You are on page 1of 42

Case Report Session

Hari/ tanggal: Senin/ 14 Juni 2017

NASKAH PSIKIATRI
F20.0 Skizofrenia Paranoid

Nama Dokter Muda : Fajar Satria Pratama P 2107 A
Mitra Nofembri Yenti P 2110 A
Nama Perseptor : dr. Yaslinda Yaunin, Sp. KJ

BAGIAN PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP M. DJAMIL – RSJ HB SAANIN
PADANG
2017

BAB 1

0

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai suatu gangguan psikotik,

banyak tokoh psikiatri dan neurologi yang berperan. Pada awalnya, Benedict Morel

(1809-1926), seorang dokter psikiatrik dari Perancis, menggunakan istilah dẻmence

prẻcoce untuk pasien dengan penyakit yang dimulai pada masa remaja yang mengalami

perburukan. Kemudian, Emil Kreaplin (1856-1926) yang menerjemahkan istilah

dẻmence prẻcoce menjadi demensia prekoks yaitu suatu istilah yang menekankan

proses kognitif (demensia) dan awitan dini (prekoks) yang nyata. Istilah skizofrenia itu

sendiri mulai dicetuskan oleh Eugen Bleuler (1857-1939) sebagai pengganti demensia

prekoks. Bleuler mengidentifikasi simptom dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan

4A, antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.1
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan psikotik yang paling sering terjadi.

Gangguan ini dapat terjadi baik pada wanita (usia awitan 25 - 35 tahun) maupun pria

(usia awitan 15 - 25 tahun). Skizofrenia sendiri adalah istilah psikosis yang

menggambarkan mispersepsi pikiran dan persepsi yang timbul dari pikiran/imajinasi

pasien sebagai kenyataan, dan mencakup waham dan halusinasi. Seorang pasien dapat

dikatakan pasien skizofrenia bila manifestasi klinis yang terjadi sudah selama 1 (satu)

bulan (berdasarkan PPDJI-III).1
Gejala yang ditimbulkan pada pasien skizofrenia mencakup beberapa fungsi,

seperti pada gangguan persepsi (halusinasi), keyakinan yang salah (waham), penurunan

dari proses berpikir dan berbicara (alogia), gangguan aktivitas motorik (katatonik atau

hyperactive behavior), gangguan dari pengungkapan emosi (afek tumpul), tidak mampu

merasakan kesenangan (anhedonia sehingga menyebabkan afek datar). Akan tetapi,

kesadaran dan kemampuan intelektual pada pasien masih dapat dipertahankan,

meskipun terjadi defisit kognitif.2

1

Terdapat beberapa klasifikasi atau subtipe skizofrenia yang diklasifikasikan oleh

Emil Kraepelin (1856-1926), salah satunya adalah skizofrenia paranoid. Skizofrenia

paranoid merupakan subtipe pada skizofrenia yang paling umum, dimana waham dan

halusinasi auditorik jelas terlihat. Skizofrenia bersifat kronis dan membutuhkan waktu

yang lama untuk menghilangkan gejala. Sekitar 90% dengan episode psikotik pertama,

sehat dalam waktu satu tahun, 80% mengalami episode selanjutnya dalam lima tahun,

dan 10% meninggal karena bunuh diri.1

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, etiologi, gambaran klinis, diagnosis,

penatalaksanaan, dan prognosis skizofrenia paranoid.

1.3 Metode Penulisan

Metode yang dipakai dalam penulisan case ini berupa tinjauan pustaka yang

merujuk pada berbagi literatur

1.4 Tujuan Penulisan

Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang

definisi, etiologi, gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan prognosis

skizofrenia paranoid.

2

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, “schizen” yang berarti “terpisah” atau

“pecah”, dan “phren” yang artinya “jiwa”. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau

ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Skizofrenia merupakan suatu

sindrom psikotik kronis yang ditandai oleh gangguan pikiran dan persepsi, afek tumpul,

anhedonia, deteriorasi, serta dapat ditemukan uji kognitif yang buruk.2
Skizofrenia adalah istilah psikosis yang menggambarkan mispersepsi pikiran dan

persepsi yang timbul dari pikiran/imajinasi pasien sebagai kenyataan, dan mencakup

waham dan halusinasi. Emil Kraepelin membagi skizofrenia dalam beberapa jenis,

menurut gejala utama yang terdapat pada pasien, salah satunya adalah skizofrenia

paranoid.2 Skizofrenia paranoid merupakan subtipe yang paling umum (sering ditemui)

dan paling stabil, dimana waham dan halusinasi auditorik jelas terlihat. Pada pasien

skizofrenia paranoid, pasien mungkin tidak tampak sakit jiwa sampai muncul gejala-

gejala paranoid.3
2.2 Sejarah
Besarnya masalah klinis skizofrenia, secara terus-menerus telah menarik

perhatian tokoh-tokoh utama psikiatri dan neurologi sepanjang sejarah gangguan ini.

Tokoh-tokoh tersebut, yaitu 1,4:
 Benedict Morel (1809-1926), seorang dokter psikiatrik dari Perancis,

menggunakan istilah dẻmence prẻcoce untuk pasien dengan penyakit yang

dimulai pada masa remaja yang mengalami perburukan.
 Karl Ludwig Kahlbaum (1828-1899) menggambarkan gejala katatonia
 Ewold Hacker (1843-1909) menulis mengenai perilaku aneh atau kacau (bizzzare)

pada pasien dengan hebefrenia.
 Emil Kraepelin (1856-1926) merupakan seorang ahli kedokteran jiwa di kota

Munich (Jerman) dan ia mengumpulkan gejala-gejala serta sindrom,

menggolongkannya ke dalam satu kesatuan dan menerjemahkan istilah dẻmence

3

khususnya kelonggaran asosiasi. Jadi terdapat empat A dari Bleuler yang terdiri dari asosiasi. Skizofrenia yang menyerang kurang lebih 1 persen 4 . Pasien dengan demesia prekoks digambarkan memiliki perjalanan penyakit yang memburuk dalam jangka waktu lama dan gejala klinis umum berupa halusinasi dan waham. dan perbuatan (schizos = pecah belah atau bercabang. termasuk suatu gangguan asosiasi. Penderita digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Pada tahun 1911.3 Epidemiologi Skizofrenia ditemukan pada semua masyarakat dan area geografis dan angka insidens serta prevalensinya secara kasar merata di seluruh dunia. Gejala fundamental lainnya adalah gangguan afektif.  Eugen Bleuler (1857-1939).000 dengan beberapa variasi geografik. yaitu jiwa yang terpecah-belah. phren = jiwa). autisme. autisme dan ambivalensi. afek. Eugen Bleuler seorang psikiatri dari swiss mengajukan istilah “skizofrenia” dan istilah tersebut menggantikan “demensia prekoks” di dalam literatur. Dimana. prẻcoce dari Morel menjadi demensia prekoks. yang termasuk halusinasi dan waham. adanya keretakan atau disharmoni antara proses berpikir.5 sampai 5. Bleuler menggambarkan gejala fundamental (atau primer) spesifik untuk skizofrenia. gejala yang telah menjadi bagian penting dari pengertian Kraepelin tentang gangguan. 2. Menurut DSM-IV- TR. suatu istilah yang menekankan proses kognitif atau kemunduran inteligensi (demensia) dan awitan dini atau sebelum waktunya (prekoks) yang nyata dari gangguan ini.0 per 10. 2 Emil Kraepelin membagi skizofrenia dalam beberapa jenis. dan ambivalensi. Bleuler juga menggambarkan gejala pelengkap (sekunder). demensia prekoks terkait dengan konsep saat ini tentang skizofrenia. karena nama ini dengan tepat sekali menonjolkan gejala utama penyakit ini. perasaan. insidensi tahunan skizofrenia berkisar antara 0.

5 2. dan berkaitan dengan gejala positif dari skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya neurotransmiter lain termasuk serotonin.7 per mil. Namun. Awitan skizofrenia di bawah usia 10 tahun atau di atas usia 60 tahun sangat jarang. dan lingkungan yang secara khusus mempengaruhi diri seseorang sehingga dapat menyebabkan berkembangnya gejala skizofrenia. dan mengenai orang dari semua kelas sosial. Dimana ketiga faktor tersebut saling berpengaruh secara dinamis. psikososial. belum ditemukan etiologi pasti penyebab skizofrenia. norepinefrin. Untuk Sumatera Barat prevalensi skizofrenia tahun 2013 sebesar 1.7 per mil. dan untuk wanita usia puncak onsetnya adalah 25 sampai 35 tahun.3. b. Diatesis-Stres Model Teori ini menggabungkan antara faktor biologis.9 per mil. Faktor Biologis Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan di bagian kortikal otak.3: a. berlangsung seumur hidup. skizofrenia tidak hanya disebabkan oleh satu etiologi. Hipotesis terjadinya skizofrenia adalah1. DI Yogyakarta dan Aceh memiliki prevalensi tertinggi yaitu 2.7 per mil sedangkan Kalimantan Barat memiliki prevalensi terendah yaitu0. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun. melainkan gabungan antara berbagai faktor yang dapat mendorong munculnya gejala. biasanya bermula di bawah usia 25 tahun. Laki-laki memiliki onset skizofrenia yang lebih awal daripada wanita.4 Menurut hasil analisis yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2016 terdapat sekitar 21 juta orang menderita skizofrenia 3.populasi. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) prevalensi skizofrenia di Indonesia adalah 1. 5 .4 Etiologi Sampai saat ini.

d. pada saudara kandung 8% dan pada anak 12% apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia. 2. Fase Prodromal Fase prodromal ditandai dengan deteriorasi yang jelas dalam fungsi kehidupan. yaitu3: a. terutama pada penderita kronis skizofrenia.5 Perjalanan Gangguan Skizofrenia Perjalanan berkembangnya skizofrenia sangatlah beragam pada setiap kasus. Genetika Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Selain perubahan yang sifatnya neurokimiawi. serta mencakup paling sedikit dua gejala dari kriteria A pada kriteria diagnosis skizofrenia. pada orang tua resiko 5%. atropi koteks atau atropi otak kecil (cerebellum). penelitian menggunakan CT Scan ternyata ditemukan perubahan anatomi otak seperti pelebaran lateral ventrikel.3. yaitu ketika seorang individu mulai menarik diri secara sosial dari lingkungannya. konflik dan frustasi dalam lingkungan1. walaupun anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir. Faktor Psikososial Pada faktor ini menandakan adanya tekanan psikososial yang terjadi pada orang tertentu yang bisa memicu terjadinya skizofrenia. sedangkan untuk kembar dizigot sebesar 12% . secara umum melewati tiga fase utama. Resiko masyarakat umum 1%. anak dari kedua orang tua skizofrenia 40%. Namun. dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau akibat gangguan penggunaan zat. Awal munculnya skizofrenia dapat terjadi setelah melewati suatu periode yang sangat panjang. 6 . sebelum fase aktif gejala gangguan. Pada kembar monozigot 47%. hubungan intrapersonal. c. seperti permasalahan keluarga.glutamat dan GABA.

Individu yang mengalami fase prodromal dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bertahun-tahun. Individu dengan fase prodromal singkat. sebelum gejala lain yang memenuhi kriteria untuk menegakkan diagnosis skizorenia muncul. 2. norepinefrin. Oleh karena itu.6 Patofisiologi Ketidakseimbangan yang terjadi pada neurotransmiter juga diidentifikasi sebagai penyebab skizofrenia. beberapa pasien skizofrenia mengalami kekambuhan hingga lebih dari lima kali. Fase Aktif Gejala Fase aktif gejala ditandai dengan munculnya gejala-gejala skizofrenia secara jelas. Ketidakseimbangan terjadi antara lain pada dopamin yang mengalami peningkatan dalam aktivitasnya. Selain itu.8. 7 . Pada kriteria diagnosis skizofrenia yang bersifat menetap dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau gangguan penggunaan zat. b. Sebagian besar penderita gangguan skizofrenia memiliki kelainan pada kemampuannya untuk melihat realitas dan kesulitan dalam mencapai insight. Fase Residual Fase residual terjadi setelah fase aktif gejala paling sedikit terdapat dua gejala A dari kriteria. tantangan terapi saat ini adalah untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kekambuhan. Dalam perjalanan gangguannya. dan asam amio gamma-aminobutyric acid (GABA) yang pada akhirnya juga mengakibatkan peningkatkan dopaminergik. c. Sebagai akibatnya episode psikosis dapat ditandai oleh adanya kesenjangan yang semakin besar antara individu dengan lingkungan sosialnya. Neuroanatomi dari jalur neuronal dopamin pada otak dapat menjelaskan gejala-gejala skizofrenia1. terjadi juga penurunan pada serotonin. perkembangan gejala gangguannya lebih jelas terlihat daripada individu yang mengalami fase prodromal panjang.

Hiperaktivitas pada jalur mesolimbik akan menyebabkan gangguan berupa gejala positif seperti waham dan halusinasi. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahl’s Essential Psychopharmacology. Gambar 2. Jalur Mesolimbik Jalur ini berproyeksi dari area midbrain ventral tegmental ke batang otak menuju nucleus akumbens di ventral striatum. yaitu: a. 3rd Edition.1. efek viseral automatis. Sumber : Psychosis and Schizophrenia. Page 26. Terdapat lima jalur dopamin dalam otak. Terdapat 5 (lima) jalur dopamin pada otak. 8 . Jalur ini memiliki fungsi berhubungan dengan memori. dan perilaku emosional. indera pembau.

Hipofungsi pada jalur mesokortikal akan menyebabkan gangguan berupa gejala negatif dan kognitif pada skizofrenia. Jalur Mesokortikal Jalur ini berproyeksi dari daerah tegmental ventral ke korteks prefrontal. menahan diri. kesadaran sosial. Page 27. dan aktifitas kognisi. Jalur mesokortical dopamin pada otak 9 . Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahl’s Essential Psychopharmacology. Jalur mesolimbik dopamin pada otak yang menyebabkan gejala positif. Berfungsi pada insight.3. Sumber : Psychosis and Schizophrenia. 3rd Edition. b. Jalur mesokortikal terdiri dari mediasi gejala kognitif (dorsolateral prefrontal cortex / DLPFC ) dan gejala afektif (ventromedial prefrontal cortex / VMPFC) skizofrenia.2. Gambar 2. Gambar 2. penilaian.

gairah seksual. Page 29. d. Gambar 2. Jalur Nigrostriatal Sistem nigrostriatal mengandung sekitar 80% dari dopamin otak. Sumber : 12Psychosis and Schizophrenia. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahl’s Essential Psychopharmacology. haus. pencernaan. c. fungsi metabolisme. 3rd Edition. Jalur ini berfungsi menginervasi sistem motorik dan ekstrapiramidal. Obat. Jalur Tuberoinfundibular Organisasi dalam hipotalamus dan memproyeksikan pada anterior glandula pituitari.obat antipsikotik mempunyai efek samping pada fungsi ini dimana terdapat gangguan endokrin. Jalur nigrostriatal dopamin pada otak. menimbulkan rasa lapar.4. kontrol temperatur. 10 . Dopamin pada jalur nigrostriatal berhubungan dengan efek neurologis (Ekstrapiramidal / EPS) yang disebabkan oleh obat-obatan antipsikotik tipikal / APG-I (Dopamin D2 antagonis). Jalur ini berproyeksi dari substansia nigra ke basal ganglia atau striatum (kauda dan putamen). dan ritme sirkardian. Fungsi dopamin disini mengambil andil dalam fungsi endokrin.

fungsinya masih belum diketahui. nukleus parabrachial lateral. ventral mesencephalon. Hipotesis ini disokong dari hasil observasi pada beberapa obat antipsikotik yang digunakan untuk mengobati skizofrenia dimana berhubungan dengan kemampuannya menghambat dopamin (D2) reseptor. termasuk periaqueductal gray. yang berproyeksi ke thalamus. hypothalamus nukleus. e. 11 . Gambar 2. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahl’s Essential Psychopharmacology.5. Page 32. 3rd Edition. Jalur tuberoinfundibular dopamin pada otak. Sumber : Psychosis and Schizophrenia. Namun. Hipotesa ini secara sederhana menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan karena terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik.12 Rumusan yang paling sederhana untuk mengungkapkan patofisiologi dari skizofrenia adalah hipotesa dopamin. Jalur Thalamus Jalur kelima berasal dari berbagai tempat.

7 Sumber : Psychosis and Schizophrenia. misalnya perilaku dan pikiran eksentrik (fase prodormal)4 12 .6 Hipotesis dopamin pada skizofrenia. Page 34. 3rd Edition. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahl’s Essential Psychopharmacology. Gambar 2. 2.7 Manifestasi Klinis  Dapat kehilangan pekerjaan dan teman akibat tidak berminat dan tidak mampu berbuat sesuatu atau karena sikap yang aneh4  Pembicaraan dan pemikiran dapat samar – samar sehingga kadang – kadang tidak dapat dimenegerti4  Dapat mempunyai keyakinan yang salah dan tidak dapat dikoreksi4  Penampilan dan kebiasaan – kebiasaan penderita dapat mengalami kemunduran serta afek penderita terlihat tumpul4  Sebagian besar penderita uji kognitif dapat buruk4  Penderita dapat mengalami anhedonia yaitu ketidakmampuan rasa senang4  Penderita dapat juga mengalami deteriorasi yaitu perburukan yang terjadi secara berangsur – angsur4  Episode pertama psikotik sering didahului oleh suatu periode tertentu.

biasanya bersifat mistik atau mukjizat. atau “Delusion of passivity” Waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan tertentu dari luar. tindakan. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :  “Thought echo“ Isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras). atau penginderaan khusus) “Delusional perception” Pengalaman inderawi yang tak wajar. atau “Thought insertion or withdrawal” Isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal). atau  Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh 13 . sangat khas bagi dirinya. yang bermakna. dan “Thought broadcasting” Isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.  Halusinasi auditorik:  Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien. walaupun isi sama. atau “Delusion of influence” Waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. namun kualitasnya berbeda. atau  Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara).  “Delusion of control” Waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. (tentang “dirinya“ = secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh atau anggota gerak atau ke pikiran.8 Diagnosis Pedoman diagnostik skizofrenia menurut ppdgj-III:6 a.  Dapat ditemukan kepribadian prepsikotik seperti penarikan diri dan terlalu kaku (rigid) secara sosial. sangat pemalu dan sering mengalami kesulitan di sekolah meskipun IQ nya normal4 2. dan isi pikiran ulangan.

posisi tubuh tertentu (posturing). sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude). Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :  Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja. atau fleksibilitas cerea. atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca. DIAGNOSIS SKIZOFRENIA PARANOID : 14 . seperti keadaan gaduh gelisah (excitement). seperti sangat apatis. biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. dan penarikan diri secara sosial. yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil. tidak berbuat sesuatu.  Gejala–gejala “negatif”. atau yang apabila terjadi setiap hari selama berminggu – minggu atau berbulan – bulan terus menerus. c. yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. negativisme.  Perilaku katatonik. atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain). ataupun disertai oleh ide – ide berlebihan (over loaded ideas) yang menetap. mutisme dan stupor. d. bermanifestasi sebagai hilangnya minat.  Waham–waham menetap jenis lainnya. b. apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas. dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar. tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu. Adanya gejala – gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal).  Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation). hidup tak bertujuan. bicara yang jarang. Harus ada suatu perbuatan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour).

15 . Terapi biologik1.  Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa. Obat ini dibagi dalam dua kelompok. 2.  Gangguan afektif. atau lain – lain perasaan tubuh. atau bersifat seksual.3 Pada pasien dengan skizofreniform. atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling). adalah yang paling khas. dorongan kehendak dan pembicaraan. gejalanya sama dengan skizofrenia.  Waham dapat berupa hampir setiap jenis.  Suara – suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah. atau “passivity” (delusion of passivity). maka hal itu adalah gangguan skizoafektif.3 2. akan kembali ke fungsi normal ketika gangguan hilang. mendengung (humming).10 Penatalaksanaan a. dipengaruhi (deusion of influence). dan keyakinan dikejar – kejar beraneka ragam. Sebagai tambahan :  Halusinasi dan/atau waham harus menonjol. Obat APG-I disebut juga antipsikotika tipikal sedangkan obat APG-II disebut juga antipsikotika atipikal.4. tetapi waham dikendalikan (delusion of control). tetapi kurang dari 6 bulan. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia b. yaitu dopamine receptor antagonist (DRA) atau antipsikotika generasi I (APG-I) dan serotonin-dopamine antagonist (SDA) atau antipsikotika generasi II (APG-II). yang mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan afektif (gangguan mood). Pada gangguan skizofreniform. atau bunyi tawa (laughing). a. serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol. namun berlangsung sekurang- kurangnya 1 bulan.7 Skizofrenia diobati dengan antipsikotika. halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. Bila suatu sindrom manik atau depresif terjadi bersamaan dengan gejala utama skizofrenia.9 Diagnosis banding Diagnosis banding pada pasien skizofrenia paranoid adalah gangguan psikotik lain. dapat berupa gangguan skizofreniform dan gangguan skizoafektif. berdasarkan mekanisme kerjanya.

Chlorpromazine Promactil 200 – 1000 50 – 400 .Perphenazine Trilafon 12 – 64 8 – 24 . Tabel 2.Fluphenazine *Modecate decaanoate inj.15 Diphenylbutylpiperidines .Haloperidol Haldol 5 . 16 . . Blokader reseptor D2 ini cenderung menyebabkan symptom ekstrapiramidal walaupun secara umum golongan atipikal mempunyai resiko efek samping neurologik yang lebih rendah (dibandingkan antipsikotik tipikal).60 4 – 30 Butyrophenones .1 Jenis – jenis obat APG-I Nama Generik Nama Dosis Akut Dosis Pemeliharaan Dagang (mg/hari) (mg/hari) Phenotiazine .Halopeidole **Haldol decanoate decanoate * dosis 12.10 2 – 10 Long-acting injectable preparation .Trifluoperazine Stelazine 10 .2 Jenis – jenis obat APG – II Nama Obat Dosis anjuran per hari Risperidone 2 – 8 mg Olanzapine 10 – 20 mg Quentiapine 200 – 800 mg Clozapin 150 – 450 mg Paliperidone 6 mg Aripiprazole 10 – 30 mg2 Dasar pemilihan suatu jenis obat antipsikotik adalah atas pertimbangan manfaat dan resiko secara individual yang mencakup farmakokinetik dan farmakodinamik.5 mg setiap 1 – 4 minggu ** dosis 25 – 200 setiap 2 – 4 minggu Tabel 2.20 1 .Pimozide Orap 2 . Semua antipsikotik yang saat ini tersedia (tipikal maupun atipikal) adalah bersifat antagonis reseptor dopamin D2 dalam mesokortikal.Thioridazine Melleril 200 – 800 50 – 400 .

2. Akibat kurang baik lainnya seperti dislipidemia. riwayat premorbid. Meskipun demikian tetap harus dipertimbangkan bahwa efek samping lain yang tidak diinginkan dari golongan atipikal tersebut yaitu peningkatan berat badan. dan psikoterapi individual.3. Termasuk dalam terapi psikososial adalah terapi perilaku. serta tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat). dan dukungan dari keluarga. seksual. Hal ini dapat disimpulkan melalui tabel berikut. hiperglikemia. Beberapa pasien skizofrenia yang tidak berespons dengan obat – obatan dapat membaik dengan terapi ini. Psikoterapi Terapi psikososial dimaksudkan agar pasien skizofrenia mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu merawat diri.1 Prognosis Baik Prognosis Buruk Onset lambat Onset muda Faktor pencetus yang jelas Tidak ada faktor pencetus Onset akut Onset tidak jelas Riwayat sosial. terapi kelompok. c. ketoasidosis diabetika. diabetes melitus.11 Prognosis Penilaian terhadap prognosis dapat dilakukan berdasarkan onset gangguan. hiperprolaktinemia. autistic gangguan depresif) 17 . terapi berorientasi keluarga. dan pekerjaan pramorbid yang baik pramorbid yang buruk Gejala gangguan mood (terutama Perilaku menarik diri. Antipsikotik golongan atipikal dengan efek samping neuromotorik relatif sedikit tersebut merupakan suatu kemauan terapi terhadap skizofrenia. Terapi Kejang Listrik Dapat juga bermanfaat untuk mengontrol dengan cepat beberapa psikosis akut. seksual. dan perubahan elektrokardiografi (EKG) serta resiko kanker payudara akibat hiperprolaktinemia juga telah dicatat pada penggunaan antipsikotik atipikal. Tabel 2. dan pekerjaan Riwayat sosial. Prognosis Baik dan Buruk dalam Skizofrenia. dan dislipidemia. faktor pencetus. mandiri. b.

atau janda/duda Riwayat keluarga gangguan mood Riwayat keluarga skizofrenia (tidak ada keluarga yang menderita skizofrenia) Sistem pendukung yang baik (terutama Sistem pendukung yang buruk untuk dari keluarga) untuk kesembuhan kesembuhan pasien pasien Gejala positif Gejala negative Jenis kelamin perempuan Tanda dan gejala neurologis Riwayat trauma perinatal Tidak ada remisi dalam tiga tahun Sering timbul relaps Riwayat penyerangan Sumber : Skizofrenia. Edisi 2.Buku Ajar Psikiatri Klinis.Menikah dan telah berkeluarga Tidak menikah. Kaplan & Sadock . Hal 156. 18 . bercerai.

AJ Nama Panggilan : Toni Jenis kelamin : Laki-laki Tempat & tanggal lahir/ Umur : Pesisir selatan. IDENTITAS KETERANGAN PRIBADI PASIEN Nama (inisial) : Tn. Pesisir Selatan Nama. Kecamatan Ranah. Nagari Balai Selasa. RIWAYAT PSIKIATRI Keterangan/ anamnesis di bawah ini diperoleh dari (lingkari angka di bawah ini ) 1. Sendiri b. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan (lingkari pada huruf yang sesuai) a. Polisi 19 . 13 Februari 1984 / 33 tahun Status perkawinan : Belum Menikah Kewarganegaraan : Indonesia Suku bangsa : Minang Negeri Asal : Indonesia Agama : Islam Pendidikan : Tamat SMA Pekerjaan : Tidak ada Alamat : Taratak paneh. Keluarga c. No KTP keluarga terdekat di Padang (untuk pasien luar kota Padang) :- II. Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 7 Juni 2017 1. Alamat. BAB 3 LAPORAN KASUS I.

Keluhan Utama (Chief Complaint) Pasien gelisah dan mudah marah tanpa sebab sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit. sehingga pasien dibawa ke RS Jiwa HB. Pasien juga sering pergi dari rumah tanpa kabar dan pulang tiba-tiba dengan tujuan bepergian yang jauh dengan berjalan kaki. Kemudian. Tetapi. namun Pak Camat masih juga tidak mengindahkan permintaan pasien. Kemudian. dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya dan malah pasien tiba-tiba dipukuli oleh warga hingga menimbulkan luka pada tubuhnya. Pasien mengambil tindakan dengan melempar mobil Bapak Camat dengan menggunakan petasan dan juga batu. Pasien sering marah-marah tidak jelas sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku memiliki seekor harimau yang dibawa dari Ragunan. 4. Dan lain-lain 2. Bapak Camat tidak mengindahkan permintaan pasien untuk mengurus surat tersebut. padahal ayah pasien ini seorang camat juga dahulunya di Kecamatan Ranah Pesisir. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang Pasien merasa curiga terhadap warga di sekitar tempat tinggal pasien sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. pasien bertanya ke warga sekitar rumah pasien tentang harimau tersebut. Kemudian. Bapak Camat dan warga marah. Pasien merasa Pak Camat kurang ajar tidak mengindahkan permintaan seniornya dan pasien berkesimpulan Pak Camat merupakan pribadi yang buruk. d. Pasien merasa marah atas tindakan warga tersebut. 3. ayah pasien juga sudah berbicara dengan pak camat. koruptor dan tidak bermoral. harimau tersebut lari ke hutan dan pasien sudah mencarinya dan tidak bertemu keberadaan harimau tersebut. Sebab Utama Pasien melempar kaca mobil orang lain dengan menggunakan batu 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Menurut pengakuan pasien. Saanin oleh keluarga karena dianggap meresahkan warga. 20 . pasien meminta pihak kecamatan untuk membuatkan surat visum. Pesisir Selatan. hingga kaca mobil Pak Camat pecah. Jaksa/ Hakim e.

Pasien mengaku setelah menamatkan pendidikan SMA. yaitu tahun 2011. Suara tersebut membisikkan kata-kata “kapan aku mati. Pasien mengatakan memiliki bapak angkat di Jakarta dan mengambil Home Schooling untuk pendidikan SMA. pasien mengaku pada tahun 2006 mengikuti pendidikan 21 . Riwayat Gangguan Psikiatri Pasien sudah dirawat sebanyak 7 kali di RSJ Saanin Padang sejak tahun 2011 dan terakhir dirawat bulan Mei tahun 2017. Selain itu. Pasien juga merasa ada yang mengontrol atau mengawasi dirinya. pasien melempar kaca masjid dengan menggunakan batu sebagai wujud kekesalan terhadap imam tersebut. Pasien mengatakan bahwa pada saat itu ia menjadi masbuq saat shalat berjamaah di masjid. Ia dipukuli setelah memukul pundak imam. kapan aku mati” dan pertama kali terdengar saat pasien ziarah ke makam neneknya.Suara ini sudah didengarkan sejak awal masuk rumah sakit. Menurut pasien dirinya merupakan sebuah agen yang tergabung dalam tim yaitu tim pembela kebenaran yang memiliki misi dan selalu megawasi gerak-gerik pasien. Pada tahun 2013 pasien sering kabur dari rumah dan memecahkan kaca masjid. Riwayat Penyakit Sebelumnya a. yang merupakan kampung halaman pasien. pasien juga mendengar suara bisikan 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga pernah melihat bayangan putih satu minggu sebelum masuk rumah sakit. kemudian pasien hanya menyentuh pundak imam sebagai tanda ia adalah masbuq. Bayangan tersebut sudah pernah dilihat sebelumnya sejak awal masuk rumah sakit. Kemudian. Kemudian. pasien bisa menamatkan pendidikannya. 5. kemudian pasien mengaku melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia. Akan tetapi menurut pengakuan pasien imam menganggap pasien memukul temannya imam tersebut sehingga ia dibawa berobat ke rumah sakit. pasien pernah berkuliah Strata 1 di Universitas Bung Hatta pada tahun 2004 namun tidak selesai menamatkan pendidikannya. yaitu tahun 2011. Pasien juga mengaku pernah bersekolah di SMA di Ranah Pesisir. yaitu pada Fakultas Hukum melalui jalur undangan. ia dianggap aneh oleh orang disekitarnya.

tidak menimbulkan kecanduan. Pasien juga mengulang-ulang ingin dipindahkan ke Grogol agar bisa dipertemukan dengan Marshanda. Riwayat Penggunaan NAPZA Riwayat penggunaan alkohol ada sejak tahun 2004. dalam keadaan kencang kendaraan korban ditabrak oleh motor lainnya. pasien mengaku juga pernah mengalami kejang disertai dengan demam tinggi hal ini sudah dikonfirmasi keluarga yaitu pada usia 2 tahun. Pasien mengaku juga pernah ikutan balapan di jalan tol di Jakarta. sehingga mengakibatkan luka robek pada kepala nya. c. 5. beliau ingin menjadi sopir pribadi Marshanda. pasien mengikuti pendidikan pada sekolah balap di Jakarta. Setelah mengikuti pendidikan pasien mengaku pernah menjadi sopir pribadi seorang bos di Jakarta. Pasien juga mengaku setelah mengikuti pendidikan di Universitas Bung Hatta. Pasien memiliki cita-cita bertemu artis Marshanda. Pasien mengaku pernah menembak penjahat pada saat menjadi Brimob dengan menggunakan pistol yang berisi peluru kaliber 40. Riwayat Gangguan Medis Berdasarkan pengakuan dari pasien. b. yang menyebabkan si korban terpental ke jalan. Pasien mengalami trauma kepala dan dirawat di rumah sakit selama 15 hari. pasien mengaku ditempatkan pada bagian Brimob dan bertugas melatih anjing Bulldog. pasien memiliki riwayat trauma kepala karena kecelakaan motor pada tahun 2009 dan dirawat selama 15 hari.perwira TNI dan mendapatkan pangkat balok 1. Sekolah balap ini bertujuan untuk mendapatkan sertifikat agar bisa menjadi sopir pribadi. Riwayat keluarga a) Identitas orang tua/ pengganti IDENTITAS Orang tua/ Pengganti Keterangan Bapak Ibu Kewarganegaraan Indonesia Indonesia Suku bangsa Minangkabau Minangkabau Agama Islam Islam Pendidikan Pekerjaan Wiraswasta Ibu Rumah Tangga Umur 58 tahun 22 . frekuensi tidak menentu. Pada saat pasien kecil.

Pemarah ( . Pencuriga ( . Pecemas ( .). Dramatisasi ( . Tak suka Bergaul ( .). Peminum ( .).)./kurang/tak peduli) 23 . Penyedih ( .).). Penakut ( .).) Ibu ( Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan ) Pemalas ( . Mudah tersinggung ( . Penjudi ( .).). Pencemburu ( .).Lk/Pr (25 tahun) e) Gambaran sikap/ perilaku masing-masing saudara pasien dan hubungan pasien terhadap masing-masing saudara tersebut. Perfeksionis ( .)**. Pemarah ( + ). Perokok berat ( .Mudah tersinggung ( .). Pendiam ( .Alamat Sama dengan alamat pasien 55 tahun Hubungan pasien* Akrab Sama dengan Biasa alamat pasien Kurang Dan lain-lain Tak peduli Akrab :.). Perfeksionis ( . Biasa Kurang Tak peduli :- ` b) Sifat/ Perilaku Orang tua kandung Bapak (Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan) Pemalas ( .* 1. Penjudi ( .). hal yang dinyatakan serupa dengan yang dinyatakan pada gambaran sikap/ perilaku pada orang tua. Tak suka Bergaul ( .).). c) Saudara Jumlah bersaudara 4 orang dan pasien anak ke 2 d) Urutan bersaudara dan cantumkan usianya dalam tanda kurung untuk pasien sendiri lingkari nomornya.* Saudara Gambaran sikap dan perilaku Kualitas hubungan dengan ke saudara (akrab/ biasa.). Tak bertanggung jawab ( . Pemalu ( . Lk/pr ( 28 tahun) 4. Tak bertanggung jawab ( .).). Egois ( .). Perokok berat ( + ).Dramatisasi ( .).).). Pendiam ( . Egois ( . Lk/ Pr ( 33 tahun ) 3. Pemalu ( . Peminum ( .).).). Penakut ( .). Pencemburu ( . Banyak teman ( + ). Pecemas ( . Lk/pr(35 tahun ) 2.). Penyedih ( .)**. Pencuriga ( .).).). Banyak teman ( .).).

Ibu pasien Biasa Akrab 3. . suka bergaul Kurang 3 Biasa. Penyakit keluarga jiwa kebiasaan fisik Bapak . Anak kandung ketiga Biasa Kurang 4 5 Anak kandung keempat Biasa Kurang Ket: untuk e) dan f) hanya diisi bila informan benar-benar mengetahuinya. Anak kandung pertama Biasa Kurang 4.) f) Orang lain yang tinggal di rumah pasien dengan gambaran sikap dan tingkah laku dan bagaimana pasien dengan mereka.s : Anggota Penyakit Kebiasaan. . - Ibu . . suka bergaul Kurang Ket: *) coret yang tidak perlu **) diisi dengan tanda ( + ) atau ( ./kurang/tak peduli) 1. Ayah pasien Kurang Kurang 2. suka bergaul Kurang 4 Biasa. g) Apakah ada riwayat penyakit jiwa. - Skema Pedegree Keterangan : : Pria : Pasien 24 . - Saudara 1 . . kebiasaan-kebiasaan dan penyakit fisik ( yang ada kaitannya dengan gangguan jiwa) pada anggota keluarga o. - Saudara 3 .* No Hubungan dengan pasien Gambaran sikap dan Kualitas hubungan tingkah laku (akrab/ biasa. 1 Biasa.

kondisi mental yang diderita si ibu )  Kesehatan Fisik : baik  Kesehatan Mental : baik .).). sampai usia 1 tahun  Usia mulai bicara : 1 tahun  Usia mulai jalan : 1 tahun  Sukar makan ( .).).).).. cemas perpisahan (.).). temper tantrum ( . : Wanita : Meninggal h) Riwayat tempat tinggal yang pernah didiami pasien: No Rumah tempat Keadaan rumah tinggal Tenang Cocok Nyaman Tidak nyaman 1. partus spontan ( + )  Pasien adalah anak yang direncanakan/ diinginkan (ya/tidak)  Jenis kelamin anak sesuai harapan (ya/tidak) b) Riwayat masa bayi dan kanak-kanak  Pertumbuhan Fisik : baik.). anoreksia nervosa ( . d) Toilet training Umur : 4 tahun Sikap orang tua:(memaksa/menghargai/membiarkan/memberikan arahan Perasaan anak untuk toilet training ini:biasa 25 . biasa. cemas terhadap orang asing sesuai umum ( . masturbasi (. gagap ( .).). night teror ( .).. misalnya: mengisap jari ( .). pika ( . mutisme selektif ( . dan lain-lain..).). kurang*  Minum ASI : ( + ). tik (. . gangguan hubungan ibu-anak ( . ngompol ( . Rumah sendiri Tenang Cocok Nyaman i) Dan lain-lain 7. pola tidur baik ( . Keadaan ibu sewaktu hamil (sebutkan penyakit-penyakit fisik dan atau kondisi. dan lain-lain.).). BAB di tempat tidur ( . bulimia ( . c) Simtom-simtom sehubungan dengan problem perilaku yang dijumpai pada masa kanak-kanak..Keadaan melahirkan :  Aterm (+ ). Gambaran seluruh faktor-faktor dan mental yang bersangkut paut dengan perkembangan kejiwaan pasien selama masa sebelum sakit (premorbid) yang meliputi : a) Riwayat sewaktu dalam kandungan dan dilahirkan.

). dan lain-lain. konflik dengan bawahan ( . pindah-pindah kerja ( .). menarik diri ( .). lari dari rumah ( . demam berlangsung lama ( .). trauma kapitis disertai hilangnya kesadaran ( -). kenakalan remaja ( . - Tingkah Laku (baik) (baik) ( baik ) h) Masa remaja: Fobia ( .).). kepuasan kerja(.kurang (menurut pasien) j) Percintaan. Kehidupan Seksual dan Rumah Tangga  Mimpi basah (sudah/ belum). gangguan tidur ( .). perasaan depresi ( . kejang-kejang ( + ). perokok berat ( .). gelisah ( . dan lain-lain. . f) Temperamen sewaktu anak-anak : pemalu ( .).).).). penggunaan obat terlarang (. ngompol ( . usia 14 tahun  Awal pengetahuan tentang seks 14 tahun.). pekerjaan yang pernah dilakukan sopir Konflik dalam pekerjaan : ( . sedang.). g) Masa Sekolah Perihal SD SMP SMA Umur 6 tahun 12 tahun 15 tahun Prestasi* Baik Baik Baik Sedang Sedang Sedang Kurang Kurang Kurang Aktifitas Sekolah* Baik Baik Baik Sedang Sedang Sedang Kurang Kurang Kurang Sikap Terhadap Teman * Baik Baik Baik Kurang Kurang Kurang Sikap Terhadap Guru Baik Baik Baik Kurang Kurang Kurang Kemampuan Khusus (Bakat) . ). konflik dengan atasan.). anoreksia nervosa ( -). Keadaan ekonomi*: baik.e) Kesehatan fisik masa kanak-kanak : demam tinggi disertai menggigau ( . sikap orang tua biasa  Hubungan seks sebelum menikah (-) 26 .).) overaktif ( .). suka berolahraga ( .). konflik dengan kelompok ( .). peminum minuman keras (. i) Riwayat Pekerjaan Usia mulai berkerja (-) .). suka bergaul ( + ).). masturbasi ( . dan lain-lain. problem berat badan ( .). rasa rendah diri ( .).).). sering sakit kepala ( . Perkawinan. cemas ( . bulimia (.

). serumah dengan mertua (-).).).). aktivitas seksual yang berlebihan tanpa menghiraukan akibat yang merugikan ( .). suka aktivitas yang dilakukan sendiri ( . isolasi sosial ( .).).).).).).) Paranoid Merasa akan ditipu atau dirugikan ( . Polusi lingkungan : bising (-).). m) Ciri Kepribadian sebelumnya/ Gangguan kepribadian (untuk axis II) Keterangan : ( ) beri tanda (+) atau (-) Kepribadian Gambaran Klinis Skizoid Emosi dingin ( . bila bertatap muka dengan orang lain tampak dingin atau tidak acuh ( . Siklotimik Ambisi berlebihan ( . tidak mau menerima kritik ( .).). selalu berusaha menarik perhatian bagi dirinya (. penurunan aktivitas ( .) dan lain- lain. ideas of reference (.). secara intensif mencari-cari kesalahan dan bukti tentang prasangkanya ( .).).). mendambakan ransangan aktivitas yang menggairahkan ( . preokupasi dengan fantasi tentang sukses. 27 .).).  Riwayat pelecehan seksual (-)  Orientasi seksual (normal) k) Situasi sosial saat ini: 1. rasa rendah diri (.). malu. membutuhkan perhatian dan pujian yang terus menerus (. Histrionik Dramatisasi (.). sering melamun ( . pemalu (. di asrama (-) dan lain-lain (-). peduli terhadap pujian maupun kecaman ( . dan lain-lain. merasa marah.).).). apartemen (-).). mudah merasa sedih dan menangis ( . dependen ( . kurangnya kebutuhan idur (. Tempat tinggal :rumah sendiri (-). sikap berjaga-jaga atau menutup-nutupi ( . rumah kontrak (-). melibatkan dirinya secara berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan tanpa menghiraukan kemungkinan yang merugikan dirinya ( . pesimis (.). cemburu patologik ( .).). tidak acuh pada orang lain ( .). kekuasaan dan kecantikan (. rumah orang tua (+).). hipersomnia ( . 2. bereaksi berlebihan terhadap hal-hal sepele (. perasaan hangat atau lembut pada orang lain ( . Skizotipal Pikiran gaib ( .). hipersensifitas ( -).). ekshibisionisme ( .).). optimis berlebihan ( . keterbatasan kehidupan afektif ( .). kurang teman ( . melucu berlebihan ( . hubungan interpersonal yang eksploitatif (.).). dan lain-lain. pembicaraan yang ganjil ( . kurang bersemangat (.). bau (-). ilusi berulang (. terhina dan rendah diri bila dikritik (.). rumah susun (-).). ramai (-) dan lain-lain. perhatian yang berlebihan terhadap motif-motif yang tersembunyi ( -). Narsisistik Merasa bangga berlebihan terhadap kehebatan dirinya ( .). kotor (-).). meragukan kesetiaan orang lain (. kewaspadaan berlebihan ( -). suka menuntut ( . egosentris ( . putus asa (.). insomnia ( . kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual (.).).).

masih melakukan aktivitas sholat dan mengaji 28 . tidak peduli pada norma-norma. Stresor psikososial (axis IV) Masalah dengan warga sekitar tempat tinggal (+) 7. Anankastik Perasaan ragu-ragu yang hati-hati yang berlebihan ( . sangat cendrung menyalahkan orang lain atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal. Dependen Mengalami kesuitan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa nasehat dan masukan dari orang lain (-). takut ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya(-) 6. rasa bosan kronik ( . untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat ( . tindakan mencederai diri sendiri ( . tidak didukung atau ditolak. merasa dirinya tidak mampu.). sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus ( .) tidak tahan untuk berada sendirian ( . kaku dan keras kepala ( . afek yang tidak mantap ( .).). impulsif (. tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain ( .). iritabilitas ( .). pendidikan terakhir tamat SMA. peraturan.).).). kurangnya pengendaian terhadap kemarahan ( . Riwayat pelanggaran hukum Pasien tidak memiliki riwayat pelanggaran hukum 9. peraturan dan kewajiban sosial ( . dan lain-lain Menghindar Perasaan tegang dan takut yang pervasif ( .).). kengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin disukai (-).Dissosial Tidak peduli dengan perasaan orang lain( .).).) dan lain-lain. urutan.). preokupasi pada hal-hal yang rinci (details).).). gangguan identitas ( . tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama ( .). pengabdian yang berlebihan terhadap pekerjaan sehingga menyampingkan kesenangan dan nilai-nilai hubungan interpersonal ( . tidak mampu mengalami rasa bersalah dan menarik manfaat dari pengalaman ( . karena ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus diri sendiri (-). sering berbohong ( . membutuhkan orang lain untuk mengambil tanggung jawab pada banyak hal dalam hidupnya (-).) 8.).). pemaksaan yang berlebihan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu ( . Pernah suicide ( . agresivitas ( .). Riwayat agama Pasien beragama Islam.) Ambang Pola hubungan interpersonal yang mendalam dan tidak stabil ( . keterpakuan yang berlebihan pada kebiasaan sosial ( . organisasi dan jadwal ( . daftar.).). preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolkan dalam situasi social (-).).). perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian. menghindari aktivitas sosial atau pkerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal karena takut dikritik. ketelitian yang berlebihan ( . perfeksionisme ( .).

Persepsi Dan Harapan Pasien Pasien merasa sudah sembuh dan ingin pulang GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT Thn : 2013 Thn: 2017 Usia : 29 th Usia: 33 th 4 tahun yang Pasien dirawat 1 minggu yang lalu: lalu: selama 6x karena Pasien melempar Pasien dikenal sering marah-marah kaca mobil orang menderita dan kabur dari lain dan marah- Skizofrenia rumah marah tanpa sebab. Paranoid dan Pasien sempat tidak rutin III. Persepsi Dan Harapan Keluarga Keluarga berharap agar pasien dapat sehat kembali 11. STATUS kontrol di INTERNUS teratur makan obat Padang sebelumnya  Keadaan Umum : sakit sedang  Kesadaran : CMC  Tekanan Darah : 120/80 mmHg  Nadi : 84x/menit 29 . 10.

kaki klonik (-) V. snout (-). palmomental (-). Keadaan Umum 1. glabella (-). 4. STATUS MENTAL A. Sikap Kooperatif (+ ).  Cara berpakaian : rapi ( + ). Kesadaran/ sensorium : kompos mentis kooperatif 2. Penampilan  Sikap tubuh: biasa ( + ). archiles (++/++).  Nafas : 21x/menit  Suhu : 36. trisep (++/++). tungkai 555/555  Sensorik : tidak ada  Refleks : bisep (++/++). penuh perhatian (+). patella (++/++) Sucking (-). wajar ( + ). berterus terang ( + ) 5. kesan ( dapat mengurus diri)  Kesehatan fisik :sehat ( + ) 3. Tingkah laku dan aktifitas psikomotor  Cara berjalan : biasa (+) B.6 C  Tinggi Badan : 165 cm  Berat Badan : 56 kg  Status Gizi : Normoweight  Sistem Kardiovaskuler : Dalam batas normal  Sistem Respiratorik : Dalam batas normal  Kelainan Khusus : Tidak ditemukan IV. Verbalisasi dan cara berbicara  Arus pembicaraan : biasa  Produktivitas pembicaraan : biasa  Perbendaharaan : biasa 30 . lama ( + ). grasping(-). Corneomandibular (-). STATUS NEUROLOGIKUS GCS : E4M5V6 Tanda ransangan Meningeal : tidak ada Tanda-tanda efek samping piramidal :  Tremor tangan : tidak ada  Akatisia : tidak ada  Bradikinesia : tidak ada  Cara berjalan : tidak ada  Keseimbangan : tidak ada  Rigiditas : tidak ada  Kekuatan motorik :lengan 555/555. Kontak psikis Dapat dilakukan (+ ).berpakaian sesuai gender ( +).

).).). La belle indifference ( -). mood disforik ( . pseudocyesis ( . aleksitimia ( -).). apati ( . konstispasi ( . poverty of speech ( .). rasa berdosa/ bersalah( . Gangguan Umum dalam Bentuk Pikiran 31 .). afek yang terbatas ( + ).).).). bulimia ( .).).). 1. afek datar ( .).). arus emosi (biasa/lambat/cepat). insomnia ( + ). ectasy ( . tidak ada harapan ( . abreaksional ( . afasia ( . hipomania ( . anhedonia ( .). bicara kacau ( +).).). afek yang labil ( . fatigue ( .). panic ( .).). kontrol impuls ( .).).).). disatria ( . Afek Afek appropriate/ serasi( . ). echt/unecht. 2. penurunan libido ( . ambivalensi ( . D.). mania( .). pengendalian (adekuat/tidak adekuat).).).). diprosodi ( . Gangguan fisiologis yang berhubungan dengan mood Anoreksia ( .). mood yang labil (swing mood) ( . Mood mood eutimik ( + ). Emosi lainnya Ansietas ( . dalam/dangkal. Pikiran/ Proses Pikir (Thinking)  Kecepatan proses pikir (biasa/cepat/lambat)  Mutu proses pikir (jelas/tajam) 1.).). mood meninggi (elevated mood/ hipertim) ( . hipersomnia ( . tension (ketegangan) ( .).). ketakutan ( . 3. ). variasi diurnal ( . mooddepresi (hipotim) ( . mood yang iritabel ( .). C.).  Nada pembicaraan : biasa  Volume pembicaraan : biasa  Isi pembicaraan : tidak sesuai  Penekanan pada pembicaraan : Tidak ada  Spontanitas pembicaraan : spontan  Logorrhea ( .).). free floating-anxiety ( .). gagap ( . mood yang meluap-luap (expansive mood) ( . melankolia( . elasi ( ). skala diffrensiasi (sempit/luas). rasa malu ( . afek tumpul ( . pica ( . Emosi  Hidup emosi*: stabilitas (stabil/ tidak). hiperfagia ( . agitasi ( .). euforia ( .).).). ).). afek inappropriate/ tidak serasi( . dukacita ( . 4.

though of control ( + ). kompulsi ( .). halusinasi perintah (command halusination) ( + ).). though of insertion ( . clang association ( . jawaban yang tidak relevan ( . halusinosis ( . halusinasi gustatorik ( . halusinasi hipnopompik ( . derealisasi ( . perseverasi ( . koprolalia ( . glossolalia ( . waham agama. word salad ( . gangguan pikiran formal ( .). halusinasi somatik ( .). koprolalia ( .).). blocking ( . erotomania ( . flight of ideas ( .). 2. obsesi ( . Waham cemburu/ waham ketidaksetiaan ( . halusinasi sejalan dengan mood ( .). Gangguan Spesifik dalam Isi Pikiran  Kemiskinan isi pikiran ( . unio mystica ( .).). waham kemiskinan ( .).).).).).). pengenduran asosiasi ( +).).).). halusinasi olfaktorik ( . sinestesia ( . tangensialitas ( .). though of broadcasting ( .).).). pikiran autistik ( .).). psikosis ( .). Mimpi dan Fantasi 32 .). Gagasan yang berlebihan ( + )  Delusi/ waham waham bizarre ( .). waham nihilistik ( . dereisme ( .). 3.). egomania ( . inkohenrensia ( .)  Depersonalisasi ( .). ekolalia ( .) noesis ( . waham kebesaran (+). halusinasi yang tidak sejalan dengan mood ( .). tes realitas ( terganggu/ tidak ). berpikir magis ( + ).). Gangguan Spesifik dalam Bentuk Pikiran Neologisme ( . Gangguan mental ( .).). Halusinasi auditorik (+ ).).). proses berpikir primer ( . waham menyalahkan diri sendiri ( .). waham persekutorik ( + ). pseudologia fantastika ( .). hipokondria ( .).). hipokondria ( .). kondensasi ( .).).).). verbigerasi ( .). waham referensi ( . obsesi ( .). halusinasi liliput ( . waham somatik ( .).).).). though of withdrawal ( .). trailing phenomenon ( . halusinasi visual ( + ).).). E.).). derailment ( -).).). sirkumstansialitas ( .  Idea of reference  Preokupasi pikiran ( . waham yang tidak sejalan dengan mood ( . waham yang sejalan dengan mood ( . waham tersistematisasi ( .). Persepsi  Halusinasi Non patologis: Halusinasi hipnagogik ( .) F. fobia ( . berpikir tidak logis ( . halusinasi taktil ( .).  Ilusi ( .

Kemunduran intelek : (Ada/ tidak). Atensi (perhatian) ( + ). Memori (daya ingat) : gangguan memori jangka lama/ remote ( . orientasi tempat (baik/ terganggu).). Luas pengetahuan umum: baik/ terganggu 6. M. Discriminative Judgement :  Judgment tes :tidak terganggu  Judgment sosial :tidak terganggu VI. waham kebesaran (+). agama Islam.). gangguan memori segera/ immediate ( .). halusinasi auditori 33 . dan lain-lain 3. konfabulasi ( . melemparkan kesalahan kepada orang/ hal lain): Derajat IV ( sadar. Pasien sebelumnya sudah pernah dirawat di RSJ Saanin Padang sebanyak 7 kali. 5. though of control ( + ). Orientasi waktu (baik/ terganggu). afek tumpul.). Amnesia ( . Pikiran konkrit : baik/ terganggu 7. Retardasi mental ( .Mimpi : Tidak ada Fantasi : Tidak ada G. AJ berusia 33 tahun. paramnesia ( . Konsentrasi (baik/terganggu). 2. Fungsi kognitif dan fungsi intelektual 1.). pseudodemensia ( . Ikhtisar Penemuan Bermakna Telah diperiksa pasien Tn. Pikiran abstrak : baik/ terganggu 8. inatensi selektif ( .).). hipervigilance ( . gangguan memori jangka menengah/ recent past ( . demensia ( . Dari hasil wawancara didapatkan interpretasi pasien kooperatif dengan mood eutim. orientasi personal (baik/ terganggu). H. gangguan memori jangka pendek/ baru saja/ recent ( .). Djamil Padang karena melempar kaca mobil orang lain dengan batu dan marah-marah tanpa sebab. ). orientasi situasi (baik/ terganggu). tidak mengetahui penyebab) Derajat V (tilikan intelektual) Derajat VI (tilikan emosional sesungguhnya) I. kalkulasi ( baik/ terganggu ) 4. Dicriminative Insight* Derajat I (penyangkalan) Derajat II (ambigu) Derajat III (sadar. distractibilty ( .).). suku Minang dan belum menikah pada tanggal 7 Juni 2017. Pasien dibawa ke RSUP Dr.).).

Psikoterapi Kepada pasien:  Psikoterapi suportif Memberikan dukungan. VII. dan optimistik kepada pasien. (+).0 Skizofrenia Paranoid Aksis II : Tidak ada diagnosa Aksis III : Tidak ada diagnosa Aksis IV : Masalah dengan warga AksisV : GAF 60-51 VIII. empati.  Psikoedukasi 34 . halusinasi perintah (+)  Lingkungan dan psikososial Pasien merasa curiga pada warga di sekitar tempat tinggal. X. Penatalaksanaan A.1 Skizoafektif Tipe Manik IX. Daftar Masalah  Organobiologik Pasien memiliki riwayat kejang demam ketika usia 2 tahun. dan merasa dirinya dikendalikan oleh sesuatu (delusion of control (+)) Halusinasi auditori (+). membantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya.F25. halusinasi visual (+). Farmakoterapi  Risperidon 2 mg 2x1 tab  Lorazepam 2 mg 1x1 tab B.  Psikologis Sering marah tanpa sebab dan merasa curiga terhadap warga di sekitar tempat tinggal (waham presekutorik (+)). Diagnosis Multiaksial Aksis I : F20. halusinasi visual (+) halusinasi perintah (+) tilikan derajat I dan judgement yang baik terhadap personal maupun sosial. kehangatan. Diagnosis Banding Axis I .

diharapkan pasien mempunyai kemampuan yang semakin efektif untuk mengenali gejala. Kepada keluarga:  Psikoedukasi Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif. gejala. perjalanan penyakit.  Terapi Memberi penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada pasien (kegunaan obat terhadap gejala pasien dan efek samping yang mungkin timbul pada pengobatan). Pada pasien saat ini ditemukan gejala. Membantu pasien untuk mengetahui lebih banyak mengenai gangguan yang dideritanya. hubungan antara gejala dan perilaku. PROGNOSIS Quo et vitam : bonam Quo et fungsionam :dubia ad malam Quo et sanctionam :dubia ad malam XII. Selain itu. dan edukatif tentang penyakit pasien (penyebab. mencegah munculnya gejala dan segera mendapatkan pertolongan. DISKUSI/ ANALISIS KASUS Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis. waham 35 . diharapkan keluarga bisa mendukung proses penyembuhan dan mencegah kekambuhan. Serta menjelaskan bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan yang lama dan berkelanjutan. XI. Pada akhirnya. Menjelaskan kepada pasien untuk menyadari bahwa obat merupakan kebutuhan bagi dirinya agar sembuh. juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat secara teratur. dimana ditemukan gejala klinis yang mengarah pada Skizofrenia Paranoid sesuai dengan pedoman diagnostik berdasarkan PPDGJ III. serta prognosis). informatif.

persekutorik (+). memberikan perhatian.halusinasi perintah (+) Pada pasien diberikan Risperidon 2 mg 2x1 tab. terapis menunjukkan penerimaan terhadap kasus dengan cara menunjukkan perilaku yang hangat. dengan efek samping gangguan ekstrapiramidal yang minimal dan harga terjangkau. Risperidon merupakan anti-psikotik yang atipikal. Jenis terapi non farmakologis yang bisa dilakukan terhadap pasien ini adalah psikoterapi suportif. Lorazepam merupakan obat penenag diberikan agar pasien bisa beristirahat. diterima dan dilindungi. waham kebesaran (+). psikoedukasi saat kondisi pasien stabil dan bisa berkomunikasi. though of control ( + ). Lorazepam 2 mg 1x1 tab. 36 . halusinasi visual (+) dan . Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperlihatkan minat kita pada pasien. Dalam psikoterapi suportif. dukungan. halusinasi auditori (+). Terapi non farmakologis memegang peranan yang juga penting pada pasien ini. dan optimis. Obat ini diberikan untuk mengatasi gejala psikotik. Tujuannya adalah agar pasien merasa aman. ramah namun tetap berwibawa.

apak lahia. Kutipan wawancara psikiatri AUTOANAMNESA dilakukan pada tanggal 6 Juni 2017 Pertanyaan Jawaban Interpretasi Assalamualaikum Pak. Waalaikumsalam Kesadaran baik perkenalkan ambo dokter Buliah pak muda Fajar dan dokter muda Mitra. Kami nio mamareso apak dengan wawancara untuak mancaliak perkembangan apak. ado Descriminative insight Rumah sakik iko pak? masalah di jiwa awak cukup baik 37 . pak ? buk Dima wak kini ko pak ? Di rumah sakik Jiwa buk Orientasi tempat tidak Rumah Sakik Jiwa apo terganggu namonyo pak? Rumah Sakik Jiwa Saanin Samo sia pak kamari pak? Samo uda wak buk Orientasi personal tidak terganggu Baa kok apak bisa tibo di Pai barubek buk. tahun ’84 lahia Orientasi waktu tidak terganggu Lengkapnyo tanggal bara Tanggal 13 Februari 1984. lai buliah Pak? Siapo namo lengkap Tony Pak Kooperatif Bapak? Antony Jasril Buk Namo lengkap apak maksud ambo. siapo Pak? Bara umua apak kini? 33 tahun.Lampiran 1.

pak. padahal ayah wak ko camaik lo dulu di ranah pasisia komah. Sajak bilo apak marasoan Alah lamo buk. banyak nyo ambiak pitih masyarakaik. kan apo yang tindakan apak ka oto pak wak lakuan tu batua mah. Baa kok bisa apak pacahan Yo awak patangko kan kanai kaco oto pak camaik tu? pasamoan dek urang kampuang ko rami rami. abak awak nan senior inyo dulu ndak nyo haragoi do. Suaro tu kadang-kadang Halusinasi auditorik suaro atau ado mancaliak mangecekan ka awak mode (+) bayangan akhir-akhir ko mambisiakan se tibo tibo ka Halusinasi Perintah pak? talingo awak. camat tu? apak tu acok korupsi mah buk. Apak tu korupsi mah. Lah baulang kali ayah wak maingekan ndak nyo dangaan nyo do. wak pacahan se kaco oto nyo samo batu lai.A nan taraso dek apak Ntahlah buk. awak mintak pengantar untuak mambuek surek visum ndak namuah nyo mangaluaan. kan senior inyo tibonyo dek ibuk tu Ado apak mandanga suaro. Bilo apak dirawat nan Kiro kiro tahun 2009 lah pertamo kali pak? ibuk Nan kini ko alah perawatan Iko lah nan ka anam mah nan ka bara pak? buk Baa kok bisa apak dirawat Jadi mah buk awak ko nan pertamo tu dulu pak? masbuq di masjid buk. sajak awak bantuak itu pak? dirawat nan pertamo itu lah wak alami pulo mah buk. raso-raso (+) inyiak awak nan mambisiakan kalau pacahan kaco oto pak camat tu. awak 38 . Menurut apak salah ndak Indak lah buk. Sakik hati wak. awak patang tu mangko pai barubek lo? mamacahan kaco oto pak camaik jo petasan. itu acok awak alami. ndak beres do. Kadang awak maraso pulo ado yang mambisiakan kapan awak mati.

tokok urang yang sadang sumbayang ko pundak nyo tu siap tu awak yang ditokok nyo samo samo dek ibuk. Alah sudah Jadih buk. apo nan pak lakukan? Tu ciek lai yo pak. misalnyo Wak tolongan Discriminative urang maadoan gotong judgement sosial (+) royong di dakek rumah apak. misalnyo ko pak. Ko dulu kapalo ko saksi nyo mah buk. Discriminative aia iduik. bajaik kapalo wak ko Hmm gitu yo pak. tapi bak nyo lah judgement test (+) panuah sampai malimpah. tapi itu dulu buk Pak. pas apak Ado buk. apo nan pak lakukan? Yolah pak. jadi bia bisa dapek sertifikat. kran Wak matian krannya buk. balok ciek pangkek awak Tahun bara apak masuak Kiro kiro tahun 2006 lah Brimob tu pak? buk. Sabalum nan pertamo kali Awak dulu Brimob mah buk Waham kebesaran (+) dirawat tu apo kegiatan di Jakarta apak pak? Brimob pak? Maksudnyo Iyo buk. Emang bisa yo pak kalau Bisa lah buk. lai pernah apak mancaliak sesuatu pak? Apo t nan pak caliak? Bayangan putiah se kadang Halusinasi visual (+) nyo buk. kan awak dulu Waham kebesaran (+) alah kuliah dulu dapek tu kuliah untuak jadi mahasiswa undangan? pembalap ko buk. tarimokasih. tu langsuang dibaoknyo awak kamari. ntah apolah salah awak. Awak kan dulu kuliah di bunghatta tahun 2004 siap tu tahun bisuak nyo awak dapek mahasiswa undangan ka UI kuliah wak di fakultas hukum abis tu wak ikuik wajib militer jadi Brimob awak buk. Jadi dulu tu awak apak dulu anggota TNI? masuak tentara ko jo jalur perwira. 39 . awak kan ditempatan dulu tu buk untuak malatiah anjiang bulldog ko buk aa. gadang gadang badan anjiangnyo buk. awak balap-balap di tol di jakarta diantaknyo awak dek oto. surang.

awak mamareso apak yo. Ado nan ka apak tanyoan ? Lai buk. barubek yo pak.. bia ndak barulang sakik apak baliak. nio salam marshanda? sajo Kini apak fokus se dulu Jadih buk. Apak harus tetap kontrol jo minum ubek taruih yo pak. bisa awak dipindahan ka Grogol Buk? Awak nio sobok jo marshanda buk Nio manga apak jo Ndak ado buk. Kalo masih ado taranga suaro-suaro tu jan apak acuahan ndak. 40 .

Kapita Selekta Kedokteran. 4. 5. Virginia A. Skizofrenia. Prihatini S. 46- 48. Skizofrenia. Dalam: Buku Ajar Psikiatri. 2008:26-34. Edisi 2. Editor : Husny Muttaqin dan Tiara Mahatmi Nisa. 2014:147-68. Kaplan & Sadock’s Pocket Handbook of Psychiatric Drug Treatment 8. Made Wiguna S. Indonesia: Kementrian Kesehatan RI. Editor : Stahl. Frans Liwang. 2010:699-744. 3rd Edition. 173: 173-203. England : Cambridge University Press. Sinopsis Psikiatri . Editor : Chris Tanto. 2014:910-3 3. Yunita I. 41 . Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahl’s Essential Psychopharmacology. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya: 2013. Benjamin J. Jilid 1. dkk.. 6. Stephen M. Amir N. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5. 2013: 125-127. Gangguan Mental Berat. Jilid 2. Psikiatri : Skizofrenia (F2). Jakarta : Media Aesculapius. Kaplan . Jakarta: Badan Penerbit FKUI: 2014. Skizofrenia. Edisi 4. Psychosis and Schizophrenia.DAFTAR PUSTAKA 1.Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Tanggerang : Binarupa Aksara Publisher. Edisi kedua. Maslim R. Indrawati L. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Sadock MD. 7.Sadock. Idaiani S. Kaplan & Sadock - Buku Ajar Psikiatri Klinis. Dalam: Riset Kesehatan Dasar 2013. 2. Editor : I.