar dasar putusan. 2009. dan . untuk selalu memegang teguh asas-asas yang telah digariskan oleh undang-undang. agar keputusan yang dibuat tidak terdapat cacat hukum. sebagaimana yang ditegaskan dalam Undang-Undang No. serta menampilkan pasal-pasal dalam peraturan undang-undang tertentu yang berhubungan dengan perkara yang diputus. putusan provisionil selalu dapat dilaksanakan terlebih dahulu. 4 tahun 2004 pasal 25 Ayat (1). Karena gugatan dikabulkan untuk sebagian saja. Karena sifatnya yang harus dilaksanakan segera. Bandung.

Pasal 189 ayat (3) R.R. ISI MINIMUM DAN SISTEMATIK SURAT PUTUSAN 7 . dan Pasal 50 Rv. Sehingga prinsip keterbukaan ini bersifat memaksa (imperative). 3) Tidak boleh Mengabulkan Melebihi Tuntutan Menurut asas ini hakim tidak boleh memutus melebihi gugatan yang diajukan (ultra petitum partium).Bg. khususnya dalam bidang hukum keluarga. misalnya perkara perceraian. Namun dalam pasal 34 peraturan Pemerintah tahun 1975 menegaskan bahwa putusan gugatan perceraian harus tetap diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. Sehingga menurut asas ini hakim yang mengabulkan melebihi posita maupun petitum gugat dianggap telah melampaui batas kewenangan atau ultra vires harus dinyatakan cacat atau invalid.I. Yakni. Pasal 189 ayat (2) R. pelnggaran terhadap prinsip ini dapat mengakibatkan putusan menjadi cacat hukum. tidak dapat dikesampingkan. Asas ini diatur dalam Pasal 178 ayat (2) H. Hal ini diatur dalam Asas ini diatur dalam Pasal 178 ayat (3) H.R. Hakim dalam setiap keputusannya harus secara menyeluruh memeriksa dan mengadili setiap segi tuntutan dan mengabaikan gugatan selebihnya.I.. 4) Diucapkan di Muka Umum Prinsip putusan diucapkan dalam sidang terbuka ini ditegaskan dalam Undang undang No. sebab meskipun perundangan membenarkan perkara perceraian diperiksa dengan cara tertutup.Bg dan Pasal 50 Rv. meskipun hal itu dilakukan dengan itikad baik.. Hakim tidak boleh hanya memerriksa sebagian saja dari tuntutn yang diajukan oleh penggugat. 4. Hal ini tidak terkecuali terhadap pemeriksaan yang dilakukan dalam sidang tertutup. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 20.

Pasal 178 H. maka tidak dapat dikabulkan bunga yang diperjanjikan yang besarnya adalah 5% sebulan. tidak diperbuat berasing- asing.R. walaupun harus diucapkan dalam persidangan seperti keputusan akhir juga. atau meluluskan lebih dari apa yang digugat. Mengenai isi minimum dan sistematik surat putusan diatur dalam Pasal-Pasal 178. 2) Ia berwajib mengadili segala bagian gugatan. dalam hal yang dimohonkan bunga menurut hukum. yang mungkin tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak. 6 Ibid. apabila ternyata penggugat menang. atau secara keliru menggunakan dasar gugatan. 2) Kedua pihak boleh meminta supaya diberikan kepadanya salinan yang sah daripada catatan sedemikian itu dengan membayar biaya.R. menyebutkan. 8 . 3) Ia dilarang menjatuhkan keputusan atas perkara yang tidak digugat. Apabila penggugat dalam surat gugatnya tidak menyebut dasar gugatannya. 5 Ibid. Hal tersebut di atas telah tidak diminta oleh penggugat dan karenanya dilarang untuk dikabulkan. Pasal 185 H. menentukan bahwa: 1) Hakim dalam waktu bermusyawarah karena jabatannya. 182. harus mencukupkan alasan-alasan hukum. supaya menang kalahnya salah satu pihak menjadi terang.I. untuk menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara. 6% setahun. Oleh karena adanya ketentuan ini penggugat harus berusaha menyusun petitum yang lengkap. hal 112. maka hakim dalam pertimbangannya akan mencukupkan segala alasan hukum.I. 184 dan 185 H. tidak diperkenankan. 283.I. menentukan bahwa:6 1) Keputusan yang bukan akhir. agar tergugat dihukum membayar biaya perkara. Apabila yang dituntut hanya berupa pembayaran hutang pokok saja.R. tetapi hanya dicatat dalam berita acara dari persidangan. tidak diperkenankan untuk menambah dengan bunga. Apabila penggugat lupa untuk. hal 111. 5 Yang dimaksud dengan alasan hukum ialah kaidah hukum kanun (regel van het objectieve recht). dalam petitum.

5) Putusan memuat keterangan apakah kedua belah pihak hadir atau tidak pada waktu putusan dijatuhkan. yang serta memeriksa perkara itu. menentukan bahwa: 1) Keputusan Hakim hendaklah berisikan ringkasan yang nyata dari gugatan dan jawaban.R.I. 2) Dalam keputusan yang berdasar atas aturan Undan-Undang yang pasti haruslah aturan ini disebutkan. tersebut di atas dapat diketahui bahwa: 1) Semua putusan sela diucapkan dalam sidang. maka itu dikerjakan oleh anggota yang martabatnya langsung di bawah Ketua.R.I. 2) Alasan-alasan yang dipakai sebagai dasar dari putusan Hakim. 2) Semua putusan sela merupakan bagian dari berita acara. Pasal 187 H. 3) Salinan otentik dapat diberikan dari berita acara yang memuat putusan sela kepada kedua belah pihak. Dari ketentuan pasal 185 H. maka peraturan tersebut harus disebutkan. 9 . 3) Putusan Pengadilan mengenai pokok perkara. maka hal itu dengan sungguh-sungguh disebutkan dalam berita acara persidangan itu.I. serta juga dari alasan keputusan itu. 4) Putusan tentang besarnya biaya perkara.R. 2) Jika Panitera Pengadila dalam kemustahilan itu. menentukan bahwa: 1) Jika Ketua dalam kemustahilan akan menandatangani keputusan atau berita acara dari persidangan. di antaranya harus memuat: 1) Ringkasan yang jelas tentang gugatan dan jawaban. 6) Apabila putusan didasarkan kepada peraturan undang-undang yang pasti. Pasal 184 H.R. tersebut mengatur hal-hal apa yang harus dimuat dalam surat putusan. 3) Keputusan-keputusan itu ditandatangani oleh Ketua dan Panitera Pengadilan.I. Pasal 184 H.

baru meningkat kepada pembuktian dengan saksi. Dalil- dalil yang sebaliknya. Dari hal tersebut di atas sudah nampak jelas.R. Adalah salah apabila “tentang duduknya perkara” segera dimulai dengan memuat petitum. Prof. dan 183 H. bahwa tidak semua hal yang terjadi di persidangan dimuat dalam surat putusan. bahwa suatu putusan yang baik sistematiknya. akan tetapi bukan demikian seharusnya. putusan Pengadilan Perdata itu selalu memulai dengan menyimpulkan dahulu dalil-dalil manakah yang diakuii atau tidak disangkal. adalah putusan yang dimulai dengan menyimpulkan terlebih dahulu dalil-dalil yang menjadi dasar gugatan yang diakui. mengatakan bahwa : Sebagaimana juga sudah kita lihat. Untuk mempertimbangkan suatu dalil terlebih dahulu dikemukakan surat bukti yang terpenting.H. Dalam pasal-pasal 1821. Di dalam perkara perceraian 10 . selanjutnya menunjuk kepada segala sesuatu yang diterangkan dalam berita acara. oleh pihak tergugat. Putusan semacam itu betul menjadi pendek.I. Oleh karena itu. dalam bagian yang menggambarkan “tentang duduknya perkara”. dan hanya memuat apa yang seharusnya dimuat ialah hal-hal seperti tersebut di atas. akta di bawah tangan. Dalil-dalil yang meskpun disangkal akan tetapi tidak merupakan persoalan. Dari hal tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan. baru kemudian disusul dengan dalil-dalil yang disangkal dan yang menjadi persoalan dalam perkara tersebut. 182. cukup apabila dimuat pertelaan jawaban tergugat. Mengenai hal itu dimuat dengan lengkap di dalam berita acara persidangan. dalam bukunya “HUKUM PEMBUKTIAN”. dengan lain perkataan putusan yang disusun secara baik. seperti akta otentik. itulah yang harus dituliskan. S. dan mengurangi kelelahan Panitera. Pada umumnya pembayaran biaya dibebankan kepada pihak yang dikalahkan. setidak- tidaknya tidak disangkal. tidak perlu untuk dipertimbangkan. R. halaman 49. yaitu yang dibantah atau disangkal. Suatu surat putusan harus padat berisi. yang memuat dengan lengkap dan sebenarnya apa yang telah terjadi dalam persidangan. sehingga dalil-dalil itu dapat ditetapkan sebagai hal-hal yang berada “di luar perselisihan” dan dengan demikian dapat ditetapkan sebagai benar. Subekti. mengatur perihal ongkos perkara yang harus dibayar.

Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 5) Biaya yang disebut dalam pasa 138 ayat keenam..) ... . 3) Biaya pemeriksaan setempat dan pekerjaan Hakim yang lain.I. Di samping itu mengenai besarnya ganti rugi dan bunga harus pula disebut dalam putusan.. dengan pengertian bahwa pihakyang menyuruh periksa lebih dari lima orang saksi tentang satu perbuatan itu juga..) 7 Ibid.... Oleh karena itu. (. banyaknya biaya perkara yang menurut keputusan harus dibayar oleh salah satu pihak... Menurut Pasal 183 H....I.. .... masing-masing dihukum untuk membayar separuhnya............ tidak boleh memperhitungkan bayaran penyaksian yang lebih itu kepada lawannya.. 4) Gaji pejabat yang dipertanggungkan melakukan panggilan pemberitahuan dan surat sita yang lain..... hal 117 11 .. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara ini. .........R.....R. orang ahli dan juru bahasa... putusan yang hanya sekedar menyebutkan: ... terhitung juga biaya sumpah mereka itu..... adalah tidak lengkap dan seharusnya berbunyi: ... biaya perkara dibebankan kepada kedua belah pihak. 2) Biaya saksi. 6) Gaji yang harus dibayar kepada Panitera Pengadilan atau pejabat lain karena menjalankan keputusan. yang perlu untuk perkara itu...dan pula apabila gugatan dikabulkan untuk sebagian... (......... mengatur tentang pengertian biaya perkara yang berupa:7 1) Biaya kepaniteraan pengadilan dan biaya materi.. Pasal 182 H.. Menghukum tergugat untuk membayar kerugian kepada penggugat... harus disebutkan dalam putusan... Menghukum tergugat untuk membayar kerugian kepada penggugat sebesar Rp...

loc.5. juga dalam pasal 21 UU No.cit. maka dengan demikian kedua pihak harus tunduk terhadap putusan yang dibuat oleh pengadilan atau hakim. BAB II PERIHAL PUTUSAN YANG DAPAT DILAKSANAKAN TERLEBIH DAHULU PUTUSAN YANG DAPAT DILAKSANAKAN TERLEBIH DAHULU 8 Putusan Pengadilan dalam Hukum Acara Perdata. 14 Tahun 1970 adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Jenis jenis putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap yaitu: 8 1) Kekuatan Mengikat Kekuatan mengikat ini karena kedua pihak telah bersepakat untukmenyerahkan kepada pengadilan untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi antara mereka. 12 . 3) Kekuatan Executorial Putusan hakim atau putusan pengadilan adalah kekuatan untuk dilaksanakan secara paksa oleh para pihak dengan bantuan alat-alat negara terhadap pihak yang tidak melaksanakan putusan tersebut secara sukarela. 2) Kekuatan Pembuktian Putusan pengadilan yang dituangkan dalam bentuk tertulis merupakan akta otentik yang dapat dipergunakan sebagai alat bukti oleh kedua pihak apabila diperlukan sewaktu-waktu oleh para pihak untuk mengajukan upaya hukum. KEKUATAN PUTUSAN PENGADILAN Pasal 1917 dan 1918 KUHPerdata menyebutkan kekuatan suatu putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan mutlak. Putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap adalah putusan yang menurut Undang-Undang tidak ada kesempatan lagi untuk menggunakan upaya hukum biasa melawan putusan itu.

yang pada hakikatnya bersifat “gabiedend”. Perkataan “dapat” sebagaiamana yang tercantum dalam pasal 55 RV. Ketentuan pasal 54 RV berbunyi sebagai berikut: Pelaksananan terlebih dahulu dari putusan-putusan. akan diperbandingkan dengan pasal 54 dan pasal 55 RV yang mengatur lembaga tersebut secara mendalam. Untuk mudahnya akan dibahas pasal 180 (1) HIR dan untuk mendapat gambaaran yang kebih jelas dari pasal tersebut. meskipun ada banding atau perlawanan dapat diperintahkan dengan atau tanpa jaminan. Putusan yang dapat dilaksanakan terlebih dahulu diatur dalam pasal 180 (1) HIR dan pasal 191 (1) RBg yang mengatur tentang persoalan yang sama. juga dianggap diakui apabila perkara diputuskan dengan perstek. sedangkan dalam pasal 55 RV dipergunakan kata “dapat”. bahwa jika salah satu syarat yang termuat dalam pasal 180 (1) HIR telah 9 Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor Tahun 1971 13 . melainkan berarti “bolehlah”. Dengan demikian. yang tidak dapat dilawan atau diabanding lagi. meskipun ada banding atau perlawanan akan diperintahkan : 1) Apabila putusan didasarkan atas akta otentik. Sedangkan pasal 55 RV berbunyi : Pelaksanaan terlebih dahulu dari putusan putusan. 2) Apabila putusan didasarkan atas akta dibawah tangan yang diakui oleh pihak terhadap siapa akta tersebut dipergunakan. atau yang secara sah dianggap diakui. 3) Apabila telah ada penghukuman dengan suatu putusan. tepatlah pendapat dari Mahkamar Agung yang menyatakan bahwa mengenai “penerapanya diserahkan kepada Pengadilan Negeri”. Apabila diteliti perkataan “dapat”tidak mengandung suatu keharusan atau “bukan berarti harus”. perkataan ”dapat” juga mengandung pengertian. nampaklah suatu perbedaan yang sangat mencolok yaitu apabila dalam pasal 54 RV menyebut kata ”akan”. bersifat “memerintah”. terdapat pula dalam pasal 180 (1) HIR. dalam hal antara lain : 1) Segala sesuatu yang dikabulkan dengan putusan semetara. perkataan “akan” adalah terjemahan dari perkataan Belanda “Zullen”. Diserahkan kepada kebijaksanaan Hakim untuk memberi perintah ini dengan atau tanpa jaminan. 2) Hak milik. jadi meskipun disebut “akan” namun maksudnya adalah “harus”. Jika diteliti degan seksaman kalmia pertama dari masing-masing pasal tersebut diatas.sebagaiamana diketahui. 9 Disamping itu pula.

terpenuhi.. atau menjatuhkan putusan biasa. isinya lebih jelas daripada pasal 180 (1) HIR. apabila salah satu syarat yang termuat dalam pasal 54 RV terpenuhi. Timbul persoalan. Mr. diserahkan kepada kebijaksanaan Hakim untuk menjatuhkan putusan dengan ketentuan “uitvoerbaar bij voorraad” dengan dan atau tanpa jaminan. dapat diketahui bahwa meskipun maksudnya sama namun pasal 54 RV. karena beliau dalam waktu 8 (delapan) bulan sudah dapat menyiapkan rancangannya berikut peraturan penjelasannya. apakah dalam hal gugatan hutang piutang antara A. dimana dalam persidangan untuk membuktikan keduduakan A tersebut (akta otentik). dapat ditarik suatu kesimpulan. bahwa adalah lebih “aman” untuk menjatuhkan putusan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu dan melaksanakan putusan tersebut. Dapatkah dalam persoalan tersebut diatas putusan dijatuhkan dengan ketentuan uitvoerbaar bij voorraad ? jawabannya adalah “tidak dapat”. Apabila putusan telah dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu tanpa jaminan sebelum memerintahkan eksekusi Ketua Pengadilan Negeri dapat memintah tanggungan (bandingkan dengan Surat Edaran Pengadilan Tinggi Bandung No.I. Sedangkan apabila hanya terdapat syarat sebagaimana yang termuat dalam pasal 55 RV. Dengan memperbandingkan Antara pasa 180 (1) HIR dan pasal-pasal dari RV tersebut diatas. Jhr. Padahal sesungguhnya mengenai kedudukan anak tersebut tidak disangakal. sedangkan A tanpa mengajukan surat bukti yang lain untuk membuktikan tentang adanya hutang piutang termaksud. Wichers sangat tergesa-gesa. anak almarhum B. apabila putusan didasarkan…………. sama seperti yang terdapat dalam pasal 180 (1) HIR. walaupun pihak yang dikalahkan itu mengajukan permohon banding atau perlawanan. Jadi “dasar” putusan adalah akta otentik atau akta dibawah tangan yang diakui. hendaknya Hakim harus berhati-hait dan harap dipikirkan sekali lagi sebelum putusan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu dijatuhkan. Selanjutnya perlu diperhatikan pula terhadap perkataan “didasarkan” yang terdapat dalam pasal 54 RV dibawah angka (1) dan (2). Dari perbandingan pasal-pasal tersebut diatas. H. 1/1970 tertanggal 1 Agustus 1970). Mungkin pencipta dari HIR. yang menggugat C agar membayar hutangnya kepada almarhum ayahnya kepada A (yang merupakan anak sah dari almarhum B). Pokok perkara tersebut diatas adalah adanya hutang piutang 14 . Yang dimaksud dengan “dasar” putusan adalah “dasar putusan pokok perkara”.

SH. apakah suatu gugatan warisan adalah merupakan persoalan hak milik ? bukankan menyangkut tanah milik. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Sebagaimana diketahui oleh karena pengertian “penghukuman” terletak dalam bidang Hokum Acara Perdata dan Hukum Acara Pidana. Jakarta 15 . merupakan bukti yang sempurna.. jadi menyangkut pemilikan? Dalam hal ini perlu kita tinjau ketentuan pasal 180 (1) HIR dalam teks Belandanya yang menyebut “in geschillen van bezitsrecht” lalu menunjuk kepada pasal 548 BW dan seterusnya yang mengatur perihal “bezit” yang oleh Prof. yang hanya dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan yang kuat. Diterjemahkan dengan perkataan “kedudukan berkuasa” dan diartikan oleh beliau sebagai “keadaan dimana seorang menguasai suatu barang laksana pemilik. tetapi dalam penglihatan masyarakat ia dianggap sebagai pemilik karena nampaknya memanglah sebagai pemiliknya” 10 Dengan berpedoman pada hal tersebut diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam persoalan warisan yang menyangkut tanah milik yang selama bertahun-bertahun dikuasai oleh pihak tergugat. maka perlu diselidiki lebih lanjut. putusan 10 Subekti. Sebagaiamana diketahui.antara almarhum B dan C. intermasa. apabila hutang piutang dapat dibuktikan dengan akta otentik atau dalam hal ada sebuah akta dibawah tangan (misalnya kwitansi tanda penerimaan uang ) yang tidak disangkal isi dan tanda tangannya oleh C atau salah satu syarat lain yang termuat dalam pasal 180 (1) HIR terpenuhi. Belum tentu bahwa orang itu pemilik yang sesungguhnya. Yang seringkali menimbulkan persoalan dan menyebabkan penafsiran yang berbeda-beda adalah dasar terakhir yang tercantum dalam pasal 180 (1) HIR. disebut adanya penghukuman sebelumya dengan putusan yang telah memperoleh kekuatan hokum yang tetap. sedangkan pasal 180 (1) HIR tidak memberi penjelasan lebih lanjut mengenai “penghukuman” yang bagaimana. Yang dimaksud adalah perkataan ”persoalan hak milik”. 2003. sehingga surat bukti semacam itu dapat menjamin bahwa putusan yang dilaksanakan. oleh pasal 180 (1) HIR. Seringkali terdengar pertanyaan. putusan dapat dijatuhkan dengan ketentuan uitvoerbaar bij voorraad. bahwa kekuatan dari akta otentik dan akta dibawah tangan yang diakui isi dan tanda tangannya oleh pihak lawannya. Subekti. meskipun belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap. akan tahan uji dan tidak akan dibatalkan oleh putusan Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung. Sebagai salah satu dasar untuk dapat mengabulkan putusan dengan ketentuan dapat dilaksanakan dengan terlebih dahulu. R.

Keadaan itu sudah barang tentu tidak dapat dipertahankan terus- menerus dan Mahkamah Agung memandang sudah tiba saatnya untuk mengakhiri keadaan itu dengan mempercayakan penerapan lembaga “uitvoerbaar bij voorraad” kepada Pengadilan Negeri sebagaimana 16 . walaupun diajukan perlawanan atau banding (uitvoerbaar bij voorraad) dan apabila sungguh-sungguh dipandan perlu untuk menjatuhkan putusan itu. agar sedapat mungki Pengadilan Tingkat Pertama jangan menjatuhkan putusan yang dapat dilaksanakan lebih dahulu. maka putusan dapat diberikan dengan ketentuan uitvoerbaar bij voorraad. Sehubungan dengan hal tersebut diatas. kemudian diajukan permintaan persetujuan untuk pelaksanaanya. sedangkan jika terhadap keputusan yang dinyatakan dapat dilaksanakan lebih dahulu itu diajukan permohonan pemeriksaan tingkat banding. Apabila putusan telah dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu. Akan tetapi apabila persoalan warisan itu menyangkut sebidang tanah atau sawah yang semula dikuasai oleh penggugat yang “memiliki” tanah atau sawah tersebut. akan tetapi tidak ada bukti sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 180 (1) HIR. misalnya apabila suatu hutang piutang telah bulat diakui. apakah pelaksanaanya dapat ditunda? Surat Edaran Mahkamah Agung nomor 03 Tahun 1971 tertanggal 17 Mei 1971 mengemukakan: 1) Surat Edaran Nomor 10 tahun 1964 No 13/1964 dan tanggal 2 Juni 1969 No 5 Tahun 1969 pada pokoknya bermaksud. putusan tidak dapat dijatuhkan dengan ketentuan uitvoerbaar bij voorraad. mempertimbangkan dan memutus dapat atau tidaknya permintaan dimaksud dikabulkan 2) Surat edaran tersebut diatas dikeluarkan berdasarkan kenyataan bahwa sementara hakim-hakim Pengadilan Negeri tidak atau kurang memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan dalam UU mengenai lembaga “uitvoerbaar bij voorraad” sebagaimana diuaraikan pada pasal 180 (1) HIR dan pasal 191 (1) Rechtsreglement Buttengewesten. kemudian dengan paksa diambil oleh tergugat. Hal ini sesungguhnya kurang tepat. perlu ditengahkan pula bahwa adanya “pengakuan” saja. maka pelaksanaannya harus dimintakan persetujuan terlebih dahulu dari Mahkamah Agung.tidak dapat diberikan dengan ketentuan uitvoerbaar bij voorraad. Maka untuk itu Mahkamah Agung menyerahkan kepada Pengadilan Tinggi yang bersangkutan untuk memeriksa.

Pasal 180 (1) HIR dan pasal 191 (1) Rechtsreglement Buitengewesten. dapat dijatuhkan putusan yang dapat dijalankan terlebih dahulu. Syarat-syarat yang dimaksud tersebut di atas adalah : (a) Ada surat otentik atau tulis tangan (handschrift) yang menurut Undang-undang mempunyai kekuatan bukti. V. PT. walaupun diajukan perlawanan atau banding. 3) Selanjutnya Mahkamah Agung meminta perhatian kepada segenap Ketua dan Hakim pada Pengadilan Negeri untuk sungguh-sungguh mengindahkan syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat meyatakan agar putusan dapat dijalankan telebih dahulu. (c) Ada gugatan provisional yang dikabulkan. Mahkamah Agung sekali lagi meminta perhatian para Ketua dan Hakim Pengadilan Negeri untuk sungguh-sungguh mengindahkan hal-hal tersebut di atas dan agar sangat berhati-hati menggunakan lembaga “uitvoerbaar bij voorraad” ex. Citra Aditya Bakti Bandung. karena apabila di dalam tingkat banding atau kasasi keputusan Pengadilan Negeri dibatalkan.2009. (d) Dalam sengketa mengenai bezitsrecht. Mahkamah Agung berdasarkan kekuasaan yang ada padanya untuk mengawas jalannya peradilan yang baik dan begitu pula Pengadilan Tinggi berdasarkan pelimpahan wewenang tersebut selalu dapat memerintahkan penundaan pelaksanaan putusan Pengadilan Negeri. maka barulah. Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata. Maka dengan ini Mahkamah Agung menyatakan mencabut kembali surat-surat Edaran tersebut diatas. bahwa apabila terdapat kekeliruan yang mencolok. 11 H. 4) Dengan sendirinya harus dimengerti. Cet. akan timbul banyak kesulitan di dalam mengembalikan pada keadaan semula. S. Jadi apabila salah satu syarat tersebut di atas dipenuhi.. 17 . yang ditentukan oleh Undang-undang. Riduan Syahrani. 11 Sedangkan dalam hal-hal di luar itu tidak boleh dijatuhkan putusan serupa itu.walaupun diajukan perlawanan atau banding sebagaimanan yang diuraikan dalam pasal 180 (1) HIR dan pasal 191 (1) Rechtsreglement Buitengewesten. (b) Ada keputusan yang sudah memperoleh kekuatan yang pasti (in kracht van gewijsde) sebelumnya yang menguntungkan pihak penggugat dan ada hubungannya dengan gugatan yang bersangkutan.H.

maka dalam waktu 2 minggu setelah diucapkan keputusan tersebut Pengadilan Negeri yang bersangkutan harus mengirimkan salinan keputusannya kepada Pengadilan Tinggi dan 18 . 03/1978 tertanggal 1 april 1978. S. Hanya dalam hal-hal yang tak dapat dihindarkan. Dalam rangka pengawasan oleh Mahkamah Agung dan Pengadilan Tinggi terhadap keputusan uitvoerbaar bij voorraad yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri dalah hal sesuai dengan yang disebut di atas. bahwa setiap permohonan penundaan dari pihak yang terkena pelaksanaan. Hal itu dilakukan. agar Hakim jangan menjatuhkan putusan dengan ketentuan uitvoerbaar bij voorraad meskipun syarat-syarat pada pasal 180 (1) HIR terpenuhi. No.E.M.M. Dengan S. Sehubungan dengan permohonan agar pelaksanaan putusan yang diberikan dengan ketentuan uitvoerbaar bij voorraad. telah dipenuhi. apabila pihak yang kalah sedang mengajukan banding atau kasasi. 03/1971 tertanggal 17 Mei 1971 tersebut pada angka 4 memuat suatu penegasan adanya wewenang Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung untuk mencegah suatu pelaksanaan yang sedang atau akan dilakukan oleh Pengadilan Negeri. keputusan demikian yang sangat exceptional sifatnya dapat dijatuhkan. S. rumah dan tanah yang dijaminkan.A No. penggugat mohon agar.E. ditetapkan sebagai milik penggugat. lebih-lebih apabila ada sita jaminan yang cukup. No. oleh karena pasal 180 (1) HIR hanya memberikan kewenangan diskretioner kepada Hakim yang tidak bersifat imperative.A. meskipun tidak diajukan agar dikabulkan. dan hal itu dikabulkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu. apabila terdapat suatu kekeliruan yang mencolok.M.E. 06/1975 tertanggal 1 Desember 1975. 06/1975 tertanggal 1 Desember 1975 pada pokoknya berpendapat bahwa. Mahkamah Agung menegaskan kembali kepada para Ketua/Hakim Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia agar tidak menjatuhkan keputusan uitvoerbaar bij voorraad walaupun syarat-syarat dalam pasal 180 (1) HIR/191 (1) R. Putusan semacam itu sudah barang tentu dalam taraf banding atau kasasi akan dibatalkan dan tidaklah dapat dipertanggungjawabkan untuk melaksanakan putusan semacam itu.A No. misalnya dalam persoalan hutang piutang.E. dengan mengingat syarat-syarat yang tercantum dalam S. oleh karena tergugat tidak dapat membayar hutangnya.Bg. Mahkamah Agung dalam prakteknya menyetujui.M.A.

penyelesaian perkara cepat masih merupakan angan-angan saja. yang dimaksud adalah apabila dalam taraf banding atau kasasi perkara perdata dapat selesai dalam waktu maksimal 3 (tiga) bulan. Disamping itu harus dibina suatu korps Hakim yang tangguh yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapkan kepadanya secara cepat. baik di Pengadilan-pengadilan Tinggi maupun di Mahkamah Agung. tembusannya kepada Mahkamah Agung. Sesungguhnya. Dengan banyaknya tunggakan pada dewasa ini dan masih kurangnya tenaga Hakim. PELAKSAANAAN PUTUSAN DAN CARA PELAKSANAANNYA Pada azaznya putusan Hakim yang sudah mepunyai kekuasaan hukum yang pasti dapat di jalankan. banyak melakukan tugas- tugas non judicieel. dan para Hakim Agung dan Hakim Tinggi yang adapun. apabila Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung dapat melaksanakan tugasnya dengan cepat. maka menurut hemat penulis. yaitu apabilasuatu putusan dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilakksanakan terlebi dahulu sesuai dengan pasal 180.IR. sehingga kemungkinan untuk membuat kesalahan karena tafsiran yang keliru dapat diperkecil. karena yang perlu dilakksanakan hanyalah pususan putusan 19 . BAB III PERIHAL MENJALANKAN PUTUSAN HAKIM (EKSEKUSI) 1. Pengecualiannya pasti ada. perlu juga di kemukakan bahwa tidak semua putusan yang mempunyai kekuatan pasti harus dijalankan. tepat dan benar. disamping tugas pokoknya sebagai Hakim. Lembaga “dapat dilaksanakan terlebih dahulu” tidak diperlukan. Dalam menyusun Hukum Acara Perdata Nasional kita hendaknya masalah-masalah khusus yang dalam praktek mendatangkan banyak kesulitan seperti masalah-masalah yang telah dikemukakan di atas diperhatikan dengan seksama dan pasal-pasal yang bersangkutan hendaknya disusun sedemikian rupa. karena itu Lembaga “dapat dilaksanakan terlebih dahulu”.H. masih diperlukan.

Ada pun yang memberikan kekuatan eksekutorial pada putusan Pengadilan terletak pada kepada putusan yang berbuyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pihak yang menang dapat memohon eksekusi pada Pengadilan yang memutus perkara tersebut untuk melaksanakan putusan tersebut secara paksa (execution force). bahwa pasal 209 sampai dengan pasal 222 H. Jika pihak yang dikalahkan itu tidak mau melaksanakan putusan itu dengan sukarela maka baru pelaksaannya baru dimulai.I. Di samping itu putusan Pengadilan yang mempunyai titel eksekutorial adalah putusan yang bersifat atau yang mengandung amar “condemnatoir”. yaitu mengundang perintah kepada suatu pihak untuk melakukan suatu perbuatan. DEFINISI EKSEKUSI Eksekusi adalah hal menjalankan putusan Pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap.R. dibekukan.R. akan tetapi pasal pasal tersebut berdasar surat edaran Mahkamah Agung No. Cara melaksanakan putusan Hakim diatur dalam pasal 195 sampai dengan pasal 208 H. Putusan Pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang mempunyai kekuatan eksekutorial.yang bersifat condemnatoir. sesungguhna juga mengatur perihal cara pelaksaan putusan. atau juga pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan pengosongan benda tetap. Putusan Pengadilan yang dieksekusi adalah putusan Pengadilan yang mengandung perintah kepada salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang. MA berpendapat bahwa sandera bertentangan dengan salah satu sila dasar Negara Indonesia yaitu Sila Peri Kemanusiaan. Putusan dilaksanakan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri yang mula mula mengutus perkara tersebut. 2.I. artinya tidak diberlakukan dalam praktek . pelaksaan dimulai dengan menegur pihakyang kalah untuk dalam delapan hari memenuhi putusan tersebut dengan sukarela. sedangkan putusan Pengadilan yang bersifat deklaratoir dan constitutif tidak dilaksanakan eksekusi karena tidak memerlukan eksekusi dalam menjalankannya. sedangkan pihak yang kalah tidak mau melaksanakan putusan itu secara sukarela sehingga memerlukan upaya paksa dari Pengadilan untuk melaksanakannya. Menurut Sudikno Mertokusumo (1988 : 201) eksekusi pada hakekatnya tidak lain ialah realisasi daripada kewajiban pihak yang kalah untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan Pengadilan tersebut. 20 . 2/1964 tertanggal 1 Desember 1975. sehubungan dengan hal ini dikemukakan. kususnya perihal sandera .

Eksekusi sebagaiamana yang diatur dalam pasal 196 H. 2. maksudnya tidak bisa lagi disengketakan oleh pihak-pihakyang berperkara. Sifat dari putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap adalah litis finiri opperte. Pelaksanaan putusan Pengadilan secara paksa dilaksanakan dengan bantuan pihak kepolisian sesuai dengan Pasal 200 ayat (1) HIR. Putusan mengandung amar Condemnatoir Putusan yang bersifat Condemnatoir biasanya dilahirkan dari perkara yang bersifat contensius dengan proses pemeriksaan secara contradictoir.R. dan dengan cara paksa melalui proses eksekusi oleh Pengadilan. dan Pasal 207 R. Eksekusi sebagaimana yang diatur dalam pasal 225 H. dimana seorang hukum membayar sejumlah uang.Bg maka ada dua cara menyelesaikan pelaksanaan putusan yaitu dengan cara sukarela karena pihak yang kalah dengan sukarela melaksanakan putusan tersebut. yaitu 1. Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap mempunyai kekuatan mengikat para pihak-pihak yang berperkara dan ahli waris serta pihak- pihak yang mengambil manfaat atau mendapat hak dari mereka.R. MACAM MACAM EKSEKUSI Ada tiga(3) macam eksekusi yang dikenal oleh Hukum Acara Perdata. c. 21 . yakni sebagai berikut : a. bisa juga dalam bentuk putusan tingkat banding dan kasasi. Sifat putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap adalah tidak ada lagi upaya hukum.Dalam pelaksanaan eksekusi dikenal beberapa asas yang harus dipegangi oleh pihak Pengadilan. dalam bentuk putusan tingkat pertama. Para pihak yang berperkara terdiri dari para pihak Penggugat dan Tergugat yang bersifat partai. Putusan tidak dijalankan secara sukarela. Putusan Pengadilan harus sudah berkekuatan hukum tetap. Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dapat dipaksa pemenuhannya melalui Pengadilan jika pihak yang kalah tidak mau melaksanakannya secara sukarela. dimana seorang dihukum untuk melaksanakan suatu perbuatan.I. b.I. Sesuai dengan ketentuan Pasal 196 HIR. dann seterusnya. 3.

I. Perlu di catat. Tergugat lalu dihukum untuk membayar sejumlah uang sebagai pengganti dari pada pekerjaan yang harus ia lakukan berdasar putusan hakim yang menilai besarnya penggantian ini adalah Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan.R. Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek. Dalam praktik dengan berdasarkan ketentuan pasal 197 ayat (1) H.R yang dapat dilakukan adalah menilai perbuatan yang harus dilakukan oleh tergugat dalam jumlah uang. yang dalam praktek bnyak dilakukan akan tetapi tidak diatur dalam H. dimana seseorang dihukum untuk membayar sejumlah uang. akan tetapi putusan 12 Retnowulan Sutantio & Iskandar Oeripkartawinata. bahwa bukan putusan Pengadilan Negeri saja. Bandung.12 1. hal 129. kemudian proses eksekusi dimulai dari barang-barang bergerak dan jika barang- barang bergerak tidak ada atau tidak mencukupi barulah dilakukan terhadap barang-barang yang tidak bergerak (barang tetap). Pelaksanaan melalui penjualan lelang terhadap berang-barang milik pihak yang kalah perkara. 22 . 2009. Dengan demikian. 3.R dan seterusnya.I.R/pasal 208 RBg. dan Ketua Pengadilan Negeri mengganti putusan tersebut dengan putusan lain.I. putusan yang semula ditarik kembali. Menurut pasal 225 H. sampai mencukupi jumlah uang yang harus dibayar sebagaimana ditentukan dalam putusan hakim tersebut ditambah biaya-biaya pengeluaran untuk pelaksanaan eksekusi tersebut. maka barang-barang pihak yang kalah diletakkan sita eksekusi (executoir beslag) terlebih dahulu sebelum penjualan lelang dilakukan. Eksekusi Ril. Apabila seseorang dihukum melakukan suatu perbuatan tersebut dalam waktu yang ditentukan maka pihak yang dimenangkan dalam putusan itu dapat meminta kepada Ketua Pengadilan Negeri agar perbuatan yang sedianya dilakukan/dilaksanakan oleh pihak yang kalah perkara dinilai dengan sejumlah uang. Eksekusi yang diatur dalam pasal 196 H. Eksekusi yang diatur dalam pasal 225 H. Dengan lain perkataan pelaksanaan perbuatan itu dilakukan oleh sejumlah uang. atau dengan lain perkataan. 2. maka dapatlah dianggap bahwa putusan hakim yang semula tidak berlaku lagi. Mandar Maju.R dimana seseorang dihukum untuk melaksanakan suatu perbuatan.I.I.

R. Dalam praktik maka ketiga macam eksekusi ini kerap dilaksanakan. 3. Dengan demikian dapat dikatakan lebih detail berdasarkan ketentuan pasal 1033 Rv bahwa yang harus meninggalkan barang tidak bergerak yang dikosongkan itu adalah pihak yang dikalahkan beserta sanak saudaranya dan bukan pihak penyewa rumah oleh karena dalam sebuah rumah disita dan atasnya telah diletakkan perjanjian sewa menyewa sebelum rumah itu disita maka pihak penyewa dilindungi oleh asas koop breekst geen huur yakni asas jual beli tidak menghapuskan hubungan sewa menyewa sebagaimana ditentukan pasal 1576 KUH Perdata. Pada dasarnya suatu eksekusi itu dimulai adanya permohonan eksekusi dengan pemohon eksekusi membayar biaya eksekusi kepada petugas urusan kepaniteraan perdata pada Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Jika putusan pengadilan yang memerintahkan pengkosongan barang tidak bergerak tidak dipenuhi oleh orang yang dihukum. jadi tidak dalam sidang terbuka. Kemudian prosedural administrasi berikutnya akan diregister pada buku permohonan eksekusi (KI-A. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung pun dapat diperlakukan demikian.I.8) dan lalu diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri guna mendapatkan fiat eksekusi. barang tidak bergerak itu dikosongkan oleh orang yang dihukum serta keluarganya dan segala barang kepunyaannya. yang diatur dalam praktek banyak dilakukan akan tetapi tidak diatur dalam H. tegasnya putusan yang sedang dilaksanakan itu yang lebih menarik perhatian adalah bahwa perubahan putusan ini dilakukan atas kebijaksanaan Ketua Pengadilan Negeri yang sedang memimpin eksekusi tersebut. Apabila pada waktu "aanmaning" itu para pihak hadir maka kepada pihak lawan yang dikalahkan diberi waktu 8 (delapan) hari sejak tanggal teguran 23 . Buku Induk Keuangan Biaya Eksekusi (KI-A.5). Setelah Ketua Pengadilan Negeri mempelajari permohonan itu dan yakin tidak bertentangan dengan undang-undang maka Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan "penetapan" berisi perintah agar Jurusita Pengadilan memanggil pihak lawan yang dikalahkan atau kedua belah pihak berperkara untuk diberi teguran (aanmaning) supaya pihak lawan yang dikalahkan melaksanakan putusan hakim. maka Ketua akan memerintahkan dengan surat kepada Jurusita supaya dengan bantuan alat kekuasaan negara. Eksekusi Riil.

html 24 . Setelah waktu tersebut terlampaui dan pihak termihon eksekusi belum memenuhi amar putusan hakim maka dengan ketetapan Ketua Pengadilan Negeri selanjutnya memerintahkan Panitera/Jurusita dengan disertai dua orang saksi yang dipandang mampu dan cakap untuk melaksanakan sita eksekusi terhadap barang-barang/tanah milik termohon eksekusi dan semua ini dibuat pula berita acaranya.13 13 http://legal-community.id/2011/08/ruang-lingkup-eksekusi-bidang-perdata. tersebut memenuhi isi putusan.co.blogspot.